cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,368 Documents
KONSEP INDUSTRI KEMASAN KOSMETIK DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF DI JOGLO, JAKARTA BARAT Wijaya, Regina Christanta; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37071

Abstract

The rapid growth of the national skincare and cosmetics industry has created enormous economic potential for Indonesia. However, behind this development lies a fundamental vulnerability, namely the high level of dependence on imported packaging materials, which currently reaches around 60 to 70 percent of total demand. This not only hampers the independence of the domestic cosmetics industry but also reduces the competitiveness of local products in the global market. To address this and strengthen the capacity of domestic resources, this study proposes and proposes the design of an industrial facility specifically focused on the production of cosmetic packaging bottles based on local resources. The analytical method used is a study of precedents and journals. The design approach used for this project is regenerative architecture, not only emphasizing sustainability but also aiming to restore and improve the condition of the surrounding environment. The implementation of this design is realized through the use of recycled materials, as well as the implementation of passive design strategies to maximize energy efficiency. These strategies include optimizing natural lighting, the use of solar panels to reduce fossil fuel consumption, and ergonomic and hygienic spatial planning for workers and visitors. By integrating regenerative principles and operational efficiency, this facility is expected to be able to reduce production costs, reduce carbon footprint, and become a pilot model for industrial architecture with a regenerative architecture concept that supports national cosmetics independence and encourages green economic growth in Indonesia. Keywords: Architecture; Cosmetic; Industry; Packaging; Regenerative Abstrak Pertumbuhan pesat industri perawatan kulit dan kosmetik nasional telah menciptakan potensi ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. Namun, di balik perkembangan tersebut, tersimpan kerentanan mendasar, yaitu tingginya tingkat ketergantungan terhadap impor bahan kemasan yang saat ini mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dari total kebutuhan. Hal ini tidak hanya menghambat kemandirian industri kosmetik dalam negeri, tetapi juga menurunkan daya saing produk lokal di pasar global. Untuk menanggapi hal tersebut sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya domestik, dalam studi ini diajukan dan diusulkan untuk perancangan fasilitas industri yang secara khusus difokuskan pada produksi botol kemasan kosmetik berbasis sumber daya lokal. Metode analisis yang digunakan adalah dengan studi preseden, dan jurnal. Pendekatan desain yang digunakan untuk proyek ini adalah arsitektur regeneratif, tidak hanya menekankan keberlanjutan, tetapi juga bertujuan memulihkan dan memperbaiki kondisi lingkungan sekitarnya. Implementasi desain ini diwujudkan melalui penggunaan material hasil daur ulang, serta penerapan strategi desain pasif untuk memaksimalkan efisiensi energi. Strategi tersebut mencakup optimalisasi pencahayaan alami, penggunaan panel surya untuk mengurangi konsumsi energi fosil, serta tata ruang ergonomis dan higienis bagi pekerja maupun pengunjung. Dengan integrasi prinsip regeneratif dan efisiensi operasional, fasilitas ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, mengurangi jejak karbon, serta menjadi model percontohan arsitektur industri dengan konsep arsitektur regeneratif yang mendukung kemandirian kosmetik nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia.
PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR REGENERATIF UNTUK REVITALISASI KOMUNITAS NELAYAN DAN EKOSISTEM PESISIR CILINCING Augustia, Florean Ayeisha; Winata, Tony
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37072

