cover
Contact Name
Totok Haryanto
Contact Email
proceedingssocial.ump@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
proceedingssocial.ump@gmail.com
Editorial Address
Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. KH. Ahmad Dahlan, PO BOX 202 Purwokerto 53182 Kembaran, Banyumas, Jawa Tengah
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities
ISSN : -     EISSN : 2808103X     DOI : https://doi.org/10.30595/pssh.v2i.92
Core Subject : Social,
The Proceedings Series on Social Sciences & Humanities aims to publish proceedings from conferences on the scope: 1. Business, Management & Accounting 2. Social Sciences (General)
Articles 1,156 Documents
Berpikir atau Bergantung? Fenomena Cognitive Offloading pada Mahasiswa Pengguna AI di Era Society 5.0 Nisa Arfiana Nurbaeti; Tesa Nurul Huda
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of artificial intelligence (AI) in education has transformed the way students access information and complete academic activities in the Society 5.0 era. However, this convenience has also given rise to the phenomenon of cognitive offloading, namely the tendency of individuals to transfer part of their thinking processes to technology. This essay aims to analyze the phenomenon of cognitive offloading among students using AI from the perspectives of cognitive psychology and neuroscience, as well as examine its implications for modern learning processes. The method used is a literature study by reviewing various studies related to AI, cognitive offloading, working memory, and prefrontal cortex functions. The findings indicate that excessive AI use may reduce students’ cognitive engagement, trigger passive cognition, and weaken critical thinking and problem-solving abilities. In addition, cognitive offloading is associated with decreased stimulation of working memory and prefrontal cortex activity due to the dominance of instant answers provided by technology. Therefore, the use of AI in education should be directed as a cognitive partner rather than a cognitive replacement through the strengthening of metacognitive AI literacy and learning approaches oriented toward reflective thinking processes.
The Role of Self-Determination Theory in Fostering Digital Competence and Work Engagement Nabila Zaeni Putri
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital menuntut karyawan untuk memiliki kompetensi digital, namun pelatihan teknis saja seringkali tidak cukup karena munculnya resistensi dan ketidakterlibatan (disengagement). Self-Determination Theory (SDT) (Ryan & Deci, 2020) menawarkan kerangka psikologis yang berfokus pada pemenuhan tiga kebutuhan dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan secara teoretis peran Self-Determination Theory/SDT dalam menumbuhkan kompetensi digital dan work engagement, serta memberikan rekomendasi praktis bagi praktisi SDM. Penulisan artikel ini menggunakan metode kajian literatur (literature review) dengan menelaah berbagai artikel ilmiah dan hasil penelitian empiris yang relevan mengenai SDT, kompetensi digital, dan work engagement yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi. Melalui kajian literatur sistematis terhadap berbagai studi empiris terkini yang dipublikasikan secara terbuka, pemenuhan kebutuhan psikologis dasar berfungsi sebagai fondasi motivasi otonom yang berkualitas. Motivasi ini mendorong karyawan untuk secara proaktif mengembangkan kompetensi digital secara berkelanjutan. Selain itu, work engagement yang ditandai oleh semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan penghayatan (absorption) berperan sebagai mekanisme mediasi yang menghubungkan pemenuhan kebutuhan dengan outcome digital. Temuan ini mengonfirmasi adanya hubungan saling menguatkan antara SDT, kompetensi digital, dan work engagement. Kesimpulannya, organisasi yang ingin sukses dalam transformasi digital tidak cukup hanya mengandalkan pelatihan teknis, tetapi harus secara simultan menciptakan iklim psikologis yang mendukung kebutuhan dasar karyawan melalui pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centered).
Teknologi Informasi dan Stress Kerja Digital (Technostress): Tinjauan Psikologi SDM di Era Transformasi Digital Laila Azza Hanifah
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percepatan transformasi digital pascapandemi mendorong adopsi teknologi informasi sekaligus memunculkan tantangan psikologis berupa technostress stres akibat ketidakmampuan individu menghadapi tuntutan teknologi. Artikel ini bertujuan untuk: memahami konsep technostress, menjelaskan dampaknya terhadap kesejahteraan dan kinerja SDM, serta menawarkan strategi pengelolaannya bagi organisasi modern. Berdasarkan tinjauan literatur, technostress terdiri atas pencipta dan penghambat stres, dengan lima dimensi yang terbukti menurunkan kesejahteraan, memicu kelelahan emosional, dan meningkatkan keinginan berpindah kerja. Pengaruhnya bersifat kontekstual, dipengaruhi faktor generasi dan budaya seperti pada karyawan Generasi Z di Indonesia. Strategi holistik yang direkomendasikan mencakup penguatan kapasitas individu, dukungan organisasional, dan desain teknologi ramah pengguna, agar transformasi digital menjadi peluang kesejahteraan, bukan sumber stres dan turnover.
Kesehatan Mental di Era Digital: Eksistensi Diri dan Fenomena Validasi Sosial Antar Generasi Irni Irawati
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah fundamental cara masyarakat berinteraksi, bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi arena pembentukan eksistensi diri dan pencarian validasi sosial. Fenomena ini melintasi berbagai generasi, dengan karakteristik penggunaan yang berbeda namun kebutuhan mendasar akan pengakuan yang sama. Artikel ini mengkaji hubungan antara kesehatan mental, eksistensi diri, dan validasi sosial antar generasi di era digital melalui tinjauan literatur. Analisis terhadap pola penggunaan media sosial dan dampaknya terhadap psikologis individu menunjukkan bahwa budaya validasi digital, seperti flexing dan FOMO, dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan kontrol diri yang memadai. Oleh karena itu, kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak sangat penting untuk memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.
Solilokui Kesiapan Digitalisasi dalam Pembelajaran Intan Rifiwanti
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi merupakan proses perubahan yang terjadi pada teknologi bersifat analog atau manual ke teknologi digital. Individu ataupun kelompok sudah banyak yang meninggalkan piranti konvensional. Hal ini karena media digital dinilai lebih efektif dan efisien untuk digunakan. Arus digitalisasi terus berkembang di berbagai aspek—tidak terkecuali dalam pendidikan. Dewasa ini, digitalisasi telah menjadi suatu kebutuhan dan mulai melekat dengan kehidupan. Apalagi sejak pandemi Covid-19, perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat laju digitalisasi semakin cepat. Tulisan ini bertujuan memberikan pandangan dan wawasan tentang transformasi digital dalam pembelajaran. Dalam praktiknya, perubahan ini tentu banyak menuai pro dan kontra. Selain itu, penggunaannya pun tentu memiliki dampak positif dan negatif. Bagaimana digitalisasi terjadi dalam pembelajaran dan siapa saja kah yang perlu berperan aktif dalam keberhasilan transformasi ini? Apakah terbatas pada peran guru dan murid sebagai subjek pembelajaran? Oleh karena itu, perlu analisis mendalam terkait strategi dan kolaborasi dari berbagai pihak demi berhasilnya digitalisasi dalam pembelajaran.
Mengembangkan Warga Negara, Bukan Sekadar Tenaga Kerja: Urgensi Civic Engagement dalam Pendidikan di Era Society 5.0 Khorinah Nur Ajijah; Cahyaning Widhyastuti; Astri Firdasannah
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin kuatnya orientasi pendidikan pada kebutuhan pasar kerja dan industri. Kondisi ini berpotensi menggeser fungsi pendidikan sebagai sarana pembentukan kesadaran sosial dan tanggung jawab kewargaan. Di sisi lain, generasi muda Indonesia menghadapi paradoks berupa meningkatnya akses pendidikan dan teknologi yang tidak selalu diikuti oleh tingginya keterlibatan sosial. Fenomena rendahnya partisipasi pemuda dalam organisasi, ruang pengambilan keputusan, serta munculnya kecenderungan orientasi individual yang tercermin dalam fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan pentingnya penguatan civic engagement dalam pendidikan. Esai ini bertujuan menganalisis urgensi civic engagement sebagai orientasi pendidikan di era Society 5.0. Pembahasan dilakukan melalui kajian konseptual mengenai hubungan antara perkembangan teknologi digital, keterhubungan sosial, dan partisipasi kewargaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat memperluas partisipasi sosial apabila dimanfaatkan secara aktif dan kritis, tetapi juga berpotensi menghasilkan keterlibatan semu yang bersifat pasif dan performatif. Oleh karena itu, pendidikan perlu mengintegrasikan civic engagement melalui pembelajaran berbasis proyek, pengalaman sosial langsung, pembelajaran partisipatif, serta penguatan literasi digital yang berorientasi pada empati dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pendidikan di era Society 5.0 tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga warga negara yang aktif, kritis, dan peduli terhadap kehidupan masyarakat.
