cover
Contact Name
Erwin Sondakh
Contact Email
ehb_sondakh@unsrat.ac.id
Phone
+6285256923230
Journal Mail Official
jzootek@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Kampus Bahu Manado, 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
ZOOTEC
ISSN : 08522626     EISSN : 26158698     DOI : https://doi.org/10.35792/
Zootec is a scientific periodical journal published by the Faculty of Animal Sciences, Sam Ratulangi University in 1995 with the print ISSN number 0852 – 2626. The focus of articles on Animal Sciences includes 1. livestock production, 2. Animal Feed and Nutrition, 3. Livestock Socio-Economics, 4. Animal Product Technology, 5. Animal Health, and 6. Potential pet wildlife Animal. Since its publication in Volume 38 number 1 of January 2018, it has been accredited with Rank 5 at the Ministry of Research, Technology and Higher Education Republic of Indonesia, Number SK 28/E/KPT/2019 with eISSN number 2615-8698. Starting Volume 41 No 2 of July 2021 the Zootec Journal has changed the writing template from the previous writing template. The Zootec journal has been indexed by Google Scholar, SINTA, Crossref, Garuda. Article authors can send articles in Indonesian or in English via email: jzootek@yahoo.com to be considered for publication.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 43 No. 2 (2023)" : 21 Documents clear
Waktu leleh, pH dan sensoris es krim dengan penambahan ekstrak bunga telang kering (Clitoria ternatea L.) Tumiwuda, S.; Hadju, R.; Sakul, S.E.; Rembet, G.D.G.
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/zot.43.2.2023.48495

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui waktu leleh, pH dan sifat sensoris dari es krim yang ditambahkan ekstrak bungan telang (Clitoria ternatea L). Materi yang digunakan adalah lemari pendingin, freezer, timbangan analitik, mixer, gelas ukur, stopwatch, cup es krim, pengaduk, sendok es krim dan wadah plastik. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu UHT (Ultra high Temperature), gula pasir, wheapy cream, kuning telur, susu bubuk, agar-agar, air, dan bunga telang kering. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA (analysis of variance) dan apabila ada perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah waktu leleh, pH dan sensoris (warna, aroma, tekstur, citarasa). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak bunga telang memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap waktu leleh dan pH es krim dan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap sensoris (warna, aroma, tekstur, cita rasa) es krim. Berdasarkan hasil dan pembahasan kesimpulan penelitian ini adalah es krim dengan penambahan ekstrak bunga telang sebanyak 6%, memberikan hasil yang baik terhadap waktu leleh, pH dan beberapa sifat sensoris es krim. Kata Kunci: Es krim, bunga telang, waktu leleh, pH, sensoris  
Pengaruh penambahan daun kemangi (Ocimum basilicum L.) terhadap penurunan berat telur dan sifat sensoris telur ayam ras asin N.O. Tilong; C.K.M. Palar; S. Komansilan; G.V.J. Assa
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung minyak atsiri, flavonoid, tannin yang berfungsi sebagai antioksidan, antibakteri, serta sebagai pengawet alami dan memberikan cita rasa yang khas. Penambahan daun kemangi dalam pembuatan telur asin ayam ras diharapkan dapat memberikan inovasi pengolahan telur asin dan sebagai bahan informasi masyarakat dan industri pangan tentang pengaruh pemanfaatan daun kemangi dalam proses pengasinan telur serta menambah nilai ekonomis telur.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 4 ulangan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah berat telur, dan sifat sensoris (warna, aroma, rasa). Data dianalisis dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan daun kemangi (Ocimum basilicum L.) memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap warna dan cita rasa telur asin, berbeda nyata (P<0,05) dan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat telur.  Berdasarkan hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa penambahan daun kemangi (Ocimum basillicum L.) sampai 40% memberikan hasil yang baik terhadap aroma, warna, rasa telur asin ayam ras dan penurunan berat telur sampai 80% dengan bertambahnya daun kemangi. Kata Kunci: Daun kemangi, telur ayam asin, sensoris
Pengaruh penambahan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap intensitas warna dan organoleptik sosis ayam M.A. Talibo; D.B.J. Rumondor; R. Tinangon; I. Wahyuni
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap intensitas warna dan organoleptik sosis ayam. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam, kulit buah naga merah, serta bumbu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Pengujian organoleptik menggunakan skala hedonik dengan 35 panelis sebagai ulangan. Sebagai perlakuan yaitu: R0 = Tanpa sari kulit buah naga merah; R1 = Penambahan sari kulit buah naga merah 5%; R2 = Penambahan sari kuli buah naga merah 10%; R3= Penambahan sari kulit buah naga merah 15%; dan R4 = Penambahan sari kulit buah naga merah 20%. Variabel yang diukur adalah intensitas warna (L*, a*, b*) dan organoleptik (warna, aroma, tekstur dan cita rasa). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan anova dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian terhadap intensitas warna memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05) pada nilai L* dan berbeda nyata (P<0,05) pada nilai a* dan b* terhadap sosis ayam yang ditambahkan sari kulit buah naga merah. Nilai (L*) mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibanding dengan nilai (a*) dan (b*) pada sosis ayam dengan penambahan sari kulit buah naga merah. Dominan intensitas warna yang dihasilkan pada (b*) berwarna kuning dibandingkan (a*) yang berwarna merah dengan penambahan sari kulit buah naga merah, ini disebabkan karena suhu dan lama pemasakan. Untuk uji organoleptik (warna, aroma, tekstur) menunjukan tidak berbeda nyata (P>0,05), dan berbeda nyata (P<0,05) pada cita rasa dengan penambahan sari kulit buah naga merah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan sari kulit buah naga merah pada sosis ayam sampai level 20% memberikan intensitas warna yang baik, untuk organoleptik warna disukai oleh panelis sampai pada level 15%, aroma sampai pada level 5%, dan tekstur serta cita rasa lebih disukai 0% atau tanpa penambahan sari kulit buah naga merah. Kata Kunci : Sosis ayam, kulit buah naga merah, organoleptic
Potensi hijauan pakan lokal dalam menunjang dan memperkokoh triple helix pengembangan sapi potong di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara C.L. Kaunang; J.S. Mandey; F.N. Sompie; C.A. Rahasia; S.A.E. Moningkey; M.M. Telleng
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memberikan gambaran dan informasi mengenai jenis-jenis hijauan pakan ternak, ketersediaan hijauan pakan ternak, menganalisis daya dukung pakan dan kapasitas tampung (Carrying Capacity) hijauan pakan lokal untuk pengembangan sapi potong di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam memperkokoh dan menunjang program Triple Helix. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan satu diantara 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara, yang menjadi daerah basis yang potensial untuk pengembangan sapi potong, dimana sampai tahun 2019 populasi sapi potong di daerah ini mencapai 18.221 ekor, tersebar di 6 kecamatan, 107 desa dan kelurahan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemeliharaan ternak sapi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih bersifat tradisioanal/ekstensif, sistim pemeliharaan yang dijalankan oleh peternak dengan pola integrasi kelapa-sapi adalah ternak dilepas sepanjang hari dibawah pohon kelapa, dimana ternak betina diikat dibawah pohon sedangkan pejantan dan anak dilepas pada pagi sampai siang hari dan pada sore hari ternak akan digiring berpindah tempat untuk ternak beristirahat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Luasan lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber hijauan secara keseluruhan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara seluas 35.022 ha, namun secara khusus untuk pengembangan lahan hijauan pakan pada daerah padang penggembalaan yaitu seluas 6.863 ha, yang setara dengan kapasitas tampung 52.912 satuan ternak. Potensial ternak yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara hanya berkisar 20.000 ST. Itu berarti produksi hijauan pakan di daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih cukup untuk ditambahkan sekitar 30.000 ST. Kata Kunci: Hijauan, pakan lokal, ternak sapi, Bolaang Mongondow Utara,
Sifat fungsional telur ayam ras yang diawetkan dengan ekstrak kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L) selama penyimpanan Y. Paputungan; M.D. Rotinsulu; N. Lontaan; W. Utiah; R. Hadju; L.R. Ngangi; F.S. Ratulangi
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh ekstrak kulit pisang kepok terhadap sifat fungsional telur ayam ras selama penyimpanan. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu telur ayam ras umur satu hari sebanyak 180 butir dengan berat 55-60 gram, air dan 1000 gram kulit pisang kepok (masih hijau). Penelitian ini menggunakan Rancangan Split plot in time dengan petak utama (ekstrak pisang kepok) yang diatur P1 = Tanpa ekstrak, P2 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 10 %, P3 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 20 %, P4 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 30 %, P5 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 40% dan anak petak (lama penyimpanan) yang diatur H1. 7 hari, H2. 14 hari, H3. 21 hari, H4. 28 hari serta ulangan sebanyak 3 kali. Variabel penelitian adalah daya buih, stabilitas buih, kekuatan gel dan waktu koagulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawetan dengan ekstrak kulit pisang kepok tidak berpengaruh nyata (P>0.05) untuk daya buih, stabilitas buih dan waktu koagulasi telur ayam ras namun berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap kekuatan gel. Lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,01) terhadap daya buih, stabilitas buih, waktu koagulasi dan kekuatan gel telur ayam ras. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengawetan telur ayam ras dengan 40% ekstrak kulit pisang kepok yang terbaik dan terjadi penurunan sifat fungsional telur dengan semakin lama penyimpanan. Kata Kunci: Ekstrak kulit pisang kepok, sifat fungsional, telur ayam ras
Studi pengetahuan masyarakat Desa Taratara dan Woloan mengenai tikus ekor putih Sulawesi Utara J.T. Geruh; S.C. Rimbing; H.J. Kiroh; R.S.H. Wungow; P.R.R.I. Montong
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tikus ekor putih adalah salah satu kekayaan alam yang ada di Sulawesi Utara. Di desa Taratara dan Woloan tikus ekor putih dikenal dengan nama lokal kulo ipus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat pengetahuan masyarakat desa Taratara dan Woloan terhadap kelestarian tikus ekor putih Sulawesi Utara, untuk menggali informasi terhadap ketertarikan masyarakat desa Taratara dan Woloan dalam usaha penangkaran dan budidaya tikus ekor putih. Penelitian ini dilakukan di desa Taratara dan Woloan Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, pada tanggal 25 Maret - 15 Mei 2021. Menggunakan metode survey dengan menggunakan objek masyarakat sebanyak 1.329 responden di desa Taratara dan sebanyak 1.695 responden di desa Woloan. Teknik pengambilan data yaitu dengan cara mendatangi rumah-rumah masyarakat memberikan kuisioner kepada masyarakat yang menjadi responden yang berusia 17-60 tahun untuk di isi, selanjutnya melakukan wawancara secara langsung kepada responden. Variabel yang diamati yaitu pengetahuan mengenai tikus ekor putih sebagai satwa endemik, tingkat pemahaman masyarakat mengenai tikus ekor putih, pengetahuan masyarakat mengenai instansi badan konservasi alam dinas kehutanan. Hasil penelitian di kedua desa menunjukan bahwa pengetahuan tentang tikus ekor putih sebanyak (36,74%) dan (34,80%), tahu tentang jenis-jenis tikus ekor putih yang dimakan sebanyak (26,85%) dan (35,93%) tahu tentang bentuk dan warna dari jenis tikus ekor putih (39,35%) dan (40,57%). Mengetahui tentang konservasi (36,43%) dan (30,64%), tahu tikus ekor putih dilindungi UU konservasi No 5/1990  (25,64%) dan (29,02%). Mengetahui adanya instansi badan konservasi alam dinas kehutanan (36,31%) dan (33,72%). Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat dasa Taratara dan Woloan rata-rata sudah mengetahui tentang tikus ekor putih. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan tentang nilai ekonomis dan nilai gizi dari tikus ekor putih serta usaha untuk melestarikanya sehingga tikus ekor putih tidak punah, mengingat masyarakat minahasa sangat menyukai kuliner dari tikus ekor putih. Kata Kunci : Masyarakat, Taratara, Woloan, Tikus ekor putih
Molecular genetic approaches on cattle and chicken breeding: A Review H.F.N. Lapian
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In recent years, the application of molecular genetic methods and techniques has made a significant contribution in various fields, including animal husbandry. Traditional approaches to livestock breeding have gained new insights from molecular genetics, resulting in increased efficiency and optimization of breeding programs. Genome selection has emerged as a revolutionary technique, enabling comprehensive selection at the early stages of breeding. Moreover, the manipulation of economically important candidate genes at the cellular level contributes to future advances in livestock breeding. In cattle, the integration of gene editing into breeding programs is considered a tool for genetic modification, with particular emphasis on its potential implications across sectors and regions. Numerous studies on the use of genes as the basis for breeding chickens have been conducted extensively. These studies can be categorized into several sections, such as disease resistance, physical performance, and physiological aspects. The significant contribution of molecular genetics to livestock breeding and genetic improvement still requires further research to capitalize on technological advances in this field. Keywords: Breeding, cattle, chicken, gene selection, molecular genetic
Analisis break even point usaha ternak ayam buras milik Bapak Jotje Rawung di Desa Paniki Atas Kecamatan Talawaan (Studi Kasus) Siwu, R.; Wantasen, E.; Kalangi, L.S
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/zot.43.2.2023.48769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pendapatan dan Break Even Point (BEP) usaha ternak ayam buras milik Bapak Jotje Rawung di Desa Paniki Atas Kecamatan Talawaan (Studi Kasus). Usaha pemeliharaan ayam buras (bukan ras) masih berlanjut sampai saat ini dan dipelihara secara tradisional dan usaha sering mengalami fluktuasi untung dan rugi selama berusaha. Fluktuasi untung dan rugi karena naik turunnya jumlah ayam yang dipelihara pada bulan Januari sampai Maret 2021 ayam yang dipelihara ±100 ekor dan turun pada bulan Mei sebanyak 40 ekor disebabkan oleh tingkat kematian 45% karena wabah penyakit dan ternak ayam dimakan ternak anjing liar. Kemudian pada bulan Juni sampai November 2021 naik sebanyak 100 ekor, artinya ada kenaikan dari hasil poduksi telur yang ditetaskan, dan penjulan tahun 2021 hanya 15 ekor. Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan sekunder. Data yang dikumpulkan di tabulasi dan dianalisa menggunakan metode analsisis deskriptif, yaitu metode analisis yang dapat memberikan gambaran maupun uraian jelas mengenai suatu keadaan atau fenomena, sehingga dapat mengetahui biaya produksi, penerimaan, pendapatan dan Break Even Point (BEP) adalah kondisi suatu usaha yang tidak mendapatkan keuntungan maupun kerugian, yang dibedakan atas BEP Produksi dan BEP Harga. Pendapatan usaha ternak ayam buras milik Bapak Jotje Rawung yaitu Rp. 2.864.932/tahun. Nilai BEP produksi adalah 44 ekor dan nilai BEP harga adalah Rp. 84.847/ekor. Hasil penelitian menjelaskan bahwa jumlah penjualan ayam buras 65 ekor, sudah berada di atas nilai BEP dan rata-rata harga penjualan Rp. 125.000/ekor sudah berada di atas nilai BEP, sehingga peternak sudah memperoleh keuntungan.
Morfometrik burung hantu (Tyto rosenbergii) di Daerah Wisata Kabupaten Minahasa R.E. Gala; J.L.P. Saerang; L.J. Lambey
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burung hantu merupakan burung pemangsa. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora atau pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Burung hantu ini juga banyak memiliki keunikan tersendiri seperti, kepalanya yang bisa berputar 180° dan bisa melihat dalam gelap. Burung hantu biasa disebut juga dengan serak, punggok dan celepuk sedangkan di Minahasa dikenal dengan nama manguni. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang morfometrik burung hantu  (Tyto rosenbergii) di daerah wisata Kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilaksanakan selama 14 hari pada tanggal 4 September sampai 17 September 2022 di dua tempat wisata Kabupaten Minahasa. Sampel penelitian yaitu menggunakan 10 ekor burung hantu yang diambil dari tempat wisata yang terdapat burung hantu yaitu di Monumen Benteng Moraya Tondano dan Bukit Kasih Kanonang. Menggunakan metode observasi terhadap burung hantu. Variabel yang diteliti yaitu berat badan, panjang ekor, panjang sayap, panjang paruh, lebar paruh, panjang shank dan panjang jari kaki tengah. Hasil penelitian menunjukan bahwa morfometrik burung hantu (Tyto rosenbergii) di daerah wisata Kabupaten Minahasa yaitu di Monumen Benteng Moraya Tondano dan Bukit Kasih Kanonang memiliki berat badan rata-rata 646,3 g, panjang bulu ekor 146,5 mm, panjang sayap 339,5 mm, panjang paruh 40,635 mm, lebar paruh 18,635 mm, panjang shank 70,4 mm dan panjang jari kaki tengah 65,8 mm. Burung hantu (Tyto rosenbergii) mempunyai berat badan yang berbeda-beda dikarenakan kondisi burung yang dipelihara buat dijadikan objek foto untuk wisatawan dengan ruang gerak yang terbatas serta pola hidup yang berubah dari nocturnal (hewan giat malam) menjadi dinurnal (hewan giat siang). Kata Kunci : Burung hantu, morfometrik, Minahasa
Pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan Rizhopus oligosporus dalam ransum terhadap efisiensi ransum broiler F.R. Wolayan; N.J. Kumajas; S.N. Rumerung
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan Rhizopus oligsporus terhadap konsumsi, pertambahan berat badan, efisiensi penggunaan ransum dan income over feed cost. Penelitian ini menggunakan 100 ekor boiler strain Arbor Acres. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, jika ada perbedaan perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Ransum yang digunakan yaitu kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan level R1=0%, R1=10%, R2=20%, R3 =30% dan R4=40% dalam ransum. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat badan, efisiensi ransum dan income over feed cost broiler.  Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa konsumsi ransum R0 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3 dan R4. Uji BNJ terhadap pertambahan bobot badan menunjukkan bahwa R0 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3 dan R4. Uji BNJ  terhadap efisiensi ransum  menunjukkan bahwa R0 berbeda tidak nyata (P<0,05) dengan  R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0.05) dengan perlakuan R3 dan R4. Uji BNJ terhadap income over feed cost menunjukkan bahwa R0 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3, dan R4. Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terferntasi dengan Rhizopus oligsporus  dalam ransum broiler sampai 20% masih memberikan hasil yang baik terhadap efisiensi penggunaan ransum dan income over feed cost broiler. Kata kunci: kulit umbi ubi kayu fermentasi, komsumsi, pertambahan berat, efisiesi, IOFC

Page 1 of 3 | Total Record : 21