cover
Contact Name
Ade Cahya
Contact Email
ade@htp.ac.id
Phone
+6276133815
Journal Mail Official
jpkk@htp.ac.id
Editorial Address
Jl.Mustafa Sari No.5 Tangkerang Selatan
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas (Journal Of Community Health Service)
ISSN : -     EISSN : 27971309     DOI : https://doi.org/10.25311/jpkk.Vol1.Iss2.968
Core Subject : Health, Social,
This journal focuses on epidemiology, environmental health, promoting health, reproductive health, occupational health and safety, health policy and administration, community nursing, community midwifery
Articles 110 Documents
PENGUATAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PUTRI MELALUI SKRINING KESEHATAN DASAR, PEMERIKSAAN URIN, DAN EDUKASI: Penguatan Kesehatan Reproduksi Remaja Putri Melalui Skrining Kesehatan Dasar, Pemeriksaan Urin, Dan Edukasi Delima, Alifia Ayu; Yunus, Purnamaniswaty; Andi, Trisnawaty; Pratiwi, Utami Murti
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2333

Abstract

Adolescent girls are a vulnerable group for health problems, both general and reproductive. Lack of early detection and limited knowledge about reproductive health can increase the risk of anaemia, urinary tract infections, and reproductive disorders later in life. This community service activity aims to conduct basic health screenings and simple urine tests, as well as provide reproductive health education to adolescent girls. The activity methods included vital sign checks (blood pressure, pulse, respiration, and body temperature) and simple urine tests (leukocytes, nitrite, urobilinogen, protein, pH, blood, specific gravity, bilirubin, and glucose). Reproductive health education was provided through interactive lectures, discussions, and a question-and-answer session with 10 key questions to assess participant understanding. The activity results indicated that most adolescent girls had normal health status, although some minor abnormalities such as elevated blood pressure and pulse rate were found. The reproductive health education session showed that the majority of participants were able to answer questions correctly, indicating an increased understanding of personal hygiene, preventing urinary tract infections, and the importance of maintaining reproductive health. Abstrak Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah kesehatan, baik kesehatan umum maupun kesehatan reproduksi. Kurangnya deteksi dini dan minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko anemia, infeksi saluran kemih, serta gangguan reproduksi di kemudian hari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining kesehatan dasar dan pemeriksaan urin sederhana, serta memberikan edukasi kesehatan reproduksi pada remaja putri. Metode kegiatan meliputi pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu tubuh) dan pemeriksaan urin sederhana (leukosit, nitrit, urobilinogen, protein, pH, darah, specific gravity, bilirubin, glukosa). Edukasi kesehatan reproduksi diberikan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan sesi tanya jawab dengan 10 pertanyaan kunci untuk mengevaluasi pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan sebagian besar remaja putri memiliki status kesehatan normal, meskipun terdapat temuan kelainan ringan seperti peningkatan tekanan darah dan denyut nadi. Sesi edukasi kesehatan reproduksi menunjukkan mayoritas peserta mampu menjawab pertanyaan dengan benar, menandakan adanya peningkatan pemahaman mengenai personal hygiene, pencegahan infeksi saluran kemih, dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Kegiatan ini menegaskan pentingnya deteksi dini kesehatan dasar dan edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja putri sebagai upaya preventif untuk menurunkan risiko masalah kesehatan di masa mendatang.
PENCEGAHAN MEROKOK REMAJA MELALUI EDUKASI PARTISIPATIF DI MTS BABUL MUJAHIDIN, DESA BAYAN, LOMBOK UTARA: Pencegahan Merokok Remaja Melalui Edukasi Partisipatif Di Mts Babul Mujahidin, Desa Bayan, Lombok Utara As Siddiq M Irzal, Mufti; Arfah, Muh.; Arya Soma D.M, Raden; Azmiatik, Hasnaida; Mustika Andini, Ariesty; Alamsyahbani; Dasba Kurniawan, Jessica; Cyntia Permata, Aldes; Yulinda Arvenita, Adella; Desmawati, Dewi; Rosilawati; Tristianingrum, Indah; Afdhal Mario Engkana, Andi; Najla Ashila, Dhia; Fauziah Fachrani, Diah
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2378

Abstract

Smoking among adolescents is a serious health concern, particularly in rural areas. This program aimed to evaluate the effectiveness of participatory education in improving students’ knowledge about the dangers of smoking. A one-group pre-post test design was used involving 30 students at MTs Babul Mujahidin, North Lombok. The intervention included lectures, educational videos, and simple experiments. Paired T-Test analysis showed a significant increase in knowledge after the intervention (p < 0.001). These findings indicate that participatory educational approaches are effective in enhancing adolescents’ understanding of smoking hazards. Similar programs should be regularly implemented in community-based schools to prevent early smoking behavior. Abstrak Merokok pada remaja merupakan masalah kesehatan serius karena berdampak besar terhadap perkembangan fisik, fungsi paru, dan perilaku sosial mereka. Pengabdian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas edukasi partisipatif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang bahaya merokok. Desain penelitian pre–post test one group digunakan pada 30 siswa MTs Babul Mujahidin, Lombok Utara. Intervensi dilaksanakan melalui ceramah interaktif, pemutaran video edukatif yang menampilkan dampak nyata rokok terhadap paru-paru dan kehidupan sosial remaja, serta praktikum sederhana berupa simulasi pembakaran rokok untuk mengamati residu tar dan asap. Analisis menggunakan uji Paired T-Test menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan setelah intervensi (p < 0,001). Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif partisipatif efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja terhadap bahaya merokok. Program serupa disarankan diterapkan secara berkala di sekolah berbasis komunitas untuk memperkuat pencegahan perilaku merokok sejak dini.
PELATIHAN SOFT SKILL DAN MANAJEMEN EMOSI PADA BALAI KEKARANTINAAN KESEHATAN KELAS I PEKANBARU: Pelatihan Soft Skill Dan Manajemen Emosi Pada Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Pekanbaru Kiswanto, Kiswanto; Ismainar, Hetty; Wahyuni, Anggi; Sari, Desi Kartika
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2381

Abstract

Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Pekanbaru plays a strategic role as the front line in controlling health risks at national points of entry. Its personnel face high workloads, intensive interactions with the public and cross-sector stakeholders, and major responsibilities in maintaining public health security. These conditions demand strong soft skills and emotional regulation to support professionalism and workplace resilience. Purpose: This activity aimed to enhance the human resource capacity of the Health Quarantine Office through Soft Skill and Emotional Management Training. Methods: The training was conducted using a blended learning design, combining classical and online learning modes to accommodate participants’ work schedules. The instructional approach included interactive lectures, simulations, group discussions, and case studies relevant to the participants’ work context. The program’s effectiveness was evaluated through pre-test and post-test assessments to measure changes in participants’ understanding before and after training. Results: The findings indicated a 31% average improvement in participants’ understanding, demonstrating the program’s effectiveness in strengthening competencies such as communication, teamwork, and emotional management. Conclusion: The Soft Skill and Emotional Management Training using a blended learning model effectively enhanced employees’ competencies at the Health Quarantine Office of Pekanbaru. It is recommended that such programs be institutionalized as part of ongoing human resource development strategies in the public health sector. Abstrak Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Pekanbaru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mencegah dan mengendalikan risiko kesehatan di pintu masuk wilayah negara. Petugas di instansi ini menghadapi tekanan kerja tinggi, interaksi intensif dengan masyarakat dan lintas sektor, serta tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan kesehatan publik. Kondisi tersebut menuntut kemampuan soft skill dan pengelolaan emosi yang baik agar mampu bekerja secara profesional, adaptif, dan tangguh menghadapi dinamika kerja. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan soft skill dan manajemen emosi bagi pegawai Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Pekanbaru. Metode pelatihan menggunakan desain blended learning, yang memadukan pembelajaran klasikal (tatap muka) dan daring untuk menyesuaikan dengan jadwal kerja peserta. Pendekatan pembelajaran meliputi ceramah interaktif, simulasi, diskusi kelompok, serta studi kasus kontekstual sesuai dengan tugas dan tanggung jawab peserta. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman, serta kuesioner umpan balik peserta terhadap pelaksanaan pelatihan. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar rata-rata 31% setelah intervensi, dengan peningkatan signifikan pada aspek komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen emosi. Selain itu, sebagian besar peserta memberikan penilaian baik dan sangat baik (≥94%) terhadap relevansi materi, kualitas instruktur, dan manfaat praktis kegiatan. Pelatihan ini terbukti efektif dalam memperkuat kompetensi pegawai, meningkatkan kesadaran emosional, dan memperbaiki dinamika kerja tim. Hasil ini menegaskan pentingnya pelatihan soft  skill dan manajemen emosi sebagai bagian dari strategi  berkelanjutan dalam pengembangan sumber daya manusia di sektor kesehatan publik. Pelatihan soft skill perlu diintegrasikan secara rutin dan didukung oleh sistem pembinaan, monitoring pasca-pelatihan, serta pembelajaran mandiri berbasis teknologi. Selain itu, organisasi perlu menyediakan dukungan kesejahteraan psikologis untuk memperkuat ketangguhan dan kesehatan emosional pegawai.
PENDIDIKAN KESEHATAN: “BIJAK BERMAIN GADGET, ANAK SEHAT DAN CERIA” PADA ANAK USIA SEKOLAH KELURAHAN LABUH BARU TIMUR: Pendidikan Kesehatan: “Bijak Bermain Gadget, Anak Sehat Dan Ceria” Pada Anak Usia Sekolah Kelurahan Labuh Baru Timur Oktavia, Fina; Sahara, Rahmadhani; Khairiya, Putri Adila; Savitri, Dhea Annisa; Yurni, Repika Tri
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2405

Abstract

Technological advancements in the globalization era have caused a rapid increase in gadget usage, including among school-age children. Although gadgets offer benefits in supporting the learning process, excessive usage can negatively impact children's physical, psychosocial, and social health, such as sleep disturbances, decreased concentration, and addiction. This activity aims to increase the knowledge and awareness of school-age children regarding wise gadget usage so they can maintain physical and mental health, as well as form positive behaviors in daily life. The activity was conducted through health education and discussion with PowerPoint and leaflet media. Participants were school-age children (6–12 years old) at MDA Mesjid AlHidayah RW 06 Labuh Baru Timur. The activity was complemented with educational games. The result showed a significant increase in participants' knowledge scores, with an average pre-test score of 7.65 and an average post-test score reaching 9.83. It is expected that similar educational activities can be conducted sustainably by involving the roles of parents and teachers to monitor children's gadget usage, as well as creating an environment that supports the healthy and cheerful growth and development of children. Abstrak Kemajuan teknologi di era globalisasi menyebabkan penggunaan gadget meningkat pesat, termasuk di kalangan anak usia sekolah. Meskipun gadget memiliki manfaat dalam mendukung proses belajar, penggunaan berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, psikososial, dan sosial anak, seperti gangguan tidur, penurunan konsentrasi, serta kecanduan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak usia sekolah tentang penggunaan gadget secara bijak agar mereka dapat menjaga kesehatan fisik, mental, serta membentuk perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan dilakukan melalui pendidikan kesehatan menggunakan metode ceramah dan diskusi dengan media PowerPoint dan leaflet dan disertai kegiatan permainan edukatif. Peserta adalah anak usia sekolah (6–12 tahun) di MDA Mesjid Al-Hidayah RW 06 Labuh Baru Timur. Kegiatan dilengkapi dengan permainan edukatif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor pengetahuan peserta, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 7,65 dan rata-rata skor post-test mencapai 9,83. Diharapkan kegiatan edukasi serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan peran orang tua dan guru untuk memantau penggunaan gadget anak, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak yang sehat dan ceria.
The Penyuluhan Pola Makan DASH bagi Lansia sebagai Strategi Pengendalian Hipertensi di Banda Aceh: Penyuluhan Pola Makan DASH bagi Lansia sebagai Strategi Pengendalian Hipertensi di Banda Aceh Gressia, Rosa Galica Gita; Hadi, Nurul; Juanita2, Juanita
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2420

Abstract

Hypertension is common among older adults and can lead to serious complications such as stroke and heart failure. One non-pharmacological effort to control it is the application of the Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet. This activity aimed to improve older adults’ knowledge and skills in implementing the DASH eating pattern. The method used was educational demonstration with a participatory approach, conducted in Banda Raya Subdistrict, Banda Aceh City. The activities included lectures, demonstrations, and redemonstrations using videos, posters, leaflets, and examples of DASH menus. The results showed increased understanding and interest among participants in adopting healthy eating patterns. The demonstration method proved effective in raising older adults’ awareness of blood pressure control. Evaluation results showed that 75% of participants were able to recall the main principles of the DASH diet, 80% could mention three recommended foods and three foods that should be reduced, and 85% were interested in applying it at home. Participants also demonstrated changes in attitude, with a stronger commitment to reducing the consumption of fatty foods. This activity ran smoothly, was interactive, and succeeded in improving older adults’ knowledge, attitudes, and interest in implementing healthy eating patterns as a non-pharmacological effort to control blood pressure. Thus, the demonstration method proved effective in increasing older adults’ awareness of the importance of hypertension control through the DASH diet. Abstrak Hipertensi sering dialami lansia dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti stroke dan gagal jantung. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk mengendalikannya dengan penerapan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam menerapkan pola makan DASH. Metode yang digunakan adalah demonstrasi edukatif dengan pendekatan partisipatif, dilaksanakan Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Kegiatan meliputi ceramah, demonstrasi, dan redemonstrasi dengan media video, poster, leaflet, serta contoh menu DASH. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman dan minat peserta dalam menerapkan pola makan sehat. Metode demonstrasi terbukti efektif meningkatkan kesadaran lansia terhadap pengendalian tekanan darah. Hasil evaluasi  menunjukkan  bahwa  75%  peserta  mampu mengingat prinsip utama diet DASH, 80% dapat menyebutkan tiga makanan yang dianjurkan dan tiga yang perlu dikurangi, serta 85% berminat menerapkannya di rumah. Peserta juga menunjukkan perubahan sikap dengan lebih berkomitmen dalam mengurangi konsumsi makanan berlemak. Kegiatan ini berjalan lancar, interaktif, dan berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, serta minat lansia dalam menerapkan pola makan sehat sebagai upaya nonfarmakologis pengendalian tekanan darah. Dengan demikian, metode demonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran lansia terhadap pentingnya pengendalian hipertensi melalui pola makan DASH.
Implementasi Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Peduli Bencana Banjir Bandang dalam Meningkatkan Keselamatan Masyarakat di Kecamatan Nanggalo Kota Padang Sumatera Barat: Implementasi Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Peduli Bencana Banjir Bandang dalam Meningkatkan Keselamatan Masyarakat di Kecamatan Nanggalo Kota Padang Sumatera Barat Ilma, Khaira; Herlina, Yeni; Zeswita, Armein Lusi; Murdina Asih, Wenny; Syafrina, Merri; Jasmi, Jasmi; A.T, Prihartono; Yuhendri, Danhas
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 5 No. 3 (2025): JPKK Edisi Desember 2025
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol5.Iss3.2438

Abstract

Occupational safety and health (K3) is not only applied in industrial environments, but also plays an important role in disaster risk reduction efforts in the community. The low public understanding of K3 principles in dealing with disaster situations can increase the risk of accidents, injuries, and health problems. This community service activity aims to implement the K3 Disaster Care Program in improving public safety through an educational and participatory approach. Nanggalo District, Padang City is one of the areas affected by the current flash floods in West Sumatra. Flash floods can threaten public safety. The low public understanding and preparedness of the principles of occupational safety and health (K3) in disaster situations has the potential to increase the risk of injuries, accidents, and health problems. This community service activity aims to implement the K3 Disaster Care Program as an effort to improve the safety and preparedness of the Nanggalo District community in dealing with post-disaster conditions. The implementation method includes educational counseling on K3 and disasters, training in the use of personal protective equipment (PPE), safe disclosure simulations, and assistance in implementing safe behavior based on K3. The target of the activity is the general public, environmental cadres, and local volunteers. The results of the activity show an increase in public knowledge and awareness regarding the importance of implementing K3 principles in disaster mitigation and management, as well as increasing community skills in carrying out safe rescue and socialization actions. The implementation of the K3 Disaster Care Program is expected to be able to reduce the risk of accidents and health impacts due to disasters, as well as support the realization of a resilient and disaster-prepared community in Nanggalo District, Padang City. Abstrak Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak hanya diterapkan di lingkungan industri, tetapi juga memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana di masyarakat. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap prinsip K3 dalam menghadapi situasi bencana dapat meningkatkan risiko kecelakaan, cedera, dan gangguan kesehatan.  Kecamatan Nanggalo, Kota Padang merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang yang terjadi saat ini di Sumatera Barat. Banjir Bandang dapat mengancam keselamatan masyarakat. Rendahnya pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap prinsip K3 dalam situasi bencana berpotensi meningkatkan risiko cedera, kecelakaan, dan gangguan kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan Program K3 Peduli Bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kesiapsiagaan masyarakat Kecamatan Nanggalo dalam menghadapi kondisi pasca bencana. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan edukatif mengenai K3 dan kebencanaan, pelatihan penggunaan alat pelindung diri (APD), simulasi evakuasi aman, serta pendampingan penerapan perilaku aman berbasis K3. Sasaran kegiatan adalah masyarakat umum, kader lingkungan, dan relawan setempat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penerapan prinsip K3 dalam mitigasi dan penanggulangan bencana, serta peningkatan keterampilan masyarakat dalam melakukan tindakan keselamatan dan evakuasi yang aman . Implementasi Program K3 Peduli Bencana ini diharapkan mampu menurunkan risiko kecelakaan dan dampak kesehatan akibat bencana, serta mendukung terwujudnya masyarakat yang tangguh dan siaga bencana di Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.
Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar: Promosi Kesehatan Berbasis Budaya Lokal di Wilayah Kerja Puskesmas Pattopakang, Kabupaten Takalar Acha, Muhammad Arsyad; Syafar, Muhammad
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2508

Abstract

This community service program aimed to improve community knowledge and participation in environmental health through culturally based health promotion. The activity was conducted on November 1, 2025, in the working area of Pattoapakang Primary Health Center, Takalar Regency, as part of the 43rd Anniversary of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Participants included health cadres, housewives, community leaders, and youth, totaling 50 individuals. The methods included culturally based health education, clean and healthy living behavior (PHBS) practice simulations, health cadre training, and evaluation using a pre-test and post-test design. The cultural approach integrated local Bugis-Makassar values—sipakatau (mutual respect), sipakalebbi (mutual honor), and sipakainge (mutual reminding)—into health promotion messages. The evaluation results showed an increase in participants’ knowledge, with the average score improving from 62 in the pre-test to 85 in the post-test. Community participation in environmental hygiene practices and collective activities also improved. The culturally based approach enhanced message acceptance as it aligned with local social values. This program demonstrates that culturally based health promotion is an effective community empowerment strategy and has the potential to support sustainable health behavior change. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan melalui pendekatan promosi kesehatan berbasis budaya lokal. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 November 2025 di wilayah kerja Puskesmas Pattoapakang, Kabupaten Takalar, dalam rangka Dies Natalis ke-43 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Sasaran kegiatan meliputi kader kesehatan, ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, dan pemuda dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan berbasis kearifan lokal, simulasi praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pelatihan kader kesehatan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendekatan kultural dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal masyarakat Bugis-Makassar, yaitu sipakatau (saling menghargai), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) sebagai media penyampaian pesan kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan dan PHBS, ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai peserta dari 62 pada pre-test menjadi 85 pada post-test. Selain itu, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan lingkungan dan praktik gotong royong. Pendekatan berbasis budaya terbukti meningkatkan penerimaan pesan kesehatan karena selaras dengan sistem nilai dan kebiasaan sosial masyarakat. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam promosi kesehatan merupakan strategi efektif dalam pemberdayaan masyarakat serta berpotensi menciptakan perubahan perilaku kesehatan yang lebih berkelanjutan. Model promosi kesehatan berbasis budaya lokal dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik sosial budaya yang serupa. 
Edukasi Pengolahan Makanan pada Ibu Melalui Budaya Lokal untuk Menunjang Tumbuh Kembang Anak di Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep: Edukasi Pengolahan Makanan pada Ibu Melalui Budaya Lokal untuk Menunjang Tumbuh Kembang Anak di Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep Acha, Muhammad Arsyad; Nasir, Sudirman
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2510

Abstract

Child growth and development are strongly influenced by adequate nutritional intake and proper food processing practices at the household level.  In many communities, local cultural practices play an important role in shaping dietary habits and child-feeding behaviors.  This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge and skills in healthy food processing through a local culture–based educational approach to support child growth and development in Balocci District, Pangkep Regency.  The activity was conducted using health education methods integrated with local cultural values, including interactive counseling, demonstrations of nutritious food processing using local ingredients, and participatory discussions.  A total of 30 mothers with children participated in the program.  Evaluation was carried out using pre-test and post-test questionnaires consisting of ten questions related to child nutrition, healthy food processing, and the utilization of local food resources.  The results showed a significant improvement in participants’ knowledge after the intervention.  The proportion of participants with good knowledge increased from 20% before the activity to 73% after the education session, while the proportion of low knowledge decreased from 40% to 4%.  These findings indicate that culturally based health promotion is effective in enhancing mothers’ understanding and practices related to child nutrition and food preparation.  In conclusion, integrating local cultural values into health education can serve as an effective strategy to strengthen community participation and improve maternal capacity in supporting optimal child growth and development.  This approach is recommended for wider implementation in community health promotion programs. Abstrak Masalah tumbuh kembang anak masih menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan praktik pemberian makanan keluarga. Faktor budaya lokal memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pengolahan dan konsumsi makanan pada anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam pengolahan makanan berbasis budaya lokal guna menunjang tumbuh kembang anak di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.Metode yang digunakan adalah edukasi partisipatif melalui penyuluhan, demonstrasi pengolahan makanan lokal bergizi, serta pendampingan praktik memasak sehat. Sasaran kegiatan adalah ibu yang memiliki anak usia balita. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta.Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemilihan bahan pangan lokal, teknik pengolahan makanan sehat, serta pemahaman gizi anak. Pendekatan berbasis budaya lokal terbukti meningkatkan partisipasi dan penerimaan masyarakat terhadap pesan kesehatan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam promosi kesehatan efektif dalam meningkatkan praktik pengolahan makanan keluarga dan berpotensi mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak.
Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah, Pencegahan Stunting, dan Pengendalian Hipertensi di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng: Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah, Pencegahan Stunting, dan Pengendalian Hipertensi di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng Acha, Muhammad Arsyad; Riskiyani, Shanti; Rahma.Ss, Alya Muftia; Rismayana, Rismayana; Fauzi Rachman, Langkar Diyang
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2538

Abstract

This community service program aimed to empower the community in waste management, stunting prevention, and hypertension control through asset-based community development (ABCD) and human-centered design (HCD) approaches. The activity was conducted from January 5–19, 2026, in Cabenge Village, Soppeng Regency, involving 15–28 participants per session, including village officials, health cadres, community leaders, midwives, and residents. Methods included focus group discussions, asset mapping (six asset categories), root cause analysis using fishbone diagrams, and collaborative action plan development. Results indicated that the root cause of waste management problems was the absence of a community-based system with adequate facilities. Stunting was caused by low family knowledge and practices in child nutrition and care. Hypertension was caused by unhealthy lifestyles and low awareness of early detection. Asset mapping identified local potentials, including health cadres, posyandu, puskesmas, moringa and papaya plants, sphygmomanometers, and mutual cooperation traditions. The program concludes that integrating ABCD and HCD approaches effectively identifies root causes and maps local assets for sustainable health interventions. Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah, pencegahan stunting, dan pengendalian hipertensi melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Human-Centered Design (HCD). Kegiatan dilaksanakan 5–19 Januari 2026 di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng, dengan 15–28 peserta setiap pertemuan (aparat kelurahan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, bidan, warga). Metode: FGD, pemetaan aset (6 kategori), analisis fishbone, dan penyusunan rencana aksi. Hasil: akar masalah sampah adalah belum adanya sistem berbasis masyarakat; stunting disebabkan rendahnya pengetahuan gizi keluarga; hipertensi akibat gaya hidup tidak sehat. Pemetaan aset mengidentifikasi kader, posyandu, puskesmas, kelor, pepaya, tensimeter, dan gotong royong. Kegiatan menyimpulkan integrasi ABCD dan HCD efektif mengidentifikasi akar masalah dan memetakan aset lokal untuk intervensi berkelanjutan.
Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian Hipertensi, Diabetes Melitus, dan Tuberkulosis di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng: Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian Hipertensi, Diabetes Melitus, dan Tuberkulosis di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng Acha, Muhammad Arsyad; Ibnu, Indra Fajarwati; Azisa, Pilsa Nurul; Fillah, Zifora Mujahidah; Lifa, Azizah Mei
Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas Vol. 6 No. 1 (2026): JPKK Edisi April 2026
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/jpkk.Vol6.Iss1.2539

Abstract

This community service program aimed to empower the community in the control of hypertension, diabetes mellitus, and tuberculosis through asset-based community development (ABCD) and human-centered design (HCD) approaches. The activity was conducted from January 5 to 19, 2026, in Pajalesang Village, Soppeng Regency, as part of Field Learning Practice (PBL) II of the Faculty of Public Health, Hasanuddin University. Participants included village officials, health cadres, community leaders, and residents, with 10–15 attendees per session. Methods included focus group discussions (FGD) for problem identification, asset mapping assistance (six asset categories), root cause analysis (RCA) workshops using fishbone diagrams, and collaborative action plan development. Results showed that the root cause of hypertension was a high-salt and high-fat diet reinforced by the socio-cultural environment and low early detection awareness. The root cause of diabetes mellitus was lack of physical activity and unbalanced dietary patterns. The root cause of tuberculosis was low health literacy about TB, non-adherence to treatment, and household environmental conditions that supported transmission. Asset mapping identified local potentials, including health cadres, posyandu, puskesmas, mutual cooperation values and siri'na pacce, schools, mosques, and medical devices (sphygmomanometers and blood glucose testing devices). The program concludes that integrating ABCD and HCD approaches effectively identifies root causes and maps local assets as a basis for sustainable health interventions.   Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam pengendalian hipertensi, diabetes melitus, dan tuberkulosis melalui pendekatan asset-based community development (ABCD) dan human-centered design (HCD). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 5–19 Januari 2026 di Kelurahan Pajalesang, Kabupaten Soppeng, dalam rangka Praktik Belajar Lapangan (PBL) II Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Sasaran kegiatan meliputi aparat kelurahan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga dengan jumlah peserta 10–15 orang setiap pertemuan. Metode pelaksanaan meliputi Focus Group Discussion (FGD) identifikasi masalah, pendampingan pemetaan aset (enam kategori aset), workshop analisis akar masalah menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dengan diagram fishbone, serta penyusunan rencana aksi bersama masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa akar masalah hipertensi adalah pola makan tinggi garam dan lemak yang diperkuat budaya lingkungan sosial serta rendahnya deteksi dini. Akar masalah diabetes melitus adalah kurangnya aktivitas fisik dan pola konsumsi tidak seimbang. Akar masalah tuberkulosis adalah rendahnya literasi kesehatan tentang TB, ketidakpatuhan pengobatan, serta kondisi lingkungan rumah yang mendukung penularan. Pemetaan aset mengidentifikasi potensi lokal meliputi kader kesehatan, posyandu, puskesmas, nilai gotong royong dan siri'na pacce, sekolah, masjid, serta alat kesehatan (tensimeter, alat cek gula darah). Kegiatan ini menyimpulkan bahwa integrasi pendekatan ABCD dan HCD efektif dalam mengidentifikasi akar masalah dan memetakan aset lokal sebagai dasar intervensi kesehatan yang berkelanjutan.

Page 11 of 11 | Total Record : 110