cover
Contact Name
Prasena Arisyanto
Contact Email
prasenaarisyanto@upgris.ac.id
Phone
+6285227258778
Journal Mail Official
wawasanpendidikanupgris@gmail.com
Editorial Address
Gedung Utama Lt.2, Jalan Sidodadi Timur no. 24 - Dr. Cipto, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Wawasan Pendidikan
ISSN : 28075714     EISSN : 28074025     DOI : https://doi.org/10.26877/wp.v1i1.9208
Core Subject : Education,
Jurnal Wawasan Pendidikan diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan. Terbit dua kali setahun pada bulan Februari dan Agustus dengan fokus jurnal pada pembelajaran dan pendidikan di jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan inklusi. Artikel yang dimuat merupakan hasil penelitian yang ditulis dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris.
Articles 377 Documents
KETIMPANGAN KOMPOSISI GENDER DALAM PARTISIPASI AKADEMIK SISWA KELAS V SD Suprikhatin, Okta; Kusumawati, Dian; Primadoni, Ade Bagus
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.25824

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan partisipasi akademik antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di kelas V SD Muhammadiyah Limpung yang memiliki komposisi gender tidak seimbang, serta menganalisis persepsi guru dan strategi pedagogis yang digunakan untuk menciptakan pemerataan keterlibatan siswa. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi berulang, wawancara mendalam, dan dokumentasi nilai semester yang memberikan gambaran objektif mengenai capaian akademik siswa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa siswa perempuan menunjukkan dominasi verbal dan inisiatif yang lebih tinggi dalam diskusi, presentasi, dan kerja kelompok, sementara siswa laki-laki lebih pasif meskipun memiliki kemampuan akademik yang setara. Ketimpangan ini dipengaruhi oleh tekanan psikososial sebagai kelompok minoritas, rasa kurang percaya diri, dan norma kelas yang terbentuk berdasarkan gaya interaksi mayoritas perempuan. Guru memandang kondisi tersebut sebagai tantangan yang perlu ditangani, sehingga menerapkan strategi responsif gender seperti pengelompokan heterogen, pembagian peran bergilir, penguatan positif, aturan pemerataan kesempatan berbicara, serta aktivitas pra-diskusi untuk mendukung kesiapan siswa laki-laki. Berbagai intervensi tersebut terbukti mampu meningkatkan keberanian dan partisipasi verbal siswa laki-laki, sekaligus menciptakan proses pembelajaran yang lebih inklusif dan seimbang. Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan partisipasi bukanlah akibat perbedaan kemampuan, melainkan fenomena sosial-pedagogis yang dapat diatasi melalui desain pembelajaran yang sensitif gender dan konsisten.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PJBL) UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPAS PESERTA DIDIK KELAS III SD NEGERI TEGALARUM 2 Kegshi, Niken Condro; Saputra, Henry Januar; Reffiane, Fine
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.23808

Abstract

“Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PJBL) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPAS Peserta Didik Kelas III SD Negeri Tegalarum 2”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang. Universitas PGRI Semarang. 2025.Latar Belakang yang mendorong penelitian ini adalah rendahnya kreativitas dan hasil belajar siswa. Hal tersebut disebabkan kurangnya pembelajaran dalam mengoptimalkan kreativitas dan kemampuan siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada mata Pelajaran IPAS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran PjBl.Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Tegalarum 2 Tahun Pelajaran 2024/2025. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Pada siklus I, rata-rata hasil observasi aktivitas peserta didik mencapai 69,00%, dan meningkat menjadi 96,6% pada siklus II. Peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 27,6%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berhasil meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPAS siswa.Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat disampaikan adalah supaya model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif guru mengajar.Kata Kunci: Model Pembelajaran, Pembelajaran Berbasis Proyek, Kreativitas, IPAS
PENANAMAN SIKAP SOSIAL DAN EMOSIONAL MELALUI PEMBELAJARAN IPAS PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Arista, Eka; Mahananingtyas, Elsinora; Ritiauw, Leonid
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.26719

Abstract

Penanaman sikap sosial dan emosional merupakan bagian penting dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar, khususnya dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik. Pembelajaran IPAS tidak hanya menekankan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan sikap sosial dan emosional siswa melalui interaksi, kerja kelompok, dan pembiasaan nilai-nilai positif di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penanaman sikap sosial dan emosional peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Ambon melalui pembelajaran IPAS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penndekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket (kuesioner) sebagai alat bantu untuk memperoleh gambaran sikap sosial dan emosional siswa, serta didukung dengan analisis deskriptif terhadap hasil respon peserta didik. Data dianalisis secara kualitatif dengan menafsirkan kecenderungan sikap yang muncul selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum sikap sosial dan emosional peserta didik berada pada kategori baik. Pada aspek sikap sosial, siswa menunjukkan perilaku sopan santun, kerja sama, tanggung jawab dalam kelompok, sikap terbuka terhadap perbedaan, serta partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sementara itu, pada aspek sikap emosional, siswa cukup mampu mengenali dan mengelola emosi, menunjukkan motivasi belajar, serta memiliki kepedulian terhadap perasaan teman. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan sikap sosial dan emosional apabila didukung oleh keteladanan guru, pembiasaan, serta kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA ASPEK PEMAHAMAN KONSEP MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN CACAH DI SD NEGERI LEMPONGSARI Afiyani, Ayu Nur; Setianingsih, Eka Sari; Sulianto, Joko
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.24795

Abstract

Latar belakang dari penelitian ini yaitu rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa dalam mata pelajaran matematika pada materi operasi hitung bilangan cacah. Permasalahan ini disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran konvensional yang kurang melibatkan siswa secara aktif. sehingga menimbulkan kejenuhan dan berdampak pada hasil belajar yang belum memenuhi kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep siswa kelas experiment dengan kelas kontrol dengan mengimplementasikan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) keranjang materi operasi hitung bilangan cacah pada SD Negeri Lempongsari. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain quasi ekperimen. Sampel penelitian dari dua kelas III SD Negeri Lempongsari yaitu kelas III B sebagai kelas ekperimen yang menggunakan model Problem Based Learaning (PBL) dan kelas III A sebagai kelas kontrol yang menggunakan konvensional. Pengumpulan data meliputi tes pemahaman konsep, observasi aktivitas siswa, dan dokumentasi. Analisis data dilakukakn dengan uji T untuk mengetahui perbedaan hasil post-test antara kelas ekperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Kelas yang mendapatkan model Problem Based Learning(PBL) menunjukan peningkatan pemahaman konsep yang lebih tinggi dibandingkan kelas yang menggunakan konvensional. Nilai tersebut terlihat pada kelas yang konvensional memperoleh nilai dengan rata-rata 73,8 sedangkan kelas yang menggunakan model pembelajarn memiliki nilai rata-rata 81,1. Hasil perhitungan diperoleh nilai sig.(2-tailed) 0,007 yang berarti lebih kecil dari 0,05, Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif secara signifikan dalam meningkatkan pemahaman konsep materi operasi hitung bilangan cacah pada mata pelajaran matematika.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CORE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN IPAS DI KELAS IV SEKOLAH DASAR Irfani, Khairani Fina; Nurwahidin, Muhammad; Izzatika, Amrina; Erni, Erni
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.26212

Abstract

Kemampuan berpikir kreatif peserta didik sekolah dasar masih tergolong rendah akibat pembelajaran IPAS yang cenderung berpusat pada pendidik dan minim aktivitas reflektif. Kondisi tersebut menuntut penerapan model pembelajaran inovatif yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas IV pada pembelajaran IPAS. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu melalui desain non-equivalent control group design. Sampel penelitian berjumlah 56 peserta didik yang dibagi ke dalam kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui tes pretest dan posttest, observasi, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dan uji effect size. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen dengan nilai signifikansi 0,0002 (p 0,05) dan nilai Cohen’s d sebesar 0,673 yang termasuk kategori sedang. Peningkatan terjadi pada seluruh indikator berpikir kreatif, terutama fluency dan flexibility, yang dipengaruhi oleh tahapan connecting dan organizing dalam model CORE. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran CORE mampu mendorong pengembangan ide, refleksi konsep, serta penerapan pengetahuan secara kontekstual. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa model CORE dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran IPAS untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kreativitas di sekolah dasar.
PENGEMBANGAN BUKU DIGITAL MELALUI DEEPLEARNING DI SEKOLAH DASAR Saputra, Henry Januar; Listyarini, Ikha; Basyar, Mohammad Aniq Khairul; Kiswoyo, Kiswoyo
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.23973

Abstract

Pembelajaran di sekolah dasar mengutamakan pembelajaran yang tidak boleh membebani siswa sehingga materi yang disampaikan oleh guru dapat di kemas dengan menyenangkan.Hal tersebut sesuai dengan pendekatan Deep Learning bertujuan memberikan pengalaman belajar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selain itu pendekatan deep learning pendekatan pembelajaran yang tekanan pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan pembelajaran yang lebih menyenangkan maka untuk membantu siswa dalam pembelajaran deep learning perlu adanya buku digital yang akan memudahkan siswa dalam memahami materi serta dengan senang mempelajarinya karena buku digital ini didesain yang menarik sehingga tidak membosankan di lengkapi dengan fitur-fitur yang bervariatif, tampilan yang lebih elegan dan menarik merupakan keunggulan tersendiri sebagai media pembelajaran.Hasil pengembangan buku digital melalui deep learning di sekolah dasar. Penelitian pengembangan Research and Development (RD) menggunakan metode pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate) dengan langkah pengumpulan data (studi pendahuluan), perencanaan, pengembangan produk, validasi ahli, pengujian produk, dan implementasi produk yang diujicobakan ke siswa dengan melihat nilai pretest dan posttest. Penelitian ini menghasilkan produk media pembelajaran buku digital untuk membantu dalam proses pembelajaran di kelas. Hasil validasi oleh Ahli materi pembelajaran yang memvalidasi media Buku digital adalah Kepala sekolah SD N Tambakrejo 01 yaitu Bapak Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd yang mendapatkan nilai 93,4 % dengan katagori sangat baik dan Bapak Choirul Huda, M.Pd mendapatkan nilai 96,7 % dengan katagori sangat baik.Untuk validasi ahli media oleh Kepala sekolah SD N Tambakrejo 01 yaitu Bapak Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd. yang memberikan nilai 95% dengan katagori sangat baik dan Bapak Singgih Adhi, S.Sn.,M.Pd memberikan nilai 98,4% dengan katagori sangat baik.Dari hasil implementasi media ke siswa di dapat nilai pretest dan posttest hasil yang telah di dapat siswa sejumlah 24 orang dengan KKMnilai 80 di dapat hasil 22 siswa lulus KKM sebesar 91,7% dan 2 siswa belum mencapai KKM sebesar 8,3%, maka bagi siswa yang belum mencapai KKM diberikan pendampingan berupa pengayaan dan remidial agar tercapai KKM. Nilai signifikan (2-tailed) 0,000 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara variabel awal dengan variabel akhir. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna terhadap perbedaan perlakuan yang diberikan pada masing-masing variabel. Analisis uji T Paired Sample T-test diperoleh thitung sebesar 9,326 sedangkan ttabel (N-1 = 23) 1,714 dan taraf signifikan 5%. karena thitung ttabel maka H0 ditolak Ha diterima.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI MEDIA VIRTUAL MATHEMATICS EDU Hafiz, Derana Arisda Safira; Kurniawati, Rissa Prima; Kusumawati, Naniek
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.23840

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan media Virtual Mathematics Edu. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus di kelas V SDN Glonggong 04 dengan subjek 15 siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen penelitian meliputi modul ajar, lembar observasi, soal pre-test dan post-test, serta dokumentasi kegiatan. Proses pelaksanaan mengacu pada tahapan PTK yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Learning Cycle 5E berbantuan media Virtual Mathematics Edu efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai rata-rata dari pra siklus sebesar 57,33 menjadi 68,67 pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 87,33 pada siklus II. Selain itu, aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dengan demikian, model pembelajaran ini dapat menjadi alternatif yang tepat dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
IMPLEMENTASI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI IPAS ASPEK SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KERJASAMA KELAS IV Risda, Syifaur; Kusumawati, Dian; Primadoni, Ade Bagus
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.25823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja sama siswa kelas IV SD Muhammadiyah Kranggan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada materi IPAS aspek sosial. Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan rendahnya partisipasi dan keterlibatan siswa dalam kerja kelompok, di mana aktivitas belajar masih didominasi oleh siswa berkemampuan tinggi sementara siswa lain cenderung pasif. Kondisi tersebut berdampak pada kurang optimalnya interaksi sosial dan keterampilan kolaboratif siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas siswa, wawancara dengan guru dan peserta didik, serta dokumentasi hasil kerja kelompok. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan kerja sama siswa, dengan skor rata-rata meningkat dari 44,93 pada siklus I menjadi 83,93 pada siklus II. Peningkatan terlihat pada aspek partisipasi aktif, komunikasi, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kekompakan kelompok. Selain itu, penerapan model STAD menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mendorong siswa untuk saling menghargai serta membantu teman. Guru juga mengalami peningkatan kemampuan dalam mengelola pembelajaran kolaboratif dan memfasilitasi interaksi positif antar siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan STAD tidak hanya berdampak pada peningkatan sosial siswa, tetapi juga memperkuat profesionalitas guru dalam menerapkan model pembelajaran inovatif di sekolah dasar. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti efektif dalam membangun interaksi sosial positif, kerjasama, mengembangkan karakter kolaboratif, dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah dasar.
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI NUMERASI SISWA KELAS II PADA SOAL CERITA PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN SD NEGERI CISEUREUH 02 Ambiyah, Siti Nurul; Cahyadi, Fajar; Huda, Choirul
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.23812

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan literasi numerasi siswa kelas II pada penyelesaian soal cerita penjumlahan dan pengurangan siswa SD Negeri Ciseureuh 02. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu guru kelas II dan siswa kelas II. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah tes siswa, wawancara guru, wawancara siswa, dan dokumentasi. Keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 13 siswa yang diteliti, kemampuan literasi numerasi siswa kelas II SD Negeri Ciseureuh 02 dalam kategori sedang. Kemampuan siswa pada setiap indikator literasi numerasi meliputi; indikator konteks memperoleh persentase sebesar 67%, indikator konten memperoleh persentase sebesar 67%, sedangkan pada indikator proses kognitif memperoleh persentase sebesar 38%. Berdasarkan hasil penelitian, adapun saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi siswa, sebaiknya guru sering melatih siswa untuk mengerjakan soal yang mengarah pada kemampuan literasi numerasi seperti memberikan soal yang berbasis masalah, melatih siswa untuk membaca soal dengan cermat sebelum memulai menghitung dan meningkatkan level soal. Penggunaan media pembelajaran juga dianjurkan untuk membantu siswa dalam memahami soal berbasis masalah.
FOSTERING INTRINSIC MOTIVATION IN EFL LEARNERS THROUGH DUOLINGO’S GAMIFICATION: A QUALITATIVE STUDY Amalia, Lena; Seinsiani, Izzati Gemi
Jurnal Wawasan Pendidikan Vol 6, No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jwp.v6i1.26797

Abstract

Motivation plays a crucial role in English as a Foreign Language (EFL) learning, particularly in contexts with limited exposure to English outside the classroom. Although gamified language learning applications such as Duolingo are widely used, previous studies have largely emphasized extrinsic motivation and quantitative approaches. This study aimed to explore how Duolingo’s gamification fosters intrinsic motivation in EFL learners through the lens of Self-Determination Theory, focusing on autonomy, competence, and relatedness. A descriptive qualitative design was employed involving ten seventh-semester EFL university students from Universitas Negeri Semarang who were active Duolingo users. Data were collected through semi-structured interviews and an SDT-based questionnaire and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that Duolingo’s gamification supports intrinsic motivation by creating an enjoyable, flexible, and engaging learning environment. Most participants reported using Duolingo primarily for personal enjoyment rather than external rewards, suggesting a shift toward intrinsic motivation. Autonomy and competence emerged as the most influential factors, while relatedness showed varied effects among learners. Overall, this study provides qualitative evidence that supporting learners’ psychological needs through gamification can enhance intrinsic motivation in EFL learning contexts.Keyword: Duolingo; EFL learners; intrinsic motivation; Self-Determination Theory