cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
ahmad.syauqi@uinjkt.ac.id
Phone
+6285117171987
Journal Mail Official
jisi.fisip@apps.uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) Faculty of Social Science and Political Science State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Kertamukti No.5 Pisangan Barat, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI)
ISSN : 28089529     EISSN : 28088816     DOI : https://doi.org/10.15408/jisi.v1i1.17105
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) is a peer-reviewed, open-access journal published by the Faculty of Faculty of Social Science and Political Science, Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) of Jakarta. It aims to publish research findings that relates to the social, political, and socio-cultural throughout the world and search for a possible solution regarding these issues.
Articles 115 Documents
The Policy Formation Process of Inclusivity PEKKA Foundation with Australian DFAT Jihan, Nur; Yudono, Raden Maisa
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i2.41723

Abstract

Abstract. This research discusses the inclusion policy formulation process conducted by Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Foundation and the Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT). This research background is the social and economic vulnerability experienced by female-headed households in Indonesia. This research examines multi-stakeholder collaboration and the process of formulating inclusive policies in Indonesia. The research method is descriptive qualitative, with interview techniques and non-participant observation. The results show that policy-making involves five stages: agenda setting, policy formulation, policy adoption, policy implementation, and policy evaluation. At each stage, both PEKKA and DFAT play their respective roles through collaboration using the multi-stakeholder partnership (MSP) approach, resulting in empowerment programs such as the Klinik Layanan Informasi dan Konsultasi (KLIK PEKKA) and the Paradigta Academy, which have increased access to basic services and political participation of the female-headed family. Keywords: Policy; female- headed family; PEKKA; DFAT; MSP Abstrak. Penelitian ini membahas proses perumusan mengenai kebijakan inklusivitas yang dilakukan oleh Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) bersama dengan Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT). Latar belakang penelitian ini adalah isu kerentanan sosial dan ekonomi yang dialami oleh perempuan kepala keluarga di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kolaborasi multi-stakeholder serta proses perumusan kebijakan inklusivitas di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik wawancara dan observasi non-partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan kebijakan melibatkan lima tahap, yaitu agenda setting, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Dalam setiap tahap, baik PEKKA maupun DFAT memainkan perannya masing-masing melalui kolaborasi menggunakan pendekatan multi-stakeholder partnership (MSP) yang menghasilkan program-program pemberdayaan seperti Klinik Layanan Informasi dan Konsultasi (KLIK) PEKKA dan Akademi Paradigta yang berhasil meningkatkan akses layanan dasar dan partisipasi politik perempuan kepala keluarga.  Kata Kunci: Kebijakan; perempuan kepala keluarga; PEKKA; DFAT; MSP 
The Phenomenon of Early Marriage in the Seginim Sub-District South Bengkulu District Yuanta, Tia; Nopianti, Heni; Widiyarti, Diyas
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i2.42331

Abstract

Abstract. Early marriage is a marriage event conducted by a man and a woman under the minimum age of marriage. As happened in Seginim Subdistrict, South Bengkulu Regency, the number of early marriages that occur is relatively high. This research uses a qualitative approach, described descriptively. The techniques used to collect data are non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation studies. The data analysis technique used in this research is the Miles and Huberman data analysis model, which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The theory used to analyze the results of this study is Max Weber's social action theory. This study found several findings, namely that early marriage was caused by marriage by accident and not wanting to go to school, lack of knowledge about marriage from both adolescents and parents of adolescents who entered into early marriage, especially regarding the provisions of the minimum age of marriage and the attitude of parents of adolescents who entered into early marriage who were not too strict with their children, especially for their children who only married because they were tired of school. So, it can be concluded that the low knowledge of adolescents regarding the essence and provisions of the minimum age of marriage. Keywords: Early marriage, Phenomena, Seginim, South Bengkulu, Teenagers. Abstrak. Perkawinan dini adalah peristiwa perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria dan wanita yang masih di bawah usia perkawinan minimal. Seperti yang terjadi di Kecamatan Seginim, Kabupaten Bengkulu Selatan, jumlah perkawinan dini yang terjadi relatif tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dijelaskan secara deskriptif. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi non-partisipan, wawancara semi-struktural, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis data Miles dan Huberman, yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini adalah teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian ini menemukan beberapa temuan, yaitu bahwa perkawinan dini disebabkan oleh perkawinan yang terjadi secara tidak sengaja dan tidak ingin melanjutkan sekolah, kurangnya pengetahuan tentang perkawinan baik dari remaja maupun orang tua remaja yang melakukan perkawinan dini, khususnya terkait ketentuan usia perkawinan minimal dan sikap orang tua remaja yang melakukan perkawinan dini yang tidak terlalu tegas terhadap anak-anak mereka, terutama untuk anak-anak mereka yang hanya menikah karena merasa lelah dengan sekolah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa rendahnya pengetahuan remaja mengenai esensi dan ketentuan usia perkawinan minimal. Kata Kunci: Perkawinan dini, Fenomena, Seginim, Bengkulu Selatan, Remaja.
Kaesang's Coat-Tail Effect: Influence and Implications for PSI's Political Branding in the 2024 Election Siregar, Kristian Hamonangan; Rahmawati, Restu
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i2.43589

Abstract

Abstract. In the Indonesian political system, the coat-tail effect phenomenon is often utilized by political parties to increase electability through popular public figures. The coat-tail effect refers to a situation where the popularity of a figure can have a positive impact on vote support for other parties or candidates affiliated with them. One example of the implementation of this strategy is the appointment of Kaesang Pangarep, President Joko Widodo's youngest son, as Chairman of the Indonesian Solidarity Party (PSI) ahead of the 2024 elections. With his popularity as a young figure and his closeness to the president, Kaesang was expected to boost PSI's votes to reach the 4% parliamentary threshold. This study aims to analyze the influence and implications of Kaesang Pangarep's Coat-tail effect in increasing the votes of the Indonesian Solidarity Party (PSI) in the 2024 Election using a political branding approach. The research method used is qualitative and non-participant observation. The results showed that despite Kaesang's high popularity as a public figure, his involvement did not succeed in pushing PSI over the 4% parliamentary threshold, with votes only reaching 2.8%. Some of the main factors that led to this failure include the weak institutionalization of PSI's ideology, delays in campaign strategy, and the negative sentiment towards dynastic politics attached to Kaesang's figure. The research also found that Kaesang's presence managed to increase public attention, especially among young voters. This finding confirms that the popularity of public figures must be balanced with a structured political branding strategy and strong party ideological values to create a significant electoral impact. Keywords: Coat-tail effect, Political branding, Indonesian Solidarity Party (PSI), Election 2024. Abstrak. Dalam sistem politik Indonesia, fenomena coat-tail effect sering dimanfaatkan oleh partai-partai politik untuk meningkatkan elektabilitas melalui tokoh-tokoh publik yang populer. Coat-tail effect mengacu pada situasi di mana popularitas seorang figur dapat membawa dampak positif terhadap dukungan suara bagi partai atau kandidat lain yang berafiliasi dengannya. Salah satu contoh penerapan strategi ini adalah pengangkatan Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang Pemilu 2024. Dengan popularitasnya sebagai figur muda dan kedekatannya dengan presiden, Kaesang diharapkan dapat mendongkrak suara PSI agar mencapai ambang batas parlemen sebesar 4%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dan implikasi Coat-tail effect Kaesang Pangarep dalam meningkatkan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Pemilu 2024 dengan menggunakan pendekatan political branding. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan observasi non-partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Kaesang memiliki popularitas tinggi sebagai figur publik, keterlibatannya tidak berhasil mendorong PSI melewati ambang batas parlemen sebesar 4%, dengan perolehan suara hanya mencapai 2,8%. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kegagalan ini meliputi lemahnya pelembagaan ideologi PSI, keterlambatan dalam strategi kampanye, dan sentimen negatif terhadap politik dinasti yang melekat pada sosok Kaesang. penelitian juga menemukan bahwa kehadiran Kaesang berhasil meningkatkan perhatian publik, terutama dari kalangan pemilih muda. Temuan ini menegaskan bahwa popularitas figur publik harus diimbangi dengan strategi branding politik yang terstruktur dan nilai ideologis partai yang kuat untuk menciptakan dampak elektoral yang signifikan. Kata Kunci: Coat-tail effect, Political Branding, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Pemilu 2024.
Political Public Sphere and Mass Media: Critical Perspective Fahrudin, Dedi; Rosyidin, Iding; Hosen, Nadirsyah
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i2.43601

Abstract

Abstract. This paper aims to explain how political public sphere occurs in Republika media. Mass media as a public sphere ideally provides space for audiences to get balanced information and news related to developing political issues. Not being an apartus of power or entrepreneurs, but bridging public interests. This study uses qualitative research with a critical paradigm.  The findings of this study are that Republika provides political public sphere for various political party backgrounds, news for Islamic and nationalist based parties are given the same space. Mass media as a public sphere is often used by rulers and businessmen for their political interests. Journalists as professional journalists can interact directly with politicians, with the limitation of not being allowed to led to the political publicity of the former owner of the Mahaka Group who became Minister of BUMN of the Republic of Indonesia. Keywords: Mass Media, Republika, Public Sphere, Politics. Abstrak. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana ruang publik politik yang terjadi di media Republika. Media massa sebagai ruang publik idealnya memberikan ruang bagi khalayak untuk mendapatkan informasi dan berita yang seimbang terkait isu-isu politik yang berkembang. Tidak menjadi apartus kekuasaan maupun pengusaha, namun menjembatani kepentingan-kepentingan publik. Kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan paradigma kritis. Temuan penelitian ini Republika memberikan ruang publik politik bagi berbagai latar belakang partai politik pemberitaan untuk partai berbasis islam maupun nasionalis diberikan ruang yang sama. Media massa sebagai ruang publik kerap digunakan oleh penguasa dan pengusaha untuk kepentingan politik mereka. Wartawan sebagai jurnalis profesional dapat berinteraksi langsung dengan politisi, dengan batasan tidak boleh masuk dalam struktur partai. Disisi lain ditemukan adanya pemberitaan yang mengarah kepada publisitas politik mantan pemilik Mahaka Grup yang menjadi Menteri BUMN Republik Indonesia. Kata Kunci: Media Masa, Republika, Ruang Publik, Politik.
Dynamics of Culture and Media Power: Analysis of Misogyny in Online News in Indonesia Susanti, Vinita; Rosyidah, Ida; Sahetapy, Elfina Lebrine
Jurnal Ilmu Sosial Indonesia (JISI) JISI: Vol. 5, No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jisi.v5i2.43702

Abstract

Abstract. This article examines the phenomenon of media misogyny occurring in the context of online news in Indonesia. A survey indicates that Indonesian society tends to choose online news as the primary source of information, allowing people to easily contribute to and consume various information. Nevertheless, news media has significant freedom to produce news without strict limitations. The consequence is the potential for the public to become victims of crimes when they are portrayed as subjects in reporting, particularly in relation to the phenomenon of media misogyny. The focus of this research is to explain how media misogyny is manifested in online reporting using a qualitative approach, involving interviews with journalists and editors, as well as an analysis of the resulting news. The theory used in this analysis is Radical Feminism. The research findings show violations of the Journalistic Code of Ethics, gender inequality manifested in the lack of women's participation in the online news production process, and the impact on the production of news that is gender-biased and misogynistic. Keywords: Radical Feminism, Media Misogyny, Gender Inequality, Media Power, Patriarchal Culture. Abstrak. Artikel ini mengkaji fenomena misogini media yang terjadi dalam konteks berita online di Indonesia. Sebuah survei menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung memilih berita online sebagai sumber informasi utama, sehingga masyarakat dapat dengan mudah berkontribusi dan mengonsumsi berbagai informasi. Meski demikian, media berita mempunyai kebebasan yang signifikan untuk menghasilkan berita tanpa batasan yang ketat. Konsekuensinya adalah masyarakat berpotensi menjadi korban kejahatan jika mereka dijadikan sebagai subjek pemberitaan, khususnya terkait dengan fenomena misogini media. Fokus penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana misogini media diwujudkan dalam pemberitaan online dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang melibatkan wawancara dengan jurnalis dan redaksi, serta analisis terhadap berita yang dihasilkan. Teori yang digunakan dalam analisis ini adalah Feminisme Radikal. Temuan penelitian menunjukkan adanya pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik, ketidaksetaraan gender yang diwujudkan dalam kurangnya partisipasi perempuan dalam proses produksi berita online, dan dampaknya terhadap produksi berita yang bias gender dan misoginis. Kata Kunci: Feminisme Radikal, Misogini Media, Ketimpangan Gender, Kekuatan Media, Budaya Patriarki.

Page 12 of 12 | Total Record : 115