cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KELOMPOK TANI HUTAN DALAM PEMBERDAYAAN LEBAH MADU KELULUT (Trigona spp) DI DESA GALANG KECAMATAN SUNGAI PINYUH KABUPATEN MEMPAWAH Zainal, Sofyan; Juritno, Edy; M, Iskandar A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.54944

Abstract

The kelulut honey bee has been cultivated in surrounding areas of Rasau and Galang village, Sungai Pinyuh District, and set up a Syahmi honey and As-Syifa honey Demplot. As well as the problem of requirements because only members who have a stup or colony and understand about bees alone can join Forest Farmer Groups. The purpose of the study was to determine the community's attitude towards the Forest Farmer Group in empowering the kelulut honey bee (Trigona spp) and to analyze the relationship between the level of knowledge, income, and cosmopolitan factors with the attitude of the people of Galang Village, Sungai Pinyuh District. The study used a survey method with a purposive sampling technique and direct communication was assisted by a tool in the form of a questionnaire containing a series of questions. The number of respondents in this study was 93 respondents from 4 hamlets in Galang Village, namely Dusun Selatan, Dusun Tengah, Dusun Hilir, and Dusun Utara. The research result shows that the altitude of society as many as 93 responses to the Forest Farmer Group in empowering Kelulut bees (Trigona spp) is a large 92 (98,9%) have an altitude of acceptance, 1 (1,1%) have an attitude of neutral, and no respondent has an attitude. In the statistical analysis, the value of arithmetic X² is 180,03 > the value of table X² is 0,05 = 5,991. Thus the hypothesis which states the attitude of society toward Forest Farmers Groups in empowering the Kelulut bee (Trigona spp) tends to be high dan acceptable.Keywords: Community Attitude, Forest Farmers Group, Galang Village,  AbstrakLebah Madu Kelulut telah dibudidayakan di Desa Galang dan wilayah sekitarnya Desa Rasau, Kecamatan Sungai Pinyuh dan mendirikan Demplot Madu As-Syifa dan Demplot Madu Syahmi. Serta adanya masalah mengenai persyaratan karena hanya anggota yang mempunyai stup atau koloni dan memahami tentang lebah saja yang bisa bergabung ke dalam Kelompok Tani Hutan. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap Kelompok Tani Hutan dalam pemberdayaan lebah madu kelulut (Trigona spp) dan untuk menganalisis hubungan antara faktor tingkat pengetahuan, pendapatan dan kosmopolitan dengan sikap masyarakat Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling dan komunikasi langsung dibantu dengan alat berupa kuesioner yang berisikan rangkaian pertanyaan. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 93 responden dari 4 dusun yang ada di Desa Galang, yaitu Dusun Selatan, Dusun Tengah, Dusun Hilir dan Dusun Utara. Berdasarkan hasil penelitian analisis data dapat disimpulkan bahwa, sikap masyarakat sebanyak 93 responden terhadap Kelompok Tani Hutan dalam pemberdayaan lebah madu kelulut (Trigona spp), yaitu sebesar 92 (98,9%) memiliki sikap menerima, 1 (1,1%) memiliki sikap netral, dan tidak ada responden memiliki sikap menolak. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai X2 180,03 hitung > X2 tabel 0,05 = 5,991, dengan demikian hipotesis yang menyatakan sikap masyarakat terhadap Kelompok Tani Hutan dalam pemberdayaan lebah madu kelulut (Trigona spp) cenderung tinggi dan dapat diterima. Kata kunci: Sikap Masyarakat, Kelompok Tani Hutan, Desa Galang
IDENTIFIKASI POTENSI DAYA TARIK EKOWISATA BUKIT TALAGA DESA AUR SAMPUK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK Erianto, Erianto; Ardian, Fransiskus; Azahra, Siva Devi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.68336

