cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
KAJIAN PENGARUH INTENSITAS SUARA TERHADAP BANGUNAN CAGAR BUDAYA BERBAHAN BATU TAHAP I Linus Setyo Adhidhuto; Ronny Muhammad; Jati Kurniawan; Puji Santosa; Ajar Priyanto
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.180

Abstract

Kegiatan konser musik atau acara lainnya yang menggunakan sound system besar sering dilaksanakan di Candi Borobudur, Candi Prambanan serta candi-candi lainnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelestari cagar budaya akan dampak buruk suara keras yang dihasilkan oleh speaker terhadap cagar budaya. Untuk mengetahui dampak tersebut perlu dilakukan pengukuran getaran yang timbul pada candi pada saat berlangsung konser atau acara-acara lainnya yang menggunakan sound system besar. Salah satu faktor yang menentukan besarnya getaran yang timbul akibat sumber getaran secara umum adalah redaman dan frekuensi natural. Bila sumber getaran semakin mendekati frekuensi natural candi maka resonansi getaran akan semakin besar. Untuk dapat membuktikan hal tersebut maka dilakukan percobaan getaran dalam skala laboratorium dengan sumber getaran, dalam hal ini berupa suara, dengan variasi frekuensi yang mendekati dan sama dengan frekuensi natural sampel. Setelah dilakukan pengambilan data di lapangan ternyata getaran yang timbul sangat kecil. Pengukuran data getaran pada saat konser berlangsung sepanjang tahun 2017 menunjukkan getaran yang timbul mencapai kecepatan maksimal 0,085 mm/s, sekitar 4,25 % dari batas ambang yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yaitu sebesar 2mm/s. Getaran yang kecil ini tidak dapat dijadikan acuan dalam menetapkan batas ambang kebisingan atau tingkat intensitas suara pada cagar budaya sehingga hasil dari kajian ini hanya bisa menetapkan batas ambang berdasarkan frekuensi yang diperbolehkan.
PENGGUNAAN LITIUM SILIKAT SEBAGAI KONSOLIDAN ANORGANIK PADA BATU BATA MELALUI UJI PEMBUATAN MORTAR Farida Farida; Nahar Cahyandaru; Nuryono Nuryono
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.181

Abstract

Penggunaan litium silikat hasil sintesis dari litium hidroksida dan silika sebagai konsolidan pada batu bata telah dipelajari melalui uji pembuatan mortar. Litium silikat disintesis melalui proses sol gel pada temperatur 70 °C dengan menggunakan bahan baku litium hidroksida (LiOH) dan fumed silica (SiO2) dengan rasio mol 4:1. Konsolidasi dilakukan dengan cara mencampur serbuk batu bata dengan larutan litium silikat 10% b/v. Karakterisasi hasil konsolidasi dilakukan dengan penentuan komposisi kimia menggunakan X-ray Fluorescence (XRF) dan pengukuran kekerasan mortar dalam skala Mohs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litium silikat berhasil disintesis dengan rendemen 22,78% dan kadar Si (35,78±0,21)%. Kemampuan konsolidasi litium silikat pada batu bata ditunjukkan dengan sifat fisik mortar yang sama dengan batu bata sebelum dikonsolidasi. Sifat fisik tersebut meliput warna merah bata, kekerasan 2-3 skala Mohs di kisaran 0,61-1,49 GPa), dan kandungan Si meningkat 2,13% dibandingkan batu bata sebelum dikonsolidasi.
KONSERVASI CAGAR BUDAYA KAYU DENGAN ASAP CAIR (UJI LAPANGAN) Moh Habibi; Winda Diah Puspita Rini; Rifqi Kurniadi Suryanto; Wahyudi Wahyudi
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.182

Abstract

Dalam penelitian ini dievaluasi efektivitas asap cair untuk pengawetan kayu pada skala lapangan (graveyard test). Variabel bebas pada kajian ini meliputi konsentrasi asap cair (0%, 10%, 20%, 30%, 50%, 100%, Termicon),jenis kayu (Jati & Nangka), dan teknik aplikasi (oles & semprot). Variabel terikat yang diamati adalah berat kayu uji dan kualitas mutu kayu (tingkat kerusakan kayu akibat serangan rayap). Pengujian skala lapangan dilakukan dengan mengubur sampel kayu selama dua bulan. Hasil kajian menujukkan bahwa hanya konsentrasi asap cair yang berpengaruh nyata terhadap ketahanan kayu uji dari rayap tanah. Konsentrasi 100% memberikan pengaruh berbeda nyata dibandingkan dengan konsentrasi yang lain serta memberikan kualitas mutu kayu yang terbaik.
EVALUASI DAMPAK PENGGUNAAN BAHAN KIMIA SELAMA KEGIATAN PEMUGARAN CANDI BRAHU Ira Fatmawati
Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i1.183

Abstract

Candi Brahu merupakan salah satu bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional. Candi ini telah dilakukan dua kali pemugaran, yaitu : masa kolonial Belanda dan masa pemerintah Indonesia. Berdasarkan laporan hasil pemugaran tahun 1991–1995 tercatat ada empat bahan kimia yang diaplikasikan pada bangunan candi, yaitu : Silicosol yang berfungsi sebagai bahan pelindung, Araldite tar sebagai bahan kedap air, serta AC 322 dan Hyvar XL sebagai bahan herbisida. Kegiatan pemugaran kedua ini telah berlalub lebih dari 20 tahun dan belum pernah dievaluasi. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia selama kegiatan pemugaran kedua. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung di Candi Brahu kemudian mendata jenis bata, letak aplikasi bahan kimia, serta dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahan tersebut dengan cara mendata jenis kerusakan. Hasilnya, bata penyusun candi terdiri dari tiga jenis, yaitu : bata lama, bata lama yang dipasang kembali ketika pemugaran Belanda, dan bata hasil pemugaran tahun 1991–1995. Aplikasi bahan Silicosol hanya dilakukan pada kaki I dan kaki II. Araldite tar diaplikasikan pada bagian bawah bata yang dianggap lantai, batas bata hasil pemugaran tahap I dan tahap II, serta di atas dan samping lapisan cor beton. Untuk aplikasi AC 322 dan Hyvar XL hanya dilakukan pada tahap III di bagian tubuh sedangkan aplikasi pada bagian lain dari bangunan candi tidak ditemukan datanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bata hasil pemugaran tahun 1991–1995 cenderung rapuh sedangkan dua jenis bata lainnya tampak utuh. Bahan Silicosol dioles pada seluruh permukaan bata bagian kaki I dan kaki II, namun pengelupasan dan kerapuhan bata lebih banyak terjadi pada bata hasil pemugaran tahun 1991–1995. Ini menandakan kerusakan itu bukan akibat penggunaan bahan Silicosol tetapi karena kualitas bata yang kurang bagus. Aplikasi bahan Araldite tar masih efektif terlihat pada struktur bata yang tidak mengalami kerusakan. Efektivitas bahan AC 322 dan Hyvar XL tidak dapat bertahan lama sehingga tidak dapat diamati dampaknya terhadap bangunan candi. Evaluasi dampak penggunaan bahan kimia setelah kegiatan konservasi dan kajian untuk mencari solusi penanganan kerusakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan semakin luas.
KONSERVASI TRADISIONAL BERDASARKAN NASKAH KUNA DI BALI Isni Wahyuningsih; Henny Kusumawati; Sri Sularsih; Iwan Kurnianto; Siti Yuanisa
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.184

Abstract

Naskah-naskah kuna masih banyak dijumpai, dihormati dan dilestarikan di Bali. Naskah-naskah kuna tersebut dimiliki oleh pemerintah maupun oleh masyarakat Bali. Naskah-naskah tersebut dikelompokkan dalam 15 jenis yaitu babad, geguritan, kanda, kalpasastra, kakawin, kidung, nitisastra, mantrastawa, palakerta, parwa, sasana, tantric, tutur, usada, dan wariga. Dari beberapa jenis naskah tersebut naskah tutur dan usada ditengarai terdapat unsur yang mengandung informasi praktek-praktek konservasi. Kajian Konservasi Tradisional Berdasarkan Naskah Kuno di Bali ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang praktek-praktek konservasi yang dimuat dalam naskah kuna yang hingga sekarang masih dilakukan masyarakat Bali. Langkah-langkah yang dilakukan dalam kajian ini adalah telaah kepustakaan dengan mengambil sampel naskah yang sudah diterjemahkan, mengkaji lembaran naskah yang kemungkinan mengandung muatan konservasi tradisional, wawancara dengan narasumber dan tokoh masyarakat serta mengamati kegiatan konservasi yang masih dilakukan masyarakat pada saat ini. Harapan dari kajian ini adalah mendapatkan apresiasi tentang kegiatan konservasi yang ditulis dalam naskah kuna, yang dapat menjadi bahan alternatif konservasi tradisional untuk pelestarian cagar budaya.
POTENSI MINYAK ATSIRI DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN ISOLAT BAKTERI YANG DITEMUKAN DI CANDI BOROBUDUR Absari Hanifah
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.185

