cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Phone
+6285345044457
Journal Mail Official
jurnal@fahutan.untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Untan Jln. Imam Bonjol Pontianak Telp/fax : 0561-767673 / 0561-764513
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL HUTAN LESTARI
ISSN : 23383127     EISSN : 27761754     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jhl.v8i4
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hutan Lestari merupakan jurnal ilmu kehutanan yang menyajikan artikel mengenai hasil-hasil penelitian meliputi bidang teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal Hutan Lestari akan ditelaah oleh Penelaah yang sesuai dengan bidangnya. Jurnal Hutan Lestari dipublikasikan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura diterbitkan setiap 3 bulan sekali.
Articles 915 Documents
POTENSI KERAGAMAN JENIS MANGROVE TEKOLABBUA, KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN (Potential Diversity Of Tekolabbua Mangroves, Pangkajene And Kepulauan Regency) Nirawati, Nirawati; Djafar, Muliana; Hadija, Hadija; athira, Ain
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.60753

Abstract

Information related to the potential of mangroves in the preservation and breeding of forest ecosystems is not comprehensive enough to support the function of mangrove forest ecosystems at large. This study aims to determine the potential diversity of mangrove species in Tekolabbua district pangkajene and islands. The method used was systematic line sampling with random start and data analysis using quantitative descriptive approach to determine the potential diversity of mangrove species based on the structure, composition, and diversity of mangrove species. The results showed that the structure of mangrove stands in the diameter class was dominated by Avicennia alba species in each diameter class. The composition of mangrove species found were Sonneratia alba, Avicennia alba, and Rhizophora mucronata with INP at the seedling growth rate of Avicennia alba 200% and at the sapling and tree level the highest INP was found in Avicennia alba with an INP value of 105.799% sapling level and 159.97% tree level INP. While the lowest INP value is found in Rhizophora mucronata species with an INP value for the sapling level of 95.54% and an INP value for the tree level of 45.16%.   The species diversity index is classified as low with a moderate level of evenness, indicating that the Tekolabbua mangrove community, Pangkajene Regency and the islands are classified as still unstable.Keywords: Stand, Structure, Species, Composition, Mangrove.AbstrakInformasi terkait potensi mangrove dalam pelestarian dan pemuliaan ekosistem hutan belum cukup komprehensifnya dalam medukung fungsi ekosistem hutan mangrove secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keragaman jenis Mangrove di Tekolabbua kabupaten pangkajene dan kepulauan. Metode yang digunakan adalah systematic line sampling with random start dan Analisis data mengunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengetahui potensi keragaman jenis mangrove berdasarkan struktur, komposisi, dan keragaman jenis mangrove. Hasil penelitian menunjukkan struktur tegakan mangrove pada kelas diameter didominasi oleh spesies Avicennia alba pada setiap kelas diameter. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan adalah Sonneratia alba, Avicennia alba, dan Rhizophora mucronata dengan INP pada laju pertumbuhan semai Avicennia alba 200% dan pada tingkat pancang dan pohon INP tertinggi terdapat pada Avicennia alba dengan nilai INP sebesar tingkat pancang 105,799% dan INP tingkat pohon 159,97%. Sedangkan nilai INP terendah terdapat pada spesies Rhizophora mucronata dengan nilai INP untuk tingkat pancang 95,54% dan nilai INP untuk tingkat pohon 45,16%.   Indeks keanekaragaman jenis tergolong rendah dengan tingkat kemerataan sedang, menunjukkan bahwa komunitas mangrove Tekolabbua Kabupaten Pangkajene dan kepulauan tergolong masih labil.Kata kunci: Struktur, Tegakan, Komposisi, Keragaman, Kemerataan, Mangrove
EFEKTIVITAS BAHAN PENGAWET KAYU ASAP CAIR KAYU PUTIH (Malaleuca cajuputi Powell) TERHADAP SERANGAN RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus Holmgren) Indrayani, Yuliati; Novita, Maria; Setyawati, Dina
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.58204

