cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 41 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 41 Documents clear
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL ANALISIS KORELASI DI TINJAU DARI KESALAHAN KONSEP DAN PROSES Aisiyah, Ani Jamiatun; Sutini, Sutini; Prasetyo, Agung
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7532

Abstract

This study aims to analyze students’ errors in solving correlation analysis problems in terms of conceptual and procedural mistakes. The background arises from the fact that many students struggle to understand statistics, especially correlation analysis, which often leads to errors in applying formulas, performing calculations, and interpreting results. This research employed a quantitative descriptive approach involving 36 eleventh-grade students of SMA Negeri 3 Sidoarjo. The instrument was a written test consisting of four essay questions on Pearson correlation and coefficient of determination. Error analysis was based on Watson’s criteria, including data usage, procedure, and conclusion errors. The findings revealed that 50% of students made mistakes in calculating the Pearson correlation coefficient (r), 11% did not answer, and only 39% answered correctly. Common mistakes included substitution errors, miscalculations of SSxy, SSxx, and SSyy, and misinterpretation of the coefficient of determination (r²). The study concludes that students’ errors cover both conceptual and procedural aspects, suggesting that teachers should emphasize conceptual understanding, gradual practice, and contextual data in teaching correlation analysis. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal analisis korelasi ditinjau dari kesalahan konsep dan proses. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak siswa masih kesulitan memahami materi statistika, khususnya analisis korelasi, sehingga rentan melakukan kesalahan baik pada penggunaan rumus, perhitungan, maupun interpretasi hasil. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek 36 siswa kelas XI SMA Negeri 3 Sidoarjo. Instrumen penelitian berupa tes uraian empat soal mengenai korelasi Pearson dan koefisien determinasi. Analisis kesalahan dilakukan berdasarkan kriteria Watson yang mencakup kesalahan data, prosedur, hingga kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% siswa mengalami kesalahan dalam menghitung koefisien korelasi Pearson (r), 11% tidak menjawab, dan hanya 39% yang benar. Kesalahan umum meliputi kesalahan substitusi, perhitungan SSxy, SSxx, dan SSyy, serta kesalahan dalam menginterpretasi nilai koefisien determinasi (r²). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kesalahan siswa mencakup aspek konsep dan proses, sehingga guru perlu memberikan pembelajaran berbasis pemahaman konsep, latihan bertahap, dan penggunaan data kontekstual.
PENGGUNAAN MODEL NHT BERBANTUAN POP-UP BOOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP NEGERI 1 KAMBERA Apu, Salestina Tamu; Ina, Anita Tamu; Matulessy, Yoin Meissy
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7533

Abstract

This study aims to describe the improvement of students’ learning outcomes after the implementation of the cooperative learning model Numbered Heads Together (NHT) assisted by Pop-up Book media integrated with crossword puzzles in the topic of the human reproductive system for Grade IX students of SMP Negeri 1 Kambera. The problem identified was that only 38.46% of students achieved mastery, due to monotonous learning processes, teacher-centered lectures, and limited media variation. To address this issue, the study applied the NHT cooperative learning model combined with Pop-up Book media and interactive student worksheets (LKPD). The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. Data were collected through cognitive tests (post-tests), affective observations using assessment rubrics, and documentation, then analyzed quantitatively. The results showed a significant improvement in both cognitive and affective domains. In the pre-cycle stage, mastery was only 19% (cognitive) and 23% (affective). After implementing the NHT model with the support of Pop-up Book media and interactive worksheets, mastery increased to 62% (cognitive) and 69% (affective) in cycle I, and further reached 92% (cognitive) and 96% (affective) in cycle II. Overall, there was a 73% increase across both aspects. Thus, it can be concluded that the implementation of the NHT cooperative learning model assisted by Pop-up Book media and interactive worksheets is effective in improving students’ learning outcomes, both cognitively and affectively, in Grade IX E of SMP Negeri 1 Kambera. ABSTRAKPenelitian ini, bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimanakah peningkatan hasil belajar peserta didik setelah penerapan model kooperatif tipe Numbered Head Together berbantuan media Pop-up Book dilengkapi TTS pada materi sistem reproduksi manusia di kelas IX SMP Negeri 1 Kambera. Berdasarkan permasalahan ditemukan bahwa hanya 38,46% hasil belajar siswa yang tuntas, karena proses pembelajaran yang monoton, berpusat pada ceramah guru, serta kurang variasi media. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yang dipadukan dengan media Pop-up Book dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) interaktif. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yang masing-masing mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data diperoleh dari tes kognitif (post-test), pengamatan afektif melalui rubrik pengamatan, serta dokumentasi, kemudian dianalisis secara kuantitatif. Hasil penelitian memperlihatkan adanya peningkatan signifikan pada ranah kognitif dan afektif siswa. Pada tahap pra siklus, ketuntasan kognitif hanya 19% dan afektif 23%. Setelah menggunakan model NHT dengan dukungan Pop-up Book dan LKPD interaktif, ketuntasan meningkat menjadi 62% (kognitif) dan 69% (afektif) pada siklus I, lalu mencapai 92% (kognitif) dan 96% (afektif) pada siklus II. Secara keseluruhan, terjadi kenaikan sebesar 73% pada kedua aspek. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif NHT berbantuan Pop-up Book dan LKPD interaktif efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, baik kognitif maupun afektif, pada kelas IX E SMP Negeri 1 Kambera.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL JIGSAW BERBANTUAN MEDIA BUKU SAKU DI SMP NEGERI 3 WAINGAPU Mandjarama, Febriany Imerin; Ina, Anita Tamu; Matulessy, Yoin Meissy
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7534

Abstract

Jigsaw is a learning model that emphasizes learning on students, namely involving students in groups and solving a problem. This study aims to improve cognitive learning outcomes and students' learning interests through the application of the jigsaw type cooperative learning model in science subjects in class VIII D at SMP Negeri 3 Waingapu. The study was divided into three cycles: The first stage was the pre-cycle which was carried out on July 28, 2025, cycle I was carried out on July 29, 2025, and cycle II was carried out on July 31, 2025. The method used in this study was classroom action research that utilized the Kemmis and Mc Taggart research model which consisted of improving 1). Planning, 2). Action, 3). Observation and 4). Reflection. The results of the study showed that the utilization of the application of the jigsaw type cooperative learning model in science subjects showed significant cognitive learning outcomes and learning interest results. The cognitive learning outcomes in the pre-cycle stage reached a percentage of 43.75%, in the first cycle stage reached a percentage of 71.87%, and in the second cycle stage reached a percentage of 90.62%. It can be seen that each cycle saw a significant increase. The results of students' learning interest in the pre-cycle reached a percentage of 53.12%, in the first cycle reached a percentage of 65.62%, and in the second cycle reached a percentage of 90.62%. ABSTRAKJigsaw merupakan model pembelajaran yang menitik beratkan pembelajaran pada peserta didik yakni melibatkan peserta didik didalam kelompok dan memecahkan suatu masalah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatakan hasil belajar kognitif dan minat belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada mata pelajaran IPA  di kelas VIII D di SMP Negeri 3 Waingapu. Penelitian dibagi menjadi tiga siklus: Tahap pertama yaitu pra siklus yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2025, siklus I dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2025, dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2025. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang memanfaatkan model penelitian Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari peningkatan 1). Perencanaan, 2).Tindakan, 3). Observasi dan 4). Refleksi. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada mata pelajaran IPA terlihat hasil belajar kognitif dan hasil minat belajar yang signifikan. Hasil belajar kognitif pada tahap pra siklus mencapai presentase 43,75%, pada tahap siklus I mencapai presentase 71,87%, dan tahap siklus II mencapai presentase  90,62% dapat terlihat setiap siklus terjadi peningkatan yang signifikan. Hasil minat belajar peserta didik pada pra siklus mencapai presentase53,12%, pada siklus I mencapai presentase 65,62%, dan pada siklus II mencapai presesntase 90,62%.
EFEKTIVITAS KOMBINASI METODE UJI KELARUTAN DALAM ALKOHOL, MINYAK DAN FILTER PAPER: ANALISIS SENYAWA KOVALEN POLAR DAN NONPOLAR PADA BUAH LOKAL Syafira, Eka Ananda; Jahro, Iis Siti; Dwiyanda, Fadhilla; Nikita, Ade Rani; Khairani, Rafida; Rizkia, Putri; Said, Fahrezi Hasyim
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7535

Abstract

Covalent compounds in local fruits exhibit different solubility properties depending on their molecular polarity, with polar compounds generally dissolving in polar solvents and nonpolar compounds being more soluble in nonpolar solvents. This principle is essential since fruits contain various secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, terpenoids, and phenolic compounds whose distribution is influenced by polarity. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining solubility tests using 70% ethanol, 96% ethanol, cooking oil, and filter paper as a practical approach to differentiate polar and nonpolar compounds in local fruits. The experiment involved ten fruit samples: star fruit, salak, papaya, pineapple, guava, noni, kaffir lime peel, pantain peel, mangosteen peel, and duku peel. The results showed that star fruit, salak, papaya, pineapple, guava, and noni were highly soluble in 70% ethanol, indicating the predominance of polar compounds. In contrast, kaffir lime peel, duku peel, mangosteen peel, and parts of plantain peel demonstrated greater solubility in oil or left residues on filter paper, suggesting the presence of nonpolar or semi-polar compounds. These findings confirm that the proposed combination method is effective for providing an initial overview of compound polarity in local fruits and has potential application as a practical tool in basic chemistry education and preliminary phytochemical analysis. ABSTRAKSenyawa kovalen pada buah lokal memiliki sifat kelarutan yang berbeda bergantung pada kepolaran molekulnya, di mana senyawa polar cenderung larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar. Prinsip dasar ini penting dipahami karena buah mengandung beragam metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, serta senyawa fenolik yang distribusinya ditentukan oleh kepolaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kombinasi metode uji kelarutan dengan alkohol 70%, alkohol 96%, minyak goreng, dan filter paper sebagai cara sederhana untuk membedakan senyawa polar dan nonpolar pada buah lokal. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan sepuluh sampel buah, yaitu belimbing wuluh, salak, pepaya, nanas, jambu biji, mengkudu, kulit jeruk purut, kulit pisang raja, kulit manggis, dan kulit duku. Hasil uji menunjukkan bahwa buah belimbing wuluh, salak, pepaya, nanas, jambu biji, dan mengkudu larut baik dalam alkohol 70% yang bersifat lebih polar, menandakan dominasi senyawa polar. Sebaliknya, kulit jeruk purut, kulit duku, kulit manggis, dan sebagian kulit pisang raja memperlihatkan kelarutan lebih baik dalam minyak atau meninggalkan residu pada filter paper, yang menunjukkan adanya senyawa nonpolar atau semi-polar. Penelitian menegaskan bahwa metode kombinasi sederhana tersebut efektif memberikan gambaran awal mengenai polaritas senyawa dalam buah lokal, serta berpotensi digunakan sebagai pendekatan praktis dalam pembelajaran maupun analisis kimia dasar.
PENGEMBANGAN MEDIA GAME EDUKASI BERBASIS MATERI BAGIAN TUBUH TUMBUHAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS KELAS IV DI SEKOLAH DASAR Sholihah, Putri Nasihatus; Widiyono, Aan
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7536

Abstract

This study developed an educational game media for plant body parts material and assessed its effectiveness on the learning outcomes of grade IV students of SDN 8 Suwawal. The development model used is ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) within the framework of Research & Development. Product validation is carried out by two media experts and one material expert. The validation results show scores of 95%, 88%, and 97% (very feasible category). The practicality test showed positive responses from teachers (94%) as well as students in the limited trial (93%) and the large-scale trial (88%). Pretest-posttest analysis using paired sample t-test showed a significant improvement in learning outcomes (Sig. 2-tailed = 0.000), with an average increase of 50% in product trials and 37% usage. These findings indicate that the educational games developed are effective in improving the understanding and learning outcomes of IPAS on plant body parts. It is recommended that this medium be implemented more widely and further developed by subsequent researchers. ABSTRAKStudi ini merancang sebuah media Game Edukasi guna materi bagian tubuh tumbuhan dan menilai efektivitasnya pada pencapaian belajar peserta didik kelas IV SDN 8 Suwawal. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) dalam kerangaka Research & Development. Validasi produk dilakukan oleh dua ahli media dan satu ahli materi. Hasil validasi menunjukkan skor 95%, 88%, dan 97% (kategori sangat layak). Uji kepraktisan memperlihatkan respons positif dari guru (94%) serta peserta didik pada uji coba terbatas (93%) dan uji coba skala besar (88%). Analisis pretest-posttest menggunakan paired sample t-test menunjukkan peningkatan hasil belajar yang nyata (Sig. 2-tailed = 0,000), dengan kenaikan rata-rata sebesar 50% pada uji coba produk dan 37% pemakaian. Data tersebut memberikan bukti bahwa Game Edukasi yang dirancang memiliki efektivitas meningkatkan pemahaman dan hasil belajar IPAS pada materi bagian tubuh tumbuhan. Disarankan agar media ini diimplementasikan lebih luas dan dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti berikutnya.
EFEKTIVITAS E-MODUL LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI STEAM sTERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK SMA Zahratunnura, Zahratunnura; Andromeda, Andromeda
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7537

Abstract

This research is part of a Research and Development (R&D) program using the 4-D development model, which has previously been proven valid and practical. However, no specific effectiveness test has been conducted on the use of the e-module on electrolyte and non-electrolyte solutions based on STEAM-integrated problem-based learning on student learning outcomes. The method used was a nonequivalent control group design approach selected by purposive sampling. The research subjects consisted of two eleventh grade classes at SMAN 10 Padang: class XI F2 for the experimental class and class XI F6 for the control class. The instrument used in this study included a cognitive learning achievement test for students. Therefore, the data obtained were analyzed using a t-test to test the research hypothesis. The results of the hypothesis test showed that the calculated t value of 4.395 was greater than the t table of 2.028 at a significance level of 0.05. Therefore, it can be concluded that the use of the e-module on electrolyte and non-electrolyte solutions based on STEAM-integrated problem-based learning is significantly effective on high school student learning outcomes. ABSTRAKPenelitian ini merupakan bagian dari Pengembangan dengan jenis Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan 4-D yang sebelumnya telah terbukti valid dan praktis, namun belum dilakukan uji efektivitas secara khusus pada penggunaan e-modul larutan elektrolit dan non elektrolit berbasis problem based learning terintegrasi STEAM terhadap hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan ialah dengan pendekatan nonequivalent control group design yang dipilih secara purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari dua kelas XI di SMAN 10 Padang, yaitu pada kelas XI F 2 untuk kelas eksperimen dan kelas XI F 6 untuk kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes hasil belajar kognitif peserta didik. Dengan demikian, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji-t unutk menguji hipotesis penelitian. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 4,395 lebih besar dari ttabel sebesar 2,028 pada taraf signifikansi =0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan e-modul larutan elektrolit dan non elektrolit berbasis problem based learning terintegrasi STEAM efektif secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik SMA.
PENGEMBANGAN DAN EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN VR (VIRTUAL REALITY) BERBASIS GAYA BELAJAR VISUAL UNTUK SISWA DI KOTA MATARAM Lestari, Tri Ayu; Mukhlis, Mukhlis; Jamaluddin, Jamaluddin; Handayani, Baiq Sri; Setiawan, Heru; Madani, Sukran
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7538

Abstract

The use of Virtual Reality (VR) in education continues to develop amid rapid technological changes, offering opportunities to revolutionize the way learning materials are explored and understood. VR is a technology capable of presenting immersive digital environments, allowing users to feel as though they are directly within the learning setting. This study aimed to develop and examine the effectiveness of a VR-based learning medium tailored to students’ visual learning styles at the junior and senior high school levels in Mataram City. The research employed a Research and Development (R&D) design using the ADDIE model, which consists of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The findings revealed that the VR-based learning medium was valid and practical for use in biology learning. Media expert validation yielded an average score of 82.7%, while material expert validation scored 85.0%, both of which fall into the “valid” and “feasible” categories. In addition, a trial involving 24 tenth-grade students showed a very positive response, with an average score of 89.42. The effectiveness test indicated that VR-based learning was superior to conventional learning methods. At the junior high school level, the experimental group’s average gain score (20.19) was higher than the control group’s (9.88), with a significant difference. Similarly, at the senior high school level, the experimental group (19.89) outperformed the control group (11.86), also with a significant difference. These results confirm that the developed VR learning medium is not only valid and feasible but also effective and engaging in enhancing students’ learning outcomes. ABSTRAKPenggunaan VR dalam pendidikan masih terus berkembang di tengah perubahan teknologi yang cepat sehingga memiliki kesempatan untuk merevolusi cara mempelajari dan memahami materi. Virtual Reality (VR) merupakan teknologi yang mampu menyajikan lingkungan digital secara imersif sehingga pengguna merasa seolah-olah berada langsung di dalam lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengembangkan dan menguji keefektivan media pembelajaran VR (Virtual Reality) berbasis gaya belajar visual untuk siswa SMP dan SMA di Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D), dengan pendekatan model pengembangan ADDIE, yang meliputi lima tahap: Analisis (Analyze), Desain (Design), Pengembangan (Development), Implementasi (Implementation), dan Evaluasi (Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran Virtual Reality berbasis gaya belajar visual ini dinyatakan valid dan praktis untuk digunakan dalam proses pembelajaran Biologi di sekolah. Validasi dari ahli media memperoleh skor rata-rata 82,7%, sedangkan validasi dari ahli materi memperoleh skor 85,0%, yang keduanya termasuk dalam kategori “valid” dan “layak digunakan”. Selain itu, hasil uji coba terhadap 24 siswa kelas X menunjukkan respons yang sangat baik, dengan skor rata-rata 89,42. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model SrVER (Virtual Reality) lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional. Pada jenjang SMP, rata-rata peningkatan skor kelas eksperimen (20,19) lebih tinggi daripada kontrol (9,88), dengan perbedaan signifikan. Demikian pula pada SMA, kenaikan skor kelas eksperimen (19,89) melebihi kontrol (11,86) dan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan VR berkontribusi nyata dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya layak, tetapi juga efektif dan menarik bagi siswa.
STUDI ANALITIS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA FASE F DALAM MATERI KESETIMBANGAN KIMIA MELALUI MIND MAP Fikriansyah, Ahmad; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7539

Abstract

This study aims to analyze the creative thinking ability of high school students in making mind maps on chemical equilibrium material based on four indicators, namely fluency, flexibility, originality, and elaboration. This study used a quantitative descriptive method with 56 grade XI students selected by random sampling as subjects. The research instrument was a mind map that was assessed using a creative thinking assessment rubric. The research stages included providing mind maps, collecting data, assessing using a rubric, and analyzing the distribution of achievements in each indicator. The results showed that the fluency aspect had the highest achievement, namely 60% of students were in the very good and good categories, which indicated that students' ability to generate ideas was quite adequate. However, the flexibility, originality, and elaboration aspects showed lower achievements, with elaboration being the lowest aspect where only 21% of students were able to explain ideas in detail. The conclusion of this study confirms that students' creative thinking abilities are still unequal, with fluency dominating quite well but weak in flexibility, originality, and detailing of ideas. The implication of these results is the need to implement more varied learning strategies, such as the use of problem-based learning, providing exploratory tasks that require many alternative answers, and guidance in expanding and deepening ideas, so that the development of the aspects of flexibility, originality, and elaboration can be more optimal and balanced with fluency. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik SMA dalam membuat mind map pada materi kesetimbangan kimia berdasarkan empat indikator, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subjek 56 siswa kelas XI yang dipilih secara random sampling. Instrumen penelitian berupa mind map yang dinilai menggunakan rubrik penilaian berpikir kreatif. Tahapan penelitian meliputi pemberian mind map, pengumpulan data, penilaian menggunakan rubrik, serta analisis distribusi capaian pada tiap indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek fluency memiliki capaian tertinggi, yaitu 60% peserta didik berada pada kategori sangat baik dan baik, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam menghasilkan ide cukup memadai. Namun, aspek flexibility, originality, dan elaboration menunjukkan capaian lebih rendah, dengan elaboration sebagai aspek terendah di mana hanya 21% siswa mampu menjelaskan ide secara rinci. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik masih timpang, dengan dominasi fluency yang cukup baik tetapi lemah dalam fleksibilitas, keaslian, dan pendetailan gagasan. Implikasi dari hasil ini adalah perlunya penerapan strategi pembelajaran yang lebih variatif, seperti penggunaan problem-based learning, pemberian tugas eksploratif yang menuntut banyak alternatif jawaban, serta bimbingan dalam memperluas dan memperdalam gagasan, sehingga perkembangan aspek flexibility, originality, dan elaboration dapat lebih optimal dan seimbang dengan fluency.
STUDI KOMPARATIF PEMAHAMAN KONSEPTUAL PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA ANTARA SISWA YANG MENGIKUTI DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI BIMBINGAN BELAJAR Rahmi, Miftahul; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7540

Abstract

This study aims to compare students’ conceptual understanding of chemical equilibrium between those who attend tutoring sessions and those who do not. The research was conducted at a senior high school in Padang during the first semester of the 2025/2026 academic year, using a quantitative method with a comparative design. The research sample consisted of 50 eleventh-grade (Phase F) students, divided into two groups: 25 students who participated in tutoring and 25 who did not. The research instrument was an essay test comprising six questions designed to assess conceptual understanding across three levels of chemical representation—macroscopic, submicroscopic, and symbolic.The analysis results showed that the average conceptual understanding score of students who attended tutoring was 60.28, while the non-tutored group scored an average of 34.88. The hypothesis test using an independent sample t-test produced a t-value of 4.84, which was higher than the t-table value of 2.4, indicating a significant difference between the two groups.Thus, the study concludes that participation in tutoring has a positive effect on enhancing students’ conceptual understanding of chemical equilibrium. The implication of this finding is that teachers should apply instructional strategies that proportionally integrate the three levels of chemical representation—macroscopic, symbolic, and submicroscopic so that students’ conceptual understanding can develop comprehensively. Therefore, teachers are encouraged to innovate in selecting learning models, media, and laboratory activities that support the integration of these three representational levels. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemahaman konseptual siswa pada materi kesetimbangan kimia antara peserta bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Kegiatan penelitian dilakukan di salah satu SMA di Kota Padang pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 dengan menggunakan metode kuantitatif berdesain komparatif. Sampel penelitian berjumlah 50 siswa kelas XI Fase F yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu 25 siswa yang mengikuti bimbingan belajar dan 25 siswa yang tidak mengikuti. Instrumen penelitian berupa tes esai berjumlah enam soal yang dirancang untuk mengukur pemahaman konseptual pada tiga level representasi, yakni makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai pemahaman konseptual kelompok siswa yang mengikuti bimbingan belajar adalah 60,28, sedangkan kelompok yang tidak mengikuti memperoleh nilai rata-rata 34,88. Uji hipotesis dengan independent sample t-test menghasilkan nilai thitung sebesar 4,84, lebih tinggi daripada ttabel sebesar 2,4. Hal ini membuktikan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi dalam bimbingan belajar berpengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman konseptual siswa pada materi kesetimbangan kimia. Implikasi penelitian ini adalah guru menerapkan strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi ketiga level representasi kimia (makroskopik, simbolik, dan submikroskopik) secara proporsional, sehingga pemahaman konsep siswa dapat berkembang secara menyeluruh.. Dengan demikian, guru diharapkan mampu berinovasi dalam memilih model pembelajaran, media, serta aktivitas praktikum yang mendukung keterpaduan ketiga level representasi tersebut.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MIND MAP PADA MATERI ASAM BASA Andani, Rifka; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7541

Abstract

The development of science and technology in the 21st century requires students to possess higher-order thinking skills, one of which is creative thinking ability. However, the 2022 PISA results indicate that Indonesian students’ creative thinking skills are still relatively low. This study aims to analyze students’ creative thinking skills using mind maps in the acid-base topic. The research employed a descriptive quantitative design involving 60 students from two public senior high schools in Padang City, selected randomly. Data were obtained through mind map assessments using a scoring rubric that includes four aspects: fluency, flexibility, originality, and elaboration. The results showed that most students were in the less creative category, with 6 students categorized as not creative, 49 as less creative, 5 as creative, and none as highly creative. The fluency aspect achieved the highest score of 80%, followed by flexibility (68%), originality (39%), and elaboration as the lowest (22%). The findings indicate that mind mapping is effective for measuring creative thinking skills; however, more innovative learning strategies are needed to enhance students’ originality and elaboration of ideas. ABSTRAKPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, salah satunya kemampuan berpikir kreatif. Namun, hasil PISA tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik menggunakan mind map pada materi asam basa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan subjek 60 peserta didik dari dua SMA Negeri di kota Padang yang dipilih secara acak. Data diperoleh melalui penilaian mind map menggunakan rubrik penilaian yang mencakup empat aspek, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori kurang kreatif, dengan rincian 6 orang tidak kreatif, 49 kurang kreatif, 5 kreatif, dan tidak ada yang mencapai kategori sangat kreatif. Aspek fluency memperoleh capaian tertinggi sebesar 80%, diikuti oleh flexibility sebesar 68%, kemudian originality sebesar 39%, sedangkan aspek elaboration menjadi capaian terendah dengan persentase 22%. Penelitian ini menunjukkan bahwa mind map efektif digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif, namun diperlukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif untuk mengembangkan orisinalitas dan keterperincian ide peserta didik.