cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 337 Documents
KOREKSI KEKENDURAN TRAMMEL NET Ratu Sari Mardiah; Gondo Puspito; Mustaruddin Mustaruddin
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3587.142 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.1-10

Abstract

Kemampuan trammel net menangkap organisme demersal terpusat pada bagian bawahnya. Ini disebabkan oleh kekenduran jaring hanya terdapat pada bagian tersebut. Desain trammel net dalam penelitian ini memiliki 3 kekenduran pada posisi ketinggian yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah penambahan kekenduran akan merubah komposisi jenis hasil tangkapan dan membuktikan bahwa penambahan kekenduran dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan. Penelitian menggunakan 3 trammel net kontrol (TK) yang memiliki 1 kekenduran dan 3 trammel net perlakuan (TP) dengan 3 kekenduran. Kedua konstruksi trammel net disusun berselang-seling dan dioperasikan secara bersamaan sebanyak 35 setting. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan kekenduran tidak mempengaruhi komposisi jenis hasil tangkapan. Masing-masing trammel net menghasilkan jenis tangkapan yang sama, yaitu 4 jenis udang, 10 jenis ikan demersal, 2 jenis kepiting dan 1 jenis ikan non demersal. Trammel net TP menangkap 581 individu (20,10 kg), atau lebih tinggi dibandingkan dengan trammel net TK 277 individu (7,38 kg).
PENGKAYAAN SUMBERDAYA IKAN DENGAN FISH APARTMENT DI PERAIRAN BANGSRING, BANYUWANGI Muhammad Wildy Kamaali; Mulyono S Baskoro; Sugeng Hari Wisudo
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8924.611 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.11-20

Abstract

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem perairan, terutama kerusakan habitat ikan seperti terumbu karang. Terumbu karang yang rusak mengakibatkan hasil tangkapan berkurang, ikan hasil tangkapan semakin mengecil, dan hilangnya beberapa jenis ikan di perairan tersebut, khususnya ikan karang. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang perkembangan fish apartment dan mengetahui dampak langsung terhadap nelayan di daerah Bangsring, Banyuwangi. Menentukan kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan sebagai indikator diperairan di Bangsring. Menganalisis tingkat keberhasilan fish apartment dalam pengkayaan stok ikan dan memperbaiki habitat ikan pada perairan Bangsring. Penanaman fish apartment pada perairan Bangsring, Banyuwangi dapat mengembalikan kekayaan sumber daya ikan, dilihat dari keberhasilan pertambahan jenis ikan, meningkatnya hasil tangkapan hingga 100%, dan jarak penangkapan yang dekat dan efisien dalam waktu penangkapan. Fish apartment dapat mengembalikan ekosistem perairan yang rusak, khususnya di perairan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur.
ANALISIS KERENTANAN PANTAI TIMUR PULAU BINTAN, PROVINSI KEPULAUAN RIAU MENGGUNAKAN DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM DAN METODE COASTAL VULNERABILITY INDEX Mario Putra Suhana; I Wayan Nurjaya; Nyoman Metta Natih
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13527.32 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.21-38

Abstract

Coastal vulnerability is a condition where there is an increased processes of damage in the coastal areas caused by a variety of factors such as human activity and natural factors such as impact of sea level rise, sea waves and longshore current which cause abrasion and sedimentation processes which is once indicator of pressure on coastal areas even though not always interpreted as the degradation of coastal areas. Coastal vulnerability analysis is very important to be done, by doing a study of the coastal areas condition in particular the study of the vulnerability of a coastal areas will ease in highlighted any sections of a coastal areas which judged having high level of vulnerability and what are the factors that result in the vulnerability of the coastal areas. The research of coastal vulnerability of east coast of Bintan Island was conducted in September-October 2015 with observing physical and oceanographic variables consisting of coastal geomorphology, beach slope, shoreline changes and annual average of sea wave height and tidal range. Coastal vulnerability analysis using coastal vulnerability index (CVI) method by giving a score to each of the variables used in accordance with the categories set by United States Geological Survey (USGS). The results of coastal vulnerability analysis showed coastal geomorphology and beach slope are a variables with a high to very high degree of vulnerability with the vulnerability score of each variables is 4.75 and 5 (score scale range from 1-5). Coastal vulnerability index of east coast of Bintan Island ranged from 3.16-3.54 with an average 3.33 which showed the level of vulnerability of east coast of Bintan Island is in low category.
PENGARUH FASE BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN GLASS EEL DI MUARA SUNGAI CIBUNI TEUGAL BULEUD, KABUPATEN SUKABUMI Dadan Suhendar; Ronny I Wahju; Deni Achmad Soeboer
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8026.847 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.39-46

