cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
ISSN : 2775717X     EISSN : 27757188     DOI : 10.51878
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan keguruan dan ilmu pendidikan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 540 Documents
KUALITAS PENDIDIKAN POIN 4 SDGS DITINJAU DARI PENGGUNAAN MODEL CTL TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Bunga Rossa Indah; Baharudin Baharudin; Ayu Reza Ningrum; Ida Fiteriani
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.12983

Abstract

ABSTRACT Sustainable Development Goal (SDG) 4 aims to ensure quality education by fostering 21st-century competencies, one of which is critical thinking. However, elementary school students' critical thinking skills remain relatively low because learning activities are often teacher-centered and insufficiently connected to real-life contexts. One learning model that can address this issue is Contextual Teaching and Learning (CTL). This study aimed to examine the effect of the Contextual Teaching and Learning (CTL) model on students' critical thinking skills in Science and Social Studies (IPAS) as an effort to support the achievement of SDG 4. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Nonequivalent Control Group Design. The sample consisted of 50 fifth-grade students who were divided into an experimental group and a control group using a purposive sampling technique. The research procedures included administering a pre-test, implementing CTL in the experimental group while the control group received conventional instruction, and conducting a post-test to measure students' critical thinking skills. The data were analyzed using the Mann–Whitney U test. The findings indicated that the experimental group demonstrated significantly higher critical thinking skills than the control group, as evidenced by an Asymp. Sig. (2-tailed) value of < 0.001. Therefore, the CTL model is effective in improving students' critical thinking skills in IPAS learning and supports the implementation of SDG 4 on Quality Education. ABSTRAK Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4 bertujuan mewujudkan pendidikan berkualitas melalui pengembangan kompetensi abad ke-21, salah satunya kemampuan berpikir kritis. Namun, kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar masih rendah karena pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan belum mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model CTL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) sebagai upaya mendukung pencapaian SDGs Poin 4. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian berjumlah 50 siswa kelas V yang dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi pemberian pretest, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model CTL pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol, serta pemberian posttest. Data dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,001. Dengan demikian, model CTL efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPAS dan mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas sesuai SDGs Poin 4.
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KARAKTER CINTA DAMAI SISWA KELAS XI SMK PADA PEMBELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI Nurul Uzlifa; Wartono Wartono; Rumba Triana
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13005

Abstract

The phenomenon of violence and student brawls in the educational environment in Indonesia shows an alarming trend, with national data recording that 37.5% of total child violence complaints occur in educational institutions, and West Java being the province with the highest rate of student violence. This condition reflects the weak character of peace-loving attitudes among students, one of the causes being the conventional and teacher-centered approach to Islamic Religious Education and Character Education (PAI) learning. This study aims to examine the influence of the contextual teaching and learning (CTL) approach on students' peace-loving character in PAI subjects. This research employs a quantitative approach with a correlational associative design. The study population was all 114 eleventh-grade students of SMK Tri Dharma 4 Bogor City, with a sample of 53 students determined using the Slovin formula. Data were analyzed through classical assumption tests, simple linear regression, and Pearson Product Moment correlation test. The results showed that the CTL approach had a positive and significant effect on students' peace-loving character. These findings indicate that CTL is able to foster students' peace-loving character, as reflected in attitudes of tolerance, mutual respect, and the ability to resolve conflicts peacefully. The novelty of this research lies in the empirical testing of the influence of CTL on peace-loving character in vocational high schools in regions with the highest rate of student violence in Indonesia, which has rarely been studied quantitatively. The implication is that the CTL approach is worth maintaining and developing as a strategic instrument in PAI learning, especially in areas prone to conflict and violence. ABSTRAK Fenomena kekerasan dan tawuran di lingkungan pendidikan di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, dengan data nasional mencatat 37,5% dari total aduan kekerasan terhadap anak terjadi di satuan pendidikan, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan tingkat kekerasan pelajar tertinggi. Kondisi ini mencerminkan lemahnya karakter cinta damai siswa, yang salah satu penyebabnya adalah pendekatan pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yang masih bersifat konvensional dan teacher-centered. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) terhadap karakter cinta damai siswa pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis asosiatif korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMK Tri Dharma 4 Kota Bogor sebanyak 114 siswa, dengan sampel 53 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Data dianalisis melalui uji asumsi klasik, regresi linear sederhana, dan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan CTL berpengaruh positif dan signifikan terhadap karakter cinta damai siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa CTL mampu menumbuhkan karakter cinta damai siswa, yang tercermin dalam sikap toleransi, saling menghargai, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara damai. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengujian empiris pengaruh CTL terhadap karakter cinta damai di SMK pada wilayah dengan tingkat kekerasan pelajar tertinggi di Indonesia, yang selama ini masih jarang dikaji secara kuantitatif. Implikasinya, pendekatan CTL layak dipertahankan dan dikembangkan sebagai instrumen strategis dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti, terutama di wilayah yang rawan konflik dan kekerasan.
PELESTARIAN TRADISI KOKO’O SEBAGAI WARISAN BUDAYA BULAN RAMADHAN MASYARAKAT DESA BILUNGALA DAN TALUMOPATU Rahmawati Ohi; Rafly Ardikha Harun; Gilang Saputra Nento; Fara Cantika W. Pakia; Nur Intan A. Ibrahim; Sitti Maryam Hala; Ismi Umonti
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13572

Abstract

ABSTRACT The Koko'o tradition in Bilungala Village and the Koko tradition in Talumopatu Village constitute part of the cultural heritage of the Gorontalo community that has been preserved despite ongoing social and technological changes. This study aims to analyze the historical development of these traditions, their implementation, the social, cultural, and religious values they embody, and the preservation efforts undertaken by local communities and government institutions. The study employed a qualitative research method with a descriptive approach. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the stages of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings reveal that the Koko'o and Koko traditions serve not only as a means of awakening community members for the pre-dawn meal (suhoor) during Ramadan but also as important instruments for transmitting the values of mutual cooperation, social solidarity, religious devotion, and Gorontalo cultural identity. Although several technical aspects of the traditions have adapted to contemporary developments, their essential cultural elements remain well preserved through active community participation and institutional support. This study concludes that the sustainability of these traditions depends on the community's ability to integrate cultural preservation with adaptation to social change. These findings contribute to the broader discourse on local cultural preservation by providing a foundation for developing sustainable community-based cultural preservation strategies. ABSTRAK Tradisi Koko'o di Desa Bilungala dan tradisi Koko di Desa Talumopatu merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Gorontalo yang masih dipertahankan di tengah perkembangan sosial dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah dan perkembangan tradisi, bentuk pelaksanaan, nilai sosial, budaya, dan religius yang terkandung di dalamnya, serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Penelitian menggunakan metode qualitative research dengan pendekatan descriptive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-structured, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan kondensasi data (data condensation), penyajian data (data display), serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Koko'o dan Koko tidak hanya berfungsi sebagai media membangunkan masyarakat untuk sahur selama bulan Ramadan, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai gotong royong, solidaritas sosial, religiusitas, dan identitas budaya masyarakat Gorontalo. Meskipun mengalami penyesuaian pada aspek teknis pelaksanaan sebagai respons terhadap perkembangan zaman, unsur utama tradisi tetap dipertahankan melalui partisipasi masyarakat dan dukungan berbagai pihak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan tradisi dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat mengintegrasikan pelestarian nilai budaya dengan proses adaptasi terhadap perubahan sosial. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian pelestarian budaya lokal sebagai dasar penyusunan strategi pelestarian budaya berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
PROBLEMATIKA PERGAULAN TEMAN SEBAYA DALAM PERSPEKTIF PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL Ira Nurul Hotami; Lina Siti Nurwahidah; Yennie Indriati Widyaningsih
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13574

Abstract

ABSTRACT Peer relationships are one of the factors that influence individuals' social, emotional, and behavioral development. During the developmental stage, peers become a social environment that provides opportunities for individuals to learn communication, cooperation, self-identity formation, and the understanding of values and norms within society. However, peer relationships do not always produce positive outcomes, as unhealthy peer environments may trigger various problems, such as deviant behavior, bullying, low tolerance, and intergroup conflict. This study aims to examine the concept of peer relationships, their roles, impacts, and strategies for creating a positive peer environment through a literature review. The study employed a qualitative method using a literature review approach. Data were collected by searching scientific articles in the Google Scholar, Garuda, and Crossref databases using the keywords peer relationships, peers, peer group, peer influence, and adolescent social behavior. The data were analyzed using content analysis and thematic analysis through the stages of article identification, selection, thematic classification, synthesis, and interpretation. The findings indicate that peers play a significant role in enhancing social skills, self-confidence, adaptability, and character development. On the other hand, unhealthy peer relationships may lead to negative outcomes, including group exclusivity, social exclusion, interpersonal conflict, and bullying behavior. Therefore, collaborative efforts among families, schools, and communities are essential to foster a positive peer environment through the development of social skills, open communication, and emotional support, thereby promoting optimal individual development. ABSTRAK Pergaulan teman sebaya merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan sosial, emosional, dan perilaku individu. Pada masa perkembangan, teman sebaya menjadi lingkungan sosial yang memberikan kesempatan bagi individu untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, membangun identitas diri, serta memahami nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Namun, pergaulan teman sebaya tidak selalu memberikan dampak positif karena lingkungan pertemanan yang kurang kondusif dapat memicu berbagai permasalahan, seperti perilaku menyimpang, bullying, rendahnya toleransi, dan konflik antarkelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengertian, peran, dampak, serta solusi dalam menciptakan lingkungan pergaulan teman sebaya yang positif berdasarkan hasil kajian literatur. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah pada database Google Scholar, Garuda, dan Crossref menggunakan kata kunci pergaulan teman sebaya, teman sebaya, peer group, peer relationship, peer influence, dan perilaku sosial remaja. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis dan analisis tematik melalui tahapan identifikasi, seleksi, pengelompokan tema, sintesis, dan interpretasi hasil kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teman sebaya memiliki peran penting dalam meningkatkan keterampilan sosial, rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, serta pembentukan karakter individu. Di sisi lain, pergaulan yang tidak sehat dapat menimbulkan dampak negatif, seperti eksklusivitas kelompok, pengucilan, konflik sosial, dan perilaku bullying. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan teman sebaya yang positif melalui penguatan keterampilan sosial, komunikasi yang terbuka, dan dukungan emosional sehingga perkembangan individu dapat berlangsung secara optimal.
STRATEGI KEPEMIMPINAN TECHNOPRENEUR KEPALA SEKOLAH DALAM MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI DIGITAL GUNA MENUMBUHKAN KREATIVITAS PEMBELAJARAN DI SMPN 1 PULOKULON Dewi Lestari Kristiyaningsih; Slamet Slamet
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13576

Abstract

ABSTRACT The massive digital transformation in the era of the Fourth Industrial Revolution requires school principals to reposition their roles from conventional managers to visionary and innovative leaders. This study aims to analyze the dynamics of technopreneurial leadership among school principals in developing a creative digital learning ecosystem at SMPN 1 Pulokulon. The research employed a qualitative approach with a case study design, in which the researcher served as the primary instrument through in-depth interviews, participant observation, and documentation studies. Data were analyzed inductively using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that technopreneurial leadership is manifested through strategic planning based on SWOT analysis, the reconfiguration of physical assets into a "Creative Space," and the provision of psychological support that enhances teachers' motivation to integrate AI tools such as ChatGPT and Canva AI. It is concluded that this leadership style is effective in mitigating resistance to change and addressing infrastructure limitations in rural schools. This article contributes to the development of value proposition-based educational management models in the digital era. ABSTRAK Transformasi digital yang masif di era Revolusi Industri 4.0 menuntut reposisi peran kepala sekolah dari manajer konvensional menjadi pemimpin yang visioner dan inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kepemimpinan technopreneur kepala sekolah dalam mengembangkan ekosistem pembelajaran digital yang kreatif di SMPN 1 Pulokulon. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen utama melalui teknik wawancara mendalam, observasi berperan serta, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan technopreneur diwujudkan melalui perencanaan strategis berbasis analisis SWOT, rekonfigurasi aset fisik menjadi "Creative Space", dan pemberian dukungan psikologis yang meningkatkan motivasi guru dalam mengintegrasikan AI seperti ChatGPT dan Canva AI. Disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan ini efektif dalam memitigasi resistensi perubahan dan keterbatasan infrastruktur di sekolah pedesaan. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model manajemen pendidikan berbasis nilai tambah (value proposition) di era digital.
EFEKTIVITAS TEORI KONSELING KOGNITIF PERILAKU DENGAN TEKNIK MENIRU UNTUK MENINGKATKAN CERDAS EMOSI SISWA SMA Diva Andita; I Ketut Dharsana; Putu Ari Dharmayanti
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13747

