cover
Contact Name
Agus Ruliyansyah
Contact Email
agus.ruliyansyah@faperta.untan.ac.id
Phone
+62561-740191
Journal Mail Official
jsp.equator@gmail.com
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hadari Nawawi
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
ISSN : -     EISSN : 2964562X     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jspe.v12i1.59508
Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles shall never be published elsewhere, original and not under consideration for other publication
Articles 2,161 Documents
PENGARUH JUMLAH POPULASI IKAN LELE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAYAM MERAH PADA SISTEM AKUAPONIK Pusvita, Dian Prisilia; Sasli, Iwan; Nurjani, Nurjani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i1.60383

Abstract

Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan tanaman sayuran yang memiliki kandungan vitamin A, vitamin B, vitamin C, serta zat besi yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan. Penurunan produksi sayuran bayam merah yang terjadi menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumisnya, oleh karenanya salah satu cara untuk meningkatkan produksi adalah dengan melakukan pemanfaatan lahan perkarangan melaui sistem budidaya akuaponik. Sistem akuaponik merupakan penerapan suatu sistem yang terintegrasi antara akuakultur dan hidroponik. Penelitian ini telah dilaksanakan di perkarangan rumah, Jl. Sejarah Gg. Gunung Putting 2, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2022 sampai dengan Juni 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan, masing-masing perlakuan memiliki 24 tanaman, dengan demikian terdapat 96 tanaman bayam merah. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, volume akar, berat basah dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan akuaponik dengan populasi 50 ikan telah mampu untuk memberikan hasil yang cukup baik pada tanaman bayam merah, sedangkan perlakuan dengan populasi 150 ikan memberikan hasil yang tidak baik.Kata Kunci: Akuaponik, Bayam Merah, Populasi Ikan
PENGARUH JENIS PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS PADA SISTEM DOUBLE ROW DI LAHAN GAMBUT Hendri, Adrianus; Warganda, Warganda; Maulidi, Maulidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i1.60548

Abstract

Tanaman jagung manis merupakan salah satu komoditas hortikultura yang telah banyak dibudidayakan. Satu diantara faktor pembatas pertumbuhan tanaman jagung manis adalah kesuburan tanah. Masalah utama dalam pemanfaatan lahan gambut adalah terbatasnya kemampuan kimia dan biologis tanah. Perlu dilakukan upaya pemanfaatan dan pengelolaan untuk memperbaiki kesehatan tanah, khususnya gambut diantaranya dengan menggunakan pupuk hayati (biofertilizer). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pupuk hayati yang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman jagung manis dengan sistem tanam double row di lahan gambut. Penelitian dilaksanakan di Lahan Pertanian Patok 28 Desa Rasau Jaya II, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 Juli "“ 17 September 2022. Penelitian menggunakan metode eksperimen pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang sebanyak 6 kali. Perlakuan yang dimaksud yaitu: A = Pupuk Hayati Bioboost, B = Pupuk Hayati Biokonversi, C = Pupuk Hayati PGPR dan D = Pupuk Hayati Tricoderma. Variabel pengamatan terdiri dari yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang daun, luas daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman, volume akar, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris per petak dan berat tongkol per petak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pupuk hayati Bioboost, Biokonversi, Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Tricoderma harzianum dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung manis.Kata Kunci : Double Row, Jagung Manis, Lahan Gambut, Pupuk Hayati
ASPEK REPRODUKSI IKAN BELUT (Monopterus albus) DI AREA PERSAWAHAN DESA TERENTANG HILIR DAN DESA SUNGAI RADAK DUA KECAMATAN TERENTANG KABUPATEN KUBU RAYA Afifah, Nur; Munir, Ahmad Mulyadi Sirodjul; Rahayu, Sri
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i1.60605

Abstract

Kecamatan Terentang Kabupaten Kubu Raya berperan dalam menambah produksi perikanan tangkap perairan umum di Kalimantan Barat. Potensi sumber daya salah satu ikan di perairan Kecamatan Terentang yaitu ikan belut (Monopterus albus), didapatkan informasi bahwa produksi belut masih ditangkap dari alam dengan menggunakan alat pancing oleh para pencari belut. Penelitian ini bertujuan mengetahui aspek biologi reproduksi dari belut seperti rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), ukuran pertama kali matang gonad, pola pertumbuhan, dan sebaran frekuensi panjang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 menggunakan metode Purposive Sampling di area persawahan Desa Terentang Hilir dan Desa Sungai Radak Dua Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya. Rasio Kelamin belut jantan dan betina adalah 1 : 3,4. Belut jantan ditemukan berada pada TKG I sampai III dan betina berada pada TKG I sampai V. Nilai IKG stasiun 1 pada belut jantan 0,024 dan betina 9,250. Nilai IKG stasiun 2 pada belut jantan 0,133 dan betina 3,627.Ukuran pertama kali matang gonad belut stasiun 1 jantan pada panjang 51,00 cm dan berat 155,52 gr, pada betina panjang 37,33 cm dan berat 43,41 gr. Ukuran pertama kali matang gonad belut stasiun 2 jantan pada panjang 60,21 cm dan berat 308,29 gr, pada betina panjang 47,96 cm dan berat 121,32 gr. Pola pertumbuhan belut stasiun 1 jantan dan betina allometrik negatif, stasiun 2 pola pertumbuhan jantan dan betina allometrik positif. Sebaran frekuensi panjang belut terdapat 6 kelas kisaran panjang.Kata Kunci : kecamatan Terentang, belut, aspek reproduksi, pola pertumbuhan
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH TERHADAP PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH DAN PUPUK NPK PADA MEDIA GAMBUT Herani, Antonia; Anggorowati, Dini; Gusmayanti, Evi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i2.61302

Abstract

Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Produksi bawang merah di Kalimantan saat ini tercatat sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah namun produksinya masih rendah. Rata-rata kebutuhan bawang merah di Kalimantan Barat sekitar 13.028 ton/tahun sedangkan produksi bawang merah tahun 2022 hanya sebesar 226,90 ton dari 118 ha luas panen. Bawang merah agar dapat berproduksi dengan maksimal perlu dilakukan budidaya yang baik, salah satunya dengan pemberian zat pengatur tumbuh dan pemupukan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh interaksi pemberian zat pengatur tumbuh dan dosis pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah yang terbaik pada media gambut. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, waktu penelitian mulai 15 Agustus s/d 25 Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama zat pengatur tumbuh dengan 2 taraf (tanpa zat pengatur tumbuh, dengan zat pengatur tumbuh) dan faktor kedua pupuk NPK dengan 3 taraf (0,8 g/polybag ; 1,2 g/polybag ; 1,Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah umbi, berat umbi segar (g) dan berat Umbi Kering Angin Per Rumpun (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah umbi, berat umbi segar (g) dan berat Umbi Kering Angin Per Rumpun (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dari pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK diperoleh pada variabel berat segar umbi dan berat kering angin. sedangkan variabel lainnya tidak terdapat interaksi. Interaksi pemberian hormon tumbuhan dan pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha merupakan dosis efektif yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman bawang merah yang ditanam pada media gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ZPT secara mandiri berpengaruh terhadap variabel jumlah daun dan variabel jumlah umbi. Pemberian pupuk NPK secara mandiri berpengaruh terhadap variabel jumlah umbi.
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR TIRAM PUTIH PADA MEDIA SERBUK GERGAJI Ngaing, Rhalmundus Sain; Warganda, Warganda; Listiawati, Agustina
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i2.61327

Abstract

Media tumbuh merupakan salah satu aspek penting yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Pemberian Pupuk Organik Cair (POC) perlu dilakukan secara berkala untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang kurang selama masa pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan frekuensi pemberian POC terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih pada media serbuk gergaji. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari tanggal 14 Februari "“ 16 Juni 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 6 taraf konsentrasi dengan 4 ulangan. Masing-masing ulangan terdiri dari 3 sampel. Jadi total keseluruhan yang diperoleh 72 baglog. Perlakuan p1 (Frekuensi pemberian POC setiap 1 hari), p2 (Frekuensi pemberian POC setiap 2 hari), p3 (Frekuensi pemberian POC setiap 3 hari), p4 (Frekuensi pemberian POC setiap 4 hari), p5 (Frekuensi pemberian POC setiap 5 hari), dan p6 (Frekuensi pemberian POC setiap 6 hari). Variabel penelitian meliputi umur panen (hari), berat segar jamur tiram (g), diameter tudung buah jamur tiram (cm), dan jumlah tubuh buah jamur tiram (buah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang paling efisien untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih pada media serbuk gergaji adalah frekuensi pemberian POC setiap 2 hari di variabel berat segar jamur tiram dengan rerata nilai 361,82 g
PENGARUH ARANG SEKAM SEBAGAI CAMPURAN MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN GA3 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA PADA TANAH ALUVIAL Aurelia, Zakia; Warganda, Warganda; Maulidi, Maulidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i3.61460

Abstract

Usaha pengembangan Kubis Bunga untuk memenuhi kebutuhan pangan di tanah aluvial mengalami kendala yaitu sifat tanah dan waktu pembungaan yang cukup lama. Upaya dalam menunjang keberhasilan dalam budidaya kubis bunga pada tanah aluvial dapat didorong dengan memperbaiki sifat fisik tanah dengan menambahkan campuran bahan organik tanah yaitu arang sekam dan melakukan penambahan hormon GA3 untuk menunjang pembungaan pada krop kubis bunga. Dosis Arang Sekam dan Konsentrasi GA3 yang optimum akan memberikan dampak pada pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan interkasi arang sekam dan GA3 yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kubis bunga di tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Spit Plot Design) dengan RAL yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu Arang sekam (a) sebagai petak utama yang terdiri dari 3 taraf perlakuan dan faktor kedua yaitu GA3 (b) sebagai anak petak yang teriri dari 3 taraf perlakuan. Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel. Jumlah keseluruhan tanaman terdapat 108 petak percobaan. Perlakuan tersebut terdiri dari a1b1 = arang sekam 15% + GA3 50 mg/l, a1b2= arang sekam 15% + GA3 100 mg/l, a1b3 = arang sekam 15% + GA3 150 mg/l, a2b1= arang sekam 25% + GA3 50 mg/l, a2b2 = arang sekam 25% + GA3 100 mg/l, a2b3 = arang sekam 25% + GA3 150 mg/l, a3b1= arang sekam 35% + GA3 50 mg/l, a3b2 = arang sekam 35% + GA3 100 mg/l, a3b3 = arang sekam 35% + GA3 50 mg/l. Variabel pengamatan meliputi : Luas daun (cm2 ), volume akar (cm3 ), berat kering tanaman (g), umur berbunga (hari), diameter bunga (cm2 ), dan bobot krop (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pada berbagai dosis arang sekam dan konsentrasi GA3 relatif sama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga pada tanah aluvial. Interaksi efektif yang direkomendasikan adalah dosis arang sekam 15 % + konsentrasi GA3 50 mg/l. Kata Kunci : Arang Sekam, GA3, Kubis Bunga, Tanah Aluvial.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN TERHADAP BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK GANDASIL D DAN B SECARA HIDROPONIK Doni, Doni; Sasli, Iwan; Wasi'an, Wasi'an
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i3.61804

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk Gandasil (D dan B) dan mengetahui konsentrasi yang tepat sehingga memberikan pertumbuhan dan hasil mentimun yang terbaik secara hidroponik. Penelitian ini dimulai pada tanggal 30 Juni sampai dengan 6 September 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 sampel sehingga seluruhnya berjumlah 96 tanaman sampel. Perlakuan yang diberikan yaitu p0 = 5 ml/l AB-Mix 5, p1 = 1 g/l Gandasil (D dan B), p2 = 3 g/l Gandasil (D dan B), p3 = 5 g/l Gandasil (D dan B), p4 = 7 g/l Gandasil (D dan B), p5 = 9 g/l Gandasil (D dan B). Variabel yang diamati yaitu Panjang Tanaman umur 2 MST dan 3 MST (cm), Jumlah Daun umur 2 MST dan 3 MST (helai), Volume Akar (cm3), Berat Kering Tanaman (g), Bobot per Buah (g), Diameter Buah (cm), Panjang Buah (cm), Jumlah Buah per Tanaman (buah), Berat Buah per Tanaman (g). Adapun variabel penunjang yaitu Suhu Udara ( °C) dan Kelembaban Udara (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk Gandasil (D dan B) pada perlakuan (P2) pupuk Gandasil D pada saat tanaman umur 0-1 minggu dengan konsentrasi 0 g/l, umur 1-2 minggu 1,5 g/l, umur 2 minggu "“ fase vegetatif maksimum 3 g/l, dan fase vegetatif maksimum "“ fase generatif diganti dengan Gandasil B dengan konsentarsi 3 g/l merupakan perlakuan terbaik sebagai nutrisi alternatif dari nutrisi AB-Mix untuk pertumbuhan dan hasil mentimun secara hidroponik.
PENGARUH PEMBERIAN PGPR PADA BEBERAPA KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK LADA manurung, Lidia; Asnawati, Asnawati; Purwaningsih, Purwaningsih
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i2.61909

Abstract

Tanaman lada dapat dikembangbiakan secara generatif maupun vegetatif. Perkembangbiakan vegetatif menggunakan stek lebih banyak dilakukan karena waktu yang diperlukan lebih singkat. Upaya yang dapat dilakukan mengatasi bahan tanam yang terbatas pada setek lada yaitu penggunaan setek pendek 1 ruas berdaun tunggal. Untuk menghasilkan bibit yang bermutu salah satunya dengan pengaplikasian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Pengaplikasian PGPR harus didukung dengan media tanam yang gembur, agar bakteri PGPR berkembang dengan baik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengaruh PGPR pada berbagai komposisi media tanam yang terbaik untuk pertumbuhan stek lada satu ruas berdaun tunggal. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak mulai tanggal 20 juli sampai 25 Oktober 2022. Metode yang dingunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) RAL terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu media sebagai mainplot terdiri dari 3 taraf dan pemberian PGPR sebagai subplot terdiri dari 2 taraf, menghasilkan 6 kombinasi dengan 4 ulangan terdiri dari 5 sampel sehingga total 120 tanaman. Perlakuan yang dimaksud yaitu (PMK + Pupuk Kandang Sapi dan tanpa PGPR); (PMK + Pukan Kandang Sapi dan PGPR); (PMK + Pupuk kandang Sapi + Arang Sekam dan tanpa PGPR); (PMK + Pupuk kandang Sapi + Arang Sekam dan PGPR; (PMK + Pupuk kandang Sapi + Pasir dan tanpa PGPR); (PMK + Pupuk kandang Sapi + Pasir dan PGPR); (PMK + Pupuk kandang Sapi + Pasir dan PGPR). Variabel yang diamati yaitu jumlah tunas, Panjang tunas (cm), jumlah daun (helai), Panjang akar (cm), volume akar (cm3), berat kering tunas (g). Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan yaitu, suhu, kelembaban, dan pH tanah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PGPR pada berbagai komposisi media tanam tidak mempengaruhi pertumbuhan setek lada.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG BURUNG PUYUH DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI EDAMAME DI TANAH PODSOLIK MERAH KUNING Lutfiah, Rahmawati; Santoso, Eddy; maulidi, Maulidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i3.61968

Abstract

Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merril.) dapat tumbuh dengan baik pada media tumbuh yang subur, unsur hara yang cukup, struktur dan aerasi tanah yang baik. Salah satu media tumbuh yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kedelai edamame adalah tanah podsolik merah kuning yang memiliki beberapa kendala. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberikan bahan organik berupa pupuk kandang burung puyuh dan pupuk anorganik NPK yang dikombinasikan dan diberikan secara berimbang. Penggunaan pupuk kandang burung puyuh sebagai bahan organik dapat memperbaiki kendala yang ada pada tanah podsolik merah kuning terutama sifat fisik tanah, dan penambahan NPK yang dapat diserap oleh tanaman secara cepat untuk memenuhi kebutuhan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara pupuk kandang burung puyuh dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai edamame di tanah podsolik merah kuning, serta mendapatkan dosis terbaik pupuk kandang burung puyuh dan NPK. Penelitian ini dilaksanakan dilahan penelitian Fakultas Petanian Universitas Tanjungpura pada tanggal 16 Agustus-14 November 2022. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu pemberian pupuk kandang burung puyuh (k) dan NPK (p) masing-masing dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan, sehingga total keseluruhan ada 108 sampel tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Interaksi antara dosis pupuk kandang puyuh 40 ton/ha + NPK 200 kg/ha dalam meningkatkan pertumbuhan kedelai edamame pada variabel berat kering tanaman. Pemberian pupuk kandang puyuh 30 ton/ha merupakan dosis terbaik untuk pertumbuhan kedelai edamame pada variabel jumlah cabang 4 minggu setelah tanam dan hasil kedelai edamame pada variabel bobot segar polong tertinggi serta jumlah polong isi.
PENGARUH PEMBERIAN ABU KAYU DAN PUPUK KCL PADA TANAMAN LOBAK KULTIVAR CHERRY BELLE DI TANAH ALUVIAL Dhawiyarda, Iqbal Rizky; Hadijah, Siti; Maulidi, Maulidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 12 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i3.61974

Abstract

Lobak Kultivar Cherry belle adalah tanaman yang termasuk dalam family Brasicaceae ini memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi sehingga sudah cukup banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Banyak sekali jenis dan varietas lobak yang dikenal oleh masyarakat, salah satu jenisnya adalah Cherry Belle yang memiliki bentuk bulat berwarna merah dengan daging berwarna putih. Tanaman lobak ini dapat dikembangkan pada berbagai jenis tanah, salah satunya adalah tanah alluvial. Pemanfaatan tanah aluvial sebagai media tanam seringkali dihadapkan pada berbagai permasalahan seperti sifat kimia yang memiliki kadar unsur hara yang rendah serta kadar kemasaman yang cukup tinggi. Upaya untuk meningkatkan pH tanah aluvial yang bersifat masam adalah dengan pemberian abu kayu yang dapat menggantikan fungsi kapur dan pemberian pupuk KCl yang dapat mencukupi kebutuhan unsur hara kalium yang dibutuhkan lobak. Penelitian ini dimulai sejak 2 Oktober hingga 1 Desember 2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Faktorial dua Faktor dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah Abu Kayu dengan 3 taraf perlakuan yaitu a₁ = 63g/polybag atau setara dengan 21 ton/ha, aâ‚‚ = 72 g/polybag atau setara dengan 24 ton/ha, a₃ = 81 g/polybag atau setara dengan 27 ton/ha dan faktor keduanya adalah pupuk KCl dengan 3 taraf yaitu k₁ = 0,75 g/polybag atau setara dengan 50 kg/ha, kâ‚‚ = 1,5 g/polybag atau setara dengan 100 kg/ha, k₃ = 2,25 g/polybag atau setara dengan 150 kg/Ha. Masing "“ masing perlakuan dilakukan 3 ulangan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah daun, panjang umbi, diameter umbi, berat segar tanaman dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap interaksi perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang sama baiknya pada variabel jumlah daun, panjang umbi, diameter umbi, berat segar tanaman dan berat kering tanaman, sehingga efisiensi penggunaan dosis abu kayu dan pupuk KCl dalah pada perlakuan 63 g/polybag atau setara dengan 21 ton/ha dan 0,75 g/polybag atau setara dengan 50 kg/ha.