Abstract

Cilincing Fishermen’s Pier, a core locus of fisheries activity and coastal community life, faces intertwined environmental and social problems that limit quality of life. Developing a new port in this area offers a significant opportunity for revitalization. This study positions the fishing port as a socio-economic node currently constrained by coastal environmental degradation, inefficient maritime infrastructure, and the dispersion of fishery activities within residential areas. Using a case-study approach and site analysis, the research combines principles of maritime architecture and urban renewal to formulate a design scheme that is operationally effective and restorative to the ecosystem. The scope includes organizing work flows and resident movement, improving the efficiency of unloading facilities, and upgrading the waterfront so it is safe, hygienic, and accessible. Based on these findings, the study proposes a port design that is not only functionally sound for maritime operations but also capable of restoring and improving coastal ecosystem quality through stronger governance, materials suited to the marine environment, and inclusive public spaces. The proposed development is expected to raise fishermen’s incomes through better facilities and more efficient access, while also improving environmental conditions and local wellbeing through zoning, pollution control, and upgrades to basic service networks. The ultimate goal is to realize a sustainable and resilient port that acts as a catalyst for progress for the fishing community and the wider population of Cilincing, in line with the principles of the Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: Fisherman; Maritime; Regenerative Abstrak Dermaga Nelayan Cilincing, sebagai pusat aktivitas perikanan dan kehidupan masyarakat pesisir, dihadapkan pada kompleksitas permasalahan lingkungan dan sosial yang menghambat peningkatan kualitas hidup. Potensi pembangunan sebuah pelabuhan baru di kawasan ini menawarkan peluang signifikan untuk revitalisasi. Penelitian ini menempatkan pelabuhan nelayan sebagai simpul ekonomi-sosial yang saat ini terhambat oleh degradasi lingkungan pesisir, inefisiensi infrastruktur maritim, dan penyebaran aktivitas perikanan di pemukiman. Melalui pendekatan studi kasus dan analisa tapak, penelitian menggabungkan konsep arsitektur maritim dan urban renewal untuk merumuskan skema desain yang tidak hanya fungsional secara operasional tetapi juga bersifat restoratif terhadap ekosistem. Pemaknaan tersebut mencakup penataan alur kerja dan pergerakan warga, peningkatan efisiensi fasilitas bongkar muat, serta perbaikan kualitas ruang tepi air agar aman, higienis, dan mudah diakses. Berdasarkan temuan ini, dirumuskan konsep desain pelabuhan yang tidak hanya fungsional secara maritim, tetapi juga mampu memulihkan dan meningkatkan kualitas ekosistem pesisir melalui penguatan tata kelola, pemilihan material yang sesuai lingkungan laut, serta penyediaan ruang publik yang inklusif. Pembangunan pelabuhan ini berpotensi besar untuk meningkatkan taraf ekonomi para nelayan melalui fasilitas yang lebih baik dan akses yang lebih efisien, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan warga lokal melalui penyusunan zonasi, pengendalian polusi, dan perbaikan jaringan layanan dasar. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menciptakan sebuah pelabuhan yang berkelanjutan, tangguh, dan menjadi katalisator kemajuan bagi komunitas nelayan dan seluruh masyarakat di Dermaga Nelayan Cilincing, sejalan dengan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs).
PENATAAN KAWASAN PENGOLAHAN IKAN BERBASIS KOMUNITAS DI KAMPUNG PESISIR MUARA ANGKE Amnah, Amnah; Winata, Tony
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37073

Abstract

Muara Angke, particularly the Tembok Bolong settlement, is known as a traditional open-air fish-drying area that forms an integral part of residents’ daily activities. However, this practice generates several issues, including strong odors, accumulated fish waste, and limited access to proper communal spaces. In response to these challenges, this study aims to formulate a spatial design concept that improves environmental quality while supporting home-based fish-processing activities in a more organized manner. The research employs direct observation of residents’ daily routines, mapping of kampung activities, and an understanding of local practices as the foundation for spatial planning. Field findings are then combined with literature on participatory architecture and coastal environmental management to construct a relevant design framework. The results present a design concept that integrates fish-production areas, drying spaces, waste-processing facilities, cooperatives, and community spaces into a cohesive system aligned with kampung life. This approach creates a cleaner, more productive, and socially engaging environment. The main finding highlights that integrating fish-waste processing into spatial design can support the sustainable development of fishing communities without diminishing their local identity. Keywords: Coastal Settlement Regeneration; Coastal Village; Muara Angke; Participatory Architecture; Tembok Bolong Village Abstrak Kawasan Muara Angke, khususnya Kampung Tembok Bolong, merupakan pusat aktivitas penjemuran ikan asin secara tradisional di ruang terbuka. Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas warga, namun menimbulkan persoalan seperti bau menyengat, penumpukan limbah ikan, serta keterbatasan ruang komunal yang layak. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan konsep penataan kawasan yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung aktivitas pengolahan ikan sebagai usaha rumahan yang lebih tertata. Pendekatan penelitian dilakukan melalui observasi langsung kehidupan sehari-hari warga, pemetaan aktivitas kampung, dan identifikasi kebiasaan lokal sebagai dasar perancangan. Temuan lapangan kemudian dianalisis bersama literatur terkait arsitektur partisipatif dan pengelolaan lingkungan pesisir untuk membangun kerangka desain yang relevan. Hasil penelitian menghasilkan konsep rancangan yang mengintegrasikan ruang produksi ikan, area pengeringan, sistem pengolahan limbah, koperasi, dan ruang komunal dalam satu kesatuan yang selaras dengan pola hidup kampung. Konsep ini menciptakan lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan ramah bagi interaksi sosial. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi pengolahan limbah ke dalam desain ruang dapat mendorong kampung nelayan berkembang secara berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas lokalnya.
PENATAAN KAWASAN POLDER AIR HITAM UNTUK PENGUATAN FUNGSI PENGENDALI BANJIR DAN RUANG PUBLIK DI KOTA SAMARINDA Inuq, Noviana Chrisnadytia; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37074

Abstract

Samarinda City is one of the urban areas in East Kalimantan thet experiences a high level of flood vulnerability due to lowlad topography, inadequate drainage systems, and pressures from urban development. The Air Hitam Polder was constructed as a flood control infrasructure; however, over time it has also demonstrated potential as an urban public space. This study aims to formulate a spatial planning concept for the Air Hitam Polder area that strengthens its hydrological function while simultaneously enhancing the quality of public space. The research employs a qualitative-descriptive method with a spatial approach, utilizing field observations, interviews with relevant stakeholders, andanalysis of planning and policy documents. The analysis was conducted through several stages, including identification of existing conditions, evaluation of hydrological and social functions, and formulation of a zoning-based planning concept. The result indicate that the main issues of the Air Hitam Polder area include limited public facilities, weak integration between the technical functions of the polder and social activities, and low quality of open spaces. The proposed spatial arrangement consist of a hydrogical core zone, a passive recreation zone, and public activity zone integrated with pedestrian pathways and supporting vegetation. This study demonstrates that strengthening flood control function can be achieved in parallel with improving public space quality through integrated spatial planning and sustainable management. Keywords: Flood Control; Polder; Public Space; Samarinda City; Spatial Planning Abstrak Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi dataran rendah, sistem drainase yang belum optimal, serta tekanan perkembangan kawasan perkotaan. Polder Air Hitam dibangun sebagai infrastruktur pengendali banjir, namun dalam perkembangannya juga memiliki potensi sebagai ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep penataan kawasan Polder Air Hitam mampu memperkuat fungsi hidrologis sekaligus meningkatkan kualitas ruang publik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan spasial, melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan terkait, serta analisis dokumen perencanaan dan kebijakan. Analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi kondisi eksisting, evaluasi fungsi hidrologi dan sosial, serta perumusan konsep zonasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Polder Air Hitam memiliki permasalahan utama berupa keterbatasan fasilitas publik, kurangnya integrasi antara fungsi teknis polder dan aktivitas sosial, serta rendahnya kualitas ruang terbuka. Penataan kawasan diusulkan melalui pembagian zona inti hidrologi, zona rekreasi pasif, dan zona aktivitas publik yang terintegrasi dengan jalur pedestrian dan vegetasi penunjang. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan fungsi pengendali banjir dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ruang publik apabila didukung oleh konsep penataan terpadu dan pengelolaan berkelanjutan.
EVALUASI KETERSEDIAAN, KETERCUKUPAN, DAN PERSEBARAN FASILITAS SOSIAL DI KAWASAN APARTEMEN TOKYO RIVERSIDE PIK 2, KABUPATEN TANGERANG Owen, Jason; Suryadjaja, Regina; Widiastuti, Susanti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37075

Abstract

The growth of Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) as a new residential area in Tangerang Regency demands the provision of adequate social facilities to support the quality of life and welfare of residents. Tokyo Riverside Apartment as one of the main vertical residential areas in PIK 2 has experienced a significant increase in population, thus directly impacting the need for social facilities, especially educational, health, and religious facilities. This study aims to evaluate the availability, adequacy, and distribution of social facilities around Tokyo Riverside Apartment based on existing conditions, and compare them with the applicable population needs standards in accordance with urban planning provisions. The research method used is a quantitative and qualitative descriptive approach through an analysis of facility adequacy based on the Indonesian National Standard (SNI), supported by field observations, spatial accessibility analysis, and a study of facility utilization patterns by residents. The results show that educational facilities and religious facilities, especially Christian churches, are still limited and not evenly distributed to meet the needs of the area's residents, especially in the projected population in 2030. Meanwhile, health facilities are relatively sufficient in quantity, but the capacity of clinical services is estimated to be unable to keep up with the rate of population growth in the future. Overall, this study emphasizes the need to increase the number, capacity, and distribution of social facilities to support the development of a sustainable, inclusive, and livable PIK 2 area. Keywords: Availability Evaluation; PIK 2;  Social Facilities; Tokyo Riverside Apartments Abstrak Pertumbuhan Kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) sebagai kawasan hunian baru di wilayah Kabupaten Tangerang menuntut penyediaan fasilitas sosial yang memadai guna menunjang kualitas hidup dan kesejahteraan penghuni. Apartemen Tokyo Riverside sebagai salah satu kawasan hunian vertikal utama di PIK 2 mengalami peningkatan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga berdampak langsung terhadap kebutuhan fasilitas sosial, khususnya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan, ketercukupan, dan persebaran fasilitas sosial di sekitar Apartemen Tokyo Riverside berdasarkan kondisi eksisting, serta membandingkannya dengan standar kebutuhan penduduk yang berlaku sesuai dengan ketentuan perencanaan kawasan perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui analisis ketercukupan fasilitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), didukung dengan observasi lapangan, analisis aksesibilitas spasial, serta kajian terhadap pola pemanfaatan fasilitas oleh penghuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dan fasilitas peribadatan, khususnya gereja Kristen, masih terbatas dan belum tersebar secara merata untuk memenuhi kebutuhan penduduk kawasan, terutama pada proyeksi jumlah penduduk tahun 2030. Sementara itu, fasilitas kesehatan secara kuantitas relatif telah mencukupi, namun kapasitas pelayanan klinik diperkirakan belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk di masa mendatang. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan jumlah, kapasitas, serta pemerataan fasilitas sosial guna mendukung pengembangan kawasan PIK 2 yang berkelanjutan, inklusif, dan layak huni.
EVALUASI HIERARKI PUSAT PELAYANAN PERKOTAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SKALOGRAM DAN AKSESIBILITAS DI KOTA TANGERANG: KECAMATAN TANGERANG, KARAWACI DAN CIBODAS Amelia, Shalsadilla; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37076

Abstract

Abstract Tangerang City faces increasing demand for urban service centers that can provide equitable services in line with urban growth. This study evaluates the hierarchy of urban service centers by integrating scalogram analysis and transportation accessibility in Sub-Planning Area (SWP) A (Tangerang District) and SWP B (Karawaci and Cibodas Districts). The scalogram method and Centrality Index are used to assess facility completeness, while the Rank–Size Rule analyzes population distribution. The results indicate that Tangerang District has the highest level of facility completeness and is classified as an urban service center (order I), whereas Karawaci and Cibodas Districts are categorized as neighborhood-level service centers (order III). The integration of scalogram and transportation accessibility analyses shows that areas with more complete facilities tend to have better accessibility, while areas with limited accessibility exhibit lower and less evenly distributed service levels. These findings highlight the critical role of transportation accessibility in strengthening service center functions and promoting more balanced urban service provision in Tangerang City. Keywords: Centrality Index; Rank-Size Rule; Road Network; Scalogram; Service Center Hierarchy; Tangerang City; Transportation Accessibility Abstrak Kota Tangerang menghadapi peningkatan kebutuhan pusat pelayanan perkotaan yang mampu melayani masyarakat secara merata seiring pertumbuhan kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hierarki pusat pelayanan perkotaan melalui integrasi analisis skalogram dan aksesibilitas transportasi. Analisis dilakukan pada Sub Wilayah Perencanaan (SWP) A, yaitu Kecamatan Tangerang, serta SWP B yang meliputi Kecamatan Karawaci dan Cibodas. Metode skalogram dan Indeks Sentralitas digunakan untuk menilai kelengkapan fasilitas pelayanan, sedangkan Rank–Size Rule digunakan untuk menganalisis distribusi populasi wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tangerang memiliki tingkat kelengkapan fasilitas tertinggi dan dikategorikan sebagai pusat pelayanan perkotaan (orde I), sementara Kecamatan Karawaci dan Cibodas berada pada tingkat pusat pelayanan lingkungan (orde III). Integrasi hasil skalogram dan analisis aksesibilitas transportasi menunjukkan bahwa wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap cenderung memiliki aksesibilitas transportasi yang lebih baik, sedangkan wilayah dengan aksesibilitas transportasi terbatas menunjukkan tingkat pelayanan yang lebih rendah dan belum merata. Temuan ini menegaskan pentingnya peran aksesibilitas transportasi dalam memperkuat fungsi pusat pelayanan dan mendorong pemerataan pelayanan perkotaan di Kota Tangerang.
DINAMIKA PERUBAHAN KAWASAN BLOK M: STUDI KASUS PASARAYA GANG VIRAL Riza, Febi Amanda; Suryadjaja, Regina; Widiastuti, Susanti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37077

Abstract

Blok M in South Jakarta is an urban activity center that has undergone significant transformation in recent years. The area has changed not only through improved accessibility and mobility but also through the emergence of social interaction spaces that support youth expression and activities. This study analyzes the revitalization process with a focus on Pasar Raya Gang Viral, a corridor transformed from a formal trading space into a culinary, social, and creative hub. A qualitative descriptive method with a case study approach was employed, including field observation, interviews with managers, tenants, and visitors, as well as visual documentation. Findings indicate that Gang Viral acts as a catalyst for area activity, enhances social interaction, and strengthens Blok M’s appeal as an urban mobility and interaction hub. The presence of M Bloc Space is identified as a key factor driving revitalization and collaboration among stakeholders. These findings may serve as a reference for managing other urban areas to develop creative and sustainable interaction spaces. Keywords: Blok M; Gang Viral; Revitalization; Transformation Abstrak Blok M di Jakarta Selatan merupakan pusat aktivitas perkotaan yang mengalami transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan ini berubah tidak hanya melalui peningkatan aksesibilitas dan mobilitas, tetapi juga melalui munculnya ruang interaksi sosial yang mendukung ekspresi dan aktivitas generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses revitalisasi kawasan dengan fokus pada Pasar Raya Gang Viral, lorong yang berkembang dari ruang perdagangan formal menjadi pusat kuliner, sosial, dan kreatif. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dengan pengelola, tenant, dan pengunjung, serta pendokumentasian visual. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Gang Viral berperan sebagai pemantik aktivitas kawasan, meningkatkan interaksi sosial, dan memperkuat daya tarik Blok M sebagai pusat mobilitas dan interaksi perkotaan. Kehadiran M Bloc Space juga terbukti menjadi faktor kunci yang mendorong revitalisasi dan kolaborasi antar-pelaku kawasan. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi pengelolaan kawasan perkotaan lain dalam mengembangkan ruang interaksi yang kreatif dan berkelanjutan.
ANALISIS NILAI SPIRITUAL BUDAYA TERHADAP TATA LETAK CANDI PADA SUMBU AKSIS BUDAYA BOROBUDUR, PAWON, DAN MENDUT Mulyadi, Krisna; Widiastuti, Susanti; Suryadjaja, Regina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37078

Abstract

This study discusses the relation among three major temples in Magelang Regency, namely Borobudur Temple, Pawon Temple, and Mendut Temple, which are located on an imaginary line known as the Cultural Axis. The research aims to analyze the spatial, cultural, and spiritual relationships among the three temples in the context of pilgrimage trail tourism development. A qualitative approach was employed through field observation, interviews, and literature studies based on government documents. The findings indicate that the cultural axis holds significant potential to be developed as a sustainable spiritual tourism route that strengthens the cultural identity of the Borobudur area. Keywords: Borobudur; Cultural Axis; Mendu; Pawon; Pilgrimage Trail Abstrak Penelitian ini membahas hubungan tiga candi besar di Kabupaten Magelang, yaitu Candi Agung Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut, yang terletak pada satu garis imajiner yang disebut Sumbu Aksis Budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan spasial, kultural, dan spiritual di antara ketiga candi tersebut dalam konteks pengembangan pariwisata berbasis ziarah (pilgrimage trail tourism). Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta kajian literatur dan dokumen pemerintah daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan sumbu aksis budaya memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai jalur wisata spiritual berkelanjutan yang memperkuat identitas budaya kawasan Borobudur.
PRIVATELY OWNED PUBLIC SPACE (POPS) DALAM KAWASAN PUSAT PERBELANJAAN DI JAKARTA: STUDI IMPLEMENTASI REGULASI Alkaujani, Mahda; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37079

Abstract

Jakarta, as major center of urban growth, is required to fulfill its obligation to provide spaces that support residents’ comfort. Consequently, the government has developed various public spaces in collaboration with private entities, commonly referred to as Privately Owned Public Spaces (POPS). These are public spaces built on private land, owned and managed by private parties, but freely accessible to the public without restrictions on visitors. This phenomenon has become increasingly prevalent in Jakarta, particularly as open spaces on private land are often integrated with shopping mall complexes. In Jakarta, the government regulates POPS through Rencana Detail Tata Ruang 2022 (Pergub DKI 31/2022). However, the regulation provides no further specifications regarding the detailed provisions for POPS development. This study employs a case study approach using qualitative descriptive methods, including on-site observations, interviews with managers and users of the study objects, and literature review as data collection techniques. The research aims to identify the regulatory framework and detailed guidelines and physical characteristics of POPS that have developed in Jakarta. The study concludes with findings related to these objectives and recommendations for regulatory development to guide the future implementation of POPS. Keywords: Privately Owned Public Space; Public Space; Urban Planning Abstrak Kota Jakarta sebagai pusat pertumbuhan, dituntut untuk memenuhi kewajiban dalam penyediaan ruang yang mendukung kenyamanan warga. Maka dari itu, pemerintah telah membangun beragam ruang publik yang kolaborasi dengan pihak swasta yang dapat disebut dengan Privately Owned Public space (POPS), yaitu ruang publik yang berdiri di atas lahan privat, dimiliki, dan dikelola oleh pihak swasta, namun diperuntukan untuk publik secara bebas tanpa adanya batasan-batasan pengunjung. Fenomena ini sudah banyak terjadi di Jakarta, umumnya ruang terbuka pada lahan privat ini terintegrasi dengan kawasan pusat perbelanjaan. Di Jakarta pemerintah telah mengatur POPS dalam Rencana Detail Tata Ruang 2022 (Pergub DKI 31/2022). Namun, dalam peraturan tersebut tidak ada ketentuan lain mengenai pembangunan POPS lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu melakukan observasi pada objek studi, wawancara kepada pengelola dan pengguna objek studi, serta melakukan studi literatur sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi dan detail aturan, serta karakteristik fisik POPS yang sudah berkembang di Jakarta. Hasil akhir dari penelitian ini berupa kesimpulan dari tujuan tersebut serta saran pengembangan regulasi yang dapat dikembangkan untuk pembangunan POPS ke depannya.
EVALUASI KETERSEDIAAN DAN KELAYAKAN SARANA PRASARANA SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN WATERFRONT PARK STUDI KASUS SITU PEMDA, CIBINONG, KAB.BOGOR Nurhanifah, Khalsa; Herlambang, Suryono; Bella, Priyendiswara Agustina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37080

