cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 404 Documents
IMPLEMENTASI METODE FIFO DALAM PENGELOLAAN BAHAN BAKU UNTUK MEMINIMALISIR MATERIAL REJECT DI UMKM GRILLSA Nur Aisyah Shinta Balqis; Susan Kustiawan; Agung Nugroho
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12811

Abstract

ABSTRACT Grillsa MSME is a culinary business facing problems in its raw material storage system due to the suboptimal implementation of the First In First Out (FIFO) method, which potentially increases the risk of material reject caused by the deterioration of raw material quality during storage. This study aims to identify the condition of the raw material storage system, analyze the factors causing material reject, and implement the FIFO method as an effort to minimize material reject at Grillsa MSME. The research employed a descriptive quantitative method with a Plan-Do-Check-Action (PDCA) approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation, while Pareto Diagram and Fishbone Diagram analyses were used to identify the dominant types and root causes of rejects. The Pareto analysis revealed that the highest reject rate was caused by meat discoloration, accounting for 71% of total rejects. Fishbone analysis indicated that the main causes were the lack of optimal FIFO implementation, the absence of shelf-life identification, and disorganized storage conditions. Improvement actions were carried out through raw material grouping based on type, storage layout rearrangement, color labeling for shelf-life identification, and the development of standard operating procedures (SOPs) for raw material storage. The implementation of FIFO resulted in a more organized storage system, easier identification and retrieval of materials according to their arrival sequence, and a reduced risk of material reject. Therefore, the FIFO method proved effective in improving raw material inventory management and maintaining raw material quality during storage. ABSTRAK UMKM Grillsa merupakan usaha kuliner yang menghadapi permasalahan pada sistem penyimpanan bahan baku yang belum menerapkan metode First In First Out (FIFO) secara optimal sehingga berpotensi meningkatkan risiko material reject akibat penurunan kualitas bahan baku selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistem penyimpanan bahan baku, menganalisis faktor-faktor penyebab material reject, serta menerapkan metode FIFO sebagai upaya meminimalisir material reject di UMKM Grillsa. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Plan-Do-Check-Action (PDCA). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan Diagram Pareto dan Diagram Fishbone untuk mengidentifikasi jenis serta akar penyebab reject yang dominan. Hasil analisis Pareto menunjukkan bahwa reject tertinggi terjadi pada daging yang mengalami perubahan warna dengan persentase sebesar 71%. Analisis Fishbone menunjukkan bahwa penyebab utama material reject meliputi belum diterapkannya FIFO secara optimal, tidak adanya identifikasi masa simpan bahan baku, serta kondisi penyimpanan yang belum teratur. Tindakan perbaikan dilakukan melalui pengelompokan bahan baku berdasarkan jenis, penataan ulang layout penyimpanan, penggunaan label warna sebagai identifikasi masa simpan, dan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penyimpanan bahan baku. Hasil penerapan FIFO menunjukkan peningkatan keteraturan sistem penyimpanan, kemudahan dalam identifikasi dan pengambilan bahan baku sesuai urutan kedatangan, serta berkurangnya risiko material reject. Dengan demikian, metode FIFO terbukti efektif dalam mendukung pengelolaan persediaan bahan baku dan menjaga kualitas bahan baku selama proses penyimpanan.  
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER K.H ABDURRAHMAN WAHID Fariz N Hidayat; Muslihah Difa Lailaturrahmah; Khanna Uly Rosyida
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.7775

Abstract

This study aims to deeply analyze and describe the concept of character education initiated by Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), who is a central figure in Indonesian Islamic and national discourse. The method employed by the author in compiling this article is Library Research, which involves collecting data sources from various literature related to the topic of discussion. Gus Dur's thinking on character education is rooted in universal Islamic values that are integrated with the social, cultural, political context, and principles of democracy. Gus Dur consistently rejected exclusive and fundamentalist approaches, instead promoting an open, tolerant, and inclusive attitude as the main foundation of education. For Gus Dur, education has a fundamental role as a source of human freedom and a means to achieve self-reliance and better quality of life. His philosophical foundation is strongly based on the principles of humanism and respect for human rights, linking these values to the basic principles of Islam (Al-Kulliyat al-Khams). He emphasized that Islamic education must liberate humanity from oppression and foster responsible freedom. Education, according to him, is an effort to humanize people (humanization) through the formation of character (akhlak), spirituality, and social awareness. The implementation of Gus Dur's ideas in the world of education centers on cultivating the value of tolerance as a primary characteristic, which respects religious plurality, culture, and worldviews. He also advocated for a humanistic and democratic education system, rejecting authoritarianism in the classroom, and encouraging students to think critically, creatively, and openly. Teachers are positioned as companions, not rulers. The core values of character education in Gus Dur's view include religiosity, honesty, tolerance, discipline, democracy, love of peace, social care, and responsibility. These values are realized in education that balances the cognitive, affective, and psychomotor domains. Specifically within the pesantren (Islamic boarding school) context, he emphasized three main values: viewing life as an act of worship, a love for religious knowledge, and sincerity (ikhlas) in work. ABSTRAKEskalasi intoleransi dan degradasi moral di era kontemporer menuntut reorientasi pendidikan karakter yang lebih substantif dan kontekstual. Namun, eksplorasi konseptual berbasis pemikiran tokoh bangsa, khususnya K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), masih minim dilakukan dalam diskursus pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi konsep pendidikan karakter Gus Dur serta relevansinya sebagai landasan moral pendidikan modern. Metode: Studi ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari literatur primer dan sekunder yang menelaah pemikiran Gus Dur terkait humanisme, keislaman, dan pendidikan. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa konstruksi pendidikan karakter Gus Dur berakar pada integrasi nilai universal Islam, humanisme, dan demokrasi. Inti gagasannya adalah "humanisasi pendidikan" yang menolak otoritarianisme kelas dan mengafirmasi kemerdekaan berpikir. Nilai karakter utama yang ditekankan meliputi toleransi, kejujuran, keadilan, serta etos khas pesantren seperti keikhlasan dan kecintaan pada ilmu. Diskusi: Konsep ini menawarkan antitesis terhadap pendidikan eksklusif melalui pendekatan inklusif yang menyeimbangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pemikiran Gus Dur mendesak untuk diinstitusionalisasi dalam kurikulum nasional dan integrasi pesantren-sekolah guna mencetak generasi yang moderat, berintegritas, dan berkewarganegaraan global.
MODEL REGENERASI KEPEMIMPINAN PESANTREN BERBASIS GOOD GOVERNANCE DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI PADA PESANTREN DARUSSALAM MARTAPURA) Zaidan Almas; Ibnu Elmi A. S Pelu; Ajeng Hijriatul Aulia
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11275

Abstract

This study aims to analyze the pattern of leadership regeneration and the implementation of good governance principles in the governance of the Darussalam Martapura Islamic Boarding School, as well as to formulate an integrative model from the perspective of Islamic Education Management. The study used a qualitative approach with a case study design. Data were obtained through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies, then analyzed using data reduction techniques, data display, and interactive conclusion drawing. The results of the study indicate that leadership regeneration occurs through a cultural mechanism based on the values ​​of trust, devotion, and moral legitimacy of the kiai, but has begun to transform into a structural pattern through task delegation and role distribution. The implementation of good governance principles is evident in the practice of participatory deliberation, internal administrative reporting, and periodic evaluation, although accountability is still predominantly based on trust and has not fully used measurable performance indicators. This study concludes that the governance of the Islamic boarding school is in a transition phase towards a more professional collective-participatory model. The theoretical contribution of this study lies in the formulation of a value-driven governance model, namely the integration of the moral-charismatic legitimacy of the Islamic boarding school and modern managerial rationality. This model emphasizes that professionalization of Islamic boarding school governance can be achieved without losing its spiritual and traditional identity. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis pola regenerasi kepemimpinan dan implementasi prinsip good governance dalam tata kelola Pesantren Darussalam Martapura, serta merumuskan model integratif dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan berlangsung melalui mekanisme kultural berbasis nilai amanah, pengabdian, dan legitimasi moral kiai, namun mulai bertransformasi menuju pola struktural melalui delegasi tugas dan distribusi peran. Implementasi prinsip good governance tampak dalam praktik musyawarah partisipatif, pelaporan administratif internal, dan evaluasi berkala, meskipun akuntabilitas masih dominan berbasis kepercayaan dan belum sepenuhnya menggunakan indikator kinerja terukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tata kelola pesantren sedang berada pada fase transisi menuju model kolektif-partisipatif yang lebih profesional. Kontribusi teoretik penelitian ini terletak pada formulasi model value-driven governance, yaitu integrasi antara legitimasi moral-karismatik pesantren dan rasionalitas manajerial modern. Model ini menegaskan bahwa profesionalisasi tata kelola pesantren dapat dilakukan tanpa menghilangkan identitas spiritual dan tradisionalnya    
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM TERHADAP BATASAN DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI SENI DI ERA DIGITAL Lelah Nurjamilah; Suci Dwi Kurniasih; Helmawati Helmawati; Iyad Suryadi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11341

Abstract

The dynamics of modern art in the digital era open up broad spaces for freedom of expression, including among students in Islamic higher education. However, artistic expression must remain in harmony with Islamic values and the boundaries of Sharia. This study aims to analyze how students at KH. Cipasung Islamic University (UNIK Cipasung) perceive art from an Islamic perspective, identify the forms of their artistic expression, and examine the reconstruction of Islamic thought that emerges. The research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including interviews, field observations, and document studies involving ten students. The findings indicate that students understand art as an expression of beauty grounded in Islamic values, as well as a medium for education and da'wah. Their freedom of expression is selective and responsible, not adopting the concept of absolute freedom typical of Western liberalism. There is a reconstruction of Islamic thought that integrates normative religious values with modern artistic practices, resulting in an adaptive, moderate, and contextual understanding. The study concludes that students are able to harmonize artistic creativity with Islamic ethical principles, ensuring that freedom of expression remains within the framework of Islamic values.  ABSTRAK Dinamika seni modern di era digital membuka ruang kebebasan berekspresi yang luas, termasuk di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Namun, ekspresi seni tetap harus selaras dengan nilai-nilai Islam dan batasan syariat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mahasiswa Universitas Islam KH. Cipasung (UNIK Cipasung) memaknai seni dalam perspektif Islam, mengidentifikasi bentuk-bentuk kebebasan berekspresi mereka, serta menelaah rekonstruksi pemikiran Islam yang berkembang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi lapangan, dan studi dokumen terhadap sepuluh mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memahami seni sebagai ekspresi keindahan yang tetap berpegang pada nilai-nilai Islam, sekaligus sebagai media edukasi dan dakwah. Kebebasan berekspresi mereka bersifat selektif dan bertanggung jawab, tidak mengadopsi konsep kebebasan absolut ala liberal Barat. Terjadi rekonstruksi pemikiran Islam yang mengintegrasikan nilai normatif agama dengan praktik seni modern, menghasilkan pemahaman yang adaptif, moderat, dan kontekstual. Simpulan penelitian ini adalah mahasiswa mampu menyelaraskan kreativitas seni dengan prinsip etika Islam, sehingga kebebasan berekspresi tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai keislaman.       
MEMBANGUN EKOSISTEM PEMBELAJARAN INKLUSIF DAN AKSESIBEL MELALUI PENDEKATAN UNIVERSAL DESIGN FOR LEARNING DI SEKOLAH DASAR Bunga Syafiq Munira; Jamil Suprihatiningrum; Vivin Ardiyanti; Futry Ayu Lestari; Khristina Antariningsih
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11431

Abstract

The diversity of student characteristics in elementary schools requires learning approaches that accommodate individual learning needs equitably. Although inclusive education has become a national policy in Indonesia, classroom practices remain largely dominated by standardized instructional approaches, limiting the fulfillment of individual learners' needs. Furthermore, studies examining the implementation of Universal Design for Learning (UDL) in fostering an inclusive and accessible learning ecosystem within Indonesian elementary schools remain limited. This study aimed to analyze the implementation of UDL, identify its supporting factors, and examine the challenges encountered during its implementation. A qualitative approach with an instrumental case study design was employed at SD Tumbuh Yogyakarta. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis, and were analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis, supported by source and method triangulation. The findings revealed that UDL implementation was realized through six main strategies: flexible co-teaching, differentiated and leveled instruction, theme-based Project-Based Learning, adaptive diagnostic and formative assessment, a rotating supporting educators model, and the provision of accessible infrastructure and learning environments. The novelty of this study lies in conceptualizing UDL as a systemic approach that integrates instructional practices, school culture, stakeholder collaboration, and supportive learning environments. These findings demonstrate that UDL has significant potential to strengthen the quality of inclusive education in Indonesian elementary schools. ABSTRAK Keberagaman karakteristik peserta didik di sekolah dasar menuntut penerapan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan belajar secara setara. Meskipun pendidikan inklusif telah menjadi kebijakan nasional, implementasi pembelajaran di lapangan masih didominasi pendekatan yang seragam sehingga kebutuhan individual peserta didik belum sepenuhnya terfasilitasi. Selain itu, kajian mengenai implementasi Universal Design for Learning (UDL) dalam membangun ekosistem pembelajaran inklusif dan aksesibel di sekolah dasar Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi UDL, mengidentifikasi faktor pendukung, serta mengkaji tantangan penerapannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus instrumental di SD Tumbuh Yogyakarta. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke yang diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi UDL diwujudkan melalui enam strategi utama, yaitu co-teaching fleksibel, diferensiasi dan leveling materi, Project-Based Learning berbasis tema, asesmen diagnostik dan formatif adaptif, supporting educators secara rotasi, serta penyediaan infrastruktur dan lingkungan belajar aksesibel. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyajian implementasi UDL sebagai pendekatan sistemik yang mengintegrasikan praktik pembelajaran, budaya sekolah, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan dukungan lingkungan belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa UDL berpotensi memperkuat kualitas pembelajaran inklusif di sekolah dasar Indonesia.
PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS DIGITAL: INOVASI KURIKULUM DAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI ERA SOCIETY 5.0 Qorri Aina
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11538

Abstract

The development of digital technology in the Society 5.0 era has brought about significant changes in the education system, including Islamic education. This situation requires Islamic educational institutions to be able to integrate learning technology with the reinforcement of religious values and the character of students. This study aims to analyze the transformation of digital-based Islamic education through the development of innovative curricula and learning media to enhance students’ character in the Society 5.0 era. The study employs a qualitative approach using library research. Data were collected from scientific journals, books, and various relevant academic sources published over the past ten years. Data collection was conducted through documentary analysis, followed by analysis using content analysis techniques involving the stages of data reduction, classification, interpretation, and drawing conclusions. The results indicate that the digitalization of Islamic education can enhance learning effectiveness through the use of technology-based learning media such as Learning Management Systems (LMS), interactive multimedia, virtual classrooms, and Islamic educational applications. In addition, the development of a digital-based curriculum can integrate 21st-century competencies with character education by strengthening students’ digital literacy, creativity, collaboration, critical thinking, and digital ethics. This study concludes that digital-based Islamic education serves not only as an educational innovation but also as a strategy for shaping a generation that is religious, adaptable, and of good character amid the development of modern technology. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital pada era Society 5.0 membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan Islam untuk mampu mengintegrasikan teknologi pembelajaran dengan penguatan nilai religius dan karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pendidikan Islam berbasis digital melalui pengembangan kurikulum dan media pembelajaran inovatif dalam meningkatkan karakter peserta didik di era Society 5.0. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui jurnal ilmiah, buku, dan berbagai sumber akademik relevan yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik content analysis dengan tahapan reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan Islam mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi seperti Learning Management System (LMS), multimedia interaktif, virtual classroom, dan aplikasi edukasi Islami. Selain itu, pengembangan kurikulum berbasis digital mampu mengintegrasikan kompetensi abad ke-21 dengan pendidikan karakter melalui penguatan literasi digital, kreativitas, kolaborasi, berpikir kritis, serta etika digital peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam berbasis digital tidak hanya berfungsi sebagai inovasi pembelajaran, tetapi juga sebagai strategi dalam membentuk generasi religius, adaptif, dan berkarakter di tengah perkembangan teknologi modern.  
MANAJEMEN PROGRAM ADIWIYATA DALAM MEMBENTUK BUDAYA SEKOLAH PEDULI LINGKUNGAN Esih Rusmiati; Helmawati Helmawati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11580

Abstract

The increasing complexity of environmental problems requires education to play a strategic role in fostering students’ ecological awareness through sustainable programs. The Adiwiyata Program, as a national policy in Indonesia, aims to develop environmentally responsible and cultured schools; however, its implementation often reveals a gap between administrative achievements and actual behavioral change. This study aims to analyze the management of the Adiwiyata Program based on the planning, organizing, actuating, and controlling (POAC) cycle in fostering an environmentally conscious school culture. A qualitative approach with a case study design was employed in two elementary schools in Bandung. Data were collected through observations, in-depth interviews, and document analysis, and analyzed using an interactive model. The findings indicate that program effectiveness is not determined by the intensity of activities but by the integration quality of managerial functions. In the planning dimension, administrative orientation tends to dominate over contextual strategies. Organizing shows indications of pseudo-participation, while implementation risks becoming routine activities without meaningful value internalization. In the controlling stage, evaluation practices tend to reinforce administrative compliance rather than cultural transformation. This study concludes that the effectiveness of the Adiwiyata Program depends on shifting from compliance-based management to culture-based management, emphasizing sustainable ecological awareness. ABSTRAK Permasalahan lingkungan hidup yang semakin kompleks menuntut peran strategis pendidikan dalam membentuk kesadaran ekologis peserta didik melalui program yang berkelanjutan. Program Adiwiyata sebagai kebijakan nasional bertujuan mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, namun implementasinya masih menghadapi kesenjangan antara capaian administratif dan perubahan perilaku nyata. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam manajemen Program Adiwiyata berbasis siklus planning, organizing, actuating, dan controlling dalam membentuk budaya sekolah peduli lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada dua sekolah dasar di Kota Bandung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh intensitas kegiatan, tetapi oleh kualitas integrasi fungsi manajemen. Pada dimensi perencanaan ditemukan kecenderungan dominasi administratif dibandingkan pendekatan kontekstual. Pengorganisasian masih menunjukkan gejala partisipasi semu, sementara pelaksanaan berpotensi terjebak dalam rutinitas tanpa internalisasi nilai. Pada tahap pengawasan, evaluasi cenderung menghasilkan kepatuhan administratif dibandingkan transformasi budaya. Simpulan penelitian menegaskan bahwa efektivitas Program Adiwiyata hanya dapat dicapai melalui pergeseran dari compliance-based management menuju culture-based management yang berorientasi pada pembentukan kesadaran ekologis secara berkelanjutan.    
THE EFFECT OF DEEP LEARNING-BASED TECHNICAL GUIDANCE ON TEACHING QUALITY AND STUDENT LEARNING OUTCOMES IN JUNIOR HIGH SCHOOLS IN PABUARAN DISTRICT Yoga Rahayu; Ine Rahayu Purnamaningsih; Yuyun Yuningsih
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11651

Abstract

Improving the quality of education is strongly influenced by the quality of teachers in implementing the learning process. One effort to enhance teacher competence is through Deep Learning-Based Technical Guidance (Bimtek). This study aims to analyze the effect of deep learning-based training on teaching quality and student learning outcomes in junior high schools in Pabuaran District, Subang Regency. The study used a quantitative approach with a survey method involving 60 teachers from five schools (four public and one private). Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using linear regression. The results indicate that deep learning-based training has a positive and significant effect on teaching quality and student learning outcomes, with a coefficient of determination of 0.56. This shows that the training contributes 56% to the improvement of both variables. These findings suggest that continuous development of training programs tailored to teacher needs is essential to improve the quality of learning in schools. ABSTRAK Peningkatan kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi guru adalah melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Berbasis Deep Learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan berbasis deep learning terhadap kualitas mengajar dan hasil belajar siswa di sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan 60 guru dari lima sekolah (empat negeri dan satu swasta). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan berbasis deep learning memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kualitas mengajar dan hasil belajar siswa, dengan koefisien determinasi sebesar 0,56. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan berkontribusi sebesar 56% terhadap peningkatan kedua variabel tersebut. Temuan ini menyarankan bahwa pengembangan program pelatihan yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan guru sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.    
PELINDUNGAN HAK CIPTA KARYA ILMIAH BERBASIS KECERDASAN BUATAN DI INDONESIA Linawati Linawati; Sri Astutik; Ernu Widodo; Subekti Subekti; Nur Handayati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11765

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) has brought significant changes to the academic world, particularly in the process of writing scientific papers. AI is now being used for literature searches, data analysis, outlining, and automated text generation. This utilization presents new legal issues related to the copyright status of AI-based scientific works. This study aims to analyze the legal status of AI-generated scientific works under Indonesian copyright law and the forms of legal protection that can be provided. The research method used is normative law with a statutory and conceptual approach. The results show that based on Law Number 28 of 2014 concerning Copyright, AI cannot be considered a creator because it is not a legal subject with will and the capacity for legal responsibility. Copyright protection can only be granted if humans hold primary control and make a dominant intellectual contribution, thus positioning AI as a limited academic tool. The use of AI without clear attribution has the potential to violate the moral rights of creators and harm scientific ethics. Therefore, it is necessary to strengthen adaptive national regulations and develop academic guidelines in higher education to ensure legal certainty, transparency, and academic integrity. ABSTRAK Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan signifikan dalam dunia akademik, khususnya proses penyusunan karya ilmiah. AI kini dimanfaatkan untuk penelusuran literatur, analisis data, pembuatan kerangka, hingga penyusunan teks otomatis. Pemanfaatan ini menghadirkan persoalan hukum baru terkait status hak cipta karya ilmiah berbasis AI. Penelitian ini bertujuan menganalisis status hukum karya ilmiah yang dihasilkan AI berdasarkan hukum hak cipta Indonesia serta bentuk perlindungan hukum yang dapat diberikan. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, AI tidak dapat berkedudukan sebagai pencipta karena bukan subjek hukum yang memiliki kehendak serta kapasitas tanggung jawab yuridis. Perlindungan hak cipta hanya dapat diberikan apabila manusia memegang kendali utama dan memberikan kontribusi intelektual yang dominan, sehingga AI diposisikan sebatas alat bantu akademik. Pemanfaatan AI tanpa atribusi yang jelas berpotensi melanggar hak moral pencipta serta mencederai etika keilmuan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi nasional yang adaptif serta penyusunan pedoman akademik di perguruan tinggi untuk menjamin kepastian hukum, transparansi, dan integritas akademik.    
DIFFERENTIATED LEARNING MODEL IN ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION TO REALIZE INCLUSIVE LEARNING AT LES ASIFA TUTORING INSTITUTION Nabilla Sifa; Muhlisin Muhlisin; Rahmi Anekasari
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11810

Abstract

The focus of adaptive teaching models has so far been dominated by formal school environments, while empirical analysis of their implementation in non-formal tutoring institutions remains very limited. This issue highlights the importance of reconstructing out-of-school pedagogical governance to equitably address the diversity of children's characteristics. This study aims to explore the implementation of a differentiated learning model in Islamic Religious Education (IS) to achieve inclusive student learning. The research steps were carried out using a descriptive qualitative approach through a structured phenomenological design. The actual data collection procedure was collected in-depth from five tutors and thirty-five students at the Les Asifa Tutoring Institute through field observations, interviews, and written documentation, which were then analyzed using thematic methods. The research findings indicate that the differentiation strategy successfully operated through flexible class classification based on student learning readiness, including small-group intervention classes, intensive classes, and advanced classes. This synergy proved effective in increasing emotional participation, intrinsic motivation, and self-confidence in children without any social discrimination. The main conclusion confirms that this teaching model successfully realized an inclusive ecosystem through substantive modifications to the content, process, and product aspects that were adaptive to individual needs. Tutoring practitioners are recommended to draft teaching modules based on mapping students' initial abilities on a regular basis to ensure the continued quality of contemporary educational processes. ABSTRAK Fokus model pengajaran adaptif sejauh ini masih didominasi oleh lingkungan sekolah formal, sedangkan analisis empiris mengenai penerapannya di lembaga bimbingan belajar non-formal masih sangat terbatas. Masalah tersebut memicu pentingnya rekonstruksi tata kelola pedagogis luar sekolah guna merespons keberagaman karakteristik anak secara adil. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi implementasi model pembelajaran diferensiasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mewujudkan inklusivitas belajar siswa. Langkah-langkah penelitian dijalankan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui desain fenomenologi yang terstruktur. Prosedur pengumpulan data aktual dihimpun secara mendalam dari lima tutor dan tiga puluh lima siswa di Lembaga Bimbingan Belajar Les Asifa melalui teknik observasi lapangan, wawancara, serta dokumentasi tertulis, yang selanjutnya dianalisis menggunakan metode tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi diferensiasi berhasil dioperasikan melalui pengklasifikasian kelas yang fleksibel berdasarkan kesiapan belajar siswa, meliputi kelas intervensi kelompok kecil, kelas intensif, hingga kelas unggulan. Sinergi ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi emosional, motivasi intrinsik, serta rasa percaya diri anak tanpa adanya diskriminasi sosial. Simpulan utama menegaskan bahwa model pengajaran ini sukses merealisasikan ekosistem inklusif melalui modifikasi substansif pada aspek isi, proses, dan produk yang adaptif terhadap kebutuhan individu. Praktisi bimbingan belajar direkomendasikan menyusun draf modul ajar berbasis pemetaan kemampuan awal murid secara berkala demi menjamin keberlanjutan mutu proses edukasi kontemporer.