Abstract

Muara Sungai Cibuni, Tegal Buleud, Sukabumi terletak di perairan pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki potensi besar dalam penyediaan glass eel (benih sidat) akan tetapi belum dilakukan penelitian. Penangkapan glass eel dilakukan pada malam hari ketika air pasang sehingga fase bulan akan mempengaruhi operasi penangkapan glass eel , oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fase bulan menangkap glass eel. Data yang dikumpulkan dari data hasil tangkapan glass eel harian nelayan dikumpulkan selama 12 bulan pada tahun 2015 dan kemudian data dianalisis dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan mengelompokkan menjadi 4 fase bulan (semi terang, terang bulan, bulan gelap dan semi gelap). Dari hasil analisis menunjukkan bahwa hasil tangkapan pada fase bulan terang berbeda nyata terhadap fase bulan gelap dengan rata-rata hasil tangkapan glass eel di fase bulan terang 6.2 kg dan fase gelap 18.3 kg dan hasil tangkapan pada fase bulan semi terang tidak berbeda nyata dengan fase bulan terang, sedangkan fase semi terang berbeda nyata terhadap fase bulan gelap.
TEKNOLOGI PENANGKAPAN BARONANG RAMAH LINGKUNGAN DI KEPULAUAN SERIBU Oktavianto P Darmono; M Fedi Sondita; Sulaeman Martasuganda
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8750.415 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.47-54

Abstract

Pemanfaatan sumber daya perikanan baronang di Kepulauan Seribu menjadi salah satu potensi perikanan tangkap yang cukup besar. Penangkapan baronang di Kepulauan Seribu mengalami peningkatan, hal ini dipengaruhi harga baronang yang meningkat akibat dari permintaan pasar akan baronang meningkat. Kegiatan eksplorasi penangkapan baronang secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan habitat penangkapan. Tujuan penelitian inventarisasi jenis alat tangkap baronang serta menentukan tingkat keramahan lingkungan unit penangkapan ikan baronang. Metode penelitian yaitu survey. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2015 dan November-Desember 2015. Analisis data yang digunakan yaitu deskriptif untuk menginventarisasi jenil alat tangkap ikan baronang di Kepulauan Seribu; Analisis tingkat keramahan lingkungan berdasarkan sembilan kriteria FAO. Hasil penelitian menunjukkan Jenis alat tangkap ikan yang menangkap baronang di Kepulauan Seribu adalah alat tangkap muroami, bubu tambun, bubu kawat, bubu jaring, jaring lingkar, dan speargun. Dari tingkat keramah lingkungan jenis alat tangkap bubu tambun merupakan alat tangkap yang paling ramah lingkungan dengan nilai skor 25,75.
KERAGAAN TEKNIS DAN ASPEK BIOLOGI PENANGKAPAN MADIDIHANG MENGGUNAKAN RUMPON DI PERAIRAN KAUR, BENGKULU Ali Muqsit; Roza Yusfiandayani; Mulyono S Baskoro
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12739.377 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.55-66

Abstract

Pengembangan suatu perikanan tangkap di suatu daerah terdiri dari berbagai aspek, salah satunya dilihat dari aspek biologi. Adanya aspek biologi memiliki arti penting sebagai upaya untuk pengembangan perikanan suatu daerah. Dalam penelitian ini aspek biologi berguna untuk mengetahui komposisi isi lambung ikan tuna sirip kuning yang didaratkan di Pasar Lama. Sebanyak 30 ekor sampel lambung ikan tuna sirip kuning yang diambil pada bulan September 2015 – Januari 2016 dari pengepul tuna di pasar lama untuk selanjutnya dilakukan pengukuran panjang total, berat tubuh, analisis hubungan panjang berat, serta analisis isi lambung dengan metode frekuensi kejadian, metode volumetrik, dan index prepoderance. Data yang telah dihitung antara hubungan panjang total ikan dengan berat tubuh semua ikan tuna sirip kuning bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 4,227. Hasil yang didapatkan dari dari semua perhitungan indeks preponderance organisme cumi-cumi sebesar 81,77%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan, cumi-cumi merupakan makanan utama bagi ikan tuna sirip kuning di wilayah Pasar Lama Kaur dan berdasarkan hubungan panjang berat didapatkan hasil bersifat allometrik positif dimana pertumbuhan bobot ikan tuna sirip kuning lebih cepat dibanding pertumbuhan panjang.
POLA DISTRIBUSI DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN PELABUHAN PERIKANAN DI WILAYAH PANTURA JAWA Andi Perdana Gumilang; Iin Solihin; Sugeng Hari Wisudo
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11332.564 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.67-76

Abstract

Distribusi hasil tangkapan pelabuhan perikanan adalah penting karena hasil tangkapan perikanan adalah suatu bahan makanan yang sangat mudah menjadi rusak dan kemudian membusuk (Clusa dan Ward 1996), sehingga dibutuhkan upaya pendistribusian agar penjualan produk hasil tangkapan bisa sampai ke lokasi konsumen untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola distribusi hasil tangkapan pada pelabuhan perikanan di wilayah pantura Jawa. Metode penelitian adalah metode survei terhadap pola distribusi hasil tangkapan. Analisis dilakukan secara deskriptif komparatif berdasarkan pasar, konektivitas dan pelaku pemasaran melalui penyajian peta, bagan dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola distribusi hasil tangkapan di pantura Jawa berdasarkan pasar mencakup distribusi pasar lokal, regional, luar Jawa dan ekspor. Distribusi hasil tangkapan pada pelabuhan perikanan pantura Jawa sebagian besar didistribusikan untuk pasar lokal dan regional. Pasokan ikan untuk pasar domestik di pelabuhan perikanan Pantura Jawa sudah cukup terpenuhi sebanyak 91,32% dan sisanya 8,68% untuk ekspor. Pola distribusi hasil tangkapan berdasarkan konektivitas pelabuhan perikanan didapatkan bahwa pelabuhan perikanan sebagai pemasar adalah PPS Nizam Zachman Jakarta, sedangkan pelabuhan perikanan sebagai pemasok adalah PPS Nizam Zachman Jakarta dan PPN Pekalongan. Pola distribusi hasil tangkapan pelabuhan perikanan berdasarkan pelaku pemasaran didapatkan 7 pola yakni 5 pola berdasarkan produksi ikan dari dalam pelabuhan dan 2 pola berdasarkan produksi ikan dari luar pelabuhan. Pelaku pendistribusian hasil tangkapan secara lokal, regional, dan luar Jawa meliputi nelayan, pedagang pengumpul, pedagang grosir dan pedagang eceran. Sementara pendistribusian ekspor adalah nelayan, pedagang grosir, dan agen perusahaan industri perikanan untuk dikirim ke negara tujuan.
INTEGRASI DATA MULTIBEAM BATIMETRI DAN MOSAIK BACKSCATTER UNTUK KLASIFIKASI TIPE SEDIMEN Anang Prasetia Adi; Henry M Manik; Sri Pujiyati
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9258.521 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.77-84

Abstract

Sistem multibeam echosounder tidak hanya memperoleh presisi tinggi dalam pengolahan data batimetri saja, tetapi juga mendapatkan resolusi tinggi dalam data backscatter strenght (BS) dasar perairan. Sejumlah penelitian telah menerapkan metode akustik untuk mengklasifikasikan tipe sedimen dasar perairan dengan menggunakan data backscatter, dan hasil klasifikasi yang diperoleh lebih baik daripada sampling sedimen secara tradisional. Tujuan penelitian ini untuk mengintegrasikan hasil data multibeam echosounder dalam penentuan batimetri dan pengklasifikasian tipe sedimen dasar perairan.Penelitian menggunakan data survei batimetri multibeam echosounder Kongsbergs EM 2040C di Sungai Kapuas Pontianak, Kalimantan Barat. Penentuan batimetri menggunakan metode Combined Uncertainty and Bathymetry Estimator (CUBE), sedangkan klasifikasi tipe sedimen menggunakan metode Angular Response (ARA) dan Sediment Analysis (SAT) yang semuanya tertanam dalam software Caris Hips and Ships versi 9.0. Hasil klasifikasi tipe sedimen secara unsupervised terdapat empat tipe sedimen. Nilai intensitas tipe sedimen kerikil (gravel) berkisar antara -16 dB hingga -13 dB, pasir (sand) berkisar antara -22 dB hingga -17 dB, lumpur (silt) antara -26 dB hingga -23 dB dan lempung (clay) berkisar antara -34 dB hingga -29 dB.
STATUS TEKNOLOGI PENANGKAPAN TOGO DI SUNGAI DAN TAMBAK DALAM PERSPEKTIF PERIKANAN BERTANGGUNG JAWAB DI DESA CEMARA LABAT Febrina Berlianti; Roza Yusfiandayani; M Fedi Sondita; Bambang Murdiyanto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3615.559 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.85-98

Abstract

Kegiatan perikanan togo di Desa Cemara Labat terdiri dari penangkapan di sungai dan tambak. Penilaian status teknologi penangkapan ikan merupakan salah upaya untuk mendukung pengelolaan perikanan togo yang lebih baik. Penilaian tentang tingkat tanggung jawab dua jenis togo dilakukan dengan menerapkan multi criteria analysis yang menggunakan 13 kriteria unit penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan menentukan status teknologi penangkapan togo dan menentukan strategi perbaikan perikanan tangkap di Desa Cemara Labat. Berdasarkan status teknologi penangkapan ikan, kedua jenis togo tergolong baik dengan memiliki skor yang sama yaitu 33 dengan masing-masing satu indikator bernilai buruk (skor 1) dan empat indikator bernilai cukup baik (skor 2). Kedua togo tergolong buruk (skor 1) pada indikator menjamin survival dari ikan dan biota perairan yang dikembalikan di sungai (X10) dan cukup baik (skor 2) pada indikator kompetensi nelayan (X1). Indikator yang berstatus cukup baik (skor 2) lainnya pada unit penangkapan togo yang dioperasikan di sungai yaitu keselamatan di sungai (X2), kepatuhan terhadap peraturan (X3) dan konsumsi bahan bakar kapal (X4), sedangkan untuk togo yang dioperasikan di tambak yaitu indikator proporsi hasil tangkapan yang dimanfaatkan(X9), potensi terjadi kerusakan lingkungan perairan dan habitat (X12) dan kejadian atau potensi konflik (X13). Strategi perbaikan perikanan tangkap antara lain melalui penekanan pada karakteristik dan perilaku sosial ekonomi nelayan melalui sosialisasi dan pengembangan silvofishery pada perikanan tangkap togo di tambak.
REKONSTRUKSI PINTU MASUK BUBU LIPAT LOBSTER DAN PENGARUH PENGGUNAAN TUTUPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN Edy Miswar; Gondo Puspito; Roza Yusfiandayani; Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 7 No 1 (2016): MEI 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10141.955 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.7.99-106

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan konstruksi bubu lipat yang memberikan jumlah tangkapan lobster terbanyak dan membuktikan bahwa tutupan dapat meningkatkan jumlah tangkapan lobster. Penelitian dilakukan di laboratorium menggunakan metode percobaan. Satu bubu lipat nelayan atau bubu lipat standar (BS) dan 2 konstruksi bubu yang dimodifikasi dibandingkan. Bubu modifikasi terdiri atas bubu lipat modifikasi 1 (BM-1) dan bubu lipat modifikasi 2 (BM-2). Ketiga bubu berbentuk balok dengan dimensi 50 × 33 × 18 (p × l × t) (cm). Celah masuk BS berbentuk celah sempit, sedangkan BM-1 dan BM-2 adalah 4 persegi panjang dengan ukuran 33 × 6 (p × t) (cm) yang dilengkapi dengan deretan jeruji besi. Dalam penelitian ini, ketiga bubu dan 20 lobster dimasukkan ke dalam tangki air. Bubu diangkat setelah direndam selama 30 menit. Aktivitas lobster diamati dan jumlah lobster yang terperangkap dihitung. Ujicoba penangkapan lobster dilakukan sebanyak 20 ulangan. Pengaruh tutupan pada bubu yang menghasilkan tangkapan terbanyak juga diujicoba. Hasilnya menunjukkan bahwa BM-2 menangkap 470 individu, atau lebih banyak dibandingkan dengan BM-1 (221 individu), dan BS (109 individu). Penggunaan tutupan menghasilkan jumlah tangkapan sebanyak 227 individu, sedangkan tanpa tutupan hanya 123 individu.

Page 5 of 34 | Total Record : 337