Abstract

ABSTRACT Emotional intelligence is an essential competency that supports students in managing their emotions, building social relationships, and coping with various challenges in the school environment. However, some students still demonstrate low levels of emotional intelligence, indicating the need for effective guidance and counseling interventions. This study aimed to examine the effectiveness of cognitive behavioral counseling using the modeling technique in improving the emotional intelligence of students at SMA Negeri 1 Singaraja. The study employed a quantitative approach with a Non-equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. The sample consisted of 68 students who were assigned to an experimental group and a control group. Data were collected using an emotional intelligence questionnaire that had met validity and reliability requirements. Data were analyzed using normality and homogeneity tests, an independent samples t-test, and effect size analysis. The results indicated that the experimental group showed a greater improvement in emotional intelligence than the control group. The independent samples t-test revealed a significant difference between the two groups (p = 0.001 < 0.05), while the effect size value of 2.133 indicated a strong treatment effect. Therefore, cognitive behavioral counseling using the modeling technique is effective in improving the emotional intelligence of students at SMA Negeri 1 Singaraja. ABSTRAK Cerdas emosi merupakan salah satu kompetensi penting yang mendukung keberhasilan siswa dalam mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sekolah. Namun, masih terdapat siswa yang menunjukkan tingkat cerdas emosi rendah sehingga memerlukan layanan bimbingan dan konseling yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling kognitif perilaku dengan teknik meniru dalam meningkatkan cerdas emosi siswa SMA Negeri 1 Singaraja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Non-equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 68 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner cerdas emosi yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji homogenitas, independent sample t-test, dan effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan cerdas emosi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hasil independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,001 < 0,05), sedangkan nilai effect size sebesar 2,133 menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang kuat. Dengan demikian, konseling kognitif perilaku dengan teknik meniru efektif dalam meningkatkan cerdas emosi siswa SMA Negeri 1 Singaraja.
PENGARUH KEGIATAN MEMBUAT KOLASE DARI LIMBAH SERUTAN KAYU TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN Kadek Lia Sridanti; Ni Wayan Risna Dewi; I Komang Sesara Ariyana
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13836

Abstract

ABSTRACT Fine motor skills constitute an essential component of early childhood development because they support children's independence, learning readiness, and participation in activities requiring precision and coordination. Observations conducted at TK Pradnya Paramita revealed that some children aged 5–6 years still experienced difficulties in coordinating hand and finger movements during manipulative tasks. This condition encouraged the use of wood shavings waste as collage material, providing a more varied sensorimotor experience than the learning media commonly used in the classroom. To examine its influence on fine motor development, this study involved 34 children divided into two groups: 16 children in the treatment group and 18 children in the comparison group. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Posttest-Only Control Group Design. Data were collected through observation and documentation, then analyzed using normality and homogeneity tests followed by an independent samples t-test. The findings indicated that the mean fine motor score of children who participated in collage activities using wood shavings waste was 42.13, exceeding the mean score of 31.67 obtained by the comparison group. Statistical analysis confirmed that the difference was significant (p < 0.05). These results suggest that wood shavings waste can serve as an effective learning medium for stimulating fine motor development while simultaneously introducing environmentally friendly and educationally valuable materials into early childhood education. ABSTRAK Kemampuan mengendalikan gerakan jari dan tangan menjadi bagian penting dari pengalaman belajar anak usia dini karena berkaitan dengan berbagai aktivitas yang membutuhkan ketelitian, koordinasi, dan kemandirian. Di TK Pradnya Paramita, masih ditemukan anak usia 5–6 tahun yang belum mampu mengoordinasikan gerakan tangan secara optimal ketika melakukan kegiatan yang memerlukan keterampilan manipulatif. Situasi tersebut mendorong pemanfaatan limbah serutan kayu sebagai bahan kolase yang diharapkan dapat menghadirkan pengalaman sensorimotor yang lebih beragam dibandingkan media yang umum digunakan di kelas. Untuk menelaah pengaruhnya terhadap perkembangan motorik halus, penelitian ini melibatkan 34 anak yang terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu 16 anak pada kelas perlakuan dan 18 anak pada kelas pembanding. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Posttest-Only Control Group Design dalam kerangka quasi experiment. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui uji normalitas, homogenitas, serta independent samples t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa capaian motorik halus anak pada kelompok yang mengikuti kegiatan kolase berbahan limbah serutan kayu memiliki rerata skor 42,13, lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding yang memperoleh rerata 31,67. Perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan limbah serutan kayu dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif untuk menstimulasi perkembangan motorik halus sekaligus memperkenalkan penggunaan bahan yang bernilai edukatif dan ramah lingkungan pada pendidikan anak usia dini.
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM UNGGULAN TAHFIZ AL-QURAN DI SMPIT AL-FITYAN KUBU RAYA TAHUN 2026 Tyas Nurhadiyanti; Nilwani Nilwani; Eli Eli
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.13983

Abstract

ABSTRACT Qur'anic memorization (tahfiz al-Qur'an) programs have become one of the flagship programs implemented in many Islamic schools to foster students' Qur'anic character. However, studies that comprehensively examine the types of tahfiz programs, their implementation stages, and the supporting and inhibiting factors within integrated Islamic schools remain limited. Therefore, this study aims to analyze the types of flagship tahfiz al-Qur'an programs, the stages of program implementation, and the supporting and inhibiting factors of the tahfiz al-Qur'an program at SMPIT Al-Fityan Kubu Raya. This study employed a qualitative approach with a descriptive design. The participants consisted of 15 informants, including two Qur'an Program Coordinators, three tahfiz teachers, and ten students from the regular and special (takhasus) tahfiz programs. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which includes data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The findings revealed that the tahfiz program at SMPIT Al-Fityan Kubu Raya consists of three components: tahsin, regular tahfiz, and takhasus tahfiz, implemented through three main stages: planning, implementation, and periodic evaluation. The program's success is supported by structured management, competent teachers, students' motivation, adequate facilities, and a conducive learning environment. Meanwhile, the main challenges include students' low motivation and consistency, inadequate Qur'anic reading skills, demanding school activities, and a less conducive learning atmosphere. These findings indicate that the successful implementation of a tahfiz al-Qur'an program requires systematic management and strong support from all stakeholders to ensure its effectiveness and sustainability. ABSTRAK Program tahfiz Al-Qur'an menjadi salah satu program unggulan di berbagai sekolah Islam sebagai upaya membentuk karakter Qur'ani peserta didik. Namun, kajian yang mengulas secara komprehensif mengenai jenis program, tahapan pelaksanaan, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi program tahfiz pada sekolah Islam terpadu masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis program unggulan tahfiz Al-Qur'an, tahapan pelaksanaan program, serta faktor pendukung dan penghambat program tahfiz Al-Qur'an di SMPIT Al-Fityan Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 15 orang yang terdiri atas dua Penanggung Jawab Al-Qur'an, tiga guru tahfiz Al-Qur'an, dan sepuluh siswa program tahfiz reguler serta tahfiz takhasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program tahfiz di SMPIT Al-Fityan Kubu Raya dilaksanakan melalui program tahsin, tahfiz reguler, dan tahfiz takhasus dengan tahapan pelaksanaan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara berkala. Keberhasilan program didukung oleh manajemen yang terstruktur, kompetensi guru, motivasi peserta didik, fasilitas yang memadai, serta lingkungan belajar yang kondusif, sedangkan hambatan utama meliputi rendahnya motivasi dan konsistensi sebagian siswa, kemampuan membaca Al-Qur'an yang belum memadai, padatnya kegiatan sekolah, serta suasana belajar yang kurang kondusif. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tahfiz memerlukan pengelolaan yang sistematis dan dukungan berbagai pihak agar pelaksanaannya dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
ANALISIS DEEP LEARNING PADA KONSEP RANTAI MAKANAN DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING DI SEKOLAH DASAR Sabila Nanda Sukiwijaya; Machfudzil Asror
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.14356

Abstract

This study was motivated by the uneven understanding of the food chain concept among students despite the implementation of the Discovery Learning model. The objectives of this study were to describe the implementation of the Discovery Learning model, analyze students’ deep learning, and identify the challenges encountered in learning the food chain concept in Grade V at SD Sabilur Rosyad. This study employed a qualitative approach with a descriptive research design. The research subjects consisted of one teacher and 22 fifth-grade students. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings revealed that the implementation of the Discovery Learning model followed six stages: stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, and generalization. The learning process reflected the characteristics of deep learning, namely meaningful learning, mindful learning, and joyful learning. Students were able to understand the relationships among organisms in a food chain through observation, discussion, analysis, and conclusion-drawing activities. The challenges identified included limited instructional time, differences in students’ abilities, unequal levels of student participation, and limited learning media. Based on the findings, it can be concluded that the Discovery Learning model supports deep learning in teaching the food chain concept to fifth-grade students at SD Sabilur Rosyad. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum meratanya pemahaman siswa terhadap konsep rantai makanan meskipun pembelajaran telah menggunakan model Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Discovery Learning, menganalisis pembelajaran mendalam (deep learning) siswa, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pembelajaran konsep rantai makanan di kelas V SD Sabilur Rosyad. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru dan 22 siswa kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning telah dilaksanakan melalui tahapan stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization. Pembelajaran yang berlangsung telah mencerminkan karakteristik deep learning, yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Siswa mampu memahami hubungan antarorganisme dalam rantai makanan melalui kegiatan pengamatan, diskusi, analisis, dan penyimpulan konsep. Adapun kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan waktu pembelajaran, perbedaan kemampuan siswa, keaktifan siswa yang belum merata, serta keterbatasan media pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model Discovery Learning mampu mendukung pembelajaran mendalam pada konsep rantai makanan di kelas V SD Sabilur Rosyad.
ANALISIS KEAKTIFAN, KETERAMPILAN KOLABORATI, PRODUK NYATA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Rizka Amalia; Muawwinatul Laili
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.14357

Abstract

This study was motivated by the fact that students continued to experience difficulties in understanding mathematics lessons, despite the teacher having implemented the Project-Based Learning (PjBL) model. The study aimed to describe the implementation of the PjBL model and to analyze student engagement, collaborative skills, and tangible products resulting from the model's application in mathematics lessons taught to Grade III students at SDN Sawohan II. A qualitative approach with a descriptive research design was employed. The research subjects consisted of one teacher and five Grade III students. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which involves data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through technique triangulation. The results indicate that the PjBL model was implemented through a process comprising project determination (via the introduction of surrounding objects), group planning of project completion steps, schedule creation with the teacher, project execution, report compilation and group presentations, and a concluding evaluation and reflection session. Regarding the engagement indicator, the PjBL model successfully fostered active participation and involvement among the majority of students in project design, discussions, and the completion of group tasks; however, this engagement was not yet universal across the class. Regarding collaborative skills, the Grade III students showed signs of development, and the tangible products generated by the students aligned with the intended learning objectives. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran matematika, meskipun guru telah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning serta menganalisis keaktifan, keterampilan kolaboratif, dan produk nyata peserta didik dalam penerapan model pembelajaran PjBL pada pembelajaran matematika yang diterapkan oleh guru dikelas III SDN Sawohan II.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas seorang guru dan lima peserta didik kelas III. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif oleh Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning telah dilaksanakan mulai dari penentuan proyek melalui pengenalan benda disekitar, perencanaan langkah-langkah penyelesaian proyek secara berkelompok, penyususnan jadwal bersama guru, penyelesaian proyek, penyusunan laporan serta presentasi kelompok di depan kelas, dan pelaksanaan evaluasi serta refleksi bersama pada akhir pembelajaran. Pada indikator keaktifan, penerapan model PjBL berhasil menumbuhkan keaktifan dan keterlibatan sebagian besar peserta didik dalam merancang proyek, berdiskusi, serta menyelesaikan tugas kelompok. Namun, keaktifan ini belum sepenuhnya menyeluruh. Pada indikator keterampilan kolaboratif kelas III sudah mulai berkembang, serta produk nyata yang dihasilkan peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.