cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : 28072316     EISSN : 28071670     DOI : https://doi.org/10.51878/language.v1i2.659
Core Subject : Education, Social,
LANGUAGE: Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Innovation contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Language and Literature Education
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 178 Documents
ANALISIS NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA DENGAN PENDEKATAN UNSUR INTRINSIK Desty Endrawati Subroto; Danti Rahmawati; Dian Handayani; Yuliyawati Yuliyawati
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.13081

Abstract

ABSTRACT Andrea Hirata's Ayah is not only a novel portraying a father's unconditional love but also a literary work constructed through the harmonious integration of intrinsic elements that shape its narrative quality. Although the novel has gained wide recognition among readers, comprehensive studies focusing on the interrelationship of its intrinsic elements remain limited. Therefore, this study aims to describe the intrinsic elements found in Andrea Hirata's Ayah. This research employed a descriptive qualitative method, with observation and note-taking techniques used to collect textual data. The data were analyzed through identification, classification, and interpretation of the novel's intrinsic elements, including theme, characterization, plot, setting, point of view, language style, and message. The findings indicate that the novel is dominated by the theme of paternal love and sacrifice, supported by well-developed characters, a mixed plot, settings in Belitung, Sumatra, and Australia, a third-person point of view, and language styles consisting of personification, metaphor, hyperbole, and Belitung Malay diction. These intrinsic elements are closely interconnected and function cohesively to construct a unified narrative, strengthen the novel's meaning, and enhance its literary and aesthetic value. ABSTRAK Novel Ayah karya Andrea Hirata tidak hanya mengangkat kisah kasih sayang seorang ayah, tetapi juga menyajikan struktur cerita yang kompleks melalui keterpaduan tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Meskipun novel ini telah banyak mendapat apresiasi, kajian yang mendeskripsikan unsur-unsur intrinsiknya secara menyeluruh masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat sebagai teknik pengumpulan data, sedangkan data dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi terhadap unsur intrinsik novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini memiliki tema dominan tentang kasih sayang dan pengorbanan seorang ayah yang didukung oleh penokohan yang kuat, penggunaan alur campuran, latar Belitung, Sumatra, dan Australia, sudut pandang orang ketiga, serta gaya bahasa berupa majas personifikasi, metafora, hiperbola, dan diksi Melayu Belitung. Keseluruhan unsur intrinsik tersebut saling berkaitan secara harmonis sehingga membangun cerita yang utuh, memperkuat makna, nilai estetika, serta kualitas naratif novel Ayah karya Andrea Hirata.
REPOSISI TES SEBAGAI INSTRUMEN EVALUASI REFLEKTIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERBASIS RESTITUSI DAN MINDFUL LEARNING Bhayu Anggita Subarkah; Kuntoro Kuntoro
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v5i4.9033

Abstract

ABSTRACT Learning evaluation in Indonesian Language and Literature is still dominated by the use of tests oriented toward measuring final learning outcomes, resulting in the underdevelopment of reflective and humanistic evaluation functions. This condition contributes to increased psychological pressure on students and insufficient facilitation of productive language skills development. This article focuses on a theoretical review of repositioning tests as reflective evaluation instruments based on restitution and mindful learning approaches in Indonesian Language and Literature learning. The study employs a qualitative approach with a library research design combined with conceptual-reflective analysis through stages of literature exploration, categorization of key concepts, and theoretical synthesis within the framework of restitution and mindful learning. The findings indicate that tests can be reinterpreted as pedagogical tools that promote self-reflection, learning awareness, emotional regulation, and students’ responsibility for their learning processes. The integration of restitution and mindful learning reframes errors as learning opportunities and reduces the perception of tests as judgmental tools. This approach is relevant for sustainable language assessment practices. ABSTRAK Evaluasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih didominasi oleh penggunaan tes yang berorientasi pada pengukuran hasil akhir belajar sehingga fungsi reflektif dan humanistik evaluasi belum berkembang optimal. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya tekanan psikologis peserta didik serta kurang terfasilitasinya pengembangan keterampilan berbahasa produktif. Artikel ini berfokus pada kajian teoretis reposisi tes sebagai instrumen evaluasi reflektif berbasis pendekatan restitusi dan mindful learning dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka yang dipadukan dengan analisis konseptual reflektif melalui tahapan penelusuran literatur pengelompokan konsep utama dan sintesis teoretis dalam kerangka restitusi dan mindful learning. Hasil kajian menunjukkan bahwa tes dapat dimaknai ulang sebagai sarana pedagogis yang mendorong refleksi diri kesadaran belajar regulasi emosi serta tanggung jawab peserta didik terhadap proses belajarnya. Integrasi pendekatan restitusi dan mindful learning memposisikan kesalahan sebagai peluang belajar dan mengurangi persepsi tes sebagai alat penghakiman. Pendekatan ini relevan bagi praktik penilaian bahasa berkelanjutan.
MENUMBUHKAN NALAR EKOLOGIS MELALUI SASTRA: INTEGRASI EKOKRITIK DALAM KURIKULUM SMA D. Sanusi S.H. Murti
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v5i4.9094

Abstract

Environmental education in Indonesia faces stagnation due to the dominance of cognitive-reductionist scientific approaches, often failing to engage the deeper dimensions of student consciousness. This study aims to revitalize the role of literature as a pedagogical instrument for cultivating ecological reasoning by developing ecocriticism-infused literary appreciation materials. Employing the ADDIE Research and Development (R&D) model, this study tests the construct validity of literature in bridging the gap between linguistic aesthetics and environmental ethics. Through triangulation validation (material experts, media experts, 15 practitioners) and field testing with 27 students at SMA Kolese De Britto, the research found that integrating ecocriticism across five literary genres achieved exceptionally high acceptability, with material expert validation at 92.08% and user response at 92.50%. These findings demonstrate that the ecocritical approach effectively transforms literary texts from mere rote-learning objects into dialectical spaces capable of training students' reasoning sensitivity and empathy toward the global environmental crisis. ABSTRAKPendidikan lingkungan hidup di Indonesia menghadapi tantangan stagnasi akibat dominasi pendekatan saintifik yang cenderung kognitif-reduksionistik, sehingga gagal menyentuh dimensi kesadaran terdalam siswa. Penelitian ini bertujuan untuk merevitalisasi peran sastra sebagai instrumen pedagogis dalam menumbuhkan nalar ekologis (ecological reasoning) melalui pengembangan bahan ajar apresiasi sastra bermuatan ekokritik. Menggunakan desain Research and Development (R&D) model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), penelitian ini menguji validitas konstruk materi sastra dalam menjembatani kesenjangan antara estetika bahasa dan etika lingkungan. Melalui validasi triangulasi (ahli materi, ahli media, 15 praktisi pendidikan) dan uji lapangan terhadap 27 siswa SMA Kolese De Britto, penelitian ini menemukan bahwa integrasi ekokritik dalam lima genre sastra memperoleh akseptabilitas sangat tinggi dengan skor validasi ahli materi 92,08% dan respon pengguna 92,50%. Temuan ini membuktikan bahwa pendekatan ekokritik mampu mentransformasi teks sastra dari sekadar objek hafalan menjadi ruang dialektis yang efektif untuk melatih kepekaan nalar dan empati siswa terhadap krisis lingkungan global.
AN ANALYSIS OF PREFIXES IN IKA NATASSA’S NOVEL IN ARSITEKTUR CINTA Esterlita Mandalahi; Novitasari Siagian; Grace Shinta Wulandari Siregar; Charli Marbun; Esron Ambarita
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v5i4.9108

Abstract

ABSTRACT Morphological studies in literary works are important for understanding how linguistic elements contribute to meaning construction and narrative development. This study aims to analyze the use of prefixes in the novel Arsitektur Cinta by Ika Natassa, focusing on the four most productive prefixes in Indonesian, namely di-, me-, ber-, and ter-. The research focuses on the types of prefixes used, their grammatical functions and meanings, and their contribution to character development and narrative dynamics. This study employs a qualitative descriptive method, with data collected through systematic identification, recording, and classification of prefixed words found in the novel. The analysis stages involve grouping the data based on prefix types, morphological functions, and their contextual usage in sentences. The findings show that the prefixes me- and di- are the most dominant, functioning to express actions, processes, and experiences undergone by characters, both as agents and as recipients of actions. Meanwhile, the prefixes ber- and ter- are used to depict states, spontaneous reactions, and conditions that are unintentional or static. These findings indicate that prefixes function not only grammatically but also play an important role in enriching the narrative, strengthening characterization, and supporting plot development. Thus, this study concludes that affixation is a linguistic element that makes a significant contribution to the construction of meaning and narrative dynamics in contemporary Indonesian literary works. ABSTRAK Kajian morfologi dalam karya sastra penting dilakukan untuk memahami bagaimana unsur kebahasaan berperan dalam pembentukan makna dan pengembangan narasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan prefiks dalam novel Arsitektur Cinta karya Ika Natassa dengan fokus pada empat prefiks yang paling produktif dalam bahasa Indonesia, yaitu di-, me-, ber-, dan ter-. Fokus permasalahan penelitian ini meliputi jenis prefiks yang digunakan, fungsi gramatikal dan maknanya, serta kontribusinya terhadap pembangunan karakter dan dinamika alur cerita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa identifikasi, pencatatan, dan pengklasifikasian kata-kata berprefiks yang ditemukan dalam teks novel secara sistematis. Tahapan analisis dilakukan dengan mengelompokkan data berdasarkan jenis prefiks, fungsi morfologis, dan konteks penggunaannya dalam kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefiks me- dan di- merupakan prefiks yang paling dominan digunakan, yang berfungsi untuk mengekspresikan tindakan, proses, dan pengalaman yang dialami oleh tokoh, baik sebagai pelaku maupun sebagai penerima tindakan. Sementara itu, prefiks ber- dan ter- digunakan untuk menggambarkan keadaan, reaksi spontan, serta kondisi yang bersifat tidak disengaja atau statis. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan prefiks tidak hanya berfungsi secara gramatikal, tetapi juga berperan penting dalam memperkaya narasi, mempertegas karakterisasi, dan mendukung perkembangan alur cerita. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa afiksasi merupakan unsur kebahasaan yang memiliki kontribusi signifikan dalam membangun makna dan dinamika naratif dalam karya sastra Indonesia kontemporer.
ERROR ANALYSIS OF ENGLISH CAPTIONS ON INSTAGRAM: A STUDY OF GRAMMATICAL, LEXICAL, AND PRAGMATIC ERRORS Aisyah Amru; Nasywa sakinah; Nadia Wulandari; Izzati Amirah Sari; Siti Ismahani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.12528

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesalahan kebahasaan yang ditemukan dalam caption berbahasa Inggris di Instagram dengan berfokus pada aspek gramatikal, leksikal, dan pragmatik. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan dari caption yang ditulis oleh mahasiswa sebagai penutur non-asli bahasa Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan gramatikal merupakan jenis kesalahan yang paling dominan, khususnya pada penggunaan verba dan struktur kalimat, diikuti oleh kesalahan leksikal dan pragmatik. Kesalahan-kesalahan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh interferensi bahasa pertama, overgeneralisasi, dan keterbatasan paparan terhadap penggunaan bahasa Inggris yang autentik. Penelitian ini berargumen bahwa media sosial, meskipun sering dianggap sebagai ruang komunikasi informal, mencerminkan produksi bahasa yang nyata sehingga memberikan wawasan berharga mengenai perkembangan interlanguage pembelajar. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa integrasi media sosial ke dalam pembelajaran bahasa dapat meningkatkan kesadaran pembelajar terhadap ketepatan (accuracy) dan kesesuaian penggunaan (appropriateness) bahasa Inggris. This study examines linguistic errors found in English captions on Instagram, focusing on grammatical, lexical, and pragmatic aspects. The research employs a qualitative descriptive design, with data collected from captions written by students as non-native speakers of English. The findings reveal that grammatical errors are the most dominant, particularly in verb usage and sentence structure, followed by lexical and pragmatic errors. These errors are largely influenced by first language interference, overgeneralization, and limited exposure to authentic English use. The study argues that social media, while often perceived as informal, reflects genuine language production and therefore offers valuable insights into learners’ interlanguage development. The findings suggest that integrating social media into language instruction can enhance learners’ awareness of both accuracy and appropriateness in English usage.
GRAMMATICAL ERRORS IN INDONESIAN EFL STUDENTS’ WRITING: A LIBRARY RESEARCH FROM THE PERSPECTIVES OF CONTRASTIVE ANALYSIS AND ERROR ANALYSIS Lili Elisa Rahma; Nazwa Umri Damanik; Rismayani Marpaung; Siti Ismahani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.12529

Abstract

ABSTRACT Writing is one of the most challenging skills for learners of English as a Foreign Language (EFL) because it requires the integration of linguistic, cognitive, and communicative competencies. In higher education, writing proficiency is essential for producing various academic texts; however, Indonesian EFL students continue to experience grammatical difficulties that negatively affect the quality of their writing. This study aims to examine the common grammatical errors found in the writing of Indonesian EFL students through the perspectives of Contrastive Analysis and Error Analysis. This study employed a library research design by analyzing and synthesizing relevant books, scholarly journal articles, and previous studies. The findings reveal that the most frequent grammatical errors involve tense usage, subject–verb agreement, articles, prepositions, plural forms, and sentence structure. These errors are primarily attributed to first-language transfer, overgeneralization, incomplete rule application, limited grammatical competence, and structural differences between Indonesian and English. In conclusion, Contrastive Analysis and Error Analysis provide complementary frameworks for identifying the sources of grammatical errors and serve as a valuable basis for improving the writing accuracy of EFL learners. The findings are expected to provide useful insights for teachers, curriculum developers, and researchers in designing more effective EFL writing instruction. ABSTRAK Menulis merupakan salah satu keterampilan yang paling menantang bagi pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English as a Foreign Language/EFL) karena menuntut penguasaan aspek linguistik, kognitif, dan komunikatif. Dalam pendidikan tinggi, kemampuan menulis sangat penting untuk menghasilkan berbagai karya akademik, namun mahasiswa EFL di Indonesia masih sering melakukan kesalahan gramatikal yang memengaruhi kualitas tulisan. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesalahan gramatikal yang umum ditemukan dalam tulisan mahasiswa EFL Indonesia melalui perspektif Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis) dan Analisis Kesalahan (Error Analysis). Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesalahan yang paling dominan meliputi penggunaan tenses, subject–verb agreement, artikel, preposisi, bentuk jamak, dan struktur kalimat. Kesalahan tersebut dipengaruhi oleh transfer bahasa pertama, overgeneralisasi, penerapan aturan yang tidak lengkap, keterbatasan penguasaan tata bahasa, serta perbedaan struktur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Simpulannya, Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan saling melengkapi dalam mengidentifikasi penyebab kesalahan gramatikal dan dapat menjadi landasan untuk meningkatkan akurasi menulis mahasiswa EFL. Temuan penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi guru, pengembang kurikulum, dan peneliti dalam mengembangkan pembelajaran menulis EFL yang lebih efektif.
THE IMPACT OF DAILY PRACTICE FREQUENCY ON STUDENT'S ENGLISH SPEAKING SKILL Rismayani Marpaung; Nurul Fadilah Tambunan; Tiara Sani Sinaga; Muhammad Ilham Khanis; Didik Santoso
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.12650

Abstract

ABSTRACT Speaking is a fundamental skill in learning English as a Foreign Language (EFL). However, despite years of formal instruction, many students continue to experience difficulties in speaking fluently and confidently. Moreover, empirical evidence regarding the benefits of daily English-speaking practice from students' perspectives remains limited. This study aimed to explore students' perceptions of the role of daily English-speaking practice in improving their speaking skills. A quantitative survey design was employed involving 15 students selected through purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire consisting of 15 statements covering pronunciation, fluency, vocabulary mastery, communication effectiveness, self-confidence, motivation, and overall speaking ability. The data were analyzed using descriptive statistics, including frequencies and percentages. The findings revealed that most participants held positive perceptions of daily English-speaking practice, reporting that it improved their pronunciation, fluency, vocabulary, self-confidence, and motivation while reducing their fear of making mistakes during communication. The study concludes that daily English-speaking practice is perceived as an effective strategy for enhancing EFL learners' speaking skills. These findings provide empirical support for integrating regular speaking practice into English language instruction to strengthen learners' communicative competence and improve the quality of EFL speaking instruction. ABSTRAK Berbicara merupakan keterampilan penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English as a Foreign Language/EFL). Namun, meskipun telah mengikuti pembelajaran formal, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam berbicara secara lancar dan percaya diri. Selain itu, bukti mengenai manfaat praktik berbicara bahasa Inggris setiap hari berdasarkan persepsi siswa masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi siswa terhadap peran praktik berbicara harian dalam meningkatkan keterampilan berbicara. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif dengan melibatkan 15 siswa yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 15 pernyataan yang mencakup aspek pelafalan, kelancaran, kosakata, komunikasi, kepercayaan diri, motivasi, dan kemampuan berbicara, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki persepsi positif terhadap praktik berbicara harian karena dinilai mampu meningkatkan pelafalan, kelancaran, penguasaan kosakata, kepercayaan diri, motivasi, serta mengurangi rasa takut melakukan kesalahan saat berkomunikasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik berbicara bahasa Inggris setiap hari merupakan strategi yang dipersepsikan efektif untuk mendukung pengembangan keterampilan berbicara pembelajar EFL serta memberikan dasar empiris bagi penerapan latihan berbicara secara berkelanjutan dalam pembelajaran bahasa Inggris.
THE CORRELATION BETWEEN STUDENTS’ SPEAKING ANXIETY AND THEIRORAL PROFICIENCY Reinasya Br Surbakti; Nazwa Umri Damanik; Izzati Amirah Sari; M Rafli Raja Gazali Nahulae
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.12909

Abstract

ABSTRACT This study aimed to examine the relationship between speaking anxiety and English oral proficiency among EFL students. A quantitative approach with a correlational design was employed. The sample consisted of 60 students from the Department of English Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, State Islamic University of North Sumatera (UIN-SU), selected using purposive sampling. Data were collected using the Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) and an oral proficiency test based on the IELTS Speaking Band Descriptors, and were analyzed using the Pearson Product Moment correlation. The results revealed a strong and statistically significant negative correlation between speaking anxiety and English oral proficiency (r = –0.673, p < 0.001). The coefficient of determination (r² = 0.453) indicated that 45.3% of the variance in oral proficiency was associated with speaking anxiety, while the remaining variance was likely related to other factors. These findings suggest that students with higher levels of speaking anxiety tend to demonstrate lower oral English proficiency. Therefore, English language instruction should incorporate strategies that reduce speaking anxiety while fostering a supportive learning environment to enhance students' oral communication competence. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecemasan berbicara dan kemahiran berbicara bahasa Inggris pada mahasiswa EFL. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 60 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU), yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) dan tes kemahiran berbicara menggunakan IELTS Speaking Band Descriptors, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara kecemasan berbicara dan kemahiran berbicara bahasa Inggris (r = –0.673; p < 0.001). Nilai r² = 0.453 menunjukkan bahwa 45,3% variasi kemahiran berbicara berhubungan dengan tingkat kecemasan berbicara, sedangkan sisanya kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat kecemasan berbicara yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan berbicara yang lebih rendah. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu menerapkan strategi yang mampu mengurangi kecemasan berbicara sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kompetensi komunikasi lisan.
THE IMPACT OF AI-ASSISTED SPEAKING APPLICATIONS ON EFL STUDENTS' ORAL FLUENCY AND CONFIDENCE Imelda Kurniati; Lili Elisa Rahma; Nadhifa Shofi Andara; Didik Santoso
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.13084

Abstract

ABSTRACT The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has introduced innovative language learning applications with the potential to improve English speaking skills. However, empirical evidence regarding students' perceptions of AI-assisted speaking applications, particularly their influence on oral fluency, confidence, speaking anxiety, and learning motivation, remains limited. Investigating these aspects is important because affective factors substantially influence the success of speaking performance among English as a Foreign Language (EFL) learners. This study aimed to examine students' perceptions of the impact of AI-assisted speaking applications on speaking performance and affective learning outcomes. A quantitative survey design was employed involving 15 undergraduate students from the English Education Program selected through purposive sampling. Data were collected using a structured four-point Likert-scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics. The findings revealed that 86.7% of participants perceived AI applications as improving oral fluency, 80% reported increased speaking confidence, 86.7% experienced reduced speaking anxiety, and 86.6% indicated higher motivation to practice English independently. The study concludes that AI-assisted speaking applications are effective supplementary learning tools that enhance both speaking performance and learners' psychological readiness, supporting more autonomous and sustainable EFL learning. ABSTRAK Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan berbagai aplikasi pembelajaran bahasa yang berpotensi meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris. Meskipun demikian, penelitian mengenai persepsi mahasiswa terhadap pemanfaatan aplikasi berbasis AI, khususnya yang berkaitan dengan kelancaran berbicara, kepercayaan diri, speaking anxiety, dan motivasi belajar, masih relatif terbatas. Kajian ini penting karena aspek afektif dan psikologis berperan besar dalam keberhasilan pembelajaran berbicara pada pembelajar English as a Foreign Language (EFL). Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi mahasiswa mengenai dampak penggunaan aplikasi latihan berbicara berbasis AI terhadap kemampuan berbicara dan faktor-faktor afektif yang mendukung pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei terhadap 15 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert empat poin dan dianalisis secara deskriptif menggunakan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86,7% responden menyatakan AI membantu meningkatkan kelancaran berbicara, 80% melaporkan peningkatan kepercayaan diri, 86,7% merasa speaking anxiety berkurang, dan 86,6% menyatakan AI meningkatkan motivasi berlatih secara mandiri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aplikasi berbasis AI merupakan media pendukung yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara sekaligus memperkuat kesiapan psikologis mahasiswa dalam pembelajaran EFL.
THE LEVEL OF STUDENTS' SELF-CONFIDENCE IN SPEAKING ENGLISH Celli Geovani; Aisyah Amru; Ade Aisyah Nazhwandini Panjaitan; Annisa Annisa
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.13209

Abstract

ABSTRACT Self-confidence is a crucial factor influencing students' ability to speak English. Students with high self-confidence tend to participate more actively in communication, whereas those with low self-confidence often experience anxiety and hesitation when expressing their ideas. Although the relationship between self-confidence and speaking ability has been widely investigated, empirical evidence describing students' levels of self-confidence in English-speaking contexts remains limited. Therefore, this study aimed to describe students' levels of self-confidence in speaking English. This study employed a quantitative approach using a descriptive research design. The participants consisted of 29 students from the Tadris Bahasa Inggris (TBI) Study Program, selected using total sampling. Data were collected through a 20-item questionnaire and analyzed using descriptive statistics, including mean scores, percentages, and frequency distributions. The findings revealed that the majority of students demonstrated a low level of self-confidence, with an overall mean score of 2.21, while 62.07% of the participants were classified in the low self-confidence category. Students' self-confidence was influenced by vocabulary mastery, pronunciation ability, fear of making mistakes, and classroom environment. These findings suggest that students' self-confidence profiles can serve as an empirical basis for lecturers to design more effective speaking instruction aimed at enhancing students' confidence, classroom participation, and speaking performance. ABSTRAK Kepercayaan diri merupakan faktor penting yang memengaruhi kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Inggris. Siswa dengan kepercayaan diri tinggi cenderung lebih aktif berkomunikasi, sedangkan siswa dengan kepercayaan diri rendah sering mengalami kecemasan dan keraguan saat menyampaikan ide. Meskipun hubungan antara kepercayaan diri dan kemampuan berbicara telah banyak dikaji, pemetaan tingkat kepercayaan diri siswa dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris masih memerlukan bukti empiris sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran yang lebih tepat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kepercayaan diri mahasiswa dalam berbicara bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Partisipan penelitian berjumlah 29 mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri atas 20 butir pernyataan dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa mean, persentase, dan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kepercayaan diri pada kategori rendah dengan nilai rata-rata 2,21 dan persentase 62,07%. Kepercayaan diri mahasiswa dipengaruhi oleh penguasaan kosakata, kemampuan pengucapan, rasa takut melakukan kesalahan, serta lingkungan kelas yang memengaruhi kesiapan mereka untuk berkomunikasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa profil kepercayaan diri mahasiswa dapat menjadi dasar empiris bagi dosen dalam merancang strategi pembelajaran berbicara yang lebih efektif sehingga mampu meningkatkan kepercayaan diri, partisipasi kelas, dan performa berbicara mahasiswa.