cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 124 Documents
GANGGUAN CEMAS PADA LANSIA : SEBUAH LAPORAN KASUS SUMINAR, THERESIA ELISABETH LINTANG; DINIARI, NI KETUT SRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2574

Abstract

All humans will undergo aging, which has significant impacts both physically and mentally. Anxiety disorders are psychiatric disorders commonly encountered in the elderly and correlate with increased health burden, morbidity, mortality, and poor quality of life. The elderly with cardiovascular and multimorbid diseases are at a higher risk of experiencing anxiety disorders. This disorder can be a continuation of previous occurrences or a first-time event. The interaction between neurobiological, psychological, and environmental factors triggers the onset of this disorder. Diagnosis enforcement is often challenging due to comorbidity with other psychiatric disorders such as depression or cognitive disorders, as well as the similarity of anxiety symptoms to symptoms caused by other medical conditions or aging. The elderly find it difficult to accurately describe and identify anxiety. Expertise is required to establish an accurate diagnosis. Unfortunately, this disorder often does not receive proper treatment, even though optimal management is crucial to improving outcomes and achieving optimal quality of life in the elderly. Pharmacotherapeutic approaches require special attention due to the impact of aging on organ function. ABSTRAKSemua manusia akan mengalami penuaan yang memiliki dampak signifikan baik secara fisik maupun mental. Gangguan cemas merupakan gangguan psikiatri yang sering dijumpai pada lansia, dan berkorelasi dengan peningkatan beban kesehatan, morbiditas, mortalitas dan kualitas hidup yang buruk. Lansia yang menderita penyakit kardiovaskular dan multimorbitas memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan cemas. Gangguan ini dapat merupakan kelanjutan terhadap kejadian sebelumnya atau sebagai kejadian pertama. Adanya interaksi antara faktor neurobiologi, psikologis dan lingkungan memicu timbulnya gangguan ini. Penegakan diagnosis seringkali menantang, karena berkomorbid dengan gangguan psikiatri lainnya seperti depresi atau gangguan kongnitif, serta adanya kemiripin gejala cemas dengan gejala akibat kondisi medis lain, atau akibat penuaan. Lansia sulit untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi cemas secara akurat. Perlu keahlian dalam menegakan diagnosis yang akurat. Sayangnya, gangguan ini sering kali belum mendapatkan penanganan yang baik, padahal tatalaksana optimal penting untuk meningkatkan luaran dan mencapai kualitas hidup yang optimal pada lansia. Pendekatan farmakoterapi membutuhkan perhatian khusus sebagai dampak penuaan pada fungsi organ tubuh.
TERAPI SENI PADA PASIEN DALAM PERAWATAN PALIATIF: SEBUAH LAPORAN KASUS WAHYUDIANTO, NUR; ARIANI, NI KETUT PUTRI; WARDANI, IDA AJU KUSUMA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2575

Abstract

Palliative care is a medical approach that aims to improve the quality of life of patients facing serious and incurable illnesses. Communication and expression of emotions in patients in palliative care is often a challenge. Art therapy has gained attention as an additional approach to helping patients overcome communication difficulties and express feelings. A 39 year old man suffering from advanced cancer. During hospitalization, patients often look sad, anxious and irritable. The art therapy chosen by the patient was drawing using drawing books and colored pencils as media. Art therapy sessions help patients feel calmer and reduce anxiety related to palliative care. The application of art therapy results in a marked improvement in the patient's ability to communicate and express emotions. Patients engage in various artistic media to convey feelings and thoughts that were previously difficult to articulate verbally. Art therapy has the potential to improve communication and emotional expression in patients undergoing palliative care. This approach can be an important complement to holistic care for patients with serious illnesses. ABSTRAKPerawatan paliatif merupakan pendekatan medis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang menghadapi penyakit serius dan tidak dapat disembuhkan. Komunikasi dan ekspresi emosi pada pasien dalam perawatan paliatif sering kali menjadi tantangan. Art therapy telah mendapatkan perhatian sebagai pendekatan tambahan dalam membantu pasien mengatasi kesulitan komunikasi dan mengungkapkan perasaan. Seorang laki-laki berusia 39 tahun yang menderita kanker stadium lanjut. Selama dirawat di rumah sakit, pasien sering terlihat sedih, cemas dan mudah tersinggung. Art therapy yang dipilih oleh pasien adalah menggambar dengan media berupa buku gambar dan pensil warna. Sesi art therapy membantu pasien merasa lebih tenang dan mengurangi kecemasan terkait perawatan paliatif. Penerapan art therapy menghasilkan peningkatan yang nyata dalam kemampuan pasien untuk berkomunikasi dan mengekspresikan emosi. Pasien terlibat dalam berbagai media seni untuk menyampaikan perasaan dan pikiran yang sebelumnya sulit diartikulasikan secara verbal. Art therapy memiliki potensi untuk meningkatkan komunikasi dan ekspresi emosi pada pasien yang menjalani perawatan paliatif. Pendekatan ini dapat menjadi pelengkap penting dalam perawatan holistik bagi pasien dengan penyakit serius.
KEPATUHAN PENDERITA STROKE YANG MENGALAMI IMOBILISASI TERHADAP CAREGIVER DAN TATALAKSANA STROKE DI RUMAH TUNIK, TUNIK
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2586

Abstract

Stroke is a cerebrovascular disease that not only causes death but also long-term disability. Such disability is not only physical but also mental, especially for those in the productive age group. Following the treatment process, both in the hospital and at home, it is essential for patient recovery. This study aimed to analyze the compliance of immobilized stroke patients in managing their condition at home, as well as their compliance with caregivers. The research adopts a qualitative approach with an action research method. The sample comprises 15 recurrent stroke patients who are immobilized, selected through purposive sampling in the Stroke Unit Room of Dr. Soedomo Hospital, Trenggalek. The author conducted in-depth interviews to identify the needs required to care for post-hospital stroke patients at home and their compliance during stroke. Based on the findings from seven cycles of research stages and four meetings with patients, the researchers developed modules and provided education. The study revealed that before education, stroke patients' compliance was influenced by a lack of knowledge, customs, culture, information, and learning. Meanwhile, after receiving education, patient compliance was influenced by the experience of illness and trauma, support needs, habits, motivation, and the roles of others. ABSTRAKStroke adalah suatu penyakit cerebrovaskuler dimana selain menyebabkan kematian, stroke menimbulkan kecacatan jangka panjang, kecacatan akibat stroke bukan hanya cacat fisik semata, namun juga cacat mental, terutama pada usia produktif. Kepatuhan pasien dalam mengikuti proses perawatan baik di Rumah sakit maupun di Rumah sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalis kepatuhan pasien stroke yang mengalami imobilisasi dalam tatalaksana pasien stroke di rumah, dan kepatuhan pasien terhadap caregiver di rumah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan action research. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 penderita stroke berulang dengan imobilisasi. Sampel diambil dengan pendekatan purposive sampling di Ruang Unit Stroke RSUD dr. Soedomo Trenggalek. Partisipan dilakukan wawancara mendalam untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan untuk proses perawatan pasien post hospital di rumah, serta kepatuhan mereka selama mengalami stroke. Peneliti melakukan action berupa membuatkan modul dan memberikan edukasi berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan melalui 7 siklus tahapan penelitian dan 4 kali pertemuan dengan pasien. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan penderita stroke sebelum diberikan edukasi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kurang pengetahuan; kenyamanan, kebiasaan dan budaya; kurang informasi, kurang belajar; dan kestersediaan informasi. Kepatuhan pasien setelah diberikan edukasi dipengaruhi oleh factor pengalaman sakit dan trauma; memutuhkan dukungan, kebiasaan; motivasi; dan memutuhkan peran orang lain.
PEMANFAATAN OBAT BAHAN ALAM SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN DI MASA PANDEMI COVID-19 INDRIANI, LELLA RITA; K.N, LIA ARDIANA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2608

Abstract

The Health System was not ready when COVID-19 hit Indonesia, thereby contributing to disease transmission and increasing mortality. Various biodiversity in indonesia has the potential to developed into natural medicine products as an alternative therapy for COVID-19. Herbal/ Jamu drinks culture has used by Indonesian people, so in this research, an assessment was carried out of its use as an alternative therapy for COVID-19 and its impact on social culture, health, and the economy through a review of primary data (registered product registration) and secondary data. The research results showed an increase in self-medication during the pandemic of 15.9% (p>0.05) by purchasing herbal medicine products. High public interest is indicated by increasing registration of natural medicinal products by 9.29% (2019), 23.41% (2020), and 17.00% (2021), especially for maintaining the immune system products. SMEs in Natural medicines grew well during the pandemic compared to most industries in other sectors, by +8.48% (2019) and +9.39% (2020). Conclusion that the use of natural medicines to maintain the immune system as an alternative therapy for COVID-19 has increased, improving the quality of health through sociocultural changes with a positive lifestyle “back to nature” and a positive economic impact. ABSTRAKSistem Kesehatan tidak siap saat Covid-19 melanda Indonesia, sehingga berkontribusi pada penularan penyakit dan meningkatnya mortalitas. Aneka biodiversitas di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi produk Obat Bahan Alam sebagai alternatif terapi COVID-19. Budaya Sehat Jamu sebagai bagian dari Obat Bahan Alam sendiri sudah tidak asing digunakan oleh Masyarakat Indonesia, sehingga pada penelitian ini dilakukan pengkajian pemanfaatannya sebagai alternatif terapi COVID-19 dan dampaknya terhadap sosial budaya, kesehatan dan ekonomi melalui reviu data primer (registrasi produk terdaftar) dan sekunder. Hasil penelitian menunjukan peningkatan pengobatan mandiri selama pandemi sebesar 15,9% (p>0,05) dengan membeli produk jamu.  Tingginya minat Masyarakat ditandai dengan peningkatan produk registrasi obat bahan alam sebesar 9,29% (2019), 23,41% (2020), dan 17,00% (2021) terutama untuk produk memelihara daya tahan tubuh. Obat bahan alam memiliki nilai strategis dari sisi ekonomi UMKM yang bertumbuh baik +8,48% (2019) dan +9,39% (2020) pada masa pandemi dibandingkan industri di sektor lainnya. Disimpulkan bahwa pemanfaatan obat bahan alam untuk memelihara daya tahan tubuh sebagai alternatif terapi Covid -19 meningkat sebagai  upaya memperbaiki kualitas kesehatan (well-being) melalui perubahan sosial-budaya dengan gaya hidup positif kembali ke alam dan dampak ekonomi yang positif.
PERAN KEDOKTERAN REHABILITASI PADA PASIEN DENGAN PERAWATAN PALIATIF SILAKARMA, DEDI; SUMINAR, THERESIA ELISABETH LINTANG
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2609

Abstract

Rehabilitation medicine is a multidisciplinary field aimed at enhancing patients' quality of life by improving their function. Patients receiving palliative care often experience symptoms such as fatigue, decreased functional independence, mood disturbances, pain, and breathlessness. Many rehabilitation interventions can ameliorate these symptoms. The aim of this research is to evaluate the scope and effectiveness of rehabilitation interventions and exercise programs that can enhance the quality of life and alleviate existing symptoms in palliative care patients. The research method involves a literature review on the topic and cancer rehabilitation techniques specifically applied to patients with limited life expectancy. The impact of exercises and other rehabilitation interventions on the common symptoms and disabilities experienced by this patient population is analyzed. Current available literature supports the use of exercise programs and rehabilitation interventions to improve fatigue, mood, functional independence, breathlessness, and pain. Rehabilitation practitioners and palliative care providers share common goals in their approach to patients and complement each other. Palliative care providers should consider referrals to physiotherapy (physical medicine and rehabilitation) to help optimize patients' quality of life. ABSTRAKKedokteran rehabilitasi merupakan bidang multidisiplin yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan meningkatkan fungsi. Pasien dengan perawatan paliatif sering mengalami gejala seperti kelelahan, penurunan kemandirian fungsional, gangguan mood, nyeri, dan sesak napas. Banyak intervensi rehabilitasi dapat memperbaiki gejala ini. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi ruang lingkup dan efektivitas intervensi rehabilitasi dan program latihan yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki gejala yang ada pada pasien paliatif. Metode penelitian ini dengan Tinjauan literatur tentang topik dan teknik rehabilitasi kanker yang secara khusus diterapkan pada pasien dengan waktu hidup yang terbatas. Latihan dan intervensi rehabilitasi lainnya dianalisis pengaruhnya terhadap gejala umum dan kecacatan yang dialami oleh populasi pasien ini. Literatur yang tersedia saat ini mendukung penggunaan program latihan dan intervensi rehabilitasi untuk memperbaiki kelelahan, mood, kemandirian fungsional, sesak napas, dan nyeri. Praktisi Rehabilitasi dan perawatan paliatif memiliki tujuan yang sama dalam pendekatan terhadap pasien dan saling melengkapi satu sama lain. Penyedia perawatan paliatif harus mempertimbangkan rujukan ke fisioterapi (kedokteran fisik dan rehabilitasi) untuk membantu mengoptimalkan kualitas hidup pasien.
REGULASI IKLAN DI INDONESIA SEBAGAI MEDIA PROMOSI OBAT TRADISIONAL, OBAT KUASI DAN SUPLEMEN KESEHATAN VERATRISNA, VERATRISNA; NURFITRI, NURFITRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i2.2648

Abstract

Advertisements for traditional medicine, quasi drug, and health supplements have a significant impact on society, both positively and negatively. The information presented in advertisements needs to be tailored to the general public's ability to assess symptoms they may be experiencing. It is essential to ensure that the information conveyed in advertisements is objective, comprehensive, and not misleading to protect the public from the excessive and incorrect use of products. Based on the supervision results of the Food and Drug Administration from 2019 to 2022, violations of advertisements for traditional medicine, quasi drug, and health supplements, known as Non-Compliance with Provisions (TMK), continue to occur from year to year. Therefore, a search of primary and secondary literature related to regulations on advertising, both nationally and internationally, is conducted to compare whether advertising regulations in Indonesia are sufficient to protect the public in choosing traditional medicine, quasi-drug, and health supplements. The current regulation governing advertising, especially for Traditional Medicine, Quasi-Drug, and Health Supplements, is the Food and Drug Administration Regulation Number 34 of 2022 concerning the Supervision of Advertising for Traditional Medicine, Quasi-Drug, and Health Supplements. This regulation can still serve as a guide in the preparation of advertisements as it has detailed provisions regarding advertising. Oversight related to advertisements can be enhanced by optimizing assistance in advertisement preparation, socialization, workshops, and technical guidance to ensure that the public is protected in choosing products that are safe, high-quality, and effective. ABSTRAKIklan obat tradisional, obat kuasi dan suplemen kesehatan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat baik secara positif maupun negatif. Informasi yang ada di iklan perlu disesuaikan dengan kemampuan masyarakat awam dalam menilai suatu gejala penyakit yang mereka rasakan. Perlu dipastikan informasi yang disampaikan di iklan harus obyektif, lengkap dan tidak menyesatkan untuk melindungi masyarakat dari penggunaan produk yang berlebihan dan tidak benar. Berdasarkan hasil pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan dari tahun 2019 hingga 2022 menunjukkan pelanggaran iklan obat tradisional, obat kuasi dan suplemen kesehatan atau dikenal dengan istilah pengawasan iklan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) masih terjadi dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, dilakukan penelusuran pustaka primer dan sekunder terkait regulasi mengenai Periklanan baik nasional maupun internasional untuk membandingkan apakah regulasi iklan di Indonesia sudah cukup melindungi masyarakat dalam pemilihan produk obat tradisional, obat kuasi dan suplemen kesehatan. Regulasi yang mengatur mengenai periklanan khususnya untuk Obat Tradisional, Obat Kuasi dan Suplemen Kesehatan yang saat ini berlaku adalah Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 34 tahun 2022 tentang Pengawasan Periklanan Obat Tradisional, Obat Kuasi, dan Suplemen Kesehatan. Regulasi tersebut masih bisa dijadikan panduan dalam penyusunan iklan karena telah mengatur secara detail terkait iklan. Pengawasan terkait iklan dapat dilakukan dengan mengoptimalisasi pendampingan penyusunan iklan, sosialisasi, workshop dan bimbingan teknis sehingga masyarakat terlindungi dalam pemilihan produk yang aman, bermutu dan berkhasiat.
PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN SISWA KELAS XI SMA SEBELUM DAN SETELAH EDUKASI KOMPLIKASI PENYAKIT SOSIAL TERHADAP KEJADIAN HIV/AIDS DI BIAK NUMFOR TAHUN 2021 JUMU, LA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2673

Abstract

Social disease is all behavior of a number of community members that is not in accordance with social values and norms that influence the lives of community members. Education about the complications of social diseases in the incidence of HIV ADIS through high school students is an effort to prevent and eradicate social diseases and also their complications in the incidence of HIV AIDS. The hope is that the younger generation of high school students will know early on how to prevent these two diseases because their condition has disturbed the community with incidents in the form of morbidity and mortality, increasing day by day, increasing over the years and affecting all levels of society from toddlers to grandparents. Objective; Analyzing the comparison before and after social disease education on the incidence of HIV AIDS with 36 respondents, analyzed based on level of knowledge by filling in pretest and posttest questions. This research method is quantitative analytical with a cross sectional approach, proportional sampling in a population of 50 students and a random respondent technique, obtaining 36 respondents, carried out at Khatolik Yos Sudarso Biak High School, Papua Province on March 20 2021, with a statistical test type. Wilcoxon. Wilcoxon Signed Ranks Test value in Asymp Sig. (2-tailed) is (Z calculated P = 0.000) less than (Z table P value < 0.05). The results of this study contained significant comparisons or differences (Z calculated P = 0.000) before and after education on the complications of social diseases on the incidence of HIV AIDS in high school students, so suggestions for education on the complications of social diseases with complications of HIV AIDS can be developed continuously in the hope that teenagers can find out more early way to prevent yourself from social diseases and their complications of HIV AIDS. ABSTRAKPenyakit sosial adalah semua perilaku sejumlah warga masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat. Edukasi komplikasi penyakit sosial terhadap kejadian HIV ADIS melalui siswa SMTA adalah merupakan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit sosial dan juga komplikasinya terhadap kejadaian HIV AIDS. Harapan agar generasi muda siswa SMTA mengetahui secara dini, cara pencegahan kedua penyakit tersebut karena kondisinya, telah meresahkan masyarakat dengan bentuk kejadian berupa morbiditas dan mortalitas, makin hari, makin tahun semakin bertambah dan menimpah seluruh lapisan masyarakat dari bayi balita sampai kakek nenek. Tujuan; Menganalisis perbandingan sebelum dan setelah edukasi penyakit sosial terhadap kejadian HIV AIDS dengan, 36 responden., dianalisis berdasarkan tingkat pengetahuan dengan cara mengisi soal pretest dan post test. Metode Penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, pengambilan sampel secara Propotive sampling pada populasi 50 siswa dan teknik penetapan responden secara acak , didapat 36 responden, dilakukan di SMA Khatolik Yos Sudarso Biak Provisni Papua pada tanggal 20 Maret 2021, dengan jenis uji statistik Wilcoxon. Nilai Wilcoxon Signed Ranks Test di Asymp Sig. (2-tailed) adalah (Z hitung P = 0,000) kurang dari (Z tabel P value < 0,05). Hasil penelitian ini terdapat perbandingan atau berbedaan yang signifikan (Z hitung P = 0,000) sebelum dan setelah edukasi komplikasi penyakit sosial terhadap kejadian HIV AIDS pada siswa SMTA, jadi saran edukasi komplikasi penyakit sosial dengan komplikasi HIV AIDS dapat dikembangkan terus dengan harapan remaja dapat mengetahui secara dini cara mencegah diri dari penyakit sosial dan komplikasinya terhadap HIV AIDS.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI BEBERAPA JENIS LACTOBACILLUS DAN KOMBINASI BAKTERIOSIN DENGAN ANTIBIOTIK STANDAR TERHADAP BAKTERI RESISTEN KUSUMANINGRUM, LAURENTIA VENITA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2674

Abstract

This study aims to examine the antibacterial activity of Lactobacillus brevis FNCC 0021, Lactobacillus delbrueckii FNCC 0045, Lactobacillus plantarum FNCC 0027, Lactobacillus rhamnosus FNCC 0052 and a combination of bacteriocins isolated from Lactobacillus that have potential with standard antibiotics against resistant microbes that cause nosocomial infections, namely: Pseudomonas aeruginosa Multidrug Resistant (MDR), MRSA and Methicillin Resistant Coagulase Negative Staphylococcus (MRCNS). Antibacterial activity testing uses the agar diffusion method to see the area of the inhibitory zone that appears and the microdilution method to see the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (KBM). The test sample that has the greatest inhibitory power is continued with partial purification to obtain a purer bacteriocin. Then the antibacterial activity of bacteriocins and the combination of bacteriocins with standard antibiotics, namely: vancomycin, meropenem, tetracycline and ciprofloxacin, were tested. The culture supernatants of L. brevis, L. delbrueckii, L. plantarum, and L. rhamnosus have activity against resistant bacteria. L.brevis culture supernatant had relatively greater antibacterial activity against Gram-negative bacteria among the four test samples. The diameter of the inhibition zone for L. brevis against P. aeruginosa MDR, MRSA, and MRCNS was 11.2 ± 0.15 mm, 12.0 ± 0.23 mm and 11.8 ± 0.4 mm, respectively. The MIC and MIC of L. brevis supernatant against P. aeruginosa MDR and MRSA are relatively the same, namely 6.25% and 12.5%. Meanwhile, the KBM and MIC of L. brevis against MRCNS is 6.25%. The diameter of the inhibition zone of L. brevis bacteriocin compared to L. brevis supernatant against P. aeruginosa MDR was 14.7 ± 1.11 mm and 11.2 ± 0.65 mm, respectively. The combination of bacteriocins with standard antibiotics results in an increase in MIC. Culture supernatants of L. brevis, L. delbrueckii, L. plantarum, and L. rhamnosus have antibacterial activity against P. aeruginosa MDR, MRSA and MRCNS. L. brevis supernatant has better antibacterial activity against Gram-negative bacteria than other Lactobacillus. Bacteriocins are thought to have a role in the antibacterial activity of L. brevis supernatants. The interaction between L. brevis bacteriocin and the antibiotics tetracycline, ciprofloxacin and meropenem is antagonistic. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan melihat aktivitas antibakteri Lactobacillus brevis FNCC 0021, Lactobacillus delbrueckii FNCC 0045, Lactobacillus plantarum FNCC 0027, Lactobacillus rhamnosus FNCC 0052 serta kombinasi bakteriosin yang diisolasi dari Lactobacillus yang potensial dengan antibiotik standar terhadap mikroba resisten penyebab infeksi nosokomial, yaitu: Pseudomonas aeruginosa Multidrug Resistant (MDR), MRSA dan Methicillin Resistant Coagulase Negative Staphylococcus (MRCNS). Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar untuk melihat luas zona hambatan yang muncul dan metode mikrodilusi untuk melihat nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan nilai konsentrasi bakterisida minimum (KBM). Sampel uji yang mempunyai daya hambat paling besar dilanjutkan dengan purifikasi parsial untuk memperoleh bakteriosin yang lebih murni. Kemudian dilakukan pengujian aktivitas antibakteri bakteriosin dan kombinasi bakteriosin dengan antibiotik standar yaitu: vankomisin, meropenem, tetrasiklin, dan siprofloksasin. Supernatan kultur L. brevis, L. delbrueckii, L. plantarum, dan L.rhamnosus memiliki aktivitas terhadap bakteri resisten. Supernatan kultur L.brevis mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram negatif relatif lebih besar diantara keempat sampel uji. Diameter zona hambat L. brevis terhadap P. aeruginosa MDR, MRSA, dan MRCNS berturut-turut 11,2±0,15 mm, 12,0±0,23 mm dan 11,8±0,4 mm. KHM dan KBM supernatan L. brevis terhadap P. aeruginosa MDR dan MRSA relatif sama yaitu 6,25% dan 12,5%. Sedangkan KBM dan KHM L. brevis terhadap MRCNS ialah 6,25%. Diameter zona hambat bakteriosin L. brevis dibandingkan supernatan L. brevis terhadap P. aeruginosa MDR, berturut-turut sebesar 14,7±1,11 mm dan 11,2±0,65 mm. Kombinasi bakteriosin dengan antibiotik standar menghasilkan peningkatan KHM. Supernatan kultur L. brevis, L. delbrueckii, L. plantarum, dan L. rhamnosus memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. aeruginosa MDR, MRSA dan MRCNS. Supernatan L. brevis, mempunyai aktivitas antibakteri lebih baik terhadap bakteri Gram negatif dibandingkan Lactobacillus lainnya. Bakteriosin diduga memiliki peran dalam aktivitas antibakteri supernatan L. brevis. Interaksi antara bakteriosin L. brevis dengan antibiotik tetrasiklin, siprofloksasin dan meropenem bersifat antagonis.
PERAN IBU DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK PICKY EATER HARDJITO, KOEKOEH
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2735

Abstract

Picky eaters, selective in their food choices, pose a challenge for parents particularly mothers in meeting nutritional needs. This study explores the role of mothers in meeting the nutritional needs of picky eater children. Utilizing a descriptive approach, data was gathered from 30 mothers through interviews and questionnaires.. The results indicate that mothers play a crucial role, including being providers of healthy food, models of healthy eating behavior, nutrition educators, mealtime managers, and creators of a positive eating environment. A total of 60% of mothers have a good role as providers of healthy food and as mealtime managers, while 46.70% of mothers have a sufficient role as nutrition educators. Furthermore, 40% of mothers have a satisfactory role in creating a positive eating environment, and 53.40% of mothers have a less substantial role in the category of modeling healthy eating behavior. While most mothers have good roles, there is a deficiency in the role of being a model of healthy eating behavior. An intensive approach is needed to enhance mothers' understanding and involvement in setting an example of healthy eating behavior for their children. The mother's role is highly significant in addressing the nutritional challenges of picky eater children. The mother's role is not the only factor influencing the success of dealing with picky eaters; the support and participation of other family members are also significant. A holistic approach involving the entire family is required for optimal results. ABSTRAKAnak picky eater, merupakan anak yang selektif dalam memilih makanan, menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua khususnya ibu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi. Penelitian ini mengeksplorasi peran ibu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak picky eater.. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif, data dikumpulkan dari 30 ibu melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa ibu memiliki peran krusial, termasuk sebagai penyedia makanan sehat, model perilaku makan sehat, edukator nutrisi, pengelola waktu makan, dan pencipta lingkungan makan positif. Sebanyak 60% ibu memiliki peran dalam kategori baik sebagai penyedia makanan sehat dan sebagai pengelola waktu makan, sebesar 46.70% ibu memiliki peran cukup sebagai edukator nutrisi. Selanjutnya  40% ibu memiliki peran cukup dalam menciptakan lingkungan makan yang positif dan terdapat 53.40% ibu memiliki peran dalam kategori kurang sebagai model perilaku makan sehat. Walaupun sebagian besar ibu memiliki peran baik, terdapat kekurangan pada peran sebagai model perilaku makan sehat. Diperlukan pendekatan intensif untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan ibu dalam memberikan contoh perilaku makan sehat kepada anak-anak. Peran ibu sangat penting dalam mengatasi tantangan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak picky eater. Peran ibu bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keberhasilan mengatasi anak picky eater, melainkan juga dukungan dan partisipasi anggota keluarga lainnya. Pendekatan holistik yang melibatkan seluruh keluarga diperlukan untuk hasil optimal.
GAMBARAN KEJADIAN STUNTING BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU PADA BALITA USIA 24-59 BULAN PARAMITHA, INTAN AZKIA; ARIFIANA, RATNA; PANGESTU, GAIDHA KHUSNUL; RAHAYU, NOVA AVIANTI; ROSIDI, AHYAR
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2736

Abstract

Based on data on the prevalence of stunted toddlers collected by WHO, in 2020 as many as 22% or around 149.2 million toddlers in the world experienced stunting. The prevalence of stunting in Indonesia fell from 24.4% in 2021 to 21.6% in 2022. In the same year the stunting rate in Central Java also decreased to 26.21%. Even though there seems to be a decrease in the prevalence rate, stunting is considered to still be a serious problem in Indonesia because the prevalence rate is still above 20%. The aim of this research is to determine the description of the incidence of stunting based on the characteristics of mothers among toddlers at the Kedungwuni II Community Health Center. The research method used is observational research with a descriptive approach to determine the description of the mother's age, education, occupation and income. The research was conducted at the Kedungwuni II Community Health Center, Pekalongan Regency in August 2023. The population in this study were all mothers with 211 children under five. The sample in this study consisted of 35 respondents. The instrument used in this research was a questionnaire. Primary data in this study came from questionnaires distributed and direct measurements to toddlers regarding weight and height. The analysis used uses univariate analysis, which is presented in the form of tables and narratives. The results of this research show that the majority of toddlers who experience stunting come from mothers aged 31-35 years (43%), high school/vocational school education (49%), family income < IDR 2,334,886 (100%), work as a housewife (94%). Meanwhile, the majority of toddlers who experience stunting are boys (66%). The incidence of stunting at the Kedungwuni II Community Health Center is related to maternal education and income. ABSTRAKBerdasarkan data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan oleh WHO, pada tahun 2020 sebanyak 22% atau sekitar 149,2 juta balita di dunia mengalami kejadian stunting. Prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di 2022. Pada tahun yang sama angka stunting di Jawa Tengah juga mengalami penurunan menjadi 26,21%. Meski terlihat ada penurunan angka prevalensi, tetapi stunting dinilai masih menjadi permasalahan serius di Indonesia karena angka prevalensinya yang masih di atas 20%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian stunting berdasarkan karakteristik ibu pada balita di Puskesmas Kedungwuni II. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif untuk mengetahui gambaran usia, pendidikan, pekerjaan dan status ekonomi ibu. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan pada bulan Agustus 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak balita yang berjumlah 211 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 35 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Data primer dalam penelitian ini dari kuesioner yang dibagikan dan pengukuran langsung kepada balita terkait berat badan dan tinggi badan. Analisis yang digunakan menggunakan analisis univariat, yang disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balita yang mengalami stunting sebagian besar berasal dari kelompok ibu berusia 31-35 tahun sebanyak (43%), berpendidikan tinggi SMA/SMK sebanyak (49%), status ekonomi keluarga < Rp 2.334.886 sebanyak (100%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (94%). Sedangkan balita yang mengalami stunting sebagian besar pada kelompok laki-laki (66%). Kejadian stunting di Puskesmas Kedungwuni II berkaitan dengan pendidikan ibu dan pendapatan.

Page 4 of 13 | Total Record : 124