cover
Contact Name
Abu Hamid
Contact Email
abu@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+6285769226006
Journal Mail Official
jurnalgigi@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Jl. Sukabangun I No.1159, Suka Bangun, Sukarami, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30151
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
ISSN : 26572486     EISSN : 27461769     DOI : https://doi.org/10.36086/jkgm.v3i2
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) (ISSN: 2746-1769, eISSN: 2657-2486) is an Indonesian language open journal, which publishes research articles, which are original, innovative, up-to-date, and applicable in all areas of dental and oral health. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) is published by Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Palembang twice a year,every June and December Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) is Journal Published Original research papers focused on : Dental Nursing, Preventive Dentistry, Restorative Dentistry, Dental and Oral Health Promotion, Dental Health Management, Dental Disease Prevention
Articles 171 Documents
DESAIN APLIKASI DENTAL INFORMATION UNTUK PENYULUHAN MENGENAI KARIES GIGI Gunawan, Rezky Aditya; Putri, Megananda Hiranya; Fatimah, Siti; Ningrum, Nining
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2250

Abstract

Latar Belakang: Penyuluhan kesehatan gigi dapat dilakukan di klinik gigi setelah tindakan pemeriksaan yang disebut chair side talk (CST) dengan menggunakan media yang tersedia. Pada era modernisasi saat ini masih sedikit media aplikasi digital yang menyediakan beberapa gabungan platform informasi kesehatan gigi dalam satu aplikasi. Oleh karena itu, penting dilakukan perancangan sebuah aplikasi penyuluhan kesehatan gigi yang bernama dental information. Metode: Metode penelitian yang digunakan ialah metode prototype dengan melalui tiga tahapan yaitu mendengarkan kebutuhan pengguna, membangun dan memperbaiki aplikasi, serta penilaian aplikasi Hasil: Pada hasil penelitian didapatkan kebutuhan pengguna meliputi akses informasi yang mudah, cepat dan akurat, media informasi digital untuk proses penyuluhan yang lebih efisien, dan dua pengguna (operator dan klien) yang dapat mengoperasikan aplikasi, untuk rancangan sistem aplikasi terdiri dari diagram konteks, flowchart, dan tampilan antar muka disertai dengan penilaian kelayakan yang memperoleh 100% dari ahli IT, penilaian kesesuaian materi yang memperoleh hasil 86% dari ahli materi keduanya termasuk dalam kategori sangat layak, serta penilaian pengalaman pengguna yang memperoleh hasil 86,4% yang termasuk kategori sangat layak yang disertai saran revisi aplikasi dan pernyataan positif pengguna setelah menggunakan aplikasi. Kesimpulan: Rancangan aplikasi penyuluhan berupa dental information telah ditemukan dan dinyatakan sangat layak digunakan sebagai media bantu untuk kegiatan chair side talk (CST).
HUBUNGAN TINDAKAN PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DENGAN KEJADIAN RESESI GINGIVA PADA MASYARAKAT KABUPATEN ACEH BESAR Triana, Minanda Nanda; Keumala, Cut Ratma
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2288

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi berdampak pada kesehatan gigi dan mulut. Resesi gingiva adalah perubahan posisi tepi gingiva ke arah apikal dari cemento enamel junction karena hilangnya jaringan perlekatan tulang alveolar sehingga mengakibatkan terbukanya permukaan akar gigi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan kejadian resesi gingiva pada masyarakat di desa Lampeuneurut Gampong Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional. Populasi seluruh masyarakat usia produktif antara 15-50 tahun di desa Lampeuneurut Gampong. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan mengisi lembar kuesioner. Resesi gingiva diperoleh melalui pemeriksaan langsung dan dilihat tingkat keparahan resesi gingiva. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 59 orang. Hasil: hasil analisis menggunakan uji Chi Square mendapatkan nilai p=0,002. Kesimpulan: simpulan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan kejadian resesi gingiva. Kata kunci : Tindakan pemeliharaan kesehatan gigi, resesi gingiva ABSTRACT Background: The successful maintenance of dental health has an impact on oral and dental health. Gingival recession is a change in the position of the gingival edge towards the apical of the cemento enamel junction due to loss of alveolar bone attachment tissue resulting in the opening of the tooth root surface. Objective: This study aims to determine the relationship between dental health maintenance measures and the incidence of gingival recession in the community in Lampeuneurut Gampong village, Darul Imarah District, Aceh Besar Regency. Methods: This research is an analytical research with a cross sectional design. The population of the entire productive age community is between 15-50 years old in the village of Lampeuneurut Gampong. Data collection was carried out by interviewing dental health maintenance measures by filling out questionnaire sheets. Gingival recession is acquired through direct examination and looking at the severity of gingival recession. The number of respondents in this study was 59 people. Results: The results of the analysis using the Chi Square test get a value of p = 0.002. Conclusion: The conclusion of this study shows the relationship between dental health maintenance measures and the incidence of gingival recession. The author's suggestion is that the government should pay more attention to the degree of dental and oral health of the community, through various programs to improve dental and oral health services in puskesmas. Keywords : Dental health maintenance measures, gingival recession
RESTORASI KARIES GIGI PADA ANAK USIA 6 TAHUN 6 BULAN SEBAGAI PERSIAPAN PALATOPLASTY : LAPORAN KASUS Sari, Nendika Dyah Ayu Murika; Santoso, Al. Supartinah
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2303

Abstract

Latar belakang: Palatoschisis merupakan suatu kondisi defek lahir yang ditandai terbentuknya pembukaan atau belahan tidak wajar pada palatum. Anak dengan palatoschisis sering mengalami kecacatan pada alveolar ridge yang berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan gigi dan meningkatnya kejadian karies. Gigi yang mengalami karies dengan kedalaman email atau dentin harus dilakukan restorasi sebagai persiapan operasi palatoschisis. Tujuan: untuk melaporkan perawatan restorasi karies gigi pada anak usia 6 tahun 6 bulan sebagai persiapan palatoplasty. Kasus: Anak laki – laki berusia 6 tahun 6 bulan dirujuk dari bagian bedah mulut untuk dilakukan perawatan tambal gigi sebelum dilakukan pembedahan pada celah langit - langit. Pernah dilakukan perawatan penutupan celah bibir dan celah langit – langit. Penutupan celah langit – langit sudah dilakukan sebanyak 8 kali namun selalu kembali terbuka celahnya. Operasi celah bibir dan celah langit – langit sudah dilakukan sejak anak berusia sekitar 6 bulan. Hasil pemeriksaan intra oral didapatkan nilai def-t indeks adalah 17. Tatalaksana: Perawatan yang dilakukan adalah melakukan restorasi pada gigi yang terdiagnosis karies dentin. Pada rahang atas isolasi harus lebih adekuat agar tidak ada material yang masuk ke dalam celah. Penggunaan kaca mulut disarankan dengan yang tidak berembun atau agak dimiringkan agar tidak terkena udara dari celah. Gigi yang radiks dan luksasi akan dikembalikan ke dokter gigi bedah mulut untuk dilakukan perawatan ekstraksi. Kesimpulan: Perawatan gigi pada anak dengan palatoschisis penting dilakukan terutama untuk persiapan operasi. Restorasi pada gigi pada rahang atas harus dengan isolasi yang adekuat dan menggunakan kaca mulut yang tidak berembun atau dapat dimiringkan untuk menghindari terkena udara dari celah.
PERENDAMAN JUS KEMASAN TERHADAP KEKASARAN DAN KEKERASAN RESIN KOMPOSIT NANOHIBRID Anjani, salsabila; Melaniwati, Melaniwati; Dwisaptarini, Ade Prijanti; Stefani, Rosita
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2372

Abstract

Latar belakang: Resin komposit nanohybrid merupakan kombinasi antara nanopartikel dan microhybrid, yang memiliki banyak kelebihan. Resin komposit nanohybrid memiliki kekurangan yaitu absorpsi cairan. Bahan makanan atau minuman yang mengandung asam dapat berpengaruh pada kekasaran dan kekerasan resin komposit nanohybrid. Jus jambu biji kemasan mengandung asam dan mempunyai nilai pH yang rendah. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh perendaman jus jambu biji merah kemasan terhadap kekasaran dan kekerasan resin komposit nanohybrid. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan post test with control group design dengan jumlah sampel sebanyak 24 sampel resin komposit nanohybrid yang dibentuk menggunakan stainless steel mold berdiameter 10 mm dan ketebalan 2 mm (sampel dibagi menjadi 2 kelompok; kelompok perlakuan dan kelompok kontrol). Kelompok kontrol direndam selama 24 jam dalam saliva buatan, sedangkan kelompok perlakuan direndam selama 6 jam dalam jus jambu biji merah kemasan dilanjutkan dengan perendaman dalam saliva buatan selama 18 jam. Perendaman sampel dilakukan selama 4 hari dalam inkubator dengan suhu 37°C. Uji kekasaran permukaan menggunakan surface roughness tester dan uji kekerasan menggunakan micro vickers hardness. Hasil: Berdasarkan uji analisa one way ANOVA, kekasaran permukaan (p: 0,001) dan kekerasan (p: 0,003) menunjukkan perbedaan perubahan bermakna (p<0,05). Kesimpulan: Perendaman menggunakan jus jambu biji merah kemasan setelah direndam 6 jam selama 4 hari terjadi peningkatankekasaran dan penurunan kekerasan.
PENGGUNAAN MYLAR MATRIX PADA RESTORASI KELAS III KOMPOSIT POST PERAWATAN INDIRECT PULP CAPPING: LAPORAN KASUS Dania, Ayu Rahma; Nurdin, Denny
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2383

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Keberhasilan restorasi direk komposit pada zona estetik memerlukan pemahaman komprehensif mengenai anatomi gigi, ilmu tentang warna dan material. Aspek paling menantang yaitu mendapatkan kontur yang tepat dan kontak proksimal yang rapat. Mylar matrix umum digunakan pada restorasi kelas III dan IV komposit yang dapat membantu mencapai kontur anatomi estetik yang ideal. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan penggunaan Mylar matrix pada restorasi kelas III komposit post perawatan indirect pulp capping.. Laporan Kasus: Pasien perempuan usia 48 tahun datang dengan keluhan gigi berlubang pada kiri depan rahang atas dan terasa ngilu saat minum dingin, namun keluhan hilang saat stimulus dihilangkan. Pasien didiagnosis mengalami reversible pulpitis gigi 23, lalu dirawat dalam 3 kali kunjungan dengan restorasi kelas III komposit disertai aplikasi bahan pulp capping. Pada tahapan restorasi, Mylar matrix digunakan untuk membantu membentuk kembali kontur gigi tersebut. Pembahasan: Mylar matrix digunakan pada restorasi komposit untuk membentuk dinding sementara saat permukaan proksimal gigi telah hilang. Matriks ini dapat membantu penempatan dan pembentukan bahan restorasi. Mylar matrix menawarkan keunggulan dalam kemudahan penggunaannya, tersedia secara luas, murah, membantu penyelesaian restorasi dalam waktu yang cepat, dan hasil yang baik. Kesimpulan: Perawatan kasus pulpitis reversible dengan lesi karies dalam dengan indirect pulp capping dilanjutkan restorasi kelas III komposit dengan penggunaan Mylar matrix pada prosedurnya terbukti berhasil. Vitalitas pulpa terjaga tanpa keluhan subjektif dan pasien puas dengan hasil restorasi secara keseluruhan. Kata kunci : Mylar matrix, restorasi kelas III komposit, indirect pulp capping ABSTRACT Background: The success of direct composite restorations in the esthetic zone requires a comprehensive understanding of tooth anatomy, color and material. The most challenging aspect is getting the contour right and the proximal contact tight. Mylar matrix is ​​commonly used in class III and IV composite restorations that helps to achieve ideal aesthetic anatomical contours. This case report aims to explain the use of Mylar matrix in Class III composite restorations post indirect pulp capping treatment. Case Report: A 48 year old female patient came with complaints of cavities in the left front of the upper jaw and felt sore when drinking cold drinks, but the complaints disappeared when the stimulus was removed. Patient was diagnosed with reversible pulpitis of tooth 23, and was treated in 3 visits with a class III composite restoration accompanied by the application of pulp capping material. At the restoration stage, Mylar matrix is ​​used to reshape the contour of the tooth. Discussion: Mylar matrix is ​​used in composite restorations to form a temporary wall when the proximal surface of the tooth has been lost. This matrix can assist in the placement and shaping of restorative materials. Mylar matrix offers advantages in ease of use, widely available, cheap, helps complete restorations in a fast time, and good results. Conclusion: Treatment of cases of reversible pulpitis with deep carious lesions with indirect pulp capping followed by class III composite restorations using Mylar matrix in the procedure has proven successful. Pulp vitality was maintained without subjective complaints and the patient was satisfied with the overall results of the restoration. Key words: Mylar matrix, class III composite restoration, indirect pulp capping
PREVALENSI KASUS GINGIVITIS KRONIS DI POLIKLINIK GIGI UPTD PUSKESMAS BATURITI I, TABANAN BALI PADA BULAN NOVEMBER 2023 - JANUARI 2024 Ayuning Pratiwi, I Gusti; Wirya Pratama, I Wayan Agus
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2415

Abstract

Kesehatan mulut sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan, dan rasa percaya diri.“Hasil survei World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa hampir 90% penduduk di dunia menderita gingivitis. Gingivitis merupakan penyakit peradangan pada jaringan gingiva yang banyak diderita masyarakat di Indonesia. Di Indonesia, gingivitis menduduki urutan kedua yaitu mencapai 96,58%.Penelitian ini adalah jenis penelitian observasional yang menggunakan metodologi cross-sectional.Hasil penelitian pada kasus gingivitis menunjukan bahwa indikasi gingivitis yang paling sering terjadi pada perempuan yang khususnya pada ibu hamil. Penyebab gingivitis selama kehamilan adalah kurangnya kebersihan gigi dan mulut serta jaringan sekitarnya, terutama pada trimester pertama yang berkaitan dengan mual, muntah, hiperemesis gravidarum, keengganan, dan kurangnya perhatian untuk membersihkan gigi dan mulut setelah makan, sehingga plak terbentuk dengan cepat. Prevalensi kunjungan pasien gingivitis berdasarkan jenis kelamin menunjukan bahwa jumlah pasien perempuan lebih dominan daripada perempuan, dan berdasarkan usia menunjukan lebih banyak terjadi pada usia 11-15 tahun dengan dan pasien dengan usia > 60 tahun paling sedikit yaitu sebanyak 2 pasien.
PERBEDAAN PENYULUHAN MEDIA DENTAL BRAILLE EDUCATION (DBE) DAN DENTAL AUDIO EDUCATION (DAE) TERHADAP PENGETAHUAN ORAL HYGIENE PADA PENYANDANG TUNANETRA DI SDLB A PAJAJARAN BANDUNG Aprilianty, Windy Marsella; Nurjanah, Neneng; Utami, Ulfah; Fatimah, Siti
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2418

Abstract

Background: The limitations of blind children are one of the obstacles to gaining knowledge about dental and oral hygiene. Blind children need appropriate media to increase their knowledge of dental and oral hygiene. One of them uses braille and audio. The aim of this research is to determine the difference between dental braille education (DBE) and dental audio education (DAE) on oral hygiene knowledge for blind people at SDLB A Pajajaran Bandung. Methods: This research method uses a quasi-experiment with a one group pretest posttest design. Sampling was carried out using a proportional sampling technique so that the number of respondents was 50 students. The data analysis technique uses the Wilcoxon test to determine the effect of each media group and the Mann Whitney test to determine the differences between the two media groups. Results: The research results showed that there was a significant difference in the level of knowledge with a value of p=0.000 (p<0.05) in counseling on dental braille education (DBE) and dental audio education (DAE) media. Conclusion: It can be concluded that counseling using dental audio education (DAE) media is more effective in increasing knowledge of dental and oral hygiene than dental braille education (DBE) media.
PENGARUH MEDIA PUZZLE PADA PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK DOWN SYNDROME DI RUMAH KEDUAKU PIK POTADS KOTA BANDUNG Isniati, Isniati; Nurjanah, Neneng; Nuraningsih, Hera; Putri, Megananda Hiranya
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2420

Abstract

Background: Down syndrome children have an IQ level below normal which makes it difficult to understand and accept material when given using standard methods. The material can be delivered using puzzle media tools. Puzzle is a game of arranging small pieces to find out the information contained. The aim of this research was to determine the effect of puzzle media on the dental and oral health knowledge of children with Down syndrome at PIK POTADS Bandung. Methods: This research method uses a pre-experiment with a One Group Pretest Posttest design. The subjects were 33 Down syndrome children divided into 4 groups accompanied by an enumerator in each group. Pretets were carried out in the form of activities to assemble puzzles independently, then education was given about how to brush your teeth and eat healthy 3 times on 3 different days. Education is accompanied by the use of a jaw model to clarify tooth brushing movements. The post test is carried out in the same way as the pre test. Data analysis used the Wilcoxon test. Results: The results show the Sig value. 0.000 (p0.05). Where puzzle media games can develop creativity and motivation in solving problems, so that children want to try continuously until the game is successful. Conclusion: There is an influence of providing education using puzzles on the knowledge of oral and dental health of Down Syndrome children
SOCIAL SUPPORT ORANG TUA DOWN SYNDROME TENTANG KESEHATAN GIGI BERDASARKAN KARAKTERISTIK TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN Ulfah, Siti Fitria; Marjianto, Agus
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2430

Abstract

Latar belakang: Down Syndrom merupakan kondisi genetik yang menyebabkan berbagai tantangan dalam perkembangan fisik dan intelektual. Down syndrom seringkali tidak dapat menjaga kebersihan mulut mereka sendiri, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan gigi seperti penyakit periodontal. Oleh karena itu social support dari orangtua sangat dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan dalam pemeliharaan kesehatan gigi mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis social support yang diterima oleh orang tua yang memiliki anak Down Syndrome berdasarkan karakteristik level pendidikan dan pekerjaan. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SLB wilayah kota Surabaya melibatkan 14 SLB yang memiliki down syndrom. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah orangtua down syndrom berjumlah 100 orang, dengan menggunakan teknik simple random sampling. Karakteristik responden diperoleh melalui data primer demografi, sedangakan social support diperoleh melalui pengisian kuisioner. Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan social support dengan karakteristik pendidikan dan pekerjaan orangtua down syndrom. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan social support yang diterima orangtua down syndrom (p value 0.005 < 0.05) ; terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan social support orangtua down syndrom (p value 0.009 < 0.05) Kesimpulan: Tingkat pendidikan dan pekerjaan orangtua down syndrom memberikan efek social support yang diterima orangtua down syndrom dalam hal kesehatan gigi anaknya. Kedepannya disarankan untuk mengembangkan program intervensi yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam merawat kesehatan gigi anak down syndrom Kata kunci: Tingkat Pendidikan, Pekerjaan, Social Support . Abstract Background: Down Syndrome is a genetic condition that causes various challenges in physical and intellectual development. Down syndrome often cannot maintain their own oral hygiene, which can lead to dental health problems such as periodontal disease. Therefore, social support from parents is needed to overcome difficulties in maintaining their dental health. The purpose of this study was to analyze the social support received by parents who have Down Syndrome children based on the characteristics of education level and occupation. Method: This study is an analytical study using a cross-sectional approach. The study was conducted in SLB in the city of Surabaya involving 14 SLB with Down syndrome. The respondents involved in this study were 100 Down syndrome parents, using a simple random sampling technique. Respondent characteristics were obtained through primary demographic data, while social support was obtained through filling out a questionnaire. Chi-Square was used to analyze the relationship between social support and the characteristics of education and occupation of Down syndrome parents. Results: there is a significant relationship between education level and social support received by Down syndrome parents (p value 0.005 <0.05); there is a significant relationship between work and social support of parents with Down syndrome (p value 0.009 < 0.05) Conclusion: The level of education and work of parents with Down syndrome have an effect on the social support received by parents with Down syndrome in terms of their children's dental health. In the future, it is recommended to develop intervention programs that focus on improving their knowledge and skills in caring for the dental health of children with Down syndrome
PENATALAKSANAAN GIGI LUKSASI EKSTRUSI PADA GIGI SULUNG – TINJAUAN PUSTAKA Muthia, Rafidah Syifa; Yasmin, Ulfa
Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkgm.v6i2.2439

Abstract

Cedera traumatik gigi (TDI) dan jaringan penyangga merupakan kasus yang sering terjadi pada anak-anak. Sekitar 30-40% anak-anak mengalami trauma pada gigi sulung dengan rentang usia 2 – 6 tahun. TDI pada gigi sulung merupakan ancaman besar bagi kesehatan karena dapat mengganggu fungsi bicara, pengunyahan, estetika, dan erupsi gigi tetap sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan gigi serta rahang. Luksasi ekstrusi merupakan salah satu trauma yang sering terjadi, dimana gigi lepas sebagian dari soketnya dan tampak memanjang. Oleh karena itu, penatalaksanaan gigi luksasi ekstrusi pada anak membutukan diagnosis yang tepat, rencana perawatan dan follow-up untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik.