cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,368 Documents
REGENERASI KAWASAN KUMUH DI TAMBORA : REGENERASI EKOLOGI DAN SOSIAL PADA HUNIAN MASYARAKAT Gusfino, Hasta; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37061

Abstract

Due to its strategic location and being one of the lower-middle class economic centers in West Jakarta, Tambora District has become a target for urbanization.  Massive urbanization has caused Tambora's population density to increase sharply, making it one of the most densely populated areas in Southeast Asia.  High population density causes Tambora to have a very high residential density. This very high residential density causes various ecological problems such as unhealthy slums and the lack of green spaces.  The purpose of this study is to create new residential buildings that can solve residential problems and create green spaces for the community.  The research method is to study the community's lifestyle and settlement patterns using the fractal method, and to re-arrange the slum buildings using the shape grammar method.  The steps used are to study the existing settlement patterns and the community's lifestyle patterns. Then, to re-arrange these patterns.  The results of this study are that slum settlements in the Tambora area must be arranged according to the patterns that have been formed in the community and re-arranged to be more suitable and neat.  Designs created with sufficient green space and layouts that follow local culture can address ecological and social issues.  This research combines the redevelopment of slum settlements using the Shape Grammar method with the principles of regenerative architecture to address housing issues. Keywords:  Urbanization, slums, ecology, green open space, shape gramma, fractal, regenerative. Abstrak Karena letaknya yang strategis dan merupakan salah satu pusat ekonomi kelas menengah kebawah di Jakarta Barat, Kecamatan Tambora menjadi target urbanisasi. Urbanisasi besar – besaran menyebabkan kepadatan tambora menjadi melonjak sangat tajam yang Karena letaknya yang strategis dan merupakan salah satu pusat ekonomi kelas menengah kebawah di Jakarta Barat. Urbanisasi besar – besaran menyebabkan kepadatan tambora menjadi melonjak sangat tajam membuat Tambora menjadi salah satu kawasan paling padat di Asia Tenggara. Kepadatan manusia yang tinggi menyebabkan Tambora memilki kepadatan pemukiman yang sangat tinggi. Kepadatan pemukiman yang sangat tinggi menyebabkan berbagai masalah ekologi seperti pemukiman kumuh yang tidak sehat,dan kurangnya ruang hijau. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan bangunan pemukiman baru yang dapat menyelesaikan masalah pemukiman , dan menciptakan ruang hijau bagi masyarakat. Metode penelitian ini adalah dengan mempelajari pola hidup masyarakat serta pola pemukiman masyarakat dengan metode fraktal, dan menyusun kembali bangunan – bangunan kumuh tersebut dengan metode shape grammar. Langkah yang digunakan adalah mempelajari pola pemukiman yang sudah terbentuk, dan mempelajari pola hidup masyarakat. Lalu menata kembali pola – pola tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah pemukiman kumuh pada kawasan Tambora harus disusun dengan mengikuti pola yang sudah terbentuk pada masyarakat, dan ditata ulang agar lebih layak dan rapih. Desain yang dibuat dengan ruang hijau yang cukup, dan penataan yang mengikuti budaya masyarakat setempat, dapat menyelesaikan masalah ekologis dan sosial. Penelitian ini menggabungkan antara penataan kembali pemukiman kumuh dengan metode Fraktal, dengan prinsip – prinsip arsitektur regeneratif untuk menyelesaikan masalah pemukiman.
STRATEGI DESAIN BANGUNAN DI TEPI AIR Ayu, Gabi; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37062

Abstract

Waterfront areas are strategic urban spaces that are also vulnerable to environmental pressures, such as sea level rise, coastal flooding, and ecosystem degradation. In the architectural discipline, these issues are not only understood as environmental problems, but also as challenges for building design in responding to the dynamic conditions of waterfront areas. This study aims to formulate sustainable building design strategies in waterfront areas through a comparative analysis of international precedent studies. The method used is a qualitative-descriptive approach with precedent studies as the main analytical framework, supported by a review of literature related to Water-Sensitive Urban Design (WSUD), building energy efficiency, and coastal resilience. The two precedents studied, namely Darling Harbour in Sydney and Marina Bay District in Singapore, are positioned as architectural precedents, not environmental case studies, so the focus of the analysis is directed at the relationship between environmental systems and building design decisions. The novelty of this study lies in the development of an architectural analysis framework that explicitly separates the environmental dimensions and the building design dimensions in reading waterfront precedents, so that they can be used as a basis for formulating sustainable building design strategies in waterfront areas. Keywords: Architecture; coastal; energy; water-sensitive urban design waterfront; waterfront Abstrak Kawasan tepi air merupakan ruang perkotaan strategis yang sekaligus rentan terhadap tekanan lingkungan, seperti kenaikan muka air laut, banjir pesisir, dan degradasi ekosistem. Dalam disiplin arsitektur, isu tersebut tidak hanya dipahami sebagai permasalahan lingkungan, tetapi juga sebagai tantangan desain bangunan dalam merespons kondisi dinamis kawasan waterfront. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi desain bangunan berkelanjutan di kawasan tepi air melalui analisis komparatif studi preseden internasional. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi preseden sebagai kerangka analisis utama, didukung kajian literatur terkait Water-Sensitive Urban Design (WSUD), efisiensi energi bangunan, dan ketahanan pesisir. Dua preseden yang dikaji, yaitu Darling Harbour di Sydney dan Marina Bay District di Singapura, diposisikan sebagai preseden arsitektural, bukan studi kasus lingkungan, sehingga fokus analisis diarahkan pada hubungan antara sistem lingkungan dan keputusan desain bangunan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan kerangka analisis arsitektural yang secara eksplisit memisahkan dimensi lingkungan dan dimensi desain bangunan dalam pembacaan preseden waterfront, sehingga dapat digunakan sebagai dasar perumusan strategi desain bangunan berkelanjutan di kawasan tepi air.
PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DALAM PERANCANGAN BANGUNAN DI TEPI AIR Parami, Citta; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37063

Abstract

Waterfront areas in tropical regions face increasing environmental pressures due to coastal urbanization, climate change, and the degradation of aquatic ecosystems. These conditions require architectural approaches that address not only functional and aesthetic aspects, but also environmental sustainability and public space quality. This study aims to identify sustainable architectural principles applicable to tropical waterfront buildings. A qualitative descriptive method was employed through literature review and comparative analysis of two waterfront building precedents that implement sustainability strategies. The analysis was conducted based on resource efficiency, climatic adaptability, and the quality of waterfront public spaces. The findings indicate that passive design strategies, blue–green system integration, and the strengthening of relationships between buildings, public spaces, and water ecosystems are key factors in achieving sustainable waterfront architecture. This study is expected to provide a conceptual foundation for the development of adaptive, ecological, and context-responsive tropical waterfront design. Keywords:  Adaptive; sustainable architecture; water-edge building; tropical; waterfront
PENERAPAN KONSEP CO LIVING PERMACULTURE DALAM REDESAIN RUSUN HARUM TEBET Jiu, Brian Putra; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37064

Abstract

The Tebet subdistrict is a densely populated residential area with a population density of 20,000 people per km², driving high demand for vertical housing. The Harum Tebet public housing complex, established in 1997 for low-income communities, now faces challenges in the form of building degradation, minimal communal spaces that create isolation, and a lack of green areas. This study aims to redesign the flats by responding to the lack of effective space to increase social interaction and green open space (RTH) through a conceptual approach of Co-Living and permaculture. The research method uses surveys and observations to identify residents' needs. The analysis results show that the site has significant open space potential that can be converted into a productive landscape. This allows for the implementation of vertical farming, communal gardens, and composting and rainwater management systems without drastic structural changes. This redesign is expected to create an eco-communal housing model that improves space quality, social interaction, and environmental sustainability, thereby setting a relevant precedent for the revitalization of other similar flats. Keywords: Co-Living; communal space; permaculture; public housing; regenerative architecture Abstrak Kecamatan Tebet merupakan kawasan residensial padat dengan tingkat kepadatan mencapai 20.000 jiwa per km² , mendorong tingginya permintaan hunian vertikal. Rusunawa Harum Tebet, didirikan pada tahun 1997 untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) , kini menghadapi tantangan berupa degradasi bangunan , ruang komunal minim yang menciptakan keterasingan , serta kurangnya area hijau. Studi ini bertujuan untuk meredesain rusun dengan merespons kurangnya efektivitas ruang untuk meningkatkan interaksi sosial serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) melalui pendekatan konseptual Co-Living dan permakultur. Metode penelitian menggunakan survei dan observasi untuk mengidentifikasi kebutuhan warga. Hasil analisis menunjukkan bahwa tapak memiliki potensi ruang terbuka signifikan yang dapat diubah menjadi lanskap produktif. Hal ini memungkinkan implementasi vertical farming, kebun komunal, dan sistem pengelolaan kompos serta air hujan tanpa perubahan struktur drastis. Redesain ini diharapkan dapat menciptakan model hunian eko-komunal yang meningkatkan kualitas ruang, interaksi sosial, dan keberlanjutan lingkungan , sehingga dapat menjadi preseden relevan untuk revitalisasi rusun serupa lainnya.
PENDEKATAN DESAIN REGENERATIF PADA FASILITAS PENGELOLAAN AIR SEBAGAI URBAN EDU ECO TOURISM DI WADUK SUNTER BARAT Natasya, Angelita; Ariaji, Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37065

Abstract

West Sunter Reservoir plays a vital role as flood control infrastructure and a blue open space in North Jakarta. However, this area is experiencing significant ecological degradation due to domestic wastewater pollution and urbanization pressures, which limit its function as a provider of clean water and a viable public space. Conventional architectural approaches focusing solely on mitigating negative impacts are deemed insufficient to address the complexity of this ecosystem damage; strategies capable of restoring (regenerating) natural systems while reviving social interactions are required. This research aims to formulate a design for a water management facility based on urban edu-eco tourism by integrating two theoretical approaches: regenerative architecture and landscape urbanism. The research employs a qualitative descriptive method, which includes in-depth site analysis regarding water quality and spatial conditions, literature studies, and design synthesis. The design results demonstrate that regenerative architecture principles can be implemented through building systems that actively purify water using natural technologies such as floating treatment wetlands, constructed wetlands, and green roofs. Meanwhile, the landscape urbanism approach serves to blur the boundaries between building mass and the landscape through organic pedestrian circulation and publicly accessible green roofs. The integration of these two approaches yields a hybrid infrastructure typology that not only restores the water quality of West Sunter Reservoir but also functions as an environmental education facility, strengthening the relationship between urban society and its water ecosystem. Keywords:  landscape urbanism; regenerative architecture; Sunter Barat Reservoir; urban edu-eco tourism; water treatment Abstrak Waduk Sunter Barat memegang peranan vital sebagai infrastruktur pengendali banjir dan ruang terbuka biru di Jakarta Utara. Namun, kawasan ini mengalami degradasi ekologis signifikan akibat pencemaran air limbah domestik dan tekanan urbanisasi yang membatasi fungsinya sebagai penyedia air bersih maupun ruang publik yang layak. Pendekatan arsitektur konvensional yang hanya berfokus pada mitigasi dampak negatif dinilai tidak lagi cukup untuk mengatasi kompleksitas kerusakan ekosistem tersebut; diperlukan strategi yang mampu memulihkan (regenerasi) sistem alam sekaligus menghidupkan kembali interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan merumuskan desain fasilitas pengelolaan air berbasis urban edu-eco tourism dengan mengintegrasikan dua pendekatan teoritis: arsitektur regeneratif dan landscape urbanism. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif yang meliputi analisis tapak mendalam terhadap kualitas air dan kondisi spasial, studi literatur, serta sintesis desain. Hasil perancangan menunjukkan bahwa prinsip arsitektur regeneratif dapat diimplementasikan melalui sistem bangunan yang bekerja aktif membersihkan air menggunakan teknologi alami seperti floating treatment wetland, constructed wetland, dan green roof. Sementara itu, pendekatan landscape urbanism berperan dalam meleburkan batas antara massa bangunan dan lanskap melalui sirkulasi pedestrian yang organik dan atap hijau yang dapat diakses publik. Integrasi kedua pendekatan ini menghasilkan tipologi bangunan infrastruktur hibrida yang tidak hanya memulihkan kualitas air Waduk Sunter Barat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang memperkuat hubungan antara masyarakat urban dan ekosistem airnya.
STRATEGI PEMROGRAMAN ARSITEKTUR REGENERATIF PADA KAMPUNG APUNG: INTEGRASI RUANG AKUAPONIK DAN KOMUNAL Limuel, Giovanny Josefina; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37066

Abstract

Kampung Apung in Kapuk, Cengkareng, West Jakarta, is a residential area affected by permanent flooding that has led to environmental degradation, limited communal space, and a decline in residents’ quality of life. These conditions have created an unhealthy living environment with restricted accessibility and inadequate public space. This study aims to formulate a regenerative architectural spatial program through the integration of communal spaces and aquaponics systems to support ecological recovery and strengthen social and economic interactions within the community. The research employs a descriptive qualitative approach through literature review and field observation to examine the relationship between residents’ daily activities, ecological conditions, and the potential of water-based productive spaces. The findings indicate that everyday activities such as social interaction, informal trading, worship, and the use of waterfront areas form dynamic social patterns that naturally generate shared spaces despite the physical limitations of the settlement. Based on these findings, the proposed strategy focuses on providing multifunctional communal spaces that can accommodate social and productive activities simultaneously. The aquaponics system is integrated as an ecological component as well as a medium for community-based economic and educational activities. Through the reciprocal relationship between communal spaces and productive systems, the programming is expected to improve environmental quality while reinforcing social cohesion and the collective identity of Kampung Apung. Keywords:  Aquaponic; Communal; Degradation; Kampung Apung; Regenerative Abstrak Kampung Apung di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, merupakan kawasan permukiman yang mengalami degradasi lingkungan, keterbatasan ruang komunal, serta penurunan kualitas hidup masyarakat akibat genangan air permanen. Kondisi tersebut menjadikan lingkungan hunian tidak sehat, sulit diakses, dan minim ruang publik yang layak. Penelitian ini bertujuan merumuskan program ruang dengan arsitektur regeneratif melalui integrasi ruang komunal dan sistem akuaponik sebagai upaya pemulihan ekologis sekaligus penguatan interaksi sosial dan ekonomi warga. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan observasi lapangan untuk mengkaji hubungan antara aktivitas keseharian masyarakat, kondisi ekologis, dan potensi ruang produktif berbasis air. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas berinteraksi, berdagang, beribadah, serta memanfaatkan tepian air membentuk pola sosial yang dinamis dan menjadi dasar terbentuknya ruang bersama meskipun dalam keterbatasan fisik kampung. Berdasarkan temuan tersebut, perancangan diarahkan pada penyediaan ruang komunal multifungsi yang mampu menampung aktivitas sosial dan produktif secara bersamaan. Sistem akuaponik diintegrasikan sebagai elemen ekologis sekaligus sarana ekonomi dan edukasi masyarakat. Melalui hubungan timbal balik antara ruang komunal dan sistem produktif, pemrograman diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan serta memperkuat kebersamaan dan identitas sosial Kampung Apung.
STUDI EFEKTIVITAS MODUL KIOS MELALUI METODE REGENERATIF DI PASAR GANG CIKINI AMPIUN Wijaya, Calvin; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37067

Abstract

The Cikini Ampiun Market is one of the traditional markets that has grown in the urban village area of Jakarta with a strong social character but faces various physical problems. The narrow, damp space, lack of natural lighting, and poor air circulation have reduced user comfort and the quality of the market environment. In addition, the dense and disorderly arrangement of stalls also reduces space efficiency and disrupts the social activities that are characteristic of the Cikini community. This study aims to determine the effectiveness of applying kiosk modules as a regenerative architectural approach in improving the quality of Cikini Market, which is defined as the level of achievement in improving natural lighting, air circulation, spatial comfort, and the quality of social interaction. The qualitative research methods used include spatial typology studies, observation of user activities, and analysis of lighting, ventilation, and social interaction aspects. The results of the study show that the application of a 3x3x3 meter kiosk module with an open and flexible system can improve air circulation and natural lighting, as well as create a more adaptive interaction space. Thus, the kiosk module has the potential to be an adaptive regenerative solution to changes in activity needs, environmental conditions, and the social dynamics of market users, while also improving physical conditions and strengthening the social and ecological life of the urban village community. Keywords:  Adaptive; Effectiveness Studies; Kiosk Module; Regenerative Architecture; Urban Village Abstrak Pasar Gang Cikini Ampiun merupakan salah satu pasar rakyat yang tumbuh di kawasan kampung kota Jakarta dengan karakter sosial yang kuat, namun menghadapi berbagai permasalahan fisik. Kondisi ruang yang sempit, lembap, minim pencahayaan alami, serta kurangnya sirkulasi udara menyebabkan turunnya kenyamanan pengguna dan kualitas lingkungan pasar. Selain itu, penataan kios yang padat dan tidak teratur juga menurunkan efisiensi ruang serta mengganggu aktivitas sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Cikini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan modul kios sebagai pendekatan arsitektur regeneratif dalam memperbaiki kualitas ruang Pasar Cikini, yang dimaknai sebagai tingkat ketercapaian peningkatan pencahayaan alami, sirkulasi udara, kenyamanan ruang, serta kualitas interaksi sosial. Metode penelitian kualitatif yang digunakan meliputi studi tipologi ruang, observasi aktivitas pengguna, serta analisis terhadap aspek pencahayaan, ventilasi, dan interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan modul kios berukuran 3x3x3 meter dengan sistem terbuka dan fleksibel mampu meningkatkan sirkulasi udara, pencahayaan alami, serta menciptakan ruang interaksi yang lebih adaptif. Dengan demikian, modul kios berpotensi menjadi solusi regeneratif yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan aktivitas, kondisi lingkungan, dinamika sosial pengguna pasar, memperbaiki kondisi fisik, dan memperkuat kehidupan sosial dan ekologis masyarakat kampung kota.
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BIO-KINETIK DALAM RANCANGAN BANGUNAN OLAHRAGA MENUJU SURPLUS ENERGI DI CILANDAK, JAKARTA SELATAN Asshidiq, Raja Isa; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37068