Abstract

Wood is one of the necessities of human life, but it uses cannot be separated from wood-destroying organism’s attack. Subterranean termites are one of the wood-destroying organisms that cause high economic losses. One of the environmentally friendly ways to prevent subterranean termite attacks is the use of eucalyptus liquid smoke as a wood preservative. The aims of this research are to analize the effect of pyrolysis temperature and concentration of eucalyptus liquid smoke and determine the optimal pyrolysis temperature and concentration as a wood preservative against subterranean termites. Liquid smoke was made in various pyrolysis temperatures such as 350℃, 400℃, and 450℃ by pyrolysis for 120 minutes, and analyzed qualitatively using GCMS. The research was done for three weeks. Data were analysed using a factorial experimental method with a completely randomized pattern (CRD). The effectiveness testing of eucalyptus liquid smoke was carried out in various concentrations, namely 0%, 2%, 4%, 6%, 8% and 10% at each pyrolysis temperature. The chemical components of liquid smoke that are dominant and act as an anti-termite are acetic acid, phenol and their derivatives. Pyrolysis temperature of 450℃ with concentration of 10% is the optimal combination as an anti-termite with the highest termite mortality value of 98.1818% and the lowest weight loss of paper disc is 27.1516%. Keywords: eucalyptus, liquid smoke, subterranean termites, wood preservatives.AbstrakKayu merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia namun penggunaannya tidak lepas dari serangan organisme perusak kayu. Rayap tanah merupakan salah satu organisme perusak kayu yang menyebabkan kerugiaan ekonomi cukup tinggi. Salah satu cara yang ramah lingkungan untuk pencegahan serangan rayap tanah adalah penggunaan asap cair kayu putih sebagai bahan pengawet kayu. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh suhu pirolisis dan konsentrasi asap cair kayu putih serta menentukan suhu pirolisis dan konsentrasi optimal sebagai bahan pengawet kayu terhadap serangan rayap tanah. Asap cair dibuat dalam berbagai suhu pirolisis yaitu 350℃, 400℃, 450℃ dengan waktu 120 menit dan dianalisis secara kualitatif menggunakan GCMS. Penelitian dilakukan selama tiga minggu. Data dianalisis menggunakan metode percobaan faktorial dengan pola acak lengkap (RAL). Pengujian efektivitas asap cair kayu putih terhadap rayap tanah dilakukan dalam berbagai konsentrasi yaitu 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% pada masing-masing suhu pirolisis. Senyawa komponen kimia asap cair yang dominan dan berperan sebagai anti rayap adalah asam asetat, fenol serta turunannya. Suhu pirolisis 450℃ dengan konsentrasi 10% merupakan kombinasi yang optimal sebagai anti rayap dengan nilai mortalitas rayap tertinggi sebesar 98,1818% dan kehilangan berat kertas saring terendah yaitu 27,1516%. Kata kunci: kayu putih, asap cair, rayap tanah, pengawet kayu.
ETNOZOOLOGI RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT MELAYU KETAPANG DI DUSUN BINA USAHA DESA PESAGUAN KANAN KECAMATAN MATAN HILIR SELATAN KABUPATEN KETAPANG Sahal, Abdullah; Anwari, M Sofwan; M, Iskandar A
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63691

Abstract

Kalimantan Island has a very high level of biodiversity, flora, and fauna that can still be found in the forests of Borneo. The Ketapang Malays in the Bina Usaha Village of Pesaguan Kanan is one of the original ethnic groups of West Kalimantan who currently still utilize biological resources to fulfill their needs, one of which is the use of animals for traditional and mystical rituals. The purpose of this research is to record what animals are used for traditional and mystical rituals by the Ketapang Malay community. The data collection technique was carried out by in-depth interviews with respondents who were selected using the survey method and the selection of respondents was carried out using the snowball sampling technique. Respondents amounted to 9 people and data collection using a questionnaire. The results showed that there were 16 species of animals used for Traditional and Mystical Rituals, consisting of 2 animals for Traditional Rituals and 14 animals for Mystics. The part that is used is the whole body and voice.Keywords: Ethnozoology, Ketapang Malay, Traditional and Mystical RitualsAbstrakPulau Kalimantan memiliki tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi, flora dan faunanya yang masih dapat di temui di dalam hutan Kalimantan. Suku Melayu Ketapang di Dusun Bina Usaha Desa Pesaguan Kanan merupakan salah satu etnis asli Kalimantan Barat yang saat ini masih memanfaatkan sumber daya hayati untuk memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya pemanfaatan satwa untuk Ritual Adat dan Mistis. Tujuan penelitian ini untuk mendata jenis satwa yang dimanfaatkan untuk Ritual Adat dan Mistis oleh masyarakat Melayu Ketapang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap responden yang terpilih dengan menggunakan metode survey dan pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Responden berjumlah 9 orang dan pengumpulan data menggunakan bantuan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa satwa yang dimanfaatkan untuk Ritual Adat dan Mistis sebanyak 16 jenis satwa, yang terdiri dari 2 satwa untuk Ritual Adat dan 14 satwa untuk mistis. Bagian yang dimanfaatkan adalah seluruh badan dan suaranya. Kata kunci: Etnozoologi, Melayu Ketapang, Ritual Adat dan Mistis
VARIASI STRUKTUR ANATOMI DAN KUALITAS SERAT KAYU DENGEN (Dillenia serrata) DALAM SEBATANG POHON Muthmainnah, Muthmainnah; Asniati, Asniati; Erniwati, Erniwati; Ariyanti, Ariyanti; Hapid, Abdul
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.59329

Abstract

Dengen (Dillenia serrata) is a type of tree from the Dilleniaceae tribe which is widely distributed in Asia, including Indonesia. This tree is found in many areas of Indonesia, including Sulawesi. This tree grows in areas with an altitude of 80"“140 meters above sea level (asl) and is a perennial plant with a hardwood trunk texture The specific objective this research is to study the characteristic macroscopic and microscopic direction radial and vertical, including variations in fiber quality classes. This research was conducted at the Laboratory of Biology and Wood Preservation, Mulawarman University and the Faculty of Forestry, Tadulako University. The stages of this research include: a). Sampling, b). Observation of macroscopic characteristics, c). Observation of microscopic anatomical features, d). Preparation of maceration preparations and measurement of fiber dimensions. The macroscopic characteristics of dengen wood show: the core is dark brown-pale brown, the sapwood is not observed. The radius looks very conspicuous in the form of a dotted band image in the radial plane. Medium to rough texture, straight grain direction. The impression of touch is a bit rough with a slightly shiny color and is classified as a rather hardwood. Microscopic characteristics of dengen wood have vessels that are almost entirely solitary, diffuse axial parenchyma. Dengen wood has two types of rays lying and upright, multiseriate rays consisting of 3-6 cells. Its microscopic characteristics are vessel grouping and frequency, axial parenchyma type and the composition of the rays does not vary in the vertical and radial directions; while the vessel length, diameter, height and width of the rays and length and thickness of the fiber wall varied in the vertical and radial directions. The dengen Wood fiber belongs to Quality Class II.Keywords; Anatomy, fiber quality, radial, Vertical, Macroscopic and microscopic AbstrakDengen (Dillenia serrata) merupakan salah satu jenis pohon dari suku Dilleniaceae yang tersebar luas di kawasan Asia termasuk Indonesia. Pohon ini banyak di temukan di kawasan Indonesia termasuk Sulawesi.   Pohon ini tumbuh pada daerah dengan ketinggian 80"“140 meter di atas permukaan laut (dpl) dan termasuk tanaman menahun dengan tekstur pohon berbatang kayu keras.   Masyarakat lokal memanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan kerajinan. Penentuan jenis kayu merupakan hal utama dalam pengolahan kayu. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji ciri makroskopis dan mikroskopis arah radial (teras, peralihan, gubal) dan vertikal (Pangkal, tengah dan ujung) termasuk variasi kelas mutu seratnya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu Universitas Mulawarman dan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako.   Tahapan-tahapan penelitian ini, meliputi: a). Pengambilan sampel, b). Pengamatan ciri makroskopis, c). Pengamatan ciri anatomi mikroskopis, d). Pembuatan sediaan maserasi dan pengukuran dimensi serat. Ciri makroskopis kayu dengen memperlihatkan: bagian teras berwarna coklat tua-coklat pucat, gubal tidak termati. Jati-jari tampak sangat mencolok berupa gambar pita putus-putus pada bidang radial.   Tekstur sedang sampai kasar, arah serat lurus.   Kesan raba agak kesat dengan warna agak mengkilap dan tergolong kayu agak keras. Ciri mikroskopis kayu dengen memiliki pembuluh yang hampir seluruhnya soliter, parenkim aksial baur. Kayu dengen memiliki jari-jari dua tipe baring dan tegak, jari-jari multiseriate terdiri dari 3-6 sel. Ciri mikroskopisnya yaitu pengelompokan pori, frekuensi pori, tipe parenkim aksial dan komposisi jari-jari tidak bervariasi pada arah vertical dan radial; sedangkan panjang pori, diameter pori, tinggi dan lebar jari-jari serta panjang dan tebal dinding serat bervariasi pada arah vertical dan radial. Serat kayu dengen arah vertikal (pangkal, tengah dan ujung) dan radial (teras, perlaihan, gubal) tergolong dalam Kelas Mutu II.Kata kunci; Anatomi, kualitas serat, radial, vertical, mikroskopis, makroskopis
KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT OLEH MASYARAKAT BALI KABUPATEN BARITO KUALA (Ethnobotanical Study of Medicinal Plants by The Community of Balinese, Barito Kuala District) Ninawati, Ninawati; Biyatmoko, Danang; Winarti, Atiek
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.61824

Abstract

Medicinal plants are plants that are used as traditional medicine by the people of Bali. These plants in the yard of the house are either planted intentionally or grow wild. Therefore, the purpose of this research is to find out the types of plants that exist in the yard of the house and are used as traditional medicine by the Balinese people. This research is descriptive qualitative with a snowball sampling technique. The results showed that there were 20 types of plants used for traditional medicine by the Balinese, such as Averrhoa bilimbi Linn., Pluchea indica L., Hylocereus polyrhizus, Kalanchoe pinnata (Lam.) Pers, Acorus calamus L., Psidium guajava L., Sauropus androgynus ( L.) Merr, Cocos nucifera L., Ocimum sanctum L., Orthosiphon aristatus, Curcuma domestica Val.,Morinda citrifolia L., Ananas comosus L., Impatiens balsamina L., Pandanus amaryllifolius Roxb., Carica papaya L., Cymbopogon citratus Stapf, Piper betle L., Saccharum officinarum Linn., and Curcuma xanthorrizha Roxb. The parts of the plant that are used the most are the leaves, rhizomes, fruit, flowers and roots.Keywords: Balinese People, Ethnobotany, Medicinal PlantsAbstrakTumbuhan obat merupakan tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Bali. Tanaman yang ada di pekarangan rumah ini baik ditanam secara sengaja maupun tumbuh liar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan yang ada di pekarangan rumah dan digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Bali. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan tradisional oleh masyarakat Bali, seperti Averrhoa bilimbi Linn., Pluchea indica L., Hylocereus polyrhizus, Kalanchoe pinnata (Lam.) Pers, Acorus calamus L., Psidium guajava L., Sauropus androgynus ( L.) Merr, Cocos nucifera L., Ocimum sanctum L., Orthosiphon aristatus, Curcuma domestica Val.,Morinda citrifolia L., Ananas comosus L., Impatiens balsamina L., Pandanus amaryllifolius Roxb., Carica papaya L. ., Cymbopogon citratus Stapf, Piper betle L., Saccharum officinarum Linn., dan Curcuma xanthorrizha Roxb.. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, rimpang, buah, bunga, dan akar.Kata Kunci: Etnobotani, Masyarakat Bali, Tumbuhan Obat
PERSEPSI MASYARAKAT PELADANG BERPINDAH TERHADAP KEBERADAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DESA MERBANG KECAMATAN BELITANG HILIR KABUPATEN SEKADAU Hesti, Rifka Kumala; Tamrin, Edi; Iskandar, Iskandar
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.48871

