cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG AKSELERATOR KESADARAN TERHADAP PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL DI KAWASAN PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT Prawuasvini Zata Hendarjana; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16937

Abstract

Recently, cases of sexual harassment are increasingly visible and exposed in Indonesia. The factors that cause this incident are social, educational, and economic factors. The main problem is that people still do not understand about sex education and it has become very taboo. Although sex education lessons have been implemented in schools, there needs to be an architectural space that can provide knowledge to all people about this. Sexual harassment is a social practice. Social practice has an institutional life and a semiotic life. And social practices like sexual harassment have a history. Considering sexual harassment from a historical perspective allows us to ask some fundamental questions about the nature of the practice, the terms it opposes, and the rules and rhetoric by which laws limit or allow the behavior. This is a debate why it is called sexual harassment but not sex discrimination, but harassment is something that is included in sex discrimination itself. Because the theme of this final project is Rethinking Typology, the author makes a building containing thematic rooms that can provide information and educate the public, and the author's background on sexual harassment results in the author's building containing an accelerator room as a trigger for awareness or public awareness. With the project location in the Pasar Senen area, Central Jakarta. The purpose of this building can be achieved by targeting users from all walks of life to enter this project because the area includes areas that have public and private facilities and meet project parameters related to sexual harassment incidents. Keywords: Accelerator; Education; Information Space; Sexual Harassment AbstrakBelakangan ini kasus pelecehan seksual semakin terlihat dan terekspos di Indonesia. Faktor yang menyebabkan terjadinya kejadian tersebut adalah faktor sosial, pendidikan, hingga ekonomi. Permasalahan utamanya adalah bahwa masyarakat masih kurang memahami mengenai edukasi seks dan hal itu menjadi sangat tabu. Meskipun pelajaran edukasi seksual sudah diterapkan di sekolah-sekolah, tetapi perlu adanya ruang arsitektur yang bisa memberi ilmu kepada semua masyarakat mengenai hal tersebut. Pelecehan seksual adalah praktik sosial. Praktik sosial memiliki kehidupan institusional dan kehidupan semiotik. Dan praktik sosial seperti pelecehan seksual memiliki sejarah. Mempertimbangkan pelecehan seksual dalam perspektif sejarah memungkinkan kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan mendasar tentang sifat praktik tersebut, istilah-istilah yang ditentangnya, dan aturan serta retorika yang dengannya undang-undang membatasi atau memungkinkan perilaku tersebut. Hal ini menjadi perdebatan kenapa dinamakan pelecehan seksual tetapi bukan diskriminasi seks, tetapi pelecehan itu merupakan hal yang termasuk dalam diskriminasi seks itu sendiri. Dikarenakan tema dari tugas akhir ini adalah Rethinking Typology, penulis membuat sebuah bangunan berisikan ruang-ruangan tematik yang dapat memberikan informasi maupun mengedukasi masyarakat, dan latar belakang penulis mengenai pelecehan seksual alhasil bangunan penulis berisikan ruangan akselerator sebagai pemicu awareness atau kesadaran masyarakat. Dengan lokasi proyek yang berada di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Tujuan bangunan ini bisa tercapai dengan target user semua kalangan dapat masuk ke proyek ini dikarenakan kawasan tersebut termasuk kawasan yang memiliki fasilitas public dan private dan memenuhi parameter proyek yang terkait dengan kejadian pelecehan seksual.
PENERAPAN TIPOLOGI BARU PADA PASAR ANYAR TANGERANG Laurensia Sheryl Asterina; Budi A. Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16925

Abstract

The presence of traditional markets in Indonesia as a space that represents the society with natural products obtained through buying and selling activities between traders and buyers, also can be a space for social activities caused by various interactions. One of its is Pasar Anyar, which is the biggest market in Tangerang City. At Pasar Anyar, visitors can discover and knowing the daily lives of the surrounding community and their produce. Various goods are selling at Anyar, start from vegetables, fruits, meat, clothing up to equipment and knick knacks. Pasar Anyar, that has existed since the 1960s, began to experience a decline in traders and buyers, impacting a decrease in activity and the market’s interest. This is due to the poor physical condition of the market and the impact on the market's declining image. Steps to fix Pasar Anyar and rebuild the market image by redesigning. The redesign of the market building is carried out by using a typology method for the purpose for creating security and comfort in the market. The use of the typology method makes a new typology in Pasar Anyar which is implemented into a new design of the market building. This project exists in an effort to change the type and perception of the old Pasar Anyar into a new form of Pasar Anyar by targeting comfort, security and user space experience when using Pasar Anyar in the future. Keywords: Pasar Anyar ; Redesign ; Traditional Market ; Typology AbstrakKehadiran pasar tradisional di Indonesia sebagai ruang yang merepresentasikan masyarakatnya dengan hasil alam yang diperoleh melalui aktivitas jual beli antara pedagang dengan pembeli serta dapat menjadi ruang dengan kegiatan sosial karena terdapat berbagai interaksi. Salah satunya Pasar Anyar yang merupakan salah satu pasar terbesar di Kota Tangerang. Pada Pasar Anyar, pengunjung dapat mengamati serta mengenal keseharian masyarakat sekitar beserta hasil buminya. Beragam barang dijual di Anyar, mulai dari sayur, buah, daging, sandang hingga peralatan serta pernak-pernik. Pasar Anyar yang telah berada eksistensinya sejak tahun 1960-an tersebut mulai mengalami suatu penurunan pada pedagang serta pembeli yang berdampak terhadap penurunan aktivitas serta peminat pasar. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi fisik pasar yang tidak baik serta menyebabkan menurunnya citra pasar. Langkah untuk membenahi Pasar Anyar serta membangun kembali citra pasar dengan melakukan redesain. Redesain pada bangunan pasar dilakukan dengan menggunakan suatu metode tipologi untuk tujuan terciptanya keamanan serta kenyamanan pada pasar. Metode tipologi menghasilkan tipologi baru pada Pasar Anyar yang diimplentasikan kedalam desain baru bangunan pasar. Proyek ini hadir dalam upaya mengubah tipe serta persepsi dari Pasar Anyar yang lama menjadi suatu wujud Pasar Anyar yang baru dengan menargetkan kenyamanan, keamanan serta pengalaman ruang pengguna saat menggunakan Pasar Anyar dimasa depan.
PENDEKATAN TIPOLOGI DALAM PERANCANGAN MUSEUM TRAGEDI PANDEMI DI PADEMANGAN, JAKARTA UTARA Gilbert Alexander Hutagaol; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16901

Abstract

Museums are a means of learning and knowledge for the general public, especially knowledge about history and culture. Museums are basically made to commemorate various events in the past with documents to objects left behind. Historical objects stored in the museum are representations of past events that can be remembered and become common. Hopefully, it will be a lesson in the future. Seeing that the current level of visits to museums in Indonesia is still low, so a rethinking of the typology of museums is needed, which can remind the interest of the Indonesian people to make museums a means of knowledge and appreciation of Indonesian history. Meanwhile, the world is experiencing the Covid-19 pandemic. With the presence of the Tragedy museum, it will be a method of public learning to commemorate various tragedies in Indonesia, one of which is the tragedy of the Covid-19 pandemic. The data is also strengthened by WHO, where WHO reports that around 11,84,226 cases were confirmed with 545,481 deaths worldwide caused by the Covid-19 virus. However, the Covid-19 pandemic is not the only pandemic event that first appeared in the world, but the last pandemic event of several pandemics that have ever existed. So it is necessary for us to recall past pandemic events, which had the same impact as the Covid-19 pandemic, such as the Black Death, Spanish Flu, Asian Flu, AIDS/HIV, Cholera and Sars pandemics. Considering several tragedies that have occurred in the world, it is very important if these tragedies are picked up and reordered from one another, so that these tragedies can be interesting and learned for future generations by capturing historical moments about Tragedy in Indonesia. Therefore, by bringing the tragedy into a museum, it is hoped that in the next 10 years, the younger generation will be able to know and understand the conditions experienced by the world at the time of this epidemic, so that it can become reflection and learning for them in their daily lives. One way to make it happen is by designing a museum, namely the Tragedy Museum. It is hoped that this Tragedy Museum can be the best solution in increasing the younger generation visually about history, and can also increase their curiosity about science, so that the museum as a center of knowledge will continue to increase. and also more and more people are visiting the museum. Keywords: Knowledge Center; Museum; Tragedy; TypologyABSTRAKMuseum merupakan sarana pembelajaran serta pengetahuan untuk masyarakat umum, terutama pengetahuan mengenai  sejarah dan budaya. Museum pada dasarnya dibuat untuk mengenang berbagai macam kejadian di masa lalu dengan memperlihatkan dokumen hingga benda-benda yang ditinggalkan. Benda-benda bersejarah yang disimpan di museum merupakan representasi dari peristiwa di masa lalu yang dapat di kenang dan menjadi pengetahuan umum, Harapan  nya akan menjadi pembelajaran di masa depan. Melihat saat ini tingkat kunjungan ke museum di Indonesia masih rendah, Sehingga diperlukan suatu pemikiran ulang terhadap tipologi museum, yang dapat mengingatkan minat masyarakat Indonesia untuk menjadikan museum sebagai sarana pengetahuan dan menghargai sejarah Indonesia. Sementara itu, dunia sedang mengalami peristiwa pandemic Covid-19. Dengan kehadiran museum Tragedi akan menjadi metode pembelajaraan masyarakat untuk mengenang berbagai Tragedi yang ada di Indonesia, Salah satu nya adalah tragedi pandemic Covid-19. Data juga di perkuat oleh WHO, dimana WHO melaporkan bahwa sekitar 11.84.226 kasus konfirmasi dengan 545.481 kematian di seluruh dunia yang diakibatkan oleh Virus Covid-19. Namun Kejadian pandemi Covid-19 bukan satu-satunya kejadian pandemi yang pertama kali muncul didunia, melainkan kejadian pandemi terakhir dari beberapa pandemi yang pernah ada. Sehingga perlu untuk kita mengingat kembali kejadian pandemi dimasa lalu, yang dapaknya sama seperti pandemi Covid-19, seperti pandemi Black Death, Flu Spanyol, Flu Asia, AIDS/HIV, Kolera, dan Sars.Mengingat beberapa kejadian tragedi yang terjadi di dunia, hal ini sangat menarik jika tragedi ini diangkat dan diurutkan kembali satu persatu, sehingga tragedi ini dapat di kenang dan di jadikan pembelajaran bagi generasi di masa depan dengan cara mengabadikan momen bersejarah tentang Tragedi di Indonesia. Oleh karena itu, dengan mengangkat kejadian Tragedi ke dalam museum, diharapkan 10 tahun yang akan datang, generasi muda dapat tahu dan mengerti tentang kondisi yang dialami dunia pada saat terjadinya wabah ini, sehingga dapat menjadi renungan dan pembelajaran bagi mereka di kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu cara mewujudkannya yaitu dengan merancang sebuah museum yaitu Museum Tragedi Harapannya Museum Tragedi ini bisa menjadi solusi terbaik dalam meningkatkan pengetahuan generasi muda secara visual mengenai sejarah, dan juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu mereka tentang ilmu pengetahuan, sehingga museum sebagai pusat pengetahuan akan terus meningkat, dan juga semakin banyak yang berkunjung ke museum. 
FASILITAS PENDIDIKAN KEJURUAN ANIMASI DI JAKARTA PUSAT MELALUI PROGRAM PENDIDIKAN 5.0 Mentari Amaliah Susanto; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16877

Abstract

Animation technology until now has always experienced rapid development, especially in developed countries that have technology that is considered very advanced and qualified with the quality of its human resources. Currently the animation industry in developed countries continues to progress in creating extraordinary animation works so that the whole world can experience their works, including in Indonesia. Indonesia also has its own animation industry, although in terms of quality it is not comparable to developed countries such as in America and Europe, but animation in Indonesia is currently experiencing development. In Indonesia, animation education tends to be lacking, therefore the current government wants to develop and advance the animation education sector, which is currently dominated by foreign animation on Indonesian television. For this reason, animation education facilities are needed to hone and create a young generation who has superior quality in the field of animation. This animation vocational education facility project aims to develop and hone the younger generation to achieve their goals in the industry, which is currently still relatively small by opening an educational facility that focuses on the field of animation. In designing this animation education facility project, the school's architectural typology design method was applied as a basis based on function, especially in producing the organization of space and building form in order to be able to answer rethinking about the typology of school buildings, especially Animation Vocational Education in Jakarta. In addition, it also applies the Eco Industrial design method to building design. Keywords: animation industry; technology; school typology AbstrakTeknologi animasi hingga saat ini selalu mengalami perkembangan yang pesat, terutama di negara-negara maju yang memiliki teknologi yang terbilang sangat maju dan mumpuni dengan kualitas sumber daya manusia-Nya. Saat ini industri animasi di negara maju terus mengalami kemajuan dalam menciptakan karya animasi yang luar biasa hingga seluruh dunia dapat merasakan karya-nya, termasuk di Indonesia. Indonesia juga memiliki industri animasi tersendiri, walaupun dari segi kualitas belum sebanding dengan negara maju seperti pada negara Amerika dan Eropa, namun animasi di Indonesia saat ini  mengalami perkembangan. Di Indonesia, dalam pendidikan animasi cenderung kurang, maka dari itu pemerintah saat ini ingin mengembangkan dan memajukan sektor pendidikan animasi yang saat ini di pertelevisian Indonesia didominasi oleh animasi luar. Untuk itu diperlukan sarana pendidikan animasi untuk mengasah dan menciptakan generasi muda yang memiliki kualitas unggul dalam bidang ilmu animasi. Proyek sarana pendidikan kejuruan animasi ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengasah para generasi muda untuk menggapai cita-cita dalam industri tersebut, yang saat ini masih terbilang sedikit dengan membuka suatu fasilitas pendidikan yang berfokus pada bidang animasi. Dalam mendesain proyek sarana pendidikan animasi ini menerapkan metode desain tipologi arsitektur sekolah sebagai dasar berdasarkan fungsi, khususnya dalam menghasilkan organisasi  ruang dan bentuk bangunan agar dapat menjawab berpikir ulang tentang tipologi bangunan sekolah khususnya Pendidikan Kejuruan Animasi di Jakarta. Selain itu juga menerapkan pada metode desain Eco Industrial pada desain bangunan.
PENERAPAN ARSITEKTUR NARATIF PADA MUSEUM DE GROTE POSTWEG DI KOTA BANDUNG Nizar Firdaus Usman; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16899

Abstract

The Anyer-Panarukan post road was a monumental colonial project with the aim of connecting areas on the northern coast of Java Island whose the benefits can still be felt today. The phenomenon that occurs along with the times is the erosion of the community’s collective memory about the origin of the post road. This is caused by the socio-cultural changes by the people along the road which which have slowly shifted the function and image of the post road. In adition, the existence of toll roads also makes it no longer the only choice for people to travel. The purpose of the project “De Grote Postweg: Sequential Narrative Space of The Great Post Road” is to retell the history of the origins of these monumental project, reflections, dan resolutions towards the future, through historical tourism, in the midst of massive changes and along the northern coast of the Island of Java. The choice of the city of Bandung as the location of the museum is based on the historical narrative of the city which intersects with the construction of the road at that time. The method used in designing this museum is narrative architecture in the typology of museum exhibition space. The project begins with grouping the historical time span of the road which is divided into 5 permanent exhibition space zones based on time sequence, which are then narrated in the form of spatial space with different keywords according to their respective historical narratives. The result of rethinking the typology of museum exhibition space with narrative architecture is an exhibition space that is organized according to the chronological historical events that is educative, attractve, and inclusive. Keywords:  history; museum; narative; tourism; typology AbstrakJalan raya pos Anyer-Panarukan merupakan proyek monumental zaman kolonial dengan tujuan untuk menghubungkan daerah-daerah di pesisir Utara Pulau Jawa yang manfaatnya masih dapat dirasakan hingga masa kini. Fenomena yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman adalah terkikisnya memori kolektif masyarakat tentang asal usul jalan raya pos tersebut. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial-budaya masyarakat di sepanjang jalan raya tersebut yang turut menggeser fungsi dan citra jalan raya secara perlahan. Selain itu, adanya jalan tol juga menjadikannya bukan lagi satu-satunya sebagai pilihan orang untuk bepergian. Tujuan dari proyek “Museum De Grote Postweg: Ruang Narasi Berurutan Jalan Raya Pos Besar” di Kota Bandung adalah menceritakan kembali sejarah terbentuknya proyek monumental tersebut, refleksi, dan resolusi menuju masa depan melalui pariwisata sejarah di tengah masifnya perubahan di sepanjang pantai Utara Pulau Jawa. Pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi museum tidak lepas dari narasi sejarah Kota Bandung yang saling bersinggungan dengan pembangunan jalan raya pos pada saat itu. Metode yang digunakan pada perancangan museum ini adalah arsitektur naratif pada tipologi ruang pamer museum. Perancangan dimulai dengan pengelompokan rentang waktu sejarah jalan rata pos yang dibagi menjadi 5 zona ruang pamer tetap berdasarkan urutan waktu, yang kemudian dinarasikan dalam bentuk ruang spasial dengan kata kunci yang berbeda sesuai narasi sejarahnya masing-masing. Hasil dari memikirkan kembali tipologi ruang pamer museum dengan arsitektur naratif adalah ruang pamer yang tersusun berdasarkan urutan waktu kejadian sejarah yang edukatif, atraktif, dan inklusif.
PERANCANGAN SARANA KEBUGARAN DALAM MENGHADAPI PASCA PANDEMI DI PORIS Daniel Daniel; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16907

Abstract

The emergence of the corona virus pandemic has affected many sectors, one of which is fitness and recreational facilities which have had to be closed so far because they are indicated as points of spread of the corona virus. Therefore, fitness and recreation facilities must be able to adapt and adapt to these and future conditions, in order to be able to survive and provide the necessary facilities during the pandemic.The method used is a qualitative method, the design method uses a typology design method by applying the concept of maximum openings and high aeration transitions. This concept is the result of an assessment of the typology of a fitness facility as well as sports trends that are currently developing and then combined. By using this concept, people can move in the building with a lower level of corona virus transmission, because it has good air openings and transitions. Because the corona virus can quickly become extinct if it is directly exposed to sunlight, with a good air transition it is hoped that it can carry the corona virus out of the room.Hopefully this concept can be a solution for post-pandemic fitness and recreation facilities, can provide a different and new exercise experience for those of us who are active and exercise in it. It is hoped that the designed fitness and recreation facilities can survive, adapt, and provide what they should during a pandemic or under normal conditions. Keywords: Typology; Fitness and Recreation Facilities; Air Transition; GreeningAbstrakMunculnya pandemi virus corona membuat banyak sektor yang terkena dampaknya, salah satunya sarana kebugaran dan rekreasi yang harus ditutup sejauh ini karena diindikasikan sebagai titik penyebaran virus corona. Oleh karena itu sarana kebugaran dan rekreasi harus dapat beradaptasi dan menyesuaikan dengan keadaan ini dan yang akan datang, agar mampu bertahan dan memberikan sarana yang seharusnya di masa pandemi.    Metode yang digunakan metode kualitatif, metode desain perancangan menggunakan metode desain tipologi dengan menerapkan konsep bukaan yang maksimal dan transisi pengudaraan yang tinggi. Konsep ini hasil pengkajian tipologi dari sebuah sarana kebugaran serta tren olahraga yang berkembang saat ini dan kemudian digabungkan. Dengan menggunakan konsep tersebut, orang dapat beraktivitas didalam gedung dengan tingkat penularan virus corona yang lebih sedikit, karena memiliki bukaan dan transisi udara yang baik. Karena virus corona dapat cepat punah jika langsung terpapar sinar matahari, dengan transisi udara yang baik diharapkan dapat membawa virus corona keluar dari ruangan. Kiranya konsep ini dapat menjadi solusi untuk sarana kebugaran dan rekreasi pasca pandemi, dapat memberikan pengalaman berolahraga yang berbeda dan baru bagi kita yang beraktivitas dan berolahraga didalamnya. Diharapkan sarana kebugaran dan rekreasi yang dirancang mampu bertahan, berdaptasi, serta memberikan hal yang seharusnya di kala pandemi maupun dalam kondisi normal. 
REKREASI KULINER BETAWI DI MANGGA BESAR Giovanni Gunawan; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16923

Abstract

Food is one of the basic survival needs. Indonesia is a country with a wide variety of cuisines. In Indonesia, food has become part of the culture. Unfortunately, there is a phenomenon, especially in big cities, where the younger generation prefers non-traditional culinary that gets rid of the position of traditional culinary. Culinary recreation is a lifestyle that has emerged recently. For people who like recreation, it's not complete if you haven't tried the specialties of a region. The food provided in each region also varies. The Betawi tribe is a pioneer of DKI Jakarta's cultural and cultural identity and the preservation of Betawi culinary culture will affect the community, both entrepreneurs and consumers. Metaphorical and experimental methods are taken as an approach in designing where the shape of the plate is taken as the basis for the shape of the building. The plates are then arranged horizontally, vertically, and with various inclinations to create a unique and interesting space experience. The existence of Betawi Culinary Recreation in Mangga Besar will bring many benefits for culinary connoisseurs and for the food industry in the Mangga Besar area, so that they can meet various culinary needs. As a result, Betawi food can be known by the wider community and help preserve Betawi food. Keywords:  Betawi; Culinary; Recreation AbstrakMakanan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam kulinernya. Di indonesia makanan sudah menjadi bagian dari budaya. Sayangnya muncul fenomena terutama di kota-kota besar dimana generasi muda lebih menyukai kuliner non-tradisional yang menyingkirkan posisi kuliner tradisional. Rekreasi kuliner merupakan gaya hidup yang mulai muncul belakangan ini. Bagi orang yang suka berekreasi, belum lengkap rasanya jika belum mencoba makanan khas suatu daerah. Makanan yang disediakan di tiap daerah juga bervariasi. Suku Betawi merupakan pelopor identitas budaya dan budaya DKI Jakarta dan pelestarian budaya kuliner Betawi akan mempengaruhi masyarakat baik pengusaha maupun konsumen. Metode metafora dan eksperimental diambil sebagai pendekatan dalam mendesain dimana bentuk piring diambil sebagai dasar bentuk bangunan. Piring kemudian disusun secara horizontal, vertikal, dan dengan kemiringan yang beragam untuk membuat pengalaman ruang yang unik dan menarik. Dengan adanya Rekreasi Kuliner Betawi di Mangga Besar akan membawa banyak manfaat bagi para penikmat kuliner dan bagi industri makanan di kawasan Mangga Besar, sehingga dapat memenuhi berbagai kebutuhan kuliner. Alhasil, makanan khas Betawi bisa dikenal masyarakat luas dan membantu melestarikan makanan Betawi.
RUANG EDUKASI ANAK-ANAK Denisa Sumardi Sumardi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17238

Abstract

The educational process of children cannot be separated from them need to play, education is a very important activity for children. Through learning, children will get to know the world around them. In Indonesia, the quality of education is still relatively low. In the HDI (Human Development index) survey, Indonesia is ranked 35 out of 57 countries. So the need for a new strategy to improve the quality of education, through programs, new learning methods. Adapting to the behavior and habits of children. Typological methods related to interactive and recreational spaces related to personal, social and public spaces that are prioritized for children. The result is a new education system with the management of open spaces, playrooms and interacting with children. By implementing interactive science, math, art learning programs for children. This research aims to offer a typology of comfortable educational places, taking into account the ergonomics of habits, children's behavior and new experiences for children. As well as analytical studies to develop the relationship between typology and architectural psychology. The children's education room must also provide comfort such as a playground but still maintain the function of an educational place itself Keywords:  Children; Education; Typology.AbstrakProses edukasi anak-anak tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhannya akan bermain, edukasi merupakan sebuah aktivitas yang kerusial untuk anak-anak. Melalui belajar, anak akan mengenal dunia sekitarnya. Di Indonesia kualitas Pendidikan masih tergolong rendah. Dalam survei HDI (Human Development index) Indonesia berada di peringkat 35 dari 57 negara. Sehingga perlunya strategi baru peningkatan kualitas edukasi, melalui program, metode balajar yang baru. Menyesuaikan dengan perilaku dan kebiasaan anak-anak. Metode tipologi terkait ruang interaktif dan rekreatif terkait ruang personal, sosial dan publik yang di utamakan untuk anak-anak. Hasilnya adalah system edukasi yang baru dengan pengelolaan ruang terbuka, ruang bermain dan berinterasi anak-anak. Dengan menerapkan program pembelajaran sains, matematika, seni yang interaktif kepada anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan tipologi tempat edukasi yang nyaman, dengan memperhatikan ergonomi kebiasaan, tingkah laku anak-anak dan pengalaman baru untuk anak-anak. Serta studi analisis untuk mengembangkan relasi antara tipologi dengan psikologi arsitektur. Ruang edukasi anak-anak juga harus memberikan kenyamanan seperti taman bermain tetapi tetap mempertahankan fungsi dari sebuah tempat edukasi itu sendiri.
PEMBUATAN TAMAN BOTANI UNTUK MENGATASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM YANG MEMICU BANJIR DAN PENURUNAN TANAH DI WADUK PLUIT, JAKARTA UTARA Felicia Dominique Haryadi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16848

Abstract

Climate change has caused heavy rainfall to cause severe flooding. There is a lot of data that reveals that flooding and land subsidence in the city of North Jakarta are numerous and ironic. This is due to the lack of catchment areas causing severe flooding in North Jakarta and also the view of sea water, extensive groundwater pumping and the number of tall buildings causing the North Jakarta area to sink quickly. Therefore, it is necessary to find a solution to respond to this problem, namely by building a Botanical Garden near the reservoir which can become a large enough air infiltration as well as to accommodate rainwater and treat usable air. By using qualitative and descriptive methods to get data about a typology development of botanical gardens in order to answer the existing problems. The location determined will be located at a water point (reservoir/lake) more precisely near the eastern part of Pluit Reservoir. This is done because the reservoir is a place to collect rainwater and control flooding. The existence of a botanical garden is expected to become a catchment area and with the existence of floating buildings which are expected to be a solution to the land subsidence that occurs so that the building can continue to adapt to the running time. Keywords: Botanical Gardens; Flood and Land Subsidence; Reservoir Abstrak Perubahan iklim telah menyebabkan curah hujan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan banjir yang parah. Terdapat banyaknya data yang telah memberitakan akan banjir dan penurunan tanah di kota Jakarta Utara ini cukup banyak dan ironis. Hal ini merupakan akibat dari kurangnya daerah resapan menyebabkan banjir yang cukup parah di Jakarta Utara dan juga meningkatnya permukaan air laut, pemompaan air tanah secara luas dan banyaknya gedung tinggi dapat menyebabkan wilayah kota Jakarta Utara akan cepat tenggelam. Oleh karena itu, perlu adanya solusi untuk menanggapi masalah ini yaitu dengan membangun suatu Taman Botani di dekat reservoir yang dapat menjadi dearah resapan air yang cukup besar sekaligus dapat menampung air hujan dan mengolah air tersebut menjadi air yang layak pakai. Dengan menggunakan metode kualitatif dan juga deskriptif untuk mendapatkan data tentang suatu perkembangan tipologi taman botani agar dapat menjawab permasalahan yang ada. Lokasi yang ditentukan nantinya berada dekat dengan titik air (reservoir/danau) lebih tepatnya di Waduk Pluit bagian Timur. Hal ini dilakukan karena reservoir merupakan tempat untuk menampung air hujan dan menjadi pengendali banjir. Dengan adanya taman botani diharapkan menjadi sebuah daerah resapan dan dengan adanya bangunan apung yang ada diharapkan dapat menjadi solusi dengan issu penurunan tanah yang terjadi sehingga bangunan dapat terus beradaptasi dengan waktu yang berjalan.
PENERAPAN METODE TIPOLOGI ARSITEKTUR PADA KANTOR DAN GUDANG KRIYA KERAMIK LOKAL Anggellina Anggellina; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16909

Abstract

Ceramics is one of the handicrafts that has existed since ancient times. Ceramic is one of the oldest handicraft products recorded in human civilization and culture. Ceramics in Indonesia are thought to have been influenced by immigrants from Southeast Asia. Unfortunately, the Indonesian people have little role in the history of ceramics, so the history of Indonesian ceramics is less well known to many people. After the Covid-19 pandemic, many ceramic craftsmen who sell offline are now out of business, craftsmen have difficulty marketing their products because of the difficulty of finding markets online. The DKI Jakarta Tourism and Culture Office once said that it wanted the public to take part in the development of Indonesian fine arts, especially ceramics. The purpose of this project is to become a forum for ceramic craftsmen who can accommodate the work of these ceramic craftsmen, and help market their work, in addition to improving Indonesia's creative economy. Another goal of this project is to introduce local artisans to the world's eyes. The method used in this project is the typological method. From the existing typology, it was rethought to form a new typology that will be applied to this project. The novelty in this design is an office that provides a space that can vent the emotions of its workers in the space provided. Then on the building applied a lot of greenery to help relieve the psychological fatigue of the workers. Keywords:  ceramics ; ceramics craftsmen ; office ; psychological ; warehouse AbstrakKerajinan keramik adalah salah satu kerajinan tangan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Keramik merupakan salah satu produk kerajinan tertua yang tercatat dalam peradaban dan kebudayaan manusia. Keramik yang ada di Indonesia diperkirakan dipengaruhi oleh para imigran dari Asia Tenggara. Sayangnya, masyarakat Indonesia kurang berperan terhadap sejarah kerajinan keramik, sehingga sejarah mengenai kerajinan keramik Indonesia kurang diketahui banyak orang. Setelah pandemi Covid-19, para pengrajin keramik yang berjualan secara offline kini banyak yang gulung tikar, para pengrajin kesulitan memasarkan produknya karena sulitnya mencari pasar secara daring. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pernah mengatakan bahwa menginginkan masyarakat ikut andil dalam perkembangan seni rupa Indonesia khususnya keramik. Tujuan dari proyek ini adalah menjadi wadah bagi pengrajin keramik yang dapat menampung hasil karya dari pengrajin keramik tersebut, serta membantu memasarkan karya mereka, selain itu untuk meningkatkan perekonomian kreatif Indonesia. Tujuan lain proyek ini adalah untuk  memperkenalkan  pengrajin lokal ke matadunia.  Metode yang digunakan pada proyek ini adalah metode tipologi. Dari tipologi yang sudah ada, dipikirkan kembali untuk membentuk sebuah tipologi yang baru yang akan diterapkan pada proyek ini. Kebaruan dalam hasil rancangan ini adalah sebuah kantor yang menyediakan sebuah ruang yang dapat melampiaskan emosi para pekerjanya pada ruangan yang telah disediakan. Kemudian pada bangunan diterapkan banyak penghijauan untuk membantu meredakan rasa lelah para pekerja secara psikologis.

Page 72 of 134 | Total Record : 1332