cover
Contact Name
Johanes Hasugian
Contact Email
johaneswhasugian@gmail.com
Phone
+6285265222617
Journal Mail Official
johaneswhasugian@gmail.com
Editorial Address
johaneswhasugian@gmail.com
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27216020     EISSN : 2721432X     DOI : 10.46305
Core Subject : Religion, Education,
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan agama Kristen, dengan nomor ISSN: 2721-432X (online), ISSN: 2721-6020 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara, Medan. Focus dan Scope penelitian IMMANUEL adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Agama Kristen IMMANUEL menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. IMMANUEL terbit dua kali dalam satu tahun, April dan Oktober
Articles 109 Documents
Merdeka melalui Pendidikan: Pendekatan Filsafat Pendidikan Kristen sebagai Proses Pembentukan dan Pembelajaran yang Transformatif Triposa, Reni
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.535

Abstract

Education has often been understood as merely a process of knowledge transfer without regard to the dimension of human liberation from various existential limitations such as ignorance, injustice, poverty, and loss of meaning in life. In this context, Christian education offers a transformative and holistic approach, rooted in a theological understanding of humans as imago Dei who are called to live in truth, love, and service. This paper aims to analyse the concept of Freedom through Education from the perspective of Christian educational philosophy and review its relevance to the implementation of the Merdeka Curriculum and Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) in Indonesia. This study uses a qualitative approach with a literature review method through a study of relevant theological, philosophical, and educational policy literature. The results of the study show that Christian education is a process of liberation that emphasises the integration of faith, knowledge, and action in forming people who are free in Christ. The concept of independence through education provides a foundation for character development, moral freedom, and social responsibility rooted in love and service. Thus, Christian education is expected to be a means of spiritual and social transformation that enables humans to live in truth and realise God's love in the context of Indonesian education. AbstrakPendidikan selama ini sering dipahami sebatas proses transfer pengetahuan tanpa memperhatikan dimensi pembebasan manusia dari berbagai keterbatasan eksistensial seperti ketidaktahuan, ketidakadilan, kemiskinan, dan kehilangan makna hidup. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Kristen hadir dengan pendekatan yang transformatif dan holistik, berakar pada pemahaman teologis tentang manusia sebagai imago Dei yang dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, kasih, dan pelayanan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis konsep Merdeka melalui Pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan Kristen serta meninjau relevansinya terhadap implementasi Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui kajian terhadap literatur teologis, filosofis, dan kebijakan pendidikan terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Kristen merupakan proses pembebasan yang menekankan integrasi iman, pengetahuan, dan tindakan dalam membentuk manusia yang merdeka di dalam Kristus. Konsep Merdeka melalui Pendidikan memberikan fondasi bagi pengembangan karakter, kebebasan moral, dan tanggung jawab sosial yang berakar pada kasih dan pelayanan. Dengan demikian, Pendidikan Kristen diharapkan menjadi sarana transformasi spiritual dan sosial yang memampukan manusia hidup dalam kebenaran serta mewujudkan kasih Allah dalam konteks pendidikan Indonesia.
Memaknai Frasa “Sesamaku Manusia” Berdasarkan Lukas 10:25-37 dalam Merespons Fenomena LGBTIQ Tembang, Setblon; Mande, Amel Tri
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.487

Abstract

This research is motivated by the growing discussion of the existence of LGBTIQ people in society and within the church, both pro-LBGTIQ and anti-LBGTIQ. Within the church itself, there are at least four views on LGBTIQ people: liberal, revisionist, neo-traditionalist, and conservative. LGBTIQ people also experience much discrimination and rejection within the church. This research aims to elucidate the meaning of the phrase “my neighbor” in response to the LGBTIQ phenomenon, drawing on Luke 10:25-37. In interpreting the phrase “my neighbor”, a descriptive qualitative research approach was used through literature study and exegesis. Based on the research results, fellow human beings cannot be limited by any identity; even enemies are neighbours who must be helped. Jesus provided arguments to the scribes, offering an understanding not only of who our neighbour is, but also how to be a neighbour and how to treat strangers as fellow human beings. Likewise, LGBTIQ people are fellow human beings who need help. An ethical theological stance in treating LGBTIQ people as fellow human beings is to build a theology of acceptance in the form of hospitality based on compassion without compromising on their sin. In this regard, the church is called to provide a home for LGBTIQ people. In humanising LGBTIQ people, the church must help LGBTIQ people overcome their struggles through comprehensive pastoral care, encompassing spiritual, social, and psychological support, so that they can return to the sanctity of their sexuality. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perbincangan terhadap eksistensi kaum LGBTIQ di tengah masyarakat maupun di tengah gereja, baik yang pro maupun yang kontra terhadap LGBTIQ. Di tengah gereja sendiri, setidaknya ada empat pandangan terhadap kaum LGBTIQ ada pandangan liberal, revisionis, neo-tradisionalis dan konservatif. Kaum LGBTIQ juga banyak mengalami diskriminasi dan penolakan di dalam gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan makna frasa “sesamaku manusia” dalam merespons fenomena LGBTIQ berdasarkan Lukas 10:25-37. Dalam memaknai frasa sesamaku manusia dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan eksegesis. Berdasarkan hasil penelitian, sesama manusia tidak dapat dibatasi oleh identitas apapun, bahkan musuh adalah sesama yang harus ditolong. Yesus memberikan argumentasi kepada ahli taurat sebuah pemahaman tidak hanya tentang siapa sesamaku manusia, melainkan bagaimana menjadi sesama dan bagaimana memperlakukan orang asing sebagai sesama manusia. Demikian halnya dengan kaum LGBTIQ, mereka adalah sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Sikap teologis etis dalam menjadikan kaum LGBTIQ sebagai sesama manusia melalui membangun teologi penerimaan berupa hospitalitas yang dilandaskan pada belas kasih tanpa harus berkompromi dengan dosa mereka. Dalam hal ini, gereja dipanggil untuk menghadirkan suasana home kaum LGBTIQ. Dalam memanusiakan kaum LGBTIQ gereja harus menolong kaum LGBTIQ terlepas dari pergumulan mereka melalui pendampingan pastoral secara komprehensif baik melalui pendampingan spiritual, sosial dan psikologis sehingga mereka dapat kembali pada kekudusan seksualitas.
Visi Mesianik dalam Kitab Torah: Telaah Teologis, Historis dan Kultural atas Torah Samadi, Agung Waluyo
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.445

Abstract

This study explores the Messianic vision in the Torah to uncover the progressive revelation of God’s redemptive plan. Often seen merely as law and history, the Torah actually forms the theological foundation of Messianic hope. Using a literature and textual-comparative approach, this research identifies key redemptive themes from Genesis to Deuteronomy. The study finds that the Torah presents an early framework of biblical Christology through the promise of redemption, sacrificial symbols, and prophetic expectation. Its novelty lies in offering an integrative, Christocentric reading of the Torah that unites law, prophecy, and salvation history. AbstrakPenelitian ini menelaah visi Mesianik dalam Kitab Taurat untuk mengungkap pola progresif pewahyuan Allah tentang rencana keselamatan. Taurat selama ini sering dipahami hanya sebagai kitab hukum dan sejarah, sehingga makna teologisnya sebagai dasar teologi Mesianik kurang tergali. Dengan pendekatan studi literatur dan analisis tekstual-komparatif, penelitian ini menelusuri tema, janji dan simbol penyelamatan dari Kejadian hingga Ulangan. Hasilnya menunjukkan bahwa Taurat membentuk kerangka awal Kristologi biblika melalui janji keturunan penakluk dosa (Kejadian 3:15), tipologi pengorbanan dan nubuat pemimpin ilahi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menafsirkan Taurat secara teologis, historis dan kultural dalam menafsirkan figur Mesias secara progresif dan holistik.
Kekuatan Injil di Era Digital: Tafsir Teologis Roma 1:16–17 tentang Iman Kristen Masa Kini Bambangan, Malik; Gulo, Yarnida
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.391

Abstract

of increasingly rapid technological advances where artificial intelligence dominates human activities. This presents both a challenge and an opportunity for Christians to embody their faith in the world. True Christian faith will be tested by difficult times and calm times. These difficult and calm times will determine the purpose and direction of a Christian's faith in facing them. True Christian faith will persist in any situation, no matter how great the challenge. Thus, true faith can be applied in the lives of Christians in the digital era. The purpose of this study is to determine how Christians implement Christian faith in this digital era by referring to Romans 1:16-17 as its theological foundation. The method used in this study is a qualitative method with an interpretive approach to Romans 1:16-17 implemented in Christian life in the digital era. The results are: living in obedience, having a true knowledge of God, believing in God and His Word, and having a certain hope in Christ. In conclusion, this study concludes that Christian faith can be implemented in the lives of believers through obedience to the Word and continued faith and hope in Christ.  AbstrakPenelitian ini berbicara tentang implementasi iman orang Kristen di era digital.  Era digital ini penuh dengan kemajuan tekhnologi yang semakin pesat dimana kecerdasan buatan manusia mendominasi aktivitas manusia.  Hal ini merupakan tantangan sekaligus menjadi peluang bagi orang Kristen dalam mengejawantahkan imannya pada dunia.  Iman Kristen yang sejati akan teruji oleh masa yang sulit maupun masa yang tenang.  Pada masa yang sulit dan tenang ini akan menentukan tujuan dan arah iman orang Kristen dalam menghadapinya.  Iman Kristen yang sejati akan tetap bertahan pada situasi bagaimanapun besarnya tantangan tersebut.  Dengan demikian iman sejati tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan orang Kristen di era digital.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi iman Kristen di era digital ini bagi orang Kristen dengan mengacu kepada Roma 1:16-17 sebagai landasan teologisnya.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan interpretasi surat Roma 1:16-17 yang diimplementasikan dalam kehidupan Kristen di era digital.  Sebagai hasilnya adalah; hidup dalam ketaatan, memiliki pen getahuan yang benar akan Allah, percaya kepada Allah dan Firman-Nya, serta memiliki pengharapan yang pasti dalam Kristus.  Sebagai kesimpulan dalam penelitian ini bahwa iman Kristen dapat diimplementasikan dalam kehidupan orang percaya dengan ketaatan pada firman serta tetap beriman dan berpengharapan pada Kristus. 
Dinamika Relasi Mertua-Menantu dalam Mengupayakan Keharmonisan Keluarga Besar Kristen Sartika, Meitha
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.521

Abstract

A harmonious relationship within the extended family, particularly between mothers-in-law and daughters-in-law, is a common challenge in Christian marriages within the Indonesian cultural context. This study aims to examine the theological foundation of family harmony and to identify key factors that shape in-law relationships. A qualitative method was employed through literature review, interviews with five participants aged 60–72 who have grandchildren as mother in-law, and with five participants aged 30-40 as daughter in-law. The data were analyzed thematically and compared with biblical principles. The findings reveal that harmony within the extended family aligns with God's will and should be pursued through healthy communication, appropriate role distribution, and mutually agreed boundaries. The relationship between mothers-in-law and daughters-in-law can be nurtured through empathy, acceptance, and the example of faith. Common sources of conflict include competition for attention, economic dependence, and a lack of independence within the nuclear family. These findings offer practical insights for Christian families in fostering extended family relationships that are in accordance with biblical teachings. AbstrakRelasi harmonis dengan keluarga besar, khususnya antara ibu mertua dan menantu perempuan, kerap menjadi tantangan dalam pernikahan Kristen di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dasar teologis keharmonisan keluarga besar dan menyingkap faktor-faktor yang memengaruhi relasi mertua–menantu. Metode kualitatif digunakan melalui pendekatan studi literatur serta wawancara dengan lima orang narasumber berusia 60–72 tahun sebagai mertua, dan lima orang narasumber berusia 30-40 tahun sebagai menantu. Data dianalisis dengan pendekatan tematik dan dibandingkan dengan prinsip-prinsip Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga besar adalah bagian dari kehendak Allah yang harus diupayakan melalui komunikasi yang sehat, pembagian peran yang tepat, dan penerapan batasan yang disepakati bersama. Relasi ibu mertua dan menantu perempuan dapat dibangun melalui empati, penerimaan, dan keteladanan iman, sementara konflik umumnya dipicu oleh perebutan perhatian, ketergantungan ekonomi, dan kurangnya kemandirian dalam keluarga inti. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi keluarga Kristen dalam membina relasi keluarga besar yang selaras dengan prinsip Firman Tuhan.
Providensia Allah dalam Perspektif Nasihat Gamaliel: Kajian Teologis-Eksegetis Pandandari, Galuh
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.500

Abstract

Gamaliel's advice in Acts 5:35–39 is an interesting statement into the dynamics of church growth and the early Christian movement. In the context of tension between Jewish religious authorities and the apostles, this advice not only reflects socio-political wisdom, but also contains significant theological hermeneutical principles. This study aims to explore in depth the theological meaning of Gamaliel's advice, its historical relevance, and its implications for the contemporary church in determining its stance toward contemporary spiritual movements. This study uses a literature review method with a historical-exegetical approach and public theology analysis. The novelty of this research lies in its emphasis on the principle of providential hermeneutics in understanding God's actions in church history and ministry, using Gamaliel's advice as an ethical and theological framework. The results of the research show that Gamaliel's advice reflects an implicit recognition of the possibility of God's involvement in events beyond the control of religious institutions. This principle teaches caution, humility, and trust in God's presence in every dynamic of ministry. In conclusion, understanding Gamaliel's principle encourages the church to respond to developments in ministry not with a reactive or coercive attitude, but with openness to the work of the Holy Spirit that transcend institutional structures. AbstrakNasihat Gamaliel dalam Kisah Para Rasul 5:35–39 menjadi pernyataan yang menarik dalam dinamika pertumbuhan gereja dan gerakan Kristen mula-mula. Dalam konteks ketegangan antara otoritas agama Yahudi dan para rasul, nasihat ini tidak hanya mencerminkan kebijaksanaan sosial-politis, tetapi mengandung prinsip hermeneutik teologis yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri secara mendalam makna teologis dari nasihat Gamaliel, relevansi historisnya, serta implikasinya bagi gereja masa kini untuk dapat menentukan sikap terhadap gerakan rohani kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan historis-eksegetis dan analisis teologi publik. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penekanan terhadap prinsip hermeneutika providensial dalam memahami tindakan Allah dalam sejarah gereja dan pelayanan, dengan menjadikan nasihat Gamaliel sebagai kerangka etis dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasihat Gamaliel mencerminkan pengakuan implisit terhadap kemungkinan keterlibatan Allah dalam peristiwa-peristiwa di luar kendali lembaga keagamaan. Prinsip ini mengajarkan kehati-hatian, kerendahan hati, dan kepercayaan pada penyertaan Allah dalam setiap dinamika pelayanan. Kesimpulannya, pemahaman terhadap prinsip Gamaliel mendorong gereja untuk menanggapi perkembangan pelayanan bukan dengan sikap reaktif atau koersif, tetapi dengan keterbukaan pada pekerjaan Roh Kudus yang melampaui struktur-struktur institusional.
Integrasi Teori Psikoanalisis, Behaviorisme, dan Humanistik dalam Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Zebua, Frendi Sofyan
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.489

Abstract

This study aims to analyze the integration of psychoanalytic, behaviorist, and humanistic theories in Christian Religious Education learning planning as a holistic and transformative approach. The main theoretical basis refers to Sigmund Freud (psychoanalysis), B.F. Skinner (behaviorism), and Abraham Maslow and Carl R. Rogers (humanistic), which are adapted in the context of Christian religious education. This study uses a descriptive qualitative method with a library study approach, which examines the literature on educational psychology, theology, and Christian religious education learning practices from various current scientific sources. The results show that psychoanalytic theory helps teachers understand students' inner dynamics and emotional conflicts, behaviorist theory emphasizes the formation of spiritual habits through positive reinforcement, while humanistic theory positions students as unique individuals who are active in the growth of faith. The integration of the three produces a Christian religious education learning model that touches on the cognitive, affective, and spiritual dimensions as a whole. Practical implications for Christian religious education teachers are the importance of developing reflective learning, consistent in the habituation of Christian values, and creating an empathetic and participatory learning space so that students experience real faith transformation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi teori psikoanalisis, behaviorisme, dan humanistik dalam perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sebagai pendekatan yang holistik dan transformatif. Landasan teori utama merujuk pada Sigmund Freud (psikoanalisis), B.F. Skinner (behaviorisme), serta Abraham Maslow dan Carl R. Rogers (humanistik), yang diadaptasi dalam konteks pendidikan iman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang menelaah literatur psikologi pendidikan, teologi, dan praktik pembelajaran Pendidikan agama kristen dari berbagai sumber ilmiah terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori psikoanalisis membantu guru memahami dinamika batin dan konflik emosional siswa, teori behaviorisme menekankan pembentukan kebiasaan rohani melalui penguatan positif, sedangkan teori humanistik menempatkan siswa sebagai pribadi unik yang aktif dalam pertumbuhan iman. Integrasi ketiganya menghasilkan model pembelajaran pendidikan agama kristen yang menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan spiritual secara utuh. Implikasi praktis bagi guru pendidikan agama kristen adalah pentingnya mengembangkan pembelajaran yang reflektif, konsisten dalam pembiasaan nilai-nilai Kristen, serta menciptakan ruang belajar yang empatik dan partisipatif agar siswa mengalami transformasi iman yang nyata. 
Banalitas Salib dalam Khotbah Modern: Analisis Teologis dan Pastoral Simanjuntak, Markus Adelbert
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.447

Abstract

The cross, as the core of Christian theology, undergoes banalization in modern Indonesian sermons, reduced to an emotional rhetorical tool, a guarantee of prosperity, or an individualistic solution, thus losing its eschatological, cosmic, and communitarian dimensions. This qualitative-descriptive study analyzes 37 digital sermon transcripts (2018–2024) from urban churches in Indonesia, employing Paul Ricoeur’s hermeneutics and biblical theology. Findings identify three patterns of banalization: emotionalistic, individualistic, and prosperity-therapeutic, which result in a crisis of church identity, stagnation in discipleship, and prophetic failure. Recovery strategies are proposed through expository-redemptive homiletics, participatory liturgy, and social contextualization, restoring the cross as a transformative force for individuals, the church, and society. This study offers theological and pastoral contributions to revitalizing the meaning of the cross in the context of Indonesian homiletics. AbstrakSalib, sebagai inti teologi Kristen, mengalami banalitas dalam khotbah modern di Indonesia, direduksi menjadi alat retorika emosional, jaminan kemakmuran, atau solusi individualistik, sehingga kehilangan dimensi eskatologis, kosmis, dan komunitarian. Penelitian kualitatif-deskriptif ini menganalisis 37 transkrip khotbah digital (2018–2024) dari gereja urban di Indonesia, menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur dan teologi biblika. Temuan mengidentifikasi tiga pola banalitas: emosionalistik, individualistik, dan prosperitas-terapeutik, yang berdampak pada krisis identitas gereja, stagnasi pemuridan, dan kegagalan profetis. Strategi pemulihan diusulkan melalui homiletika ekspositori-redemptif, liturgi partisipatif, dan kontekstualisasi sosial, yang mengembalikan salib sebagai kekuatan transformasi individu, gereja, dan masyarakat. Penelitian ini menawarkan kontribusi teologis dan pastoral untuk revitalisasi makna salib dalam konteks homiletika Indonesia. 
Meningkatkan Kompetensi Dosen Pendidikan Agama Kristen melalui Pendekatan Learning Community: Sebuah Studi Kualitatif Manurung, Ellya Nora; Jonathan, Andreas; Setyaadi, Eka
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.515

Abstract

This study explains the strategy for improving the competence of teachers in the Christian Religious Education study program at the Pentecostal Theological College of North Sumatra, Aceh Kabanjahe, a capability that must be demonstrated by teachers to achieve satisfactory learning outcomes. Using a qualitative case study method approach, data collection was conducted through observation and in-depth interviews with 10 undergraduate students of Christian Religious Education in semesters 6 and 8. The novelty of this study lies in the focus of the strategy for improving the competence of Christian Religious Education teachers in higher education, a stage that has not been analyzed in previous studies. The research findings indicate that to equip teachers to be competent is career development coaching, professional development coaching, teacher capacity building and teacher ability improvement approaches. The implementation of the strategy from this study as a contribution to teachers is the Teacher Learning Community so that teachers learn together and share experiences to achieve goals. AbstrakPenelitian ini menjelaskan strategi meningkatkan kompetensi pengajar pada program studi Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Pantekosta Sumut Aceh Kabanjahe, suatu kemampuan yang harus ditampilkan oleh pengajar untuk mencapai hasil pembelajaran yang memuaskan. Dengan menggunakan pendekatan metode kualitatif studi kasus, data dikumpulkan dengan observasi dan wawancara mendalam terhadap 10 mahasiswa Prodi  S1 Pendidikan Agama Kristen semester 6 dan 8. Kebaruan dalam penelitian ini terletak pada fokus strategi meningkatkan kompetensi pengajar Pendidikan Agama Kristen di perguruan tinggi, sebuah tahap yang belum dianalisis dalam penelitian sebelumnya. Temuan menunjukkan untuk memperlengkapi tenaga pengajar agar berkompetensi adalah pembinaan pengembangan karier, pembinaan pengembangan profesi, meningkatkan kapasitas pendidik dan pendekatan peningkatan kemampuan pendidik. Penerapan strategi dari penelitian ini sebagai kontribusi bagi para pengajar  adalah Teacher Learning Community agar tenaga pengajar belajar bersama dan saling berbagi pengalaman demi mencapai tujuan.
Spiritualitas Kristen di Era Overstimulus Digital: Urgensi Gereja dalam Pembentukan Kesehatan Mental dan Iman Suseno, Aji; Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.484

Abstract

The digital age is characterised by a constant and massive flow of information, causing humans to experience overstimulation that affects various aspects of life, including spirituality, faith, and mental health. Christianity faces difficulties in maintaining the depth of faith, as spiritual practices that should be contemplative and reflective are displaced by instant culture and religious digitalisation, or addiction to the internet and gadgets. Spirituality, which was once built on a deep relationship with God, now tends to be shallow and routine, lacking focus. The purpose of this study is to analyse the urgency of the church's role in shaping authentic Christian spirituality amidst the conditions of digital overstimulation. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that digital overstimulation contributes to an unrecognised spiritual crisis. Therefore, it is necessary to understand the nature of digital overstimulation and the disorientation of Christian spirituality. Similarly, mental health and Christian spirituality must be considered within the context of both traditional depth and digital challenges. Thus, the role of the church in shaping faith in the era of overstimulation can build a contextual and contemplative model of spirituality. Therefore, contextual Christian spirituality must guide the faithful to live consciously, be fully present before God, and remain rooted in faith.Abstrak Era digital ditandai oleh deras dan massifnya arus informasi yang terus-menerus, menyebabkan manusia mengalami overstimulus sehingga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk spiritualitas, iman dan kesehatan mental. Kekristenan menghadapi kesulitan mempertahankan kedalaman iman, karena praktik-praktik rohani yang seharusnya kontemplatif dan reflektif tergeser oleh budaya instan dan digitalisasi religius atauapun kecanduan internet maupun gadget. Spiritualitas yang dulunya dibangun dalam relasi mendalam dengan Allah kini cenderung dangkal dan rutinitas yang tidak fokus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis urgensi peran gereja dalam membentuk spiritualitas Kristen yang nyata di tengah kondisi overstimulus digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa overstimulus digital berkontribusi terhadap krisis spiritual yang tidak disadari. Maka itu perlu memahami Hakikat overstimulus digital dan disorientasi spiritualitas kristen. Begitu juga dengan kesehatan mental dan spiritualitas kristen diantara kedalaman tradisi dan tantangan konteks digital. Sehingga peran gereja dalam pembentukan iman di era overstimulus dapat membangun model spiritualitas kontekstual dan kontemplatif. supaya Spiritualitas Kristen yang kontekstual harus menuntun umat untuk hidup secara sadar, hadir utuh di hadapan Allah, dan tetap berakar dalam iman.

Page 10 of 11 | Total Record : 109