cover
Contact Name
Disnawati
Contact Email
disnawati@uho.ac.id
Phone
+6285299381110
Journal Mail Official
mediaakuatika@uho.ac.id
Editorial Address
Principal Contact Disnawati Universitas Halu Oleo HEA Mokodompit Kampus Baru UHO Phone: 085299381110 Email: mediaakuatika@uho.ac.id
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Media Akuatika: Jurnal Ilmiah Jurusan Budidaya Perairan
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : -     EISSN : 25034324     DOI : http://dx.doi.org/10.33772/jma.v7i1
Core Subject : Agriculture,
Media Akuatika : Jurnal Ilmiah Jurusan Budidaya Perairan fokus dalam lingkup budidaya perairan meliputi perikanan air tawar, air payau dan air laut yang mencakup beberapa kajian, antara lain: 1. Nutrisi dan pakan ikan 2. Manajemen kesehatan ikan 3. Identifikasi parasit dan penyakit ikan 4. Teknologi reproduksi ikan 5. Manajemen pembenihan ikan 6. Manajemen lingkungan budidaya perairan 7. Teknologi dan sistem budidaya perairan 8. Bioteknologi akuakultur
Articles 194 Documents
Budidaya Abalon di Asia: Teknologi dan Manajemen Budidayanya Nur, Kurniati Umrah
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 3 (2020): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.713 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i3.13188

Abstract

Abalon merupakan salah satu produk makanan dari laut yang paling mahal. Abalon banyak dibudidayakan di beberapa negara, namun industri budidaya abalon di Asia merupakan yang terbesar di dunia, dengan Tiongkok dan Korea Selatan sebagai dua negara penghasil abalon terbesar di dunia.  Secara umum, terdapat dua sistem budidaya yang dikembangkan di Asia yaitu land-based dan sea-based, dengan beberapa inovasi dan penyesuaian untuk menghasilkan abalon yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Benih abalon biasanya dipelihara di kolam-kolam pemeliharaan yang telah dilengkapi oleh lembaran plastik bergelombang, plastik polythene, pipa PVC maupun genteng tanah liat, yang telah ditumbuhi lapisan diatom sebagai sumber makanan bagi larva yang menempel. Pada tahap pembesaran, Korea Selatan dan Tiongkok  hanya menggunakan rumput laut sebagai pakan bagi abalon, sedangkan Filipina dan Indonesia, selain pakan alami berupa rumput laut, kedua negara juga sedang mengembangkan pakan buatan yang dapat memberikan pertumbuhan yang signifikan bagi abalon budidaya.Kata Kunci : Budidaya abalon, Industri abalon, manajemen benih, manajemen induk, teknologi budidaya.
Perkembangan dan Kelangsungan Hidup Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima) pada Kondisi Suhu yang Berbeda Hamzah, Aris S.; Hamzah, Muhaimin; Hamzah, Mat
Jurnal Media Akuatika Vol 1, No 3: Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.778 KB) | DOI: 10.33772/jma.v1i3.4286

Abstract

Penelitian perkembangan dan kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima) pada kondisi suhu yang berbeda telah dilaksanakan di Laboratorium Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Bio Industri Laut Mataram, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada Februari - Maret 2016. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kisaran suhu optimum bagi perkembangan dan kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima). Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan Kontrol (26,5-28oC), A (26oC±0,5), B (28oC±0,5), C (30oC±0,5) dan D (32oC±0,5). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi didapatkan pada perlakuan B (28oC±0,5) dengan nilai 8,00%±0,16. Perkembangan stadia larva kerang mutiara (P. maxima) hingga mencapai spat terbaik juga didapatkan pada perlakuan B (28oC±0,5).Kata Kunci: Perkembangan, kelangsungan hidup, larva kerang mutiara (P. maxima), suhu
Ukuran Telur dan Larva Abalon Haliotis asinina dari Induk yang Diberi Pakan Rumput LautGracillaria arcuata dan Ulva fasciata Hak, Ainul; Kurnia, Agus; Yusnaini, .
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.347 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i4.4351

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengeahui ukuran telur dan larva abalon dari induk yang diberi pakan jenis Gracillaria arcuata dan Ulva fasciata. Penelitian ini dilakukan selama 111 hari sejak tanggal 2 November 2016 sampai tanggal 20 Februari 2017 dari pemilihan induk sampai pemijahan.Penelitian ini menggunakan pemijahan secara alami dan induk abalon jantan dan betina dipisahkan wadah pemijahannya.Induk abalon telah mencapai tingkat kematangan gonad (TKG) ke 2, Abalon dipelihara didalan keranjang 30x30 cm sebanyak 3 individu dalam satu wadah, kemudian wadah keranjang dimasukkan ke dalam bak fiber yang berkapasitas 1000liter air laut. Induk abalon dipelihara sampai mencapai TKG 3 dan 4 dan siap untuk dipijahkan, Induk abalon yang telah matang gonad dipindahkan ke dalam wadah berkapasitas 70 liter air laut. Telur dan larva yang berhasil menetas diukur dibawah mikroskop binokuler 100x perbesaran menggunakan eyepiece.Variabel yang diamati adalah diameter telur, panjang larva. Data yang di dapatkan dianalisis dengan analisis statistik menggunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter telur abalon dari induk yang diberi pakan jenis G. arcuata dan U. fasciatatidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan ukuran telur antara 150-200 µm dan panjang larva antara 210-230 µm.kesimpulan penelitian ini adalah kualitas pakan alami jenis G. arcuata dan U. fasciata memiliki pengaruh yang sama terhadap diameter telur dan panjang larva abalon.Kata Kunci : Abalon, Telur, Larva
Pengaruh Substrat yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Biomassa Cacing Laut (Nereis sp.) Asnawai, .; Yusnaini, .; Idris, Muhammad
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.908 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i2.5008

Abstract

Cacing Nereis sp. tergolong hewan ekonomis yang digunakan sebagai umpan dan pakan induk udang. Penelitian ini bertujuan menentukan bahan substrat media yang baik dalam pembudidayaan cacing Nereis. sp. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Pada setiap unit percobaan digunakan sebanyak 5 ekor hewan uji. Perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan tipe substrat yang berbeda terdiri atas pasir putih, pasir hitam dan pasir putih campur pasir hitam. Hewan uji hasil penangkapan di alam dengan ukuran yang relatif sama ditempatkan dalam wadah sementara, kemudian dilakukan penimbangan awal terhadap berat total hewan uji menggunakan timbangan analitik. Hewan uji lalu ditempatkan pada masing-masing wadah penelitian yang tersedia. Pakan yang diberikan adalah ampas kelapa yang masih memiliki santan, diberikan 2 kali/hari dengan dosis 20 % dari bobot tubuh. Variabel yang diamati adalah Kelangsungan  Hidup, Pertumbuhan Mutlak dan Laju Pertumbuhan Spesifik. Hasil uji menunjukkan semua jenis substrat pada penelitian ini dapat direkomendasikan sebagai substrat pada budidaya cacing Nereis sp., karena menghasilkan kelangsungan hidup, pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik yang seluruhnya tidak memberikan pengaruh yang nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cacing Nereis sp. dapat dipelihara pada substrat berpasir.Kata kunci: Cacing Nereis sp., Budidaya, Substrat, Biomassa, Pertumbuhan
Analisis Pertumbuhan Perbedaan Jenis Bibit Rumput Laut Kotoni (Kappaphycus Alvarezii) Yang Dipelihara Pada Kondisi Perairan Berbeda Zailan, LD. Zulkifli; Patadjai, Rahmad Sofyan; Balubi, Abdul Muis
Jurnal Media Akuatika Vol 4, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.907 KB) | DOI: 10.33772/jma.v4i4.10547

Abstract

Rumput laut K. alvarezii adalah salah satu komoditi perikanan dengan nilai ekonomis dan potensi ekspor tinggi, permasalahan bibit dan lokasi budidaya adalah faktor penentu kegiatan budidaya rumput laut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan rumput laut dengan jenis dan lokasi budidaya berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan faktorial dengan 2 faktor, lokasi budidaya  sebagai faktor 1 dan jenis bibit sebagai faktor 2. Terdapat 3 lokasi budidaya yaitu muara suangai, agak jauh dari muara sungai (± 300 m), dan jauh dari muara sungai (± 600 m), sedangkan bibit rumput laut yang digunakan adalah bibit lokal dan bibit hasil kultur jaringan. Pemeliharaan K. alvarezii  dilaksanakan selama 42 hari, pada bulan Februari-Maret 2018, di Perairan Desa Bungin Permai, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Mutlak (PM), Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pertumbuhan mutlak tertinggi diperoleh pada bibit hasil kultur jaringan yang dipelihara pada lokasi agak juah dari muara sungai untuk bibit kultur jaringan (268.00 ± 35.96 g), dan nilai terendah diperoleh pada bibit lokal di lokasi muara sungai untuk bibit lokal (175.00 ± 23.90 g). Sedangkan rata-rata laju pertumbuhan spesifik tertinggi sebesar 7.66 ± 1.45 %/hari pada bibit kultur jaringan di lokasi agak jauh dari muara sungai dan LPS terendah sebesar 6.86 ± 1.31 %/hari  pada bibit lokal di lokasi dekat muara sungai. Dapat disimpulkan bahwa faktor bibit berpengaruh lebih besar terhadap pertumbuhan K. alvarezii dibandingkan dengan faktor lingkungan. Kata kunci : lokasi budidaya, rumput laut hasil kultur jaringan, rumput laut lokal, pertumbuhan dan kelangsungan hidup K. alvarezii
Pengaruh Pemberian Pakan Jenis Mikroalga yang Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Protozoea Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Mujaimah, Ima; Hamzah, Muhaimin; Muskita, Wellem H.
Jurnal Media Akuatika Vol 1, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.642 KB) | DOI: 10.33772/jma.v1i2.4277

Abstract

Penelitian tentang pengaruh pemberian pakan jenis mikroalga yang berbeda terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup protozoea udang vaname (L. vannamei) telah dilaksanakan selama dua bulan di laboratorium Pegujian (FPIK) Universitas Halu Oleo Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup protozoea udang vaname (L. vannamei) yang diberi pakan jenis mikroalga berbeda. Hewan uji yang digunakan adalah udang vaname stadia protozoea yang dipelihara selama 8 hari. Wadah yang digunakan adalah erlenmeyer berukuran 500 ml yang diisi air sebanyak 250 ml. Media pemeliharaan adalah air laut bersalinitas 30 ppt. Penelitian ini didesain dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah A (Kb1-3) dan B (C. neogracilis). Hasil penelitian menunjukan bahwa laju pertumbuhan spesifik protozoea udang vaname yang diberi pakan Kb1-3 tidak berbeda dengan yang diberi C. neogracilis. Laju pertumbuhan spesifik berkisar antara 0,005-0,023%. Tingkat kelangsungan hidup protozoea udang vaname lebih tinggi yang diberi C. neogracilis dibanding dengan Kb1-3.Kata kunci : Mikroalga, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup,  protozoea, udang vaname, Kb1-3, Chaetoseros neogracilis.
Aktivitas Enzim Pencernaan Amilase dan Protease Juvenil Abalon (Haliotis asinina) yang Dipelihara pada Salinitas Berbeda Saridu, Siti Aisyah; Anggoro, Sutrisno; Suprijanto, Jusup; Effendy, Irwan Junaedi
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 3 (2021): Juli
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.363 KB) | DOI: 10.33772/jma.v6i3.23569

Abstract

Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang mempengaruhi kehidupan hewan akuatik, termasuk molluska laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim pencernaan amilase dan protease juvenil H. asinina yang dipelihara pada salinitas berbeda. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok. Hewan uji dibagi berdasarkan kelompok ukuran panjang cangkang, yaitu 2,0-2,5 cm, 3,0-3,5 cm dan 4,0-4,5 cm dan dipelihara pada salinitas berbeda yaitu 26‰, 29­‰, 32­‰ dan 35‰ selama 30 hari. Selama masa pemeliharaan, hewan uji diberikan pakan alami Gracilaria verrucosa. Pengukuran aktivitas enzim pencernaan dilakukan pada hepatopankreas dan organ viscera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas media berbeda berpengaruh nyata terhadap aktivitas amilase dan protease (P<0,05). Aktivitas amilase pada salinitas 26‰, 29‰, 32‰ dan 35‰ berturut-turut yaitu 1,1387±0,2158 U/mg protein, 1,0908±0,3531 U/mg protein, 0,7595±0,1044 U/mg protein dan 0,7137±0,2014 U/mg protein. Aktivitas protease juvenil yang dipelihara pada salinitas 26‰, 29‰, 32‰ dan 35‰ berturut-turut yaitu 0.0031±0.0045 U/mg protein, 0.0177±0.0103 U/mg protein, 0.0167±0.0118 U/mg protein dan 0.0239±0.0023 U/mg protein. Berdasarkan hasil penelitian, H. asinina sebaiknya dipelihara pada salinitas >29‰ karena aktivitas protease yang sangat rendah dapat menurunkan kecernaan protein sehingga menghambat pertumbuhan.
Studi Pertumbuhan Juvenil Abalon (Haliotis asinina) yang Dipelihara Bersama Spons yang Berbeda Safitri, Waode; Effendy, Irwan J.; Aslan, Laode M.; idris, muhammad; Balubi, Abdul M.
Jurnal Media Akuatika Vol 2, No 2: April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.527 KB) | DOI: 10.33772/jma.v2i2.4334

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan juvenil abalon Haliotis asinina yang dipelihara bersama spons yang berbeda (Stylotella aurantium, Halichondria panicea, Callyspongia aerizusa). Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan menggunakan sistem IMTA (Integrated Multi Tropic Akuakultur). Sebanyak 90 ekor juvenil abalon dimasukkan kedalam keranjang plastik masing-masing 10 ekor, di tempatkan dalam kolam IMTA dipelihara bersama spons. Sebuah penelitian dengan tiga perlakuan (A= Halichondria panicea), (B= Stylotella aurantium), (C= Callispongia aerizusa) dengan 3 kelompok, kelompok 1 = (ukuran 34-37 cm), kelompok 2 = (ukuran 38-41 cm), kelompok 3 = (ukuran 32-35). Hasil penelitian menunjukkan studi pertumbuhan juvenile abalone H. asinina yang dipelihara bersama spons yang berbeda memberikan respon yang tidak berbeda nyata antara perlakuan. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa pertumbuhan  rata-rata pertambahan panjang cangkang dan bobot tubuh tertinggi terdapat pada perlakuan C yaitu abalon yang di pelihara bersama spons Callyspongia aerizusa.Kata Kunci : IMTA, Juvenil Abalon (Haliotis asinina), Spons Berbeda dan Pertumbuhan
Pengaruh Ketinggian Air Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Belut Sawah (Monopterus albus) Yang Dipelihara Pada Media Tanpa Lumpur Suparta, Syahruddin; Idris, Muhammad; Balubi, Abdul Muis
Jurnal Media Akuatika Vol 3, No 4: Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.711 KB) | DOI: 10.33772/jma.v3i4.8025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian air yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup belut sawah (Monopterus albus). Perlakuan berupa ketinggian air dengan perlakuan A (15 cm), perlakuan B (20 cm), perlakuan C (30 cm) dan perlakuan D (45 cm). Parameter yang diamati pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan Kelangsungan Hidup (SR). Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)  dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian air memberi pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik namun memberi pengaruh yang tidak nyata terhadap kelangsungan hidup. Pertumbuhan tertinggi diperoleh pada perlakuan A (ketinggian air 15 cm) 25.67 g sementara itu nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada perlakuan A (ketinggian air 15 cm) sebesar 0.08 %/hari dan nilai kelangsungan hidup rata-rata berkisar antara 98 %-100 %. Kesimpulan belut sawah sebaiknya dipelihara pada ketinggian air 15 cm pada media tanpa lumpur untuk menghasilkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup yang optimum. Kata kunci : Ketinggian Air, Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup, Belut Sawah.
Identifikasi Senyawa Bioaktif pada Ekstrak Kelinci Laut (Dolabella auricularia) dan Penghambatannya terhadap Aeromonas hydrophila Nurhalisa, Nurhalisa; Wulandari, Rinda; Nur, Indriyani; Suryani, Suryani; Sabilu, Kadir
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 4 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.546 KB) | DOI: 10.33772/jma.v6i4.19200

Abstract

Perairan laut di Indonesia kaya akan biota yang dapat dimanfaatkan senyawa aktif yang dikandungnya, salah satunya adalah dari golongan gastropoda jenis kelinci laut (D. auricularia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa dari hasil ekstraksi kelinci laut serta mengkaji kemampuan bahan aktif dalam mengendalikan infeksi bakteri patogen Aeromonas hydrophila melalui pengamatan penghambatannya secara in vitro. Metode penelitian yaitu eksperimen laboratorium dimana proses ekstraksi, skrining bioaktif, dan uji in vitro menggunakan metode  maserasi, kalorimetri, dan difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukan ekstraksi kelinci laut menggunakan pelarut etil asetat dengan rasio bahan dan pelarut yaitu 1:2 menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 0,32% dan mengandung senyawa phenolic, tanin, steroid, terpenoid, alkaloid, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri karena pada penelitian ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila hingga dosis minimum yang diujikan yakni 1000 ppm secara in vitro. Daya hambat terhadap bakteri A. hydrophila menunjukan nilai yang tinggi seiring dengan penambahan konsentrasi terutama pada konsentrasi 7000 ppm dibandingkan kontrol. Olehnya ekstrak kelinci laut berpotensi untuk pengembangan penyakit ikan pada akuakultur, khususnya untuk pengendalian penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila.Kata kunci: Kelinci laut, Aeromonas hydrophila, in vitro