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isolat bakteri dari Candi Borobudur dan penghambatan pertumbuhan bakteri dengan minyak atsiri. Tempat penelitian yaitu di Laboraturium Mikrobiologi Balai Konservasi Borobudur, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdapat 16 sampel bakteri yang diambil dari relief Candi Borobudur pada lantai 2. Masing-masing sampel diambil dari 4 sisi bidang relief batu candi. Penelitian terdiri dari tahap persiapan, pengambilan sampel, karakterisasi bakteri, uji mikroskopi, pemilihan bakteri uji, dan uji minyak atsiri. Minyak atsiri yang digunakan adalah temulawak, nilam, dan daun cengkeh dengan distilasi uap air. Konsentrasi minyak atsiri yang digunakan yaitu 10%. 20%, dan 30% dengan metode pengenceran menggunakan alkohol 90% sebagai pelarut. Bakteri yang digunakan sebagai isolat uji dengan minyak atsiri adalah isolat bakteri yang paling banyak ditemukan di batu lapuk dan tidak ditemukan pada batu relief kompak. Hasil penelitian menunjukkan minyak atsiri yang berpotensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah minyak atsiri nilam dengan konsentrasi 30% dengan rata-rata penghambatan 1,075 cm.
SINTESIS LITIUM SILIKAT (Li4SiO4) DARI ABU SEKAM PADI UNTUK KONSOLIDAN BATA Rizka Rahma Sakti; Riyanto Riyanto; Nahar Cahyandaru
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.186

Abstract

Sintesis litium silikat telah dilakukan sebagai bahan konsolidasi untuk bata. Prekursor yang digunakan adalah litium hidroksida (LiOH.H2O), dan SiO2 yang dihasilkan dari abu sekam padi setelah pencucian menggunakan asam sitrat. Abu sekam padi yang dihasilkan dianalisis kadar unsurnya dengan alat XRF. Litium silikat diujikan sebagai bahan konsolidasi mortar bata dengan konsentrasi larutan 10% b/v. Mortar dicetak dan dikeringkan selama 28 hari, kemudian mortar diuji kekerasan, porositas, permeabilitas dan kapilaritasnya. Hasil karakterisasi dengan XRF menyatakan bahwa semakin tinggi suhu pembakaran, maka kadar silika yang dihasilkan semakin tinggi. Hasil uji mortar paling baik ditunjukkan pada penggunaan abu sekam padi dari pembakaran 500oC dengan kandungan SiO2 83,60%, nilai kekerasan 178,50 HL, nilai porositas 26,61% dengan koefisien kapilaritas 6,37 g.cm-2.s1/2 dan permeailitas 1,61 cm/s.
KAJIAN KONSERVASI GUA GAJAH DI GIANYAR BALI Yudi Suhartono; Marsis Sutopo; Liliek Agung Haldoko; Yudhi Atmaja Hendra Purnama; Basuki Rachmad
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.187

Abstract

Pura Gua Gajah merupakan peninggalan dari masa kerajaan Bali Kuna pada rentang waktu abad IX – XIII Masehi. Gua Gajah merupakan salah satu salah satu obyek dan daya tarik wisata utama di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara. Gua ini memiliki nilai penting yang tinggi dari sisi arkeologi, sejarah, estetika, ilmu pengetahuan dan ekonomi sehingga harus dijaga kelestariannya. Secara umum kondisi Gua Gajah yang mengalami kerusakan yang disebabkan oleh beberapa faktor, sehingga perlu dilakukan kajian konservasinya. Kajian ini menggunakan metode Induktif kualitatif dengan tahapan tahapan kajian yang digunakan meliputi tahapan pengumpulan data yang terdiri dari pengumpulan data pustaka dan pengumpulan data lapangan untuk mengetahui kondisi keterawatan situs gua Gajah serta pengujian laborotorum pada sampel yang dibawa dari lapangan, Tahap selanjutnya dilakukan pengolahan data hasil pengumpulan data lapangan dan data hasil analisis di laboratorium serta data pustaka untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hasil pengolahan data ini kemudian dianalisis untuk menjawab permasalahan yang ada. Pada tahap ketiga ini diharapkan diperoleh suatu kesimpulan yang sesuai dengan tujuan kajian. Dari Hasil kajian dapat diketahui bahwa batuan penyusun Gua Gajah merupakan endapan hasil aktivitas vulkanikyang tersusun dari campuran abu vulkanik (atau tuf ketika mulai membatu) yang tersortasi sangat buruk bersama dengan batuapung lapili, yang umumnya memiliki fragmen litik yang tersebar. Batuan penyusun Gua Gajah merupakan endapan yang belum terkonsolidasi. Gua Gajah telah mengalami kerusakan dan pelapukan yang dapat mengacam keberadaan gua tersebut. Penyebab utama proses pelapukan batuan kemungkinan adalah proses fisis akibat kelembaban yang tinggi dan juga faktor biologis. Untuk mengurangi kelembaban giua, di bagian atas gua perlu dilapisi dengan lapisan kedap air. Ada dua alternatif yang ditawarkan, pertama melapisi dengan menggunakan mortar dan kedua menggunakan bahan kedap air Geokomposit dan pembuatan saluran air. Sedangkan untuk mengurangi kelembaban yang disebabkan oleh kapiler air tanah, bagian bawah tanah perlu dilapisi dengan bahan kedap air geomembran.
KARAKTER DAN KUALITAS GONDORUKEM KUNA HASIL PENEMUAN DI PEMUKIMAN PECINAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO Yustinus Suranto
Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v12i2.188

Abstract

Pada 26 April 2016, wajan raksasa kuna berukuran besar yang berisi benda padat transparan ditemukandi kawasan Pecinan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Hasil pengamatan sementara di lapangan benda padattersebut adalah Gondorukem. Ciri-ciri dan kualitas Gondorukem serta latar belakang dihasilkannya benda tersebutmerupakan kasus yang menarik untuk dikaji.Bahan yang diposisikan sebagai objek penelitian adalah gondorukem kuna hasil penemuan di Kecamatan Kutoarjo.Kualitas gondorukem dan sifat-sifatnya ditentukan berdasarkan parameter: warna, titik lunak, nilai komponenmudah menguap, dan nilai bilangan asam. Secara berurutan, masing-masing parameter itu ditentukan denganmetode: Lovibond Comparator, SNI 7636: 2011, penguapan, serta RSNI3 7636: 2010 dengan titrasi kaliumhidroksida. Pengujian dilakukan dengan ulangan sebanyak tiga kali. Prediksi jenis industri yang beroperasi padamasa silam dilakukan dengan metode interpretasi berbasis analisis relasional.Hasil penelitian menyimpulkan empat hal. Pertama, benda kuna hasil temuan adalah gondorukem. Kedua,gondorukem ini berkelas mutu yang diberi kode huruf I dengan peringkat ke-10 dari 15 peringkat yang tersedia.Ketiga, gondorukem kuna memiliki sifat nilai titik lunak yang wajar, kadar komponen menguap pada peringkatyang tinggi, serta nilai bilangan asam pada peringkat yang rendah. Keempat, keberadaan gondorukem kuna yangsoliter dan murni di dalam wajan berdiameter 270 sentimeter dengan kedalaman cekungan 90 sentimeter yangberada di atas tungku terbuat dari batu merah mengindikasikan adanya kegiatan industri pengolahan getah pinusmenjadi produk gondorukem pada masa silam di kawasan Pecinan di Kecamatan Kutoarjo.
Kota Model Kepranataan Kota Pusaka dalam Program Penataan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) (Studi Kasus: Kota Surakarta): Kota Pusaka Pratomo Aji Krisnugrahanto
Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v13i2.189

Abstract

Penelitian ini membahas model kepranataan Kota Pusaka dalam program P3KP di KotaSurakarta. Hal tersebut dikaji berdasarkan peran dan fungsi Kota Surakarta sebagai anggotadan promotor Kota Pusaka, serta adanya program penataan pelestarian kota pusaka (P3KP)dari Kementrian PUPR. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah belumdikembangkannya model kepranataan kota pusaka dalam pengelolaan Kawasan berbasispenataan dan pelestarian pusaka di Kota Surakarta. Hal ini dikarenakan hingga saat ini,pengelolaan masih sebatas pelestarian asset pusaka yang lebih menekankan padapengembangan aspek fisik(revitalisasi bangunan), sehingga dapat dikatakan pengelolaansecara keseluruhan belum terjadi secara optimal.

Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue