cover
Contact Name
Tonni Limbong
Contact Email
tonni.budidarma@gmial.com
Phone
+6281267058001
Journal Mail Official
alexander_naununu@ust.ac.id
Editorial Address
Jl. Setiabudi No. 479 F Tanjungsari, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20132
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Logos
ISSN : 14125943     EISSN : 27767485     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Logos memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
Articles 230 Documents
PENYELESAIAN MASALAH MODEL ANIMISTIS Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 11 No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v11i2.1536

Abstract

Pemberian hadiah merupakan fenomena yang mudah dijumpai di berbagai kebudayaan yang ada di muka bumi. Melalui cara itu relasi antar sesama manusia dipererat dan dipelihara. Praktek pemberian hadiah dalam berbagai bentuknya dan juga istilah-istilahnya kepada para pejabat ataupun yang memiliki kewenangan juga telah lama ada. Istilah yang sering digunakan untuk praktek tersebut adalah suap. Suap merupakan model penyelesaian masalah-masalah profan yaitu masalah-masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Terkait dengan fenomena suap-menyuap, apakah religiositas tradisional berkontribusi dalam menyediakan model penyelesaian masalah seperti itu? Dalam artikel ini akan dibahas cara pandang masyarakat terhadap dunianya serta sikap-sikap yang diperlukan baik pada saat dalam keadaan biasa-biasa saja maupun ketika berhadapan dengan masalah-masalah kehidupan serta cara penyelesiannya. Melalui pendapat para ahli Jawa, masyarakat Jawa akan dijadikan sebagai bahan analisa untuk menjawab pertanyaan di atas
MENELUSURI RELIGIOSITAS MASYARAKAT Antono, Yustinus
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i2.1537

Abstract

Dilihat dari banyaknya suku bangsa yang ada di Indonesia, masyarakat Indonesia bisa digolongkan sebagai masyarakat majemuk. Dengan sendirinya pada masyarakat demikian bisa ditemukan berbagai aktivitas dalam kehidupan yang berhubungan dengan religiositas masyarakat yang bersangkutan. Selain itu dalam skala nasional, pemerintah Indonesia telah menetapkan pada tanggal-tanggal tertentu sebagai hari libur. Di antara hari libur yang ditetapkan itu adalah hari-hari yang terkait dengan hari besar agama tertentu. Selain aktivitas hari-hari keagamaan dalam masyarakat bisa dijumpai berbagai perayaan yang sifatnya lokal, yaitu perayaan atau aktivitas yang terkait dengan adat-istiadat masyarakat yang bersangkutan. Perayaan yang bersifat tradisional itu sangat boleh jadi berhubungan dengan sistem kepercayaan masyarakat setempat. Artikel ini akan mengulas bagaimana fenomenologi ataupun pendekatan fenomenologis dimanfaatkan untuk menelusuri berbagai aktivitas (perayaan) masyarakat baik yang bersumber dari agama-agama maupun yang bersumber dari kepercayaan masyarakat setempat
ANTARA YANG SAKRAL DAN YANG PROFAN PADA MASA KONTAK SOSIAL DIBATASI Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1633

Abstract

Pandemi corona 19 yang berkepanjangan memaksa baik individu maupun masyarakat berada dalam kondisi yang sulit. Semua aspek kehidupan manusia harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Kegiatan-kegiatan baik dalam pekerjaan maupun dalam peribadatan-peribadatan yang melibatkan orang banyak harus dihindari. Interaksi sosial yang biasanya mengandaikan adanya tatap muka terpaksa menggunakan cara lain melalui berbagai media komunikasi baik cetak maupun elektronik. Faktanya, media elektronik yang biasa digunakan oleh masyarakat sebagai sarana bekerja atau hiburan (profan) sekarang digunakan juga sebagai sarana untuk urusan-urusan rohani (sakral) misalnya dalam perayaan ekaristi online. Fakta itu memaksa para akademisi untuk menafsirkan kembali penjelasan yang tegas mengenai batas-batas “yang sakral” dan “yang profan” yang selama ini dikemukakan. Artikel ini merupakan ulasan atas gagasan Emile Durkheim tentang agama dalam kaitannya dengan praktek peribadatan pada masa pandemi.
RELASI PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU MENURUT IRENEUS DARI LYON Situmorang, Sihol; Sitohang, Alfandes Lucius
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1634

Abstract

Alkitab, Kitab Suci orang Kristen, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam arti tertentu masing-masing mempunyai otonomi, namun sekaligus memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak terpisahkan. Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama disingkapkan dalam Perjanjian Baru. Kitab-kitab Perjanjian Lama ditampung dan memperoleh serta memperlihatkan maknanya yang penuh dalam Perjanjian Baru. Dari sisi lain, Perjanjian Lama menyinari dan menjelaskan Perjanjian Baru. Ireneus dari Lyon termasuk Bapa Gereja yang memberi kontribusi penting berhadapan dengan kaum heretik pada masa itu dalam menjelaskan relasai yang tak terpisahkan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua perjanjian ini mengetengahkan rencaka keselamatan Allah bagi seluruh umat manusia yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus.
MENGENAL DAN MENGHAYATI KEUTAMAAN KETEGUHAN Nadeak, Largus
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1635

Abstract

Back to virtue! Seruan ini didengungkan oleh Alasdair MacIntyre agar manusia mengenal kembali keutamaan serta menghayatinya. Gagasan tentang keutamaan sudah dikonsepkan oleh Aristoteles dan Thomas Aquinas dengan baik sebelumnya. Keutamaan keteguhan sebagai keutamaan moral makin aktual dipromosikan sekarang agar manusia tidak mudah berhenti di kenyamanan sesaat dan tidak mengatasi masalah dengan gegabah, tetapi tekun memperjuangkan kebaikan pribadi dan kebahagiaan bersama. Menarik bahwa para pegiat pendidikan berpartisipasi memperkenalkan keteguhan pada anak-didik sejak awal sehingga mereka memiliki kecerdasan emosional yang memadai, serta memiliki daya climber. Orang Kristen sebagai bagian masyarakat hendaknya berpartisipasi memperjuangkan kebaikan dan kebenaran sejati. Jiwa kemartiran menggerakkan semangat keteguhan orang beriman agar berdaya climber, terus berjuang mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus Sang Climber sejati. Dia terus mendaki sampai mati di puncuk gunung Golgota dan kemudian menganugerahkan kebangkitan kekal bagi orang beriman yang mengikti-Nya dengan setia
KEJAHATAN DAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH: Suatu Uraian Deskriptif-Kritis atas Pemikiran Leibniz Moa, Antonius; Purba, Imanuel
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1636

Abstract

Kejahatan adalah sebuah pengalaman yang universal, sebab dialami oleh semua manusia. Pengalaman kejahatan telah menantang manusia untuk berpikir dan bertanya: apa arti kejahatan, mengapa terjadi kejahatan, dari mana asalnya? Manusia heran dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Leibniz adalah salah seorang yang tertantang untuk merefleksikan pengalaman kejahatan dan penderitan. Ia akhirnya menyatakan bahwa kejahatan sebagai tiadanya sesuatu, sama seperti sebuah lubang yang merupakan hilangnya sesuatu. Leibniz adalah pencipta kata teodice, “pembenaran Allah” terhadap kejahatan. Ia menerangkan bahwa kebaikan Allah tidak bertentangan adanya kejahatan, dan bahwa kebebasan manusia tidak bertentangan dengan kemahakuasaan Allah. Jika dikatakan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, maka dalam hal ini harus dikatakan bahwa kejahatan tidak bersumber dari Allah karena Allah adalah sumber segala sesuatu yang baik. Oleh karena itu kejahatan tidak dapat menjadi argumen untuk menyangkal Allah, atau juga menjadi landasan untuk tidak mempercayai Allah yang Mahabaik dan Mahakuasa.
PERUNTUKAN DAN SUMBER HARTA BENDA GEREJA: Acuan Pada Keuskupan Agung Medan Purba, Asrot; Sihombing, Junius
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1637

Abstract

Kata “harta benda” sangat sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tidak dapat lepas dari harta benda. Sebagai institusi yang berada di dalam dunia, Gereja juga membutuhkan harta benda. Bagaimana harta benda itu dikelola oleh Gereja? Permasalahan yang kadang timbul di lapangan ialah para pengelola harta benda Gereja menyimpang dari pedoman Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983. Tulisan ini hendak meluruskan penyimpangan itu dengan memberikan penjelasan mengenai peruntukan harta benda, dengan acuan pada Gereja Keuskupan Agung Medan (KAM).
TERIMALAH SATU AKAN YANG LAIN: Pendekatan Filosofis dan Teologis atas Otherness Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1640

Abstract

Tolerance and the golden rule are taught by the world's religions, including the religions in Indonesia. The practice of tolerance and of the golden rule in multicultural Indonesian society is a real experience that needs to be improved. From the philosophical and theological point of view otherness must be accepted, recognized, appreciated, and enriched for the sake of a beautiful and peaceful common life in this world. In this article, the beauty of otherness is explored. The exploration tells us it is urgent to constantly promote the golden rule among adherents of different religions in Indonesia and the need for Catholics in Indonesia to be more precise in making real the adage 100% Catholic and 100% Indonesian.
PENGHAPUSAN TINGKATAN TUJUAN PERKAWINAN DALAM KHK 1983 Purba, Asrot
LOGOS Vol 15 No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v15i2.1664

Abstract

Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1917 (KHK lama) terdapat pembagian tujuan perkawinan berdasarkan tingkatan atau hierarki dengan istilah tujuan primer (primary end) dan tujuan sekunder (secondary end). Dalam KHK 1983 (KHK baru) tingkatan tujuan itu menghilang. Bagaimana penghapusan tingkatan itu terjadi? Paham apa yang mendasarinya? Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan di atas dengan memaparkan makna tingkatan tujuan dalam KHK 1917, kritik-kritik atas tingkatan itu, terutama yang berasal dari penganut Teori Personalisme, pengaruh Personalisme dalam Konsili Vatikan II, dan akhirnya rumusan baru tujuan perkawinan dalam KHK 1983.
ONENESS OF LOVE FOR GOD AND FOR NEIGHBOUR ACCORDING TO JOHN DUNS SCOTUS Telaumbanua, Ubald Marinus
LOGOS Vol. 6 No. 1 (2008): Januari 2008
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v6i1.1818

Abstract

John Duns Scotus (1266-1308) adalah pemikir besar dalam bidang teologi dan filsafat pada abad 13 (di era skolastik) setelah St. Thomas Aquino dan St. Bonaventura. Dia adalah guru besar di Universitas Oxford, Paris dan Köln, dan sungguh merupakan kebanggaan rakyat Skotlandia dan Ordo Fransiskan. Dalam berfilsafat dan berteologi Scotus mengembangkan konsep kesatuan. Allah adalah kebaikan tak terbatas bagi segala sesuatu, sehingga mencintai Allah dan mencintai sesama menyatu-padu dan tak terpisahkan. Metafisik dan juga teologinya berpangkal pada kasih dan berujung pada kasih. Kasih yang tertinggi dan tak terbatas adalah Allah sendiri