cover
Contact Name
Ihda Shofiyatun Nisa'
Contact Email
jurnaljaksya@gmail.com
Phone
+6282137787572
Journal Mail Official
jurnaljaksya@gmail.com
Editorial Address
Jl. Manunggal No. 10-12, Sukolilo Tuban, Jawa Timur
Location
Kab. tuban,
Jawa timur
INDONESIA
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law
ISSN : -     EISSN : 28093402     DOI : https://doi.org/10.51675/jaksya.v2i2
Core Subject : Religion, Science,
JAKSYA : The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law, Merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban. Artikel yang dimuat didalam jurnal Jaksya melingkupi hukum Islam dan hukum perdata Islam.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2025): April" : 8 Documents clear
Kajian Filosofis Pemikiran Hukum Imam Syafi'i Pengaruhnya terhadap Pembentukan Mazhab Fiqh dan Dinamika Hukum Islam Suryantoro, Dwi Dasa
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.942

Abstract

Pemikiran hukum Imam Syafi'i (150 H/767 M - 204 H/820 M) merupakan salah satu kontribusi besar dalam sejarah hukum Islam, terutama dalam pembentukan Mazhab Syafi'i, yang telah menjadi rujukan utama dalam fiqh Islam. Pemikiran beliau dalam bidang ushul fiqh (prinsip-prinsip dasar hukum Islam) dan fiqh (aplikasi praktis dari hukum Islam) menunjukkan kedalaman intelektual dan metodologi yang sistematis dalam memahami teks-teks agama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis aspek filosofis dari pemikiran hukum Imam Syafi'i, serta dampaknya terhadap perkembangan Mazhab Syafi'i dan dinamika hukum Islam secara lebih luas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis Pembahasan ini dilakukan dengan menyoroti metode istinbat (penarikan hukum) dan pemikiran hukum Imam Syafi`i lainnya yang dikembangkan oleh Imam Syafi'i dan bagaimana hal ini berpengaruh terhadap perkembangan fiqh Islam, baik pada masa beliau maupun di era modern. Pemikiran hukum Imam Syafi'i juga memberikan keseimbangan yang penting antara tradisi dan modernitas. Mazhab Syafi'i memiliki pendekatan yang konservatif dalam menjaga keaslian ajaran Islam, tetapi dengan struktur yang sangat sistematik dan logis, prinsip-prinsip fiqh Syafi'i juga memberikan ruang untuk berkembang. Hal ini menjadikan Mazhab Syafi'i tidak hanya relevan dengan tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain pengaruhnya yang besar dalam dunia pendidikan, eksistensi Mazhab Syafi’i juga tercermin dalam praktik ibadah dan tata cara keagamaan yang banyak diikuti oleh umat Islam di Indonesia.
Memilih Setia: Studi Terhadap Keluarga Tanpa Anak di Desa Menggala, Pemenang, Lombok Utara Putri, Suci Ramadhani; Yulinda , Deva; Arqurnain, Weis
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.990

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi pasangan suami istri tanpa anak di Desa Menggala, Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat; tetap setia, respon masyarakat di Desa Menggala terhadap pasangan tersebut, dan menganalisisnya menggunakan teori Tindakan Sosial oleh Max Weber dan teori Stigma oleh Erving Goffman. Dalam kehidupan bermasyarakat, sudah sepatutnya untuk hidup dengan saling menghargai. Terhadap pasangan suami istri yang memilih setia (tidak bercerai atau berpoligami) pada pasangannya, meskipun belum dikaruniai anak, maka patut diapresiasi motivasi yang dimiliki. Sebaliknya, tidak seharusnya kita justru memberikan stigma negatif. Motivasi pasangan suami istri tanpa anak untuk tetap setia di Desa Menggala didukung oleh empat faktor, yaitu; agama, pendidikan, keluarga, dan psikologi. Respon masyarakat terhadap pasangan tersebut, ada yang bersikap biasa saja dan ada juga yang memberikan stigma negatif. Menggunakan Teori Tindakan Sosial oleh Max Weber, maka yang dilakukan pasangan suami istri di Desa Menggala termasuk ke dalam tiga kategori tindakan sosial, yaitu; rasionalitas yang berorientasi nilai (werk rational), tindakan afektif/tindakan yang dipengaruhi emosi (affectual action), dan tindakan tradisional/tindakan karena kebiasaan (traditional action). Dan menggunakan Teori Stigma oleh Erving Goffman, maka respon masyarakat terhadap pasangan tersebut masuk ke dalam stigma jenis abominations of the body atau stigma terhadap fisik.
Perpu ke Undang-undang: Meneliti Implikasinya dalam Pembentukan Regulasi Hukum Falah, M. Fajrul; Supriyadi, Supriyadi; Susianto, Susianto
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1041

Abstract

One of the topics that legal scholars discuss most often is the discussion of Government Regulation in Lieu of Law (Perppu) using the language of compelling urgency. It is important to stress once more that we detect the absence of a clear and present element in the issue of a Perppu in more than one instance. This becomes problematic because our legislation does not provide a precise definition of compelling urgency, which leaves room for the President to interpret it in a variety of ways when issuing a Perppu. Using a statute method and a conceptual approach based on cases that have emerged throughout the establishment of Perppu, normative legal research will be used to evaluate this issue. With an emphasis on the requirements for compelling urgency as the ratio legis (legal rationale) underlying their formation, the study examines the paradigm behind the issue of numerous Perppu across various governmental periods. According to the study's findings, the President's power to issue a Perppu is based on the constitutional criterion of compelling urgency. There are two general requirements for compelling urgency: urgency and the existence of a catastrophe. A disruption that results in an abrupt and serious emergency is considered a crisis (a terrible and sudden disturbance). Additionally, it states that three material elements must be met in order to issue a Perppu: beyond a reasonable doubt, limited time, and reasonable necessity. A number of the President's Perppu show a propensity to read compelling urgency as a pressing matter requiring legislation-level regulation. But the President's subjective perception still plays a significant role in Perppu's creation, especially when it comes to identifying the element of compelling urgency.
Merauke Regency KUA Strategy in Preventing Siri Marriage at an Early Age Naufal, Naufal; Rahman, Hendra Yulia; Al Abza, M. Thohar
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1059

Abstract

Series marriages or marriages that are not registered at the Merauke Regency Religious Affairs Office have become a natural thing in today's society. Siri marriage is not only carried out for prospective couples of productive Age, but current series marriages are also carried out by prospective couples who are young/early (under the age of 19 years). Series or unrecorded marriages have a long-term adverse impact on those who do it. Therefore, cooperation between parties is needed to prevent serial marriages, especially young couples. Therefore, the KUA of Merauke Regency as an institution of the Ministry of Religion in each sub-district must prevent serial marriages from happening in Merauke Regency. So that this study will see what strategies or efforts have been made by the Merauke Regency KUA in preventing serial marriage for this early age couple. This research will be carried out through empirical studies with data collection using interviews, observations, and observations. The results of the study show that the rate of early marriage in Merauke Regency is quite large, from the early marriage there are 24 cases of itsbat nikah because the reason for the previous marriage was carried out by series marriage. With the findings of serial marriage at a young age, of course, the KUA of Merauke Regency has made various efforts and strategies to prevent serial marriage for prospective young couples, including assistance and assistance in the administrative process and optimization of Islamic religious extension workers in providing education, counseling, lectures, and community guidance related to the importance of marriage must be recorded.
Harmonization of Multi-Religious Family Culture in the Religious Moderation Village of Malang City Hikmiyah, Hawa’ Hidayatul; Mubarok, Muhil; Ihsani, A. Fikri Amiruddin
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1061

Abstract

The Ministry of Religion of Malang City in September 2023 launched a religious moderation village. From this village, there are families who have multiple religions, whether from the father, mother, or child. In this case, the head of the Ministry of Religion hopes that there will be an emphasis on the urgency of togetherness and moderation in religion to realize harmony in the Indonesian state, because religious diversity in Indonesia has great potential that must be protected and fostered, especially through a religious moderation program that must be pursued from the smallest sector of the State, namely a multi-religious family. In this study, field research was used to obtain objective, actual, and strong data. The data source was taken directly from the research location, which was done by visiting the informants through interviews. The researcher conducted interviews with multi-religious families in the religious moderation village in Malang City. Multifaith families often face challenges both within and outside the family. The most common challenge is social pressure, meaning that in societies where interfaith marriages and families are accepted or extended families are accepted, although not common, family members may put pressure on spouses and children to choose a religion.
The Prophet’s Way of Resolving Divorce Hakim, Nurul; Habibullah, Damirdas Kafa
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1065

Abstract

Divorce is a social phenomenon that has existed for a long time and remains a complex issue in contemporary society. Although marriage is considered a sacred bond that must be maintained in Islam, divorce can be a last resort to maintain the well-being of both parties in certain situations. The Prophet Muhammad provided an example of how to resolve divorce in a fair and humane manner so as not to cause ongoing conflict in society. It is important to understand how the Prophet handled divorce and how it is applied in the Islamic legal system and modern household life. This research is a literature review with a non-interactive qualitative approach or research that leads to exploration, excavation and deepening of related data to answer questions in the formulation of the problem with the object of the study of the hadith on divorce. This study resulted in the first, divorce is recognized in the history of human religion. Among Jews, divorce is not permitted without an excuse. Meanwhile, in responding to divorce, Christians are divided into three groups. First, Catholics prohibit divorce for any reason. Second, the Orthodox sect. And third, the Protestant sect. Both of these sects allow divorce for certain reasons. Second, the hadith on divorce from a socio-historical perspective found that the Prophet had divorced Hafsah and then referred to it again. The Prophet's efforts to refer to Hafsah show that the Prophet remained careful and tried to choose a peaceful path to maintain the marriage as much as possible. Meanwhile, from a psychological perspective, the hadith on divorce can be understood that the hadith has a universal value of benefit for couples to be careful so that they do not get divorced easily.
Analisis Program Pusat Layanan Keluarga Sakinah Dalam Menjaga Ketahanan Keluarga Studi Kasus KUA Kecamatan Dlanggu Lauhul Mahfudz; Eka Marita Putri Fauzi; Rinwanto, Rinwanto
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1066

Abstract

Membangun rumah tangga yang harmonis tidaklah mudah. Tiap pasangan harus menyiapkan beragam bekal untuk bisa membangun ketahanan keluarga. Ini bertujuan untuk mencegah retaknya hubungan perkawinan dalam rumah tangga. Untuk menanggulangi permasalahan ini, Kementerian Agama menunjuk KUA Kecamatan Dlanggu sebagai salah satu pelaksana program Pusat Layanan Keluarga Sakinah dengan harapan dapat menekan kenaikan pengajuan perceraian di Kecamatan Dlanggu, dan menjaga ketahanan rumah tangga masyarakat Kecamatan Dlanggu. Tujuan penelitian untuk menganalisis pelaksanaan layanan Program Pusat Layanan Keluarga Sakinah dan dampak serta manfaat analisis SWOT dari program Pusat Layanan keluarga Sakinah di KUA Kecamatan Dlanggu. Jenis penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data Observasi, wawancara dan Dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat strength KUA Kecamatan Dlanggu dalam program Pusaka Sakinah, yaitu layanan berbasis IT, koordinasi yang baik dengan lembaga lain, sarana dan prasarana yang memadahi. Weakneeses yaitu, keterbatasan dana, tidak ada sistem evaluasi yang kuat, minimnya kesadaran masyarakat. Oppurtunities yaitu terdapat dukungan lintas sektoral, pembinaan SDM KUA Dlanggu. Threats yaitu belum ada regulasi yang mewajibkan catin untuk mengikuti program ini, keterbatasan anggaran, kurangnya evaluasi.
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital Mir'atul Firdausi; Sharfina, Mitsellyna Azatil; Salsabila , Salma
The Indonesian Journal of Islamic Law and Civil Law Vol 6 No 1 (2025): April
Publisher : Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/ijil and cil.v6i1.1070

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menimbulkan perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, ayah sebagai pemimpin dalam keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran Islam. Namun, di era digital ini, peran ayah dalam pendidikan anak usia dini mengalami tantangan besar akibat meningkatnya ketergantungan anak pada teknologi serta berkurangnya interaksi langsung antara ayah dan anak. Selain itu, paparan terhadap konten yang kurang sesuai dengan nilai-nilai Islam semakin sulit dihindari, sehingga ayah memiliki tanggung jawab lebih dalam mengawasi dan membimbing anak dalam penggunaan teknologi secara bijak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan teknik analisis yang digunakan meliputi reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan deskripsi untuk menyusun hasil penelitian secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Islam, ayah memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak secara spiritual, moral, dan intelektual. Selain itu, era digital memberikan tantangan baru bagi ayah dalam mengawasi dan membimbing anak dalam penggunaan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengasuhan yang mengedepankan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, sehingga anak dapat tumbuh dengan karakter yang kuat, bertanggung jawab, dan tetap menjunjung tinggi ajaran Islam di tengah perkembangan zaman.

Page 1 of 1 | Total Record : 8