cover
Contact Name
suparna wijaya
Contact Email
life.jurnalku@gmail.com
Phone
+6287780663168
Journal Mail Official
life.jurnalku@gmail.com
Editorial Address
Serpong, Tangerang Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Science
Published by PT WIM Solusi Prima
ISSN : -     EISSN : 28091167     DOI : https://doi.org/10.54957/ijhs
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Science is a place for disseminating research results in the field of health, including, but not limited to topics of public health, environmental health, occupational health, pharmacy, nutrition, epidemiology, medical laboratories, physiotherapy, or other general health.
Articles 319 Documents
Pengembangan Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Sunscreen Spray Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga) Sebagai Moisturizer Putri, Alya Fellinsa
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i2.561

Abstract

Sinar ultraviolet dapat memberikan efek buruk pada kulit, yaitu sinar UV A dan UV B. Sunscreen adalah sediaan yang dapat melindungi serta mengurangi efek buruk sinar matahari seperti photoaging, sunbrun, tanning. Sunscreen bekerja dengan cara menyerap dan memantulkan kembali sinar ultraviolet. Rimpang kencur mengandung senyawa Etil P-Metoksisinamat (EPMS) yang berperan sebagai sunscreen. Formulasi sunscreen spray dapat mempermudah penggunaanya dan praktis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak rimpang kencur sebagai sunscreen spray dan moisturizer. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Penelitian ini membuat 4 formulasi. F0(basis), sedangkan 3 formulasi lain dengan kandungan ekstrak rimpang kencur. F1 dengan dengan kandungan konsentrasi ekstrak (1 gram), F2 (2 gram), dan F3 (3 gram). Evaluasi fisik Sunscreen spray meliputi pemeriksaan organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat. Hasil dari semua ujinya telah sesuai dengan standar SNI dan Farmakope Herbal Indonesia. Pengukuran nilai absorbansi menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dengan panjang gelombang 290-320. Hasil nilai SPF yang didapatkan formulasi F2 yaitu 2,237 dan formulasi F3 memiliki nilai SPF 3,185 dengan daya proteksi minimal sebagai sunscreen. Sediaan sunscreen spray juga berpotensi sebagai moisturizer karena dapat melembabkan area wajah dan lengan.
Standarisasi Parameter Spesifik Dan Non-Spesifik Ekstrak Daun Binahong Merah (Anredera cordifolia) Dengan Perbedaan Metode Ekstraksi Ni'am, Musfirotun; Saputri, Romadhiyana Kisno; Februyani, Nawafila
Indonesian Journal of Health Science Vol 3 No 2a (2023): Terus Melaju Untuk Indonesia Maju
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v3i2a.564