Abstract

Urban development in Cibinong has led to an increasing demand for adequate public open spaces, particularly blue spaces such as situ that serve ecological and social functions. Situ Pemda, located within the administrative center of Bogor Regency, has significant potential to be developed as a waterfront-based public space. However, the utilization of this area has not been optimal due to limitations and inadequacies in existing infrastructure when compared to urban public space standards. This study aims to evaluate the availability and feasibility of infrastructure facilities at Situ Pemda as a basis for the development of the Situ Front City area. The research employs a descriptive qualitative approach through field observations, interviews with relevant institutions, including BBWS, DPKPP, and Bappeda, and spatial analysis to assess physical conditions and accessibility. The results indicate that Situ Pemda benefits from a strategic location and good accessibility and is equipped with several basic facilities such as pedestrian paths, seating areas, toilets, and parking spaces. Nevertheless, the quality of these facilities does not yet fully meet the standards of comfort, safety, and sustainability required for waterfront public spaces. Limitations in material quality, pedestrian connectivity, facility cleanliness, and maintenance systems remain key challenges. Therefore, Situ Pemda can be classified as having a moderate level of readiness for waterfront public space development and requires targeted and sustainable improvements in infrastructure quality. Keywords: Accessibility; infrastructure facilities; green open space; waterfront; lake Abstrak Perkembangan kawasan perkotaan di Cibinong berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan ruang terbuka publik yang layak, khususnya ruang biru seperti situ yang berfungsi secara ekologis dan sosial. Situ Pemda yang terletak di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Bogor memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang publik berbasis waterfront. Namun demikian, pemanfaatan kawasan ini belum optimal akibat keterbatasan dan ketidaksesuaian sarana prasarana dengan standar ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kelayakan sarana prasarana di Situ Pemda sebagai dasar pengembangan kawasan Situ Front City. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara dengan instansi terkait, yaitu BBWS, DPKPP, dan Bappeda, serta analisis spasial untuk menilai kondisi fisik dan aksesibilitas kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situ Pemda memiliki keunggulan dari aspek lokasi dan keterjangkauan, serta telah dilengkapi beberapa fasilitas dasar seperti jalur pedestrian, tempat duduk, toilet, dan area parkir. Meskipun demikian, kualitas fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan ruang publik waterfront. Keterbatasan kualitas material, keterhubungan jalur pedestrian, kebersihan fasilitas, serta sistem pemeliharaan menjadi kendala utama. Dengan demikian, Situ Pemda berada pada tingkat kesiapan menengah untuk dikembangkan sebagai ruang publik waterfront dan memerlukan peningkatan kualitas sarana prasarana secara terarah dan berkelanjutan.