cover
Contact Name
Lut Dora
Contact Email
info@sttkalvari.ac.id
Phone
+6285398639223
Journal Mail Official
info@sttkalvari.ac.id
Editorial Address
Perum Banua Asri 1 Blok O,, Buha, Kec. Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 27989860     EISSN : 27989771     DOI : 10.53814
Core Subject : Religion, Education,
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen adalah jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah yang berkualitas tentang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN: 2798-9771 (Online), 2798-9860 (Print). Semua naskah melalui proses peer-review dan pemeriksaan plagiarisme. Hanya Naskah yang original yang akan diterima untuk diterbitkan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado yaitu Bulan Januari dan Juli. Adapun ruang lingkup dari Jurnal ELEOS: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025" : 5 Documents clear
Kajian Filosofis tentang Peranan Guru PAK:: Tinjauan Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis Tanama, Yulia Jayanti; Supit, Sugijanti; Wariki, Valentino; Monica Halawa, Agnes
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.200

Abstract

Abstract: Teachers play an important role in the success of learning, which requires philosophy. However, philosophy is considered unimportant and boring, and is not visible in dealing with educational issues. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education teachers from an ontological, epistemological, and axiological perspective to provide a comprehensive and in-depth understanding of the nature, sources of knowledge, and values inherent in the role of teachers. The method used in this study is literature research through the process of collection, analysis, and synthesis. The results of this study are that the role of Christian Religious Education teachers ontologically is as the image of God, servants and instruments of God, and a calling in life. Epistemologically, the role of Christian Religious Education teachers is as guides, facilitators, and interpreters. Axiologically, the role of Christian Religious Education teachers is as planters of Christian values, role models, and character builders. Abstrak: Guru memegang peranan penting untuk menyukseskan suatu pembelajaran dalam perjalanannya membutuhkan filsafat. Tetapi filsafat dianggap tidak penting dan membosankan serta tidak terlihatnya dalam menangani masalah pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam perspektif ontologi, epistemologi, dan aksiologi untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendalam mengenai hakikat, sumber pengetahuan, serta nilai yang melekat pada peran guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian literatur melalui proses pengumpulan, analisis, dan sintesis. Hasil penelitian ini adalah peran guru Pendidikan Agama Kristen secara ontologi sebagai imago dei, pelayan dan alat Tuhan, serta panggilan hidup. Secara epistemologis, peran guru Pendidikan Agama Kristen sebagai pembimbing, fasilitator, dan pengarah serta penafsir. Secara aksiologi, peran guru Pendidikan Agama Kristen sebagai penanam nilai-nilai Kristiani, teladan, dan pembentuk karakter.
Reboisasi sebagai Ekspresi Spiritualitas:: Inisiatif Iman Koperasi Bukit Asri Sentosa dalam Pemulihan Bukit Kendeng Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Rui, Kristina Kaita; Leiwakabessy, Marchel Anthony; Ina, Rosita Tamu; Blitariyanti, Theodora
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.215

Abstract

Abstract: Environmental degradation, particularly deforestation, is a global ecological issue that even touches on the spiritual dimension of human life. In Indonesia, this phenomenon is also occurring in the Kendeng Mountains, specifically in Dukuh Gower, where uncontrolled human activities have caused significant forest degradation. This article examines the implementation of spiritual mandates through a reforestation program carried out by the Bukit Asri Sentosa Cooperative (BAS) in Dukuh Gower, Central Java. The research approach is qualitative-descriptive using a case study method, employing interview techniques and field documentation. The research findings indicate that the BAS Cooperative's reforestation program not only serves as an ecological effort to mitigate floods and environmental damage but also as an expression of members' faith in the form of responsibility toward God's creation, by the Cultural Mandate (Genesis 1:26-28). Despite facing various challenges, such as funding and social resistance, the program has yielded initial positive impacts and holds significant potential to become a model for faith-based conservation in other regions. Abstrak: Kerusakan lingkungan, khususnya penggundulan hutan, merupakan persoalan ekologis yang terjadi secara global bahkan menyentuh dimensi spiritual kehidupan manusia. Di Indonesia, fenomena ini juga terjadi di kawasan Pegunungan Kendeng, tepatnya di Dukuh Gower, di mana aktivitas manusia yang tidak terkendali telah menyebabkan degradasi hutan secara signifikan. Artikel ini meneliti implementasi mandat spiritual melalui program reboisasi yang dijalankan oleh Koperasi Bukit Asri Sentosa (BAS) di Dukuh Gower, Jawa Tengah. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan metode studi kasus, menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program reboisasi oleh Koperasi BAS tidak hanya berfungsi sebagai upaya ekologis untuk menanggulangi banjir dan kerusakan lingkungan, tetapi juga sebagai ekspresi iman anggota dalam bentuk tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan sesuai dengan Mandat Budaya (Kejadian 1:26-28). Meski masih menghadapi berbagai tantangan, seperti pendanaan dan resistensi sosial, program ini telah memberikan dampak awal yang positif dan memiliki potensi besar untuk menjadi model konservasi berbasis iman di wilayah lain.
Perang Komentar dan Kekerasan Simbolik di Era Digital: : Formulasi Teologi Perdamaian sebagai Kerangka Etis dalam Pendidikan Agama Kristen Kontekstual Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex; Rahayu, Yohana Fajar
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.240

Abstract

Abstract: The development of digital technology has created new social spaces that not only expand access to communication but also give rise to a form of non-physical violence known as symbolic violence. In this context, comment wars on social media have become one of the manifestations of digital conflict, characterised by hate speech, stigmatisation, and polarisation of opinions. Unfortunately, this symbolic violence has received little attention in theological discourse or contemporary Christian religious education. The increasing phenomenon of digital verbal conflicts among students and religious communities indicates an ethical void that requires a theological and educational response. This study aims to formulate and examine a theology of peace that can be integrated into Christian religious education. Using a descriptive qualitative method with a social media analysis approach and literature review, it can be concluded that the paradigm related to the nature of symbolic violence in digital comment wars is important. So that the principles of peace theology in biblical values can be actualised in Christian Religious Education as an instrument of digital peace ethics. And, of course, as a formulation of an ethical framework for peace theology in the context of digital Christian education. Christian religious education has strategic potential as a means of character formation for peace in the digital age. Thus, this ethical framework is expected to strengthen the role of the church and school in creating a fair and humane digital culture. Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah menciptakan ruang sosial baru yang tidak hanya memperluas akses komunikasi, tetapi juga memunculkan bentuk kekerasan non-fisik yang dikenal sebagai kekerasan simbolik. Dalam konteks ini, perang komentar di media sosial menjadi salah satu manifestasi konflik digital yang sarat dengan ujaran kebencian, stigmatisasi, dan polarisasi opini. Sayangnya, kekerasan simbolik ini masih kurang mendapatkan perhatian dalam diskursus teologis maupun pendidikan agama Kristen kontemporer. Fenomena meningkatnya konflik verbal digital di kalangan peserta didik dan umat beragama menandakan adanya kekosongan etis yang perlu direspons secara teologis dan edukatif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengkaji teologi perdamaian yang dapat diintegrasikan ke dalam Pendidikan Agama Kristen. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisi media sosial dan studi pustaka. Dapat disimpulkan bahwa pentingnya paradigma terkait hakikat kekerasan simbolik dalam perang komentar digital. Supaya prinsip-prinsip teologi perdamaian dalam nilai alkitabiah dapat diaktualisasikan dalam pendidikan agama Kristen sebagai instrumen etika perdamaian digital. dan tentunya sebagai formulasi kerangka etis teologi perdamaian untuk konteks pendidikan kristen digital. Pendidikan Agama Kristen memiliki potensi strategis sebagai sarana pembentukan karakter damai di era digital. Dengan demikian, kerangka etis ini diharapkan mampu memperkuat peran gereja dan sekolah dalam menciptakan budaya digital yang adil dan manusiawi.
Menelisik Etika Hamba Tuhan di Ruang Digital:: Tafsir Kontekstual terhadap Efesus 5:15-16 Yunus Hutagalung; Hasibuan, Serepina Yoshika
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.208

Abstract

Abstract: This article aims to examine and construct a digital ethical foundation for God’s servants through a contextual interpretation of Ephesians 5:15–16. In today’s fast-paced digital environment, many ministers become entangled in the misuse of social media, hate speech, and self-promotion, damaging their spiritual credibility and the church’s witness. Using a descriptive qualitative method grounded in literature analysis, this study interprets the biblical text within its historical-theological context and connects it with contemporary digital realities. The findings highlight three key ethical principles: living wisely, managing time carefully, and maintaining moral awareness in an evil age. The novelty of this study lies in its contextual application specifically for God’s servants, contrasting with previous studies that addressed Christian ethics more generally. The theological implication is that the digital realm must be viewed as a sacred space for ministry, demanding ethical responsibility and spiritual discernment. Ministers are called to be digitally present in a way that reflects Christ’s character and advances His mission in the digital age. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan membangun fondasi etika digital bagi hamba Tuhan melalui pendekatan tafsir kontekstual terhadap Efesus 5:15–16. Di era digital yang serba cepat dan penuh godaan, banyak hamba Tuhan terlibat dalam penyalahgunaan media sosial, ujaran kebencian, dan pencitraan diri yang berlebihan, yang berdampak buruk terhadap kesaksian pelayanan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, teks ditafsirkan dalam konteks historis-teologis dan dihubungkan dengan fenomena digital masa kini. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga prinsip etis utama: hidup berhikmat, penggunaan waktu secara cermat, dan kesadaran moral terhadap zaman yang jahat. Kebaruan kajian ini terletak pada penerapan eksposisi kontekstual secara spesifik bagi hamba Tuhan, bukan sekadar umat Kristen secara umum. Implikasinya, kehadiran hamba Tuhan di ruang digital haruslah mencerminkan karakter Kristus dan bertanggung jawab secara etis dan spiritual. Dunia digital harus diperlakukan sebagai ladang pelayanan yang menuntut integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran ilahi yang terus diperbarui.
Ego Eimi Narasi Injil Yohanes mengenai Ketuhanan Yesus:: Jawaban Argumentum Fallacia terhadap Iman Kristen Christiaan, John Abraham; Prasetyo, Adi; Dully, Stefanus
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.218

Abstract

Abstract: This study is motivated by the increasing intensity of attacks from non-Christians against the Christian faith, particularly regarding the belief that Jesus is God. These attacks often rely on argumentum fallacia—fallacious and deceptive reasoning—posing questions such as, “Where in the Bible does Jesus explicitly declare Himself to be God?” This research aims to provide a theological and exegetical response to such polemics by analyzing the Johannine narrative, especially the phrase Ego Eimi (Ἐγώ εἰμι), as a divine self-declaration of Jesus. Utilizing a qualitative method through exegetical study supported by theological and linguistic literature, this research demonstrates that the phrase Ego Eimi in the Gospel of John is closely connected to God's declaration in Exodus 3:14, Ehyeh Asher Ehyeh (אהיה אשר אהיה), meaning “I Am Who I Am.” Jesus’ statement, “Before Abraham was, I am,” further affirms His divine identity. The findings conclude that Ego Eimi serves as an explicit and intentional affirmation of Jesus’ divinity. In light of these results and the growing polemical challenges against Christianity, it is recommended that theologians, pastors, and church leaders provide more comprehensive instruction on Christology to equip believers with sound theological understanding and guard them against misleading arguments. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya serangan dari pihak non-Kristiani terhadap ajaran iman Kristen, khususnya mengenai kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan. Serangan ini seringkali disertai dengan argumentasi yang bersifat argumentum fallacia—yakni argumen yang menyesatkan dan manipulatif—yang mempertanyakan kebenaran iman Kristen, dengan pertanyaan utama: “Di mana dalam Alkitab Yesus secara eksplisit mengakui diri-Nya sebagai Tuhan?” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui kajian mendalam terhadap narasi Injil Yohanes, khususnya frasa “Ego Eimi” (Ἐγώ εἰμι) sebagai bentuk pengakuan diri Yesus yang bersifat ilahi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi eksegesis serta didukung oleh literatur-literatur teologis dan linguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frasa “Ego Eimi” dalam Injil Yohanes memiliki keterkaitan erat dengan pernyataan Allah dalam Keluaran 3:14, “Ehyeh Asher Ehyeh” (אהיה אשר אהיה), yang berarti “Aku adalah Aku.” Pernyataan Yesus, “Sebelum Abraham ada, Aku ada,” semakin menegaskan identitas keilahian-Nya. Dengan demikian, frasa “Ego Eimi” merupakan bentuk eksplisit dari pengakuan Yesus sebagai Tuhan. Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan agar para teolog, pendeta, dan pemimpin gereja lebih proaktif dalam mengajarkan doktrin Kristologi kepada jemaat guna memperkuat iman dan menangkal serangan argumentasi yang menyesatkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5