cover
Contact Name
Raihan
Contact Email
litbangrsudza@gmail.com
Phone
+62651-34562
Journal Mail Official
litbangrsudza@gmail.com
Editorial Address
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abdidin, Jl. Tgk. Daud Beureueh No. 108, Bandar Baru, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Journal of Medical Science; Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh
ISSN : -     EISSN : 27217884     DOI : https://doi.org/10.55572/
Core Subject : Health, Science,
Journal of Medical Science (JMS; Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh) ISSN 2721-7884 diterbitkan oleh Divisi LITBANG Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh sejak bulan April 2020. Journal of Medical Science terbit dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan Bulan Oktober. JMS adalah jurnal open akses berbasis Open Journal System yang seluruh proses atau tahapan publikasi dilakukan secara online dengan melibatkan mitra bestari (peer-reviewed) dari berbagai topik ilmu bidang medis dan kesehatan. Naskah yang ingin dipublikasikan pada JMS harus merupakan naskah asli hasil penelitian dan juga naskah hasil studi literatur yang memiliki kontribusi dan aplikasi dengan bidang yang berkaitan dengan ilmu medis dan ilmu kesehatan dengan topik sebagai berikut: Ilmu Bedah Ilmu Penyakit Dalam Obstetri dan Ginekologi Ilmu Kesehatan Anak Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Neurologi Ilmu Kesehatan THTKL Ilmu Kesehatan Mata Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Anestesiologi dan Terapi Intensif Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Radiologi Mikrobiologi Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Patologi Klinik Patologi Anatomi Gizi Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa
Articles 100 Documents
Analisis Gambaran Elektroensefalografi (EEG) Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Lestari, Nova Dian Lestari; Astini, Nur; Amra, Khusnul
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.141

Abstract

Penyakit ginjal kronik masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Penyakit ginjal kronik sebagai kondisi umum yang dikaitkan dengan peningkatan risiko disfungsi organ multipel salah satunya dapat menyebabkan kerusakan otak dan bermanifestasi sebagai uremik ensefalopati. Diagnosis dini ensefalopati uremik merupakan hal yang sulit, patofisiologinya masih belum jelas, sangat kompleks dan bersifat multifaktorial. Kelainan gambaran elektroensefalografi telah diketahui sebagai salah satu tanda klinis pada penyakit ginjal kronik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis gambaran elektroensefalografi pada pasien penyakit ginjal kronik di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi target penelitian ini adalah semua pasien penyakit ginjal kronik yang dirawat di ruang rawat penyakit dalam RSUDZA selama periode penelitian dilakukan. Sampel penelitian ini adalah pasien penyakit ginjal kronik yang dirawat di ruang rawat penyakit dalam RSUDZA yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 30 sampel yang telah dipilih dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat untuk menyajikan frekuensi dan persentase dari keseluruhan sampel penelitian. Data juga dianalisis bivariat menggunakan uji chi square untuk melihat hubungan antar masing-masing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stadium penyakit ginjal kronik dengan gambaran EEG dengan presentase gambaran EEG abnormal sebesar 53,3% dimana 3,3% pada penyakit ginjal kronik stadium 3, 30% pada stadium 4 dan 20% pada stadium 5.
Perbandingan Tingkat Nyeri Biopsi Trans Torakal dengan Anestesi Topikal dan Anestesi Infiltrasi di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Ferry Dwi, Kurniawan; Dianova , Sri; Rinaldy, Rinaldy; Mulyana, Ilham
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.145

Abstract

Salah satu modalitas diagnosis kanker paru adalah biopsi trans torakal. Injeksi anestesi lokal pada prosedur ini dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman bagi pasien. Penggunaan anestesi topikal sebelum diberikan infiltrasi lidokain dapat mengurangi rasa nyeri. Saat ini belum ada laporan penggunaan anestesi topikal dalam prosedur biopsi trans torakal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan tingkat nyeri biopsi trans torakal pada penggunaan anestesi infiltrasi dengan penambahan anestesi topikal. Penelitian dilakukan sejak dari bulan Juni hingga September 2023 pada populasi pasien kanker paru yang berkunjung ke RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Kelompok pertama diberikan infiltrasi Lidokain HCl 2% lidan kelompok kedua diberikan penambahan gel lidokain 2% topikal sebelum infiltrasi Lidokain HCl 2% pada prosedur biopsi trans torakal. Derajat berat nyeri diukur menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS) dan Visual Analogue Scale (VAS). Karakteristik umum dan tingkat nyeri antar kelompok dibandingkan menggunakan uji statistik program R. Sebanyak 54 pasien terdiri dari 42 laki-laki (77.7%) dengan median usia 57.5 (20-80) tahun berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebanyak 41 pasien merokok (75.9%) dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 34 orang (62.9%) dan berkerja sebagai wiraswasta sebanyak 17 orang (31.5%). Median nyeri NRS adalah 5 (3-6) dan VAS yakni adalah 2 (1-3) lebih rendah pada kelompok dengan penambahan lidokain topikal dibandingkan median nyeri NRS yaitu 6.5 (5-8) dan VAS yakni 3 (1-5) pada kelompok infiltrasi lidokain. Pemberian anestesi topikal dapat mengurangi nyeri dengan cara menghambat ujung saraf di dermis. Walaupun faktor sosiodemografik mempengaruhi tingkat nyeri namun dalam penelitian ini tidak berhubungan. Penelitian acak tersamar ganda disarankan untuk aplikasi prosedur yang lebih luas.
Perancangan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Untuk Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Dengan Metode Gyssens di RSUD dr. Zainoel Abidin: Designing of Hospital Information System in Qualitative Evaluation of Antibiotic Use Based on The Gyssens Method at dr. Zainoel Abidin Hospital Siregar, Masra Lena; Rizal, Syamsul; Wahyudi, Aris
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.146

Abstract

Hingga kini penggunaan antibiotik di rumah sakit cukup tinggi yang berisiko meningkatkan bakteri resisten akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Selain itu terdapat faktor lain yang menyebabkan berkembangnya bakteri resisten yaitu penggunaan antibiotik dengan indikasi yang tidak jelas, cara pemakaian yang kurang tepat, status obat yang tidak jelas, serta pemakaian antibiotik secara berlebihan. Metode Gyssens merupakan alat penilaian kualitatif yang sudah dipergunakan secara manual oleh PPRA di Indonesia. Evaluasi kualitatif penggunaan antibiotik dengan metode Gyssens menilai ketepatan penggunaan antibiotik yang meliputi ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga dan spektrum, lama pemberian, dosis, interval, rute dan waktu pemberian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu sistem informasi dan teknologi atau program perangkat lunak dalam mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik dengan menggunakan metode Gyssens. Disain penelitian ini adalah non eksperimental dengan rancangan penelitian secara deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif di RSUD dr. Zainoel Abidin. Data diambil dari catatan pengggunaan obat dan rekam medis pasien dengan diagnosis penyakit infeksi yang mendapatkan terapi antibiotik. Data catatan penggunaan obat yang telah di review secara manual diolah untuk mengetahui rasionalitas antibiotik kemudian dibuatkan desain sebuah program perangkat lunak untuk memudahkan dalam evaluasi kualitatif. Hasil penelitian ini didapatkan pada penggunaan antibiotik empiris dari total 156 diperoleh sebanyak 85 (54,5%) yang rasional (kategori 0). Sementara pada penggunaan antibiotik definitif dari total 64 diperoleh sebanyak 33 (51,5%) yang rasional (kategori 0). Jenis antibiotik empiris yang banyak digunakan adalah meropenem sedangkan antibiotik definitif terbanyak digunakan adalah vancomicin. The use of antibiotics in hospitals is currently quite high which can increase the risk of bacterial resistance due to irrational use of antibiotics. The other factors that cause the development of bacterial resistance, including the use of antibiotics with inappropriate indications, inappropriate methods of use, unclear drug routes, and excessive use of antibiotics. The Gyssens method is a qualitative assessment that has been used manually by PPRA in Indonesia. Qualitative evaluation of antibiotic use using the Gyssens method to assess the appropriateness of antibiotic use which includes accuracy of indication, accuracy of selection based on effectiveness, toxicity, price and spectrum, duration of administration, dose, interval, route and time of administration. The aim of this research is to develop an information and hospital information system program to eliminate the use of antibiotics using the Gyssens method. This research design is non-experimental with a descriptive method. Data collection was carried out retrospectively at RSUD dr. Zainoel Abidin on inpatients in May to July 2023. Data was taken from drug use records and medical records of patients diagnosed with infectious diseases who received antibiotic therapy. Data on drug use records that have been manually reviewed to determine the rationality of antibiotics, then designed a hospital information system to facilitate qualitative evaluation. The results of this study were obtained on the use of empirical antibiotics, out of a total 156, 85 (54.5%) were rational (category 0). Meanwhile, out of a total 64 definitive antibiotics, 33 (51.5%) were rational (category 0). The most widely used type of empirical antibiotic is meropenem, while the most widely used definitive antibiotic is vancomycin. Keywords: antibiotic, Gyssens, qualitative, hopital information system
Efektifitas Terapi Kombinasi Gazoprevir Dan Elbasvir Pada Koinsidensi Infeksi Hepatitis C Dengan Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Abubakar, Azzaki; Gunawan, Andrie; Sari, Julia
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.147

Abstract

Infeksi virus hepatitis C kronis (HCV) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas terkait hati di seluruh dunia dan merupakan predisposisi fibrosis hati dan komplikasi hati stadium akhir. Tidak berbeda dengan hepatitis C, PGK juga masih menjadi masalah kesehatan dan beban ekonomi yang tinggi di dunia. Pada tahun 2017 prevalensi hepatitis C pada pasien hemodialisis di 3 unit HD rumah sakit di Jakarta sebesar 38%. Pasien PGK yang terinfeksi VHC memiliki risiko penurunan fungsi ginjal yang lebih cepat dibandingkan yang tidak terinfeksi VHC. Ditemukan juga adanya peningkatan mortalitas pasien PGK yang terinfeksi hepatitis C. RSUDZA merupakan salah satu dari Rumah Sakit pemerintah yang dilibatkan dalam program pengobatan infeksi hepatitis C pada pasien PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana insidensi pasien PGK yang terinfeksi hepatitis C yang menjalani hemodalisa dan mengetahui bagaimana identifikasi data demografi pasien dan nilai laboratorium terhadap keberhasilan pengobatan sesuai dengan prosedur tetap pada pasien infeksi hepatitis C. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain cross sectional. Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan hasil anti HCV positif dilakukan pendataan umur, jenis kelamin, lamanya HD, riwayat transfusi, riwayat keluarga dan ada tidaknya penyakit komorbid seperti diabetes mellitus dan hipertensi. Lalu dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa AST, Platelet, Ureum, Kreatinin, Anti HCV dan HCV RNA. Pasien juga dilakukan penilaian terhadap derajat fibrosis yaitu penilaian skor APRI. Pasien diberikan terapi dengan menggunakan Grazoprevir/elbasvir selama 12 minggu, lalu dinilai ulang keberhasilan terapi dengan terdeteksi atau tidak terdeteksinya Anti HCV dan HCV RNA. Pasien dilakukan evaluasi laboratorium pada minggu ke 4, ke-8 dan ke -12. Didapatkan 15 dari 294 pasien PGK yang menjalani hemodialisis (5,11 %) menunjukkan hasil anti HCV positif dengan usia penderita terbanyak diatas 45 tahun (39.47%) serta didominasi jenis kelamin perempuan (60%). Dari 38 pasien anti HCV positif didapatkan 12 pasien (80 %) dengan HCV RNA terdeteksi. Kelompok yang diterapi terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang tuntas menjalani pengobatan selama 12 minggu sebanyak 4 pasien (33,33%). Pasien tuntas menjalani pengobatan selama 3 bulan pengobatan dengan keseluruhan hasil HCV RNA tidak terdeteksi lagi, terdapat perbaikan nilai SGOT dan penurunan skor APRI yang menunjukkan perbaikan fibrosis hati. Pasien hepatitis C yang patuh menjalani pengobatan dan tatalaksana hepatitis C mendapatkan hasil yang baik dan terjadi perbaikan terhadap fibrosis hati serta parameter laboratorium. Kepatuhan terhadap pengobatan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari pasien sendiri dan keluarga, ketersediaan obat, akses ke pusat layanan kesehatan dan edukasi yang optimal.
Hubungan Skor CHADS2 dan CHA2DS2-VASc dengan Keluaran Stroke Iskemik: Correlation of CHADS2 and CHA2DS2-VASc Scores with Ischemic Stroke Outcomes Imran; Farida; Syahrul; Desi Ramayana
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.149

Abstract

Skor CHADS2 dan CHA2DS2-VASc terkait dengan faktor risiko vaskuler seperti hipertensi, DM, riwayat-stroke/TIA, dan usia lanjut. Peningkatan skor ini cenderung meningkatkan atherosklerosis sehingga kemungkinan akan memperburuk keluaran stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan skor CHADS2 dan CHA2DS2-VASc dengan keluaran stroke iskemik. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah penderita stroke iskemik akut yang dirawat di Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh berjumlah 80 orang terdiri atas 38 pria (usia 60.1 + 9.0 tahun) dan 42 wanita (usia 63.0 + 11.2 tahun). Hasil penilaian keluaran fungsional stroke berdasarkan Indeks Barthel (IB) umumnya membaik/menetap yaitu 78 (97.5%) dan memburuk 2(2.5%) dengan skor CHADS2 terbanyak 2(41,3%), 3(23.8%) dan 4(18.8%), skor CHA2DS2-VASc 2(30.0%), 4(22.55%), 3 dan 5 (17.5%). Penilaian keluaran keparahan stroke berdasarkan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) umumnya membaik/menetap yaitu 79 (98.8%) dan memburuk 1 (1.2%) dengan skor CHADS2 terbanyak 2 (40,0%), 3(25.0%) dan 4(20.0%), skor CHA2DS2-VASc 2(30.0%), 4(22.55%), 3 dan 5 (17.5%). Penilaian keluaran stroke berdasarkan modified Rankin Scale (mRS) umumnya skor 1(45.8%) dan 4(21.3%). Skor CHADS2 umumnya 2(41.3%), 3(25.0%) dan 4(20.0%). Skor CHA2DS2-VASc 2(30.0%), 4(22.5%), 3(18.8%) dan 5(17.5%). Skor CHADS2 dan CHA2DS2-VASc menunjukkan hubungan yang bermakna dengan keluaran fungsional stroke (IB, IK95%, p=0.047 dan p=0.045), keluaran keparahan stroke (NIHSS; IK95%,p=0.000 dan p=0.000) dan keluaran disabilitas stroke (mRS; IK95%,p=0.000 dan p=0.000). Semakin tinggi Skor CHADS2 dan CHA2DS2-VASc semakin memburuk keluaran stroke karena kecenderungan peningkatan atherosklerosis pada pembuluh darah otak.
Korelasi Kualitas Tidur Dengan Fungsi Kognitif pada Tenaga Kesehatan Post Covid-19 di RSUDZA Ika Marlia; Suherman, Suherman; Rachmawati, Cut Sri
Journal of Medical Science Vol 5 No 2 (2024): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v5i2.150

Abstract

Long COVID is a condition when a COVID-19 survivor continues to experience symptoms of the disease for an extended period, even after having recovered from COVID-19, which is characterized by fatigue, neurocognitive impairment, muscle pain, weakness, and depression, which persist for more than 3-12 weeks after SARS-CoV-2 infection. Individuals infected with COVID-19 and healthcare workers on the front lines are at higher risk than others. Sleep quality parameters consist of quantitative aspects such as sleep duration and sleep latency, as well as subjective aspects such as deep sleep and rest. Some studies have reported that a decrease in sleep quality is closely related to an increased risk of cognitive decline. This study aims to determine the correlation between sleep quality and cognitive function in healthcare workers post-COVID-19 at RSUDZA. The research design used in this study is a cross-sectional. The subjects are healthcare workers at RSUDZA Banda Aceh who meet the inclusion criteria. The sample was selected using consecutive for assessing cognitive function using the MoCa-Ina and assessing sleep quality with PSQI. Data were analyzed using Spearman's correlation statistical test to examine the relationship between variables. There were 54 respondents, mostly female (79.6%). The MoCA-Ina score was >26 for 74.1% of respondents. Regarding the PSQI score in this study, most respondents (57.4%) had a score >5. The results of Spearman's correlation statistical test showed that there was no correlation between sleep quality and cognitive function in healthcare workers post-COVID-19 at RSUDZA.
Analisis Perbedaan Angka Kesintasan pada Pasien Karsinoma Laring Yang Menjalani Total Laringektomi Dengan Dan Tanpa Diseksi Leher Fadhlia; Kurnia , Benny; Setiani, Lily; Fitria, Sova; Denantika, Oktaria; Suhanda, Rachmad
Journal of Medical Science Vol 6 No 1 (2025): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v6i1.117

Abstract

Pilihan terapi untuk karsinoma laring yang progresif (T3-T4) adalah operasi, baik untuk tumor laring maupun diseksi nodul pada leher, yang setelah itu dilanjutkan dengan kemoterapi, radiasi atau kombinasi kemoradiasi. Diseksi nodul pada leher dilakukan sesuai stadium penyakit. Sebagian besar pasien yang terdiagnosis pada stadium lanjut atau metastasis nodal regional, umumnya memiliki tingkat kelangsungan hidup 50%. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan angka kesintasan pasien dengan karsinoma laring yang telah menjalani total laringektomi dengan atau tanpa diseksi leher. Pengumpulan data menggunakan rekam medis pasien yang berobat ke Departemen THT-BKL RSUD dr. Zainoel Abidin sejak 1 Juli–30 September 2022. Metode penelitian berupa analitik observasional retrospektif dengan desain khusus analisis kesintasan, Diperoleh total 36 subjek, seluruhnya laki-laki, terbanyak (47,2%) pada kelompok usia 56-65 tahun. Mayoritas subjek (97,2%) memiliki riwayat merokok lebih dari 30 tahun, dengan 44,4% lokasi tumor berada di transglotis, dan pasien terbanyak (88,9%) datang ke rumah sakit pada stadium IV, secara histopatologi 75% jenis keratinizing squamous cell carsinoma. Sejumlah 41,7% menjalani total laringektomi saja dan 58,3% menjalani total laringektomi disertai diseksi leher. Hasil analisis kurva Kaplan Meier didapatkan angka bertahan hidup pada total laringektomi rata-rata 33,24 bulan dan 34,29 bulan pada total laringektomi dengan diseksi leher. Penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada angka kesintasan pasien karsinoma laring yang menjalani total laringektomi dengan dan tanpa diseksi leher.
Hubungan antara Faktor Prediktor dengan Masalah Psikologis pada Pasien dengan Pengobatan Hemodialisa Riska Afrina; Zulfa Zahra; Pamungkas, Subhan Rio
Journal of Medical Science Vol 6 No 1 (2025): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v6i1.121

Abstract

Masalah psikologis seperti depresi dapat dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani pengobatan hemodialisis. Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa efek seperti ketidakpatuhan terhadap pengobatan, meningkatkan resiko rawat inap, menimbulkan beban pada caregiver, menurunkan kualitas hidup pasien bahkan beresiko lebih tinggi terhadap kematian. Beberapa penelitian sebelumnya di RSUD dr. Zainoel Abidin menunjukkan angka depresi pada pasien yang menjalani hemodialisa cukup tinggi. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya kondisi depresi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fator prediktor seperti kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial dengan masalah psikologis seperti depresi pada pasien hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan potong lintang (cross-sectional). Populasi adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Teknik sampling menggunakan concecutive sampling selama periode Mei 2023 sampai Juli 2023, dan sampel berjumlah 88 responden. Variabel tergantung adalah depresi. Variabel bebas adalah kepribadian, mekanisme koping, dan persepsi dukungan sosial. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan 64 responden tidak depresi (72,7%), 9 responden depresi ringan (10,2%), 7 responden depresi sedang (8%), 6 responden depresi parah (6,8%), dan 2 responden depresi sangat parah (2,3%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan antara kepribadian dengan tingkat depresi (p value = 0,005). Kepribadian yang paling rentan mengalami depresi adalah tipe neuroticism, dimana sebanyak 50% dari kelompok kepribadian neuroticism menderita depresi yang sangat parah. Uji korelasi juga menunjukkan adanya hubungan antara kepribadian neuroticism dengan tingkat depresi (p value = 0,000). Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat depresi (p value = 0,017). Pasien dengan strategi emotion-focused coping mengalami kecenderungan menderita depresi yang lebih tinggi. Kemudian juga didapatkan adanya hubungan antara persepsi dukungan sosial dengan tingkat depresi (p value = 0,015), dimana 33,3% pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD dr. Zainoel Abidin yang mengalami tingkat depresi sangat parah berasal dari responden dengan persepsi dukungan sosial yang rendah.
Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien menggunakan Instrument Agency For Healthcare Research And Quality (AHRQ) 2.0 Akbar, Zaki; Wulandari, Siska; Yumiati, Titi
Journal of Medical Science Vol 6 No 1 (2025): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v6i1.129

Abstract

Budaya keselamatan pasien merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Pengukuran budaya keselamatan pasien melalui survei budaya penting untuk dilakukan oleh fasilitas kesehatan guna identifikasi permasalahan serta menentukan Langkah perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya keselamatan pasien di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2023. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dengan menilai budaya keselamtan pasien menggunakan kuisioner Hospital Survey on Patient Safety Culture dari Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) 2.0. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai September 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 1017 responden. Dari 10 dimensi tersebut terdapat budaya kuat pada 5 dimensi yaitu dimensi harapan dan tindakan manajer dalam mempromosikan patient Safety, dimensi organizational learning-perbaikan berkelanjutan, dimensi kerjasama dalam unit, dimensi komunikasi terbuka, serta dimensi umpan balik dan komunikasi terhadap kesalahan. Sedangkan 5 dimensi lainnya termasuk katagori budaya sedang yaitu staffing, dukungan manajemen terhadap patient safety, hansoff dan transisi, persepsi staff mengenai patient safety, dan frekuensi pelaporan kejadian, dengan nilai terendah didapatkan pada budaya staffing. RSUD dr. Zainoel Abidin berada pada kategori budaya sedang yang ditandai dengan respon positif pada 10 dimensi sebesar 69,5 %.
Perbandingan Transpor Mukosiliar Pada Pasien Trakeostomi di Bagian THT-KL RSUD DR. Zainoel Abidin Banda Aceh chudri, Suriyanti; Kurnia, Benny; Tria Andini, Dena
Journal of Medical Science Vol 6 No 1 (2025): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v6i1.130

Abstract

Trakeostomi adalah operasi relatif umum digunakan untuk menjaga jalan napas, mengurangi dead space area dan memperlancar akses ke saluran pernapasan bagian bawah, dengan melewati saluran pernapasan bagian atas. Namun dalam melakukan trakeostomi ada banyak efek samping yang didapatkan antara lain fungsi dari saluran nafas atas terganggu sehingga menyebabkan produksi sekret bertambah, selain itu trakeostomi juga dapat mengakibatkan terganggunya sistem mukosiliar yang menyebabkan perubahan sillia epitel sehingga udara menjadi lebih kering, perlu untuk diketahui kapan terjadi perubahan waktu transpor mukosiliar pada pasien dengan trakeostomi. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan transpor mukosilliar pada pasien trakeostomi. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan design cross sectional untuk mengetahui perbandingan rerata waktu transpor mukosiliar pasien trakeostomi menggunakan tes sakarin. Data diuji menggunakan Uji Mann-Whitney jika uji tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 22 sampel, dibagi menjadi 11 sampel pada kelompok pasien trakeostomi ≤ 3 bulan dan 11 sampel pada kelompok pasien trakeostomi > 3 bulan. Hasil analisis uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbandingan rerata waktu transpor mukosiliar pasien trakeostomi ≤ 3 bulan dan pasien trakeostomi > 3 bulan (p<0,05) dimana terjadi peningkatan waktu transpor mukosiliar pada pasien trakeostomi > 3 bulan (15,32 ± 1,62 menit) dibandingkan pasien trakeostomi ≤ 3 bulan (9,5 ± 3,46 menit). Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat perbedaan perbandingan rerata waktu transpor mukosiliar pasien trakeostomi ≤ 3 bulan dan pasien trakeostomi > 3 bulan.

Page 8 of 10 | Total Record : 100