cover
Contact Name
Santa Maria Pangaribuan
Contact Email
santamaria@akperrscikini.ac.id
Phone
+6221-3153440
Journal Mail Official
jurnal@akperrscikini.ac.id
Editorial Address
Jl. Raden Saleh No.40, Kel. Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat 11130 - INDONESIA
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Cikini
ISSN : 26861976     EISSN : 26861984     DOI : 10.55644/jkc
Core Subject : Health,
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI is a peer-reviewed journal providing an open access facility for scientific articles of academics, researchers and nurse practitioners, JURNAL KEPERAWATAN CIKINI is published two times a year, specifically in January, and July. JURNAL KEPERAWATAN CIKINI invites authors to submit manuscripts in the various topics of medical and surgical nursing, basic and emergency nursing, nursing education and management, child and maternity nursing, community nursing, and health. Jurnal Keperawatan Cikini cover all nursing area including basic research in nursing, management nursing, emergency and critical nursing, medical surgical nursing, mental health nursing, maternity nursing, pediatric nursing, gerontological nursing, community nursing, family nursing education nursing, complementary and alternative medicine (CAM) in nursing
Articles 65 Documents
Gambaran Efikasi Diri Mahasiswa Keperawatan Di Indonesia Elfa Yusriani Harefa; Esra Simamora; Grace Trimay; Juniarta Juniarta; Ester Silitonga
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i1.98

Abstract

Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mahasiswa keperawatan perlu yakin bahwa mereka dapat mengatasi hambatan yang mungkin datang selama perkuliahan, sehingga mahasiswa dapat berhasil dalam program perkuliahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa keperawatan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitaf dengan menggunakan survei daring. Data dikumpulkan menggunakan teknik convenience sampling, memperoleh 751 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner General Self Efficacy Scale (GSES) versi Indonesia yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach a= 0,761). Data dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebanyak 421 (56,1%) mahasiswa keperawatan memiliki efikasi diri yang tinggi dan sebanyak 330 (43,9%) mahasiswa keperawatan memiliki efikasi diri yang rendah. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya yaitu dapat menggunakan metode pengambilan sampel yang lebih tepat untuk mendapatkan distribusi responden yang merata dari setiap bagian di Indonesia dan dapat meninjau faktor-faktor tertentu yang mungkin berkontribusi terhadap efikasi diri mahasiswa.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perawat Dalam Pendokumentasian Keperawatan di RSU Daerah Porsea Melva Epy Mardiana Manurung; Connie Melva Sianipar; Veronica Silalahi
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i1.101

Abstract

Latar belakang: Pelaksanaan dokumentasi keperawatan yang baik dan efisien dapat dijadikan  alat komunikasi antara profesi kesehatan, memudahkan alur dan koordinasi dalam perawatan pasien untuk mengevaluasi asuhan keperawatan yang di berikan kepada klien. Dalam mewujudkan catatan dokumentasi asuhan keperawatan bermutu diperlukan komponen yang harus dilaksanakan oleh perawat yaitu pengetahuan, sikap peduli, hubungan perawat-klien, tindakan/kemampuan perawat memenuhi kebutuhan klien dan kolaborasi/kemitraan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam pendokumentasian di RSUD Porsea dengan metode korelasional. Metode: Design penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif metode korelasional yang dilaksanakan pada Bulan November tahun 2022 pada 38 orang dengan tehnik pengambilan sampling yaitu total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner, lembar check list yaitu kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat tentang pendokumentasian terdiri dari 25 item pernyataan dan kuesioner pendokumentasian asuhan keperawatan perawat terdiri dari 15 item pernyataan. Hasil penelitian: menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor sarana dan prasarana dan faktor pelatihan dengan pendokumentasian perawat di RSUD Porsea dengan (p=0.023), akan tetapi tidak ada hubungan antara faktor pengetahuan dengan pendokumentasian perawat di RSUD Porsea (p=0.767). Demi peningkatan kualitas diharapkan pihak manajemen rumah sakit terutama bidang keperawatan dapat memfasilitasi peningkatan pendokumentasian perawat dengan cara mengupdate sistem pendokumentasian, menyediakan sarana dan sarana misalnya komputerisasi dalam proses dokumentasi.
Perbedaan Tekanan Darah Intradialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Kezia Defibriola Omega; Kezia Prilla Anindita Putri; Yeremia Septa Marcory; Juhdeliena Juhdeliena; Swingly Wikliv
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i1.107

