cover
Contact Name
Ahmad Yani
Contact Email
ahmadyani.publichealth@gmail.com
Phone
+6281245936241
Journal Mail Official
contact@unismuhpalu.ac.id
Editorial Address
Jalan Jabal Nur No.1, Talise, Mantikulore, Talise, Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah 94118
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Kolaboratif Sains
ISSN : -     EISSN : 26232022     DOI : https://doi.org/10.31934/jom
Jurnal Kolaboratif Sains merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Palu. Jurnal ini menerima artikel ilmiah dalam bentuk Hasil Penelitian, Laporan Penelitian, Literatur Review. Semua manuskrip yang dikirimkan adalah peer review oleh para ahli di bidang yang relevan. Tujuan dan Lingkup Jurnal Kolaboratif Sains untuk mendukung para akademisi/peneliti pada penelitian multidisiplin untuk mempublikasikan karya ilmiahnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,264 Documents
Studi Analisa Uprating Jaringan Tegangan Menengah 20 kV di PT PLN (Persero) ULP Pariaman: Study of Uprating Analysis of the 20 kV Medium-Voltage Network at PT PLN (Persero) ULP Pariaman Indra Akmel Caniago; Rosnita Rauf; Yani Ridal
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11654

Abstract

Peningkatan beban listrik pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV dapat menyebabkan penurunan kualitas tegangan dan meningkatnya rugi-rugi daya pada sistem distribusi. Salah satu upaya teknis untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan metode uprating pada kawat penghantar. Penelitian ini bertujuan menganalisis besarnya drop tegangan dan rugi-rugi daya pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV di PT. PLN (Persero) ULP Pariaman sebelum dan sesudah dilakukan uprating, serta mengevaluasi efektivitas metode tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif dengan menggunakan data arus beban, panjang saluran, faktor daya, serta impedansi penghantar pada Feeder Express GH Pariaman dan Feeder Express GH Sungai Limau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Feeder Express GH Pariaman, nilai drop tegangan pada ukuran 150 mm² di jam 19:00 yaitu 5,43%–6,76%, dan setelah dilakukan uprating penampang menjadi 240 mm² nilai drop tegangan menurun menjadi 3,38%–4,74%. Selain itu, rugi-rugi daya pada feeder tersebut menurun dari kisaran 4,77%–6,69% menjadi 2,97%–4,16%. Sementara itu, pada Feeder Express GH Sungai Limau, penerapan uprating kabel juga menghasilkan penurunan nilai drop tegangan dan rugi-rugi daya sehingga sistem distribusi beroperasi lebih efisien dan berada dalam batas standar yang ditetapkan oleh PT. PLN (Persero) sebesar 5%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode uprating pada kawat penghantar efektif dalam meningkatkan kualitas tegangan dan mengurangi rugi-rugi daya pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV di PT. PLN (Persero) ULP Pariaman. ABSTRACT The increase of electrical load on the 20 kV medium voltage distribution network can cause a decline in voltage quality and an increase in power losses within the distribution system. One technical measure to overcome this problem is the application of the uprating method on the conductor. This study aims to analyze the magnitude of voltage drop and power losses on the 20 kV medium voltage distribution network at PT. PLN (Persero) ULP Pariaman before and after uprating, and to evaluate the effectiveness of the method. The research method used is quantitative, using load current data, line length, power factor, and conductor impedance on the Feeder Express GH Pariaman and Feeder Express GH Sungai Limau. The results show that on Feeder Express GH Pariaman, the voltage drop value at the 150 mm² size at 19:00 was 5.43%–6.76%, and after uprating the cross-section to 240 mm² the voltage drop decreased to 3.38%–4.74%. In addition, the power losses on the feeder decreased from a range of 4.77%–6.69% to 2.97%–4.16%. Meanwhile, on Feeder Express GH Sungai Limau, the application of cable uprating also produced a decrease in voltage drop and power losses so that the distribution system operates more efficiently and remains within the standard limit set by PT. PLN (Persero) of 5%. Based on these results, it can be concluded that the uprating method on the conductor is effective in improving voltage quality and reducing power losses on the 20 kV medium voltage distribution network at PT. PLN (Persero) ULP Pariaman.
Strategi Pengawasan Klien Pemasyarakatan Berbasis Community Based Correction Ahmad Syafei A Moeis
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11655

Abstract

Pengawasan pembimbingan kemasyarakatan merupakan aspek penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan, mencegah pelanggaran, serta mendukung reintegrasi sosial klien. Namun praktik di lapangan menghadapi tantangan seperti disparitas kapasitas antar daerah, beban kasus tinggi, keterbatasan sumber daya manusia, serta prosedur monitoring dan pelaporan yang belum seragam. Penelitian ini bertujuan menyusun peta konseptual dan rekomendasi strategi pengawasan klien pemasyarakatan berbasis community based correction melalui literature review. Sintesis difokuskan pada: komponen strategi pengawasan, mekanisme kepatuhan dan tindak lanjut pelanggaran, peran komunitas dalam rehabilitasi, serta pertimbangan adopsi teknologi monitoring beserta tantangan hukum dan privasi. Temuan menunjukkan bahwa pengawasan efektif perlu mengintegrasikan “dua roda”, yaitu kepatuhan dan rehabilitasi. Keterlibatan komunitas berperan sebagai kanal dukungan sosial dan penguatan proses perubahan perilaku, sedangkan teknologi monitoring layak dipertimbangkan dengan prasyarat tata kelola yang jelas. Penelitian merekomendasikan model pengawasan berlapis dan akuntabilitas berbasis indikator kinerja
Studi Analisa Sistem Penangkal Petir pada Area Kantor Pariwisata Kota Pariaman: Analysis of the Lightning Protection System at the Pariaman City Tourism Office Area Bismal Iqbal; Yani Ridal; Budiman
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11656

Abstract

Gedung Pariwisata Kota Pariaman merupakan bangunan bertingkat dengan ketinggian 16 meter yang berfungsi sebagai pusat operasional pelayanan pariwisata dan terletak di wilayah pesisir pantai sehingga memiliki risiko tinggi terhadap sambaran petir. Pada gedung tersebut telah dipasang sistem penangkal petir konvensional tipe sangkar Faraday (Faraday cage) dengan tinggi tiang 4 meter. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kebutuhan serta efektivitas sistem penangkal petir yang terpasang berdasarkan standar PUIPP dan indeks kriteria bahaya. Hasil analisis menunjukkan gedung termasuk kategori bangunan dengan tingkat bahaya tinggi dengan nilai R lebih dari 14. Data hari guruh tahun 2024 menunjukkan sebanyak 207 hari guruh dengan arus puncak petir sebesar 81,6977 kA. Perhitungan tegangan sentuh, tegangan langkah, sudut perlindungan, dan radius proteksi dilakukan menggunakan metode rolling sphere. Hasil menunjukkan cakupan proteksi optimal dengan luas area perlindungan sebesar 603,18 m² yang dihasilkan oleh tiga terminal udara. Nilai tahanan pentanahan diperoleh sebesar 1,75 ? dengan tahanan jenis tanah 4,887 ?m, sehingga sistem penangkal petir dinyatakan efektif melindungi gedung. ABSTRACT The Pariaman City Tourism Building is a 16-meter multi-story building that serves as the operational center for tourism services and is located in a coastal area, giving it a high risk of lightning strikes. A conventional Faraday cage lightning protection system with a 4-meter mast has been installed on the building. This study aims to analyze the level of need and the effectiveness of the installed lightning protection system based on the PUIPP standard and the danger criteria index. The analysis shows that the building falls into the high-risk category with an R value greater than 14. The 2024 thunderstorm-day data shows 207 thunderstorm days with a peak lightning current of 81.6977 kA. The calculation of touch voltage, step voltage, protection angle, and protection radius was carried out using the rolling sphere method. The results show optimal protection coverage with a protected area of 603.18 m² produced by three air terminals. The grounding resistance value was 1.75 ? with a soil resistivity of 4.887 ?m, so the lightning protection system is declared effective in protecting the building.
Analisis Getaran Mekanik Blender pada Variasi Kecepatan Putaran dengan Sensor Smartphone Phyphox: Analysis of Mechanical Vibrations in a Blender at Different Rotational Speeds Using the Phyphox Smartphone Sensor Indra Purnomo
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11658

Abstract

Getaran pada peralatan rumah tangga berputar seperti blender, timbul akibat ketidakseimbangan massa, gaya sentrifugal, gesekan, dan interaksi komponen saat motor bekerja. Kecepatan putaran yang semakin tinggi, maka amplitudo dan energi getaran semakin besar yang memengaruhi kenyamanan pengguna serta kestabilan alat, karena pengukuran getaran dengan instrumen khusus relatif mahal, diperlukan alternatif yang praktis dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi kecepatan putaran blender terhadap karakteristik getaran menggunakan sensor accelerometer pada smartphone melalui aplikasi Phyphox. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif pada blender National Panalux PBL 410 dengan dua tingkat kecepatan, yaitu level 1 (13.000 RPM) dan level 2 (19.000 RPM). Data percepatan getaran direkam selama 5 detik pada tiap level, lalu diolah menggunakan software Maple untuk memperoleh nilai peak, RMS (Root Mean Square), frekuensi dominan, estimasi noise, dan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level 2 menghasilkan peak 5,571 dan RMS 3,024, lebih tinggi daripada level 1 dengan peak 3,769 dan RMS 2,996. Frekuensi dominan pada level 1 dan level 2 masing-masing sebesar 1,256 Hz dan 1,150 Hz. Standar deviasi level 2 sebesar 0,056 lebih kecil daripada level 1 sebesar 0,258, sehingga data pada level 2 lebih stabil. Hasil tersebut peningkatan kecepatan putaran blender cenderung meningkatkan intensitas dan energi getaran yang dihasilkan. Smartphone dengan Phyphox dapat dimanfaatkan sebagai alat ukur alternatif yang praktis, ekonomis, dan efektif untuk analisis getaran. ABSTRACT Vibrations in rotating household appliances, such as blenders, are caused by mass imbalance, centrifugal force, friction, and component interactions when the motor is running. As rotational speed increases, the amplitude and energy of the vibrations also increase, affecting user comfort and the stability of the appliance. Since measuring vibrations with specialized instruments is relatively expensive, a practical and economical alternative is needed. This study aims to analyze the effect of variations in blender rotational speed on vibration characteristics using an accelerometer sensor on a smartphone via the Phyphox app. The research method employed was a quantitative experiment on a National Panalux PBL 410 blender with two speed levels: Level 1 (13,000 RPM) and Level 2 (19,000 RPM). Vibration acceleration data was recorded for 5 seconds at each speed level and then processed using Maple software to obtain the peak value, RMS (Root Mean Square), dominant frequency, noise estimate, and standard deviation. The results of the study show that Level 2 produced a peak of 5.571 and an RMS of 3.024, which are higher than those of Level 1, with a peak of 3.769 and an RMS of 2.996. The dominant frequencies at Level 1 and Level 2 were 1.256 Hz and 1.150 Hz, respectively. The standard deviation for Level 2 (0.056) is smaller than that for Level 1 (0.258), indicating that the data at Level 2 is more stable. These results suggest that an increase in the blender’s rotational speed tends to increase the intensity and energy of the resulting vibrations. A smartphone equipped with the Phyphox app can serve as a practical, economical, and effective alternative measurement tool for vibration analysis.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PERAWAT DI RSUD KOTA PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2026 Alya Az Zahra
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11659

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus merupakan masalah serius dengan angka kejadian yang terus meningkat tajam dan dapat menyerang hampir seluruh populasi dunia. Indonesia merupakan negara ke dua terbesar setelah India yang mempunyai penderita Diabetes Mellitus terbanyak yaitu 8.426.000 orang di tingkat Asia Tenggara, dan diperkirakan meningkat menjadi 21.257.000 pada tahun 2030. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus di wilayah belawan pesisir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional dan melibatkan 130 responden dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus di Wilayah Belawan Pesisir (P-Value 0.000).
Kedudukan Hukum Karya Gambar Hasil Artificial Intelligence sebagai Objek Benda dalam Akta Notaris: The Legal Status of Artificial Intelligence Generated Images as Property Objects in Notarial Deeds Alifyanto Wibowo Kencana; Lena Hanifah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 7: Juli 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11663

Abstract

Penelitian ini mengkaji dua permasalahan utama, yakni kedudukan hukum karya gambar hasil Artificial Intelligence (AI) sebagai objek perjanjian dalam akta Notaris, serta ruang lingkup tanggung jawab hukum Notaris dalam pembuatan akta yang memuat objek tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif yang didukung pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif, serta bersifat preskriptif untuk merumuskan solusi normatif atas kekosongan hukum yang teridentifikasi. Berdasarkan Pasal 499 KUHPerdata, karya gambar hasil AI dapat dikualifikasikan sebagai benda bergerak tidak berwujud (roerend immaterieel goed) karena memiliki nilai ekonomis dan dapat dialihkan. Namun, berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, pengakuan karya AI sebagai karya yang dilindungi menghadapi hambatan fundamental karena undang-undang mensyaratkan adanya pencipta manusia yang dapat diidentifikasi. Berdasarkan tingkat kontribusi kreatif manusia, karya gambar AI diklasifikasikan ke dalam tiga tipologi, yaitu karya AI-Assisted (dapat dilindungi hak cipta dan sah sebagai objek akta pengalihan hak), karya Hybrid (berada di wilayah abu-abu dan memerlukan pembuktian kreativitas manusia yang substansial), serta karya Autonomous AI Works (tidak dilindungi, masuk domain publik, dan hanya dapat diperjanjikan sebatas pengalihan penguasaan melalui mekanisme occupatio). Tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta tersebut pada dasarnya bersifat formil, bukan materiil, mencakup penerapan due diligence proporsional sesuai tipologi karya, pemberian penyuluhan hukum tertulis, pencantuman klausul pernyataan dan ganti kerugian, dokumentasi yang cermat, serta penolakan akta apabila terdapat indikasi nyata pelanggaran hak cipta pihak ketiga. Kelalaian dalam memenuhi kewajiban formil tersebut berpotensi menimbulkan tanggung jawab perdata, pidana, dan administratif bagi Notaris. Pembaruan Undang-Undang Hak Cipta serta penerbitan pedoman teknis operasional bagi Notaris sangat direkomendasikan guna memberikan kepastian hukum yang memadai. This study examines two main issues, namely the legal status of Artificial Intelligence (AI)-generated image works as objects of agreement in notarial deeds, and the scope of the Notary's legal responsibility in drafting deeds containing such objects. This research employs a normative legal method supported by statutory, conceptual, and comparative approaches, and is prescriptive in nature, aiming to formulate normative solutions to the identified legal vacuum. Under Article 499 of the Indonesian Civil Code, AI-generated image works can be qualified as intangible movable property (roerend immaterieel goed) because they possess economic value and are transferable. However, under Law Number 28 of 2014 concerning Copyright, recognition of AI works as protected works faces a fundamental obstacle because the law requires an identifiable human author. Based on the degree of human creative contribution, AI image works are classified into three typologies, namely AI-Assisted works (copyrightable and valid as objects of rights-transfer deeds), Hybrid works (situated in a legal grey area and requiring proof of substantial human creativity), and Autonomous AI Works (unprotected, falling into the public domain, and transferable only to the extent of possession through the occupatio mechanism). The Notary's responsibility in drafting such deeds is essentially formal, not material, encompassing the proportional application of due diligence according to the typology of the work, the provision of written legal counsel, the inclusion of declaration and indemnity clauses, careful documentation, and refusal of the deed where there is a real indication of third-party copyright infringement. Failure to fulfill these formal obligations may give rise to civil, criminal, and administrative liability for the Notary. The reform of the Copyright Law and the issuance of operational technical guidelines for Notaries are strongly recommended to provide adequate legal certainty.
Ulkus Kornea Bakteri: Laporan Kasus (Bacterial Corneal Ulcer: A Case Report): Bacterial Corneal Ulcer: A Case Report Rr. Avrili Tifania Anisah Putri; Alia Nessa; Atiek Indriawati
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11665

Abstract

Ulkus kornea bakteri (keratitis bakteri) merupakan kegawatdaruratan oftalmologi dan salah satu penyebab utama kebutaan kornea di negara berkembang, termasuk Indonesia. Infeksi ini jarang terjadi pada epitel yang utuh dan umumnya dipicu oleh faktor predisposisi seperti trauma okuler, penggunaan lensa kontak, maupun penyakit sistemik. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan barier epitel dan infiltrasi supuratif pada stroma, yang dapat memicu pencairan jaringan secara cepat dan berisiko tinggi menyebabkan kebutaan monokuler akibat pembentukan jaringan parut (sikatriks) permanen pada aksis visual. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan diagnostik, patofisiologi, serta terapi medikamentosa pada pasien ulkus kornea bakteri. Seorang laki-laki berusia 46 tahun datang dengan keluhan mata kiri perih dan berair sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Perjalanan penyakit diawali riwayat trauma mekanik minor berupa sensasi "kelilipan" sepuluh hari sebelumnya. Pemeriksaan fisik segmen anterior menunjukkan adanya defek epitel disertai infiltrat stroma supuratif berwarna putih kekuningan, dengan penurunan tajam penglihatan yang signifikan menjadi 6/120. Dari berbagai faktor risiko epidemiologis yang ada, trauma minor pada pasien ini bertindak sebagai port de entry utama yang merusak barier anatomis epitel kornea. Secara molekuler, invasi bakteri memicu pelepasan enzim proteolitik bakteri dan aktivasi Matrix Metalloproteinases (MMPs) dari sel imun pejamu (host) yang memicu kaskade stromal melting. Onset yang akut dan karakteristik lesi purulen berbatas tegas secara klinis menyingkirkan diagnosis banding keratitis jamur maupun etiologi non-bakteri lainnya. Pasien menerima tata laksana empiris agresif berupa kombinasi antibiotik topikal spektrum luas Levofloxacin (fluorokuinolon generasi ketiga) dan Gentamicin untuk mencapai cakupan ganda (dual coverage) yang adekuat, disertai antibiotik sistemik Ciprofloxacin dan air mata buatan suportif. Penggunaan kortikosteroid dihindari pada fase akut untuk mencegah komplikasi perforasi kornea. Diagnosis dini dan inisiasi terapi antibiotik spektrum luas kombinasi sangat krusial untuk menghentikan progresivitas infeksi. Meskipun sterilisasi bakteri berhasil dicapai dengan prognosis quo ad vitam dan sanam yang bonam, prognosis penglihatan (quo ad functionam) tetap ad malam karena resolusi stroma pada aksis visual akan digantikan oleh jaringan fibrosis permanen. ABSTRACT Bacterial corneal ulcer (bacterial keratitis) is an ophthalmologic emergency and a leading cause of corneal blindness in developing countries, including Indonesia. The infection rarely occurs on an intact epithelium and is generally triggered by predisposing factors such as ocular trauma, contact lens wear, or systemic diseases. It is characterized by epithelial barrier disruption and suppurative stromal infiltration, which can trigger rapid tissue liquefaction and carries a high risk of monocular blindness due to permanent scar (cicatrix) formation on the visual axis. This case report aims to review the diagnostic approach, pathophysiology, and rationalization of medical therapy in a patient with a bacterial corneal ulcer. A 46-year-old male presented with a painful and watery left eye for three days prior to admission. The disease progression was initiated by a history of minor mechanical trauma due to a foreign body sensation ("kelilipan") ten days earlier. Anterior segment examination revealed an epithelial defect accompanied by a yellowish-white suppurative stromal infiltrate, with a significant decrease in visual acuity to 6/120. Among various epidemiological risk factors, minor trauma in this patient acted as the primary port de entry that breached the anatomical barrier of the corneal epithelium. Molecularly, bacterial invasion triggers the release of bacterial proteolytic enzymes and the activation of host Matrix Metalloproteinases (MMPs), leading to a stromal melting cascade. The acute onset and well-defined purulent lesion characteristics clinically ruled out the differential diagnosis of fungal keratitis and other non-bacterial etiologies. The patient received aggressive empirical therapy consisting of a combination of broad-spectrum topical antibiotics, Levofloxacin (third-generation fluoroquinolone) and Gentamicin, to achieve adequate dual coverage, alongside systemic Ciprofloxacin and supportive artificial tears. Corticosteroid use was avoided in the acute phase to prevent the complication of corneal perforation. Early diagnosis and initiation of combined broad-spectrum antibiotic therapy are crucial to halt the infection's progress. Although bacterial sterilization was successfully achieved with a bonam prognosis for quo ad vitam and sanam, the visual prognosis (quo ad functionam) remains ad malam because stromal resolution on the visual axis will inevitably be replaced by permanent fibrotic tissue.
Hubungan Penggunaan KB Suntik 3 Bulan Terhadap Siklus Haid Akseptor KB di PMB Kristianti Karangploso Kabupaten Malang: The Relationship Between the Use of the 3-Month Injectable Contraceptive and the Menstrual Cycles of Contraceptive Users at the Kristianti Family Planning Clinic in Karangploso, Malang Regency Amera Sahda Rahima Anandya; Widia Shofa Ilmiah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11668

Abstract

Kontrasepsi suntik termasuk salah satu metode keluarga berencana yang paling umum digunakan, yang dikenal karena efektivitasnya yang tinggi dan kemudahan penggunaannya. Meskipun demikian, pengguna sering mengalami gangguan menstruasi sebagai efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara lamanya penggunaan kontrasepsi suntik tiga bulan dan terjadinya gangguan menstruasi di kalangan peserta keluarga berencana di PMB Kristianti, yang berlokasi di Karangploso, Kabupaten Malang. Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan, melibatkan 50 responden yang dipilih melalui metode sampling total. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia antara 20 dan 35 tahun (58%), telah menggunakan kontrasepsi suntik tiga bulan selama 12 hingga 36 bulan (60%), dan melaporkan mengalami gangguan menstruasi (94%). Analisis statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara lamanya penggunaan kontrasepsi suntik tiga bulan dan kejadian gangguan menstruasi (p = 0,456). Disimpulkan bahwa gangguan menstruasi mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain lamanya penggunaan kontrasepsi. ABSTRACT Injectable contraception is among the most commonly utilized family planning methods, recognized for its high effectiveness and ease of use. Nevertheless, users frequently encounter menstrual disorders as side effects. This study sought to explore the correlation between the length of use of three-month injectable contraception and the occurrence of menstrual disorders among family planning participants at PMB Kristianti, located in Karangploso, Malang Regency. A quantitative analytic study employing a cross-sectional design was carried out, involving 50 respondents who were selected through a total sampling method. The data were analyzed using the Pearson Chi-Square test. The findings indicated that the majority of respondents were aged between 20 and 35 years (58%), had utilized three-month injectable contraception for a duration of 12 to 36 months (60%), and reported experiencing menstrual disorders (94%). The statistical analysis indicated no significant relationship between the duration of three-month injectable contraceptive use and the incidence of menstrual disorders (p = 0.456). It is suggested that menstrual disorders may be influenced by factors other than the duration of contraceptive use.
Analisis Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Ketidakpastian pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah: Studi Literatur Sistematis: Decision-Making Analysis Under Uncertainty in Micro, Small, and Medium Enterprises: A Systematic Literature Review Maria Artyalita Lay; Magdalena Leni Kolin
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11669

Abstract

Pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian menjadi tantangan kritis bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah pascapandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR) dengan menganalisis 42 artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2025 dari basis data Google Scholar, Scopus, dan SINTA. Tujuan penelitian adalah memetakan pola pengambilan keputusan UMKM dalam kondisi tidak pasti, mengidentifikasi faktor-faktor penentu, dan mengevaluasi strategi adaptif yang terdokumentasi dalam literatur. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pelaku UMKM secara dominan menerapkan pendekatan heuristik dan pengambilan keputusan berbasis pengalaman (experiential decision-making) sebagai mekanisme utama dalam menavigasi ketidakpastian bisnis. Keterbatasan akses informasi pasar, kapasitas sumber daya manusia, dan volatilitas ekonomi makro teridentifikasi sebagai faktor penghambat paling signifikan. Jaringan sosial dan modal sosial terbukti memainkan peran mediasi yang krusial dalam proses pengambilan keputusan UMKM di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan ekosistem informasi digital dan literasi manajerial merupakan intervensi strategis yang paling mendesak untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan UMKM dalam menghadapi ketidakpastian yang semakin kompleks. ABSTRACT Decision-making under uncertainty presents a critical challenge for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) amid continuously evolving post-COVID-19 economic dynamics. This study employs a Systematic Literature Review (SLR) method, analyzing 42 scientific articles published between 2021 and 2025 from Google Scholar, Scopus, and SINTA databases. The research aims to map MSME decision-making patterns under uncertainty, identify determinant factors, and evaluate adaptive strategies documented in the literature. Synthesis results indicate that MSME actors predominantly employ heuristic approaches and experiential decision-making as primary mechanisms for navigating business uncertainty. Limited market information access, human resource capacity constraints, and macroeconomic volatility are identified as the most significant inhibiting factors. Social networks and social capital are demonstrated to play a crucial mediating role in MSME decision-making processes in Indonesia. This study concludes that strengthening digital information ecosystems and managerial literacy represent the most urgent strategic interventions for improving MSME decision-making quality in confronting increasingly complex uncertainty.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan Tuberculosis Paru: Human Immunodeficiency Virus (HIV) with Pulmonary Tuberculosis Novia Suci Ramadhanti; Sibli; Deva Bachtiar
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11671

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel CD4 (T helper) sehingga menyebabkan penurunan fungsi imun dan meningkatkan risiko infeksi oportunistik. Seorang laki-laki berusia 31 tahun dengan HIV dan tuberkulosis paru datang dengan keluhan batuk sejak ±1 bulan yang memberat, disertai dahak bercampur darah, demam hilang timbul, keringat malam, penurunan berat badan, serta sesak napas ringan. Pasien memiliki riwayat TB paru dan sedang menjalani Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama ±5 bulan namun belum membaik, serta riwayat HIV sejak ±2 tahun dengan ketidakpatuhan terapi Antiretroviral (ARV). Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi sakit sedang dengan ronki pada kedua lapang paru, hasil HIV reaktif, dan radiologi mendukung TB paru. Tatalaksana meliputi OAT fase lanjutan (rifampisin 600 mg/hari dan isoniazid 300 mg/hari), pemberian ARV (tenofovir 300 mg, lamivudine 300 mg, efavirenz 600 mg sekali sehari), kotrimoksazol 960 mg/hari, serta terapi suportif dan edukasi kepatuhan pengobatan. Koinfeksi HIV dan tuberkulosis memiliki hubungan yang saling memperburuk, di mana HIV mempercepat progresivitas TB sedangkan TB meningkatkan replikasi virus HIV. Pada kasus ini, ketidakpatuhan terapi ARV menyebabkan imunosupresi sehingga TB paru sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko kegagalan terapi serta resistensi obat. Oleh karena itu, penatalaksanaan yang optimal melalui terapi OAT dan ARV yang teratur disertai kepatuhan dan pemantauan yang baik sangat penting untuk memperbaiki prognosis pasien. ABSTRACT Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, particularly CD4 (T helper) cells, leading to a decline in immune function and an increased risk of opportunistic infections. A 31-year-old man with HIV and pulmonary tuberculosis presented with a cough that had persisted for approximately one month and progressively worsened, accompanied by blood-streaked sputum, intermittent fever, night sweats, weight loss, and mild dyspnoea. The patient had a history of pulmonary TB and had been undergoing Anti-Tuberculosis Treatment (ATT) for around five months without improvement, as well as a history of HIV for about two years with poor adherence to Antiretroviral (ARV) therapy. Physical examination revealed a moderately ill patient with rhonchi in both lung fields, a reactive HIV result, and radiology supporting pulmonary TB. Management included the continuation phase of ATT (rifampicin 600 mg/day and isoniazid 300 mg/day), ARV therapy (tenofovir 300 mg, lamivudine 300 mg, and efavirenz 600 mg once daily), cotrimoxazole 960 mg/day, as well as supportive therapy and education on treatment adherence. The coinfection of HIV and tuberculosis has a mutually aggravating relationship, in which HIV accelerates the progression of TB while TB increases HIV viral replication. In this case, non-adherence to ARV therapy caused immunosuppression so that pulmonary TB became difficult to control and increased the risk of treatment failure and drug resistance. Therefore, optimal management through regular ATT and ARV therapy accompanied by good adherence and monitoring is essential to improve the patient’s prognosis.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 7: Juli 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 6: Juni 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 5: Mei 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 4: April 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 3: Maret 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 2: Februari 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 9 No. 1: Januari 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Januari 2026 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Februari 2026 (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juni 2026 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) April 2026 (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Mei 2026 Vol. 8 No. 12: Desember 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 11: November 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 10: Oktober 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 9: September 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 8: Agustus 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 7: Juli 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 6: Juni 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 5: Mei 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 4: April 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 3: Maret 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 2: Februari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 8 No. 1: Januari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Oktober 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Mei 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - September 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juli 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - November 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juni 2025 (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Desember 2025 Vol. 7 No. 12: Desember 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 11: November 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 10: Oktober 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 9: September 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 8: Agustus 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 7: July 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 6: Juni 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 5: MEI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 4: APRIL 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 3: MARET 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 2: FEBRUARI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 7 No. 1: JANUARI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 12: DESEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 11: NOVEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 10: OKTOBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 12: DESEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 11: NOVEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 9: SEPTEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 8: AGUSTUS 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 7: JULI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 6: JUNI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 5: MEI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 4: APRIL 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 3: MARET 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 2: FEBRUARI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 6 No. 1: JANUARI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 9: SEPTEMBER 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 8: AGUSTUS 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 7: JULI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 6: JUNI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 5: MEI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 4: APRIL 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 3: MARET 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 2: FEBRUARI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 1: JANUARI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 10: OKTOBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 12: DESEMBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 11: NOVEMBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 10: OKTOBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 5 No. 8: AGUSTUS 2022 Vol. 4 No. 9: SEPTEMBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 8: AGUSTUS 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 7: JULI 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 6: JUNI 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 5: MEI 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 4: APRIL 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 3: MARET 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 2: FEBRUARI 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 1: JANUARI 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 9: DESEMBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 8: NOVEMBER 2022 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 4 No. 9: SEPTEMBER 2021 Vol. 3 No. 7: OKTOBER 2021 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 6: SEPTEMBER 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 5: AGUSTUS 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 4: JULI 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 3: JUNI 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 2: MEI 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 3 No. 1: APRIL 2020 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 2 No. 1: Oktober 2019 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) Vol. 1 No. 1: Oktober 2018 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) More Issue