cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 111 Documents
Pendidikan Agama Kristen sebagai Landasan Etika Bermedia Sosial di Tengah Keberagaman Elieser R. Marampa; Agustina Siburian; Kristian Sukatman; Eva Ros Lince Tambunan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.357

Abstract

This study is motivated by the rapid development of digital technology, which has influenced patterns of communication and social interaction particularly on social media thereby giving rise to various ethical issues such as the spread of misinformation, hate speech, and cyberbullying within a diverse society. This situation underscores the importance of an ethical foundation for fostering responsible social media behavior. This study aims to analyze the contribution of Christian Religious Education as an ethical foundation for social media use amidst diversity. The method used is a qualitative approach through a literature review, with data collected from books, journal articles, and relevant documents, analyzed using content analysis techniques. The results of the study indicate that CRE plays a role in shaping social media ethics through the instillation of values such as love, honesty, responsibility, and tolerance, which are manifested in digital awareness, an attitude of respecting differences, and wise digital literacy skills. Thus, CREserves as a foundation for fostering ethical, responsible, and civilized social media behavior. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi digital yang memengaruhi pola komunikasi dan interaksi sosial secara khususnya penggunaan media sosial yang sering memunculkan berbagai persoalan etika seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan siber di tengah masyarakat yang beragam. Kondisi ini menunjukkan pentingnya landasan etis untuk membentuk perilaku bermedia sosial yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan menganalisis Pendidikan Agama Kristen sebagai landasan etika bermedia sosial di tengah keberagaman. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pengumpulan data dari buku, artikel jurnal, dan dokumen relevan, yang dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berperan penting dalam membentuk etika bermedia sosial melalui penanaman nilai kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi, yang diwujudkan dalam kesadaran digital, sikap menghargai perbedaan, serta kemampuan literasi digital yang bijak. Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen; Etika Bermedia Sosial;
Penatalayanan sebagai Manifestasi Spiritualitas Pentakosta dalam Konteks Digitalisasi Pelayanan Gereja Elsye Ribkah Runkat; Bondan Darmawan Abraham; Simon Simon
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.338

Abstract

This article focuses on outlining what service as Pentecostal spirituality looks like in the context of digitalization in the church. The researcher elaborates on this topic based on the need for the Pentecostal church to contextualize its ministry in the current era of digitalization. This study also serves as an effort by the researcher to propose that the Pentecostal spirituality, which has traditionally been manifested conventionally, needs to be explored in the digital space. In outlining this study, the researcher applies a literature review approach combined with constructive theological analysis. The research question posed is: what is the reconstruction of Pentecostal stewardship theology in the digital space? The findings of this study reveal that Pentecostal spirituality is not understood as an administrative practice, but rather as a response of faith to the work of the Holy Spirit. Then, the construction of Pentecostal stewardship in the digital space must be rooted in eschatological and relational awareness of God. Stewardship is no longer just about managing church assets, but about creating a digital ecosystem that reflects the values of the Kingdom of God.Abstrak:Artikel ini berfokus menguraikan seperti apa penatalayanan sebagai spiritualitas Pentakosta dalam konteks digitalisasi di gereja. Peneliti menguraikan topik ini berangkat dari perlunya upaya gereja Pentakosta mengkontekstualisasikan pelayanannya di era digitalisasi saat ini. Kajian ini juga sebagai upaya peneliti mengemukakan bahwa spiritualitas kepentakostaan yang selama ini terlihat secara konvensional dimanivestasikan, perlu dilakukan bagaimana bila hal itu dalam ruang digital. Di dalam menguraikan kajian ini, peneliti menerapkan pendekatan studi kepustakaan yang dikombinasikan dengan analisis teologis konstruktif. Rumusan pertanyaan penelitian yang diajukan seperti apa rekonstruksi teologi penatalayanan pentakostal dalam ruang digital? Hasil temuan kajian ini mengemukan bahwa spiritualitas Pentakostal, tidak dipahami sebagai praktik administratif, melainkan sebagai respons iman terhadap karya Roh Kudus. Kemudian kontruksi penatalayanan Pentakostal dalam ruang digital harus berakar pada kesadaran eskatologis dan relasional kepada Tuhan. Penatalayanan tidak lagi hanya tentang mengatur aset gereja, tetapi tentang membentuk ekosistem digital yang mencerminkan nilai Kerajaan Allah. Kata Kunci: Pentakosta, Spiritualitas, Penatalayanan, Digital
Dosa sebagai Ὀφείλημα: Telaah Leksikal Doa Bapa Kami dan Relasinya dengan Konsep חוֹב (ḥōb) dalam Tradisi Ibrani Didit Yuliantono Adi; Sulistiono Sulistiono; Sukarno Hadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.326

Abstract

This article examines the concept of sin as debt in the Lord’s Prayer through a lexical study of the Greek term opheilēma and an exploration of its conceptual roots in the Hebrew tradition. The study challenges the common assumption that sin is resolved simply by ceasing sinful behavior. Using a qualitative approach that integrates philological analysis, historical exegesis, and a review of recent scholarship, the research demonstrates that opheilēma in Matthew 6:12 refers to an unresolved moral and relational obligation rather than an abstract moral failure. This finding aligns with the Old Testament understanding of sin as a burden of responsibility that requires relational restoration. Consequently, forgiveness emerges not as a mere emotional response but as an act that resolves obligation and restores relationship. The study highlights the conceptual continuity between the Old and New Testaments and offers a theological correction to reductionist views of sin in contemporary Christian discourse.ABstrakArtikel ini bertujuan untuk  mengkaji konsep dosa sebagai hutang dalam Doa Bapa Kami melalui studi leksikal atas istilah Yunani opheilēma. Hal tersebut juga akan ditelusuri secara konseptual dalam tradisi Ibrani. Penelitian ini berangkat dari asumsi populer bahwa dosa dianggap selesai ketika seseorang berhenti melakukan dosa. Asumsi tersebut diuji secara kritis dengan pendekatan kualitatif yang memadukan analisis filologis, eksegesis historis, dan kajian literatur mutakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opheilēma dalam Matius 6:12 tidak menunjuk pada kesalahan abstrak, melainkan pada kewajiban moral dan relasional yang belum terselesaikan. Temuan ini selaras dengan pemahaman Perjanjian Lama yang melihat dosa sebagai beban tanggung jawab yang menuntut pemulihan relasi, bukan sekadar penghentian perilaku menyimpang. Dengan demikian, dosa dipahami sebagai realitas yang menuntut pengampunan sebagai tindakan penyelesaian, baik secara teologis maupun sosial. Artikel ini menawarkan koreksi teologis terhadap pemahaman reduksionis tentang dosa dalam konteks Kristen kontemporer. Kata Kunci: Doa, Bapa Kami, hutang, pengampunan, studi leksikal.
Tuntutan Spiritual dan Kelelahan: Studi Analisis Burnout Nabi Elia dalam I Raja-raja 17- 19 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Julian Frank Rouw
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.354

Abstract

This study analyses the phenomenon of burnout experienced by the Prophet Elijah in 1 Kings 17–19 and its implications for contemporary church leaders. The story of Elijah depicts the spiritual, emotional, and psychological challenges he faced, particularly following the battle on Mount Carmel and the threats from Queen Jezebel. This study examines the external and internal factors contributing to Elijah’s spiritual exhaustion, linking these experiences to burnout theories, such as the Maslach Burnout Inventory. A hermeneutical method is applied to interpret the biblical text and draw parallels with the challenges faced by modern church leaders. The novelty of this research lies in the use of a holistic approach that combines spiritual, psychological, and theological analysis in examining Elijah’s burnout, whilst providing practical insights for church leaders in managing their spiritual and emotional challenges. The findings of this research aim to deepen understanding of burnout in spiritual leadership, as well as to provide practical recommendations for preventing and recovering from burnout by emphasising the importance of spiritual balance in church ministry. Abstrak:Penelitian ini menganalisis fenomena burnout yang dialami Nabi Elia dalam 1 Raja-raja 17-19 dan implikasinya bagi para pemimpin gereja kontemporer. Kisah Elia menggambarkan tantangan spiritual, emosional, dan psikologis yang dihadapinya, terutama setelah pertempuran di Gunung Karmel dan ancaman dari Ratu Izebel. Penelitian ini mengkaji faktor eksternal dan internal yang berkontribusi terhadap kelelahan spiritual Elia, menghubungkan pengalaman tersebut dengan teori burnout, seperti Maslach Burnout Inventory. Metode hermeneutika diterapkan untuk menafsirkan teks Alkitab dan menarik paralel dengan tantangan yang dihadapi oleh pemimpin gereja modern. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan holistik yang menggabungkan analisis spiritual, psikologis, dan teologis dalam menganalisis burnout Elia, serta memberikan wawasan praktis bagi pemimpin gereja dalam mengelola tantangan spiritual dan emosional mereka. Temuan penelitian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang burnout dalam kepemimpinan spiritual, serta memberikan rekomendasi praktis untuk mencegah dan memulihkan burnout dengan menekankan pentingnya keseimbangan spiritual dalam pelayanan gereja. Kata Kunci: Burnout, Elia, 1 Raja-raja 17-19.
Pendekatan Inklusif-Dialogis dalam Pendidikan Agama Kristen: Tawaran Model Moderasi Beragama bagi Mahasiswa Kristen di Era Digital Thomson Siallagan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.335

