cover
Contact Name
Aria Gusti
Contact Email
ariagusti@ph.unand.ac.id
Phone
+6282173932705
Journal Mail Official
editor.jk3l@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas Jalan Kampus Unand Limau Manis Padang 25613
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27764133     DOI : 10.25077/jk3l
Core Subject : Health,
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) adalah Jurnal ilmiah yang didirikan dan dikelola oleh bagian Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3/Kesling), Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas sejak tahun 2020. Terbit dua kali dalam setahun pada bulan Juni dan Desember (e-ISSN: 2776-4133). Sesuai namanya, Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) menerima naskah dalam tema umum : 1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2. Kesehatan Lingkungan. 3. Epidemiologi Lingkungan 4. Epidemiologi Kesehatan Kerja
Articles 113 Documents
Penilaian Risiko Total Suspended Particulate (TSP) pada Pekerja Produksi di PT Wijaya Karya Beton Tbk Pasuruan Azmiy Ihsany Bahri; Endang Dwiyanti; Faisal Al Farisi
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.45-51.2026

Abstract

Industri konstruksi merupakan sektor padat karya dengan potensi paparan debu tinggi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan pada pekerja. Data pengukuran lingkungan kerja di PT Wijaya Karya Beton Tbk Pasuruan menunjukkan adanya variasi konsentrasi debu total (Total Suspended Particulate/TSP) pada beberapa jalur produksi, dengan nilai tertinggi mencapai 1 mg/m³ di ruang produksi. Kondisi ini berpotensi melampaui nilai referensi risiko kesehatan dan memerlukan kajian kuantitatif untuk mengetahui tingkat risikonya. Penelitian ini bertujuan menilai risiko paparan TSP terhadap pekerja produksi menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025 dengan menggunakan data sekunder hasil pengukuran konsentrasi TSP pada beberapa area kerja, yang selanjutnya dihitung nilai Intake dan Risk Quotient (RQ).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Ruang Produksi Jalur 4 dengan konsentrasi TSP 1 mg/m³, nilai intake sebesar 0,0826 mg/kg/hari dengan RQ 4,13 (>1), menandakan potensi gangguan kesehatan. Sedangkan, pada area Wire Cagging Jalur 1-2 dan Jalur 6 dengan konsentrasi TSP 0,02 mg/m³, nilai RQ 0,08 (<1), masih dalam kategori aman. Upaya pengendalian risiko meliputi penerapan ventilasi mekanis sesuai SNI 03-6572-2001 pada area tertutup, housekeeping, pemantauan berkala, dan penggunaan alat pelindung diri.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja Operator PT. X di Kota Bontang Tsabita Radhiya Dzakira; Muhammad Sultan; Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Iwan Muhamad Ramdan; Dewi Novita Hardianti
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.52-59.2026

Abstract

Noise in the workplace is a major risk factor that can cause hearing loss, especially in the oil and gas industry, which has high noise exposure. Long-term exposure to noise above the Threshold Limit Value (TLV) can cause permanent Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Based on observations at PT. X, Bontang City, several areas showed noise levels above 85 dBA, potentially causing hearing impairment among workers. This study aims to determine the relationship between noise levels, length of service, use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities with hearing loss among operators at PT. X in Bontang City. The study used a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were obtained through noise measurements, questionnaires, and audiometric examination results. Analysis was performed using Spearman's Rank Correlation test to assess the relationship between variables. The results of the study show a significant relationship between noise levels (p=0.000, r=0.951), the use of hearing protection devices (p=0.000, r=- 0.645), and noisy hobbies or activities (p=0.006, r=0.398) with hearing impairment (p<0.05). However, the variable of length of service did not show a significant relationship (p=0.055, r=0.282). It can be concluded that noise levels, the use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities are associated with hearing loss, while length of service is not. It is recommended that companies conduct regular audiometric examinations at least twice a year, create Noise Contour Maps on a routine basis, and update noise warning signs in the workplace. The selection of comfortable EPP and education regarding the use of high-risk earphones are also necessary to prevent hearing loss and increase workers' awareness of the dangers of noise.
Perbandingan Penurunan Konsentrasi Mangan dalam Larutan Aqueous menggunakan Limbah Kulit Nangka dan Kulit Jengkol Trisfa Augia; Dendi Adi Saputra; Aliffa Oktanofrida Hade
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.82-92.2026

Abstract

Pencemaran mangan (Mn) dalam air dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan metode pengolahan yang efektif dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan limbah kulit nangka dan kulit jengkol dalam menurunkan konsentrasi mangan terlarut dalam larutan aqueous. Percobaan dilakukan dengan menambahkan 1 g biomassa ke dalam larutan MnSO4 artifisial, selama 30 menit kemudian difiltrasi untuk memperoleh fraksi mangan terlarut. Variasi perlakuan meliputi arang kulit jengkol tanpa aktivasi, pelet kulit nangka, serbuk kulit nangka (100 mesh), biochar kulit nangka, serta manganese greensand sebagai pembanding. Konsentrasi Mn dianalisis menggunakan metode spektrofotometri serapan atom, dan data diuji secara statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan arang kulit jengkol menurunkan konsentrasi Mn sebesar 4,81%. Serbuk kulit nangka dan biochar kulit nangka menunjukkan efisiensi penurunan tertinggi, masing-masing sebesar 65,4% dan 69,1%. Terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan menggunakan kulit jengkol dan kulit nangka. Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antara serbuk kulit nangka dan biochar. Perlakuan lainnya tidak berbeda signifikan terhadap kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa limbah kulit nangka berpotensi sebagai bahan adsorben yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk pengolahan air tercemar mangan. Ukuran partikel dan luas permukaan biomassa berperan penting dalam penurunan mangan terlarut.
Potential Health Risks From Mercury (Hg) Exposure Through Rice Consumption In The Sijunjung Gold Mining Area, West Sumatera: - Randy Novirsa; Aldifa Taufiqurrahman; Septia Pristi Rahmah; Fadilla Azmi
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.93-104.2026

Abstract

Accumulation of mercury (Hg) in food crops can pose serious health risks to humans. In Indonesia, the population may be exposed to mercury through rice consumption, a staple food cultivated in areas surrounding gold mining sites. This study aimed to estimate the health risk associated with mercury exposure through rice consumption among communities living near gold mining areas in Sijunjung Regency, West Sumatra, Indonesia. The study was conducted in artisanal and small-scale gold mining (ASGM) areas using a public health risk assessment approach, determining the risk quotient (RQ) by comparing estimated daily intake (EDI) with the reference dose (RfD) to evaluate real-time and lifetime risk levels. Rice (n = 6) and water (n = 6) samples were collected from paddy fields located near the mining areas, along with one market rice sample (n = 1) as a comparison. A total of 103 adult respondents were included in this study. Data were collected through structured interviews using a standardized questionnaire that assessed consumption habits and lifestyle patterns, including body weight. The results showed that the mean total mercury (T-Hg) concentration in rice from ASGM areas ranged from 0.0087 to 0.01 mg/kg. Exposure assessment indicated that the community was exposed to mercury at levels of 0.053 to 0.23 ug/kg/day through rice consumption. The risk quotient (RQ) values indicated a relatively low risk level based on the analyzed rice consumption pathway. In conclusion, mercury intake from rice consumption in communities around gold mining areas in Sijunjung Regency remains within a tolerable daily intake level. However, potential exposure through other pathways, such as inhalation and consumption of other food sources, warrants further investigation.
Analisis Pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap Gangguan Pernapasan pada Pekerja Sektor Informal Industri Tahu di Kelurahan Selili Alfina Rahma Adila; Ayudhia Rachmawati; Masithah Masithah; Vivi Filia Elvira; Syamsir Syamsir
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.105-115.2026

Abstract

Industri tahu sektor informal yang menggunakan bahan bakar kayu berpotensi menghasilkan partikulat PM10 dan PM2,5 dalam konsentrasi tinggi di lingkungan kerja. Kondisi ini menurunkan kualitas udara pada ruang produksi semi-indoor sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap gangguan pernapasan pada pekerja industri tahu di Kelurahan Selili. Metode yang digunakan adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) melalui pengukuran konsentrasi particulate matter menggunakan alat Dust Detector, serta wawancara menggunakan kuesioner St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) untuk menilai gangguan pernapasan. Selain itu, dilakukan perhitungan intake, Risk Quotient (RQ), dan analisis manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM10 sebesar 1,054 mg/m³ dan PM2,5 sebesar 0,333 mg/m³ pada 21 titik. Seluruh responden memiliki nilai RQ > 1 dengan rata-rata RQ PM10 sebesar 9,190 dan PM2,5 sebesar 2,258, yang menunjukkan pajanan melebihi batas aman. Kesimpulan penelitian ini adalah pajanan PM10 dan PM2,5 berada pada tingkat berisiko dan berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan. Disarankan pengendalian melalui penambahan ventilasi (exhaust fan), penggunaan masker N95, serta bahan bakar lebih ramah lingkungan, disertai edukasi dan pengawasan rutin untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Crowded Housing and Urban Residence as Risk Factors for Under-Five Children’s Pneumonia in Indonesia: Analysis of SSGI 2024 Data Fadilah Yuma Zahara; Defriman Djafri; Aria Gusti
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.116-122.2026

Abstract

Pneumonia remains the leading cause of morbidity and mortality among under-five children in Indonesia, with cases tending to increase each year. This study aimed to examine the association between crowded housing, cooking fuel type, nutritional status, sex, and classification of residence with the incidence of under-five children in Indonesia. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample included 201,017 children aged 12-59 months. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. The bivariate analysis of five variables showed that crowded housing (p=0.008; POR=1.273) and urban residence (p<0.001; POR=1.918) were significant risk factors for under-five children’s pneumonia. Meanwhile, sex (p=0.412), nutritional status (p=0.216), and cooking fuel type (p=0.290) did not show statistically significant associations. Crowded housing conditions and living in urban areas are significant risk factors for pneumonia in children under five in Indonesia. Public health interventions should prioritize improving household ventilation, reducing indoor crowding, and developing targeted pneumonia prevention programs in urban areas.
Hubungan Intensitas Kebisingan, Lama Paparan, Umur, dan Kecukupan Tidur Malam terhadap Tekanan Darah Tenaga Kerja Bagian Produksi Kantung Plastik di PT. X Kabupaten Sidoarjo Iga Putri Aulia; Winarko Winarko; Narwati Narwati
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.134-148.2026

Abstract

Kebisingan di lingkungan kerja yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA berpotensi meningkatkan tekanan darah tenaga kerja. Faktor lain yang turut memengaruhi meliputi lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan intensitas kebisingan, lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam terhadap tekanan darah tenaga kerja bagian produksi kantung plastik di PT. X. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Sampel penelitian berjumlah 49 responden yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pencatatan data tenaga kerja, menggunakan Sound Level Meter, serta pengukuran tekanan darah menggunakan Sphygmomanometer atau tensimeter jarum dan stetoskop sebelum dan sesudah bekerja. Hasil uji Korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas kebisingan (p=0,002; r=0,436) korelasi positif cukup, lama paparan (p=0,020; r=0,330) korelasi positif cukup, umur (p=0,000; r=0,548) korelasi positif cukup, serta kecukupan tidur malam (p=0,002; r=0,428) korelasi positif cukup dengan tekanan darah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intensitas kebisingan, lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam memiliki hubungan dengan tekanan darah tenaga kerja, dengan umur sebagai variabel yang memiliki hubungan paling kuat terhadap tekanan darah.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan CO2 Pada Pekerja TPAS Manggar Kota Balikpapan Vivi Filia Elvira; Morrin Choirunnisa Thohira; Ayudhia Rachmawati; Muhammad Aidil Fitrah; Syamsir Syamsir; Akhmad Dzikri
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.123-133.2026

Abstract

Paparan karbon dioksida (CO2) di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) berpotensi menimbulkan gangguan fisiologis pada pekerja akibat akumulasi gas dari dekomposisi sampah organik. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kesehatan lingkungan akibat paparan CO2 pada pekerja TPAS Manggar, Kota Balikpapan, menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian analitik observasional ini melibatkan 40 pekerja. Konsentrasi CO2 diukur menggunakan metode direct reading/real-time monitoring, disertai pengukuran faktor meteorologis dan respons fisiologis pekerja. Analisis risiko dilakukan melalui perhitungan Risk Quotient (RQ), sedangkan hubungan kategori intake dengan temperatur, frekuensi napas, kadar oksigen, dan denyut jantung dianalisis menggunakan uji chi-square dan independent t-test. Hasil menunjukkan konsentrasi CO2 meningkat dari 380 ppm menjadi 430 ppm pada kondisi kecepatan angin rendah (1,94 m/s), suhu 29–31°C, dan kelembaban tinggi (75–85%). Nilai RQ real-time (0,076), 10 tahun (0,426), dan 20 tahun (0,776) masih berada pada kategori aman (RQ<1), sedangkan RQ 30 tahun (1,126) menunjukkan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik akibat paparan jangka panjang. Frekuensi napas memiliki hubungan bermakna dengan kategori intake. Paparan CO2 di TPAS Manggar berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang sehingga diperlukan pemantauan kualitas udara, penggunaan APD, pengaturan waktu kerja, dan edukasi kesehatan kerja.
Rancang Bangun Prototipe Sistem Early Reporting Keluhan Kesehatan Berbasis QR Code sebagai Upaya Digitalisasi Surveilans K3 pada Industri Manufaktur Pangan Aina Salsabila
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.170-176.2026

Abstract

Sistem pelaporan keluhan kesehatan pekerja di PT. X masih menggunakan metode konvensional (lisan dan kertas), menyebabkan inefisiensi rekapitulasi data K3 dan keterlambatan koordinasi medis. Penelitian ini merancang prototipe sistem Early Reporting berbasis QR Code sebagai inovasi digitalisasi surveilans K3 di industri manufaktur pangan. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Instrumen berupa web-form terintegrasi cloud database telah divalidasi oleh praktisi EHS. Uji coba melibatkan 111 pekerja operasional melalui purposive sampling dengan pendekatan assisted user testing. Hasil menunjukkan tingkat keberhasilan akses 100%, dengan 77,5% pekerja melaporkan kondisi sehat (Fit to Work) dan 22,5% melaporkan keluhan dini. Sistem terbukti efisien dengan waktu pengisian kurang dari 2 menit per pekerja dan mampu mempercepat alur penanganan medis menjadi di bawah 15 menit. Kendala minor berupa keharusan login akun dinilai krusial untuk menjaga kerahasiaan dan validitas data. Sistem Early Reporting ini layak dan efektif dalam memfasilitasi real-time monitoring serta mendorong budaya participatory ergonomics demi terwujudnya manajemen K3 yang preventif.
Pemetaan Zona Risiko dan Distribusi Wildlife Hazard pada Area Airside di Bandara Internasional Minangkabau Muhammad Raghib Atha Maulana; Friska Eka Fitria; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.2.160-169.2026

Abstract

Keberadaan satwa liar di area airside berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Kondisi lingkungan sekitar Bandara Internasional Minangkabau seperti hutan, rawa-rawa, dan garis pantai mendukung aktivitas satwa liar sehingga diperlukan pemetaan zona risiko wildlife hazard pada area airside. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomologi yang dilaksanakan pada September 2025 - Februari 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen terhadap 7 informan yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi satwa liar, karakteristik lingkungan, dan frekuensi kemunculan wildlife hazard pada setiap zona area airside. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi wildlife hazard pada area airside tidak tersebar merata. Zona B sekitar middle marker (4 MM) Runway 33 menjadi area dengan tingkat kemunculan satwa tertinggi akibat kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas satwa liar. Satwa dominan yang ditemukan berupa burung serta satwa darat seperti babi dan anjing yang berpotensi menimbulkan bird strike dan runway incursion. Karakteristik lingkungan memengaruhi distribusi wildlife hazard pada area airside BIM. Zona B menjadi area prioritas pengendalian karena memiliki tingkat kemunculan wildlife hazard tertinggi. Pengendalian berbasis zona risiko melalui monitoring rutin, pengelolaan lingkungan, dan pengawasan area perimeter perlu ditingkatkan untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap keselamatan penerbangan.

Page 11 of 12 | Total Record : 113