cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
SELF- DISCLOSURE EMERGING ADULTHOOD PADA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM: PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN KONTROL DIRI: Psikologi Helga Agustin; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11723

Abstract

Second Instagram accounts provide a relatively private space for individuals in emerging adulthood to disclose personal feelings, experiences, and information. However, such openness may increase the risk of excessive disclosure when it is not accompanied by adequate self-regulation. This study aimed to examine the contributions of interpersonal trust and self-control in predicting self-disclosure among users of second Instagram accounts in Karawang. The study employed a quantitative correlational-predictive design. A total of 349 participants aged 18–25 years were recruited through snowball sampling. Data were collected using the Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, and Brief Self-Control Scale and analyzed using multiple linear regression. The findings showed that interpersonal trust and self-control simultaneously contributed significantly to predicting self-disclosure. Partially, interpersonal trust positively contributed to self-disclosure, whereas self-control contributed negatively and demonstrated a greater contribution than interpersonal trust. These findings indicate that trust in others may encourage personal openness, whereas self-control may help individuals regulate the amount and depth of personal information they disclose. This study highlights the importance of digital literacy, privacy awareness, and self-control development in promoting more thoughtful and responsible self-disclosure practices on social media. ABSTRAK Penggunaan akun kedua Instagram memberikan ruang yang lebih privat bagi individu pada fase emerging adulthood untuk mengungkapkan perasaan, pengalaman, dan informasi pribadi. Namun, keterbukaan tersebut dapat meningkatkan risiko pengungkapan informasi secara berlebihan apabila tidak disertai kemampuan regulasi diri yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi interpersonal trust dan kontrol diri dalam memprediksi self-disclosure pada pengguna akun kedua Instagram di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional-prediktif. Sebanyak 349 partisipan berusia 18–25 tahun direkrut melalui teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, dan Brief Self-Control Scale, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust dan kontrol diri secara simultan berkontribusi signifikan dalam memprediksi self-disclosure. Secara parsial, interpersonal trust berkontribusi positif terhadap self-disclosure, sedangkan kontrol diri berkontribusi negatif dan menunjukkan kontribusi yang lebih besar dibandingkan interpersonal trust. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap orang lain dapat meningkatkan keterbukaan individu, sedangkan kontrol diri membantu membatasi informasi pribadi yang diungkapkan. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi digital, kesadaran privasi, dan penguatan kontrol diri untuk mendukung perilaku pengungkapan diri yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab di media sosial.
KALAP BELANJA ONLINE : KONTROL DIRI, HARGA DIRI, DAN PEMBELIAN IMPULSIF DEWASA AWAL: Psikologi Syifa Rahma Zhafirah; Lania Murhasih; Holy Greata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11752

Abstract

The growing use of e-commerce and the convenience of online shopping may increase the tendency toward impulsive buying among young adults. Although the relationships among self-control, self-esteem, and impulsive buying have been widely examined, studies that simultaneously investigate these two psychological factors among young adults in Karawang Regency remain limited. This study aimed to analyze the roles of self-control and self-esteem in predicting online impulsive buying among young adults in Karawang Regency. A quantitative approach with a correlational-predictive design was employed. The participants were 385 young adults aged 20-40 years who actively engaged in online shopping and were selected using convenience sampling. The research instruments consisted of the Impulsive Buying Tendency Scale, Brief Self-Control Scale, and Rosenberg Self-Esteem Scale. The data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that self-control and self-esteem simultaneously and significantly predicted online impulsive buying. Partially, both self-control and self-esteem were significant negative predictors of online impulsive buying, with self-esteem showing a more dominant contribution than self-control. Thus, higher levels of self-control and self-esteem were associated with a lower tendency toward online impulsive buying among young adults. These findings strengthen the understanding of the relationship between internal psychological factors and digital consumption behavior and may inform the development of financial education and psychological programs that support wiser purchasing decisions. ABSTRAK Meningkatnya penggunaan e-commerce dan kemudahan berbelanja secara daring berpotensi meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif pada dewasa awal. Meskipun hubungan antara kontrol diri, harga diri, dan pembelian impulsif telah banyak diteliti, kajian yang menguji kedua faktor psikologis tersebut secara simultan pada dewasa awal di Kabupaten Karawang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kontrol diri dan harga diri dalam memprediksi pembelian impulsif online pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional-prediktif. Partisipan penelitian berjumlah 385 dewasa awal berusia 20-40 tahun yang aktif berbelanja online dan dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian terdiri atas Impulsive Buying Tendency Scale, Brief Self-Control Scale, dan Rosenberg Self-Esteem Scale. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri dan harga diri secara simultan memprediksi pembelian impulsif online secara signifikan. Secara parsial, kontrol diri dan harga diri merupakan prediktor negatif yang signifikan terhadap pembelian impulsif online. Harga diri menunjukkan kontribusi yang lebih dominan dibandingkan kontrol diri. Dengan demikian, semakin tinggi kontrol diri dan harga diri, semakin rendah kecenderungan pembelian impulsif online pada dewasa awal. Temuan ini memperkuat pemahaman mengenai keterkaitan faktor psikologis internal dengan perilaku konsumsi digital serta dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan edukasi keuangan dan program psikologis yang mendukung pengambilan keputusan pembelian secara lebih bijak.
PENGARUH MINDFULNESS, SELF-EFFICACY, DAN SOCIAL SUPPORT TERHADAP ACADEMIC BURNOUT PADA MAHASISWA Chandra Arya Arifin; Ozora Zoe Ivenna; Audrey Orlantha Alveria; Damarrasyid Nugroho; Rostiana Rostiana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12071

Abstract

ABSTRACT Academic burnout is a state of emotional, mental, and physical exhaustion experienced by students as a result of prolonged academic demands. This condition can lead to a decline in students’ motivation to learn, academic performance, and psychological well-being. This study aims to examine the effects of mindfulness, self-efficacy, and social support on academic burnout among students in the Jakarta area. This study employed a quantitative approach with a correlational design and involved 111 currently enrolled students. Data were collected using the Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS), the Mindful Attention Awareness Scale (MAAS), the General Self-Efficacy Scale (GSES), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). All research instruments demonstrated good reliability. The data were analyzed using multiple linear regression. The results of the study indicate that mindfulness and self-efficacy influence the reduction of academic burnout among college students, whereas social support did not show a significant effect. Furthermore, all three variables simultaneously influence academic burnout. These findings suggest that increasing mindfulness and self-efficacy can serve as strategies to reduce academic burnout among college students. ABSTRAK Academic burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang dialami mahasiswa akibat tuntutan akademik yang berlangsung secara berkepanjangan. Kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya motivasi belajar, performa akademik, serta kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh mindfulness, self-efficacy, dan social support terhadap academic burnout pada mahasiswa di wilayah Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 111 mahasiswa aktif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS), Mindful Attention Awareness Scale (MAAS), General Self-Efficacy Scale (GSES), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Seluruh instrumen penelitian menunjukkan reliabilitas yang baik. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindfulness dan self-efficacy berpengaruh terhadap penurunan academic burnout pada mahasiswa, sedangkan social support tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Selain itu, ketiga variabel secara simultan berpengaruh terhadap academic burnout. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan mindfulness dan self-efficacy dapat menjadi strategi untuk menurunkan academic burnout pada mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DENGAN JOB EMBEDDEDNESS PADA KARYAWAN DI PT. X. Erika Feby Pratiwi; Meita Santi Budiani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12238

Abstract

ABSTRACT The rapid expansion of Indonesia's manufacturing industry has increased the importance of maintaining a workforce that remains strongly connected to the organization. Within this context, employees' perceptions of organizational support are considered a key factor influencing their willingness to stay committed and contribute to organizational performance. This study examined the association between perceived organizational support and job embeddedness among employees of PT. X. The research involved the entire population of 102 employees using a saturated sampling technique. Data were collected through a questionnaire and analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with SPSS version 30.0.0 for Windows. The findings revealed a significant positive relationship between perceived organizational support and job embeddedness, with a correlation coefficient of r = .659 and a significance level of p < .05. These results indicate that employees who perceive greater organizational support tend to exhibit stronger attachment to both their jobs and the organization. The findings further suggest that organizational practices promoting fairness, a supportive work environment, and opportunities for training and professional development contribute to strengthening employees' job embeddedness. Therefore, reinforcing organizational support may serve as an effective strategy for retaining committed employees while enhancing organizational sustainability and performance within the manufacturing sector. ABSTRAK Perkembangan industri manufaktur yang semakin kompetitif menempatkan keterlekatan karyawan sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produktivitas organisasi. Dalam konteks tersebut, persepsi karyawan terhadap dukungan yang diberikan organisasi dipandang berpotensi membentuk keinginan untuk tetap bertahan dan berkontribusi di tempat kerja. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan antara perceived organizational support dan job embeddedness pada karyawan PT. X. Seluruh populasi yang berjumlah 102 karyawan dilibatkan sebagai responden melalui teknik sampel jenuh. Data diperoleh menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson Product Moment menggunakan SPSS versi 30.0.0 for Windows. Hasil analisis memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perceived organizational support dan job embeddedness dengan koefisien korelasi sebesar r = .659 dan nilai signifikansi p < 0,05. Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan dukungan yang dirasakan karyawan dari organisasi diikuti oleh semakin kuatnya keterlekatan mereka terhadap pekerjaan dan organisasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa praktik organisasi yang memberikan perlakuan adil, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, serta menyediakan kesempatan pelatihan dan pengembangan berkontribusi dalam memperkuat keterlekatan kerja. Dengan demikian, penguatan dukungan organisasi dapat dipertimbangkan sebagai strategi untuk mempertahankan sumber daya manusia yang berkomitmen sekaligus mendukung keberlangsungan kinerja organisasi di sektor manufaktur.
PERAN GRIT SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN SELF-EFFICACY DAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA PENERIMA KIP-K Erita Azizatuzakiyah; Ira Hidayati; Iin Yulianti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12258

Abstract

Academic achievement is one of the key indicators of student success, influenced by various factors, one of which is self-efficacy. This study aims to examine the role of grit as a mediator in the relationship between self-efficacy and academic achievement among students receiving KIP-K scholarships. This study employed a quantitative approach involving 344 KIP-K scholarship recipients who remained active students through 2025 at Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung as the research sample. Data analysis was conducted using multiple linear regression and mediation analysis with the assistance of SPSS and PROCESS Hayes. The results showed that grit significantly mediated the relationship between self-efficacy and academic achievement, with an indirect effect value of 0.0179 (BootLLCI = 0.0278; BootULCI = 0.5013). Furthermore, both self-efficacy and grit were found to have a significant relationship with academic achievement (p < 0.05), both simultaneously and partially. Thus, it can be concluded that self-efficacy has a positive effect on grit and academic achievement, while grit has a positive effect on academic achievement and simultaneously serves as a mediator in the relationship between self-efficacy and students' academic achievement. ABSTRAK Prestasi akademik merupakan salah satu indikator keberhasilan mahasiswa yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran grit sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy dan prestasi akademik pada mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 344 mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah yang masih aktif hingga tahun 2025 di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda serta analisis mediasi dengan bantuan program SPSS dan PROCESS Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit secara signifikan memediasi hubungan antara self-efficacy dan prestasi akademik, dengan nilai indirect effect sebesar 0,0179 (BootLLCI = 0,0278; BootULCI = 0,5013). Selain itu, ditemukan bahwa self-efficacy dan grit memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik (p < 0,05), baik secara simultan maupun parsial. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif terhadap grit dan prestasi akademik, sementara grit berpengaruh positif terhadap prestasi akademik sekaligus berperan sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy dan prestasi akademik mahasiswa.
WORK-LIFE BALANCE PADA APARATUR SIPIL NEGARA MILENIAL DI UNIT BIROKRASI DIGITAL: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI Marfino Hamzah; Fx Wahyu Widiantoro
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12332

Abstract

ABSTRACT Digital transformation in government bureaucracy has changed the working patterns of Aparatur Sipil Negara (ASN), particularly among the millennial generation, who play a strategic role in managing public services and digital systems. These changes have created challenges, including high workloads, cross-team assignments, increasing demands for technological adaptation, and role conflicts that may affect work-life balance. This study aimed to explore the work-life balance experiences of millennial ASN at the Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI), Ministry of Trade of the Republic of Indonesia. The study employed a qualitative approach with a phenomenological design. Four millennial ASN serving as functional team members were purposively selected as participants, consisting of two married and two unmarried employees. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and observations and were analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis. The findings revealed that workload distribution was the most dominant factor influencing work-life balance, particularly due to cross-team assignments, limited human resources, scheduling conflicts, and unequal task allocation. In addition, organizational culture, organizational support, the utilization of digital technology, and role conflict also shaped employees' experiences of balancing work and personal life. These findings indicate that the work-life balance of millennial ASN in a digital bureaucracy is influenced more by work governance and organizational support than by individuals' time-management abilities. ABSTRAK Transformasi digital dalam birokrasi pemerintah telah mengubah pola kerja Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya generasi milenial yang berperan dalam pengelolaan layanan dan sistem digital. Perubahan ini memunculkan tantangan berupa beban kerja yang tinggi, penugasan lintas tim, tuntutan adaptasi teknologi, dan konflik peran yang berpotensi memengaruhi work-life balance. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman work-life balance ASN milenial di Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) Kementerian Perdagangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Empat ASN milenial level anggota tim pejabat fungsional dipilih secara purposive, terdiri atas dua informan yang telah menikah dan dua informan yang belum menikah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-structured dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi beban kerja merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi work-life balance, terutama akibat penugasan lintas tim, keterbatasan sumber daya manusia, konflik jadwal, dan ketimpangan alokasi tugas. Budaya kerja, dukungan organisasi, pemanfaatan teknologi digital, dan konflik peran turut membentuk pengalaman keseimbangan kehidupan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa work-life balance ASN milenial di unit birokrasi digital lebih ditentukan oleh tata kelola kerja dan dukungan organisasi dibandingkan kemampuan individu dalam mengatur waktu.
HUBUNGAN KETERGANTUNGAN GENERATIVE AI DENGAN KESULITAN REGULASI EMOSI PADA MAHASISWA PENGGUNA GENERATIVE AI Fabio Febriano; Athya Amalia; Fazle Mawla Kaykaus; Nabila Keisha Prananto; Dinda Maryam; Sandi Kartasasmita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12348

Abstract

ABSTRACT The increasing use of generative artificial intelligence (AI) in academic activities has transformed the way university students access information, complete assignments, and cope with various learning demands. While these technological advances offer substantial benefits, they have also raised concerns regarding the potential development of AI dependency and its association with students' ability to regulate emotions. This study examined the relationship between generative AI dependency and difficulties in emotion regulation using a quantitative correlational design involving 237 university students who had experience using generative AI, selected through purposive sampling. Data were collected using the Generative AI Dependency Scale and the Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS), both of which demonstrated satisfactory validity and reliability before being analyzed using Bayesian Pearson Correlation. The analysis yielded a correlation coefficient of r = 0.674 with a Bayes Factor (BF₁₀) of 3.822 × 10²⁹, indicating a strong positive relationship supported by very strong statistical evidence between generative AI dependency and difficulties in emotion regulation among university students. These findings provide additional empirical evidence that psychological aspects should be considered when integrating AI into higher education, emphasizing that the use of generative AI should promote not only learning effectiveness but also students' capacity for adaptive emotion regulation to support sustainable academic development. ABSTRAK Meningkatnya pemanfaatan generative artificial intelligence (AI) dalam aktivitas akademik telah mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi, menyelesaikan tugas, hingga menghadapi berbagai tuntutan pembelajaran. Perubahan tersebut menghadirkan manfaat yang besar, tetapi pada saat yang sama memunculkan perhatian terhadap kemungkinan berkembangnya ketergantungan pada AI serta kaitannya dengan kemampuan mengelola emosi. Hubungan kedua aspek tersebut dianalisis melalui pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 237 mahasiswa pengguna generative AI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Generative AI Dependency Scale dan Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS) yang telah memenuhi pengujian validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan Bayesian Pearson Correlation. Pengujian menghasilkan koefisien korelasi sebesar r = 0,674 dengan nilai Bayes Factor (BF₁₀) sebesar 3,822 × 10²⁹, yang menunjukkan adanya hubungan positif dengan dukungan bukti statistik yang sangat kuat antara ketergantungan terhadap generative AI dan kesulitan regulasi emosi pada mahasiswa. Temuan ini menambah bukti empiris bahwa aspek psikologis perlu dipertimbangkan dalam pemanfaatan AI di pendidikan tinggi, sehingga penggunaan generative AI tidak hanya diarahkan pada peningkatan efektivitas belajar, tetapi juga tetap memperhatikan kemampuan regulasi emosi sebagai bagian dari pembelajaran yang berkelanjutan.
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN BIMBINGAN KARIER BERBASIS PENDEKATAN DONALD E. SUPER DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN PERENCANAAN KARIER PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMP Rahmatia Nur Fadillah; Ramtia Darma Putri; Nurlela Nurlela
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12431

Abstract

ABSTRACT Career planning understanding among junior high school students remains insufficient, potentially affecting the accuracy of decisions regarding further education and future career pathways. This condition highlights the need for career guidance services that are aligned with adolescents' developmental characteristics, enabling students to recognize their potential and develop more structured career plans. This study aimed to examine the effectiveness of career guidance services based on Donald E. Super's approach in improving the career planning understanding of eighth-grade students at SMP Negeri 56 Palembang. A quantitative approach was employed using a one-group pre-test and post-test design involving 33 students selected through purposive sampling. The intervention consisted of four sessions of classroom-based career guidance, while data were collected using a career planning understanding questionnaire and analyzed through a paired sample t-test. The comparison between pre-test and post-test scores indicated an increase in the mean level of career planning understanding, with a significance value of 0.000 (p < 0.05), demonstrating a statistically significant difference following the intervention. These findings confirm that Donald E. Super's approach is effective for implementation in Guidance and Counseling services to assist students in understanding their personal potential, considering educational and career alternatives, and developing more systematic career plans in accordance with their developmental stage. ABSTRAK Pemahaman perencanaan karier pada peserta didik sekolah menengah pertama masih belum berkembang secara optimal, sehingga berpotensi memengaruhi ketepatan dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan maupun arah karier di masa depan. Situasi tersebut menunjukkan perlunya layanan bimbingan karier yang disusun sesuai karakteristik perkembangan remaja agar peserta didik mampu mengenali potensi dirinya dan merancang pilihan karier secara lebih terarah. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas layanan bimbingan karier berbasis pendekatan Donald E. Super dalam meningkatkan pemahaman perencanaan karier peserta didik kelas VIII SMP Negeri 56 Palembang. Pendekatan kuantitatif diterapkan melalui desain one-group pre-test and post-test dengan melibatkan 33 peserta didik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Layanan bimbingan karier klasikal diberikan dalam empat kali pertemuan, sedangkan data dikumpulkan menggunakan angket pemahaman perencanaan karier dan dianalisis melalui uji paired sample t-test. Perbandingan skor sebelum dan sesudah perlakuan memperlihatkan peningkatan rata-rata pemahaman perencanaan karier dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan bermakna setelah layanan diberikan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan Donald E. Super efektif diterapkan dalam layanan Bimbingan dan Konseling untuk membantu peserta didik memahami potensi diri, mempertimbangkan alternatif pendidikan dan pekerjaan, serta menyusun perencanaan karier yang lebih sistematis sesuai tahap perkembangan mereka.
EFEKTIVITAS TEKNIK KONTRAK PERILAKU DALAM KONSELING KELOMPOK UNTUK MENGURANGI OFF TASK SISWA SMP Fitri Ramadhani; Syska Purnama Sari; Ramtia Darma Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12432

Abstract

ABSTRACT Off-task behavior remains a persistent challenge in classroom learning because it reduces students' attention to instructional activities and limits their engagement throughout the learning process. Addressing this issue requires interventions that not only focus on controlling undesirable behaviors but also encourage students to develop a commitment to behavioral change and more adaptive learning habits. Accordingly, this study examined the implementation of the behavior contract technique integrated into group counseling services as an intervention to reduce off-task behavior among junior high school students. A quantitative approach was employed using a pre-experimental One Group Pretest–Posttest design. The study involved a population of 61 eighth-grade students from classes VIII.1 and VIII.2 at SMP Negeri 56 Palembang, with six participants selected through purposive sampling based on classroom observations, pretest results, and recommendations from the school guidance and counseling teacher. Data were collected using an off-task behavior questionnaire and analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a decline in the mean off-task behavior score from 107.50 before the intervention to 82.17 after the intervention. Statistical analysis yielded a significance value of 0.027 (p < 0.05), indicating a statistically significant improvement following the intervention. These findings demonstrate that integrating the behavior contract technique into group counseling services is effective in reducing students' off-task behavior and may serve as a practical intervention strategy for guidance and counseling teachers to enhance students' engagement in classroom learning. ABSTRAK Perilaku off-task masih menjadi tantangan yang memengaruhi kualitas proses belajar karena mengurangi perhatian siswa terhadap aktivitas pembelajaran dan membatasi keterlibatan mereka selama di kelas. Upaya penanganan yang tidak hanya berorientasi pada pengendalian perilaku, tetapi juga mendorong terbentuknya komitmen perubahan, diperlukan agar siswa mampu membangun kebiasaan belajar yang lebih adaptif. Atas dasar tersebut, penelitian ini mengkaji penerapan teknik behavior contract yang diintegrasikan ke dalam layanan group counseling sebagai strategi untuk menurunkan perilaku off-task pada siswa SMP. Penelitian dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-experimental One Group Pretest–Posttest. Dari populasi 61 siswa kelas VIII.1 dan VIII.2 SMP Negeri 56 Palembang, enam siswa dipilih secara purposive berdasarkan hasil observasi, skor pretest, serta rekomendasi guru bimbingan dan konseling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner perilaku off-task, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis memperlihatkan penurunan rata-rata skor dari 107,50 sebelum intervensi menjadi 82,17 setelah intervensi. Pengujian statistik menghasilkan nilai signifikansi 0,027 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya perubahan bermakna setelah layanan diberikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan teknik behavior contract dalam layanan group counseling mampu menekan kecenderungan perilaku off-task sekaligus menjadi alternatif intervensi yang layak dimanfaatkan oleh guru bimbingan dan konseling untuk memperkuat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK TEKNIK COGNITIVE DEFUSION UNTUK MENINGKATKAN SELF EFFICACY SISWA SMA Emiliah Emiliah; Syska Purnama Sari; Arizona Arizona
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12433

Abstract

ABSTRACT Students' ability to cope with academic demands is strongly influenced by their self-efficacy, as confidence in one's own capabilities shapes the willingness to face challenges, sustain effort, and accomplish academic tasks. When this belief is weak, students are more likely to avoid challenging situations, experience diminished learning motivation, and give up easily when confronted with difficulties. This condition highlights the need for group counseling interventions incorporating the cognitive defusion technique to help students develop a more adaptive relationship with their negative thoughts. The effectiveness of this intervention was examined using a quantitative approach with a pre-experimental One Group Pretest–Posttest design. The study involved six students purposively selected from a population of 70 eleventh-grade students from classes XI B1 and XI C1 at SMA Negeri 7 Palembang based on observation results, pretest scores, and recommendations from the school counselor. Data were collected through a self-efficacy questionnaire and documentation, and subsequently analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a significant improvement in students' self-efficacy following the intervention, with a significance value of 0.028 (p < 0.05). These results indicate that the cognitive defusion technique is an effective group counseling strategy for strengthening students' self-efficacy while providing additional empirical support for the implementation of the Acceptance and Commitment Therapy (ACT) approach in school guidance and counseling services. ABSTRAK Kemampuan siswa untuk menghadapi tuntutan akademik sangat dipengaruhi oleh self-efficacy, karena keyakinan terhadap kemampuan diri menentukan keberanian dalam menghadapi tantangan, mempertahankan usaha, dan menyelesaikan tugas. Ketika keyakinan tersebut rendah, siswa cenderung menghindari situasi yang menantang, kehilangan motivasi, serta mudah menyerah saat menemui hambatan. Kondisi tersebut mendorong penerapan layanan konseling kelompok yang memanfaatkan teknik cognitive defusion sebagai strategi untuk membantu siswa membangun hubungan yang lebih adaptif terhadap pikiran-pikiran negatif. Efektivitas intervensi tersebut dikaji melalui penelitian kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest–Posttest. Penelitian melibatkan enam siswa yang dipilih secara purposive dari populasi 70 siswa kelas XI B1 dan XI C1 SMA Negeri 7 Palembang berdasarkan hasil observasi, pretest, dan rekomendasi guru bimbingan dan konseling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket self-efficacy dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan Uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan self-efficacy setelah intervensi dengan nilai signifikansi 0,028 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa teknik cognitive defusion efektif diterapkan dalam layanan konseling kelompok untuk memperkuat self-efficacy siswa, sekaligus memberikan dukungan empiris terhadap implementasi pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah.