cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 415 Documents
Peran Perpustakaan Dalam Menanamkan Minat Baca Sejak Usia Dini Eny Dwi Kristyarini
Media Pustakawan Vol 14, No 3&4 (2007): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.6 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v14i3&4.983

Abstract

Sekolah dikenal sebagai lembaga pendidikan formal yang menjadi wahana bagi guru untuk membelajarkan siswa-siswanya. Dalam menjalankan fungsi layanan Pendidikan, sekolah ditopang oleh seluruh elemen yang ada seperti: siswa, guru, tenaga non edukatif, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, strategi dan metode pembelajaran, serta manajemen, juga lingkungan yang dikelola ke arah tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Penulis akan membahas salah satu elemen dari layanan pendidikan, yaitu sarana dan prasarana yang sangat mendukung suatu pendidikan, yaitu perpustakaan sekolah sejak diterbitkannya UndangUndang Pendidikan no. 2/1989, sudah banyak sekolah yang memiliki tenaga yang secara khusus mengelola perpustakaan sekolah. Perpustakaan menjadi sangat penting untuk meningkatkan sikap cendikiawan, memahirkan keterampilan dan menghaluskan sikap moralnya.Dalam usaha untuk membina minat baca siswa, para pendidik mulai menyadari betapa eratnya hubungan yang ada antara keterampilan membaca dan kegiatan membaca. Metode dan teknik Pengelolaan perpustakaan yang baik, menarik dan kreatif bisa bermanfaat atau tidak bagi pengguna perpustakaan akan sangat tergantung pada kemampuan pustakawan di dalam menerapkannya dalam tugasnya guna menunjang kegiatan belajar dan mengajar.
Model Pengembangan Desain Instruksional Dalam Penyusunan Modul Pendidikan Pemustaka (Library Instruction) Jurianto Jurianto
Media Pustakawan Vol 24, No 3 (2017): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.609 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i3.461

Abstract

Abstrak Pendidikan pemustaka adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengajarkan kepada pemustaka tentang organisasi perpustakaan, bagaimana mengidentifikasi, menemukan dan menggunakan sumber-sumber informasi yang mereka butuhkan secara efisien, efektif dan etis. Dengan makin berkembangnya sumber-sumber informasi dibutuhkan banyak kemampuan bagi pemustaka untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber yang ada di perpustakaan. Oleh karenanya dibutuhkan pengembangan model pengajaran pendidikan pemustaka yang baik. Dengan model pengembangan model pendidikan pemustaka dan kreatifitas pustakawan, diharapkan perpustakaanmemiliki sistem pembelajaran yang baik yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Ada banyak model pengembangan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan paket pembelajaran pemustaka yang di dalamnya ada proses pengembangan, implementasi dan juga evaluasi.
Kajian Kualitas Layanan Perpustakaan Pusat IPB Subagyo Subagyo; Janti G Sujana
Media Pustakawan Vol 19, No 4 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v19i4.888

Abstract

ajian ini diselenggarakan pada bulan Maret-Mei 2011 di Perpustakaan Pusat IPB. Tujuan umum adalah  mengetahui kualitas layanan Perpustakaan Pusat IPB, dan tujuan khusus: mengukur hubungan karakteristik responden dengan persepsi, harapan maupun kualitas layanan serta indeks persepsi harapan layanan perpustakaan. Kajian menggunakan model survey secara deskriptif dengan populasi responden adalah anggota perpustakaan dengan jenjang pendidikan strata satu, strata dua, maupun strata tiga. Pengambilan sampel digunakan metode stratified random sampling, dengan teknik pengumpulan data secara accidental sampling. Analisis data digunakan metode Servqual dan korelasi rank Spearman’s rho serta modifikasi indeks KEP/25/M.PAN/2/2004. Hasil kajian diperoleh rata-rata skor servqual sebesar -0,41, maknanya harapan yang diinginkan belum sesuai dengan persepsi yang dirasakan. Demikian juga setiap dimensi layanan perpustakaan (tangible, realibity, responsiveness, assurance, dan emphaty)  belum sesuai dengan harapan. Berdasarkan penyusunan bentuk Two-Dimensional Differing Plane, ternyata tidak ada dimensi layanan perpustakaan yang mendesak untuk perbaikan. Namun peningkatan layanan perpustakaan masih dibutuhkan terutama  dimensi tangible dan emphaty, karena  posisi titik kontingensi dimensi tersebut berada di kuadran III.  Sedangkan analisis  karakteristik pemustaka, bahwa aspek gender tidak diperoleh perbedaaan nyata dengan persepsi, harapan maupun kualitas layanan. Jenjang pendidikan berhubungan sangat lemah dengan seluruh dimensi dari persepsi layanan, dimensi realibility dari harapan layanan, dimensi responsiveness dan emphaty dari kualitas layanan. Indeks Persepsi Pemustaka (IPP) diperoleh nilai 76,47 (huruf mutu B) atau kinerja unit layanan termasuk kategori baik. Indeks Harapan Pemustaka (IHP) diperoleh nilai 82,55 (huruf mutu B) atau harapan kinerja unit layanan termasuk
Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Layanan Perpustakaan Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir BATAN Suhendani Suhendani
Media Pustakawan Vol 28, No 3 (2021): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.66 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v28i3.1344

Abstract

The Library of Center for Utilization of Informatics and Nuclear Strategic Areas- National Nuclear Energy Agency (PPIKSN-BATAN) evaluates the library through a user satisfaction survey which is given directly to visitors who come physically to the library. This study aims to measure the user satisfaction index of the PPIKSN-BATAN library services. The method used is aquantitative research using the questionnaire. The research subjects were 60 people who had filled out a questionnaire on the aspects reviewed to determine user satisfaction with 9 service elements indicators. The results on the services quality got very good service quality with an IKM value of 3.48 (A) and a conversion value of 86.88. The elements of Complaint Handling, as well as Suggestions and Inputs, are the elements of the highest service value with a conversion value of 95.42 and an average IKM element of 3.82 (A) with very good service quality. Meanwhile, the element with the lowest index value is the element of Service Requirements Conformity with a conversion value of 80.83 and the average IKM element is 3.23 (B), but the service quality is still in the good category. User satisfaction with the service received gets an average IKM of 3.21 and a conversion value of 80.34 with good service quality. Overall, the service performance of the Library of PPIKSN-BATAN received a very good service quality score and user satisfaction with the information provided received a good response.
Tips Ahli Media Mikrofilm untuk mendapatkan hasil yang memuaskan Jamiat Jamiat; Rudianto Rudianto
Media Pustakawan Vol 24, No 2 (2017): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.032 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i2.18

Abstract

Alih media ke dalam bentuk mikrofilm merupakan salah satu alih media bahan perpustakaan. Dalam praktiknya pustakawan menginginkan hasil terbaik, namun hanya sedikit yang dapat melakukan alih media mikrofilm dengan hasil memuaskan. Kegiatan teknis ini sangat membutuhkan ketelitian dan kesabaran, walaupun tak jarang hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Setiap pekerjaan jika dilakukan dengan teliti, akan menghasilkan karya yang maksimal. Namun jika dilakukan dengan sembarangan, tentu hasilnya akan mengecewakan. Begitu pula mesin dan peralatan yang digunakan untuk alih media harus diperhatikan dan dirawat dengan baik agar tidak menimbulkan masalah pada saat pengerjaan alih media. Tulisan ini akan menguraikan kiat-kiat melakukan kegiatan alih media mikrofilm agar diperoleh hasil yang memuaskan.
Membangun Budaya Kepustakawanan Indonesia: Reaktualisasi atau Reborn? Dwi Surtiawan
Media Pustakawan Vol 18, No 1 (2011): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.764 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i1.804

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas tentang identitas kepustakawanan Indonesia dengan pendekatan kebudayaan, khususnya budaya organisasi. Budaya organisasi memiliki potensi sebagai sumber keunggulan kompetitif, oleh karena itu budaya organisasi harus didesain sedemikian rupa sehingga menjadi suatu nilai yang unik dan hanya dimiliki organisasi tersebut. Perpustakaan perlu menemukan budaya organisasinya, karena (1) positioning perpustakaan di dalam benak masyarakat masih belum menguntungkan, (2) perubahan yang terjadi di perpustakaan sangat cepat, bukan saja sistem operasi dan organisasi, tetapi sampai pada level paradigma dan (3) tanpa ada perubahan yang signifikan, bukan tidak mungkin perpustakaan hilang karena kalah bersaing dengan Lembaga informasi yang baru. Upaya menciptakan budaya perpustakaan setidaknya harus dilakukan dengan mengaktualisasikan beberapa hal, yaitu (1) sejarah perpustakaan, (2) nilai dasar dan keyakinan, (3) simbol yang kasat mata dan (4) Bahasa dan ritual.
Logical Framework Pembangunan Perpustakaan Desa/Kelurahan dalam Rangka Peningkatan Kegemaran Membaca Adin Bondar
Media Pustakawan Vol 20, No 2 (2013): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.171 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i2.935

Abstract

Indonesia saat ini merupakan salah satu Negara yang memiliki daya saing rendah. Berdasarkan laporan United Nations Development Program, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2011 diurutan 124 dari 187 negara yang disurvei, dengan skor 0,617. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sesungguhnya belum memiliki daya saing yang kuat dalam menghadapi globalisasi dan liberalisasi.Salah satu dimensi dasar pembangunan manusia diukur dengan tingkat baca tulis. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 juga menunjukkan bahwa angka buta aksara penduduk Indonesia hampir 15 juta atau 8%. Penduduk berusia tua ternyata lebih tinggi dibanding penduduk usia muda, sedangkan angka buta aksara penduduk usia muda lebih banyak ditemukan di pedesaan (15,5 : 12,8), sebaliknya angka buta aksara penduduk usia tua lebih banyak di perkotaan (39,1 : 30,4). Kemampuan keaksaraan ditentukan oleh tingkat pendidikan sehingga mayoritas (84,3%) tidak/belum pernah sekolah dan sisanya pernah bersekolah maksimal sampai kelas IV Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI). Artinya, ada anak yang sudah pernah sekolah tetapi tidak bisa membaca. Kemungkinannya adalah: (1) pada dasarnya mereka belum bisa membaca; atau (2) mereka menjadi buta huruf kembali (rellapsed illiteracy) setelah tidak sekolah.
Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Mendukung Perpustakaan Umum Bertransformasi Anang Fitrianto Sapto Nugroho
Media Pustakawan Vol 25, No 4 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.57 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i4.194

Abstract

Abstrak Sebagai institusi pengelola sekaligus pelayanan informasi publik, perpustakaan umum menghadapi berbagai tantangan di era teknologi. Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat terbukti nyata mampu meningkatkan kinerja perpustakaan. Isu transformasi perpustakaan umum juga menuntut perpustakaan untuk memberikan layanan yang dibutuhkan masyarakat. Transformasi yang telah bergulir di seluruh dunia menuntut kesiapan perpustakaan dan pustakawan dalam setiap aktifitasnya. Pustakawan harus bersiap menjadi fasilitator, mentor sekaligus guru. Di sisi lain, penggunaan teknologi informasi di perpustakaan harus mampu mendukung ekosistem transformasi. Teknologi sosial bisa menjadi pilihan tepat dan berdaya guna untuk meningkatkan komunikasi perpustakaan dengan penggunanya. Teknologi sosial diharapkan mempu menjalin ikatan emosional perpustakaan dengan masyarakat. Abstract As a managing institution as well as public information services, public libraries face various challenges in the technological era. The rapid development of technology has proven to be able to improve library performance. The issue of public library transformation also requires libraries to provide services needed by the community. The transformation that has rolled out throughout the world demands the readiness of libraries and librarians in every activity. Librarians must be prepared to become facilitators, mentors and teachers. On the other hand, the use of information technology in libraries must be able to support the ecosystem transformation. Social technology can be a right and effective choice to improve library communication with its users. Social technology is expected to be able to establish the emotional bond of the library with the community.
Nilai Tambah Koleksi Digital Literatur Sekunder Eni Kustanti
Media Pustakawan Vol 23, No 1 (2016): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5334.887 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i1.843

Abstract

Seiring perkembangan teknologi informasi, pemustaka membutuhkan akses informasi secara cepat dan tepat. Proses digitalisasi suatu koleksi maupun pengadaan koleksi digital yang membutuhkan pendanaan cukup besar bisa disiasati dengan memberikan informasi digital berupa literatur sekunder, sehingga informasi bisa secara cepat diterima melalui koleksi digital literatur sekunder. Jenis-jenis koleksi literatur sekunder yang bisa dibuat dalam bentuk digital antara lain bibliografi, katalog, indeks, abstrak, resensi dan anotasi. Beberapa keuntungan adanya koleksi digital literatur sekunder, yaitu: 1) Memudahkan pemustaka dalam mencari koleksi yang dibutuhkan; 2) Sebagai sarana promosi koleksi perpustakaan; 3) Membantu pustakawan dalam memperoleh angka kredit. Pengembangan koleksi digital literatur sekunder harus didukung oleh beberapa faktor yaitu: 1) Kebijakan instansi; 2) Kompetensi pustakawan; dan 3) Otomasi perpustakaan
Perpustakaan dan Pendidikan Multikulturalisme Agus Rifai
Media Pustakawan Vol 14, No 2 (2007): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.05 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v14i2.973

Abstract

Multikulturalisme menjadi isu penting dalam upaya pembangunan kebudayaan di indonesia. Hal ini dikarenakan secara alami atau kodrati, manusia diciptakan tuhan dalam keanekaragaman kebudayaan, dan oleh karena itu pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman budaya tersebut.  Terjadinya konflik sosial yang bernuansa sara (suku, agama, dan ras) yang melanda negeri ini adalah akibat lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Pemahaman terhadap multikulturalisme merupakan kebutuhan bagi manusia untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang. Hal tersebut menandakan pentingnya pendidikan multikulturalisme harus dilakukan, baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang secara potensi dapat menumbuh kembangkan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Koleksi perpustakaan merupakan gerbang multikultural yang secara jelas menggambarkan beragam kebudayaan umat manusia. Melalui koleksi perpustakaan para pemakai perpustakaan mulai mengenal keragaman kebudayaan manusia untuk mencapai pemahaman dan pemaknaan terhadap perbedaan.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue