cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 337 Documents
YELLOWFIN TUNA (Thunnus albacares) FISHERIES SUSTAINABILITY: A WEIGHT-LENGTH ANALYSIS IN THE WEST SUMATERA WATERS: KEBERLANJUTAN PERIKANAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares): ANALISIS PANJANG BERAT DI PERAIRAN SUMATERA BARAT Siregar, Emma Suri Yanti; Simbolon, Domu; Wahju, Ronny Irawan; Yulianto, Irfan; Siregar, Vincentius P.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 3 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.282-293

Abstract

Ikan tuna sirip kuning adalah komoditas perikanan bernilai tinggi dan sumber utama mata pencaharian nelayan di Sumatra Barat. Namun, intensifikasi penangkapan sering mengabaikan selektivitas alat tangkap, sehingga ikan belum layak tangkap turut tertangkap, mengganggu regenerasi populasi, menurunkan biomassa, dan meningkatkan risiko overfishing. Informasi ukuran layak tangkap penting untuk mendukung keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang ikan, pola pertumbuhan ikan dan menentukan tingkat kelayaktangkapan ikan tuna (Thunnus albacares). Data distribusi ikan, seperti panjang dan berat ikan dikumpulkan melalui pengukuran langsung terhadap hasil tangkapan nelayan. Distribusi ukuran dan berat ikan dianalisis secara deskriptif, sedangkan pola pertumbuhan ikan ditentukan menggunakan persamaan W=aLb. Jumlah ikan tuna yang berhasil diukur selama periode Juni - Agustus 2020 mencapai 398 ekor. Ikan yang paling dominan tertangkap berkisar antara 135-144 cm dengan berat 44-60 kg. Analisis distribusi ikan menghasilkan persamaan regresi y = 0,00005x2,7787, dengan nilai R² = 0,9575 dan nilai b = 2,4969. Nilai b yang lebih kecil dari 3 mengindikasikan pola pertumbuhan alometrik negatif, di mana pertumbuhan panjang ikan lebih dominan dibandingkan pertumbuhan beratnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 81% ikan memenuhi kriteria layak tangkap, sedangkan 19% lainnya tergolong tidak layak tangkap. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna sirip kuning yang berkelanjutan berbasis ukuran layak tangkap.
UTILIZATION OF SUCKERMOUTH CATFISH (Pterygoplichthys pardalis) AS A RAW MATERIAL OF PROTEIN IN ARTIFICIAL FEED TILAPIA: PEMANFAATAN IKAN SAPU-SAPU (Pterygoplichthys pardalis) SEBAGAI BAHAN BAKU SUMBER PROTEIN DALAM PAKAN BUATAN IKAN NILA Surianti, Surianti; Damis, Damis; Wahyudi, Wahyudi; Febrian, Muh Rizal; Sulaiman, Muhammad Anugrah
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.384-394

Abstract

Dalam kegiatan budidaya, pakan menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi. Upaya efisiensi dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan baku lokal, seperti tepung ikan sapu-sapu, sebagai alternatif substitusi tepung ikan impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi tingkat substitusi antara tepung ikan lokal dan tepung ikan sapu-sapu terhadap pertumbuhan mutlak dan aktivitas enzim pencernaan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: A (100% tepung ikan lokal: 0% tepung ikan sapu-sapu), B (75%:25%), C (50%:50%), D (25%:75%), dan E (0%:100%), sehingga terdapat 15 unit percobaan. Ikan uji dengan bobot awal 1,5 g/ekor ditebar sebanyak 20 ekor dalam ember plastik berisi 85 L air per unit. Ikan diberi pakan sebanyak 6% dari bobot tubuh per hari dengan dua kali pemberian pagi dan sore selama 60 hari. Variabel dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA), uji statistik dilakukan pada tingkat signifikansi 5% (α = 0,05) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan D (25% tepung ikan lokal:75% tepung ikan sapu-sapu) memberikan pengaruh nyata terbaik (p = 0,004) terhadap pertambahan berat sebesar 3,9±0,83 g, perlakuan A, B, C, dan E sama tetapi berbeda dengan perlakuan D, sedangkan untuk aktivitas enzim pencernaan yaitu protease sebesar 0,452 U/mL dan amilase sebesar 0,579 U/mL.
EFFECTIVENESS OF UNDERWATER DIP LAMPS (LACUDA) AND CONVENTIONAL LED LAMPS IN CENTRAL BANGKA WATERS: EFEKTIVITAS LAMPU CELUP BAWAH AIR (LACUDA) DAN LAMPU LED KONVENSIONAL DI PERAIRAN BANGKA TENGAH Imron, Mohammad; Kurnia, Triono Aries; Kusumastuti, Ratih; Wardani, Puti Nursitaning Kusuma; Hendayana, Yomivin Varel
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.406-415

Abstract

Perkembangan teknologi alat bantu penangkapan ikan pada bagan telah berlangsung cukup pesat, khususnya penggunaan lampu celup bawah air (LACUDA) dan lampu LED konvensional. Variasi jenis, warna, dan metode pengoperasian lampu berpengaruh terhadap jumlah, komposisi, serta produktivitas hasil tangkapan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja penangkapan bagan tancap yang menggunakan lampu celup bawah air (LACUDA) berdaya 750 watt berwarna hijau dengan lampu LED konvensional berdaya 600 watt berwarna putih. Penelitian lapangan dilaksanakan pada Oktober–November 2024 melalui enam trip penangkapan dengan total 18 kali pengangkatan. Data yang dikumpulkan meliputi produktivitas dan komposisi hasil tangkapan yang dianalisis secara deskriptif serta menggunakan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas hasil tangkapan dengan lampu LACUDA sebesar 10,07, lebih tinggi dibandingkan lampu LED konvensional sebesar 8,34. Total hasil tangkapan menggunakan LACUDA mencapai 181,3 kg, sedangkan LED konvensional 150,1 kg. Komposisi hasil tangkapan LACUDA juga lebih beragam, terdiri atas lima spesies, yaitu ikan tamban (Amblygaster leiogaster), cumi bangka (Uroteuthis chinensis), lempis (Scomberoides lysan), ciu (Selaroides leptolepis), dan teri (Stolephorus indicus), sedangkan LED konvensional hanya terdiri atas empat spesies, tanpa teri. Temuan ini menunjukkan bahwa lampu celup bawah air (LACUDA) meningkatkan produktivitas tangkapan dan keragaman spesies dibandingkan dengan lampu LED konvensional dalam operasi bagan tancap.
ACCUMULATION OF LEAD AND COPPER IN THE SEDIMENTS IN SOUTH KALIH AND PANJANG ISLAND, BANTEN: AKUMULASI TIMBAL DAN TEMBAGA PADA SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU KALIH SELATAN DAN PULAU PANJANG, BANTEN Nazwasyawinka, Keyla; Nurjanah, Siti; Abrar, Camelia Batun; Amalia Nasution, Isra; Dida, Eki Naidania; Sasongko, Agung Setyo; Cahyadi, Ferry Dwi; Cahyarini, Sri Yudawati
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.395-405

Abstract

South Kalih and Panjang Islands are located in Banten Bay, small island with environmental conditions adjacent to the center of industrial activities. Industrial activities near the waters can increase the risk of heavy metal pollution, thereby affecting the quality of the aquatic environment. This study aims to evaluate the condition of aquatic environmental quality based on heavy metal content in sediments. Sediment sampling was conducted at ten observation stations using a purposive random sampling method. Heavy metal analysis was performed using the Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS). The results indicate that South Kalih Island accumulated more Pb heavy metals with an average of 2.7922 mg kg⁻¹, while the highest accumulation of Cu heavy metals was on Panjang Island with an average of 5.7188 mg kg⁻¹. The accumulation of heavy metals Pb and Cu in the sediments in South Kalih and Panjang Island was below the standard threshold, except at PPS5P1 of Panjang Island, where Cu concentrations exceeded the CCME (2002) quality guideline. Areas with dense anthropogenic activities are more likely to increase the accumulation of heavy metals in the waters.
TEMPORAL AND SPATIAL VARIATIONS OF HEAVY METALS IN SHELLFISH IN BANTEN BAY: VARIASI TEMPORAL DAN SPASIAL LOGAM BERAT PADA KERANG DAN KEPITING DI TELUK BANTEN Dinulislam, Annisa; Salsabilla, Tsalista; Melinda, Tresna; Sulistyowati, Dwi Indah; Noviani, Ertika; Fatryani, Dita; Febrianessa, Nadya; Nedya, Hanifah; Sulistiono, Sulistiono
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.428-439

Abstract

Banten Bay is a busy water area with diverse activities, including capture fisheries, aquaculture, marine and land transportation, and industry, which are estimated to generate significant amounts of heavy metals that enter the water and accumulate in fish and shellfish. Some fishery commodities commonly found in Banten Bay included shellfish, such as blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs. The study aims to monitor heavy metal contamination variations spatially and temporally of the shellfish in Banten Bay. Biota samples were taken for 6 months in Cengkok Coastal Waters (March–August 2019) and 3 months in Bojonegara Coastal Waters (August–October 2020). The heavy metal content was determined using an atomic absorption spectrophotometer (AAS). Pb and Cd concentrations in the flesh of the shellfish (blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs) from the Cengkok and Bojonegara Coastal Waters ranged from 0.001 to 0.070 ppm and from <0.001 to 0.030 ppm, respectively. All measured heavy metal concentrations met the BPOM (2018) quality standards. Bioconcentration factors were generally <100, indicating low accumulation levels.  Blood cockles, green mussels, and mud crabs from Cengkok Coastal Waters were still safe for consumption in normal amounts, while the consumption of swimming crabs was strictly limited to 0.42 kg/week for adults and 0.11 kg/week for children. The same four species from the Bojonegara Coastal Waters were also considered safe for consumption in normal portions.
CORRECTION OF BLUE SWIMMING CRAB FOLDING TRAP ENTRANCE: KOREKSI PINTU MASUK BUBU LIPAT RAJUNGAN Nasution, Defra Monika; Puspito, Gondo; Komarudin, Didin; Mustaruddin, Mustaruddin; Aulia, Deni
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.416-427

Abstract

Bubu lipat rajungan banyak digunakan oleh nelayan Indonesia karena mudah dibuat, dioperasikan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rajungan sering mengalami kesulitan ketika melewati lintasan masuk, karena kaki-kakinya terperosok ke dalam mata jaring. Duri-duri pada sisi badannya sering tersangkut pada benang jaring, karena celah masuk terlalu sempit. Akibatnya adalah peluang rajungan terperangkap menjadi sangat rendah. Tujuan penelitian pertama adalah memperoleh kombinasi sudut kemiringan dan ukuran mata jaring lintasan yang mudah dilewati rajungan. Penelitian mencoba mengombinasikan antara sudut lintasan 20°, 30°, dan 40° dengan ukuran mata jaring 0,125”, 0,35”, dan 1,25”. Adapun tujuan kedua adalah menentukan celah masuk berbentuk elips atau persegi panjang yang mudah dilalui oleh rajungan. Penelitian skala laboratorium dan data hasil penelitian diuji secara parametrik dengan analisis ANOVA dua arah dan Tukey. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi sudut 20° dan ukuran mata jaring 0,125” merupakan konfigurasi terbaik, karena sebanyak 26 rajungan dapat melewati celah masuk. Kombinasi berikutnya, 20° (0,35”) dan 30° (0,125”) masing-masing dilalui oleh 25 rajungan. Sebanyak 369 individu (63,6%) dapat melewati celah persegi panjang, sedangkan 211 individu (36,4%) lainnya melewati celah elips. Kombinasi sudut 20° dan ukuran mata jaring 0,125” dengan bentuk celah masuk persegi panjang lebih mudah dilewati rajungan dibandingkan dengan kombinasi lainnya.
ESTIMATION OF MIXING AND TRANSFORMATION OF SOUTH PACIFIC WATER MASSES IN THE HALMAHERA SEA: ESTIMASI PERCAMPURAN DAN TRANSFORMASI MASSA AIR PASIFIK SELATAN DI LAUT HALMAHERA Aprilia, Jesikha Dwi; Naulita, Yuli; Nurjaya, I Wayan; Purwandana, Adi; Wang, Zheng
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.440-452

Abstract

Laut Halmahera merupakan bagian dari jalur timur Indonesian Throughflow dan adalah wilayah kunci untuk interaksi dan transformasi massa air. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan pencampuran vertikal dan menganalisis implikasinya terhadap transformasi massa air Pasifik Selatan di Laut Halmahera. Data yang digunakan adalah data observasi arsip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggunakan profiler CTD dan pengukuran kecepatan arus vertikal pada Februari 2021. Estimasi percampuran dilakukan menggunakan analisis Thorpe untuk menghitung tingkat dispersi energi kinetik turbulen (ε) dan difusivitas Eddy vertikal (Kρ). Area pencampuran turbulen diidentifikasi pada kedalaman 50–300 m. Massa air S. Pasifik Selatan memiliki nilai salinitas maksimum 35,5 psu pada isopiknal σθ = 25,4, dan salinitas minimum 34,5 pada  isopiknal σθ = 26,5. Laut Halmahera di dekat Selat Obi mengalami perubahan salinitas maksimum pada isopiknal σθ = 25,5 dengan nilai 35,4 psu, sedangkan salinitas minimum pada σθ = 26 adalah 34,8 psu. Lapisan ini (σθ = 24–26), memiliki tingkat disipasi energi kinetik turbulen yang relatif tinggi (10-6 W/kg) dan difusivitas eddy vertikal (10-3 m2/s) yang menggambarkan transportasi Air Subtropis Pasifik Selatan (SPSW). Lapisan isopiknal σθ = 26–27 menunjukkan penurunan salinitas minimum, dengan ε pada ordo (10-7 W/kg) dan Kρ pada ordo (10-3 m2/s) di lapisan tengah dan dalam di dekat Selat Obi, menunjukkan pencampuran yang didorong oleh instabilitas geser yang terkait dengan zona disipasi energi gelombang internal.