Abstract

Christian religious education is facing the challenge of religious moderation in the digital era. This is especially true for Christian students in Indonesia who are faced with a lot of information, disinformation, extremism and exclusivism. The purpose of this study is to create new understanding through substantive theory. This study focuses on how to apply an inclusive-dialogical approach to moderate the religious attitudes of Christian students in this digital landscape. The method used is a grounded constructivist approach that is fundamental to capturing the complexity of students' experiences and perspectives. The findings of the study indicate that Christian students reconstruct their understanding of moderation from a strict and dogmatic view to a view centered on critical dialogue; dialogical skills and critical literacy are essential for navigating digital religious information; The inclusive-dialogical approach applied through a holistic, adaptive, and student-focused transformative framework has great potential to foster strong and relevant religious moderation attitudes among Christian students in the digital era.Abstrak Pendidikan Agama Kristen tengah menghadapi tantangan moderasi beragama di era digital. Hal ini khususnya berlaku bagi mahasiswa Kristen di Indonesia yang menghadapi informasi yang sangat banyak, disinformasi, ekstremisme dan eklusivime. Tujuan penelitian untuk menganalisis pendekatan inklusif-dialogis dalam Pendidikan Agama Kristen sebagai tawaran model moderasi beragama bagi mahasiswa Kristen di era digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan grounded constructivist yang mendasar untuk menangkap kompleksitas pengalaman dan perspektif mahasiswa. Temuan penelitian menegaskan bahwa pendekatan inklusif-dialogis merupakan model pedagogis yang relevan dan strategis. Melalui kerangka kerja yang transformatif, holistik, adaptif, dan berpusat pada mahasiswa, pendekatan ini tidak hanya membentuk pemahaman teologis yang lebih inklusif, tetapi juga menumbuhkan kapasitas dialog, empati, dan keterbukaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, pendekatan inklusif-dialogis dapat diposisikan sebagai tawaran model yang efektif dalam membangun moderasi beragama yang kontekstual dan berkelanjutan di kalangan mahasiswa Kristen di tengah arus digitalisasi. Kata Kunci:Pendidikan Agama Kristen; Moderasi Beragama; Mahasiswa Kristen
Rekonstruksi Teologi Misi Berbasis Missio Dei dalam Ekosistem Digital Samuel Purdaryanto; Iman Kristina Halawa
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.341

Abstract

This study addresses the lack of a systematic theological framework in discussions of digital mission, which are often limited to media strategies and practical approaches. It aims to develop a theological framework of mission grounded in missio Dei within the digital ecosystem. Using a qualitative approach based on critical literature review and constructive theology, this study employs a systematic-contextual method through thematic analysis and theological synthesis. The findings show that digital mission should not be reduced to communication techniques but understood as the Church’s participation in the Trinitarian sending of God. This study proposes a conceptual framework that positions digital space as a relational environment where faith, community, and witness are formed through both online and offline interactions. The study contributes by integrating systematic theology with digital culture, offering a clearer theological foundation for mission in contemporary digital contexts. AbstrakPenelitian ini menanggapi keterbatasan kajian misi digital yang umumnya masih berfokus pada strategi media dan pendekatan praktis. Artikel ini bertujuan mengembangkan kerangka teologi misi digital berbasis missio Dei dalam konteks ekosistem digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi literatur kritis dan teologi konstruktif dengan pendekatan sistematika-kontekstual, yang dianalisis melalui analisis tematik dan sintesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi digital tidak dapat direduksi menjadi teknik komunikasi, melainkan harus dipahami sebagai partisipasi gereja dalam pengutusan Allah Tritunggal. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual yang menempatkan ruang digital sebagai lingkungan relasional tempat iman, komunitas, dan kesaksian dibentuk melalui interaksi daring dan luring. Kontribusi penelitian ini adalah integrasi antara teologi sistematika dan budaya digital sebagai dasar teologis bagi misi di era kontemporer. Kata kunci: Misi Digital, Teologi Misi, Misiologi Kontekstual
Teologi Moral Paulus dan Krisis Etika Kontemporer: Studi Biblika Roma 12:1–2 dalam Mereduksi degradasi Moralitas Andreas Eko Nugroho
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.346

Abstract

The increasingly widespread moral decline in modern society points to an ethical crisis resulting from the weakening of spiritual values, moral relativism, and the rise of individualism, all of which affect the lives of believers. This study aims to analyse the moral theology of the Apostle Paul in Romans 12:1–2 and its relevance in mitigating contemporary moral decline through the ministry of the church. The study employs a qualitative method with a biblical studies approach through exegetical and hermeneutical analysis of Romans 12:1–2. The findings indicate that the concepts of the offering of one’s life and the renewal of the mind form the foundation of Paul’s moral theology, guiding believers to live distinctively from the world’s ways; thus, they hold significant relevance for ministry in shaping the moral character of the congregation amidst the ethical crisis of contemporary society. The novelty of this research lies in its attempt to examine Romans 12:1–2 exegetically whilst linking it to ministry strategies aimed at reducing the decline in morality within modern church communities.AbstrakDegradasi moral yang semakin meluas dalam masyarakat modern menunjukkan adanya krisis etika akibat melemahnya nilai-nilai spiritual, relativisme moral, dan berkembangnya individualisme yang memengaruhi kehidupan orang percaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis teologi moral Rasul Paulus dalam Surat Roma 12:1–2 serta relevansinya dalam mereduksi degradasi moralitas kontemporer melalui pelayanan gereja. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi biblika melalui analisis eksegetis dan hermeneutik terhadap Roma 12:1–2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep persembahan hidup dan pembaruan budi menjadi dasar teologi moral Paulus yang menuntun orang percaya hidup berbeda dari pola dunia, sehingga memiliki relevansi penting bagi pelayanan dalam membentuk karakter moral jemaat di tengah krisis etika masyarakat kontemporer. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengkaji Roma 12:1–2 secara eksegetis sekaligus menghubungkannya dengan strategi pelayanan dalam mereduksi degradasi moralitas dalam komunitas gereja modern. Kata Kunci: Teologi Paulus, Etika Kristen, Roma 12:1–2, Moral.
Kontinuitas Apokaliptik: Kajian Intertekstual Figur Anak Manusia dalam Daniel 7:13-14 dan Kitab Wahyu Andri Harvijanto; Marhareni Pangeti
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.353

Abstract

Debate concerning the identity of the mysterious figure of the ‘Son of Man’ in Daniel 7:13–14. The methodology employed is qualitative, utilising a literature review approach combined with Richard B. Hays’s intertextual analysis to trace the ‘echoes’ of the text of Daniel within the narrative of Revelation. But how does the Book of Revelation, through an intertextual approach, identify Jesus Christ as the figure of the “Son of Man” in Daniel 7:13–14 and affirm his Christological continuity and transformation within an eschatological context? Book of Revelation systematically identifies the glorified Jesus Christ with the figure of the “Son of Man”. This continuity is clearly evident through the use of similar terminology in Revelation 1:13 and 14:14, as well as the attribution of the divine attributes of the Ancient of Days to Christ. The study concludes that John undertook a Christological transformation that positions Christ as the definitive fulfilment of Daniel’s prophecy, holding universal authority and eschatological victory over the forces of evil. The implications of this research affirm that New Testament Christology must be understood in continuity with the Old Testament apocalyptic tradition, in which Jesus Christ is positioned as the definitive fulfilment of the figure “Son of Man” who possesses divine authority and a universal eschatological role.AbstrakPerdebatan akademis mengenai identitas figur misterius "Anak Manusia" dalam Daniel 7:13-14. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang dipadukan dengan analisis intertekstual Richard B. Hays untuk melacak "gema" teks Daniel dalam narasi Wahyu. Namun bagaimana Kitab Wahyu, melalui pendekatan intertekstual, mengidentifikasi Yesus Kristus sebagai figur “Anak Manusia” dalam Daniel 7:13–14 serta menegaskan kontinuitas dan transformasi kristologisnya dalam konteks eskatologis? Kitab Wahyu secara sistematis mengidentifikasi Yesus Kristus yang dimuliakan dengan figur "Anak Manusia". Kontinuitas ini terlihat jelas melalui penggunaan terminologi serupa dalam Wahyu 1:13 dan 14:14, serta penggabungan atribut ilahi Sang Lanjut Usia kepada Kristus. Penelitian menyimpulkan bahwa Yohanes melakukan transformasi kristologis yang menempatkan Kristus sebagai penggenap definitif nubuat Daniel, yang memegang otoritas universal dan kemenangan eskatologis atas kuasa jahat Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa kristologi PB harus dipahami dalam kesinambungan dengan tradisi apokaliptik PL, di mana Yesus Kristus diposisikan sebagai penggenap definitif figur “Anak Manusia” yang memiliki otoritas ilahi dan peran eskatologis universal.Kata Kunci: Anak Manusia, Daniel 7:13-14, Eskatologi, Intertekstual
Implementasi Metode Pembelajaran HOTS (High Order Thinking Skill) dalam Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Kristen Tantri Yulia; Pujiati Pujiati; David Priyo Susilo
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.232

Abstract

The advancement of higher education institutions is greatly determined by the effectiveness of academic and non-academic management integrated with educational values. In the context of Christian education, the management is not only oriented toward cognitive achievements but also toward the formation of character and spirituality of the students. The phenomenon that occurs shows that most students still tend to understand the concept of educational management theoretically without being able to implement it critically and contextually in real practice. This research aims to analyze the implementation of Higher Order Thinking Skills (HOTS) in the Educational Management course based on Christian educational values. The method used is qualitative research with a literature study approach thru the analysis of various relevant literature sources. The research results show that the application of HOTS can enhance students' abilities in analysis, evaluation, and creation in understanding educational management. Furthermore, the integration of HOTS with Christian values strengthens the formation of character, ethics, and spirituality among students. Thus, HOTS not only functions as a cognitive strategy but also as a means of forming a reflective, critical, and faith-based personality. Abstrak:Kemajuan perguruan tinggi sangat ditentukan oleh efektivitas manajemen akademik dan nonakademik yang terintegrasi dengan nilai-nilai pendidikan. Dalam konteks pendidikan Kristen, pengelolaan tersebut tidak hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik. Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik masih cenderung memahami konsep manajemen pendidikan secara teoritis tanpa mampu mengimplementasikannya secara kritis dan kontekstual dalam praktik nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam mata kuliah Manajemen Pendidikan berbasis nilai-nilai pendidikan Kristen. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan HOTS mampu meningkatkan kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi peserta didik dalam memahami manajemen pendidikan. Selain itu, integrasi HOTS dengan nilai Kristiani memperkuat pembentukan karakter, etika, dan spiritualitas peserta didik. Dengan demikian, HOTS tidak hanya berfungsi sebagai strategi kognitif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan pribadi yang reflektif, kritis, dan berlandaskan iman. Kata Kunci: HOTS, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Agama Kristen.
Paradigma Penginjilan di Era Post-Truth: Rekonstruksi Teologi Misi Digital dalam Disrupsi Budaya Aji Suseno
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.362

Abstract

The post-truth era presents serious challenges to evangelism, as truth is increasingly understood subjectively through opinion, emotion and relativism. This shift undermines the authority of the Gospel in the public sphere and prompts the church to rethink its missiological approach in light of the disruption caused by the digital culture. This study aims to reconstruct the evangelism paradigm through a contextual framework of digital mission theology for the post-truth era. The research employs a qualitative method with a literature review approach, examining mission theology, digital culture, and the dynamics of post-truth society. The findings indicate that evangelism remains a divine mandate rooted in the truth of the Gospel, yet requires a reflective, communicative, and adaptive approach to digital developments. Furthermore, digital mission theology is viewed as the church’s strategic response to presenting the Christian witness amidst a disruptive culture. The novelty of this article lies in the contextual integration of mission theology and digital approaches in addressing the challenges of the post-truth era.  AbstrakEra post-truth menghadirkan tantangan serius bagi praktik penginjilan karena kebenaran semakin dipahami secara subjektif melalui opini, emosi, dan relativisme. Pergeseran ini melemahkan otoritas Injil dalam ruang publik serta mendorong gereja merefleksikan kembali pendekatan teologi misi yang relevan dengan disrupsi budaya digital. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi paradigma penginjilan melalui kerangka teologi misi digital yang kontekstual terhadap era post-truth. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui kajian teologi misi, budaya digital, dan dinamika masyarakat post-truth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penginjilan tetap merupakan mandat Ilahi yang berakar pada kebenaran Injil, namun memerlukan pendekatan yang reflektif, komunikatif, dan adaptif terhadap perkembangan digital. Selain itu, teologi misi digital dipandang sebagai respons strategis gereja dalam menghadirkan kesaksian iman Kristen di tengah budaya disruptif. Kebaruan artikel ini terletak pada integrasi teologi misi dan pendekatan digital secara kontekstual dalam menghadapi tantangan era post-truth. Kata kunci: Penginjilan, Post-truth, Teologi misi digital, Disrupsi budaya

Page 11 of 12 | Total Record : 111