Abstract

Standarisasi merupakan proses karakteristik, nilai kuantitatif kualitatif yang digunakan untuk menjamin mutu, khasiat, keamanan, serta kemurnian bahan obat. Sebanyak 95,6% masyarakat Indonesia menyatakan obat tradisional memiliki manfaat tinggi bagi tubuh. Salah satu obat tradisional yaitu daun binahong merah (Anredera cordifolia). Daun binahong merah memiliki kandungan flavonoid tinggi sehingga dapat digunakan obat nyeri, maag, sariawan, memperlancar peredaran darah, dan menurunkan kolesterol. Standarisasi tumbuhan guna obat tradisional penting untuk menjamin mutu menjadi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ekstrak daun binahong merah (Anredera cordifolia) dengan perbedaan metode ekstraksi menghasilkan ekstrak yang terstandar sesuai parameter. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan model penelitian True Experimental dan jenis penelitian RAL. Hasil penelitian menunjukkan ketiga ekstrak memiliki hasil parameter spesifik yang terstandar dengan pedoman FHI edisi II. Pada parameter non-spesifik uji susut pengeringan ekstrak maserasi 2,40%; ekstrak refluks 3,90%; dan ekstrak dekok 95,38% hal tersebut menunjukkan bahwa ekstraksi dekok tidak sesuai standar parameter. Sedangkan, pada uji kadar air ekstrak maserasi 2,64%; ekstrak refluks 2,96%; dan ekstrak dekok 95,00% hal tersebut menunjukkan bahwa ekstraksi dekok tidak sesuai dengan standar parameter. Penelitian ini terbukti ekstrak daun binahong merah (Anredera cordifolia) dengan perbedaan metode ekstraksi menghasilkan ekstrak yang terstandar dengan parameter spesifik dan non-spesifik. Standardization is process of characteristics and values ​​to guarantee the quality, efficacy, safety, purity of medicinal substances. Red binahong leaves have high content of flavonoids so they can treat various diseases. Standardization is important to guarantee the high quality traditional medicines. This study aims to prove that the red binahong leaf extract (Anredera cordifolia) with different extraction methods produces standardized extract. This study used screening and gravimetric methods. The results showed that the three extracts had standardized specific parameters. The non-specific parameters of the maceration drying shrinkage test 2.40% ; reflux 3.90% ; and 95.38% dekok this shows dekok not according to standard non-specific parameters. Meanwhile, in the maceration water content test 2.64%; reflux 2.96% ; and 95.00% dekok this shows dekok not according to standard non-specific parameters. This research proved that binahong red leaf extract (Anredera cordifolia) with different extraction methods produced standardized extracts with specific and non-specific parameters.
Forulasi, Karakteristik, Dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Gel Moisturizer Anti-Aging Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Shofiah, Siti Aminatus
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.579

Abstract

Penuaan kulit akibat radikal bebas mampu dinetralisir dengan antioksidan. Penggunaan antioksidan diperlukan kosmetik anti-aging berupa gel moisturizer anti-aging untuk merawat kulit wajah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi serta menguji karakteristik dan aktivitas antioksidan gel moisturizer anti-aging dengan kandungan daun sukun. Daun sukun diekstraksi dengan metode maserasi selama 3x24 jam menggunakan pelarut etanol 96%. Di buat empat formulasi gel moisturizer anti-aging dengan konsentrasi ekstrak F0 0%, F1 10%, F2 15%, dan F3 20%. Hasil uji karakteristik sediaan gel moisturizer anti-aging berbentuk semi solid sesuai standar SNI sediaan topikal, berwarna kuning kehijauan, memiliki aroma khas daun sukun, bersifat homogen, memiliki nilai pH dan daya sebar yang aman bagi kulit, tidak menyebabkan iritasi, serta mampu melembabkan kulit. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Pada F3 mempunyai antioksidan kuat, F2 sedang, F1 lemah, dan F0 lemah. Formulasi gel moisturizer anti-aging yang terbaik ada pada F3 dengan antioksidan kuat. Penuaan kulit akibat radikal bebas mampu dinetralisir dengan antioksidan. Penggunaan antioksidan diperlukan kosmetik anti-aging berupa gel moisturizer anti-aging untuk merawat kulit wajah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi serta menguji karakteristik dan aktivitas antioksidan gel moisturizer anti-aging dengan kandungan daun sukun. Daun sukun diekstraksi dengan metode maserasi selama 3x24 jam menggunakan pelarut etanol 96%. Di buat empat formulasi gel moisturizer anti-aging dengan konsentrasi ekstrak F0 0%, F1 10%, F2 15%, dan F3 20%. Hasil uji karakteristik sediaan gel moisturizer anti-aging berbentuk semi solid sesuai standar SNI sediaan topikal, berwarna kuning kehijauan, memiliki aroma khas daun sukun, bersifat homogen, memiliki nilai pH dan daya sebar yang aman bagi kulit, tidak menyebabkan iritasi, serta mampu melembabkan kulit. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Pada F3 mempunyai antioksidan kuat, F2 sedang, F1 lemah, dan F0 lemah. Formulasi gel moisturizer anti-aging yang terbaik ada pada F3 dengan antioksidan kuat.
Uji Efektivitas Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Jelatang (Urtica dioica L.) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Pada Mencit (Mus musculus) Setyorini, Herny; Akhmad, Albari; Kisno, Saputri Romadhiyana
Indonesian Journal of Health Science Vol 3 No 2a (2023): Terus Melaju Untuk Indonesia Maju
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v3i2a.580

Abstract

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbaik di dunia. Hal ini terlihat dari banyaknya jenis tumbuhan yang secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat adalah tumbuhan jelatang (Urtica dioica L.). Ekstrak etanol daun jelatang memiliki beberapa kandungan diantaranya flavonoid, alkaloid dan tannin yang dapat membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sediaan krim ekstrak etanol daun jelatang (Urtica dioica L.) dalam mempercepat penyembuhan luka sayat pada mencit (Mus musculus) dan mengetahui konsentrasi ekstrak etanol daun jelatang (Urtica dioica L.) dalam sediaan krim yang paling efektif terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit (Mus musculus). Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian true eksperiemntal. Perlakuan pada kelompok F3 krim ekstrak etanol daun jelatang 15% menunjukkan waktu penyembuhan luka sayat mencit paling cepat pada hari ke-5. Berdasarkan hasil statistik One Way Anova (p <0,05) pada penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa krim ekstrak etanol daun jelatang (Urtica dioica L.) memiliki efektivitas yang signifikan terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit (Mus musculus).
Pengaruh Waktu Sonikasi Terhadap Ukuran Partikel, Indeks Polidipersitas Dan Zeta Potensial Pada Fitosom Ekstrak Teh Hijau Putri, Dwi Kurnia
Indonesian Journal of Health Science Vol 3 No 2a (2023): Terus Melaju Untuk Indonesia Maju
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v3i2a.581

Abstract

Penelitian ini mengenai pengaruh waktu sonikasi terhadap ukuran partikel, indek polidispersitas dari sediaan fitosom ekstrah teh hijau dengan menggunakan metode Particle Size Analyze (PSA). Ukuran partikel, indeks polidispersitas (PDI) dan potensi Zeta (ZV) merupakan parameter penting dalam perumusan fitosom. Ukuran partikel yang kecil akan membantu zat aktif melewati penghalang pengganggu untuk mencapai target dengan segera. serta PDI yang merupakan parameter penting untuk melihat apakah bentuk fitosom yang dibuat merupakan fitosom yang seragam atau tidak. zeta berpotensi memberikan parameter bahwa formula fitosom stabil atau mudah diagregasi. Ekstrak teh hijau diformulasi menjadi sediaan fitosom dengan perbandingan 1:2 terhadap posfolipid menggunakan metode lapis tipis. Selanjutnya dilakukan sonikasi menggunakan alat ultrasonik dengan waktu 0, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit untuk melihat waktu terbaik dalam melakukan sonikasi pada sediaan tersebut. Hasil didapatkan pada menit ke-20 ukuran partikel 129,13 ± 1,58 nm, indeks polidipersitas 0,63 ± 0,20 mV, dan zeta potensial -75,00 ± 8,39.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Pada Krim Ekstrak Etanol Daun Jelatang (Urtica Dioica L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes Purwanda, Irma
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.583

Abstract

Indonesia mempunyai ±7000 spesies tanaman yang berkhasiat sebagai bahan obat, salah satunya yaitu daun jelatang. Daun jelatang berpotensi sebagai aktivitas antibakteri penyebab jerawat salah satunya yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Pravelensi jerawat berkisar antara 85% menderita jerawat ringan dan 15% menderita jerawat berat. Antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri, namun dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi kulit. Krim mampu mencegah maupun mengobati terjadinya jerawat. Daun jelatang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang diketahui senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian dilakukan untuk mengetahui ekstrak daun jelatang dapat diformulasikan sebagai krim antijerawat dan mengetahui efektivitas konsentrasi terbaik pada formulasi sediaan krim ekstrak daun jelatang terhadap aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan adalah true eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam pembuatan krim adalah 5%, 10%, dan 15%. Hasil evaluasi fisik sediaan krim ekstrak daun jelatang yaitu bertekstur semi solid, berwarna hijau pekat, bau khas ekstrak daun jelatang dan greentea, rentang pH 5-7, rerata daya sebar 5 cm, rerata daya lekat 11-17 detik, dan termasuk dalam tipe emulsi Minyak dalam Air (M/A). Formulasi sediaan krim 5%, 10%, dan 15% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Hasil uji daya hambat aktivitas antibakteri pada krim ekstrak daun jelatang yang paling baik yaitu formulasi F3 dengan konsentrasi ekstrak 15% memiliki diameter zona hambat 16,3 mm yang berkategori daya hambat tinggi. Indonesia mempunyai ±7000 spesies tanaman yang berkhasiat sebagai bahan obat, salah satunya yaitu daun jelatang. Daun jelatang berpotensi sebagai aktivitas antibakteri penyebab jerawat salah satunya yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Pravelensi jerawat berkisar antara 85% menderita jerawat ringan dan 15% menderita jerawat berat. Antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri, namun dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi kulit. Krim mampu mencegah maupun mengobati terjadinya jerawat. Daun jelatang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang diketahui senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian dilakukan untuk mengetahui ekstrak daun jelatang dapat diformulasikan sebagai krim antijerawat dan mengetahui efektivitas konsentrasi terbaik pada formulasi sediaan krim ekstrak daun jelatang terhadap aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan adalah true eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam pembuatan krim adalah 5%, 10%, dan 15%. Hasil evaluasi fisik sediaan krim ekstrak daun jelatang yaitu bertekstur semi solid, berwarna hijau pekat, bau khas ekstrak daun jelatang dan greentea, rentang pH 5-7, rerata daya sebar 5 cm, rerata daya lekat 11-17 detik, dan termasuk dalam tipe emulsi Minyak dalam Air (M/A). Formulasi sediaan krim 5%, 10%, dan 15% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Hasil uji daya hambat aktivitas antibakteri pada krim ekstrak daun jelatang yang paling baik yaitu formulasi F3 dengan konsentrasi ekstrak 15% memiliki diameter zona hambat 16,3 mm yang berkategori daya hambat tinggi.
Formulasi Dan Uji Stabilitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Jelateng (Urtica dionica L.) Pada Sediaan Krim Antiaging Musthofa, Mochamad Charis; Hutahaen, Titi Agni; Februyani, Nawafila
Indonesian Journal of Health Science Vol 3 No 2a (2023): Terus Melaju Untuk Indonesia Maju
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v3i2a.584

Abstract

Kosmetik telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, karena dapat meningkatkan kecantikan seseorang dan menjaga kesehatan kulit. Namun, dalam praktiknya kosmetik yang ditemukan di pasaran masih mengandung bahan kimia berbahaya. Penelitian ini memanfaatkan daun jelatang yang dibuat dalam sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol daun jelateng dapat digunakan sebagai krim antioksidan, untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun jelateng sebagai sediaan krim terhadap nilai antioksidan, dan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu stabilitas fisik antioksidan pada sediaan krim anti aging. Pembuatan sediaan krim menggunakan O/W. Untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya menggunakan metode skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Hasil yang diperoleh yaitu dari 400gr serbuk simplisia daun jelatang yang direndam dengan 1.600 ml pelarut etanol 95% dengan jangka waktu 3×24 jam menghasilkan berat ekstrak 89,64 gr sehingga diperoleh rendemen ekstrak yaitu 9,92%. Sediaan krim ekstrak daun jelatang dibuat dengan 4 formulasi yang berbeda yaitu F0 = 0%, FI = 5%, FII = 10%, dan FIII = 15%.
Formulasi Tisu Basah Ekstrak Daun Binahong Merah (Anredera cordifolia) Sebagai Pembersih Make Up Mutmainah, Siti
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.585

Abstract

Daun binahong merah berpotensi sebagai antioksidan alami yang melindungi kulit. Jerawat disebabkan penumpukan sebum akibat make up tidak dibersihkan. Diperluas pembersih make up inovasi baru berupa Tisu basah. Penelitian bertujuan mengetahui formulasi tisu basah ekstrak daun binahong merah sesuai standart sediaan topical, efektivitas dari tisu basah ekstrak daun binahong merah dan aktivitas antioksidan dari sediaan tisu basah ekstrak daun binahong. Jenis penelitian kuantitatif. Metode uji organoleptic, pH, daya bersih, iritasi, Uji kelembapan dan uji antioksidan. Hasil evaluasi tisu basah padat, bau aroma bunga, khas ekstrak, warna putih-coklat pekat dan rasa dingin, pH 5. Daya bersih baik, tidak mengiritas, lembab, nilai antioksidan 162,957- 51,273ppm. Disimpulkan bahwa tisu basah ekstrak daun binahong merah telah memenuhi standart sediaan topical. Efektivitas ekstrak daun binahong merah diukur berdasarkan nilai kelembapan yang baik dan Aktivitas antioksidan sediaan tisu basah ekstrak daun binahong marah, f0 antioksidan sedang dan f1, f2, f3 kuat.
Uji Antioksidan Dan Efektivitas Sediaan Toner Ekstrak Daun Binahong Merah (Anredera cordifolia) Wahyuni, Wahyuni; Saputri, Romadhiyana Kisno; Hutahaen, Titi Agni
Indonesian Journal of Health Science Vol 3 No 2a (2023): Terus Melaju Untuk Indonesia Maju
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v3i2a.591

Abstract

Daun binahong merah (Anredera cordifolia) mengandung senyawa alkoloid, asam askorbat, saponin, triterpenoid, flavonoid, polifenol, oksida, minyak atsiri, dan protein dan memiliki aktivitas antoksidan. Prevalensi kulit kering diindonesia mencapai 50-80% dibeberapa negara lain seperti brazil, Australia, turki 35%-70%. Tujuan penelitian ini untuk melakukan formulasi dan evaluasi serta efektivitas sediaan toner daun binahong merah (Anredera cordifolia). Formulasi dibuat 4 dengan perbedaan konsentrasi F0 0%, F1 20%, F2 25%, F3 30% ekstrak. Berbentuk cair, homogen, sediaan berwarna coklat hingga hijau pekat, uji pH Sediaan toner ekstrak daun binahong merah (Anredera cordifolia) dengan rentan nilai pH 4,45–6,49 pH sesuai SNI. Sedian toner dapat melembabkan wajah dengan nilai parameter 46%-55% yang diukur dengan skin mouisture meter dan sediaan toner tidak mengiritasi kulit saat diaplikasikan karena pH aman dalam rentan 4,5 – 6,5 sesuai pH kulit. Aktivitas antioksidan sediaan toner pada F3 dengan konsentrasi (30% ekstrak)  dalam kategori sangat kuat, dengan perlakuan terbaik IC50 35 ppm.
Evaluasi, Uji Aktivitas Antioksidan Dan Uji Efektivitas Sheet Mask Ekstrak Daun Binahong Merah (Anredera Cordifolia) Sebagai Pelembab Wajah Afifta, Siti Nur
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i2.596

Abstract

Daun binahong merah (Anredera cordifolia) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa flavanoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa antioksidan banyak digunakan sebagai zat aktif dalam berbagai bentuk sediaan salah satunya sheet mask. Preverensi kulit kering yang dialami wanita Indonesia sekitar 50-80 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi sediaan sheet mask, mengetahui aktivitas antioksidan sheet mask dan mengetahui efektivitas sheet mask dalam melembapkan kulit. Sediaan sheet mask dibuat dengan presentasi ekstrak yang berbeda yaitu 0 % (F0), 15 % (F1),10 % (F2) dan 25 % (F3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan homogen, pH sediaan 5,78-6.13, tidak mengiritasi kulit, serta sediaan yang dihasilkan berwarna hijau hingga hijau pekat, bau khas aroma fragnace dan berbentuk cair. Sediaan dapat melembapkan kulit serta sediaan sheet mask mengandung aktivitas antioksidan dengan nilai ic50 untuk F0 sebear 2.133 ppm, F1 sebesar 365 ppm, F2 sebesar 204,615 ppm dan F3 sebesar 100,333 ppm.

Page 8 of 32 | Total Record : 319