cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
Identifikasi Penyebab Kerusakan Biologis Gambar Cadas Gua Prasejarah Maros, Sulawesi Selatan Moh Habibi; Ariyanti Oetari; R. Cecep Eka Permana
Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroorganisme (kapang dan bakteri) yang terdapat pada gambar cadas dan berpotensi sebagai biodeteriogen gambar cadas. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel dan identifikasi molekuler. Identifikasi molekuler mengunakan primer 9F (5’-GAG TTT GAT CIT IGC TCAG-3’) dan 1510R (5’-GGT TAC CTT GTT ACG ACTT-3’) untuk bakteri, ITS1F (5’-CTT GGT CAT TTA GAG GAA GTAA-3’) dan ITS4R (5’-TCC TCC GCT TAT TGA TAT GC-3’) untuk kapang. Siklus PCR yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 35 siklus, meliputi Denaturasi (95oC selama 15 detik), annealing, dan elongation (72oC selama 10 detik). Berdasarkan hasil identifikasi molekuler di peroleh tiga belas jenis mikroorganisme yang terdiri dari empat jenis Bakteri dan sembilan jenis Kapang.
Pelestarian Warisan Budaya Kota (Urban Heritage) Melalui Pendekatan Heritage Urban Landscape (HUL) dan Cultural Heritage Integrated Management Plans (CHIMP) Brahmantara Brahmantara
Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.230

Abstract

Pelestarian warisan budaya kota (urban heritage) saat ini mengalami tantangan yang cukup besar. Laju pembangunan menjadi ancaman dalam menggeser nilai nilai budaya itu sendiri. Bagaimana mendesain sinergitas antara warisan yang bersifat fisik dan nofisik melalui pendekatan Heritage Urban Landscape (HUL) dan Cultural Heritage Integrated Management Plans (CHIMP)? Apakah kedua metode tersebut sesuai untuk diterapkan? Lantas, bagaimana kedua metode tersebut bekerja? Dalam pengelolaan dan pelestarian warisan budaya perkotaan (urban heritage), ada dua pendekatan yang dilakukan. Pertama adalah pendekatan Heritage Urban Landscape (HUL), pendekatan ini dilakukan dengan metode melihat warisan budaya kota sebagai aset sosial, ekonomi dan budaya untuk pengembangan kota dan bergerak diluar pelestarian fisik lingkungan, dan berfokus kepada lingkungan manusia beserta lingkungannya baik yang bersifat bendawi maupun tak bendawi. Metode yang kedua adalah pelestarian dengan pendekatan Rencana Manajemen Terpadu Warisan Budaya (Cultural Heritage Integrated Management Plans / CHIMP). CHIMP adalah instrumen inovatif yang secara efektif mengelola perlindungan dan pengembangan daerah perkotaan bersejarah secara berkelanjutan menuju warisan budaya kota yang menarik, kompetitif dan multifungsi. Instrumen ini menyeimbangkan dan mengkoordinasikan antara kebutuhan akan warisan budaya dengan kebutuhan dari “pengguna” (masyarakat) dan stakeholder terkait yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan dari warisan budaya kota tersebut. Metode pendekatan tersebut baik HUL maupun CHIMP sesuai untuk diterapkan dalam pelestarian warisan budaya kota. Kedua metode tersebut mampu menghubungkan dan menyeimbangkan antara pembangunan sosial- ekonomi yang berkelanjutan dengan perlindungan warisan budaya dan identitas yang dimiliki. HULlebih banyak bergerak diluar pelestarian fisik lingkungannya, sedangkan CHMIP bergerak disemua aspek pelestarian. Perbedaan bukan merupakan suatu kelebihan dan kekurangan, namun merupakan dua pendekatan yang sebenarnya saling melengkapi. Identifikasi karakteristik yang dimiliki ini menjadi penentuan awal apakah metode pendekatan dengan HUL atau CHIMP. Karakteristik kota yang didominasi oleh karakter dan nilai budaya yang bersifat fisik lebih cocok menggunakan pendekatan CHIMP dan sebaliknya kota yang mempunyai lebih banyak karakter nilai budaya non fisik akan lebih sesuai menggunakan pendekatan HUL.
Konservasi Benteng Bau-Bau: Konservasi Tiang Bendera pada Masjid Kuno dalam Benteng Keraton Buton di Kota Bau-Bau Ari Swastikawati; Marsis Sutopo; Dhanny Indra Permana; Pramudianto Dwi Hanggoro; Al Widyo Purwoko
Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.231

Abstract

Benteng Keraton Buton merupakan benteng terluas dan terpanjang di dunia yang terletak di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Di tengah benteng terdapat sebuah Masjid Kuno Buton dan tiang bendera yang usianya seumur dengan masjid. Masjid tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III La Sangaji Sultan Kaimuddin, yang berkuasa pada tahun 1591-1597. Saat ini kondisi tiang bendera mengalami kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu, Balai Konservasi Borobudur bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Makasar berinisiatif melaksanakan kegiatan kajian konservasi benteng Bau-Bau yang lebih difokuskan pada tiang bendera. Adapun tujuan kajian ini mengidentifikasi kerusakan dan pelapukan serta merumuskan penanganan konservasi tiang bendera. Metode penelitian dalam kajian ini adalah survei dan eksperimen. Metode survei dan eksperimen tersebut dilaksanakan melalui studi referensi, observasi lapangan dan analisis laboratorium dan eksperimen dilanjutkan pengolahan dan analisis data serta merumuskan rencana penanganan konservasi. Berdasarkan hasil survei dan analisis laboratorium diketahui seluruh material kayu telah mengalami pelapukan tingkat lanjut sehingga sebaiknya segera dilakukan tindakan konservasi terhadap material kayu tiang bendera. Jenis Kayu komponen tiang bendera Kesultanan Buton adalah kayu jati (Tectona grandis L.F). Struktur tiang bendera telah mengalami penurunan kekuatan sehingga perlu dilakukan tindakan rekonstruksi tiang bendera dan perkuatan struktur. Teknik dan metode perkuatan struktur ditentukan berdasarkan hasil penelitian dan kesepakatan para stakeholder. Berdasarkan hasil tersebut maka perlu penelitian lanjutan untuk menentukan metode konsolidasi kayu, menentukan metode aplikasi terbaik, menentukan bahan injeksi pada retakan mikro, mengetahui volume rongga kayu dengan alat videoscope, menentukan teknik dan metode pengisian rongga kayu, modelling untuk menentukan besaran beban angin dan gempa yang dibutuhkan untuk meruntuhkan struktur tiang bendera dan menentukan metode perkuatan struktur yang paling tepat.
Respon Struktur Candi Mendut Terhadap Getaran Lalu Lintas Linus Setyo Adhidhuto; Rony Muhammad; Jati Kurniawan; Puji Santosa; Ajar Priyanto
Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v15i1.232

Abstract

Candi Mendut hanya berjarak 27 meter dari jalan raya. Banyaknya kendaraan yang melintas pada jalan tersebut terutama kendaraan berat seperti truk dan bus menimbulkan kekhawatiran akan kelestarian candi tersebut. Getaran yang timbul dari kendaraan tersebut bila mengenai struktur candi dengan frekuensi tertentu dan dalam intensitas yang besar akan berpotensi menimbulkan kerusakan pada candi. Pengukuran respon getaran dilakukan pada bagian atap dan lantai candi untuk dapat mengetahui apakah getaran yang timbul akibat lalu lintas telah melebihi batas ambang getaran. Pengukuran getaran menggunakan accelerograph yang dapat mengukur getaran dalam 3 arah / triaxial. Untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya getaran yang timbul maka dilakukan percobaan respon getaran pada tanah dengan variasi kecepatan kendaraan dan berat kendaraan. Dari pengukuran yang telah dilakukan pada Candi Mendut, ternyata respon getaran yang dihasilkan akibat lalu lintas jalan raya masih di bawah batas ambang getaran. Dari hasil percobaan juga diketahui bahwa kecepatan dan berat kendaraan berbanding lurus dengan besarnya getaran yang ditimbulkan.
Penilaian Kondisi Tinggalan Budaya Maritim dalam Kegiatan Pra-Konservasi di Dermaga Willunga Ashar Murdihastomo; Rizka Purnamasari
Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.234

Abstract

Bekas dermaga Willunga merupakan tinggalan budaya yang penting bagi masyarakat di Australia Selatan mengingat memiliki peran krusial dalam perekonomian daerah. Objek tinggalan budaya tersebut pada saat ini hanya tinggal bekas tiang penyangga dermaga dan perlu untuk dijaga kelestariannya mengingat lokasi dermaga pada saat ini telah menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang dapat memberikan dampak buruk bagi keberlanjutan tinggalan budaya. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan dalam melindungi objek tersebut adalah dengan melakukan upaya konservasi yang didahului oleh aktivitas pra konservasi yaitu penilaian kondisi objek. Terkait dengan hal tersebut, maka permasalahan yang diangkat pada artikel ini adalah sejauh mana kondisi tinggalan budaya bekas dermaga di Willunga berdasarkan pada penilaian kondisi pra konservasi. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah memberikan gambaran lengkap tentang penanganan tinggalan budaya dan langkah-langkah yang ditempuh dalam kegiatan konservasi khususnya aktivitas pra konservasi. Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut dilakukan pengambilan data melalui beberapa alat. Pertama, penggambilan data lingkungan menggunakan datalogger, pengambilan data pelapukan kayu melalui alat pilodyn, dan pengambilan data korosi besi menggunakan pH dan Eh meter. Kedua, data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan bantuan dari data sekunder (pustaka) dan penggunaan diagram dan tabel pourbaix. Hasil yang diperoleh dari kajian tersebut menyimpulkan bahwa kondisi tinggalan budaya di bekas dermaga Willunga mengalami degradasi yang diakibatkan oleh faktor lingkungan. Hasil tersebut kemudian dapat dijadikan acuan dalam melakukan aktivitas konservasi aktif.
Atsiri Sereh Wangi Sebagai Bahan Insektisida Pada Arsip Kertas Fransiska Dian Ekarini; Sri Wahyuni; Rifqi Kurniadi Suryanto; Rohmad Junaedi
Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i2.242

Abstract

Latar belakang kajian efektivitas minyak atsiri sereh wangi sebagai bahan insektisida pada cagar budaya berbahan kertas ini adalah banyaknya arsip dokumen terutama dari kertas yang seringkali rusak dimakan hewan perusak kertas di tempat penyimpanan arsip dokumen. Penelitian ini memakai bahan insektisida alami yaitu dari tanaman sereh wangi yang ramah terhadap manusia dan lingkungan. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui efektivitas minyak atsiri sereh wangi dalam mencegah dan mematikan serangan rayap kayu kering yang menyerang dokumen arsip kertas. Metode penelitian yang digunakan adalah pengujian skala laboratorium. Bahan yang digunakan adalah minyak atsiri sereh wangi dan hewan uji berupa rayap kayu kering. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian efektivitas minyak atsiri sereh wangi sebagai bahan repellent/pengusir rayap, pengujian sebagai bahan insektisida/pembunuh rayap dan pengujian dampak minyak atsiri sereh wangi terhadap arsip dokumen kertas. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri dapat berfungsi sebagai bahan repellent dan insektisida bagi rayap kayu kering. Minyak atsiri sereh wangi efektif sebagai repellent/pengusir rayap kayu kering pada konsentrasi 85,9 mg/l. Efektifitas minyak atsiri sereh wangi sebagai bahan insektisida/membunuh rayap kayu kering dinyatakan dengan LC 50 yaitu pada konsentrasi 101,7 mg/l. selain itu tidak terdapat perubahan warna secara visual pada kertas/dokumen akibat bau/aroma minyak atsiri sereh wangi
INTERPRETASI RELIEF GANDAWYUHA DI CANDI BOROBUDUR: (Studi Kasus Relief Gandawyuha Dinding Lorong II) Hari setyawan; Panggah Ardiyansyah; Dhanny Indra Permana; Mura Aristina; Irawan Setiyawan
Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i2.243

Abstract

Relief naratif pada Dinding dan Pagar Langkan Candi Borobudur merupakan salah satu atribut dari Warisan Dunia Kompleks Candi Borobudur (Borobudur Temple Compound). Relief tersebut adalah implementasi dari naskah keagamaan Buddha yang berasal dari India dan dipelajari oleh pendukung budaya Candi Borobudur untuk selanjutnya dipahatkan pada bidang candi. Kandungan keilmuan dalam relief naratif Candi Borobudur salah satunya adalah sebagai alat interpretasi kondisi alam dan budaya pada masa Jawa Kuna Abad VIII – X M. Relief Gandawyuha dipahatkan mulai lorong II hingga lorong IV dengan jumlah keseluruhan sebanyak 460 panil. Adapun Sutra Gandawyuha yang menjadi acuannya dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, bagian pertama adalah adegan pembuka (Nidanaparivarta). Bagian kedua adalah perjalanan mengunjungi mitra-mitra handal. Selanjutnya adalah mengenai sepak terjang Maitreya (Maitreya-vimoksha). Sedangkan yang terakhir adalah tekad Samantabhadra dan Bhadracari yang dapat dijumpai pada dinding lorong IV Candi Borobudur. Sudhana merupakan tokoh utama pada relief Gandawyuha di lorong II Candi Borobudur. Perjalanan Sudhana yang dipahatkan pada Candi Borobudur digambarkan dengan menunggang kuda, berjalan kaki, naik gajah, naik perahu untuk menjelajah ke berbagai tempat untuk berguru. Dalam Berbagai adegan Sudhana digambarkan sebagai sosok laki-laki dengan pakaian, perhiasan, lengkap dengan mahkota yang mewah, duduk menghadap guru dan orang-orang bijaksana. Metode interpretasi relief Gandawyuha dalam kajian ini dimulai dari mengumpulkan data reproduksi foto relief Gandawyuha pada lorong II Candi Borobudur. Penggunaan data sekunder berupa reproduksi foto akan memberikan gambaran yang lebih jelas untuk melakukan identifikasi relief. Identifikasi relief dilakukan pada 128 panil relief Gandawyuha pada lorong II Candi Borobudur. Sudhana dan Kalyanamitra merupakan tokoh utama yang diidentifikasi untuk melakukan interpretasi relief. Dari hasil interpretasi relief dapat disampaikan berbagai temuan dari penggambaran Sudhana dan para mitra handal (kalyanamitra) yang dapat dimanfaatkan sebagai nilai pendidikan karakter. Beberapa nilai pendidikan karakter yang didapatkan dari interpretasi relief Gandawyuha di antaranya adalah cinta tuhan dan alam semesta, tanggung jawab, kemandirian, kejujuran, hormat dan santun, kasih sayang, kepedulian, kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, pantang menyerah, keadilan, kepemimpinan, baik, rendah hati, dan toleransi.
KONSOLIDASI FOSIL MENGGUNAKAN RESIN ALAM Leliek Agung Haldoko; Joni Setyawan; Sri Wahyuni; Arif Gunawanarif
Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i2.244

Abstract

Fosil adalah sisa tulang belulang atau sisa tumbuhan zaman purba yang telah membatu dan tertanam di bawah lapisan tanah. Proses pemfosilan yang tidak berlangsung secara sempurna menyebabkan fosil dalam kondisi rapuh. Kondisi rapuh dikarenakan proses permineralisasi belum selesai sepenuhnya, sehingga terdapat bagian-bagian yang belum tergantikan oleh mineral. Untuk memperkuat ikatan material pada fosil yang rapuh diperlukan tindakan konsolidasi. Bahan-bahan yang diuji untuk konsolidasi fosil adalah gondorukem dan gelatin dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Sebagai pembanding adalah bahan yang selama ini digunakan untuk konsolidasi fosil yaitu paraloid B72 dengan konsentrasi 4%. Parameter pengujian yang digunakan antara lain uji SEM, uji kekerasan, uji kuat tekan, uji tetesan air, uji FTIR, uji daya tahan, pengamatan warna dan pengamatan pertumbuhan jamur. Hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan gelatin 5%, 10% dan 15% dapat menjadi alternatif pengganti paraloid B72 sebagai bahan konsolidasi fosil. Bahan ini dapat mengisi pori-pori fosil dan meningkatkan kekerasan fosil. Selain itu nilai kuat tekan fosil yang dikonsolidasi dengan gelatin lebih tinggi dari paraloid B72 4%. Penggunaan gelatin tidak merubah komposisi fosil dan memiliki daya tahan pada kondisi penyimpanan yang ekstrim. Penggunaan gelatin juga tidak merubah warna fosil dan aman dari pertumbuhan jamur ketika diaplikasikan ke fosil. Gelatin 5% merupakan konsentrasi yang paling optimum untuk konsolidasi fosil karena penggunaan bahan akan lebih efisien.
KAJIAN SAINTIFIKASI BAHAN KONSERVASI TRADISIONAL BERDASARKAN NASKAH KUNA Isni Wahyuningsih; Henny Kusumawati; Yudi Atmaja; Al Widyo Purwoko; Ari Kristiyanto
Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i2.245

Abstract

Naskah-naskah kuna masih banyak dijumpai di Nusantara. Di dalam naskah kuna tersebut antara lain memuat pengetahuan tentang praktek-praktek konservasi yang hingga sekarang masih dilakukan masyarakat. Pada Kajian Bahan Konservasi Tradisional Berdasarkan Naskah Kuna pada tahun 2016 – 2018, ditemukan beberapa muatan mengandung aktivitas konservasi tradisional yang mewakili kearifan lokal masyarakat Jawa, Bali dan Sumatra. Sementara itu untuk kajian saintifikasi dipilih sampel untuk bahan konservan yang terdapat dalam naskah kuna yaitu daun sirih (piper betle), biji dan daun bidara (ziziper mauritania). Berdasarkan hasil uji aplikasi minyak daun dan biji bidara (ziziper mauritania) yang diujikan pada serangga (rayap) dengan konsentrasi 1%, 3%, 5% tidak menunjukkan fungsi sebagai bahan konservan anti serangga. Sementara itu minyak daun sirih (piper betle) yang diujikan pada serangga (rayap) dengan konsentrasi 1%, 3%, 5% menunjukkan bahwa serangga (rayap) pada konsentrasi 1% masih ada yang hidup, konsentrasi 3% serangga banyak yang mati, dan serangga pada konsentrasi 5% langsung mati semua. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan minyak sirih dapat menjadi bahan alternatif konservan anti serangga (rayap).
DUKUNGAN LANSKAP CANDI NGAWEN TERHADAP KONSERVASI KAWASAN CAGAR BUDAYA NASIONAL BOROBUDUR Aprilia Widiasari
Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i2.246

Abstract

Candi Ngawen merupakan salah satu candi dengan latar belakang agama Buddha yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya cukup dekat dengan tiga candi Buddha lainnya yaitu Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur yang sudah mendunia. Candi Ngawen memiliki keunikan tersendiri yang tampak dari denah tata letak, arca dan relief yang sangat ikonik. Selain itu, Candi Ngawen berada di lingkungan yang memiliki potensi ekonomi, sosial, budaya serta alam yang sangat menarik. Upaya-upaya pelestarian pun telah banyak dilakukan. Tulisan ini membahas tentang gambaran kondisi lanskap Candi Ngawen yang masih relatif terjaga, sehingga mampu memberikan dukungan terhadap konservasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Borobudur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, kemudian analisis dilakukan secara induktif.

Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue