cover
Contact Name
Johanes Hasugian
Contact Email
johaneswhasugian@gmail.com
Phone
+6285265222617
Journal Mail Official
johaneswhasugian@gmail.com
Editorial Address
johaneswhasugian@gmail.com
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27216020     EISSN : 2721432X     DOI : 10.46305
Core Subject : Religion, Education,
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan agama Kristen, dengan nomor ISSN: 2721-432X (online), ISSN: 2721-6020 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara, Medan. Focus dan Scope penelitian IMMANUEL adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Agama Kristen IMMANUEL menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. IMMANUEL terbit dua kali dalam satu tahun, April dan Oktober
Articles 109 Documents
Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar: Kajian Teologis, Efektivitas dan Tantangan Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Mendrofa, Arianto
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.327

Abstract

This research was carried out with the aim of analyzing theological studies regarding the challenges of PAK and Budi Pekerti teachers in the effectiveness of implementing the independent learning curriculum.  So the method used in this research is a descriptive quantitative approach to effectiveness. The research subjects were Christian students registered at Surakarta City Public Middle Schools, totaling 872 students. The results of data analysis showed that 29.9% stated that moral cultivation would be effective if taught by spiritual mentors in the Church. Meanwhile, 67.4% stated that teachers at school were very effective when instilling morals in their students. In implementing the Merdeka Curriculum, there are challenges for Religious Education and Character Teachers, namely the implementation of general education and the cultivation of character based on the six key dimensions of the Pancasila Student Profile competencies. AbstrakPenelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis survei efektivitas pelaksanaan kurikulum merdeka dan merdeka belajar dalam perspektif kajian teologi terhadap tantangan guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa Kristen yang terdaftar di SMP Negeri se-Kota Surakarta yang berjumlah 872 siswa. Hasil analisa data menunjukkan 29,9% menyatakan bahwa penanaman moral akan efektif jika diajarkan oleh pembina rohani di Gereja. Sedangkan 67,4% menyatakan guru di sekolah sangat efektif apabila menanamkan moral kepada peserta didiknya. Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar terdapat tantangan bagi Guru PAK dan Budi Pekerti yakni terjadinya general education dan penanaman budi pekerti mengacu pada keenam kompetensi dimensi kunci Profil Pelajar Pancasila.
Upaya Perdamaian Yakub dan Esau: Tafsir Naratif Kejadian 33:1-20 serta Relevansinya dalam Purpur Sage Suku Karo Sinukaban, Bertha Wandasari
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.325

Abstract

Living in peace is something many people in the world desire. However, human relationships as social beings living side by side with others are very prone to misunderstandings, disagreements, and conflicts, as in the brotherly relationship between Jacob and Esau. Moreover, there are long-lasting conflicts due to the lack of peacemaking efforts from the conflicting parties. This paper aims to examine Genesis 33:1-20 using a qualitative method with narrative interpretation that pays attention to narrative components such as: structure, setting (place, time), plot, characters (and characterization), conflict, style, and narrator. This study found that conflicts can be stopped with peacemaking efforts between the conflicting parties. Furthermore, this study also found that peace can be achieved when we see the faces of our neighbour as if seeing God's face. This paper also shows that the peacemaking efforts made by Jacob and Esau can provide a basic theological contribution to society, especially the Karo tribe, which recognizes a peacemaking effort called Purpur Sage. Through this research, the author hopes that readers will understand the meaning of the narrative of Jacob making peace with Esau in Genesis 33:1-20 and Purpur Sage in the Karo tribe that conflicts can be stopped with the efforts from the conflicting parties, thus creating peace. AbstrakHidup di dalam damai merupakan hal yang diinginkan banyak orang di dunia ini. Akan tetapi, relasi manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain sangat rentan dengan kesalahpahaman, perselisihan dan konflik, seperti dalam relasi persaudaraan Yakub dan Esau. Selain itu, terdapat pula konflik-konflik yang berlarut-larut dikarenakan tidak adanya upaya perdamaian dari pihak yang berkonflik. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti Kejadian 33:1-20 menggunakan metode kualitatif dengan tafsir naratif yang memperhatikan komponen-komponen narasi, seperti: struktur, latar cerita (setting) tempat, waktu, alur cerita (plot), karakter (dan karakterisasi), konflik, gaya dan narator. Penelitian ini menemukan bahwa konflik dapat dihentikan dengan adanya upaya perdamaian antara pihak-pihak yang berkonflik. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa perdamaian dapat tercipta ketika kita melihat wajah sesama kita seperti melihat wajah Allah. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa upaya perdamaian yang dilakukan Yakub dan Esau dapat memberikan kontribusi dasar teologis bagi masyarakat, secara khusus suku Karo yang mengenal upaya perdamaian yang disebut Purpur Sage. Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan agar pembaca memahami makna narasi Yakub berdamai dengan Esau dalam Kejadian 33:1-20 dan Purpur Sage dalam suku Karo bahwa konflik dapat dihentikan dengan upaya dari pihak-pihak yang berkonflik sehingga tercipta perdamaian.
Urgensi Standar Kompetensi Pendeta: Tinjauan terhadap Dokumen Standar Kompetensi Pendeta di Sinode Gereja Kristus Wattimury, Costansa; Surbakti, Pelita Hati
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.337

Abstract

The church in the Northern Hemisphere has been in a state of decline, while the church in the Southern was predicted to experience growth. In the context of Asia, including Indonesia and South Korea, this prediction does not seem to match reality. The level of congregational participation in some of the older churches in Indonesia is still low, some even very low. Will what happened to the church in the Northern also happen to the church in the Southern? One thing that can be done to avoid this is to hand over the leadership of the church to a leader or Pastor who is competent and relevant to the context of his time. Unfortunately, the two aspects have not received serious attention. Many churches do not have instruments to measure the two aspects. Among those who have it, it is also not sufficient because the instrument in question has not been compiled by considering the context. Through qualitative research, by collecting data through literature studies and interviews, this article shows that some of the above realities are indeed true. Specifically, this article takes the measurement instrument document used in the Synod of Gereja Kristus as a case study. At the end of this article, we propose a process of establishing competency standards for Pastors and the stages of making competency measurement instruments. AbstrakGereja di bagian bumi Utara telah mengalami kondisi yang memprihatinkan, sementara gereja di bagian Selatan diprediksi mengalami pertumbuhan. Dalam konteks Asia, termasuk Indonesia dan Korea Selatan, prediksi ini kelihatannya belum sesuai dengan realitas. Tingkat partisipasi jemaat di sejumlah gereja tua di Indonesia masih rendah, bahkan ada di antaranya sangat rendah. Akankah yang dialami oleh gereja di Utara juga akan dialami oleh gereja di Selatan? Salah satu yang bisa dilakukan untuk menghindarinya adalah menyerahkan kepemimpinan gereja kepada pemimpin atau Pendeta yang kompeten serta relevan dengan konteks zamannya. Sayangnya kedua hal di atas masih belum mendapat perhatian yang serius. Banyak gereja tidak memiliki instrumen pengukuran kedua aspek di atas. Di antara yang telah memilikinya juga belum cukup memadai oleh karena instrumen yang dimaksud belum disusun dengan mempertimbangkan konteks. Melalui penelitian kualitatif, dengan melakukan pengumpulan data melalui studi kepustakaan serta wawancara, tulisan ini memperlihatkan bahwa sejumlah realitas di atas memang benar adanya. Secara khusus tulisan ini mengambil dokumen instrumen pengukuran yang digunakan di lingkungan Sinode Gereja Kristus sebagai sebuah studi kasus. Pada bagian akhir tulisan ini, kami mengusulkan sebuah proses pembentukan standar kompetensi Pendeta serta tahapan pembuatan instrumen pengukuran kompetensinya.
Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Mengoptimalkan Kinerja Guru di Lembaga Pendidikan Masa Kini Kaudin, Elyes Sasep; Panjaitan, Firman
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.339

Abstract

Transformational leadership systems in educational institutions are needed to optimize teacher performance so that the education system can be developed. Through proper transformational leadership, every member of the education system will grow and develop in line with expectations. Therefore, every educational institution needs a strong transformational leadership model in order to optimize the performance of teachers and create good educational outcomes through the achievements of teachers and learners. By using descriptive qualitative methods, especially through the approach of open and in-depth interviews (deep interview), this study resulted in the finding that the pace of education in schools, as educational institutions, can not be separated with a strong transformational leadership system, because through a strong and appropriate transformational leadership, optimization of teacher performance can be achieved and student achievement will increase. Optimization of teacher performance along with increased student achievement, will create a school atmosphere as a very conducive place to develop themselves, both in terms of work and achievement. AbstrakTujuan dari studi ini adalah menunjukkan peran dari sistem kepemimpinan transformasional di lembaga pendidikan untuk mengoptimalkan kinerja guru di sebuah lembaga pendidikan. Melalui kepemimpinan transformasional yang tepat, setiap anggota yang ada dalam aras sistem pendidikan akan bertumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan membutuhkan model kepemimpinan transformasional yang kuat agar dapat kinerja para guru dapat optimal dan menciptakan hasil pendidikan yang baik melalui prestasi dari para guru dan peserta didik. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, khususnya melalui pendekatan wawancara mendalam terbuka dan mendalam (deep interview), penelitian ini menghasilkan temuan bahwa laju pendidikan di sekolah, sebagai lembaga pendidikan, tidak dapat dipisahkan dengan sistem kepemimpinan transformasional yang kuat, karena melalui kepemimpinan transformasional yang kuat dan tepat, optimalisasi kinerja guru dapat tercapai dan prestasi siswapun akan semakin meningkat. Optimalisasi kinerja guru yang seiring sejalan dengan prestasi siswa yang meningkat, akan menciptakan suasana sekolah sebagai tempat yang sangat kondusif untuk mengembangkan diri, baik dalam hal bekerja maupun mencapai prestasi.
Membumikan Nilai dan Etika Politik Kristen dalam Teologi Titus 3:1-7 bagi Politikus Kristen Masa Kini Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim; Arifianto, Yonatan Alex; Indriana, Nining
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v5i2.323

Abstract

Many people of God feel reluctant or unwilling to discuss political ethics. Moreover, when Christians talk about politics, they will unilaterally stay away from it.  Because there is an assumption that Christianity should not be mixed with politics. Through this research, Christian politicians who are involved in politics can ground the values and ethics of Christian politics in the theology of Titus 3:1-7 for today's Christian politicians as a basis for building healthy political theological ethics. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that grounding Christian political values and ethics in the theology of Titus 3:1-7 for today's Christian politicians requires an understanding and paradigm that Christian politicians can know the nature of politics and its interests. They can even understand the church and political challenges. So that politicians who live with integrity have attitudes and principles that are in accordance with Christian political values and ethics. Of course, Christian politicians must submit to the government and the law, which is to bring obedience in doing good deeds, not slander, not quarrel and be able to live in obedience. Not going astray, not being a slave to lust, not living in wickedness, not living in malice and hatred and certainly being able to appreciate grace. AbstrakBanyak umat Tuhan yang merasa sungkan atau tidak mau untuk membahas etika politik. Apalagi adanya orang Kristen bila berbicara tentang politik maka secara sepihak akan menjauhi hal tersebut.  Karena adanya anggapan bahwa kekristenan tidak boleh dicampuradukan dengan politik. Melalui penelitian ini maka politikus Kristen yang terjun dalam percaturan politik dapat membumikan nilai dan etika politik Kristen dalam teologi Titus 3:1-7 bagi politikus Kristen masa kini sebagai dasar dalam membangun etika teologis politik yang sehat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur maka dapat disimpulkan membumikan nilai dan etika politik Kristen dalam teologi Titus 3:1-7 bagi politikus Kristen masa kini, diperlukan pengertian dan paradigma bahwa politikus Kristen dapat mengetahui hakikat politik dan kepentingannya. Bahkan mereka dapat memahami gereja dan tantangan politik. Supaya politikus yang hidup berintegritas memiliki sikap dan prinsip yang sesuai dengan nilai dan etika politik Kristen. Tentunya politikus Kristen harus tunduk kepada pemerintah dan hukum, yang memang untuk membawa ketaatan dalam melakukan perbuatan baik, tidak memfitnah, tidak bertengkar dan dapat hidup dalam Ketaatan. Tidak Sesat, tidak menjadi budak hawa nafsu, tidak hidup dalam kejahatan, tidak hidup dalam kedengkian dan keji serta kebencian dan tentunya dapat menghargai kasih karunia.
Analisis Frasa “Menimbun Bara Api” terhadap Pembentukan Karakter: Kajian Hermeneutik Berdasarkan Kitab Amsal 25:21-22 Pattinaja, Aska Aprilano; Sualang, Farel Yosua
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.309

Abstract

Based on the literature review, there are two groups of scholars discussing Proverbs 25:21-22: the group that links the writing of this verse to Jesus' teachings on love and forgiveness, and the group that focuses only on the teachings of Paul, who quoted this verse as an exhortation to the Romans to do good to their enemies and that there is a reward for every good deed. The research attempts to examine to analyze the meaning of the phrase "heaping coals of fire" and its implications for character development. The research used a qualitative method with sub-interpretive design, specifically, wisdom literature hermeneutics. This study found three related implementations of this phrase to character building, namely: first, deciding to do the right thing; second, overcoming ego and hatred; third, deciding to live an exemplary life. The results of this study are very important in character building so that believers can apply the values of truth in life and lead exemplary lives, and provide understanding in the development of wisdom literature research. AbstrakAda dua kelompok penelitian dalam pembahasan Amsal 25:21-22 yakni, pertama, kelompok yang menghubungkan tulisan Amsal ini dengan ajaran Yesus mengenai kasih dan kedua, kelompok yang hanya terfokus kepada ajaran Paulus, yang mengutip Amsal ini, sebagai nasihat kepada jemaat Roma, untuk berbuat baik kepada kepada musuh-musuhnya dan ada upah bagi setiap perbuatan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna frasa “menimbun bara api” serta implikasinya terhadap pembentukan karakter. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan sub interpretative design khususnya hermeneutika sastra hikmat. Penelitian ini menemukan tiga implementasi yang berkaitan dari frasa ini terhadap pembentukan karakter, yakni: pertama, memutuskan berbuat benar; kedua, mengatasi ego dan kebencian; ketiga, memilih hidup menjadi teladan. Hasil penelitian ini sangat penting dalam sebuah pembentukan karakter agar orang percaya dapat menerapkan nilai-nilai kebenaran dalam hidup dan hidup menjadi teladan serta memberikan pemahaman dalam perkembangan penelitian sastra hikmat.
Membangun Minat Belajar PAK di Rumah: Peran Strategis Orangtua sebagai Role Model Iman Sartika, Mila; Siburian, Hendro Hariyanto
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.342

Abstract

The problem in this research is the low interest in children's learning in Christian religious education of Grade 5 students at Talenta Elementary School which is caused by the students' parents not showing role models and involving children at home in carrying out activities which are the application of the values and principles of Christian religious education which have an impact on children's interest in learning in Christian religious lessons. This research uses a qualitative descriptive method with a case study method. Data was collected through direct observation and interviews with all 20 grade 5 students at Talenta Elementary School, 10 students' parents, and 2 teachers. The aim of this research is to reveal the role of parents of Grade 5 SD Talenta students at home in developing children's emotional and spiritual aspects, and to offer supporting activities for parents in increasing students' interest in learning in Christian religious education lessons. The results of the research reveal that the role of parents in increasing interest in learning Christian religious education must be to play the role as a guide, educator, facilitator, motivator and role model optimally, which can be done in the activities of reading God's word and praising God with children at home, carrying out activities with children at home (for example, activities related to discipline and homework), and story-telling rooms (spaces where children are given to talk about their daily life experiences), as well as collaborating with parents and PAK teachers in carrying out activities to increase students' interest in learning in Christian religious education. AbstrakPersoalan dalam penelitian ini adalah rendahnya minat belajar anak pada pendidikan agama Kristen peserta didik kelas 5 SD Talenta yang disebabkan orang tua peserta didik cenderung tidak menunjukkan keteladanan atau role model dan melibatkan anak di rumah dalam melakukan kegiatan yang merupakan penerapan nilai-nilai dan prinsip-prinsip pendidikan agama Kristen yang berdampak pada minat belajar anak pada pelajaran agama Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara langsung terhadap seluruh peserta didik kelas 5 SD Talenta berjumlah 20 orang, orang tua peserta didik 10 orang, dan 2 orang guru. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan peran orang tua siswa kelas 5 SD Talenta di rumah dalam mengembangkan aspek emosional dan spiritual anak, dan menawarkan kegiatan pendukung bagi orang tua dalam meningkatkan minat belajar peserta didik dalam pelajaran pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orangtua dalam meningkatkan minat belajar Pendidikan agama Kristen harus melakukan peran sebagai pembimbing, pendidik, fasilitator, motivator, dan role model dengan optimal yang bisa dilakukan dalam kegiatan membaca firman Tuhan dan memuji Tuhan Bersama anak di rumah, melakukan kegiatan bersama anak di rumah (misal kegiatan berkenaan kedisiplinan dan pekerjaan rumah),  dan ruang bercerita (ruang dimana anak diberi kebebasan untuk ceritan pengalaman hidupnya sehari-hari), serta melakukan kolaborasi orang tua dengan guru PAK dalam melakukan kegiatan meningkatkan minat belajar peserta didik dalam pelajaran Pendidikan agama Kristen.
Fatherless dalam Keluarga Kristen: Implikasi terhadap Perkembangan Anak di Masa Emerging Adulthood Theofani, Marisa; Rohayani, Hani
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.395

Abstract

This study explores the psychological, emotional, and social impact of fatherlessness during emerging adulthood (ages 18-29), a critical developmental stage which an individual transitions from adolescence to early adulthood. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through questionnaires and in-depth interviews with young adults from Sumatra, Java, and Kalimantan who experienced fatherlessness with categories: parental divorce, busy work, and as father death. The novelty of this study lies in the specific focus on fatherlessness during emerging adulthood, a stage that has not been explored in previous research. The findings showed that the psychological impact felt by respondents varied. Respondents whose fathers were busy working showed ambitious responses as well as low self-confidence and lack of motivation. Those who experienced parental divorce struggled with intimacy, social interaction and loneliness. Those who lost their fathers to death struggled with emotional dysregulation, difficulty controlling anger, as well as difficulty in building trust. In all cases, the absence of paternal emotional support emerged as a significant factor affecting self-esteem and social development. This research contributes to a deeper understanding of the long-term psychological effects and underscores the importance of social support systems for fatherless emerging adulthood. AbstrakPenelitian ini mengeksplorasi dampak psikologis, emosi, dan sosial dari ketidakhadiran ayah selama masa emerging adulthood (usia 18-29 tahun), sebuah tahap perkembangan kritis yaitu seorang individu bertransisi dari masa remaja ke masa dewasa awal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan orang dewasa muda dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang mengalami ketidakhadiran ayah karena perceraian orang tua, sibuk bekerja, juga ayah yang meninggal. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokus spesifiknya pada ketidakhadiran ayah selama masa emerging adulthood, sebuah tahap yang belum dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. Temuan menunjukkan bahwa dampak psikologis yang dirasakan responden bervariasi. Para responden yang ayahnya sibuk bekerja menunjukkan respons yang ambisius juga sebaliknya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan kurang motivasi. Mereka yang mengalami perceraian orang tua berjuang dengan keintiman, interaksi sosial, dan perasaan kesepian yang terus-menerus. Mereka yang kehilangan ayah karena meninggal berjuang menghadapi disregulasi emosi, sulit mengendalikan kemarahan, juga sulit dalam membangun kepercayaan. Di semua kasus, tidak adanya dukungan emosional ayah muncul sebagai faktor signifikan yang mempengaruhi harga diri dan perkembangan sosial. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang efek psikologis jangka panjang dan menggarisbawahi pentingnya sistem pendukung sosial bagi kelompok emerging adulthood yang tidak memiliki ayah.
Bijaksana Meniru Cara Hidup Jemaat Pertama: Melihat Kemiskinan sebagai Ekses dari Cara Hidup Jemaat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 Sembiring, Falentina Br.; Surbakti, Pelita Hati
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.401

Abstract

According to the Acts of the Apostles, the first Christian congregation in Jerusalem was well-liked by many people and their numbers grew rapidly. For this reason, several previous studies have identified this church as the ideal church. With this identification, several church leaders who desire church growth often take the example of this first church as an ideal model to emulate. Through this paper, we would like to provide a new perspective that the way of life practiced by the first church cannot necessarily be practiced just like that. This is partly because, even from the beginning, selling property and distributing it to the poor congregation has led to the excesses of poverty that have worsened in the future. With a social-scientific analysis approach to Acts 2:41-47, we want to show the excesses of the way of life of the earliest church that sold property and distributed it. As a result, at least 20 years later the worsening poverty of the church as found in 2 Corinthians 8-9 was finally experienced by the earliest church in Jerusalem. Therefore, no matter how good, this “ideal church” way of life needs to be addressed critically, wisely, and contextually. This kind of attitude needs to be possessed by every church leader who wants to emulate it. AbstrakBerdasarkan Kisah Para Rasul, jemaat Kristen pertama di Yerusalem disukai oleh banyak orang dan jumlah mereka pun bertambah secara cepat. Karena itulah sejumlah penelitian terdahulu menilai jemaat ini sebagai jemaat ideal. Dengan identifikasi ini sejumlah pemimpin gereja yang mendambakan pertumbuhan jemaat kerab mengambil teladan jemaat pertama ini sebagai model ideal untuk ditiru. Melalui tulisan ini kami hendak memberikan sebuah perspektif baru bahwa cara hidup yang dipraktikkan oleh jemaat pertama tidak serta-merta dapat dipraktikkan begitu saja. Hal ini antara lain dikarenakan, bahkan sejak awal, praktik menjual harta dan dibagikan kepada jemaat yang miskin telah menimbulkan ekses kemiskinan yang semakin parah di kemudian hari. Dengan pendekatan analisis sosial-ilmiah terhadap Kisah Para Rasul 2:41-47, kami hendak memperlihatkan ekses dari cara hidup jemaat pertama yang menjual harta dan membagi-bagikannya tersebut. Hasilnya, setidaknya setelah 20-an tahun kemudian kemiskinan jemaat yang semakin parah sebagaimana yang ditemukan dalam 2 Korintus 8-9 akhirnya dialami oleh jemaat pertama di Yerusalem tersebut. Karenanya betapapun baiknya, cara hidup “jemaat ideal” ini perlu disikapi secara kritis, bijaksana, dan kontekstual. Sikap semacam ini perlu dimiliki oleh setiap pemimpin gereja yang hendak menirunya.
Regenerasi Rohani dalam Yohanes 3:3-7: Analisis Teologis terhadap Transformasi Jemaat dalam Pelayanan Gerejawi Purwonugroho, Daniel Pesah
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.412

Abstract

This paper is designed to theologically analyze spiritual regeneration in John 3:3-7 and its impact on the transformation of the church in ecclesiastical service. Spiritual regeneration is urgent and must be experienced by believers at the beginning of their conversion. Through spiritual regeneration, the transformative power of God can shape the life of the believer. Spiritual regeneration has a clear theological basis in John 3:3-7 through the conversation between Jesus and Nicodemus. John 3:3-7 explains that spiritual regeneration is initiated by God Himself and facilitated by the Holy Spirit. Spiritual regeneration brings humanity to experience the kingdom of God. Through a descriptive qualitative approach, the author theologically analyze spiritual regeneration in John 3:3-7 and how it impacts the life of the congregation which is also influential in church service activities. The author asserts that the theological analysis of John 3:3-7 states that spiritual regeneration is very crucial in the spiritual life of the church. This paper is useful for providing theological contributions to the insight of spiritual regeneration in the context of today's church. AbstrakTulisan ini disusun untuk menganalisis secara teologis regenerasi rohani dalam Yohanes 3:3-7 serta dampaknya terhadap transformasi jemaat dalam pelayanan gerejawi. Regenerasi rohani merupakan hal yang urgen dan harus dialami oleh orang percaya di awal pertobatannya. Melalui regenerasi rohani, maka kuasa transformatif Allah dapat membentuk kehidupan orang percaya tersebut. Regenerasi rohani memiliki basis teologi yang jelas di dalam Yohanes 3:3-7 melalui percakapan antara Yesus dan Nikodemus. Yohanes 3:3-7 menjelaskan bahwa regenerasi rohani di inisiasi oleh Allah sendiri dan difasilitasi oleh Roh Kudus. Regenerasi rohani membawa umat manusia mengalami kerajaan Allah. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis menganalisa secara teologis mengenai regenerasi rohani dalam Yohanes 3:3-7 dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan jemaat yang juga berpengaruh di dalam kegiatan pelayanan gerejawi. Penulis menegaskan bahwa analisis teologis Yohanes 3:3-7 menyatakan regenerasi rohani merupakan hal yang sangat krusial di dalam kehidupan rohani jemaat. Tulisan ini menawarkan sumbangsih teologis bagi wawasan regenerasi rohani dalam konteks gereja masa kini.

Page 8 of 11 | Total Record : 109