Abstract

Perladangan berpindah merupakan suatu sistem pertanian yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara bergantian. Sistem pertanian dengan cara ladang berpindah dapat menjadi salah satu bentuk sistem pertanian yang banyak diminati dari dulu hingga saat ini, salah satunya masih diterapkan di Desa Merbang Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai persepsi masyarakat peladang berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit, serta untuk mengetahui hubungan tingkat usia, pendidikan, dan pengetahuan dengan persepsi masyarakat peladang berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik wawancara serta pengisian kuesioner, pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive random sampling dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sebanyak 100 kepala keluarga yang melakukan kegiatan perladangan berpindah. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian persepsi petani berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang cenderung positif dengan tingkat persentase (55,00%), positif, netral (35,00%) dan rendah (10,00%). Persepsi masyarakat sangat mempengaruhi perladangan berpindah karena tingkat kebutuhan hidup mereka hanya mengandalkan perladangan berpindah. Tingkat pengetahuan masyarakat penggarap berpindah terhadap keberadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Merbang cenderung sedang dengan tingkat persentase (68,00%), dan dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap persepsi. komunitas perladangan berpindah. Sementara itu, pendapatan para penggarap berpindah sangat mempengaruhi persepsi masyarakat. Dengan tingkat pendapatan yang cukup rendah yaitu berkisar Rp. 1.000.000 "“ Rp. 10.000.000 per tahun dengan persentase tarif tinggi (20,00%), sedang (22,00%), dan rendah (58,00%).Kata Kunci : Desa Merbang, Perladangan berpindah, Persepsi masyarakat, dan PertanianAbstractShifting cultivation is an agricultural system that moves from one place to another in rotation. The agricultural system using shifting cultivation can be a form of agricultural system that has been very popular since the past until now, one of which is still applied in Merbang Village, Belitang Hilir District, Sekadau Regency to meet daily life needs. This research aims to obtain information regarding the perception of the displaced farming community towards the existence of oil palm plantations, as well as to find out the relationship between age, education and knowledge level with the perception of the displaced farming community regarding the existence of palm oil. farm in Kampung Merbang. This research uses a survey method with interview techniques and filling out questionnaires, sampling is carried out using purposive random sampling with a predetermined sample size of 100 heads of families who carry out shifting cultivation activities. Data analysis using qualitative descriptive analysis. Based on the results of the study, the shift in farmers' perception towards the existence of oil palm plantations in Kampung Merbang tends to be positive with percentage levels (55.00%), positive, neutral (35.00%) and low (10.00%). The community's perception greatly affects shifting cultivation because their level of livelihood depends only on shifting cultivation. The level of knowledge of the displaced farming community about the existence of palm oil plantations in Kampung Merbang tends to be moderate with a percentage level (68.00%), and it can be concluded that the level of knowledge has a strong influence on perception. shifting cultivation community. Meanwhile, the income of migrant farmers greatly affects the perception of the community. With a fairly low level of income, which is around Rp. 1,000,000 "“ Rp. 10,000,000 per year with high (20.00%), medium (22.00%), and low (58.00%) tariff percentages.Keywoards : Merbang Village, Shifting Cultivation, Community Perception, and Agriculture.
KOMPOSISI DAN STRUKTUR VEGETASI DI EKOSISTEM HUTAN KERANGAS RESORT RANTAU MALAM TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Rifanjani, Slamet; Nathasya, Melani Christa; Widhanarto, Ganjar Oki; Afrianti, Utin Riesna; Pius, Pius
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.70393

Abstract

Heath forest is a type of forest that is classified based on differences in soil characteristics and its vegetation develops on site conditions that are easily degraded. This study aims to analyze the composition and structure of vegetation in heath forest in the Rantau Malam Resort area, Bukit Baka Bukit Raya National Park. Methods The method used in this study is the survey method, beginning with the laying of the first observation path by purposive sampling. Subsequent paths are placed systematically using a combination of paths and alternating grid lines. Based on the results of data collection in the field, 51 plant species were found from 32 families, of which the most dominant family was Myrtaceae. At the seedling, pole and tree level, Ubah Merah (Syzygium spp.) had the highest INP, with 42.89%, 59.37% and 53.82% respectively. At the sapling level, Meranti Batu (Shorea macroptera) has the highest INP of 58.81%. Dominance index (C) ranges from 0.13 – 0.1). Species diversity index with a value of 2.82 – 3.07. Species richness index with a value of 4.33 – 6.62. The species evenness index is 0.83 – 0.88. The structure of the vegetation shows that there is a large variety of species and there is good regeneration.Keywords: Composition, heath forest, national park, structureAbstrakHutan kerangas merupakan salah satu tipe hutan yang diklasifikasikan berdasarkan perbedaan karakteristik tanah dan vegetasinya berkembang pada kondisi tapak yang mudah terdegradasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi dan struktur vegetasi pada hutan kerangas yang ada di kawasan Resort Rantau Malam Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey, diawali dengan peletakan jalur pengamatan pertama secara purposive sampling. Jalur selanjutnya diletakkan secara sistematis dengan menggunakan metode kombinasi jalur dan garis petak berseling. Berdasarkan hasil pengumpulan data di lapangan, ditemukan 51 jenis tumbuhan dari 32 famili, dimana famili yang paling dominan yaitu Myrtaceae. Pada tingkat semai, tiang dan pohon, Ubah Merah (Syzygium spp.) memiliki INP paling tinggi yaitu masing-masing 42,89%, 59,37% dan 53,82%. Pada tingkat pancang Meranti Batu (Shorea macroptera) memiliki INP paling tinggi sebesar 58,81%. Indeks dominansi (C) berkisar 0,13 – 0,1). Indeks keanekaragaman jenis dengan nilai 2,82 – 3,07. Indeks kekayaan jenis dengan nilai 4,33 – 6,62. Indeks kemerataan jenis bernilai 0,83 – 0,88. Struktur vegetasi menunjukkan bahwa ditemukan banyak variasi jenis dan adanya regenerasi yang baik. Kata kunci: komposisi, hutan kerangas, taman nasional, struktur.  
KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI DESA MALEK KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Darwati, Herlina; Wibowo, Hari; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.73104

Abstract

Gastropods are soft-bodied animals that have a single shell. A good habitat for gastropods is the mangrove forest. The Malek Village Paloh District Sambas Regency has a mangrove forest managed by Malek Village community groups. The purpose of this study was to analyze data on the diversity of gastropod species in the mangrove forest of Malek Village, Paloh District, Sambas Regency. This research was conducted in the mangrove forest of Malek Village using the survey method and collects data from sampling plots in paths laid purposively and systematically. Data analysis conducted by this research is the species diversity index, species similarity index, species and relative abundance, species evenness index and dominance index. The results of observations found 4 families and 8 species of gastropods in the mangrove ecosystem. The gastropod species found were Cerithidea obtusa, Cerithidea cinggulata, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria melanostoma, Littoraria scabra, Clithon oualaniense and Neritina cornucopia. The diversity index of gastropod species on line 1 amounted to 1,127, line 2 amounted to 0,992, and line 3 amounted to 1,557, including in the medium category. The abundance index of gastropod species on line 1 amounted to 40,7, line 2 amounted to 13,8, and line 3 amounted to 30,4, including in the low category. The evenness index of gastropod species in line 1 was 0,700, line 2 was 0,617, and line 3 was 0,800, categorized as stable. The dominance index of gastropod species in line 1 was 0,3766, line 2 was 0,4663, and line 3 was 0,2609, categorized as low dominance. The similarity index of gastropod species in lanes 1 and 2 is 80%, lanes 1, 2 and 3 are 66,67%, which is categorized as high.Keywords: Gastropod Diversity, Malek Village, Mangrove Ecosystem, Salinity  AbstrakGastropoda adalah hewan bertubuh lunak yang memiliki cangkang tunggal. Habitat yang bagus untuk keberlangsungan tempat hidup gastropoda adalah hutan mangrove. Hutan mangrove Desa Malek Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas memiliki hutan mangrove yang dikelola oleh kelompok masyarakat Desa Malek. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis data keanekaragaman jenis gastropoda di hutan mangrove Desa Malek Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan metode survei dan pengumpulan data dari plot sampling dalam jalur yang diletakkan secara purposive dan sistematik. Analisis data yang dilakukan penelitian ini yaitu indeks keanekaragaman jenis, indeks kesamaan jenis, kelimpahan jenis dan relatif, indeks kemerataan jenis dan indeks dominansi. Hasil pengamatan ditemukan 4 famili dan 8 spesies gastropoda di ekosistem mangrove. Spesies gastropoda yang ditemukan yaitu Cerithidea obtusa, Cerithidea cinggulata, Cassidula aurisfelis, Cassidula nucleus, Littoraria melanostoma, Littoraria scabra, Clithon oualaniense dan Neritina cornucopia. Indeks keanekaragaman jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 1,127, jalur 2 sebesar 0,992 dan jalur 3 sebesar 1,557 termasuk dalam kategori sedang. Indeks kelimpahan jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 40,7, jalur 2 sebesar 13,8, jalur 3 sebesar 30,4 termasuk dalam kategori rendah. Indeks kemerataan jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 0,700, jalur 2 sebesar 0,617 dan jalur 3 sebesar 0,800 dikategorikan stabil. Indeks dominansi jenis gastropoda pada jalur 1 sebesar 0,3766, jalur 2 sebesar 0,4663 dan jalur 3 sebesar 0,2609 dikategorikan dominasi rendah. Indeks kesamaan jenis gastropoda pada jalur 1 dan 2 sebesar 80%, jalur 2 dan 3 sebesar 66,67%, jalur 1 dan 3 sebesar 66,67% dikategorikan   tinggi.Kata kunci: Desa Malek, Ekosistem Mangrove, Keanekaragaman Gastropoda, Salinitas
PEMANFAATAN PANDAN DURI DAN SENGGANG SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Dirhamsyah, M; Yani, Ahmad; Yanti, Hikma; Bija, Yosanti Ester
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72338

Abstract

The people of Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency still carry out the use of plants as materials for woven crafts. This research aims to describe the use of pandan thorns and senggang as woven craft materials and the craft products produced by the people of Labian Village, Batang Lupar District. This research uses a survey method with data collection techniques using Snowball sampling. Data was obtained through observation and interviews with 16 respondents. The research results show that two types of plants are often used as woven material, namely, Pandan thorn (Pandanus tectorius) and Senggang (Hornstedtia reticulate). There are seven types of woven crafts produced from the Pandan duri plant, such as ale', kambu, iyut, alung-alung, singkara nest, kambu bara, and tolop bakam, while from the Senggang plant, six types of woven craft products are produced, namely baskets, lids, capan, mat, uyuyuk, and temuagan. The parts of the Pandan thorn and Senggang plants used as woven craft materials are the leaves and bark, and the processing is still in the traditional form.Keywords: Labian Village Community, Pandan Duri and Senggang, UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan anyaman masih dilakukan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pemanfaatan pandan duri dan senggang sebagai bahan kerajinan anyaman dan mendiskripsikan produk kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan Snowball sampling.   Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan jumlah responden sebanyak 16 orang. Berdasarkan hasil penelitian tumbuhan yang   dimanfaatkan sebagai bahan anyaman adalah Pandan duri (Pandanus tectorius), dan    Senggang (Hornstedtia reticulate). Kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tumbuhan Pandan duri sebanyak 7 jenis produk seperti  ale"™, kambu, iyut, alung- alung, sarang singkara, kambu bara, dan tolop bakam, sedangkan dari tumbuhan Senggang menghasilkan kerajinan anyaman sebanyak 6 jenis produk yaitu bakul, tutup benda, capan, tikar, uyuyuk, dan temuagan. Bagian tumbuhan Pandan duri dan Senggang yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman adalah daun dan kulit batang serta pengolahannya masih dalam bentuk tradisional. Kata kunci: Masyarakat Desa Labian, Pandan Duri dan Senggang, Pemanfaatan
POTENSI AGROFORESTRI UNTUK MENDUKUNG BIOPROSPEKTING Octavia, Anggi; Winarno, Gunardi Djoko; Iswandaru, Dian; Setiawan, Agus
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.70799

Abstract

Agroforestry is a land use system that combines forestry and agricultural plants on one land. The many types of plants cultivated on one agroforestry land can support a village if its use is carried out sustainably. One way to use it is to develop bioprospecting activities for plants for medicine, food and cosmetics. The aim of this research is to find out how to optimize agricultural land using an agroforestry system, find out the community's perception of land use using an agroforestry system, and find out the types of plants used to support bioprospecting. This research was conducted in May-June 2023. The research method was carried out by means of surveys, interviews and vegetation analysis. The research results show that the majority of people agree regarding the ecological, economic and socio-cultural benefits resulting from land use into an agroforestry system as a sustainable system. There are several types of plants on agroforestry land that have great potential to be utilized to support bioprospecting. The percentage of plant species that have bioprospecting potential for food is 37%, 37% for medicines and 26% for cosmetic ingredients. Through the development of bioprospecting plants, it is hoped that it will be able to help the community to optimize the use of agricultural land with an agroforestry system.Keywords: Agroforestry, Bioprospecting, Likert ScaleAbstrakAgroforestri merupakan sistem tata guna lahan kombinasi jenis tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dalam satu lahan. Banyaknya jenis tanaman yang dibudidayakan pada satu lahan agroforestri dapat menjadi penunjang desa apabila pemanfaatannya dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu cara pemanfaatannya dengan melakukan pengembangan kegiatan bioprospecting tumbuhan untuk obat, pangan, dan kosmetika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk, mengetahui cara pengoptimalisasian lahan pertanian menggunakan sistem agroforestri dan mengetahui pesepsi masyarakat terhadap pemanfaatan lahan menggunakan sistem agroforestri, serta mengetahui jenis tanaman yang dimanfaatkan untuk mendukung bioprospekting. Penelitian ini dilakukan  pada bulan Mei-Juni tahun 2023. Metode penelitian dilakukan dengan cara survei, wawancara, dan analisis vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sebagian besar setuju terkait manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial budaya yang dihasilkan dari pemanfaatan lahan menjadi sistem agroforestri sebagai sistem yang berkelanjutan. Terdapat beberapa jenis tumbuhan pada lahan agroforestri memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan guna mendukung bioprospekting. Dengan persentase jenis tumbuhan yang memiliki potensi bioprospekting pangan sebesar 37%, untuk obat 37%, dan bahan kosmetika 26%. Melalui pengembangan tanaman bioprospekting, diharapkan mampu membantu masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian dengan sistem agroforestri. Kata kunci: Agroforestri, Bioprospekting, Skala Likert

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 4 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 1 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 4 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 3 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 2 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 8, No 1 (2020): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 4 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 3 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 2 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 7, No 1 (2019): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 1 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 4 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 2 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 5, No 1 (2017): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 4 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 3 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Lestari Vol 4, No 1 (2016): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 4 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 3 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 2 (2015): JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Lestari Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Lestari More Issue