Membangun Resiliensi Digital: Strategi Psikologis untuk Meningkatkan Kompetensi Adaptif Mahasiswa Menghadapi Disrupsi Teknologi AI Nanda Arthadya
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketergantungan teknologi, technostress, dan penurunan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran resiliensi digital dalam membentuk kompetensi adaptif mahasiswa di Era Society 5.0 melalui metode tinjauan literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan self-efficacy dalam jangka pendek, namun juga berisiko memicu ketergantungan dan isolasi sosial jika tidak diimbangi dengan regulasi diri. Resiliensi digital yang mencakup fleksibilitas kognitif, regulasi emosi, dan literasi kritis berperan penting dalam membantu mahasiswa beradaptasi dengan perubahan teknologi. Untuk memperkuat kompetensi adaptif, diperlukan strategi berupa reframing kognitif, pelatihan metakognisi, dan penguatan self-efficacy. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengintegrasikan kesehatan mental digital dan literasi AI dalam kurikulum guna menciptakan lulusan yang kompeten secara teknis dan tangguh secara psikologis.
Psikologi Pengasuhan di Masyarakat 5.0: Membangun Kolaborasi Orang Tua, Sekolah, dan Teknologi untuk Digital Parenting yang Humanis Fiki Febriani
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyikapi derasnya penetrasi teknologi di Masyarakat 5.0, artikel ini mengkaji tantangan psikologis dalam pengasuhan digital serta menyusun kerangka kolaborasi lintas-pemangku kepentingan. Melalui tinjauan literatur sistematis terhadap publikasi lima tahun terakhir, kajian mengungkap bahwa anak dan remaja menghadapi peningkatan signifikan gangguan mental akibat gawai dan media sosial, sementara orang tua terbentur kesenjangan literasi dan kapasitas. Temuan kritis menunjukkan bahwa sebagian besar strategi mediasi orang tua baik restriktif maupun aktif gagal memberikan efek berarti, kecuali pendampingan belajar bersama (joint learning), yang justru menjadi satu-satunya cara efektif. Akar masalahnya adalah digital parenting divides, yaitu kesenjangan sumber daya dan kesiapan orang tua. Oleh karena itu, penulis menawarkan solusi kolaboratif tripartit yang mengintegrasikan pendidikan literasi digital dalam kurikulum, penguatan kapasitas orang tua melalui pelatihan komunitas, serta pengembangan teknologi yang mendukung pengasuhan. Kesimpulannya, digital parenting yang humanis tidak terletak pada pembatasan akses, melainkan pada upaya kolektif membangun kesadaran dan keseimbangan dalam menghadapi era algoritma.
Ketika ChatGPT Menjadi Teman Curhat: Kesehatan Mental di Era Digital Azzura Laila Amalisy
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kebutuhan dukungan kesehatan mental di masyarakat digital yang beriringan dengan tingginya tekanan akademik, pekerjaan, dan perubahan sosial, mendorong munculnya praktik baru dalam mencari bantuan emosional, salah satunya melalui ChatGPT dan kecerdasan buatan sebagai media curhat. Esai ini bertujuan mengkaji peran ChatGPT dalam memberikan dukungan psikologis awal serta menjelaskan alasan masyarakat memilih AI sebagai tempat berbagi masalah, seperti kebutuhan akan akses cepat, rasa aman, dan minimnya stigma. Pembahasan menyoroti berbagai manfaat penggunaan ChatGPT, antara lain kemudahan akses tanpa batas ruang dan waktu, ketersediaan layanan 24 jam, anonimitas yang melindungi identitas, fungsi sebagai media refleksi diri melalui dialog terstruktur, serta perannya dalam edukasi kesehatan mental yang mudah dipahami. Namun, esai ini juga menyampaikan keterbatasan dan risiko, seperti ketiadaan empati manusia, potensi kesalahan atau simplifikasi informasi psikologis, serta risiko ketergantungan berlebihan pada AI sehingga mengurangi pencarian bantuan profesional. Disimpulkan bahwa ChatGPT berpotensi menjadi pendamping digital yang bermanfaat dalam memberikan dukungan emosional awal dan meningkatkan literasi kesehatan mental, tetapi tidak dapat menggantikan psikolog, konselor, maupun tenaga kesehatan mental profesional dalam menangani permasalahan psikologis yang kompleks.
Transformasi Manajemen Kerja Jarak Jauh: Bukti tentang Produktivitas dan Tantangan Digital Puspita Sari
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital telah mendorong kerja jarak jauh dan model hybrid menjadi bagian penting dalam sistem kerja modern pasca-pandemi. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana transformasi manajemen kerja jarak jauh dapat mengoptimalkan produktivitas organisasi di era digital sekaligus menjaga kesejahteraan karyawan. Kajian dilakukan melalui pendekatan studi pustaka dengan menelaah berbagai hasil penelitian empiris dan systematic review terkini mengenai work from home, hybrid working, digital human resource management, serta faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerja jarak jauh berpotensi meningkatkan produktivitas, fleksibilitas, kepuasan kerja, dan retensi karyawan apabila didukung oleh teknologi yang memadai, kepemimpinan digital yang adaptif, budaya kerja berbasis kepercayaan, serta sistem manajemen kinerja yang berorientasi pada output. Namun demikian, implementasi kerja jarak jauh juga menghadapi berbagai tantangan, seperti technostress, kelelahan digital, konflik kerja-keluarga, serta berkurangnya kualitas interaksi sosial dan kolaborasi. Oleh karena itu, optimalisasi produktivitas di era digital memerlukan transformasi manajemen sumber daya manusia yang menempatkan employee well-being sebagai fondasi utama melalui penguatan kompetensi digital, komunikasi yang efektif, kebijakan work-life balance, serta desain sistem kerja hybrid yang adaptif dan berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan kerja jarak jauh tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam membangun ekosistem kerja yang berpusat pada manusia.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi Vol. 30 (2026): The 1st Proceedings of the International Conference on Transformative Education and Vol. 31 (2026): UMP Progressive Youth Conference (UPYC) Vol. 22 (2025): The 1st UNSIQ International Symposium on Economics and Bussines (UISEB 2024) Vol. 21 (2025): Proceedings of the 4th 2024 UMP Progressive Youth Conference (UPYC) Vol. 24 (2025): Proceedings of International Student Conference on Education (ISCE) 2025 Vol. 29 (2025): Prosiding Konferensi Nasional Ketenagakerjaan "Hukum Ketenagakerjaan dan Agenda Pemb Vol. 28 (2025): Proceedings of International Conference of Local Wisdom and Community Engagement (IC Vol. 25 (2025): Proceedings of International Conference on Social Science (ICONESS) Vol. 23 (2025): Proceedings of Seminar Nasional Kebaharuan KUHP Nasional dan Urgensi Pembaharuan KUH Vol. 18 (2024): Proceedings of International Student Conference on Education (ISCE) 2024 Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm Vol. 19 (2024): Proceedings of Webinar International Globalizing Local Wisdom: Integrating Cultural Vol. 17 (2024): Proceedings of Seminar International Legal Development in Twenty-First Century Era Vol. 16 (2024): Proceedings of Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol. 15 (2024): Proceedings of International Conference on Management, Accounting, Economics, and Bu Vol. 14 (2023): Proceedings of International Conference on Legal Studies (ICOLAS 2023) Vol. 13 (2023): Proceedings of International Student Conference on Education (ISCE) 2023 Vol. 8 (2023): Proceeding International Seminar 2022 E-Learning Implementation in Malaysia and Indon Vol. 12 (2023): Proceedings of International Conference on Social Science (ICONESS) Vol. 11 (2023): Proceedings of Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Vol. 10 (2023): Proceedings of Seminar Kebangkitan Nasional dan Call for Paper Universitas Muhammadi Vol. 9 (2023): Proceedings of Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Vol. 3 (2022): Proceedings of Social Studies Learning Challenges in the 21st Century Vol. 7 (2022): Proceedings of the 3rd International Conference of Business, Accounting & Economics ( Vol. 6 (2022): Proceedings of Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol. 5 (2022): Proceedings of Sharia Economic Law Faculty of Islamic Religion Universitas Muhammadiy Vol. 4 (2022): Proceedings of Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Vol. 2 (2021): Proceedings of Psychology in Individual and Community Empowerment to Build New Normal Vol. 1 (2021): Proceedings of the Integration of Disaster Mitigation Learning in School More Issue