Abstract

Identification of ecotourism potential is an activity of searching, recording, finding, and registering all that has potential or makes the place attractive for visitors to visit. This study aims to find and explain the existence of objects that are ecotourism attractions in Talaga Hill, Aur Sampuk Village, Sengah Temila District, and Landak Regency. The research method uses data collection techniques with direct field observations and interviews with visitor respondents and the local community with a questionnaire guide. Research shows that the Talaga Hills area has potential as an ecotourism attraction, including biological and non-biological potential. The biological potential is in the form of the presence of moss plants, types of fungi, orchids, corpse flowers (Amorphophallus sp.), fruit-producing trees for consumption, and a diversity of animal species such as lemurs (Galeopterus variegatus), rock magpies (Copsychus saularis), and porcupines (Hystrix brachyura). While the non-biological potential includes beautiful views of hills, high cliffs, rocks, stone caves, and clean water sources, Talaga Hill also presents attractions in the form of adventure activities, namely hiking activities, camping activities, wildlife observation, natural resource exploration activities, and rock-climbing activities. Apart from its natural beauty, Bukit Talaga also has the potential to attract cultural tourism, including the existence of three traditional Dayak ceremonial places on Bukit Talaga and the traditions and ceremonies of the local community.Keywords: attraction, ecotourism, identification, talaga hill.AbstrakIdentifikasi potensi ekowisata   merupakan suatu kegiatan mencari, mencatat, menemukan serta mendaftarkan semua yang menjadi potensi atau yang menjadikan tempat tersebut menarik untuk dikunjungi oleh pengunjung. Penelitian ini bertujuan menemukan dan menjelaskan keberadaan objek-objek yang menjadi daya tarik ekowisata di Bukit Talaga Desa Aur Sampuk, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung dilapangan dan wawancara terhadap responden pengunjung dan masyarakat setempat dengan panduan kuesioner. Penelitian menunjukkan bahwa Kawasan Bukit Talaga memiliki potensi yang menjadi daya tarik ekowisata diantaranya yaitu potensi hayati dan potensi non-hayati. Potensi hayati berupa keberadaan tumbuhan lumut, jenis jamur, tumbuhan angrek, bunga bangkai (Amorphophallus sp), pohon penghasil buah untuk konsumsi dan keanekaragaman jenis satwa seperti kubung (Galeopterus variegatus), burung murai batu (Copsychus saularis) dan landak (Hystrix brachyura). Sedangkan potensi non-hayati antara lain yaitu pemandangan indah di atas bukit, tebing tinggi, bebatuan, gua batu, dan sumber air bersih. Bukit Talaga juga menyajikan daya tarik berupa kegiatan petualangan yaitu kegiatan hiking, kegiatan berkemah, pengamatan satwa liar, kegiatan eksplorasi sumber daya alam dan kegiatan panjat tebing. Terlepas dari keindahan alamnya Bukit Talaga juga memiliki potensi daya tarik wisata budaya, diantaranya yaitu keberadaan tiga tempat upacara adat Dayak di Bukit Talaga, tradisi/upacara adat masyarakat setempat. Kata kunci: daya tarik, ekowisata, identifikasi, bukit talaga
ANALISIS PERDAGANGAN BAGIAN TUBUH HEWAN MAMALIA DILINDUNGI PADA E-COMMERCE Amalia, Risqi; Cahyanto, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72183

Abstract

The trade of protected wildlife violates biodiversity. High demand has driven illegal traders to explore new avenues through e-commerce. Despite government efforts to address this issue, the trade remains rampant. This research analyzes the trade of parts of protected mammalian species on e-commerce platforms. Through a desk study method, data indicates five mammalian species, such as deer, tigers, elephants, rhinos, and leopards, are preserved for decorative purposes. Tokopedia, Shopee, Facebook, and Bukalapak are the primary marketplaces. Tokopedia has the highest number of products from protected mammalian species due to inadequate supervision. Commonly found products include wall decorations made from the heads of deer, sought after for the uniqueness of their antlers. The government has enacted Law No. 5 of 1990 on the Conservation of Natural Resources and Ecosystems (KSDAE) and Regulation No. 7 of 1997 on wild animals, but implementation has been hindered. Significant efforts are needed to enforce regulations for better conservation of natural resources.Keywords: Animal, protected, trade, e-commerce, Tokopedia.AbstrakPerdagangan satwa dilindungi melanggar keberagaman hayati. Tingginya permintaan mendorong pedagang ilegal mencari cara baru melalui e-commerce. Pemerintah berupaya mengatasi hal ini, namun perdagangan tetap tinggi. Penelitian ini menganalisis perdagangan bagian tubuh hewan mamalia dilindungi di e-commerce. Melalui metode desk study, data menunjukkan lima jenis mamalia seperti rusa, harimau, gajah, badak, dan macan tutul yang diawetkan untuk hiasan. Tokopedia, Shopee, Facebook, dan Bukalapak adalah marketplace utama. Tokopedia memiliki produk bagian tubuh hewan mamalia dilindungi terbanyak karena pengawasan yang kurang. Produk yang umum ditemui adalah hiasan dinding dari kepala rusa yang diminati karena keunikan tanduknya. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan PP No 7 Tahun 1997 tentang satwa liar, namun implementasinya terhambat. Diperlukan usaha keras untuk menegakkan peraturan guna menjaga konservasi sumber daya alam dengan lebih baik.Kata Kunci: Satwa, dilindungi, perdagangan, e-commerce, Tokopedia. 
RESPON LUTUNG SENTARUM Presbytis chrysomelas cruciger TERHADAP KEHADIRAN MANUSIA DAN SATWA LAIN DI RESORT SEMANGIT TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN-DANAU SENTARUM Irsandi, Ricky Rizki; Erianto, Erianto; Prayogo, Hari; Efiyati, Efiyati; Santoso, Nyoto; Sutopo, Sutopo
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lutung Sentarum are endemic primates with distribution on the island of Borneo, namely from Melalap-Sarawak and recently found in the Danau Sentarum National Park area. Lutung Sentarum is classified as critically endangered and requires scientific data study for Lutung Sentarum so that the animal can be conserved according to their characteristics and needs. The purpose of this study was to record the response shown by Lutung Sentarum when they saw the presence of humans and other animals. The method used is a survey with ad-libitum and accidental sampling technique. When responding, Lutung Sentarum will show agonistic behavior towards humans, while towards other animals it will show affiliative and agonistic behavior depending on the animal species and their relationship in the same area. During the study, it was seen that Lutung Sentarum showed a response: freezing, hiding, observing, investigating, vocalizing, intimidating, and flightKeywords: Danau Sentarum, Lutung Sentarum, ResponsesAbstrakLutung Sentarum merupakan satwa primata endemik dengan penyebaran di Pulau Kalimantan yaitu dari Melalap-Serawak dan belum lama ini ditemukan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Lutung Sentarum termasuk dalam status kategori critically endangered dan memerlukan data studi ilmiah mengenai Lutung Sentarum sehingga satwa tersebut dapat dikonservasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mencatat respon yang ditunjukkan oleh Lutung Sentarum saat melihat kehadiran manusia dan satwa lain. Metode yang digunakan yaitu survey dengan teknik ad-libitum dan accidental sampling. Saat merespon, Lutung Sentarum akan menunjukkan perilaku agonistik terhadap manusia, sedangkan terhadap satwa lain menunjukkan perilaku afiliatif dan agonistik tergantung spesies satwa dan hubungannya dalam satu wilayah yang sama. Selama penelitian, terlihat Lutung Sentarum menunjukkan respon: diam, bersembunyi, mengamati, mencari informasi, bersuara, intimidasi, dan kabur.Kata kunci: Danau Sentarum, Lutung Sentarum, Respon
ANALISIS KEANEKARAGAMAN JENIS PADA TEGAKAN MANGROVE DI BLOK HUTAN MONDULAMBI, RPTN KAMBATAWUNDUT, SPTN II LEWA, KAWASAN TAMAN NASIONAL MANUPEU TANAH DARU Sulastri, Clarita Wihelmina; Aji, Irwan Mahakam Lesmono; Wahyuningsih, Endah
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.75910

Abstract

Mangrove ecosystems are vulnerable to changes and shifts in composition of vegetation, due to its dynamic and complex nature. The composition of mangrove vegetation is also influenced by ecosystem reactions in the form of external factors such as ecosystem pressure, tides, and the environmental quality of the ecosystem. To determine the composition of mangrove vegetation, it is necessary to carry out analyse the vegetation, to show the diversity of mangrove species. This study was conducted by analysing vegetation and diversity. The results show that the types of mangrove ecosystem composition in Mondulambi Block, Kambatawundut RPTN, SPTN II Lewa, Manupeu Tanah Daru National Park consisted of 7 families comprising of 9 species i.e: Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, and Derris trifoliata. Indications of moderate diversity based on the Shannon-Wiener Index, respectively for tree, sapling, and seedling growth levels are 1.313, 1.273, and 1.256. Based on Simpson's diversity index indicates a high value, with results of 0.700 at the tree level, 0.674 at the sapling level, and 0.646 at the seedling level. Keywords: Species Diversity, Mangroves, Environmental Quality Index, National Park  AbstrakEkosistem mangrove rentan terhadap perubahan dan pergeseran vegetasi penyusun, hal ini dikarenakan ekosistem ini bersifat dinamis dan kompleks. Susunan vegetasi mangrove turut dipengaruhi reaksi ekosistem berupa faktor eksternal seperti tekanan ekosistem, pasang surut air laut, serta kualitas lingkungan ekosistem tersebut. Untuk mengetahui susunan vegetasi mangrove perlu dilakukan analisis vegetasi, yang menunjukkan keanekaragaman spesies mangrove. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis vegetasi dan keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan jenis penyusun ekosistem   mangrove di Blok Mondulambi, RPTN Kambatawundut, SPTN II Lewa, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru terdiri dari 7 famili dengan 9 jenis, terdiri dari Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Acanthus illicifolius, Terminalia catappa, Acrostichum aureum, dan Derris trifoliata. Indikasi keanekaragaman sedang berdasarkan Indeks Shannon-Wiener, berturut-turut untuk tingkat pertumbuhan pohon, pancang, dan semai adalah 1,313, 1,273, dan 1,256. Berdasarkan indeks keanekaragaman Simpson mengindikasikan nilai yang tinggi, dengan hasil 0,700 pada tingkat pohon, 0,674 tingkat pancang, dan 0,646 tingkat semai. Kata kunci: Keanekaragaman Jenis; Mangrove; Indeks Kualitas Lingkungan; Taman Nasional
FORMULASI LIPBALM PELEMBAB BIBIR BERBAHAN DASAR BUTTER TENGKAWANG DENGAN PEWARNA ALAMI EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L) Diba, Farah; Oktaviani, Maria Gerlina; Nurhaida, Nurhaida
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.70247

Abstract

Tengkawang fruit is a non-timber forest product that produces vegetable oil which is processed through the process of grinding, steaming, and pressing and then freezing it into tengkawang fat. Tengkawang fat is known to contain high oleic acid so it can increase skin permeability through cosmetic products. Lip balm is a skin moisturizing cosmetic that is used to moisturize lips skin so that they do not dry and crack easily. Secang wood contains a brazilin compound which produces red pigment as an antioxidant and is useful as a natural dye. Therefore, tengkawang fat lip balm was prepared with secang wood extract as a coloring agent. This study aimed to determine the characteristics and physical stability of tengkawang fat lip balm with secang wood extract as a colorant for 28 days of storage. The research was conducted at the Wood Technology Laboratory, Faculty of Forestry, for ± 4 weeks. The study used experimental methods consisting of three formulas with different concentrations of tengkawang fat, namely FI (15%), FII (20%), and FIII (25%). Evaluation of the preparation was carried out including organoleptic tests, homogenity tests, pH tests, and irritation test. Evaluation for each formula showed that all lipbalm preparations were stable, but better and physically stable at a concentration of 25% tengkawang fat during 28 days of storage.Keywords: tengkawang fruit, tengkawang butter, lipbalm, secang woodAbstrakBuah tengkawang merupakan hasil hutan bukan kayu penghasil minyak nabati yang diolah melalui proses penghalusan, pengukusan, dan pengempaan kemudian dibekukan menjadi lemak tengkawang. Lemak tengkawang diketahui mengandung asam oleat yang tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk meningkatkan permeabilitas kulit melalui produk kosmetik. Lipbalm merupakan kosmetik pelembab kulit yang digunakan untuk melembabkan kulit bibir agar tidak mudah kering dan pecah-pecah Kayu secang mengandung senyawa brazilin yang menghasilkan pigmen warna merah sebagai antioksidan dan bermanfaat sebagai pewarna alami. Oleh karena itu, dibuatlah sediaan lipbalm lemak tengkawang dengan ekstrak kayu secang sebagai pewarna. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan stabilitas fisik dari sediaan lipbalm lemak tengkawang dengan ekstrak kayu secang sebagai pewarna pada penyimpanan selama 28 hari. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Kayu Fakultas Kehutanan selama ± 4 minggu. Penelitian menggunakan metode eksperimental terdiri dari tiga formula dengan konsentrasi lemak tengkawang yang berbeda-beda yaitu FI (15%), FII (20%), dan FIII (25%) kemudian dilakukan evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, dan uji iritasi. Evaluasi untuk setiap formula menunjukkan bahwa semua sediaan lipbalm stabil, namun lebih baik dan stabil secara fisik pada konsentrasi lemak tengkawang 25% selama penyimpanan 28 hari. Kata kunci: buah tengkawang, butter tengkawang, lipbalm, kayu secang
ASOSIASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DENGAN TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis) DI KECAMATAN MEMPAWAH HILIR KABUPATEN MEMPAWAH Wulandari, Reine Suci; Permatasari, Endah Intan; Muin, Abdurrani; Putri, Erisa Ayu Waspadi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.55049

Abstract

Agarwood plants (Aquilaria malaccensis) planted in Mempawah Hilir District are developing well in various diameter sizes. Research on its association with natural arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) in Mempawah Hilir District is still limited. The aim of this research is to examine the natural association of AMF and agarwood plants by identifying the genus, the level of association of AMF with the plant and determining the correlation between the number of spores and the percentage of infection with the size of the plant diameter. The research was conducted in Mempawah Hilir District and the Silviculture Laboratory of the Forestry Faculty, Tanjungpura University. Soil and root samples were collected from the rhizosphere area of agarwood plants (Aquilaria malaccensis). The parameters measured are tree diameter, number of spores, and percentage of plant root infection. The research results show that agarwood plants are naturally associated with AMF. Spore identification and infection observations suggest an association with the genus Glomus sp. and Gigaspora sp. at a moderate level (score 3). Simple regression analysis showed a positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree, which indicated an increase in the number of spores and the percentage of infection as the tree diameter increased. The positive relationship between the number of spores, the percentage of infection, and the diameter of the agarwood tree indicates that the natural growth of the agarwood tree is supported by AMF colonization. This can be the basis for more effective forest management strategies, including maintaining soil microbes that enable optimal growth of agarwood plants in natural forests.Keywords: Aquilaria malaccensis, Association, Mempawah HilirAbstrak Tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) yang ditanam di Kecamatan Mempawah Hilir berkembang dengan baik dalam berbagai ukuran diameter. Penelitian tentang asosiasinya dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA) alami di Kecamatan Mempawah Hilir masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah yaitu mengkaji asosiasi alami FMA dan tanaman gaharu dengan mengidentifikasi genus, tingkat asosiasi FMA dengan tanaman tersebut serta menentukan korelasi jumlah spora dan persentase infeksi dengan ukuran diameter tanaman. Penelitian dilakukan di Kecamatan Mempawah Hilir dan Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Sampel tanah dan akar dikumpulkan dari daerah rhizosfer tanaman gaharu. Paramater yang diukur adalah diameter pohon, jumlah spora, dan persentase infeksi akar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman gaharu secara alami berasosiasi dengan FMA. Identifikasi spora dan observasi infeksi menunjukkan adanya asosiasi dengan genus Glomus sp. dan Gigaspora sp. pada tingkat sedang (dengan skor 3). Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu, yang menandakan peningkatan jumlah spora dan persentase infeksi seiring bertambahnya diameter pohon. Hubungan positif antara jumlah spora, persentase infeksi, dan ukuran diameter pohon gaharu menunjukan bahwa pertumbuhan pohon gaharu secara alami didukung oleh kolonisasi FMA. Ini dapat menjadi dasar bagi strategi manajemen hutan yang lebih efektif, termasuk pemeliharaan mikroba tanah yang memungkinkan pertumbuhan optimal tanaman gaharu dalam hutan alam.Kata kunci: Aquilaria malaccensis, Asosiasi, FMA, Mempawah Hilir
KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN TONGKOL JAGUNG Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini; Fahrussiam, Fauzan; Ningsih, Rima Vera; Raehnayati, Raehnayati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.70758

Abstract

Agricultural waste needs to be processed into products that provide benefits by making alternative fuels in the form of biobriquettes (charcoal briquettes). The purpose of this study was to determine the best composition of charcoal briquettes from coconut shell waste and corn cobs by testing charcoal briquettes in order to obtain quality charcoal briquettes in accordance with SNI No.1/6235/2000 standards.   The method used in this research is using experimental method with experimental design using non-factorial Completely Randomized Design (RAL) with three treatments of raw material types with 3 replications.     Based on the results of the study, the following conclusions were obtained: The value of moisture content, ash content, fly substance content and calorific value are included in the SNI 01-6235-2000 standard except the calorific value of corn cob charcoal briquettes is not included in the standard. Bound carbon content is not found in SNI 01-6235-2000 but based on Japanese, American and British standards the value is included in the standard. The highest value of moisture content in corn cob briquettes (TJ) with a value of 0.88% and the lowest in coconut shells at 0.41%.   The highest ash content value in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 11.79% and the lowest in the coconut shell charcoal briquettes (TK) was 7.09%. The highest value of flying matter content in the mixed charcoal briquettes of corn cob and coconut shell (TT) was 25.67% and the lowest in coconut shell (TK) was 10.22%.   The value of bound carbon content of corn cob (TJ) was higher at 77.86% and the lowest in the charcoal briquette of mixed corn cob coconut shell (TT) at 50.94%.   The highest calorific value in the mixed charcoal briquettes of coconut shell corn cob (TT) was 5974 cal/gr and the lowest in the charcoal briquettes of corn cob was 4227 cal/gr.Keywords: charcoal briquette, coconut shell, corn cob, biomassAbstrakLimbah pertanian perlu dilakukan pengolahan menjadi produk yang   memberi manfaat dengan membuat bahan bakar alternative berupa biobriket (briket arang). Tujuan dari penelitian ini mengetahui komposisi terbaik briket arang dari limbah cangkang kelapa dan tongkol jagung dengan melakukan pengujian briket arang agar mendapat briket arang yang berkualitas sesuai dengan standar SNI No.1/6235/2000.   Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan tiga perlakuan jenis bahan baku dengan 3 ulangan.     Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa kesimpulan bahwa hasil uji sifat fisis yang terdiri dari nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang dan nilai kalor sudah memenuhi persyaratan standar SNI 01-6235-2000. Akan tetapi, nilai kalor briket arang tongkol jagung tidak masuk dalam standar. Kadar karbon terikat tidak terdapat pada SNI 01-6235-2000 tetapi berdasarkan standar Jepang, Amerika dan Inggris nilainya masuk dalam standar. Nilai kadar air tertinggi pada briket tongkol jagung (TJ) dengan nilai sebesar 0,88% dan terendah pada cangkang kelapa sebesar 0,41%.   Nilai kadar abu tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung dan cangkang kelapa (TT) sebesar 11,79% dan terendah pada briket arang tempurung kelapa (TK) sebesar 7,09%. Nilai kadar zat terbang tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 25,67% dan terendah pada tempurung kelapa (TK) sebesar 10,22%.   Nilai kadar karbon terikat tongkol jagung (TJ) lebih tinggi sebesar 77,86% dan terendah pada briket arang campuran tongkong jagung tempurung kelapa (TT) 50,94%.   Nilai kalor tertinggi pada briket arang campuran tongkol jagung tempurung kelapa (TT) sebesar 5974 cal/gr dan yang terendah pada briket arang tongkol jagung sebesar 4227 cal/grKata kunci: briket arang, tempurung kelapa, bongkol jagung, biomassa
DAMPAK PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN HUTAN MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAPKONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA SUNGAI SEPETI KECAMATAN SEPONTI KABUPATEN KAYONG UTARA Safitri, Deni; Roslinda, Emi; Muin, Sudirman
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.66124

Abstract

Changes in forest land use are converting forests into non-forest lands such as settlements, agricultural areas and plantations, due to various interests and impacts on the socio-economic conditions of the community. This study aims to describe the impact of changes in forest land use to oil palm plantations on the socio-economic conditions of the community and explain changes before and after the existence of oil palm plantations. This study used a survey method, collecting data with a questionnaire and analyzing data in a descriptive qualitative manner. The results of the study showed that there were slight changes in social impacts including education, health and community norms. On the other hand, there have been many economic changes, including increasing people's income, increasing employment and the emergence of new business opportunities, so it can be concluded that there were insignificant changes between the social and economic conditions of the community before and after the change in forest land use to oil palm plantations.Keywords: impact, land use, and socio-economic communityAbstrakPerubahan pemanfaatan lahan hutan adalah mengubah hutan menjadi lahan non hutan seperti, pemukiman, areal pertanian dan perkebunan, karena adanya berbagai kepentingan dan berdampak bagi kondisi social ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak perubahan pemanfaatan lahan hutan menjadi perkebunan sawit terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat serta menerangkan perubahan sebelum dan sesudah adanya perkebunan sawit. Penelitian ini menggunakan metode survey, pengumpulan data dengan koesioner dan analisis data secara deskripti kualitatif. Hasil penelitian terdapat sedikit perubahan terhadap dampak sosial diantaranya pendidikan (± 65% meningkat), kesehatan (66,67% menurun) dan norma masyarakat (62% mengalami pergeseran norma). Sebaliknya terdapat banyak perubahan ekonomi diantaranya meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya lapangan pekerjaan dan munculnya peluang usaha baru, yaitu mencapai rata-rata 70% perubahan kearah yang lebih baik. Secara keseluruhan terjadi perubahan yang tidak signifikan antara kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.Kata kunci: dampak, pemanfaatan lahan, sosial ekonomi, masyarakat
PENDAPATAN MASYARAKAT DALAM PENGOLAHAN LAHAN TEGAKAN JABON DENGAN SISTEM AGROFORESTRI DI DESA KUALA DUA Simanjuntak, Tatrina Tatrina; Manurung, Togar Fernando; Roslinda, Emi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.51814

Abstract

Jabon plantation stand covering an area of 3 hectares is a plantation stand owned by PT. Alas Kusuma is processed using an agroforestry system by employees to increase income. Gardening in the Jabon stand is a side business for employees as well as additional income apart from working in a factory. The purpose of this study was to calculate the income of the people of Jabon stand processing with an agroforestry system and analyze the factors that affect the income of land processing with an agroforestry system. The method used is a survey method with interview techniques, with a total of 20 respondents. The calculation of income from agroforestry was analyzed by multiple linear regression. From the results of the analysis, the income received by the land processing community is Rp. 200,000 - Rp. 750,000 per month. The factors that influence the income of agroforestry farmers in Kuala Dua Village are the variables of land area and maintenance costs, while the variables of the number of types of plants, hours of work, and labor wages do not have much effect, with the regression equation of income as follows Y = 91.662 + 2800.305X1 - 9.573X2 - 0.112X3 + 2.066X4 - 0.061X5.Keywords: Agroforestry, Community, Income, Jabon Stand.AbstrakTegakan tanaman Jabon seluas 3 Ha merupakan tegakan tanaman milik PT. Alas Kusuma yang diolah dengan sistem agroforestri oleh para karyawan untuk menambah pendapatan. Berkebun di tegakan jabon merupakan usaha sampingan bagi karyawan sekaligus sebagai penghasilan tambahan selain bekerja di pabrik. Tujuan penelitian ini adalah menghitung pendapatan masyarakat pengolah tegakan jabon dengan sistem agroforestri, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pengolahan lahan dengan sistem agroforestri. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik wawancara, dengan jumlah responden sebanyak 20 orang. Perhitungan pendapatan dari agroforestri dianalisis dengan regresi linier berganda. Dari hasil analisis, pendapatan yang diterima masyarakat pengolah lahan adalah Rp. 200.000 - Rp. 750.000 per bulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani agroforestri di Desa Kuala Dua adalah variabel luas lahan dan biaya pemeliharaan, sedangkan variabel jumlah jenis tanaman, jam kerja, upah tenaga kerja tidak terlalu berpengaruh, dengan persamaan regresi dari pendapatan sebagai berikut : Y = 91,662+ 2800,305X1 - 9,573X2-0,112X3 + 2,066X4-0,061X5.Kata kunci: Agroforestri, Masyarakat, Pendapatan, Tegakan Jabon.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue