cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2025)" : 50 Documents clear
KONSELING SEBAGAI STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN WORK-LIFE BALANCE PADA IBU RUMAH TANGGA BERSTATUS PEKERJA DI PT. X Istighfaroh, Lailatul; Sholichah, Ima Fitri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7681

Abstract

Everyone has the right to attain a good quality of life, one of which is a balance between work and personal life. For working housewives, balancing professional duties and household responsibilities is very challenging. This study aims to examine the extent to which counseling plays a role in improving work-life balance and helping working housewives manage stress during periods of increased workload. The study uses a mixed-methods approach with two research subjects at PT. X. Quantitative data were obtained through pre-tests and post-tests using the Fisher (2002) work-life balance scale adapted by Gunawan et al. (2019), while qualitative data were collected through Behavioral Event Interview (BEI) interviews. The gain score analysis results showed that subject N obtained a score of 0.2 (low category) and subject S obtained a score of 0.6 (moderate category), Indicates that counseling provides an increased understanding and ability to balance roles, although not yet significantly high. Counseling qualitatively helps both subjects in enhancing self-awareness, managing time, reducing guilt, and obtaining emotional and social support. The three-session counseling process with the 5F stages has been proven effective in promoting cognitive and emotional changes. Consequently, counseling is an important psychological intervention to help working housewives achieve a balance between the demands of their jobs and their desire to live at home. ABSTRAK Setiap orang berhak memperoleh kualitas hidup yang baik, salah satunya adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Untuk ibu rumah tangga yang bekerja, menyeimbangkan tugas profesional dan rumah tangga sangat sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana konseling berperan dalam meningkatkan work-life balance serta membantu ibu rumah tangga pekerja dalam mengelola stres selama periode peningkatan beban kerja. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan dua subjek penelitian di PT. X. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test dan post-test menggunakan skala work-life balance Fisher (2002) yang telah diadaptasi oleh Gunawan et al. (2019), sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara Behavioral Event Interview (BEI). Hasil analisis gain score menunjukkan bahwa subjek N memperoleh nilai 0,2 (kategori rendah) dan subjek S memperoleh nilai 0,6 (kategori sedang), menandakan bahwa konseling memberikan peningkatan pemahaman dan kemampuan menyeimbangkan peran, meskipun belum signifikan tinggi. Konseling secara kualitatif membantu kedua subjek dalam meningkatkan kesadaran diri, mengelola waktu, mengurangi rasa bersalah, dan mendapatkan dukungan emosional dan sosial. Proses konseling tiga sesi dengan tahapan 5F terbukti efektif dalam mendorong perubahan kognitif dan emosional. Konsekuensinya, konseling merupakan intervensi psikologis yang penting untuk membantu ibu rumah tangga pekerja mencapai keseimbangan antara tuntutan pekerjaan mereka dan keinginan mereka untuk hidup di rumah.
DI BALIK SENYAP KONFLIK: RESILIENSI PSIKOLOGIS PRAJURIT TNI DI PAPUA Febrio Xavier, Selyo; Pasca Rini, Rr. Amanda; Suryanto, Suryanto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7709