Abstract

Hemodialisis adalah terapi pengganti ginjal yang menjadi pilihan utama pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) tahap akhir. Pasien yang menjalani hemodialisis dapat mengalami komplikasi intradialisis berupa hipertensi intradialissi atau hipotensi intradialisis. Sebanyak 5-15% pasien mengalami peningkatan tekanan intradialisis (HID) dan sekitar 20-30% mengalami hipotensi intradialisis (IH). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan tekanan darah intradialisis pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Metode penelitian deskriptif kuantitatif retrospektif kepada dokumen rekam medik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian sebanyak 51 rekam medis pasien hemodialisis dengan teknik total sampling. Analisis univariat dan bivariat mengguakan uji Wilcoxon. Hasil tekanan darah sistolik ditemukan adanya perbedaan signifikan sistolic blood pressure (SBP) terutama pada jam ke-2 dan jam ke-1 (pvalue = .032), Jam ke-3 dan jam ke-2 (pvalue = < .001), dan pada jam ke-5 dan jam ke-4 (pvalue = .012). Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada tekanan darah diastolik.
Pengaruh Madu terhadap Penyembuhan Diabetic Foot Ulcers (Studi Literatur) Endah Yuliany Rahmawati Endah; Yefta Primasari; Rycco Darmareja
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.110

Abstract

Diabetic foot ulcers merupakan infeksi yang paling sering terjadi dan sering dijumpai bersamaan dengan hiperglikemia. Sekitar 15% penderita diabetes mellitus harus diamputasi karena infeksi diabetic foot ulcers oleh karena itu diperlukan perawatan pada diabetic foot ulcers guna mencegah terjadinya penyebaran infeksi. Salah satu upaya dalam perawatan diabetic foot ulcers guna mencegah penyebaran infeksi yaitu menggunakan madu. Kajian ini bertujuan mengeksplorasi literatur, penelitian dan praktik terkini dalam mengelola diabetic foot ulcers dengan fokus khusus penggunaan madu dalam merawat luka dengan metode telaah literatur. Database yang digunakan adalah Google Scholar, PubMed, ProQuest, ERIC, Gale Cengage, EBSCOhost menggunakan kata kunci “honey” dan “diabetic foot ulcers” untuk bahasa Inggris serta “madu” dan “luka kaki diabetik” untuk bahasa Indonesia. Dalam pencarian didapatkan 9 artikel yang memenuhi kriteria. Dari seluruh telaah literatur, bahwa madu efektif digunakan dalam penyembuhan diabetic foot ulcers melalui berbagai mekanisme yang terkandung dalam madu yaitu hidrogen peroksida, flavonoid, enzim katalase, enzim glukosa oksidase, asam glukonat, konsentrasi gula hipertonik, MRJP dan kandungan pH yang berkisar dari 3,5-4,5. Kesimpulannya adalah madu mempunyai sifat antibakteri dan merangsang pertumbuhan jaringan baru dengan waktu pemberian intervensi bervariasi dalam penyembuhan diabetic foot ulcers. Dari seluruh literatur yang ditelaah, tidak ditemukan penelitian terhadap diabetic foot ulcers grade 3 dan grade 4, serta tidak ada penjelasan mengapa penelitian tersebut hanya pada grade 1 dan grade 2 saja. Dengan demikian dirasakan perlu lakukan penelitian lanjutan terhadap diabetic foot ulcers grade 3 dan grade 4 untuk melihat apakah ada penurunan grading pada luka serta membutuhkan waktu berapa lama dalam menurunkan grading tersebut Kata Kunci : Pengaruh, Effect, Madu, Luka Kaki Diabetik, Diabetic foot ulcers, honey
Pengaruh Status Gizi Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Balita Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Depok Vierto Irennius Girsang; Yovsyah Yovsyah
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.113

Abstract

Tuberkulosis pada balita merupakan bayangan dari tuberkulosis pada orang dewasa hal ini termasuk masalah kesehatan yang sangat berarti bagi balita. Prevalensi TB pada balita masih cukup tinggi demikian pula status gizi kurang dan buruk masih cukup tinggi. Status gizi memiliki peran yang penting dalam hal etiologi dan komplikasi tuberkulosis balita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh status gizi terhadap kejadian TB paru pada balita di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Depok. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Kasus dalam penelitian ini adalah balita yang menderita TB paru sesuai yang tercatat pada register TB-03 dan TB-01 PKM. Kontrol adalah balita yang tidak menderita TB atau tidak mengalami gejala TB serta tidak pernah menderita TB paru yang merupakan tetangga balita penderita TB yang diambil jadi kasus di wilayah kerja Dinkes Depok. Jumlah kasus sebanyak 74 balita dan kontrol 148 balita. Analisa data menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang mengalami status gizi pendek memiliki berisiko 2,92 kali untuk sakit TB paru dan balita yang mengalami status gizi sangat pendek memiliki berisiko 4,22 kali untuk sakit TB paru setelah dikontrol dengan variabel perancu. Balita yang mengalami status gizi sangat pendek lebih berisiko untuk sakit TB paru dibandingkan dengan balita yang berstatus gizi pendek. Disarankan untuk Dinas kesehatan dan Puskesmas untuk lebih memperbaiki pencatatan TB dan peningkatan pendidikan kesehatan tentang pencegahan TB dan peningkatan gizi pada balita
Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Dalam Pencegahan Keputihan Setelah Diberikan Edukasi Mohamad Miftachul Ulum; Adheniya Syafirasari; Andi Andi Hayyun Abiddin
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.114

Abstract

Keputihan pada remaja disebabkan kurangnya pengetahuan remaja terhadap perilaku tentang pencegahan keputihan dengan menjaga kebersihan pada organ reproduksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri dalam pencegahan keputihan setelah diberikan edukasi di Dusun Tamanan, Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Desain penelitian yang digunakan adalah Pra Eksperimental one group before after atau post-test group design dengan populasi remaja putri 11-20 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik sampling purposive sampling dengan besar sampel 15 remaja putri. Data diambil menggunakan kuisioner pengetahuan dan sikap dalam pencegahan keputihan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial. Hasil penelitian pengetahuan pre-test 53% responden berpengetahuan kurang tentang pencegahan keputihan, setelah diberikan edukasi menggunakan leaflet dan penjelasan melalui media zoom meeting nilai post-test 100% responden memiliki pengetahuan baik tentang pencegahan keputihan. Sedangkan hasil penelitian sikap menunjukkan nilai pre-test 60% responden bersikap positif, setelah diberikan edukasi menggunakan leaflet dan penjelasan melalui media zoom meeting nilai post-test 80% responden menunjukkan sikap positif dalam pencegahan keputihan. Disimpulkan bahwa edukasi menggunakan leaflet dan penjelasan melalui media zoom meeting sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pada remaja putri di Dusun Tamanan Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri
Gambaran Karakteristik Gejala Long Covid yang dialami oleh Mahasiswa Keperawatan di Satu Universitas Indonesia Bagian Barat Hosanna Lumban Gaol; Iman Herlina Harefa; Jesica Aprilia Manullang; Eva Gultom; Theresia
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.115

Abstract

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV-2) menjadi penyebab terjadinya COVID-19 yang mengakibatkan penurunan fungsi tubuh manusia. Setelah dinyatakan sembuh atau negatif dari COVID-19 gejala yang berkepanjangan disebut dengan Long-Covid. Long-Covid didapati setelah dinyatakan sembuh sampai rentang waktu enam bulan. Gejala Long-Covid yang timbul memiliki beberapa variasi mulai dari gejala fisik, psikologis, dan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran karakteristik dari gejala Long-Covid yang dialami oleh mahasiswa keperawatan di satu Universitas Indonesia bagian Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik analisa data univariat. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa keperawatan angkatan 2019 di satu Universitas Indonesia bagian Barat yang telah terkonfirmasi positif COVID-19 pada Januari-September 2021 dan telah dinyatakan sembuh dengan jumlah 62 orang mahasiswa. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa keperawatan di satu Universitas Indonesia Bagian Barat sebagian besar merasakan gejala Long-Covid yaitu 88,70 % (55 orang) dengan karakteristik sebagian besar gejala fisik mudah Lelah (61,81 %), gejala psikologis trauma (41,81), dan gejala sosial diskriminasi (7,27 %). Gejala lain yang dirasakan adalah flu dan batuk, gangguan penciuman dan perasa, serta kerontokkan rambut. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat mengkaji gambaran karakteristik gejala Long-Covid dengan metode kualitatif atau cohort.
Interprofessional Education (IPE) Sebagai Upaya Mengembangkan Kemampuan Perawat Berkolaborasi Dengan Petugas Kesehatan Lain: Esteriani et al., Interprofessional Education esteriani lahagu; Rika Endah Nurhidayah
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.117

Abstract

Latar Belakang:Layanan kesehatan yang berkualitas adalah tuntutan penyedia pelayanan kesehatan dimasa global. Kesehatan yang berkualitas bisa dicapai melalui kerjasama, menurut World Health Organization, pembelajaran terpadu berbasis kerja sama media merupakan interprofessional education. Pendidikan interprofesional (IPE) melibatkan pengajaran antar mahasiswa dari banyak displin ilmu profesional kesehatan asal latar belakang pendidikan yang tidak sinkron salin berinteraksi dan bekerjasama satu sama lain. Untuk membangun dan memajukan promosi kesehatan, pecegahan, pengobatan dan program rehabilitasi. Interprofessional Education (IPE) diperkenalkan untuk memfasilitasi kolaborasi antara mahasiswa kesehatan sebelum memasuki dunia kerja. Rumah sakit, lembaga akademik, dan komunitas lokal adalah tiga konteks dimana ide pembelajaran interprofessional education dapat digunakan. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interprofessional education sebagai upaya mengembangkan kemampuan perawat untuk bekerja secara kolaboratif dengan petugas kesehatan lainnya. Metode: metode pencarian data yang digunakan dalam tinjauan sistematis ini menggunakan empat database utamaya itu google search, google scholar, Science Direct, dan PubMed dengan pencarian jurnal dari tahun 2019 sampai 2023. Hasil: analisis dari 10 artikel menunjukkan bahwa Interprofessional Education efektif dalam menciptakan tenaga kesehatan yang professional dan mampu meningkatkan kemampuan dalam berkolaboratif. Kesimpulan: Berdasarkan kajian pustaka yang disitasi dapat disimpulkan bahwa interprofessional education merupakan suatu metode untuk memperkuatdan meningkatkan keterampilan serta kompetensi kerjasama antar tenaga kesehatan yang professional, agar mampu bekerja sama dan mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Pengaruh Perawatan Tali Pusat Terbuka Terhadap Risiko Infeksi Pada Bayi Baru Lahir: Studi Kasus Joula Timisela; Jeane. I. L Ratulang; Christy N. M Hitijahubessy; Sri Eny Setyowati; Diana Battu
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.120

Abstract

Latar Belakang: Pemotongan tali pusat menggunakan alat yang tidak steril, dan perawatan tali pusat yang tidak tepat dapat mengakibatkan Tetanus Neonatorum. Perawatan tali pusat terbuka merupakan cara merawat tali pusat tanpa memberikan apapun pada tali pusat bayi. Perawatan tali pusat terbuka bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, serta mempercepat puputya tali pusat. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir melalui prosedur perawatan tali pusat terbuka di ruangan Nifas Rumah Sakit Umum Al-Fatah Ambon. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan. Subjek studi kasus adalah seorang bayi baru lahir normal, usia nol hari, tidak terdapat kelainan tali pusat. Data dianalisis secara naratif untuk menggambarkan setiap tahapan proses keperawatan pada subjek penelitian. Hasil: Perawatan tali pusat terbuka pada bayi X dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan terbukti mencegah infeksi. Perawatan selama lima hari tidak ditemukan tanda-tanda infeksi, dan puput pada hari ke lima. Selain itu, ibu terlibat penuh dalam perawatan tali pusat sejak awal, sehingga dapat melakukan perawatan tali pusat secara mandiri. Kesimpulan: Asuhan keperawatan pada bayi baru lahir melalui prosedur perawatan tali pusat terbuka dapat mencegah terjadinya infeksi tali pusat dan mempercepat puputnya tali pusat
Karakteristik dan Perilaku Stigma Perawat Terhadap Pasien HIV/AIDS Elin Sabrina; Sondang Ratnauli Sianturi
JURNAL KEPERAWATAN CIKINI Vol. 4 No. 02 (2023): Jurnal Keperawatan Cikini
Publisher : JURNAL KEPERAWATAN CIKINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55644/jkc.v4i02.123

Abstract

Latar Belakang Salah satu kendala dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS adalah stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA). Stigma dan diskriminasi tidak saja dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penyakit HIV/AIDS, tetapi dapat juga dilakukan oleh petugas kesehatan seperti dokter dan perawat. Stigma dan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan menjadi salah satu kendala kualitas pemberian pelayanan kesehatan kepada ODHA yang pada akhirnya dapat menurunkan derajat kesehatan ODHA. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan karakteristik perawat dengan perilaku stigma terhadap  pasien HIV/AIDS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif  dengan design cross sectional. Subjek pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang rawat inap yang menangani pasien ODHA di rumah sakit swasta di Jakarta dengan jumlah 61 orang. Data diambil pada bulan Agustus 2021. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini dengan kuesioner SHASS untuk mengukur sikap stigma. Analisis menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 8.2% responden mempunyai stigma tinggi dan 91,8% responden memiliki stigma ringan terhadap pasien HIV/AIDS. taTidak terdapat hubungan antara karakteristik perawat dengan perilaku stigma. Simpulan: Pada study ini perawat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan skill dalam merawat pasien dan tidak memberikan stigma.