Abstract

The increasing demand for sports facilities in South Jakarta highlights the urgency of designing sports buildings that not only fulfill basic functional requirements but also respond holistically to environmental sustainability issues. Existing conditions indicate that many sports facilities still adopt enclosed designs with a high dependence on air-conditioning systems and artificial lighting, leading to excessive and inefficient energy consumption. Addressing this challenge, this study develops a sports center concept based on bio-kinetic technology as an innovative approach to achieving a net-surplus energy building, namely a building capable of generating more energy than it consumes during operation. The research employs a qualitative design-based approach through stages of microclimatic site analysis, precedent studies of sustainable sports facilities, mapping of user activities to calculate the potential for energy conversion from human movement, and simulations of integrated energy systems combining various renewable energy sources. The theoretical foundation encompasses principles of regenerative architecture, the concept of net-surplus buildings, and bio-kinetic energy harvesting technologies that utilize biomechanical activity as an alternative energy source. The results indicate that integrating bio-kinetic systems, optimally sized solar panels, and strategies for natural ventilation and daylighting can reduce conventional energy consumption by up to 35 percent. Excess energy generated can be allocated for public space lighting, electric vehicle charging stations, and other secondary utility needs. The proposed sports center design is contextual to Jakarta’s tropical climate and supports long-term urban energy efficiency and sustainability. Keywords:  Architecture; Energy; Regenerative Abstrak Fenomena meningkatnya kebutuhan fasilitas olahraga di Jakarta Selatan menegaskan urgensi perancangan bangunan olahraga yang tidak hanya memenuhi fungsi dasar, tetapi juga mampu merespons isu keberlanjutan lingkungan secara holistik. Kondisi eksisting menunjukkan banyak fasilitas olahraga masih mengadopsi desain tertutup dengan ketergantungan tinggi pada sistem pendingin udara dan pencahayaan buatan, sehingga memicu konsumsi energi berlebihan dan tidak efisien. Menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengembangkan konsep sport center berbasis teknologi bio-kinetik sebagai pendekatan inovatif untuk mewujudkan bangunan berenergi net-surplus, yakni bangunan yang mampu menghasilkan energi lebih besar dibandingkan energi yang dikonsumsi selama operasional. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif-desain melalui tahapan analisis tapak mikro klimatis, studi preseden fasilitas olahraga berkelanjutan, pemetaan aktivitas pengguna untuk menghitung potensi konversi energi dari gerak manusia, serta simulasi sistem energi terintegrasi yang menggabungkan berbagai sumber energi terbarukan. Landasan teoritis mencakup prinsip arsitektur regeneratif, konsep bangunan net-surplus, dan teknologi energy harvesting berbasis bio-kinetik yang memanfaatkan aktivitas biomekanis sebagai sumber energi alternatif. Hasil penelitian menunjukkan integrasi sistem bio-kinetik, panel surya berkapasitas optimal, serta strategi ventilasi dan pencahayaan alami mampu menurunkan konsumsi energi konvensional hingga 35 persen. Kelebihan energi dialokasikan untuk penerangan ruang publik, stasiun pengisian kendaraan listrik, dan utilitas sekunder lainnya. Rancangan sport center kontekstual iklim tropis Jakarta dan mendukung efisiensi energi berkelanjutan.
REGENERATIF GAME HUB DENGAN KONSEP DIGITAL LANSKAP ARSITEKTUR DI JAKARTA SELATAN Clemens, Daniel; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37069

Abstract

The rapid growth of the Indonesian gaming industry shows significant potential in the global and regional gaming markets. Despite this growth, the issue of limited game development facilities remains significant, particularly in Jakarta. The lack of spaces for collaboration, research, incubation, and public facilities has led to the stagnation. This might harm the sustainability of the community, decreasing the competitiveness of local creators and increasing dependence on foreign ecosystems. The purpose is to develop game facilities from an architectural perspective through a regenerative approach and to shift the societal paradigm towards games. The methods used are qualitative and descriptive. The research steps include (1) redefining games as a medium that goes beyond play, (2) developing the concept of a digital architectural landscape as a hybrid space, and (3) regenerating game hubs as community platforms and innovation centers. The research prioritizes the creation of city-scale gaming facilities that emphasize regenerative values ​​and sustainability in local game development. Findings include the disparity in the number of facilities and users, the underestimated gaming paradigm, and the potential of objects as physical containers for virtual spaces using the concept of a digital architectural landscape. The novelty target of a gaming facility that can maintain the balance of the digital and physical worlds by integrating both elements to create an interactive space and an active community. Keywords: Architecture; Digital; Game; Local; Regenerative   Abstrak Fenomena pertumbuhan pesat industri game di Indonesia menunjukkan potensi besar dalam pasar game global dan regional. Dibalik pertumbuhan tersebut, isu keterbatasan fasilitas pengembangan game masih sangat nyata, khususnya di Jakarta. Minimnya ruang kolaborasi, riset, inkubasi, serta fasilitas publik yang mendukung proses kreatif menyebabkan perkembangan industri game lokal berjalan stagnan. Kondisi ini berpotensi memberi dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan komunitas pengembang game, menurunnya daya saing kreator lokal dan meningkatnya ketergantungan terhadap ekosistem luar negeri. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan fasilitas pengembangan game dari perspektif ruang dan arsitektur melalui pendekatan regeneratif serta mengubah paradigma masyarakat terhadap game. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dan deskriptif. Langkah-langkah penelitian mencangkup (1) meredefinisi game melampaui permainan, (2) mengembangkan konsep lanskap arsitektur digital sebagai ruang hibrida, dan (3) meregenerasi game hub sebagai wadah komunitas dan pusat inovasi. Penelitian  mengedepankan terciptanya fasilitas game skala kota yang mengedepankan nilai regeneratif dan keberlanjutan dalam pengembangan game lokal. Temuan ketimpangan jumlah fasilitas dan pengguna, paradigma game yang dipandang sebelah mata, dan potensi objek sebagai wadah fisik ruang virtual yang menggunakan konsep lanskap arsitektur digital. Target kebaruan sebuah fasilitas game yang dapat menjaga keseimbangan dunia digital dan fisik dengan mengintegrasikan kedua elemen untuk menciptakan ruang interaktif dan komunitas yang aktif.
PENERAPAN HASIL OLAHAN MINYAK JELANTAH SEBAGAI SUMBER ENERGI BANGUNAN DI DUREN SAWIT DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF Cahyaningrum, Aury Tikafia; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37070

Abstract

Jakarta, as the center of industrial and consumer activities, produces a very high volume of household waste, including used cooking oil that is often improperly disposed of without adequate management. This habit causes soil and water pollution, degrades environmental quality, and worsens urban ecological conditions. Considering the potential of waste as a renewable energy source, the Used Cooking Oil Processing Facility in Duren Sawit aims to present an architectural solution that functions not only as a processing center but also as a space for education, social interaction, and community empowerment. The literature review emphasizes the application of regenerative architectural principles that focus on the reciprocal relationship between humans, buildings, and the environment, as well as the integration of circular economy concepts to transform waste into valuable resources. The design approach considers regenerative aspects through energy efficiency, optimization of natural ventilation and daylight, and the use of environmentally friendly local materials. The design results show that the implementation of a regenerative system can create a closed-loop cycle, in which biodiesel produced from used cooking oil is reused as an energy source for building operations. Beyond its energy system, the facility also functions as a public learning space that enhances ecological awareness and community participation in sustainable waste management within dense urban areas. Keywords: Biodiesel; Processing; Regenerative; Used cooking oil Abstrak Jakarta sebagai pusat aktivitas industri dan konsumsi menghasilkan volume limbah rumah tangga yang sangat tinggi, termasuk minyak jelantah yang sering dibuang sembarangan tanpa pengelolaan yang memadai. Kebiasaan ini menimbulkan pencemaran tanah dan air, menurunkan kualitas lingkungan, serta memperburuk kondisi ekologi perkotaan. Dengan mempertimbangkan potensi limbah sebagai sumber energi terbarukan, pengolahan minyak jelantah di Duren Sawit bertujuan menghadirkan solusi arsitektural yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan, tetapi juga sebagai ruang edukasi, interaksi sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kajian literatur menekankan penerapan prinsip arsitektur regeneratif yang berfokus pada hubungan timbal balik antara manusia, bangunan, dan lingkungan, serta integrasi konsep ekonomi sirkular untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Pendekatan desain memperhatikan aspek regeneratif melalui efisiensi energi, optimalisasi sirkulasi udara dan cahaya alami, serta pengaruh positif pada ekosistem setempat. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan sistem regeneratif mampu menciptakan siklus tertutup, di mana biodiesel hasil olahan minyak jelantah dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi bagi bangunan. Selain sistem energi bangunan, pengolahan ini juga dapat berperan sebagai ruang pembelajaran publik yang memperkuat kesadaran ekologis dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah berkelanjutan di kawasan perkotaan padat.