Abstract

Military assignments in conflict areas such as Papua expose Indonesian Army (TNI) soldiers to physical threats and psychological pressures that can impair psychological functioning and mission readiness. Resilience, as the ability to endure and adapt in extreme conditions, is crucial in this context. This study aims to analyze the dynamics of resilience among TNI soldiers in Papua, focusing on risk factors, protective mechanisms, and psychological processes that support their endurance and performance in the field. A qualitative approach with in-depth interviews and thematic analysis was used to explore the soldiers' subjective experiences in managing stress, using coping strategies, and deriving meaning from their deployment experiences in conflict areas. The findings indicate that resilience develops through the interaction of emotional regulation, flexible coping strategies, strong social support, and spirituality as a key psychological resource. The deployment also contributes to the positive transformation of soldiers, including enhanced emotional maturity and prosocial orientation. This study provides practical insights for the TNI in designing training programs and psychological support based on spirituality and social support to enhance the mental readiness of soldiers in conflict areas. ABSTRAK Penugasan militer di daerah konflik seperti Papua menempatkan prajurit TNI pada ancaman fisik dan tekanan psikologis yang dapat mengganggu fungsi psikologis dan kesiapan tugas. Resiliensi, sebagai kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam kondisi ekstrem, sangat penting dalam konteks ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika resiliensi prajurit TNI di Papua, dengan fokus pada faktor risiko, mekanisme protektif, dan proses psikologis yang mendukung ketahanan dan kinerja mereka di lapangan. Pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan analisis tematik digunakan untuk menggali pengalaman subjektif prajurit dalam mengelola stres, menggunakan strategi coping, dan membangun makna dari pengalaman penugasan di daerah konflik.Temuan menunjukkan bahwa resiliensi berkembang melalui interaksi antara regulasi emosi, penggunaan strategi coping yang fleksibel, dukungan sosial yang kuat, dan spiritualitas sebagai sumber daya psikologis utama. Penugasan ini juga berkontribusi pada transformasi positif prajurit, termasuk peningkatan kedewasaan emosional dan orientasi prososial. Penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi TNI dalam merancang program pelatihan dan dukungan psikologis berbasis spiritualitas dan dukungan sosial untuk meningkatkan kesiapan mental prajurit di daerah konflik.
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PERILAKU AGRESI VERBAL PADA REMAJA YANG MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL DI KOTA BONTANG Fakhriya Kemal, Anurra; Wahyuni, Ridha
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7718

Abstract

Verbal aggression among adolescents on social media is a growing concern, as social media serves as a key platform for interaction and self-expression. One factor influencing this behavior is emotional intelligence. However, empirical evidence on the effect of emotional intelligence on verbal aggression among adolescent social media users in non-metropolitan areas, such as Bontang City, remains limited. This study aims to examine the effect of emotional intelligence on verbal aggression among adolescents in Bontang. A sample of 100 adolescents was selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale and analyzed using simple linear regression (SPSS 24.0). The results indicate that emotional intelligence significantly influences verbal aggression (p = 0.001; R² = 0.106). These findings highlight the importance of emotional intelligence in reducing verbal aggression. Therefore, enhancing emotional intelligence through character education and digital literacy can be an effective strategy to reduce verbal aggression among adolescents, particularly in developing regions.   ABSTRAK Perilaku agresi verbal pada remaja di media sosial menjadi perhatian utama, karena media sosial kini berperan sebagai platform interaksi dan ekspresi diri. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku ini adalah kecerdasan emosional. Namun, masih sedikit bukti empiris mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap agresi verbal pada remaja pengguna media sosial di daerah non-metropolitan seperti Kota Bontang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional terhadap perilaku agresi verbal pada remaja di Kota Bontang. Sampel terdiri dari 100 remaja yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana (SPSS 24.0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap perilaku agresi verbal (p = 0.001; R² = 0.106). Temuan ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam mengurangi perilaku agresi verbal. Oleh karena itu, peningkatan kecerdasan emosional melalui pendidikan karakter dan literasi digital dapat menjadi solusi efektif untuk menekan perilaku agresi verbal pada remaja, terutama di wilayah berkembang.
SELF-ESTEEM DAN KAITANNYA DENGAN PERILAKU PROKRASTINASI AKADEMIK: STUDI KORELASIONAL PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI WILAYAH JAKARTA Nur Shadrina, Dhaifin; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7720

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-esteem and academic procrastination behavior among final-year students in the Jakarta area. This research is important due to Jakarta's characteristics as the capital city, where students are faced with high academic pressures and external factors such as intense competition and distractions from social media. This study uses a correlational quantitative approach with non-probability sampling and purposive sampling techniques to select 409 participants who are final-year students in Jakarta. Data were collected online by distributing questionnaires through social media platforms such as Instagram, LINE, WhatsApp, Twitter, and TikTok, considering the convenience and easy access offered by this method. The collected data were then analyzed using Spearman's rho test, due to the non-normal distribution of the data. The results of the study indicate a significant negative relationship between self-esteem and academic procrastination (r = -0.454, p < 0.001), meaning that the higher the self-esteem, the lower the tendency of students to engage in academic procrastination. These findings highlight the importance of developing positive self-esteem in efforts to reduce academic procrastination, with significant implications for higher education policies and psychological interventions at universities to support students in improving their academic performance. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan perilaku prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir di wilayah Jakarta. Penelitian ini penting dilakukan mengingat Jakarta sebagai ibu kota negara dengan karakteristik sosial dan akademik yang kompleks, dimana mahasiswa dihadapkan dengan tekanan akademik yang tinggi dan faktor-faktor eksternal seperti kompetisi yang ketat dan distraksi media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan non-probability sampling dan teknik purposive sampling untuk memilih 409 partisipan yang merupakan mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menyebarkan kuesioner melalui platform media sosial seperti Instagram, LINE, WhatsApp, Twitter, dan TikTok, mengingat kenyamanan dan kemudahan akses yang ditawarkan oleh metode ini. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman’s rho, mengingat distribusi data yang tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan prokrastinasi akademik (r = -0.454, p < 0.001), yang berarti semakin tinggi self-esteem, semakin rendah kecenderungan mahasiswa untuk melakukan prokrastinasi akademik. Temuan ini mengindikasikan pentingnya pengembangan self-esteem yang positif dalam upaya mengurangi prokrastinasi akademik, dengan implikasi penting bagi kebijakan pendidikan tinggi dan intervensi psikologis di perguruan tinggi untuk mendukung mahasiswa dalam meningkatkan kualitas akademik mereka.
EMPATI DIGITAL SEBAGAI FONDASI ETIKA BERMEDIA DI ERA INKLUSIVITAS Ho, Stevanie; Angelina, Ellen; Fateema, Sabrina Ayesha; Matondang, Mikhayla Illyna; Stivanus, Celvin; Beng, Jap Tji
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7723

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of bullying that has shifted into the digital realm presents serious ethical challenges. Unlimited internet access allows the spread of hate speech and aggressive behavior without sufficient moral control. Various reports show that cyberbullying cases in Indonesia continue to rise, reflecting the weakening of digital empathy among social media users. This study aims to examine the role of digital empathy as a preventive strategy against unethical behavior in online spaces. The method used is a systematic review of scientific literature published between 2020 and 2025, with searches conducted through Google Scholar, Scopus, PubMed, and ProQuest using the keywords “digital empathy,” “media ethics,” “cyberbullying,” “hate speech,” and “digital literacy.” The analysis results indicate that digital empathy significantly contributes to reducing online bullying behavior, fostering tolerance, and strengthening media ethics. Empathy-based digital literacy has also been proven to enhance social responsibility and reduce the spread of misinformation. This study recommends integrating empathy-based digital character education into curricula, establishing cross-sector collaboration for human-centered digital literacy programs, and fostering collective awareness to create a safe, ethical, and inclusive digital environment. ABSTRAK Fenomena perundungan yang kini bergeser ke ranah digital menimbulkan persoalan etis yang serius. Akses internet yang tak terbatas memungkinkan penyebaran ujaran kebencian dan perilaku agresif tanpa kontrol moral yang memadai. Berdasarkan berbagai laporan, angka cyberbullying di Indonesia terus meningkat, memperlihatkan lemahnya empati digital di kalangan pengguna media sosial. Penelitian ini bertujuan menelaah peran empati digital sebagai strategi preventif terhadap perilaku tidak etis di ruang maya. Metode yang digunakan adalah systematic review terhadap literatur ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025, dengan penelusuran melalui Google Scholar, Scopus, PubMed, dan ProQuest menggunakan kata kunci “empati digital,” “etika bermedia,” “cyberbullying,” “ujaran kebencian,” dan “literasi digital.” Hasil analisis menunjukkan bahwa empati digital berkontribusi signifikan dalam menekan perilaku perundungan daring, meningkatkan sikap toleran, dan memperkuat etika bermedia. Literasi digital berbasis empati juga terbukti mampu menumbuhkan tanggung jawab sosial dan mengurangi penyebaran disinformasi. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pendidikan karakter digital berbasis empati dalam kurikulum, kolaborasi lintas sektor untuk program literasi digital yang humanis, serta pembentukan kesadaran kolektif guna menciptakan ruang digital yang aman, etis, dan inklusif.
IMPLIKASI PSIKOLOGI DIGITAL TERHADAP PERKEMBANGAN DEWASA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Melati, Inka Sukma; Puspitasari, Devi; Lestari, Bawinda Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7727

Abstract

The adult development phase is one of the most dynamic and complex periods of life. Adults are required to achieve emotional independence, career stability, social responsibility, and a balance between personal and professional life. However, the fast-paced digital reality presents new challenges for adults during this phase. Engagement in the digital world can offer self-development opportunities through access to information, online learning, and social connectivity. This study examines the implementation of digital psychology on adult development from an educational perspective using the Systematic Literature Review (SLR) method with PRISMA methodology. The study analyzes 6 articles published between 2015 and 2025. The results indicate that the psychological aspects of adults can be influenced by digital use. In adulthood, activities in the digital space include several activities such as using social media, using smartphones and laptops, accessing artificial intelligence on various platforms, and accessing internet search engines. This is in line with the visual representation of the concept of neuroplasticity, which reveals that the use of artificial intelligence has negative effects on spatial cognition and navigation skills as well as disrupts social cognition in adults. In general, it indicates that the psychological aspects of adults can be influenced by digital space usage in the context of education. ABSTRAK Fase perkembangan dewasa merupakan salah satu periode kehidupan yang paling dinamis dan kompleks. Individu dewasa dituntut untuk mencapai kemandirian emosional, stabilitas karier, tanggung jawab sosial, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Namun, realitas digital yang serba cepat menghadirkan tantangan baru bagi individu dewasa pada fase ini. Keterlibatan dalam dunia digital dapat memberikan peluang pengembangan diri melalui akses informasi, pembelajaran daring, dan konektivitas sosial. Penelitian ini mengkaji implementasi psikologi digital terhadap perkembangan dewasa dalam perspektif dunia pendidikan dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan metode PRISMA. Analisis penelitian ini melalui 6 artikel     yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek psikologis individu dewasa dapat dipengaruhi oleh penggunaan digital. Pada fase dewasa, aktivitas di ruang digital meliputi beberapa aktivitas seperti penggunaan sosial media, penggunaan smartphones dan laptop, akses kecerdasan buatan di berbagai platform serta akses pada mesin pencarian internet. Hal ini sejalan dengan representasi visual dari konsep neuroplastisitas, yang mengungkapkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan memiliki dampak yang buruk pada kognitif spasial dan kemampuan navigasi serta mengganggu kognitif sosial pada dewasa. Secara umum, menunjukkan bahwa aspek psikologis pada dewasa dapat dipengaruhi oleh penggunaan di ruang digital pada aspek pendidikan.
DARI KEBOSANAN JADI KETERGANTUNGAN? STUDI PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Christabella, Wynona; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7731

Abstract

This study aims to examine the relationship between phubbing behavior and boredom proneness among adolescents. Phubbing refers to ignoring social interactions due to excessive focus on smartphone use, while boredom proneness indicates a tendency to feel bored easily. The participants in this study were 419 adolescents aged 14-17 years who actively used social media for at least two hours per day. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using the Generic Scale of Phubbing (GSP) and the Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Data analysis was conducted using Spearman’s rho non-parametric correlation due to the non-normal distribution of one variable. The results revealed a significant positive correlation between phubbing behavior and boredom proneness (r = 0.444, p < 0.05), meaning that the higher the level of boredom proneness, the more likely adolescents are to engage in phubbing behavior. These findings highlight the importance of preventive measures, such as digital literacy education and boredom management training, to help adolescents use technology in a more balanced and adaptive way. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku phubbing dan kecenderungan kebosanan pada remaja. Phubbing adalah perilaku mengabaikan interaksi sosial secara langsung karena terlalu fokus pada penggunaan smartphone, sementara kebosanan (boredom proneness) merujuk pada kecenderungan individu untuk merasa bosan dengan cepat. Partisipan penelitian ini adalah 419 remaja berusia 14-17 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Generic Scale of Phubbing (GSP) dan Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik Spearman’s rho, karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku phubbing dan kebosanan (r = 0.444, p < 0.05), yang berarti semakin tinggi kecenderungan kebosanan, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku phubbing pada remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan, seperti edukasi literasi digital dan pelatihan manajemen kebosanan, untuk membantu remaja menggunakan teknologi secara lebih seimbang dan adaptif.
PERANAN MODAL PSIKOLOGIS TERHADAP SUBJECTIVE WELL BEING PADA AFFILIATE DEWASA AWAL WILAYAH JAKARTA Choirut Nisa, Riri; Yunithree Suparman, Meiske
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7737

Abstract

The increasing role of digital marketing in Indonesia has led to the emergence of the affiliate marketing profession, which is widely embraced by young adults familiar with digital technology. However, unstable and performance-based working conditions can impact their subjective well-being. This study aims to explore the influence of psychological capital on subjective well-being among young adult affiliates in Jakarta. A quantitative approach with purposive sampling was used, involving 283 affiliates aged 18 to 25 years. The instruments used were the PCQ-12 to assess psychological capital, and SWLS and PANAS to measure subjective well-being. The results showed a significant negative relationship between psychological capital and subjective well-being. Most participants were categorized as moderate in both variables. These findings suggest that external factors, such as income instability and work pressure, have a greater impact on affiliates' subjective well-being than psychological capital. ABSTRAK Peningkatan peran pemasaran digital di Indonesia telah memunculkan profesi affiliate marketing, yang banyak diminati oleh dewasa awal yang familiar dengan teknologi digital. Namun, kondisi kerja yang tidak stabil dan berbasis kinerja dapat memengaruhi kesejahteraan subjektif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh modal psikologis terhadap kesejahteraan subjektif pada affiliator dewasa awal di Jakarta. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan purposive sampling, melibatkan 283 affiliator berusia 18 hingga 25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah PCQ-12 untuk menilai modal psikologis, serta SWLS dan PANAS untuk mengukur kesejahteraan subjektif. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kesejahteraan subjektif. Sebagian besar peserta berada pada kategori sedang untuk kedua variabel tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor eksternal, seperti ketidakstabilan pendapatan dan tekanan pekerjaan, lebih berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif affiliator dibandingkan modal psikologis.
STRATEGI EDUKATIF DALAM MENINGKATKAN KESADARAN PENGUATAN IDENTITAS BUDAYA MELALUI PELESTARIAN BAHASA SUNDA DI ERA DIGITAL Duanty, Kinta; Nur Shadrina, Dhaifin; Choirut Nisa, Riri; Zahra Ningtyas, Dinda; Fatimah Zahra, Shalika; Tji Beng, Jap
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7760

Abstract

The Sundanese language, as part of Indonesia's cultural identity, has experienced a decline in the number of speakers, especially among the younger generation due to the influence of globalization, the dominance of Indonesian and foreign languages, and changes in communication patterns in the digital age. This study aims to examine the preservation strategies for the Sundanese language through digital technology and to identify the obstacles encountered in the process. This study uses a scoping review method based on the PRISMA framework. The researcher collected six scholarly articles through Google Scholar using the PCC (population, concept, context) criteria, then conducted selection, data extraction, and analysis based on the relevance of the topic of Sundanese language preservation in the digital era. The results show the use of digital technology through social media (Instagram, TikTok, YouTube), learning sites such as learningsundanese.com, voice-based dictionary applications, and augmented reality media. Social media is used to disseminate creative content such as Rebo Nyunda and Sundanese language parodies, while websites and applications provide interactive learning. However, obstacles such as limited ideas, technical issues, low public interest, and the perception that digitization may diminish cultural value are encountered. Several ways to preserve the Sundanese language in the digital age include: (a) developing digital content that is engaging and culturally appropriate for Sundanese, (b) developing user-friendly media for independent use, and (c) using media that makes language learning more enjoyable. Collaboration between the government, educators, and digital creators, along with the promotion of digital literacy and cultural pride among the younger generation, has proven effective in supporting the preservation of regional languages. ABSTRAK Bahasa Sunda sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia mengalami penurunan jumlah penutur, terutama di kalangan generasi muda akibat pengaruh globalisasi, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta perubahan pola komunikasi di era digital. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi pelestarian Bahasa Sunda melalui teknologi digital dan mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan metode scoping review berdasarkan kerangka PRISMA. Peneliti mengumpulkan enam literatur ilmiah melalui Google Scholar menggunakan kriteria PCC (population, concept, context), kemudian melakukan seleksi, ekstraksi data, dan analisis berdasarkan kesesuaian topik pelestarian Bahasa Sunda di era digital. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan teknologi digital melalui media sosial (Instagram, TikTok, YouTube), situs pembelajaran seperti learningsundanese.com, aplikasi kamus berbasis suara, serta media augmented reality. Media sosial digunakan untuk menyebarkan konten kreatif seperti Rebo Nyunda dan parodi Bahasa Sunda, sementara situs dan aplikasi menyediakan pembelajaran interaktif. Namun, terdapat hambatan seperti keterbatasan ide, masalah teknis, rendahnya minat masyarakat, dan anggapan bahwa digitalisasi dapat mengurangi nilai budaya. Beberapa cara pelestarian bahasa Sunda di era digital antara lain: (a) pengembangan konten digital yang menarik dan sesuai budaya Sunda, (b) pengembangan media yang mudah digunakan secara mandiri, dan (c) penggunaan media yang menyenangkan dalam pembelajaran bahasa. Kolaborasi antara pemerintah, pendidik, dan kreator digital, serta peningkatan literasi digital dan kebanggaan budaya di kalangan generasi muda terbukti efektif mendukung pelestarian bahasa daerah.
GAYA KETERIKATAN PADA MASA DEWASA AWAL: ANALISIS PERBEDAAN BERDASARKAN USIA Kamila, Nadia Nashwa; Tumanggor, Raja Oloan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7863

Abstract

ABSTRACT This study confirms a significant relationship between self-control and online game addiction with aggressive behavior among vocational high school students in Nogosari District, showing that higher self-control reduces aggression, while online game addiction increases it. This study focuses on determining whether there are differences in attachment-related anxiety and attachment-related avoidance levels based on the 18–25 age group. A total of 455 participants were selected using judgment sampling techniques and completed the Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) instrument online. The data were analyzed in several stages, namely descriptive tests, Kolmogorov–Smirnov normality tests, and principal analysis using the Kruskal–Wallis test because the data were not normally distributed. The results showed significant differences in both attachment dimensions based on age. The mean rank pattern illustrates that certain age groups have higher levels of anxiety or avoidance tendencies compared to other age groups, indicating that attachment styles in early adulthood are dynamic and influenced by developmental experiences at each age. These findings conclude that age plays a role in differentiating how individuals build close relationships, and provide an important basis for the development of counseling services and mentoring programs tailored to the needs of each age group in early adulthood. ABSTRAK Masa dewasa awal ditandai oleh meningkatnya tuntutan hidup dan kebutuhan membangun hubungan dekat yang stabil, sehingga gaya keterikatan menjadi penting dalam membentuk kedekatan emosional. Namun, meskipun pengalaman dewasa dapat memengaruhi pola keterikatan, penelitian yang membahas variasinya pada kelompok usia berbeda dalam rentang dewasa awal masih terbatas. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat attachment-related anxiety dan attachment-related avoidance berdasarkan kelompok usia 18–25 tahun. Sebanyak 455 partisipan dipilih menggunakan teknik judgment sampling dan mengisi instrumen The Experiences in Close Relationships–Revised (ECR-R) secara daring. Data dianalisis melalui beberapa tahap, yaitu uji deskriptif, uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, dan analisis utama menggunakan uji Kruskal–Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kedua dimensi keterikatan berdasarkan usia. Pola mean rank menggambarkan bahwa kelompok usia tertentu memiliki tingkat kecemasan atau kecenderungan menghindar yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yang menunjukkan bahwa gaya keterikatan pada dewasa awal bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh pengalaman perkembangan pada tiap usia. Temuan ini menyimpulkan bahwa usia berperan dalam membedakan cara individu membangun hubungan dekat, serta memberikan dasar penting bagi pengembangan layanan konseling dan program pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap kelompok usia di masa dewasa awal.