cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
me@hamidmukhlis.id
Phone
-
Journal Mail Official
jchseditor@gmail.com
Editorial Address
UKInstitute Lucky Arya Residence 2 No. 18, Jalan HOS. Cokroaminoto Kab. Pringsewu Lampung - Indonesia, Postal code 35373
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Journal of Current Health Sciences
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 28093275     EISSN : 28092236     DOI : https://doi.org/10.47679/jchs
Core Subject : Health, Science,
Journal of Current Health Sciences is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health, especially in nursing and midwifery. This journal is intended as a medium for communication among stakeholders on health research such as researchers, educators, students, practitioners of the Health Office, Department of Health, Public Health Service centre, as well as the general public who have an interest in the matter. This journal contains a script on Health Sciences that includes: Nursing Midwifery Environmental Health Mental health Community nursing Labor Health Public health critical care nursing Medical nursing Paediatric nursing
Articles 89 Documents
Reducing Labor Pain through Endorphin Massage: Clinical Evidence from Indonesia Sartika, Sartika; Noorlinda, Noorlinda
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 3: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025126

Abstract

Labor pain remains a critical challenge in maternal care, especially in resource-limited settings where access to pharmacological analgesia is restricted. Endorphin massage, a non-pharmacological intervention, offers a safe and evidence-based alternative, yet robust clinical data remain limited. This quasi-experimental study, conducted at Pancatengah Public Health Center, Indonesia, involved 15 mothers in active labor who received standardized endorphin massage during the first stage of labor. Pain intensity was measured pre- and post-intervention using a Numeric Rating Scale. Statistical analysis with the Mann-Whitney U test revealed a significant reduction in pain scores (p = 0.011; effect size r = 0.65), with most participants shifting from moderate or severe pain to mild or no pain, and no adverse events observed. These findings highlight the clinical and practical value of endorphin massage as a safe, accessible pain management strategy. Further studies with larger, controlled samples are recommended to confirm generalizability and address implementation challenges. Abstrak: Nyeri persalinan masih menjadi tantangan utama dalam pelayanan maternal, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses analgesia farmakologis. Pijat endorfin sebagai intervensi non-farmakologis menawarkan alternatif yang aman dan berbasis bukti, meskipun data klinis yang kuat masih terbatas. Penelitian kuasi-eksperimen ini dilakukan di Puskesmas Pancatengah, Indonesia, melibatkan 15 ibu bersalin pada kala I aktif yang menerima pijat endorfin terstandar. Intensitas nyeri diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale. Analisis statistik dengan uji Mann-Whitney menunjukkan penurunan skor nyeri yang signifikan (p = 0,011; effect size r = 0,65), dengan mayoritas responden mengalami perubahan dari nyeri sedang/berat menjadi ringan atau tanpa nyeri, dan tidak ditemukan efek samping. Temuan ini menegaskan nilai klinis dan praktis pijat endorfin sebagai strategi manajemen nyeri yang aman dan mudah diakses. Studi lanjutan dengan desain terkontrol dan sampel lebih besar direkomendasikan untuk mengonfirmasi generalisasi serta mengatasi tantangan implementasi.
Optimizing Hospital Tariffs and Resource Allocation through Unit Cost Analysis: Lessons from a Major Indonesian Public Hospital Igusti, Nuryanggi; Amalia AP , Andi Rizki; Arman, Arman
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 3: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025127

Abstract

This study analyzes the unit cost structure of services at the Regional General Hospital of Makassar City to support efficient resource allocation and sustainable hospital management. Employing a quantitative descriptive survey, the analysis estimates fixed, semi-variable, and variable costs for major service units using both primary and secondary financial data. Results reveal that building-related fixed costs constitute the largest share (IDR 13,847,892,310), while semi-variable and variable costs amount to IDR 140,617,360 and IDR 2,005,849,022, respectively. The total cost of services, assessed via three standard formulas, highlights the dominance of fixed assets and energy expenses. Comparative analysis and sensitivity testing indicate that improving asset management and energy efficiency are key to optimizing hospital costs. These findings provide a robust reference for rational tariff setting and evidence-based financial policies under Indonesia’s national health insurance system. Abstrak: Penelitian ini menganalisis struktur unit cost layanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Makassar guna mendukung alokasi sumber daya yang efisien dan pengelolaan rumah sakit yang berkelanjutan. Melalui survei deskriptif kuantitatif, analisis dilakukan terhadap estimasi biaya tetap, semi-variabel, dan variabel pada unit layanan utama dengan menggunakan data keuangan primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tetap yang berasal dari bangunan merupakan porsi terbesar (Rp13.847.892.310), sementara biaya semi-variabel dan variabel masing-masing sebesar Rp140.617.360 dan Rp2.005.849.022. Perhitungan total biaya layanan menggunakan tiga formula standar menegaskan dominasi aset tetap dan pengeluaran energi. Analisis komparatif dan uji sensitivitas menunjukkan bahwa optimalisasi manajemen aset dan efisiensi energi menjadi kunci pengendalian biaya rumah sakit. Temuan ini memberikan referensi kuat bagi penetapan tarif yang rasional dan kebijakan keuangan berbasis bukti dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional Indonesia.
Community-based insights on maternal nutrition knowledge and its role in preventing stunting and wasting in rural Indonesian children Wulandari, Dewi Triloka; Azizah, Ninik; Rahmawati, Vivin Eka; Annuchasari, Helmi
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 3: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025128

Abstract

Stunting and wasting remain significant public health challenges in Indonesia, with the 2023 SSGI survey reporting prevalences of 21.6% and 7.7% respectively—figures that exceed global targets, especially in rural areas. This qualitative case study, conducted in Mojowarno, Jombang Regency, was chosen due to its persistently high rates of child undernutrition and limited access to nutrition education. The study aimed to explore the relationship between maternal nutrition knowledge and the incidence of stunting and wasting among toddlers. Data were collected from 24 informants, including mothers, health workers, and a community volunteer, through in-depth interviews and triangulated with document and observation data. Results revealed that low maternal nutrition knowledge—characterized by limited understanding of balanced meals, meal timing, and child feeding practices—was a primary driver of malnutrition, regardless of parental occupation or income. The study highlights the urgent need for sustainable, community-based nutrition education interventions and cross-sectoral collaboration. Findings inform local policy and support targeted strategies for reducing stunting and wasting in similar rural contexts. Abstrak: Stunting dan wasting tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, di mana Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 melaporkan prevalensi masing-masing sebesar 21,6% dan 7,7%—angka yang masih melebihi target global, terutama di wilayah pedesaan. Studi kasus kualitatif ini dilakukan di Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang dipilih karena tingginya angka kekurangan gizi pada anak dan terbatasnya akses edukasi gizi di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan kejadian stunting dan wasting pada balita. Data dikumpulkan dari 24 informan yang terdiri dari ibu balita, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat melalui wawancara mendalam, serta triangulasi dengan data dokumen dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan gizi ibu—yang tercermin pada pemahaman terbatas tentang pola makan seimbang, jadwal makan, dan praktik pemberian makan anak—menjadi faktor utama terjadinya malnutrisi, terlepas dari pekerjaan atau pendapatan orang tua. Studi ini menyoroti perlunya intervensi edukasi gizi berbasis komunitas yang berkelanjutan serta kolaborasi lintas sektor. Temuan ini dapat menjadi acuan kebijakan lokal dan mendukung strategi terarah untuk menurunkan angka stunting dan wasting di wilayah pedesaan serupa.
Sociodemographic and psychosocial factors influencing Long-Term Contraceptive Method (LTCM) uptake among Indonesian women: A mixed-methods study Hayuning Tiyas, Ajeng; Amin, Erna; Anwar, Yulianti
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025129

Abstract

Despite the high effectiveness of long-term contraceptive methods (LTCM), participation rates in Indonesia—particularly in Mamuju—remain well below national targets, highlighting an urgent public health gap. This study addresses this issue by investigating the interplay of sociodemographic and psychosocial determinants shaping women’s decisions to adopt LTCM, using a sequential explanatory mixed-methods design. A total of 120 women of reproductive age were purposively sampled for quantitative analysis, followed by in-depth interviews with 10 diverse informants. Quantitative findings identified parity as the most influential factor: women with three or more children were over nine times more likely to use LTCM, followed by age over 35, knowledge, and husband’s support, while higher education showed an inverse association. Psychosocial variables such as value of children and perception of the ideal family, though culturally significant, did not independently predict LTCM use. Qualitative insights revealed that husband’s approval and practical economic or health concerns often outweighed cultural ideals. These results suggest that interventions must prioritize tailored IEC for high-parity and older women, empower male partners, and strengthen service accessibility. Family planning programs in similar contexts should integrate couple-based counseling and community engagement to drive LTCM uptake and address persistent gaps in reproductive health outcomes.
Analysis of Administrative Prescription Completeness to Improve Patient Safety in Primary Health Centers Tikirik, Wita Oileri; Yayyu, Riska
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025131

Abstract

A prescription is a legal document in the form of a written request from a doctor, dentist, or veterinarian to a pharmacist to provide and dispense medication to a patient in accordance with applicable laws and regulations. Prescriptions can be made in printed (paper-based) or electronic form. The completeness of prescription writing, especially from an administrative perspective, is crucial in preventing medication errors, ensuring clear communication between healthcare professionals, and supporting rational medication practices. However, in various primary healthcare facilities, such as community health centers, prescriptions that do not meet the established administrative standards are still found. This has the potential to increase the risk of errors in the process of preparing and administering medication to patients. This study aims to evaluate the completeness of prescription writing from an administrative perspective at the Bambu Community Health Center during August 2024. This study is descriptive quantitative in nature, using purposive sampling based on 1,674 prescriptions received during that period. The research sample was determined using the Slovin formula, resulting in 323 prescriptions. The results showed that 232 prescriptions (72%) were administratively complete, while 91 prescriptions (28%) were incomplete. The elements most often omitted were the doctor's name (only included in 258 prescriptions) and the doctor's initials (304 prescriptions). Other elements showed a fairly high level of completeness, such as the prescription date (309), R/ mark (323), signa or instructions for use (305), drug name (323), and patient data (310). These findings indicate that there are still weaknesses in meeting administrative prescription standards at Puskesmas, which can have an impact on patient safety and treatment effectiveness. Therefore, efforts need to be made to improve the prescription documentation system and increase medical personnel compliance with Indonesian Minister of Health Regulation No. 73 of 2016 concerning Pharmaceutical Service Standards at Puskesmas. Further research is recommended to explore the relationship between incomplete prescriptions and medication errors at the primary care level. Abstrak. Resep merupakan dokumen legal berupa permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat kepada pasien sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Resep dapat dibuat dalam bentuk cetak (paper-based) maupun elektronik. Kelengkapan penulisan resep, khususnya dari aspek administratif, sangat krusial dalam mencegah kesalahan pemberian obat, memastikan kejelasan komunikasi antar tenaga kesehatan, dan mendukung praktik penggunaan obat yang rasional. Namun, di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, masih ditemukan resep yang tidak memenuhi standar administratif yang ditetapkan. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kesalahan dalam proses penyiapan dan pemberian obat kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kelengkapan penulisan resep dari aspek administratif di Puskesmas Bambu selama bulan Agustus 2024. Penelitian ini bersifat kuantitatif deskriptif dengan metode purposive sampling, berdasarkan 1.674 resep yang masuk pada periode tersebut. Sampel penelitian ditentukan menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh 323 resep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 232 resep (72%) dinyatakan lengkap secara administratif, sedangkan 91 resep (28%) tidak lengkap. Rincian elemen yang paling sering tidak tercantum adalah nama dokter (hanya tercantum pada 258 resep) dan paraf dokter (304 resep). Elemen lainnya menunjukkan tingkat kelengkapan cukup tinggi, seperti tanggal resep (309), tanda R/ (323), signa atau aturan pakai (305), nama obat (323), dan data pasien (310). Temuan ini mengindikasikan bahwa masih terdapat kelemahan dalam pemenuhan standar administratif resep di Puskesmas, yang dapat berdampak pada keselamatan pasien dan efektivitas terapi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya perbaikan sistem dokumentasi resep dan peningkatan kepatuhan tenaga medis terhadap Permenkes RI No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam hubungan antara ketidaklengkapan resep dengan kejadian medication error di tingkat pelayanan primer
The Association between Body Dissatisfaction, Eating Disorders, and Nutritional Status of University Students Nugroho, Riezky Faisal; Wardani, Erika Martining
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025132

Abstract

This cross-sectional study examined whether body dissatisfaction and eating-disorder risk are associated with nutritional status among university health students in Surabaya, Indonesia. Using quota sampling, 117 students completed validated measures of body dissatisfaction (Contour Drawing Rating Scale, CDRS) and eating-disorder risk (Eating Attitudes Test-26, EAT-26); height and weight were measured to compute BMI as the indicator of nutritional status. Descriptive statistics characterized the sample, and chi-square tests assessed bivariate associations. Most respondents reported body dissatisfaction (82.1%), and 29.9% screened positive for elevated eating-disorder risk. Body dissatisfaction showed no significant association with nutritional status (p = 0.971), whereas eating-disorder risk was significantly associated with abnormal nutritional status (p = 0.003). These findings indicate a perceptual–behavioral decoupling in which dissatisfaction with body shape/size does not necessarily translate into measurable BMI differences at a single time point, while maladaptive eating behaviors are more proximally linked to weight-related outcomes. Scientifically, this contributes evidence that eating-disorder risk—not dissatisfaction per se—is the more informative correlate of nutritional status in this population. Practically, campus health programs should prioritize structured screening and early management of risky eating behaviors alongside upstream body-image literacy and counseling to reduce progression to disordered eating. Further research should test mediation/moderation pathways and employ probability sampling to strengthen generalizability. Abstrak. Penelitian potong lintang ini menelaah apakah ketidakpuasan tubuh dan risiko gangguan makan berasosiasi dengan status gizi pada mahasiswa kesehatan di Surabaya, Indonesia. Melalui teknik sampling kuota, sebanyak 117 mahasiswa mengisi instrumen tervalidasi untuk ketidakpuasan tubuh (Contour Drawing Rating Scale, CDRS) dan risiko gangguan makan (Eating Attitudes Test-26, EAT-26); tinggi dan berat badan diukur untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai indikator status gizi. Statistik deskriptif digunakan untuk mengarakterisasi sampel, dan uji chi-kuadrat menilai asosiasi bivariat. Mayoritas responden melaporkan ketidakpuasan tubuh (82,1%), dan 29,9% tersaring memiliki risiko gangguan makan. Ketidakpuasan tubuh tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan dengan status gizi (p = 0,971), sedangkan risiko gangguan makan berasosiasi signifikan dengan status gizi tidak normal (p = 0,003). Temuan ini mengindikasikan adanya keterputusan perseptual–perilaku, di mana ketidakpuasan terhadap bentuk/ukuran tubuh tidak serta-merta terwujud dalam perbedaan IMT pada satu titik waktu, sementara perilaku makan maladaptif lebih dekat terkait dengan luaran berbasis berat badan. Secara ilmiah, hasil ini menegaskan bahwa risiko gangguan makan—bukan ketidakpuasan tubuh semata—merupakan korelat yang lebih informatif terhadap status gizi pada populasi ini. Secara praktis, program kesehatan kampus perlu memprioritaskan skrining terstruktur dan penanganan dini perilaku makan berisiko disertai literasi citra tubuh dan konseling hulu untuk mencegah progresi menuju gangguan makan. Penelitian lanjutan sebaiknya menguji jalur mediasi/moderasi dan menggunakan sampling probabilitas untuk memperkuat generalisasi.
Enhancing Protein Density and Nutritional Value of Pumpkin–Skipjack Tuna Biscuits as a Complementary Food for Stunted Toddlers Juniarti, Rizky Auliah; Riswanti, Riswanti; Putri, Indah Perdana
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025135

Abstract

This experimental study evaluated pumpkin–skipjack tuna composite biscuits as a locally adaptable complementary snack for stunted toddlers. Using a completely randomized design with one control and four formulations, we quantified protein and iron and assessed sensory acceptance with 20 semi-trained adult panelists. Compared with the pumpkin-only control (3.37% protein), the best formulation (D: 461 g pumpkin; 125 g skipjack tuna) achieved 9.07% protein—an absolute gain of 5.70 percentage points and a 169% relative increase (t-test p = 0.025). Iron differed nonsignificantly across groups (e.g., formulation D descriptively higher), indicating matrix effects that warrant bioavailability testing. Focusing on key outcomes rather than detailed hedonic scores, we found formulation D to be most acceptable overall. A practical translation suggests a ~50 g serving could supply ~35–40% of the toddler protein RDA, while iron contributions remain uncertain pending bioavailability evidence. The sensory panel comprised adults (not toddlers), so future caregiver-assisted trials are needed to confirm end-user acceptance and safe portion sizes. In sum, moderate inclusion of skipjack tuna flour meaningfully enhances protein density without compromising acceptance, supporting the development of shelf-stable, culturally familiar snacks for nutrition programs targeting stunting; iron claims should remain cautious until bioavailability is established. Abstrak. Penelitian eksperimental ini mengevaluasi biskuit komposit labu–tepung ikan cakalang sebagai camilan pendamping yang dapat diadaptasi secara lokal bagi balita stunting. Dengan rancangan acak lengkap yang mencakup satu kontrol dan empat formulasi, kami mengukur kadar protein dan zat besi serta menilai penerimaan sensori menggunakan 20 panelis dewasa semi-terlatih. Dibandingkan kontrol berbasis labu saja (protein 3,37%), formulasi terbaik (D: 461 g labu; 125 g tepung ikan cakalang) mencapai protein 9,07%—kenaikan absolut 5,70 poin persentase dan peningkatan relatif 169% (uji t, p = 0,025). Kadar zat besi tidak berbeda signifikan antar kelompok (meski formulasi D lebih tinggi secara deskriptif), menunjukkan kemungkinan adanya efek matriks yang memerlukan uji bioavailabilitas. Berfokus pada luaran kunci alih-alih rincian skor hedonik, formulasi D menunjukkan penerimaan keseluruhan terbaik. Secara praktis, takaran saji ±50 g diperkirakan memenuhi ≈35–40% Angka Kecukupan Gizi protein balita, sementara kontribusi zat besi masih belum pasti sebelum bukti bioavailabilitas tersedia. Panel sensori terdiri atas orang dewasa (bukan balita), sehingga uji coba dengan pendampingan pengasuh diperlukan untuk mengonfirmasi penerimaan pengguna akhir dan keamanan takaran saji. Disimpulkan, inklusi moderat tepung ikan cakalang secara bermakna meningkatkan densitas protein tanpa menurunkan penerimaan, mendukung pengembangan camilan stabil-simpan yang akrab secara budaya bagi program gizi untuk penurunan stunting; klaim terkait zat besi perlu tetap hati-hati hingga bioavailabilitas terverifikasi.
Antibacterial Activity of the Traditional Drink Rorano Yuka Against Escherichia coli and Shigella dysenteriae Iqbal, Muhammad; Febrianty, Marisca; Musdalifah, Musdalifah; Hakim, Dian Safira B.
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025136

Abstract

Antimicrobial resistance (AMR) remains a growing global challenge, particularly among enteric Gram-negative pathogens such as Escherichia coli and Shigella dysenteriae, which continue to cause high morbidity in low-resource settings. In response, ethnopharmacological approaches offer promising, locally grounded alternatives. This study investigated the antibacterial activity of the traditional North Maluku herbal drink Rorano Yuka—a polyherbal decoction of ginger, turmeric, clove, lemongrass, cinnamon, galangal, black pepper, nutmeg, and areca nut—and its infusion against E. coli and S. dysenteriae. Using an agar diffusion assay across graded concentrations (2.5–10% w/v), both preparations exhibited inhibitory effects, with process-dependent variations. The decoction (Yuka) showed a clear dose–response pattern and achieved the strongest inhibition, surpassing the positive control against S. dysenteriae at 10%, while the infusion displayed peak activity at intermediate concentration against E. coli. These findings indicate that heat treatment enhances extraction of polar, heat-stable phytochemicals with broad antibacterial potential, whereas milder infusion may preserve volatile constituents. The results support Rorano Yuka’s potential as a culturally accepted, plant-based antibacterial candidate and contribute to evidence-based validation of traditional remedies. Future work should include phytochemical characterization, MIC/MBC assays, and in vivo evaluations to guide dose standardization, safety assessment, and integration into community-level diarrheal disease management. Abstrak. Resistensi antimikroba (AMR) tetap menjadi tantangan global yang terus meningkat, terutama pada patogen enterik Gram-negatif seperti Escherichia coli dan Shigella dysenteriae yang masih menyebabkan angka kesakitan tinggi di wilayah dengan sumber daya terbatas. Sebagai respons terhadap permasalahan ini, pendekatan etnofarmakologi menawarkan alternatif yang menjanjikan dan berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antibakteri dari minuman herbal tradisional Maluku Utara, Rorano Yuka—ramuan polih herbal hasil rebusan yang mengandung jahe, kunyit, cengkeh, serai, kayu manis, lengkuas, lada hitam, pala, dan pinang—serta hasil infusinya terhadap E. coli dan S. dysenteriae. Dengan menggunakan metode difusi agar pada berbagai konsentrasi (2,5–10% b/v), kedua sediaan menunjukkan efek penghambatan yang bervariasi tergantung pada proses persiapannya. Sediaan rebusan (Yuka) menunjukkan pola dosis–respon yang jelas dan menghasilkan daya hambat tertinggi, bahkan melampaui kontrol positif terhadap S. dysenteriae pada konsentrasi 10%, sementara sediaan infus mencapai aktivitas puncak pada konsentrasi menengah terhadap E. coli. Temuan ini menunjukkan bahwa proses pemanasan meningkatkan ekstraksi senyawa fitokimia polar dan stabil terhadap panas yang memiliki potensi antibakteri luas, sedangkan proses infus yang lebih ringan mampu mempertahankan komponen volatil. Hasil penelitian ini mendukung potensi Rorano Yuka sebagai kandidat antibakteri berbasis tanaman yang diterima secara budaya serta memberikan kontribusi terhadap validasi ilmiah obat tradisional. Penelitian lanjutan disarankan mencakup karakterisasi fitokimia, uji MIC/MBC, dan uji in vivo untuk menentukan standarisasi dosis, penilaian keamanan, serta integrasinya dalam pengelolaan penyakit diare berbasis masyarakat.
Situation Report of Clinical and Climatic Pattern Changes in Dengue Outbreaks in Bangladesh 2024–2025 Hossain, Tanvir; Chayan, Famous Uddin; Iqbal, Hrishik; Alam, Fahadul; Syrmos, Nikolaos
Journal of Current Health Sciences Vol. 5 No. 4: 2025
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jchs.2025137

Abstract

Dengue is still a big public health problem in Bangladesh, and the number of cases has risen rapidly in the last several years.  This review integrates epidemiological, clinical, and environmental data to clarify the determinants contributing to the country's dengue crisis.  A systematic literature search from 2001 to 2025 was carried out using PubMed and the Cochrane Library, resulting in 50 pertinent papers regarding dengue epidemiology, transmission dynamics, and health effects in Bangladesh.  The first report of dengue was in 1960, and the first epidemic was in 2000.  Dengue has since become endemic, with huge outbreaks in 2019 (101,354 cases; 164 deaths) and a terrible peak in 2023 (321,179 hospitalizations; 1,705 deaths).  Aedes aegypti has had good reproduction conditions because of changing weather, rising temperatures, unpredictable rainfall, and fast, unplanned urbanization.  Epidemiological changes encompass ongoing year-round transmission, an increase in secondary infections attributable to several serotypes, and a geographical spread from urban Dhaka to semi-urban and rural areas, including the Cox’s Bazar refugee camps.  In clinical practice, patients are increasingly diagnosed with atypical or "expanded dengue syndrome," and mortality is closely linked to shock and subsequent infections.  The expenses to society for each incidence are high, averaging US$479 in urban Dhaka.  People who are more likely to get sick or have mental health problems are youngsters, pregnant women, and the elderly.  Evidence shows that climate change and urbanization are working together to lengthen the dengue season, make epidemics worse, and put a load on Bangladesh's healthcare system.  To lessen the growing threat, it is important to improve surveillance, vector management, and investment in healthcare resilience.