cover
Contact Name
Muhammad Hanif
Contact Email
muhammadhanif@upi.edu
Phone
+6282136710440
Journal Mail Official
semnaspendas@upi.edu
Editorial Address
Ruang Jurnal Lantai 1, Gedung Administrasi Kampus UPI di Serang Jl. Ciracas No. 38 A, Serang, Banten 41126
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Didaktis: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Seminar Nasional Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang merupakan seminar rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang. Seminar ini merupakan wadah transfer pengetahuan dan pengalaman pada bidang ilmu pendidikan dasar sesuai perkembangan jaman. Luaran dari seminar ini adalah artikel yang telah dipresentasikan & dipublikasikan dalam Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar secara online ber-ISBN.
Articles 256 Documents
Transformasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sebagai Upaya Pengembangan Karakter dalam Menyongsong Generasi Emas Indonesia Nurdinah Hanifah
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.138 KB)

Abstract

Generasi 2045 disebut “berkarakter generasi emas” Karakter Generasi Emas 2045 akan sangat efektif membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat, yang pada masanya diprediksi akan mendapatkan tantangan degradasi nilai-nilai, demoralisasi dan dehumanisasi di era globalisasi informasi ini nampaknya memang sulit dibendung. Pada kondisi ini perlu mengupayakan menciptakan anak-anak yang memiliki sikap moral atau etik atau pemahaman terhadap konteks lokal maupun global dan konteks pertanggungjawaban mereka pada. Pendidikan memegang peranan penting dalam menghadapi perubahan ini. Mengingat sistem pendidikan cenderung akan selalu ketinggalan oleh perkembangan masyarakat. Masyarakat bersifat dinamis, sedangkan dilain pihak pendidikan cenderung bersifat konservatif, terutama di masyarakat yang sedang perkembangan. Dalam pendidikan karakter yang mentransformasikan kearifan lokal, disini posisi nilai-nilai kearifan lokal merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan anak. Sebagai sebuah kriteria yang menentukan kearifan lokal bisa menjadi sebuah pijakan untuk pengembangan sebuah pembelajaran yang lebih berkarakter. Kearifan lokal sebagai suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan. Kearifan lokal dapat menjadi identitas diri dan juga sebagai filter.
Pendekatan Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Membina Karakter Mahasiswa sebagai Upaya untuk Menangkal Tantangan Global Darmawan
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.624 KB)

Abstract

Berbicara pembentukan kepribadian tidak lepas dengan bagaimana kita membentuk karakter SDM. Pembentukan karakter SDM menjadi vital dan tidak ada pilihan lagi untuk mewujudkan Indonesia baru, yaitu Indonesia yang dapat menghadapi tantangan regional dan global. Tantangan regional dan global yang dimaksud adalah bagaimana generasi muda kita tidak sekedar memiliki kemampuan kognitif saja, tapi aspek afektif dan moralitas juga tersentuh. Untuk itu, Pendidikan Kewarganegaraan yang berbasis karakter diperlukan untuk mencapai manusia yang memiliki integritas nilai-nilai moral sehingga anak menjadi hormat dengan sesama, jujur dan peduli dengan lingkungan. Pendidikan multikultural dapat berlangsung dalam setting pendidikan formal atau informal, langsung atau tidak langsung. Pendidikan multikultural diarahkan untuk mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman, dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan kultural, dan juga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan pandangan dunia, konsep, nilai, keyakinan, dan sikap (Lawrence J. Saha, 1997: 348). Pendidikan multikultural adalah konsep atau ide sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set of believe) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis dalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi dan kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompokmaupun negara (James A. Bank, 2001: 28). Tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan aspek sikap (attitudinal goals) adalah untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan kultural, toleransi kultural, penghargaan terhadap identitas kultural, sikap responsive terhadap budaya, keterampilan untuk menghindari dan meresolusi konflik. Kedua, tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan aspek pengetahuan (cognitive goals) adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang bahasa dan budaya orang lain, dan kemampuan untuk menganalisis dan menerjemahkan perilaku kultural, dan pengetahuan tentang kesadaran perspektif kultural. Terakhir, tujuan pendidikan multikultural yang berkaitan dengan pembelajaran (instructional goals) adalah untuk memperbaiki distorsi, stereotip, dan kesalahpahaman tentang kelompok etnik dalam buku teks dan media pembelajaran; memberikan berbagai strategi untuk mengarahkan perbedaan di depan orang, memberikan alat konseptual untuk komunikasi antar budaya; mengembangkan keterampilan interpersonal; memberikan teknik-teknik evaluasi; membantu klarifikasi nilai; dan menjelaskan dinamika kultural. Maka pada tulisan ini kita akan membahas bagaimana mengembangkan pendekatan multikultural tersebut melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaaan dengan cara menanamkan kesadaran kewarganegaraan ( Civic Virtue) dalam hal ini dapat dikaitkan dengan multikulturalisme budaya di Indonesia guna membangun karakter bangsa.
Konsep Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang Berorientasi pada Pendidikan Nilai Firman Robiansyah
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.664 KB)

Abstract

Artikel ini berisi mengenai reorientasi hakikat pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah satu rumpun pendidikan nilai. PAI sebagai suatu usaha yang ditujukkan kepada anak didik yang sedang tumbuh agar mereka mampu menimbulkan sikap dan budi pekerti yang baik serta dapat memelihara perkembangan jasmani dan rohani secara seimbang di masa sekarang dan mendatang sesuai dengan aturan agama Islam, akan dapat tercapai jika proses pembelajarannya sesuai dengan konsep pendidikan nilai
Kemampuan Guru PENJAS SD dalam Memodifikasi Bahan Pembelajaran PENJAS Budhi Tristyanto; Ajo Sutarjo
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.845 KB)

Abstract

Pendidikan jasmani berusaha untuk mengembangkan pribadi secara keseluruhan dengan sarana jasmani yang merupakan fokusnya yang tidak diperoleh dari pengalaman jasmani, tidak terbatas pada perkembangan tubuh atau fisik. Istilah jasmani harus dipandang dalam kerangka yang lebih abstrak, lebih luas sebagai suatu kondisi jiwa dan raga. Pendidikan jasmani berkewajiban untuk meningkatkan aspek jiwa dan raga yang mempengaruhi semua aspek kehidupan sehari-hari seseorang atau pribadi seseorang. Pendidikan jasmani menggunakan pendekatankeseluruhan yang mencakup semua kawasan baik organ motorik, kognitif, maupun afektif. Pendidikan jasmani yang terdiri dari kata pendidikan dan jasmani, masingmasing memiliki pengertian yang berbeda. Pendidikan adalah suatu proses perubahan perilaku seseorang menjadi baik atau lebih baik dalam usaha mendewasakan seseorang melalui pengajaran dan latihan. Sedangkan jasmani adalah suatu kondisi dari jiwa dan raga. Jadi pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan jasmani memiliki dua elemen yang berbeda yaitu bermain dan olahraga, tetapi tidak selalu harus ada salah satu dalam takaran yang berimbang antarakeduanya. Permainan menjadi aktivitas jasmani, terutama merupakan aktivitas kegembiraan. Bermain adalah jenis yang non-kompetitif atau non-pertandingan dari kegembiraan gerak fisik, meskipun bermain tidak harus fisikal. Untuk itu maka sudah selayaknya para guru Penjas terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD) harus bisa lebih jeli dan tepat dalam memberikan materi kepada anak didiknya, terutama kesesuaian materi terhadap perkembangan jiwa dan raganya. Salah satu metode dalam menyampaikan materi pelajaran Penjas yang paling ampuh adalah dengan memodifikasi bahan ajar agar tujuan pendidikannya tercapai.
Analisis Isi Cerita Ralyat Banten “Napak Tilas Syekh Mansyur” sebagai Bahan Ajar Sastra di Sekolah Dasar Risa Wulandari
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.193 KB)

Abstract

Cerita rakyat merupakan sastra tradisional. Peran cerita rakyat dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, yaitu sebagai bahan ajar. Buku Tradisi Lisan Cerita Rakyat Banten memuat cerita rakyat Banten, salah satunya Napak Tilas Syekh Mansyur. Banyaknya cerita yang dimuat dalam Napak Tilas Syekh Mansyur menjadi salah satu sebab analisis isi cerita ini dilakukan. Metode content analysis (analisis isi) digunakan untuk menemukan dan mengkaji isi cerita Napak Tilas Syekh Mansyur. Sosok Syekh Mansyur yang menjadi tokoh utama, terutama dalam sub judul cerita Nasihat Sang Ayah dan Kebaikan Syekh Mansyur memiliki kriteria yang pas untuk dimanfaatkan sebagai bahan ajar sastra di SD.
Pembelajaran Seni Tari dengan Quantum Teaching melalui Kerangka Belajar Tandur di Sekolah Dasar Dewi Karyati; Yani Oktavia
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.928 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah kurangnya pemahaman siswa pada pembelajaran Seni Tari di sekolah dasar. Kurang inovatifya model pembelajaran yang digunakan menyebabkan siswa menjadi tidak aktif, tidak paham, dan tidak menguasai materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rancangan pembelajaran Tandur yang diimpelentasikan, proses pembelajaran Tandur yang diimpelentasikan, hasil belajar setelah mengimplementasikan kerangka belajar Tandur. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 28 siswa, dengan lokasi di SD RA Kartini Subang. Metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan tes. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan kerangka belajar Tandur dengan hasil belajar yang maksimal. Sebnayak 70% siswa meraih nilai baik, baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Pembelajaran IPS berbasis HOTS Susilawati
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 1 (2016): DIDAKTIS 1: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2016
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.934 KB)

Abstract

Proses pembelajaran IPS di kelas V SDN Palanyar diperoleh gambaran bahwa proses pembelajaran IPS belum optimal, karena kenyataan di lapangan pembelajaran IPS di SDN Palanyar masih bersifat monoton, dimana siswa lebih banyak menerima pengetahuan atau materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Seolah-olah siswa diharuskan menghapal begitu banyak informasi, dengan demikian siswa bersifat pembelajar pasif tidak dibiasakan berpikir kritis/ Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTs) dalam menghadapi pelajaran di kelas. Hal tersebut tidak terlepas dari metode mengajar yang diterapkan yang di kelas dengan metode ceramah , padahal berdasarkan kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) tujuan Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat,memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat (Depdiknas: 2007). Berdasarkan latar belakang belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah 1. Mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam Pembelajaran IPS berbasis HOTs dengan menggunakan model Pembelajaran berbasis masalah di SDN Palanyar?. 2. Mendeskripsikan hasil belajar IPS berbasis HOTs dengan menggunakan model Pembelajaran berbasis masalah di SDN Palanyar?.Proses penerapan model dalam pembelajaran ini berfokus kepada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), model Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat komponen, yaitu (1). Perencanaan (planning), (2). Tindakan (action) (3). Observasi (observation), dan (4). Refleksi (reflection). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pembelajaran berbesis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, sehingga proses dan hasil belajar siswa akan lebih baik. Hal ini dibuktikan dari data yang didapat, menunjukan peningkatan yang signifikan pada setiap siklusnya. Dari mulai siklus I hanya 39,5 % siswa yang mampu berpikir kritis meningkat menjadi 61% di siklus II dan di siklus V meningkat lagi menjadi 80,5 % siswa yang mampu berpikir kritis dari sejumlah 30 siswa dan hasil belajar siswa juga meningkat sebesar 5,1 pada pra siklus, setelah diberi tindakan pada siklus pertama diperoleh nilai 6,3; pada siklus kedua meningkat sebesar 7,1 ; dan pada siklus tindakan ketiga meningkat lagi sebesar 8,4.Pada akhir peneliti ini merekomendasikan bahwa untuk merangsang timbulnya masalah-masalah dari siswa, guru harus memikirkan suatu kegiatan eksplorasi yang akan dilakukan oleh siswa, agar siswa mempunyai gagasan untuk mengemukakan pendapat dan mengajukan pertanyaan terhadap materi yang diajarkan, menumbuhkan keberanian seluruh siswa dalam menggunggkapkan masalah, guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang bertanya.
Redefinisi Kesopanan pada Anak-Anak Usia Sekolah Dasar di Kota Serang dan Pandeglang Deni Wardana; Ajo Sutarjo; Ani Novia; Mia Utami Hasan; Siti Novianti Triana P.
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2018): DIDAKTIS 3: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2018
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.497 KB)

Abstract

Posisi Negara Indonesia yang terletak di bagian timur dunia menjadikan budaya dan corak ketimuran menjadi identitas masyarakat Indonesia. Selain tutur kata yang lemah lembut, dan sopan santun dalam bergaul ataupun berpakaian, bangsa timur juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai atau norma-norma yang tumbuh di lingkungan masyarakat, seperti halnya nilai kesopanan. Menurut Erislan (2005) kesopanan adalah suatu norma hidup yang timbul dari sebuah hasil pergaulan sekelompok manusia di dalam masyarakat dan dianggap sebagai pedoman pergaulan sehari-hari masyarakat. Tindak kesopanan dibagi menjadi tindakan verbal (tutur kata) dan nonverbal (tingkah laku). Setiap kelompok masyarakat akan memiliki pedoman hidup yang berbeda-beda, seperti di Kota Serang dan Pandeglang. Kota Serang yang notabene masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa Serang dan Pandeglang yang menggunakan bahasa Sunda memberikan corak pergaulan yang berbeda-beda. Definisi kesopanan dari setiap masyarakatnya pun cenderung berbeda. Hal ini terlihat dari pola tingkah laku yang tergambar pada siswa Sekolah Dasar (SD) masing- masing. Siswa SD yang memiliki kecenderungan meniru setiap hal baru akan sulit menentukan hasil pergaulan yang bernilai positif ataupun yang bernilai negatif. Pola tingkah laku ini lah yang menjadi dilematik masyarakat dalam mendefinisikan kesopanan. Masyarakat Kota Serang dan Pandenglang berasumsi bahwa definisi kesopanan akan terlihat dari tindakan atau sikap positif yang dilakukan tanpa memunculkan tindakan-tindakan yang tidak lazim. Bentuk tingkah laku yang baik dan halus serta diiringi sikap menghormati orang lain menurut kebiasaan yang baik ketika berinteraksi dan bergaul yang ditunjukan kepada setiap elemen masyarakat sesuai dengan norma dan tata krama yang berlaku
Media Finger Doll Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Dongeng Dety Nurbaeti; Muhammad Ihsan; Mutiara Adha; Saepul
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2018): DIDAKTIS 3: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2018
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.119 KB)

Abstract

Finger doll merupakan suatu media yang digunakan sebagai alat bantu dongeng pada anak-anak. Media pembelajaran pada dasarnya digunakan oleh guru untuk mendukung kelancaran pembelajaran seperti ketepatan isi materi yang disampaikan, menjaga konsentrasi siswa, dan membuat situasi kondusif dalam kelas. Penggunaan media finger doll sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap dongeng merupakan suatu bentuk inovasi karena berani memadukan media baru kedalam dongeng untuk kegiatan pembelajaran. Ada berbagai kelebihan dari penggunaan media ini seperti memuat banyak tokoh dalam satu waktu, menarik perhatian dengan bentuk boneka yang unik, dan lain sebagainya. Penelitian dilakukan selama 3 siklus dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penelitian tindakan.
Antisipasi Perilaku Menyimpang dalam Pergaulan Sehari-Hari melalui Kegiatan Sosialisasi Bahaya Minuman Keras dan Rokok pada Siswa Sekolah Dasar dan Masyarakat di Cilayang Guha Euis Solihati; Febby Tiara; Nining Sulastri; Nursalim
Proseding Didaktis: Seminar Nasional Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2018): DIDAKTIS 3: Proseding Seminar Nasional Pendidikan Dasar 2018
Publisher : Program Studi PGSD Kampus UPI di Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.801 KB)

Abstract

Minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol yang bila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dapat merugikan dan membahayakan baik jasmani dan rohani yang akan mempengaruhi perilaku dan cara berpikir. Selain minuman keras, penyebab terjadinyaperilaku menyimpang pada anak yaitu merokok. Akibat lebih lanjut jika mengkonsumsi minuman kerasa maupun merokok akan mempengaruhi kehidupan sosial baik dengan keluarga maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Sasaran dalam kegiatan sosialisasi ini yaitu siswa- siswa dan orang tua murid SDN Cilayang Guha Kecamatan Cikeusal, Serang. Metode yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi ini merupakan sebuah rangkaian tahapan yang disusun secara sistematis, Mulai dari observasi tempat pelaksanaan kegiatan, permohonan izin dengan mitra, persiapan surat menyurat, alat dan bahan yang diperlukan sampai pada kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan. Pengumpulan data dari kegiatan sosialisasi ini yaitu dengan melihat respon peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, yang mana terdiri dari 33 siswa dan 15 orang tua murid. Hasil dari kegiatan sosialisasi ini diketahui bahwa peserta sangat antusias, para siswa sangat senang karena mereka kedatangan polisi sebagai narasumber, selain itu juga para peserta sangat aktif dalam mengikuti kegiatan tersebut yang mana dapat dilihat dari beberapa pertanyaan yang diajukan baik itu dari para siswa maupun dari para wali murid yang merasa sangat resah dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan, meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi, akan tetapi respon peserta yang mengikuti kegiatan ini sangat baik

Page 5 of 26 | Total Record : 256