cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
SARANA-OLAHRAGA VERTIKAL JAKARTA Tian Tian; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4538

Abstract

The Millennials, also known as Generation Y (Gen-Y) refer to a generation with people who were born in between 1981-1994, in which they have become dominant in the society and are in their productive phase. The millennials are certainly inevitable from the existence of automation resulting in an easier and faster way in doing various activities and fulfilling needs, moreover, many activities can be carried out simultaneously with the existence of this automation. This habit is increasingly becoming the lifestyle of these millennials in which they are heavily dependent on current and future technological advancements. For that matter, human beings are living things that have limits in terms of developing meanwhile, technologies currently are rapidly advancing. This means that these millennials will gradually lose their ability to keep track of the development of these technologies. Health is one of the keys for these millennials to be able to carry out activities and keep up with current technological developments. By creating a sports facility that functions as a means of recreation and health in the midst of the dense activities in Central Jakarta, precisely in Jl. H. Agus Salim, a design approach that focuses on providing space that can be used for sports and can be placed in the middle of the city, is given out to satisfy the necessity of having this kind of facility, in the hope of balancing the needs of these millennials for recreation in the middle of their crowded activities in the city. AbstrakGenerasi Millennial (Gen-Y) merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981-1994, yang menjadi masyarakat dominan dan sedang dalam masa produktif mereka. Generasi millennial yang tidak terhindarkan dari otomatisasi, yang membuat segala kegiatan dan kebutuhan menjadi lebih mudah dan cepat, terlebih lagi banyak kegiatan yang dapat dilakukan secara bersamaan dengan adanya otomatisasi ini. Kebiasaan ini kian menjadi gaya hidup generasi millennial yang bahkan sangat bergantung kepada kemajuan teknologi yang ada sekarang dan yang akan datang. Selayaknya manusia sebagai makhluk hidup yang punya keterbatasan untuk berkembang yang bertolak belakang dengan teknologi sekarang yang terus meningkat, yang berarti generasi millennial ini sedikit demi sedikit akan kehilangan kemampuan mereka untuk mengikuti laju perkembangan teknologi tersebut. Kesehatan menjadi kunci generasi millennial untuk tetap dapat beraktivitas dan mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Dengan menciptakan sebuah sarana olahraga yang berfungsi sebagai sarana rekreasi dan kesehatan dari padatnya aktivitas di daerah Jakarta Pusat, tepatnya pada Jl. H. Agus Salim, pendekatan desain yang memfokuskan kepada penyediaan ruang yang dapat digunakan untuk berolahraga yang dapat di tempatkan di tengah kota untuk menjawab keterjangkauan sarana olahraga ini, dengan harapan dapat menyeimbangkan kebutuhan generasi millennial akan sarana rekreasi dari padatnya aktivitas di tengah kota.
STRATEGI PERANCANGAN DESAIN KERUANGAN HUNIAN VERTIKAL DI MASA PANDEMI COVID-19 Martinus Dyon Lesmana; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10766

Abstract

The Covid-19 pandemic makes vertical housings vulnerable to mental health problems for residents. The cause of this problem is due to the small size of space, which is shrinking due to changes in urban patterns, which are not able to meet the needs of residents. The resident needs that are usually obtained outside the housing cannot be achieved due to social distancing or the lockdown. The closure of access also makes the residence must be able to become a place of work and entertainment space. As a result, the small dwellings are getting more and more cramped to live in. This problem encourages changes in new housing patterns that take into account the needs of each occupant. The use of a multidisciplinary approach by combining human psychology theory with architectural design theory is able to provide solutions in forming new residential patterns. Maslow's theory of human needs and Ray Oldenburg's theory of the Three Realms of Space form the basis of theory in designing. The design result is a residential unit module design that has all component place by Ray Oldenburg and fulfills Maslow's pyramid theory of needs. Key words: Covid-19 pandemic; Housing Pattern; Human Needs; Shrinking Space; Three Realms of Space AbstrakPandemi Covid-19 membuat hunian-hunian vertikal menjadi rentan terhadap permasalahan kesehatan mental penghuninya. Penyebab permasalahan ini dikarenakan ruang dengan ukuran kecil, yang menyusut akibat perubahan pola kota, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan penghuni. Kebutuhan yang biasanya didapatkan di luar hunian menjadi tidak dapat dijangkau karena adanya social distancing hingga lockdown. Penutupan akses juga membuat hunian harus mampu beradaptasi menjadi tempat kerja dan tempat hiburan. Akibatnya hunian yang kecil semakin sesak untuk ditinggali. Permasalahan ini mendorong perubahan pola hunian baru yang mempertimbangkan kebutuhan masing-masing penghuni. Penggunaan metode pendekatan multidisiplin dengan menggabungkan teori psikologi manusia dengan teori desain arsitektural mampu memberikan solusi dalam membentuk pola hunian baru. Teori Maslow tentang kebutuhan manusia dan teori Ray Oldenburg tentang Three Realms of Space menjadi dasar teori dalam merancang. Hasil rancangan berupa desain modul unit hunian yang memiliki karakteristik ketiga tempat oleh Ray Oldenburg dan memenuhi teori piramida kebutuhan Maslow.
WADAH INTERAKSI SOSIAL DAN SARANA KREATIF DI KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT Steffi Gisela; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6782

Abstract

Human needs as social beings are interacting. Especially with the high activity and high work demands, especially in the Kemayoran area. In this area, public space is needed as a place for them to support their social needs. Third place as the third space is needed for everyone because it is a place where people can release the fatigue that occurs in their daily activities. The lack of a third place causes various problems such as traffic that is hampered by children playing soccer in the middle of the road, many residents who relax on the side of the main road or roundabouts, to the emergence of illegal parking which causes traffic jams. Therefore, this project aims to resolve social problems in Kemayoran which simultaneously improve the quality of Kemayoran residents through creative means. In building programs in buildings, it is chosen to use the transprogramming method which is done by combining two programs whose properties and spatial configurations are different regardless of their suitability. For example the library is combined with a racecourse. With this, it is hoped that Kemayoran residents can further develop intimacy and build harmony and develop their potential so that they will improve their social quality. AbstrakKebutuhan manusia sebagai makhluk sosial adalah saling berinteraksi. Apalagi dengan padatnya aktivitas dan tuntutan pekerjaan yang tinggi khususnya pada daerah Kemayoran. Pada kawasan tersebut sangat dibutuhkan ruang publik sebagai wadah bagi mereka untuk menunjang kebutuhan sosial mereka. Third place sebagai ruang ketiga diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat dimana orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Kurangnya third place mengakibatkan berbagai masalah misalnya lalu lintas yang terhambat karena anak-anak bermain bola di tengah jalan, banyaknya warga yang bersantai di pinggir jalan utama ataupun di bunderan, sampai timbulnya parkir liar yang mengakibatkan kemacetan. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial di Kemayoran yang sekaligus meningkatkan kualitas warga Kemayoran melalui sarana kreatif. Dalam membangun program dalam bangunan, dipilih menggunakan metode transprogramming yang dilakukan dengan mengkombinasikan dua program yang sifat dan konfigurasi spasialnya berbeda tanpa melihat kecocokannya. Misalnya perpustakaan dikombinasikan dengan arena balap. Dengan ini diharapkan warga Kemayoran dapat lebih menjalin keakraban dan membangun keharmonisan serta mengembangkan potensinya sehingga akan menaikkan kualitas sosial mereka.
FASILITAS KESEHATAN MENTAL PASCA PANDEMI DI CENGKARENG, JAKARTA Ghina Devira Basyasyah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10792

Abstract

Mental health is a basic part of human life. Because mental health affects directly to the way people think, feel, and behave. However, the emergence of mental health is not taken seriously. Griya Jiva is a mental health facility aims to provide a place for the community who needs professional help. Griya Jiva started from increasing mental health in the world, included Indonesia. The cause is the spread of pandemic Covid-19. It is constraining lots of company to close/ stop operating until dismissal. This facility also provides various activity, such as personal consultation, behavioral meditation, gardening therapy, and group support. Moreover, there are supporting programs such as workshop and food bank. This programs expected to help community who needs. This project using Descriptive and Precedent method, by following justified elements or rule of an example. The element that chosen is Natural Lighting where natural lighting could have big impact on patient’s recovery process, because natural lighting can affect someone’s mood. Keywords:  facility; mental health; pandemic AbstrakKesehatan mental merupakan hal dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena kesehatan mental berpengaruh secara langsung terhadap cara orang berpikir, merasakan dan berprilaku. Namun, seringkali munculnya gangguan kesehatan mental tidak ditanggapi secara serius. Griya Jiva merupakan fasilitas kesehatan mental yang bertujuan untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan tenaga profesioanl. Griya Jiva ini bermula dari meningkatnya gangguan kesehatan mental di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah merebaknya pandemi Covid-19. Hal ini memaksa banyak perusahaan untuk tutup sehingga terjadi PHK massal. Fasilitas ini menyediakan berbagai kegiatan, yaitu Personal Consultation, Behavioral Meditation, Gardening Therapy dan Group Support. Selain itu terdapat program pendukung lainnya seperti workshop dan food bank. Program-program ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan. Proyek ini menggunakan metode Deskriptif dan metode Preseden, yaitu dengan mengikuti unsur-unsur atau aturan yang dibenarkan dari sebuah contoh. Unsur yang dipilih tersebut adalah Pencahayaan Alami, dimana pencahayaan alami dapat memberikan pengaruh besar terhadap proses pemulihan pasien, karena pencahayaan alami dapat mempengaruhi suasana hati seseorang.
PERANCANGAN HUNIAN SEWA UNTUK MILENIAL DI PADEMANGAN Fanuel Fang; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4452

Abstract

Urbanization has become a common phenomenon in big cities, with the exception of Jakarta. Urbanites (the name for people who are urbanizing) usually come to Jakarta to get jobs with higher wages than their home regions. Although the cost of living in Jakarta is relatively expensive, large revenues are the main focus for them. This is what has contributed to the emergence of slums in the capital, as happened in Pademangan Barat Village. The majority of migrants dominated by millennials work as shop employees in Mangga Dua and labor convection. They occupy semi-permanent buildings in narrow alleys, even to the extent that they fill along the edge of the railroad tracks that pass in Pademangan, which should be a green line. The existence of such housing makes the West Pademangan Area seem dingy, crowded with buildings, and loses its green space. This is because the rental price is cheap and sufficient to meet the needs of residents who only need a temporary resting place. The government has actually provided low-cost flats in Kemayoran, but it seems influential in reducing these slum dwellings. Vertical rental housing which simultaneously provides shared facilities also plays a role as a green space to compensate for the density of buildings in Pademangan. So that not only intended for residents, but also can be used by the surrounding residents, where analyzed by the author to be located in 10th RW (citizen association) of Pademangan Barat. AbstrakUrbanisasi telah menjadi fenomena yang umum terjadi di kota besar, tanpa terkecuali Jakarta. Kaum urban (sebutan untuk orang yang melakukan urbanisasi) biasanya datang ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah lebih tinggi dibandingkan daerah asal mereka. Karenanya, pengeluaran selama berada di Jakarta diminimalisir sebisa mungkin, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal sementara. Hal inilah yang ikut mengakibatkan munculnya pemukiman kumuh di ibukota, sebagaimana yang terjadi di Kelurahan Pademangan Barat. Para pendatang yang didominasi generasi milenial ini mayoritas berprofesi sebagai karyawan toko di Mangga Dua dan buruh konveksi. Mereka menempati bangunan semi dan non-permanen di gang-gang sempit, bahkan hingga memenuhi sepanjang pinggir rel kereta api yang melintas di Pademangan, dimana semestinya merupakan jalur hijau. Keberadaan hunian seperti inilah yang membuat Kawasan Pademangan Barat terkesan kumuh, padat dengan bangunan, dan kehilangan ruang hijaunya. Meski hanya berupa bangunan berbahan triplek kayu yang menumpang di dinding pembatas rel kereta, namun kamar-kamar yang disewakan ini begitu diminati bahkan hingga kelebihan kapasitas. Hal ini dikarenakan harga sewanya yang murah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan penghuni yang hanya memerlukan tempat beristirahat sementara. Pemerintah sebenarnya telah menyediakan rumah susun murah di Kemayoran, namun tampaknya berpengaruh dalam mengurangi hunian kumuh ini. Hunian sewa vertikal yang sekaligus menyediakan fasilitas bersama, turut berperan sebagai ruang hijau untuk mengimbangi kepadatan bangunan yang ada di Pademangan. Sehingga tidak hanya diperuntukkan bagi penghuni, namun juga dapat digunakan oleh warga sekitarnya, dimana berdasarkan analisa penulis berlokasi di RW 10 Kelurahan Pademangan Barat.
UPAYA PENINGKATAN KEGIATAN SOSIAL DAN INTERAKSI SESAMA MAKHLUK HIDUP PADA MASYARAKAT DAN HEWAN DI KELURAHAN SETIABUDI Angel Carveling; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8483

Abstract

In the era of globalization, capitalism, especially in urban areas is developing rapidly. The population is dominated by millennial. In the progression of the technology, people especially in urban areas become individualism, selfish and easily depressed. Relationships between humans and the environment are getting worst. One of the things that can rehabilitate human depression is interaction with animals. Interactions that occur between humans and animals can produce endorphins which make them happy when interacting. However, human and animal relations are increasingly damaged. Animals often be the victim from human selfishness and ignorance. The level of human concern for animals is diminishing. Humans and animals must coexist and help one another to protect the world's ecosystem. With narrative architectural methods, the sharing space "When Humans Meet Pets" in the Setiabudi Subdistrict is trying to set various programs that are mutually beneficial relations for both humans and animals. The program and design in the third space reinforces the narrative of the animal's house that can be felt visually by humans and human buildings that can be inhabited and provides benefits to animals and the two can co-exist together in it. So the design of this building is trying to provide a third space in the Setiabudi Subdistrict so that humans can interact with animals to reduce depression and animals can live peacefully in the building. Keywords:  Animals; Co-Exist; People; Third Place AbstrakPada era globalisasi, kapitalisme  terutama pada daerah perkotaan berkembang pesat. Populasi masyarakat didominasi oleh kaum milenial. Teknologi semakin berkembang membuat masyarakat terutama di perkotaan menjadi individualisme, egois dan mudah depresi. Hubungan antar manusia maupun dengan lingkungan semakin rusak. Salah satu hal yang dapat memperbaiki depresi manusia adalah dengan interaksinya bersama binatang. Interaksi yang terjadi antara manusia dan hewan dapat menghasilkan hormon endorfin yang membuat keduanya saling bahagia saat berinteraksi. Namun, hubungan manusia dan hewan semakin rusak. Hewan sering menjadi korban dari tingkah egois dan kebodohan manusia. Tingkat kepedulian manusia terhadap hewan semakin berkurang. Manusia dan hewan harus hidup berdampingan serta saling membantu untuk menjaga ekosistem dunia. Dengan metode arsitektur naratif, ruang berbagi “Ketika manusia bertemu dengann binatang peliharaan” di Kelurahan Setiabudi berusaha menuangkan berbagai program yang saling menguntungkan hubungan baik untuk manusia maupun binatang. Program dan desain pada ruang ketiga ini memperkuat narasi rumah hewan yang dapat dirasakan secara ruang dan visual oleh manusia dan bangunan manusia yang dapat dihuni dan memberikan keuntungan kepada hewan serta keduanya dapat saling hidup berdampingan di dalamnya. Sehingga desain bangunan ini berusaha untuk memberikan ruang ketiga pada Kelurahan Setiabudi agar manusia dapat berinteraksi dengan hewan untuk menghilangkan depresi dan hewan dapat hidup dengan damai di bangunan tersebut.
FASILITAS PELATIHAN DAN KOMUNITAS DESAIN GRAFIS Filbert Uriel Sulaiman; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6811

Abstract

Bungur subdistrict, located in Senen district, Central Jakarta, is famous as a printing area. Bungur has various types of printing services starting from digital printing, offset printing, and finishing services (emboss, binding, cutting, etc). There are many skilled workers are hired to work in the printing services. Skilled or unskilled workers in printing services are people who rely on physical labour and tend to work longer than educated workers. The lack of interaction and tension in the workplace after a long period can cause stress which leads to other diseases. However, the stress can be solved by having an informal interaction apart from their workplace and home. In the other hand, long working hours have reduced opportunities for these workers to have an informal social interaction. As a respond to the problem, this training facility design as a place for skilled and unskilled workers to have social interaction apart from their workplace and home. This project also aims to be a place for residents of Bungur Subdistrict to develop their skills in graphic design. To reach the goals, the design has a wide-open space for anyone on the basement floor which is open and becomes into one virtually with the ground floor. Above the open space there are training facility and gallery which have separated circulation. The separation between the training facilities, gallery, and the open space under it aims to fulfil the needs of each program. AbstrakKecamatan Bungur, yang terletak di distrik Senen, Jakarta Pusat, terkenal sebagai daerah percetakan. Bungur memiliki berbagai jenis layanan pencetakan, mulai dari pencetakan digital, cetak offset, dan layanan finishing (emboss, binding, cutting, dll). Oleh karena itu banyak pekerja terampil dipekerjakan untuk bekerja di bidang percetakan. Pekerja yang terampil atau tidak terampil dalam layanan pencetakan adalah orang-orang yang mengandalkan tenaga fisik dan cenderung bekerja lebih lama daripada pekerja yang berpendidikan. Kurangnya interaksi dan ketegangan di tempat kerja setelah waktu yang lama dapat menyebabkan stres yang mengarah pada penyakit lain. Namun, masalah ini dapat diselesaikan dengan interaksi informal yang terpisah dari tempat kerja mereka dan rumah dapat mengurangi stres tersebut. Tetapi, jam kerja yang panjang menghasilkan kesempatan minimal bagi para pekerja ini untuk melakukan interaksi sosial di luar tempat kerja atau rumah mereka. Akibatnya, fasilitas pelatihan ini dirancang untuk menjadi tempat bagi pekerja terampil dan tidak terampil untuk berinteraksi sosial antara tempat kerja dan rumah mereka. Bukan hanya tempat untuk melakukan interaksi sosial, tetapi proyek ini juga bertujuan untuk menjadi tempat bagi warga Kecamatan Bungur untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam desain grafis. Sebagai tempat interaksi, bangunan dirancang memiliki ruang terbuka lebar bagi siapa saja di lantai dasar yang terbuka dan menjadi satu dengan lantai dasar. Kemudian fasilitas pelatihan dan galeri melayang di atasnya dengan dukungan kolom. Pemisahan antara fasilitas pelatihan, galeri, dan ruang terbuka di bawahnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing program.
GALERI SENI KEBUDAYAAN PERANAKAN TIONGHOA INDONESIA Veronika Meidyana; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3808

Abstract

Pecinan Jakarta merupakan kawasan yang di mana kaum etnis Tionghoa tinggal, telah mengalami perubahan karena dinamika isu politik, ekonomi dan sosial budaya di Kota Jakarta. Warisan memori, tradisi, kebudayaan, dan nilai-nilai sejarah yang identik dengan kawasan ini menjadi bukti telah terjadinya berbagai rangkaian peristiwa yang bermuara pada industri sektor pariwisata bersejarah. Studi ini berfokus pada Kawasan Pecinan Jakarta sebagai objek pariwisata arsitektur. Dengan mencoba mengkaitkan garis sejarah Kawasan Pecinan dengan fenomena wisata melalui media sosial yang kini tengah merambah ke industri seni budaya. Kegiatan seni budaya dapat dijadikan wadah untuk berwisata dengan memamerkan hasil karya di media sosial dan memicu terjadinya kegiatan baru untuk ditekuni sebagai hobi. Sehingga tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis wisata seni dan sejarah-kebudayaan masa kini sebagai wisata yang terintegrasi dengan Kawasan Pecinan Jakarta dan Kota Tua sebagai elemen pembentuk kota. Hasil investigasi dan analisis menunjukkan bahwa seni budaya khas orang Tionghoa yang dapat dikembangan di Kawasan Pecinan Jakarta adalah kerajinan keramik. Tanah liat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan alat makan keramik seperti, mangkuk, piring, gelas, sumpit. Proses pembuatan kerajinan keramik dari tanah liat yang dikembangkan pada proyek ini, di mana wisatawan bisa menikmati proses pembuatan dari bahan mentah hingga menghiasnya dengan alat lukis. Selain itu, di bangunan ini, wisatawan dapat juga menikmati taman di tengah bangunan, biasanya ditemui di rumah-rumah orang Tionghoa. Taman ini dipercaya orang Tionghoa sebagai sumur langit dan disebut shi he yuan dalam bahasa mandarin.
SENI DAN BUDAYA SEBAGAI RUANG KETIGA DAN WADAH BEREKSPRESI DI PONDOK KELAPA: RUANG EKSPRESI Wewin Febriana Dewi; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8552

Abstract

Pondok Kelapa is an area located on the edge of East Jakarta and is dominated by settlements, according to data from BKKBN the dominance of age in Pondok Kelapa ranges from 6 years old to 22 years old, the age at which people prefer to gather to exchange information with their friends. The third place is a space for humans to meet and exchange information, this research of Third Place uses criteria from The Great Good Place, a book by Ray Oldenburg(1999). It is not home and it is not a place to work, the third place is often used as teenagers to gather. The third place has an important role for humans, therefore all humans have the right to have it in the environment they live. The lack of a third place in the Pondok Kelapa causes its citizens to go downtown where the third room is better and this causes traffics on weekends. The purpose of this research is to apply the criteria of the third place in the arts and culture building as a positive container as well as a community forum for the environment. Keywords:  Art and Culture; Expression; Third place Abstrak Pondok Kelapa adalah Kelurahan yang berada di tepi Jakarta Timur dan didominasi oleh pemukiman, menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (disingkat BKKBN)[1] dominasi umur di pondok kelapa berkisar 6 tahun hingga 22 tahun, umur dimana lebih suka berkumpul bertukar informasi dengan teman seusianya. Ruang ketiga adalah ruang untuk manusia bertemu dan bertukar informasi, penilitian ini menggunakan kriteria dari buku Ray Olderburg tahun 1999 yang berjudul The Great Good Place. Ruang ketiga bukan rumah dan bukan tempat berkerja, Ruang Ketiga sering dijadikan remaja untuk berkumpul. Ruang Ketiga memiliki peran penting untuk manusia, maka dari itu semua manusia berhak memilikinya di lingkungan Ia tinggal. Kurangnya ruang ketiga di pondok kelapa menyebabkan warganya pergi ke pusat kota dimana ruang ketiga lebih baik dan hal ini menyebabkan kemacetan di akhir minggu. Tujuan dari penilitian ini adalah menerapkan kriteria ruang ketiga pada bangunan seni dan budaya sebagai wadah positif juga wadah komunitas bagi lingkungan.
PERPUSTAKAAN LAB Anthony Christianto; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4420

Abstract

The millennial generation is a periodical generation that includes people who were born in the year 1980–2000 who have the will to improve oneself, to be acknowledged, do things instantly and have a deeper understanding about technology. This generation that is well known for pioneering in the field of technological development should be provided with a range of education, both independently or collaboratively, so as to support each individual in creating various innovation for a better future, thus achieving the real self-actualization. To support it, an open space should be available for the millennials to conduct experimental or social and contextual learning for understanding the technological knowledge better. According to the method of the developmental stages of building typology ranging from the prototypical to the stereotypical, the presence of lab-rary (lab library) hopes to give a solution for the millennials to be supplied with the sophisticated and comprehensive technological education, through hands-on experience via experimental laboratory, or a diverse range of theoritical book collection that is accompanied with discussion rooms throughout the plan to enhance the collaborative learning of technology and its advancements. Lab-rary hopes to provide the contemporaneity values for the millennial users that use it as a place to study, co-create, collaborate in a team or as a temporary playroom all built under one single roof that vows to create a living educational platform for the self-improvement of millennials. AbstrakGenerasi milenial merupakan sebuah jenjang generasi yang lahir pada tahun 1980–2000 yang memiliki keinginan untuk mengembangkan potensi diri, diakui, serba instan dan paham lebih dalam di bidang teknologi. Milenial yang seyogyanya merupakan pelopor dalam perkembangan berbasis teknologi wajib dibekali oleh pelbagai edukasi, baik secara mandiri maupun kolaboratif, dalam mendukung individu menciptakan berbagai inovasi untuk masa depan yang lebih baik, agar mencapai tingkat aktualisasi diri yang nyata. Untuk menunjang aktivitas tersebut, diperlukan wadah bagi para milenial dalam melakukan pembelajaran eksperimental maupun secara sosial dan kontekstual dalam mencari ilmu pengetahuan yang lebih dalam. Sesuai dengan metode tipologi perkembangan fungsionalitas perpustakaan dari prototipe hingga stereotipe, kehadiran perpustakaan lab diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi para milenial untuk mendapatkan edukasi teknologi yang mutakhir dan komprehensif, baik secara pengalaman langsung melalui laboratorium-laboratorium praktik yang bersifat eksperimental, maupun melalui koleksi buku teoritikal yang diselingi dengan ruang-ruang diskusi untuk membuka wawasan yang lebih luas akan pengetahuan tentang teknologi. Perpustakaan lab diharapkan dapat menghadirkan nilai-nilai kesejamanan bagi para pengguna milenial yang menggunakan wadah tersebut untuk belajar, berkreasi, berkolaborasi secara kelompok dan mandiri atau sebagai tempat pelesiran sementara yang disatukan di dalam satu atap sebagai ruang edukatif untuk pengembangan diri generasi milenial.

Page 6 of 134 | Total Record : 1332