cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
POTENSI TEGAKAN DAN POLA PENYEBARAN POHON LEBAN (Vitex Pinnata. L) DI AREAL PENCADANGAN TAMAN KEHATI KOTA PONTIANAK Erianto, Erianto; Dewantara, Iswan; Kalsum, Emilya; Hardiansyah, Gusti; Haryono, Zuhry; Pranoto, Dwi Yoga B; Fachrudin, Abang; Limpa, Octavianus; Jawek, Asmanto; Cassanova, Kresna
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72391

Abstract

The proportion of green open space (RTH) in urban areas including Pontainak City is at least 30%, consisting of 20% public green open space and 10% private green open space. The Pontianak City Government intends to add green open space in the form of a Biodiversity Park as a water catchment area, creating an urban planological aspect through a balance between the built natural environment and the urban environment which is useful for the benefit of the community and to increase the harmony of the urban environment which is safe, comfortable, fresh, beautiful and clean. RTH also has the aim of reducing pollutants and protecting the ecosystem. This research aims to obtain information on the types that make up the Pontianak City green open space reserve area, stand volume and distribution patterns of the Leban Tree (Vitex pinnata L). The research was carried out using a survey (exploration) method, through a 100% inventory (census) of all trees with a diameter of 20 cm up. The composition of the stands in the Pontianak City RTH reserve area consists of 251 trees from 20 tree species belonging to 15 families. The Leban species (Vitex pinnata L) was found the most, namely 81 trees with a volume of 45.66449 m3 or 42.06% of the total stand volume (108.56466 m3). The distribution pattern of Leban trees (Vitex pinnata L) in the Pontianak City green open space reserve area tends to be clumpedKeywords: distribution pattern, leban, potentialAbstrakProporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada wilayah perkotaan termasuk Kota Pontainak adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat. Pemerintah Kota Pontianak bermaksud menambah RTH berupa Taman Kehati sebagai kawasan resapan air, menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam binaan dan lingkungan perkotaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat serta untuk meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. RTH pun memiliki tujuan untuk mereduksi polutan dan menjaga ekosistem. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi jenis-jenis penyusun areal pencadangan RTH Kota Pontianak, Volume tegakan dan Pola Penyebaran Pohon Leban (Vitex pinnata L). Penelitian dilakukan dengan metode survey (eksplorasi), melalui inventarisasi 100% (sensus) terhadap semua pohon diamater 20 cm up. komposisi penyusun tegakan areal pencadangan RTH Kota Pontianak terdiri atas 251 pohon dari 20 jenis pohon yang tergolong ke dalam 15 famili. jenis Leban (Vitex pinnata L) ditemukan paling banyak yaitu 81 pohon dengan volume 45,66449 m3 atau 42,06% dari volume total tegakan (108,56466 m3). Pola penyebaran pohon Leban (Vitex pinnata L) pada areal pencadangan RTH Kota Pontianak cenderung berkelompok (dalam kelompok)Kata kunci: pola penyebaran, leban, potensi
JARAK SEBARAN AKAR LAKA (Dalbergia parviflora Roxb) DARI TEPI SUNGAI YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT DESA ULAK MEDANG KABUPATEN KETAPANG M, Iskandar A; Fariska, Rahmanisa Rizki; Munadian, Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.78792

Abstract

Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.) is a Non-Timber Forest Product (NTFP) that can be processed into various kinds of accessories and medicinal products, and can be used in worship activities.     Akar Laka is a type of liana that can be found in riverbank areas, which can support the community's economy through its utilisation activities.   This study aims to determine the distribution distance of Akar Laka from the riverbank starting from the first point of Akar Laka found and how far Akar Laka can still be found, and obtain information related to the harvesting technique carried out by the Ulak Medang Village Community, Ketapang Regency. The research method used was a survey method with data collecting technique consisting of interviews and observations, as well as measuring the distribution distance of Akar Laka in the field. The results showed that Akar Laka can be found at a distance of 150 metres to 250 metres from the banks of the Pawan River, with an altitude in the location ranging from 18 to 24 metres above sea level, with the harvesting technique applied by the Ulak Medang Village Community is by picking up dead Akar Laka parts that can be found in the ground, using traditional tools called Benas. The results of this study can be used as one of the data completeness for the initial mapping of the existence of Akar Laka in West Kalimantan, and can be the basis for determining regulations related to the sustainability of Akar Laka in the future.Keywords: Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.), Harvesting distribution,  Harvesting technique.AbstrakAkar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.) merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk aksesoris, dan obat-obatan, serta dapat digunakan dalam kegiatan peribadatan.     Akar Laka ialah sejenis liana yang dapat ditemui di area pinggiran sungai, yang dapat menunjang perekonomian masyarakat melalui pemanfaatannya.   Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak sebaran Akar Laka dari tepi sungai mulai dari titik pertama Akar Laka   ditemukan dan seberapa jauh Akar Laka masih dapat ditemukan, serta memperoleh informasi terkait teknik pemungutan yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Ulak Medang, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data yang terdiri dari wawancara dan observasi, serta pengukuran jarak sebaran Akar Laka di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan Akar Laka dapat ditemukan pada jarak 150 meter sampai dengan 250 meter dari tepi Sungai Pawan dengan ketinggian pada lokasi berkisar 18 sampai 24 meter dari permukaan laut, teknik pemungutan yang diterapkan oleh Masyarakat Desa Ulak Medang adalah dengan memungut bagian Akar Laka yang sudah mati yang dapat ditemukan di dalam tanah, dengan menggunakan alat tradisional yang disebut Benas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu kelengkapan data untuk pemetaan awal keberadaan Akar Laka di Kalimantan Barat, serta dapat menjadi landasan dalam penetapan peraturan terkait keberlangsungan Akar Laka dimasa mendatang. Kata Kunci: Akar Laka (Dalbergia parviflora, Roxb.), Sebaran pemungutan, Teknik  Pemungutan
INTERPRETASI EKOWISATA ABIOTIK AIR TERJUN SARAY BRUNYAU DI DESA RIAM PIYANG KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Gunawan, Heri; Siahaan, Sarma; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.64133

Abstract

Bunut Hulu District is one of the most important sub-districts in Kapuas Hulu Regency.  Bunut Hulu has several very interesting attractions to visit, one of which is Saray Brunyau Waterfall located in Riam Piyang Village. Saray Brunyau Waterfall is included in the area with the status of a protected forest area. The purpose of this study is to obtain data on the potential of ecotourism objects and compile data on the interpretation of the ecotourism potential of the Saray Brunyau waterfall in Riam Piyang Village, Bunut Hulu District, Kapuas Hulu Regency. This research uses a descriptive survey method with direct observation techniques and direct interviews. Sampling of community respondents using purposive sampling. As a result of interviews and direct observations, 8 potentials can support the interpretation of ecotourism potential, namely Rice Fields, Fields, Rubber Plantations and Kratom Gardens, Tembawang Forest, Sebilit River, Saray Brunyau Waterfall, and Protected Forest. The results of the exploration are arranged into one tourist route, namely the abiotic interpretation path of ecotourism in Riam Piyang Village. The path from the settlement to the Saray Brunyau waterfall attraction is 3.50 km away.Keywords: Ecotourism, Interpretation, Kapuas Hulu Regency, Saray Brunyau, WaterfallAbstrakKecamatan Bunut Hulu merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu. Bunut Hulu memiliki beberapa objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi, salah satunya yaitu Air Terjun Saray Brunyau yang terletak di Desa Riam Piyang. Air Terjun Saray Brunyau masuk ke dalam kawasan yang berstatus kawasan hutan lindung. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan data potensi objek ekowisata abiotik dan menyusun data interpretasi potensi ekowisata abiotik air terjun Saray Brunyau di Desa Riam Piyang Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi langsung dan wawancara langsung. Pengambilan sampel responden masyarakat menggunakan purposive sampling. Hasil dari wawancara dan observasi langsung terdapat 8 potensi yang dapat mendukung interpretasi potensi ekowisata, yaitu Sawah, Ladang, Kebun Karet dan Kebun Kratom, Hutan Tembawang, Sungai Sebilit, Air Terjun Saray Brunyau, dan Hutan Lindung. Hasil eksplorasi tersebut disusun menjadi satu jalur wisata, yaitu jalur interpretasi abiotik ekowisata Desa Riam Piyang. Jalur dari pemukiman ke objek wisata air terjun Saray Brunyau hanya berjarak 3,50 km.Kata Kunci: Air Terjun, Ekowisata, Interpretasi, Kabupaten Kapuas Hulu, Saray Brunyau
VARIASI AKSIAL DAN RADIAL DIMENSI SERAT, SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU JABON (Neolamarckia cadamba Miq.) DI HUTAN RAKYAT KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA Ridho, Muhammad Rosyid; Marsoem, Sri Nugroho; Listyanto, Tomy; Sulistyo, Joko
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.76292

Abstract

Utilization of fast-growing wood species needs to be increased to support the sustainability of wood industry in Indonesia. Burflower (Neolamarckia cadamba Miq.) is a fast-growing wood species that widely planted in some community forest on Java Island recently, including in Yogyakarta. This study aims to provide information about burflower wood quality, based on its fiber dimension, physical and mechanical properties. The axial and radial variation of wood properties within stem in the axial and radial direction also examined. Three (3) free defects of burflower trees from community forest in Sleman regency, Yogyakarta, have been felled and cut into samples. The results show that green moisture content, air-dried density, and oven-dried density were varied in the axial direction. Meanwhile in the radial direction, fiber length, density, and static bending strength increase from the pith towards the bark. In contrast, green moisture content decreases from the pith towards the bark.Keywords: density, fast-growing, fiber length, modulus of elasticity, shrinkage.  AbstrakPemanfaatan jenis kayu cepat tumbuh perlu ditingkatkan untuk mendukung kelanjutan industri perkayuan di Indonesia. Jabon (Neolamarckia cadamba Miq.) adalah salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang banyak ditanam di hutan rakyat Pulau Jawa pada beberapa tahun terakhir, termasuk di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait kualitas kayu jabon di hutan rakyat, berdasarkan dimensi serat, sifat fisika dan mekanikanya. Variasi aksial dan radial sifat kayu dalam satu batang pohon juga diamati. Sebanyak 3 batang pohon jabon bebas cacat dari hutan rakyat di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ditebang dan dibuat sampel uji. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar air kering udara (KAKu), kerapatan kering udara (KKu), dan kerapatan kering oven (KKo) bervariasi pada arah aksial. Sementara itu pada arah radial, variasi terlihat pada panjang serat, kerapatan, dan kekuatan lengkung statis yang menunjukkan pola peningkatan dari empulur menuju kulit. Sebaliknya, kadar air segar menurun dari empulur menuju kulit.Kata kunci: cepat tumbuh, kerapatan, modulus elastisitas, panjang serat, penyusutan
DOMINANSI, KEKAYAAN DAN KEMERATAAN JENIS VEGETASI HUTAN PANTAI TINGKAT PERMUDAAN DI KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Komul, Yulianus Dominggus; Sahupala, Andjela; Siahaya, Troice Elsye; Sahupala, George Loudewik
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63596

Abstract

Coastal forest vegetation on sandy and rocky soil above the coastline. Its presence is scattered along the coastline with different variations according to the coastal topography. The existence of the coastal forest in the coastal village of Kairatu with its vegetation also makes a difference to the species and types contained therein. This study aims to analyze the value of dominance, richness and evenness of tree species at the growth rate of youth spread along the coastline of Hatusua, Waipirit and Kairatu Villages in Kairatu District, West Seram Regency. Survey Method Continuous Line Plot sampling is applied to obtain data, with the length of the line adjusted to the length of the long line. Based on the results of analysis of research data on vegetation at the regeneration level (Seedlings, Saplings and Poles) the value of the species dominance index (C) was obtained between 0.0148 "“ 0.2265. Species richness index (R1) values range from 0.0148 to 0.2759 and species evenness index values (E) range from 0.0309 to 0.0669. Thus it can be concluded that the values of the three categories studied are in the low criteria because they do not exceed the minimum threshold value of the specified index value provisions.Keywords: Coastal Forest Vegetation Analysis, Youth Level, Kairatu District.Abstrak  Vegetasi hutan pantai yang berada pada tanah berpasir dan berbatu dibagian atas garis pantai. Keberadaannya tersebar disepanjang garis pantai dengan keragaman yang berbeda sesuai dengan topografi pantai. Keberadaan hutan pantai pesisir desa kairatu dengan vegetasi yang dimilikinya turut memberikan perbedaan terhadap spesies dan jenis yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai dominansi, Kekayaan serta Kemerataan Jenis pohon pada tingkat pertumbuhan permudaan yang tersebar sepanjang garis pantai Desa Hatusua, Waipirit dan Kairatu di Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat. Metode Survei Continyu Line Plot sampling diterapkan untuk memperoleh data, dengan panjang jalur disesuaikan dengan panjang garis panjang. Berdasarkan hasil analisis data penelitian vegetasi tingkat permudaan (Semai, Pancang dan Tiang) diperoleh nilai indeks dominansi jenis (C) berkisar anatara 0,0148 "“ 0,2265. Nilai Indeks kekayaan jenis (R1) berkisar 0,0148 "“ 0,2759 dan nilai Indeks Kemerataan jenis (E) berkisar 0,0309 "“ 0,0669 . dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai ketiga kategori yang diteliti berada pada kriteria rendah karena tidak melampaui nilai ambang minimal dari ketentuan nilai indeks yang ditentukan.   Kata Kunci : Analisis Vegetasi Hutan Pantai, Kecamatan Kairatu.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus) DESA PULAU KUMBANG KECAMATAN SIMPANG HILIR KABUPATEN KAYONG UTARA Zainal, Sofyan; Peri, Peri; Prayogo, Hari; Munadian, Munadian
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.67627

Abstract

Orangutans are the only great apes that live on the Asian continent, where in Indonesia only found on the islands of Sumatra and Kalimantan. Orangutans themselves are protected animals under national law, namely based on the Minister of Environment and Forestry Number 106 of 2018 concerning protected plant and animal species. The purpose of this study is to examine how public perceptions of the existence of orangutans and analyze the relationship between knowledge, cosmopolitan and counseling levels with community perceptions of the existence of orangutans (Pongo pygmaeus). This research was carried out in Pulau Kumbang Village using Purposive Sampling method by collecting data through interviews, observations, distribution of questionnaires and documentation. The results of this study show that public perception of the existence of orangutans (Pongo pygmaeus) Pulau Kumbang Village, Simpang Hilir District, North Kayong Regency is positive with each respondent's answer as many as 54 respondents (61.4%) Positive, 27 respondents (30.7%) neutral, and 7 respondents (8.0%) negative. There is a positive and significant relationship between the level of knowledge and cosmopolitan with public perception, there is a positive and insignificant relationship between the level of counseling and public perception. The need for cooperation from various institutions, both from government and non-government institutions as well as local communities to increase awareness of orangutans.Keyword: Orangutans, Public Perception, Pulau Kumbang Village.AbstrakOrangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di benua Asia, dimana di Indonesia hanya terdapat di pulau Sumatera dan Kalimantan. Orangutan sendiri merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan, kosmopolitan dan penyuluhan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan (Pongo pygmaeus). Penelitian ini dilakukan di Desa Pulau Kumbang dengan menggunakan metode Purposive Sampling dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, penyebaran kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan (Pongo pygmaeus) Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara adalah positif dengan masing-masing jawaban responden sebanyak 54 responden (61,4%) Positif 27 responden (30,7%). %) netral, dan 7 responden (8,0%) negatif. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan dan kosmopolitan dengan persepsi masyarakat, terdapat hubungan positif dan tidak signifikan antara tingkat penyuluhan dan persepsi masyarakat. Perlunya kerjasama dari berbagai institusi, baik lembaga pemerintah maupun non-pemerintah serta masyarakat lokal untuk meningkatkan kesadaran terhadap orangutan.Kata kunci: Desa Pulau Kumbang, Orang Utan, Persepsi Masyarakat.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN PT.WANA SUBUR LESTARI KABUPATEN KUBU RAYA Muin, Sudirman; Satriudin, Satriudin; Widhanarto, Ganjar Oki
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.54460

Abstract

The entry of forest plantations company PT. WSL with a sustainable management system and forest conservation is expected to increase the income and welfare of the community around forest plantations, especially for Radak II River Village. The purpose of this study is to understand the level of community perception of the existence PT.WSL and to analyze the relationship independent variable: income levels, number of family dependents, and knowledge of the community perception of the existence of PT. WSL. The method used is the survey technique of purposive sampling and interview. The sample number of this study is 85 respondents who are heads of households and domiciled at least 5 years. Data analysis consists of community perception, the relationship between community perception and income level, and the number of family-dependent, knowledge levels. The results of the study showed a significant difference in the perception of the community of Radak II River Village towards the existence of PT. WSL and 50.59% of the community tend to have negative perceptions. There is a positive and unsignificant relationship, between the level of income and the community perception. There is a negative and significant relationship, between number of family dependents and community perception. There is a positive and significant relationship between the level of knowledge and the public's perception, meaning that the community understands that so far the contribution PT. WSL in improving the socioeconomic and environmental conditions of the radak II River Village community is still very minimal (small) to cause community perception of PT. WSL tends to be negative.Keywords: Community, Forest Plantations, perceptionAbstrakMasuknya perusahaan hutan tanaman industri PT. WSL dengan sistem pengelolaan yang lestari dan pelestarian hutan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan tanaman khususnya Desa Sungai Radak II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat terhadap keberadaan PT.WSL dan menganalisis hubungan variabel bebas: tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengetahuan dengan persepsi masyarakat terhadap keberadaan PT. WSL. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik purposive sampling dan wawancara. Jumlah sampel penelitian ini 85 responden adalah kepala rumah tangga dan berdomisili minimal 5 tahun. Analisis data terdiri dari persepsi masyarakat, hubungan persepsi masyarakat dengan tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan persepsi masyarakat Desa Sungai Radak II yang signifikan terhadap keberadaan PT. WSL dan 50,59% masyarakat cenderung memiliki persepsi negatif. Terdapat hubungan yang positif dan tidak signifikan antara tingkat pendapatan dengan persepsi masyarakat. Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara jumlah tanggungan keluarga dengan persepsi masyarakat. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi masyarakat, artinya masyarakat memahami bahwa selama ini kontribusi PT. WSL dalam meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat desa sungai radak II masih sangat minim (kecil) sehingga menimbulkan persepsi masyarakat terhadap PT. WSL cenderung negatif.Kata kunci: Persepsi, Hutan Tanaman Industri, Masyarakat
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN HUTAN DI WILAYAH UPT KPH BENGKAYANG - WILAYAH RESORT PENGELOLAAN HUTAN (RPH) I DAN II TAHUN 2013, 2017 DAN 2021 Lestariningsih, Siti puji; Mulyono, Joko Tris; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.59365

Abstract

The Forest Management Unit (KPH) Bengkayang is a forest management unit located in the province of West Kalimantan, consisting of three forest management resort areas (RPH): RPH Region I Suti Semarang, RPH Region II Lumar, and RPH Region III Siding. The observed decline in the function and potential of the forest aligns with the reduction of maintainable forest areas due to forest degradation resulting from activities such as large-scale logging for agricultural expansion, mining, and transmigration carried out by the local communities around the forest. The aim of this research is to analyze the changes in the forest area in UPT KPH Bengkayang, specifically in the RPH I and II regions, for the years 2013, 2017, and 2021. The research methodology involves remote sensing techniques with visual interpretation classification of Landsat 8 OLI and TIRS images. There are six land cover categories in UPT KPH Bengkayang, RPH I and II: secondary dryland forest, mixed cultivation of dryland and shrubs, shrubland, open land, water bodies, and rice fields. During the period from 2013 to 2017, a significant reduction occurred in secondary dryland forest, covering an area of 316.18 ha (1.89%), while mixed cultivation of dryland and shrubs increased by 415.97 ha (0.67%). In the period from 2017 to 2021, the largest reduction occurred in shrubland, amounting to 469.49 ha (82.06%), while mixed cultivation of dryland and shrubs showed the highest increase at 566.64 ha (0.96%).Keywords: Bengkayang forest management unit, Deforestation, Forest area, Land cover change, Landsat imagery.AbstrakKesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkayang merupakan unit pengelolaan hutan yang berlokasi di provinsi Kalimantan Barat, terdiri dari tiga wilayah resort pengelolaan hutan (RPH): RPH Wilayah I Suti Semarang, RPH II Wilayah Lumar, dan RPH III Wilayah Siding. Fenomena menurunnya fungsi dan potensi hutan sejalan dengan menyusutnya luas kawasan hutan yang dapat dipertahankan disebabkan oleh degradasi hutan akibat aktivitas seperti penebangan besar-besaran untuk pembukaan pertanian, penambangan, dan transmigrasi yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan luas kawasan hutan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II pada tahun 2013, 2017, dan 2021. Metode penelitian menggunakan teknik penginderaan jauh dengan klasifikasi interpretasi visual Citra Landsat 8 OLI dan TIRS. Enam kategori tutupan lahan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II meliputi hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering campur semak, semak belukar, lahan terbuka, tubuh air, dan sawah. Selama periode tahun 2013-2017, terjadi penurunan signifikan pada hutan lahan kering sekunder sebesar 316,18 ha (1,89%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan mencapai 415,97 ha (0,67%). Pada periode 2017-2021, terjadi penurunan terbesar pada semak belukar sebesar 469,49 ha (82,06%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan tertinggi sebesar 566,64 ha (0,96%).Kata kunci: Kesatuan Pengelolaan Hutan Bengkayang, Deforestasi, Kawasan Hutan, Perubahan Penutupan Lahan, Citra Landsat.
PERENCANAAN PEMANFAATAN RUANG PARTISIPATIF SECARA DIGITAL: SEBUAH INOVASI DALAM PEMETAAN PARTISIPATIF Ratnasari, Dessy; Astiani, Dwi; Prayogo, Hari; Tjawikrama, Darkono
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72381

Abstract

Rural area development is carried out as an effort to accelerate and improve quality of services, development, and empowerment of the village communities. Rural area development should notice the aspirations of the community, especially related to the land use by communities in the village. This research aims to assess the community's ability to use digital participatory mapping techniques. Data collection was carried out through village deliberations using focus group discussion (FGD) techniques and supported by Geographic Information System (GIS). The research results show that the process of land use planning in villages can be carried out using digital mapping technology using the principles of participatory mapping. The community able to understand digital mapping techniques and can transfer mental map knowledge into digital map language with the help of a facilitator. Each village succeeded in producing recommendations for land use planning according to the needs in their respective villages.Keywords: digital mapping, land use planning, rural area development, participatory mapping.AbstrakPembangunan Kawasan Perdesaan dilakukan sebagai upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di desa. Pembangunan Kawasan Perdesaan hendaklah memperhatikan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat, terutama yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di desa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknik pemetaan partisipatif secara digital.  Pengumpulan data dilakukan melalui musyawarah desa dengan teknik diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion, FGD) dan didukung bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemetaan perencanaan pemanfaatan ruang di desa dapat dilakukan melalui teknologi perpetaan digital dengan memperhatikan prinsip pemetaan partisipatif. Masyarakat mampu memahami teknik pemetaan digital dan dapat melakukan transfer of knowledge mental map ke dalam bahasa peta digital dengan bantuan seorang fasilitator.  Setiap desa berhasil menghasilkan rekomendasi perencanaan alokasi pemanfaatan ruang sesuai dengan kebutuhan di desanya masing-masing. Kata kunci: pemetaan digital, perencanaan penggunaan ruang, pembangunan kawasan perdesaan, pemetaan partisipatif.  
MODEL ARSITEKTUR POHON FAMILI DIPTEROCARPACEAE DI KEBUN RAYA SAMBAS KABUPATEN SAMBAS Erlin, Erlin; Sisillia, Lolyta; Manurung, Togar Fernando
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.62166

Abstract

Sambas Botanical Garden functions as a conservation area that has a fairly high diversity of plants with vegetation that is dominated by Dipterocarpaceae family. Research on architectural models of the Dipterocarpaceae family in the Sambas Botanical Garden needs to be carried out to obtain a database of the diversity of architectural models of the Dipterocarpaceae trees that grow in the Sambas Botanical Garden. It was also to provide complete data related to the architectural model which is expected to be used as a reference in the management of the Sambas Botanical Garden. The purpose of this study was to determine the architectural model of the Dipterocarpaceae family tree. The benefit of the research was to provide a source of information regarding the description of the architectural model of the Dipterocarpaceae family tree that grows in the Sambas Botanical Garden. This research was conducted using survey methods, data collection was carried out by roaming, namely by exploring every corner of the location in the Sambas Botanical Gardens. The results of this study found 5 architectural models of 28 species of trees in the Dipterocarpaceae family, namely the Roux model, Massart model, Scarrone model, Rauh model, and Attims model. The Roux model is the most common tree architectural model, with 14 species.Keywords: Dipterocarpaceae, Sambas Botanical Garden, Tree architecture.AbstrakKebun Raya Sambas difungsikan sebagai kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang cukup tinggi dengan vegetasi yang mendominasi yaitu dari famili Dipterocarpaceae. Penelitian tentang model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae di Kebun Raya Sambas perlu dilakukan untuk mendapatkan database keanekaragaman model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae yang tumbuh di Kebun Raya Sambas. Selain itu memberikan data secara lengkap terkait model arsitektur yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan Kebun Raya Sambas. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae. Manfaat penelitian yaitu dapat memberikan sumber informasi deskripsi model arsitektur pohon famili Dipterocarpaceae yang tumbuh di Kebun Raya Sambas. Penelitian ini menggunakan metode survey, pengumpulan data dilakukan dengan cara jelajah, yaitu dengan menjelajahi setiap sudut lokasi di Kebun Raya Sambas. Hasil penelitian ini ditemukan 5 model arsitektur dari 28 spesies pohon famili Dipterocarpaceae yaitu model Roux, model Massart, model Scarrone, model Rauh, dan model Attims. Model Roux merupakan model arsitektur pohon yang paling banyak dijumpai yaitu sebanyak 14 spesies.Kata kunci: Dipterocarpaceae, Kebun Raya Sambas, Arsitektur Pohon.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue