cover
Contact Name
Diah Astika
Contact Email
jaf@malahayati.ac.id
Phone
+6285269630720
Journal Mail Official
jurnal.analisfarmasi@gmail.com
Editorial Address
JL. Pramuka No 27 Kemiling Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JAF (Jurnal Analis Farmasi)
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2503233X     EISSN : 26567598     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Jurnal ini berisikan hasil penelitian di bidang analisa obat, obat tradisional, makanan, minuman, kosmetik. Jurnal ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat umum yang ingin mengetahui mengenai informasi mengenai keamanan obat, bahan pangan, kosmetik,serta informasi nilai gizi pangan dan informasi terkait lainnya
Articles 228 Documents
UJI PENGARUH FERMENTASI ECO ENZYME KULIT JERUK KEPROK (Citrus reticulate) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN METODE DPPH Abdurrofi, Akrom; Iswandi, Iswandi; Widyasti, Jena Hayu
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.16524

Abstract

Fermentasi merupakan proses perubahan kimia pada suatu substrat organik melalui aksi enzim yang kemudian akan dihasilkan oleh mikroorganisme. Eco enzyme adalah cairan organik komplek yang berasal dari proses fermentasi sisa organik seperti sayur, buah, gula, dan air. Kulit jeruk keprok (Citrus reticulate) memiliki kandungan vitamin C yang dapat berperan sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kadar vitamin C, nilai IC50, aktivitas antiokisdan dan pengaruh fermentasi eco enzyme terhadap aktivitas antioksidan kulit jeruk keprok (Citrus reticulate). Penetapan kadar vitamin C dan uji aktivitas antioksidan eco enzyme kulit jeruk keprok dilakukan pada hasil fermentasi hari ke 1, 3, dan 5. Penetapan kadar vitamin C menggunakan spektrofotometeri UV-Vis dan Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode penangkapan radikal 2,2’-difenil-1 pikrilhidrazil (DPPH) dengan vitamin C sebagai pembanding. Data diolah menggunakan persamaan regresi linier untuk memperoleh nilai IC50. Data kemudian dianalisa dengan menggunakan aplikasi SPSS dengan  mentode one way ANOVA.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sampel eco enzime kulit jeruk keprok memiliki kandungan vitamin C, mulai dari 64,95±0,62 mg/g dalam sampel kontrol positif, 73,47±0,33 mg/g dalam sampel 1, 113,61±1,55 mg/g dalam sampel 2, dan 95,94±0,3 mg/g dalam sampel 3. sampel eco enzime kulit jeruk keprok memiliki nilai IC50 mulai dari 318,73±6,38 untuk sampel kontrol positif, 157,05±1,95 untuk sampel 1, 133,26±5,12 untuk sampel 2 dan 329,03±3,87 untuk sampel 3. Proses fermentasi pada sampel eco enzyme kulit jeruk keprok mempengaruhi aktivitas antioksidan dari sampel melalui perubahan kadar vitamin C pada sampel.
ANALISIS MUTU SOYGHURT INFUSA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) SEBAGAI MINUMAN PROBIOTIK Amelia, Widya Puspitasari; Mardianingrum, Richa; Susanti, Susanti
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.12035

Abstract

Soyghurt merupakan minuman probiotik yang berasal dari kedelai yang diolah kemudian difermentasi dengan menggunakan bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus. Infus bunga telang ditambahkan ke soyghurt untuk lebih meningkatkan kualitasnya. Bunga telang selain tinggi antioksidan juga dapat digunakan sebagai pewarna alami pada soyghurt. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh konsentrasi bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap kualitas soyghurt sebagai minuman probiotik. Penelitian terdiri dari infusa bunga telang, pembuatan soyghurt dan uji mutu soyghurt sesuai SNI 2981:2009 yang terdiri dari uji organoleptik, uji total asam dan uji bakteri asam laktat dengan penambahan infusa bunga telang (FI 1%, FII 3%, FIII 5%).  Berdasarkan hasil penelitian, seluruh formula memiliki ciri organoleptik yang hampir sama, antara lain rasa asam, aroma khas kedelai, warna ungu, dan tekstur kental. Total bakteri asam dan asam laktat hasil infus bunga telang soyghurt pada FI, FII, dan FIII memenuhi kriteria regulasi.
UJI AKTIVITAS ANTI OKSIDAN SEDIAAN SAMPO EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI PUTIH(Psidium guajava L)DENGAN METODE DPPH Atina, Atina; Wulandari, Shinta; Winahyu, Diah Astika
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.17782

Abstract

Daun jambu biji putih (Psidium guajava L) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder diantaranya flavonoid, steroid, saponin, tanin dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antioksidan yang berperan dalam mencegah kerusakan rambut dan mempercepat pertumbuhan rambut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas anti oksidan sediaan sampo ekstrak daun jambu biji putih.Sampel daun jambu biji putih diekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96%.Formulasi sampo ekstrak daun jambu biji putih dibuat 3 formulasi yaitu formulasi dengan ekstrak 0,5% (F I),formulasi dengan ekstrak 0,75% (F II)  dan formulasi dengan ekstrak1% (F III).Uji sifat fisik sampo meliputi uji organoleptis, uji pH, uji dengan metode DPPH menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 515 nm. Hasil uji organoleptis menunjukkan hasil pada ketiga formulasi berwarna coklat dengan aroma daun jambu biji putih, berbentuk cair dengan tekstur kental. Uji homogenitas menunjukkan hasil semua formulasi homogen. Uji pH menunjukkan hasil pada F1 yaitu7,69, F2 yaitu 7,82, F3 yaitu 7,89. Uji tinggi busa menunjukkan hasil pada F1 yaitu 9,46 cm , F2 yaitu 8,7 cm, F3 yaitu 8,36 cm. Penelitian ini menunjukkan hasil antioksidan dengan nilai pada ekstrak etanol daun jambu biji putih 1,26 µg/mL, sampo F I 4,58 µg/mL , F II 2,19 µg/mL , F III 1,67 µg/mL.Aktivitas anti oksidan pada ekstrak etanol daun jambu biji putih dan sediaan sampo ekstrak daun jambu biji putih termasuk ke dalam nilai IC50 yang sangat kuat yaitu<50 µg/mL
STANDARISASI MUTU SERBUK SIMPLISIA DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Susilowati, Agustina; Nur’aini, Nanda Syta
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.12078

Abstract

Teh hijau mengandung flavonoid dan alkaloid yang dapat dimanfaatkan sebagai diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji parameter spesifik dan non spesifik seduhan daun teh hijau. Seduhan daun teh hijau distandarisasi dengan dua parameter uji yaitu uji parameter spesifik dan uji non spesifik. Hasil uji spesifik diketahui bahwa seduhan daun teh hijau mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin. Hasil uji non spesifik didapatkan hasil kadar abu 6,486%, kadar air 1,292%, kadar Pb 0,001%, kadar Cd tidak terdeteksi, serta uji cemaran mikroba didapatkan hasil yang terdiri dari uji ALT (Angka Lempeng Total) ≤1x103 koloni/gr dan AKK (Angka Kapang Khamir) didapatkan hasil ≤4x102 koloni/gr. Seduhan daun teh hijau berdasarkan uji parameter spesifik dan non spesifik memenuhi standarisasi mutu bahan baku sebagai teh, sehingga seduhan teh hijau ini dapat diproduksi dan layak untuk dikonsumsi.
Literatur Review : Senyawa Bioaktif sebagai Inhibitor Enzim Diabetes Melitus Agustin, Laela Sonia; Amin, Saeful -
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20245

Abstract

AbstrakDiabetes melitus merupakan penyakit metabolik jangka panjang yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah, yang dapat disebabkan oleh kurangnya produksi insulin atau resistensi terhadap kerja insulin. Salah satu pendekatan dalam terapi diabetes adalah dengan menghambat enzim ­penting yang mengatur kadar glukosa darah, seperti Sodium-Glucose Cotransporter 2 (SGLT-2), Glycogen Synthase Kinase-3 Beta (GSK-3β), Aldosa Reduktase (AR), dan Protein Tirosin Fosfatase 1B (PTP1B). Berbagai senyawa bioaktif dari sumber alam telah menunjukkan potensi sebagai inhibitor enzim-enzim tersebut. Studi in silico, in vitro dan in vivo yang dilakukan menunjukkan bahwa senyawa flavonoid, terpenoid, dan polifenol dari tanaman seperti Caesalpinia crista L., Smallanthus sonchifolius, Caesalpinia sappan L., Syzygium polyanthum, Crocus sativus L., dan Orthosiphon stamineus Benth. berinteraksi secara kuat dengan target enzim. Senyawa seperti 3,4-Dicaffeoylquinic acid, kaempferol-7-O-glucoside, luteolin, quercetin, dan sinensetin menunjukkan afinitas tinggi serta efek farmakologis dalam menurunkan kadar glukosa darah. Artikel ini merangkum studi terbaru mengenai mekanisme kerja senyawa bioaktif sebagai inhibitor enzim diabetes dan pendekatan in silico untuk pengembangan terapi yang lebih aman dan efektif. Kata kunci: Diabetes melitus, inhibitor enzim, senyawa bioaktif, in silico
Uji Cemaran Bakteri Coliform Pada Minuman Teh Seduhan Yang Dijual Di Simpur Center Bandar Lampung Dengan Metode Most Probable Number (MPN) Purnama, Robby Candra; Octonariz, Vito Zhafran
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20474

Abstract

Minuman teh seduhan merupakan salah satu terobosan baru dalam penjualan teh berbagai rasa untuk semakin menarik minat para konsumen. Minuman teh seduhan dapat mengalami kerusakan secara mikrobiologi seperti layaknya pada makanan dan minuman lainnya melalui berbagai faktor. Faktor tersebut salah satunya adalah air. Indikator adanya pencemaran air oleh bakteri patogen penyebab penyakit ialah Coliform. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 bahwa untuk syarat bakteriologis air yang melalui atau tanpa melalui proses pengolahan batas kandungan E. coli atau faecal coli didalam 100 ml sampel air sebanyak 0 (tidak ada) dan batas kandungan total bakteri Coliform didalam 100 ml air adalah sebanyak 0 (tidak ada). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian uji cemaran bakteri Coliform pada minuman teh seduhan yang dijual di Simpur Center Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya jumlah bakteri Coliform pada minuman teh seduhan yang dijual di Simpur Center Bandar Lampung sesuai dengan Persyaratan BPOM 2012 tidak lebih dari 2 APM/100 ml. Pengujian dilakukan dengan metode Most Probable Number (MPN). Metode ini merupakan uji deret tabung yang menyuburkan pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah Coliform dalam sampel uji. Sampel yang diuji adalah minuman teh seduhan yang diambil dari 4 pedagang minuman teh seduhan. Dari keempat sampel yang diambil positif 100 % tercemar Coliform dan cemaran Coliform melebihi batas Cemaran yang ditetapkan oleh Kepala Badan POM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 yaitu dibawah 2APM/ 100 ml.
Identifikasi Senyawa Aktif dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Kausar, Radho Al; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20242

Abstract

Tanamana ketapang (Terminalia catappa L.) adalah jenis tanaman yang sangat mudah dibudidayakan dan dapat ditemukan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Tumbuhan ketapang (Terminalia catappa L) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk masalah pencernaan dan pernapasan serta sebagai obat luar untuk keseleo, sakit pinggang, kudis, dan gatal-gatal. Dikenal sebagai Terminalia catappa L, daun ketapang mengandung sejumlah senyawa kimia, termasuk flavonid, alkaloid, tanin, tetpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik. Diketahui bahwa tanin dan flavonoid daun ketapang bersifat antibakteri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) dan kemampuan untuk menghancurkan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini, pelarut etanol 96% dimaserasi dan kemudian dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kentalnya. Daerah jernih di sekitar kertas cakram yang digunakan media Nutrien Agar (NA) menunjukkan uji hambat. Ekstrak daun ketapang dengan kosentrasi 25%, 50%, 75%, 100%. Kontrol positif menggunakan tetrasiklin dan kontrol negatif menggunakan aquades. Zona hambat pada ekstrak daun ketapang konsentrasi 25% terdapat 18,47 mm, 50% terdapat 19,10 mm, 75% sebesar 20,77 mm, 100% sebesar 22,07 mm, pada kontrol positif di dapatkan 27,00 mm, dan kontrol negatif 0.
ANALISIS KADAR VITAMIN C PADA PETAI (Parkia speciosa Hassk) YANG DIBUDIDAYAKAN DI DESA GAYAM KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN SECARA IODIMETRI Octonariz, Vito Zhafran; Purnama, Robby Candra
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20482

Abstract

Vitamin C merupakan salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan tubuh. Sumber vitamin C umumnya terdapat pada pangan yaitu sayuran dan buah-buahan segar. Beberapa pustaka mengatakan bahwa petai segar mengandung vitamin C dan dapat dijadikan pangan untuk memenuhi asupan vitamin C tubuh. Analisis Kadar Vitamin C pada petai (Parkia speciosa Hassk) yang dibudidayakan di Desa Gayam Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan secara Iodimetri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang. Metode yang digunakan yaitu metode Iodimetri yang disebut juga titrasi langsung dimana zat uji langsung dititrasi dengan larutan iodium standar dan larutan amilum sebagai indikatornya. Hasil analisis kadar vitamin C pada sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 40,05 dan 37,25 mg/100 g. Dari hasil analisis kadar tersebut diperoleh nilai uji presisi yang sudah memenuhi syarat keberterimaan dengan nilai koefisien variasi (KV) untuk sampel petai gajah dan petai kacang secara berturut-turut yaitu sebesar 1,76% dan 1,80%. Berdasarkan analisis tersebut petai mengandung vitamin C yang cukup tinggi dan petai dapat dijadikan salah satu pangan untuk memenuhi asupan vitamin C pada tubuh.
EFEKTIFITAS SEDIAAN HAIR TONIC EKSTRAK ETANOL KULIT PISANG AMBON (Musa paradisiaca L.) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT Susanti, Rostina Widia; Nofita, Nofita; Saputri, Gusti Ayu Rai
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20340

Abstract

Abstract: Hair loss can be treated with regular hair care using cosmetic products such as hair tonic. Hair tonics in circulation contain synthetic ingredients which, if used excessively, cause side effects. Ambon banana peel (Musa paradisiaca L.) has the potential to overcome hair loss because it contains antioxidant compounds, namely flavonoids, alkaloids, tannins, phenols and alkaloids which are scientifically effective in hair growth. The aim of this research is to make a hair tonic preparation containing Ambon banana peel extract, and to carry out a physical evaluation of the hair tonic preparation and test its effectiveness for the best hair growth. This research uses the maceration method in the process of making Ambon banana peel extract with 96% ethanol solvent as well as statistical analysis of the Repeated Measure Anova parametric test and the non-parametric Friedman test. Hair tonic is made with extract concentrations of 2% (F1), 4% (F2), and 8% (F3). Secondary metabolite compounds contained in Ambon banana peel extract (Musa paradisiaca L.) contain flavonoids, tannins, phenols and alkaloids. The three hair tonic preparations of Ambon banana peel extract (Musa paradisiaca L.) met good physical preparation evaluations including homogeneous preparations, pH, specific gravity and viscosity in accordance with SNI 16-4955-1998. All formulations have hair growth with a sig value of 0.000, (<0.05) which means there is a significant difference between groups. F3 has the best hair growth activity but is still significantly different from (K+) with an average hair length of 4.18 ± 4.0958 and a sig value of 0.000, (<0.05). After conducting research to test the effectiveness of hair tonic preparations, the ethanol extract of Ambon banana peel has an influence on hair growth.Keywords: Hair tonic, Ambon banana peel (Musa paradisiaca L.), Hair growth.Abstrak: Rambut rontok dapat diatasi dengan perawatan rambut secara teratur menggunakan produk kosmetik seperti hair tonic. Hair tonic yang beredar mengandung bahan-bahan sintesis yang kalau digunakan berlebihan menimbulkan efek samping. Kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) berpotensi mengatasi kerontokan rambut karena mengandung senyawa antioksidan yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, fenol dan alkaloid secara ilmiah memiliki efektifitas dalam pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini adalah membuat sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak kulit pisang ambon, dan melakukan evaluasi fisik sediaan hair tonic serta menguji efektifitas terhadap pertumbuhan rambut yang terbaik. Penelitian ini menggunakan metode maserasi pada proses pembuatan ekstrak kulit pisang ambon dengan pelarut etanol 96% serta analisis statistik uji parametrik Repeated Measure Anova dan uji non parametrik friedman. Hair tonic dibuat dengan konsentrasi ekstrak 2% (F1), 4% (F2), dan 8% (F3). Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) mengandung senyawa flavonoid, tanin, fenol, dan alkaloid. Ketiga sediaan hair tonic ekstrak kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) memenuhi evaluasi sediaan fisik yang baik meliputi sediaan homogen, pH, bobot jenis, dan viskositas yang sesuai dengan SNI 16-4955-1998. Semua formulasi memiliki pertumbuhan rambut dengan nilai sig 0,000, (<0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. F3 memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang paling baik namun masih berbeda signifikan dengan (K+) dengan rata-rata panjang rambut 4,18 ± 4,0958 dan nilai sig 0,000, (<0,05). Setelah melakukan penelitian uji efektifitas sediaan hair tonic ekstrak etanol kulit pisang ambon memiliki pengaruh dalam pertumbuhan rambut.Kata kunci: Hair tonic, Kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.), Pertumbuhan rambut.
Uji Daya Hambat Formulasi Facial Wash Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) Sebagai Anti Jerawat Terhadap Bakteri Propionibacterium acne Dengan Metode Difusi Sumuran Feladita, Niken; Purnama, Robby Candra; Miharia, Rima Sari
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas sediaan facial wash dengan bahan aktif ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) sebagai antijerawat terhadap bakteri propionibacterium acnes. Ekstrak yang diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dibuat dalam 3 seri konsentrasi 5%, 10% dan 15% dibuat kedalam sediaan facial wash dengan formula yang sama kemudian diujikan pada bakteri propionibacterium acne dengan menggunakan metode difusi sumuran. facial wash dengan bahan aktif ekstrak daun pegagan dinyatakan memenuhi syarat sediaan facial wash yang baik, setelah dilakukan beberapa parameter pengujian evaluasi sediaan facial wash. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan nilai Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) yang dibuat dalam sediaan facial wash diperoleh pada konsentrasi 5% terhadap bakteri propionibacterium acne dengan diameter hambat 23,2866 mm.