cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 132 Documents
STUDI SURVEI : GAMBARAN PENYAKIT MENULAR PADA WANITA DI KABUPATEN MAGETAN Riyanto, Digdo; Woelansari, Evy Diah; Nabilah, Musholli Himmatun
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6793

Abstract

ABSTRACT Sexually Transmitted Infections (STIs) such as HIV, Hepatitis B, and Syphilis are serious public health problems, especially among high-risk groups like female sex workers. The Pasar Sayur Magetan area has a high potential for STI transmission due to nighttime entertainment activities and the presence of dimly lit establishments. This study aims to identify the presence of STIs among women in Magetan as a basis for planning prevention and education programs by the government and health authorities. This research uses an analytical cross-sectional survey design with venous blood samples collected in EDTA anticoagulant tubes from female sex workers at Pasar Sayur Magetan. Data were collected through Rapid Diagnostic Tests (RDT) using immunochromatographic methods to detect HIV, Hepatitis B, and Syphilis, along with questionnaires to identify risk factors and behaviors influencing STI transmission. The study found cases of HIV and Syphilis among female sex workers in Pasar Sayur Magetan. The main risk factors include unsafe sexual behavior, inconsistent condom use, frequent partner changes, and limited education and knowledge. Although all respondents practiced good genital hygiene, this did not fully prevent STIs transmitted through blood and bodily fluids. This survey reveals the prevalence of STIs and the main risk factors in Pasar Sayur Magetan. These findings serve as a foundation for the government and health services to design prevention, education, and early detection programs to reduce cases and increase awareness of safe sexual behavior. ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti HIV, Hepatitis B, dan Sifilis menjadi masalah kesehatan serius, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti wanita pekerja seks. Kawasan Pasar Sayur Magetan berpotensi tinggi dalam penyebaran IMS karena aktivitas hiburan malam dan keberadaan warung remang-remang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya penyakit penyakit menular seksual pada wanita di daerah Magetan, agar dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program pencegahan dan edukasi oleh pemerintah dan dinas Kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik cross-sectional dengan menggunakan sampel darah vena antikoagulan EDTA pada wanita pekerja seks di Pasar Sayur Magetan. Data dikumpulkan dari hasil pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) metode imunokromatografi untuk mendeteksi HIV, Hepatitis B, dan Sifilis, serta kuesioner untuk mengidentifikasi faktor risiko dan perilaku yang mempengaruhi penularan IMS. Penelitian ini menemukan adanya kasus HIV dan Sifilis di kalangan wanita pekerja seks di Pasar Sayur Magetan dengan faktor risiko utama berupa perilaku seksual tidak aman dan ketidakkonsistenan penggunaan kondom serta keterbatasan pendidikan dan pengetahuan. Kesimpulannya, meskipun praktik genital higiene baik, risiko penularan IMS tetap terjadi. Survei ini mengungkap tingkat penyebaran PMS di Pasar Sayur Magetan serta faktor risiko utama. Temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah dan dinas kesehatan dalam merancang program pencegahan, edukasi, dan deteksi dini guna mengurangi kasus serta meningkatkan kesadaran akan perilaku seksual yang aman.
PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI POSYANDU HARAPAN KITA CAGUNGAN BANTUL Kumalasari, Vita; Sari, Vina Puspita
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6796

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem in toddlers that affects children's physical growth and cognitive development. Based on the 2024 Indonesia Nutrition Status Survey (SSGI), 19.8% of toddlers in Indonesia experience stunting. In Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, the prevalence of stunting among toddlers decreased from 20.05% in 2023 to 16.50% in 2024. In the working area of Srandakan Health Center, Bantul, the highest number of stunted toddlers is found in Cagunan Hamlet, with a total of 11 cases. This study aims to determine the relationship between mothers’ knowledge and attitudes toward the incidence of stunting among toddlers at Posyandu Harapan Kita, Cagunan Hamlet, Srandakan, Bantul, Yogyakarta. This research used a quantitative method with a cross-sectional study design. The sample consisted of 31 respondents, who were mothers of toddlers at Posyandu Harapan Kita Cagunan, selected using non-random purposive sampling. The research instrument was a closed-ended questionnaire. The results showed that 19 respondents (61.3%) had good knowledge, 29 respondents (93.6%) had good attitudes, and 4 respondents (13%) had stunted toddlers. The Chi-Square test results indicated a significant relationship between mothers’ knowledge and the incidence of stunting among toddlers (p-value = 0.007 ? ? = 0.05), but no significant relationship between mothers’ attitudes and the incidence of stunting (p-value = 0.106 > ? = 0.05). It can be concluded that there is a significant correlation between mothers’ knowledge and the incidence of stunting among toddlers, but no significant correlation between mothers’ attitudes and the incidence of stunting at Posyandu Harapan Kita Cagunan. ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, terdapat 19,8% balita yang mengalami stunting di Indonesia. Sedangkan di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta balita yang stunting mengalami penurunan dari 20,05% di tahun 2023 menjadi 16,50% di tahun 2024. Di wilayah kerja Puskesmas Srandakan Bantul, jumlah balita stunting tertinggi berada di Dusun Cagunan dengan total 11 balita stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu balita terhadap kejadian stunting di Posyandu Harapan Kita, Dusun Cagunan, Srandakan Bantul DIY. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampelnya sebanyak 31 responden yang merupakan ibu balita di Posyandu Harapan Kita Cagunan, dengan teknik pengambilan sampel non-random sampling dengan metode purposive sampling. Instrument penelitiannya menggunakan kuesioner tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan 19 responden (61,3%) memiliki pengetahuan baik, 29 responden (93,6%) memiliki sikap baik dan sebanyak 4 responden (13%) balitanya mengalami stunting. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting pada balita dengan nilai (p-sign = 0,007 ? ? = 0,05), namun tidak ada hubungan antara sikap ibu dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai (p-sign = 0,106 > ? = 0,05). Sehingga dapat disimpulkan terdapat korelasi yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita, namun tidak terdapat korelasi yang signifikan antara sikap ibu dengan kejadian stunting pada balita di Posyandu Harapan Kita Cagunan.
LAPAROSKOPI ATAU APENDEKTOMI TERBUKA? SEBUAH SYSTEMATIC REVIEW TERHADAP HASIL KLINIS PADA PASIEN DENGAN DUGAAN APENDISITIS Nafiq, Nasrul An; Amaliya, Shafitri Firda; Lemuel, Agung Budi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i3.6866

Abstract

ABSTRACT Acute appendicitis is a common cause of emergency surgery, with treatment options including open appendectomy (OA) and laparoscopic appendectomy (LA), yet the debate over which method provides better clinical outcomes persists. This study aims to compare the postoperative clinical outcomes of LA and OA in patients suspected of appendicitis through a systematic review. Conducted following PRISMA guidelines, the review involved literature searches on PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar from 2018 to 2025. Out of 5,999 identified articles, 11 studies met the inclusion criteria and were analysed using narrative synthesis and comparative tables. Most studies showed that LA offered benefits such as shorter hospital stays, quicker recovery, and lower wound infection rates compared to OA. However, OA demonstrated advantages in cost-effectiveness and shorter operation times. While laparoscopic appendectomy provided superior clinical outcomes overall, open appendectomy remains relevant in settings with limited resources or when rapid surgery is necessary. Therefore, the choice of surgical method should consider both the patient’s clinical condition and the available healthcare resources. ABSTRAK Apendisitis akut merupakan salah satu penyebab tersering tindakan bedah darurat, dengan pilihan utama berupa apendektomi terbuka (OA) maupun apendektomi laparoskopi (LA), namun perdebatan mengenai metode yang lebih unggul dalam hasil klinis masih berlangsung. Kajian ini bertujuan membandingkan hasil klinis pascaoperasi antara LA dan OA pada pasien dengan dugaan apendisitis melalui systematic review. Penelitian disusun mengikuti pedoman PRISMA dengan penelusuran literatur pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar periode 2018–2025. Dari total 5.999 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 11 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan narrative synthesis serta tabel komparatif. Mayoritas studi menunjukkan bahwa LA memberikan keuntungan berupa rawat inap lebih singkat, pemulihan lebih cepat, serta tingkat infeksi luka lebih rendah dibandingkan OA. Sebaliknya, OA relatif unggul dari sisi efisiensi biaya dan durasi operasi yang lebih singkat. Apendektomi laparoskopi dinilai lebih unggul dalam aspek luaran klinis, namun apendektomi terbuka tetap relevan pada kondisi dengan keterbatasan fasilitas atau kebutuhan operasi cepat. Oleh karena itu, pemilihan metode sebaiknya mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan sumber daya yang tersedia.
BAHASA BAYI TANPA BIAS GENDER: MENINJAU POLA PERKEMBANGAN BAHASA BAYI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN Hardjito, Koekoeh; Sholihah, Mariana Putri; Antono, Sumy Dwi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v4i4.7273

Abstract

ABSTRACT Language development is an essential aspect of infant growth, reflecting cognitive and social abilities. Society often assumes that female infants develop language skills faster than males. This study aims to examine differences in language development between male and female infants without gender bias. A quantitative approach with a cross-sectional design was applied to 41 infants aged 6–12 months in the working area of Tanon Health Center, Kediri. Inclusion criteria included infants cared for directly by parents and without medical conditions affecting development. Data were collected through language development assessments categorized into four levels: not developed, emerging, developing as expected, and very well developed. The Mann–Whitney U test revealed no significant difference between male and female infants (p = 0.621). These results reject the assumption that gender determines language ability and emphasize that verbal stimulation and interactive environments play a more critical role. The findings provide insight for parents and healthcare professionals to promote equitable language stimulation without gender bias, supporting optimal communication development for all infants. ABSTRAK Perkembangan bahasa merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang bayi yang mencerminkan kemampuan kognitif dan sosial. Masyarakat sering berasumsi bahwa bayi perempuan memiliki perkembangan bahasa yang lebih cepat dibanding bayi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau perbedaan tingkat perkembangan bahasa antara bayi laki-laki dan perempuan tanpa bias gender. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 41 bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tanon Kediri. Kriteria inklusi meliputi bayi yang diasuh langsung oleh orang tua tanpa gangguan medis yang memengaruhi perkembangan. Data dikumpulkan melalui observasi perkembangan bahasa yang dikategorikan menjadi empat tingkat, yaitu belum berkembang, mulai berkembang, berkembang sesuai harapan, dan berkembang sangat baik. Analisis menggunakan uji Mann–Whitney U menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara tingkat perkembangan bahasa bayi laki-laki dan perempuan (p = 0,621). Hasil ini menolak asumsi bahwa jenis kelamin menentukan kemampuan bahasa, dan menegaskan bahwa stimulasi verbal serta lingkungan interaktif memiliki pengaruh lebih besar. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar edukasi bagi orang tua dan tenaga kesehatan untuk memberikan stimulasi bahasa yang setara tanpa bias gender, guna mendukung perkembangan optimal pada semua anak.
ANALISIS SWOT UNTUK PENENTUAN STRATEGI MANAJERIAL DALAM MENERAPKAN PROLANIS DI KLINIK SMC BANYUSARI Apsari, Ayu Saraswati; Andriani, Rian; Rinawati, Rinawati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9202

Abstract

Low participation in the Chronic Disease Management Program (Prolanis) remains a major challenge for primary healthcare facilities, including SMC Banyusari Clinic in Denpasar. Clinic records show that the average monthly attendance rate of Prolanis participants is approximately 21.2%, which is below the minimum target of 50% set by the National Health Insurance Agency (BPJS Kesehatan). This study aims to analyze internal and external factors using a SWOT analysis to determine appropriate managerial strategies for improving the implementation of the Prolanis program at SMC Banyusari Clinic. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews involving six informants, consisting of the clinic head, Prolanis officer, and Prolanis participants. The data were analyzed using the Internal Factors Analysis Summary (IFAS) and External Factors Analysis Summary (EFAS) matrices. The findings indicate that the clinic’s internal strengths outweigh its weaknesses, reflected by an IFAS score of 1.31, while external opportunities exceed existing threats, with an EFAS score of 1.12. These results place the clinic in a stable growth strategic position, enabling program improvement through the optimization of internal resources and the utilization of external opportunities. Recommended managerial strategies include strengthening participant-centered health education, enhancing the role of Prolanis officers, utilizing information technology, and developing collaboration with local communities and village authorities. Implementing these strategies is expected to sustainably increase Prolanis participant attendance at SMC Banyusari Clinic. ABSTRAK Rendahnya tingkat partisipasi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi permasalahan yang dihadapi oleh berbagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk Klinik SMC Banyusari di Kota Denpasar. Data klinik menunjukkan bahwa rata-rata kehadiran peserta Prolanis hanya sekitar 21,2% per bulan, masih berada di bawah target minimal BPJS Kesehatan sebesar 50%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal melalui analisis SWOT guna menentukan strategi manajerial yang tepat dalam meningkatkan pelaksanaan Program Prolanis di Klinik SMC Banyusari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen terhadap enam informan yang terdiri dari kepala klinik, petugas Prolanis, dan peserta Prolanis. Data dianalisis menggunakan matriks Internal Factors Analysis Summary (IFAS) dan External Factors Analysis Summary (EFAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Klinik SMC Banyusari memiliki kekuatan internal yang lebih dominan dibandingkan kelemahannya, dengan skor IFAS sebesar 1,31, serta peluang eksternal yang lebih besar dibandingkan ancaman, dengan skor EFAS sebesar 1,12. Klinik berada pada posisi strategi pertumbuhan stabil yang memungkinkan penguatan program melalui optimalisasi sumber daya internal dan pemanfaatan peluang eksternal. Strategi manajerial yang direkomendasikan meliputi penguatan edukasi berbasis peserta, optimalisasi peran petugas Prolanis, pemanfaatan teknologi informasi, serta pengembangan jejaring dengan masyarakat dan pemerintah desa. Dengan penerapan strategi tersebut, diharapkan partisipasi peserta Prolanis di Klinik SMC Banyusari dapat meningkat secara berkelanjutan
HUBUNGAN PREEKLAMSIA DENGAN PERSALINAN PRETERM DAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSI MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN Fitriyani, Tina; Kusumaningsih, Meilia Rahmawati; Susiloningtyas, Is
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9203

Abstract

This study aims to determine whether there is a relationship between preeclampsia and preterm birth and whether there is a relationship between preeclampsia and low birth weight (LBW) at the PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Hospital. The method used in this study was a retrospective quantitative study, often referred to as ex post facto. The sample was taken using total sampling technique with a total of 428 subjects. The data used was secondary data obtained from patients' electronic medical records. After collecting the data, it was processed and analyzed using SPSS to see the correlation. Fisher's exact hypothesis test was used with a significance level (α = 0.05). Based on this study, a p-???????????????????? value of 0.003 < α = 0.05 was obtained, which means that there is a significant relationship between preeclampsia and preterm birth. The second variable hypothesis test used Fisher's exact test with a significance level (α = 0.05) and obtained a p-value of ???????????????????? 0.005 < α = 0.05, which means that there is a significant relationship between preeclampsia and low birth weight (LBW). Based on this study, it can be concluded that there is a relationship between preeclampsia and preterm birth and low birth weight (LBW) at RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan in 2025. Health workers are expected to be able to improve pregnancy monitoring in mothers with risk factors such as preeclampsia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan peeklamsia dengan persalinan preterm dan adakah hubungan preeklamsia dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif retrospektif yang sering disebut dengan expost facto. Dimana pengambilan sampel, menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 428. Dan data yang digunakan adalah data sekunder, yang diperoleh dari rekam medis elektronik pasien. Setelah  mengumpulkan data, kemudian data tersebut diproses dan diolah menggunakan SPSS untuk melihat keterkaitannya. Digunakan uji hipotesis fisher’s exact dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05). Berdasarkan penelitian ini diperoleh nilai p-???????????????????? 0.003 < α = 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan persalinan preterm. Dan uji hipotesis variabel kedua menggunakan fisher’s exact dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05) dan diperoleh nilai p- ???????????????????? 0.005 < α = 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara preeklamsia dengan persalinan preterm dan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Tahun 2025. Tenaga kesehatan diharapkan mampu melakukan peningkatan pemantauan kehamilan pada ibu dengan faktor risiko seperti preeklamsia.  
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER TERHADAP PENINGKATAN AKSES LAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS CIWANDAN Hartana, Arief Dharma; Subuh, Subuh; Purnamasari, Ratih
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9204

Abstract

The Primary Service Integration Policy is an effort to coordinate the integration of primary health services into a single, comprehensive unit that aims to improve access to health services in the community, especially promotive and preventive services, especially at the UPTD Ciwandan Health Center, Cilegon City. This study aims to analyze the implementation process of the Primary Service Integration policy towards improving access to health services at the UPTD Ciwandan Health Center, Cilegon City in 2024. The focus of this study is to identify challenges, obstacles, and opportunities for improvement in the process of increasing access to services.This study uses a mixed-methods approach through questionnaires and in-depth interviews, combining quantitative analysis of Primary Care Integration service data. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data were analyzed thematically. The research sample consisted of 99 respondents consisting of policy makers, policy implementers, and policy recipients. The collected data will be analyzed using descriptive statistics to describe the pattern of integrated services, while thematic analysis will be applied to interviews to uncover problems that occurred during the implementation of Primary Care Integration services regarding access to health services. 99 respondents knew about the Integration of Primary Services implemented at the UPTD Ciwandan Health Center, the majority of respondents (93.93%) assessed that the Integration of Primary Services was running well, the highest result was in ease of service (46.46%), while ease of access to services (21.21%).  The implementation of the Primary Service Integration (ILP) health service policy has been carried out well by the UPTD Ciwandan Health Center throughout 2024 and has provided results in its implementation such as ease of service and ease of access to services, which of course in the implementation process has obstacles and several shortcomings that need to be corrected. ABSTRAKKebijakan Integrasi Layanan Primer adalah suatu upaya untuk koordinasi penyatuan pelayanan kesehatan primer menjadi satu kesatuan secara menyeluruh yang bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan dimasyarakat khususnya promotif dan preventif khususnya di UPTD Puskesmas Ciwandan Kota Cilegon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses implementasi kebijakan Integrasi Layanan Primer terhadap peningkatan akses layanan Kesehatan di UPTD Puskesmas Ciwandan Kota Cilegon Tahun 2024. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi tantangan, hambatan, serta peluang perbaikan dalam proses peningkatan akses layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan campuran (mixed-methods) melalui kuisioner dan wawancara mendalam, dengan menggabungkan analisis kuantitatif dari data pelayanan Integrasi Layanan Primer. Pada data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis secara  tematik. Sampel penelitian ada 99 responden terdiri dari pemberi kebijakan, pelaksana kebijakan dan penerima kebijakan. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan pola pelayanan teritegrasi, sedangkan analisis tematik akan diterapkan pada wawancara untuk mengungkap masalah yang terjadi selama pelaksanaan pelayanan Integrasi Layanan Primer terhadap akses pelayanan Kesehatan. Sebanyak 99 responden memgetahui tentang Integrasi Layanan Primer yang di implementasikan di UPTD Puskesmas Ciwandan, mayoritas reponden (93,93 %) menilai Integrasi Layanan Primer sudah berjalan baik, hasil tertinggi pada kemudahan layanan (46,46%), sedangkan kemudahan akses layanan (21,21%). Implementasi kebijakan pelayanan kesehatan Integarasi Layanan Primer (ILP) telah dilaksanakan dengan baik oleh UPTD Puskesmas Ciwandan sepanjang tahun 2024 dan memberikan hasil pada penerapannya seperti kemudahan layanan juga kemudahan akses layanan, yang tentunya dalam pada proses penerapan memiliki hambatan dan beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki..  
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG KB SUNTIK 3 BULAN DI PMB HJ FATIMATUN AMD.KEB Astuningsih, Sindi Diah; Kusumaningsih, Meilia Rahmawati; Meiranny, Arum
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9422

Abstract

Adherence to follow-up visits for three-month injectable contraception is essential to maintain contraceptive effectiveness and prevent unintended pregnancy. However, delays in follow-up visits are still common due to limited husband’s support and insufficient maternal knowledge regarding the importance of timely reinjection. Aim: This study aimed to analyze the relationship between husband’s support and maternal knowledge with adherence to follow-up visits among three-month injectable contraceptive users at PMB Hj Fatimatun Amd.Keb, Pekalongan City, in 2025. This study employed an analytic cross-sectional design with 95 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using structured questionnaires and medical records, and analyzed using the Chi-Square test. There was a significant association between husband’s support and adherence to follow-up visits (p = 0.037; p < 0.05). A significant association was also found between maternal knowledge and adherence to follow-up visits for three-month injectable contraception (p = 0.001; p < 0.05). Husband’s support and maternal knowledge are significantly associated with adherence to follow-up visits among three-month injectable contraceptive users. Strengthening reproductive health education involving husbands is recommended to improve adherence. ABSTRAK Kepatuhan akseptor dalam melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan sangat penting untuk menjaga efektivitas kontrasepsi dan mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Namun, masih ditemukan akseptor yang terlambat melakukan kunjungan ulang akibat kurangnya dukungan suami serta rendahnya tingkat pengetahuan ibu mengenai pentingnya ketepatan jadwal suntik ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan suami dan tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan di PMB Hj Fatimatun Amd.Keb Kota Pekalongan Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh akseptor KB suntik 3 bulan di PMB Hj Fatimatun Amd.Keb Kota Pekalongan dengan jumlah sampel 95 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan catatan medis, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dengan nilai p = 0,037 (p < 0,05). Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dukungan suami dan tingkat pengetahuan ibu berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan akseptor melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan reproduksi yang melibatkan suami guna meningkatkan kepatuhan akseptor.
EFEKTIVITAS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) SEBAGAI BIOKOAGULAN UNTUK MENURUNKAN COD, BOD, NITRIT PADA AIR SUNGAI Kumalasari, Vita; Widestri, Era
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i1.9551

Abstract

The Manunggal River, which flows through the districts of Gondokusuman, Pakualaman, and Umbulharjo in Yogyakarta City, has shown significant pollution levels. According to water quality monitoring conducted by the Yogyakarta City Environmental Service at the Mangkukusuman Bridge point, the concentrations of COD, BOD, and Nitrite exceed the Class II quality standards stipulated in the Yogyakarta Governor Regulation No. 20 of 2008, with recorded values of 31.14 mg/L, 10.88 mg/L, and 0.59 mg/L, respectively. This study aims to evaluate the effectiveness of papaya seed powder (Carica papaya L.) in reducing COD, BOD, and Nitrite concentrations in the river water. This experimental research employed a Pretest-Posttest Control Group Design, with data analyzed using effectiveness percentages and one-way ANOVA. Water samples were collected from the Manunggal River at the Mangkukusuman Bridge monitoring point in Baciro Yogyakarta. The results indicate that the application of papaya seed powder at concentrations of 6 g/L, 6.5 g/L, and 7 g/L inadvertently increased COD and BOD levels by 41.24%, 51.10%, and 55.93%, respectively. Conversely, the treatment succeeded in reducing Nitrite levels by 31.96%, 42.80%, and 31.81%. These findings suggest that while papaya seed powder (Carica papaya L.) is ineffective in lowering COD and BOD likely due to its organic content it demonstrates a capacity to reduce Nitrite concentrations, although the final levels still did not comply with the required water quality standards. ABSTRAK Sungai Manunggal yang melintasi Kecamatan Gondokusuman, Pakualaman, dan Umbulharjo Kota Yogyakarta ini, berdasarkan pemantauan kualitas air di titik Jembatan Mangkukusuman yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, menunjukkan konsentrasi COD, BOD, dan nitrit yang melebihi baku mutu kelas II menurut Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2008, yaitu COD 31,14 mg/L, BOD 10,88 mg/L, dan nitrit 0,59 mg/L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serbuk biji pepaya (Carica papaya L.) dalam menurunkan konsentrasi COD, BOD, dan nitrit dalam air sungai. Penelitian ini merupakan experiment research menggunakan penelitian Pretest-Posttest Control Group Design, kemudian dihitung persentase efektivitasnya. Sampel yang digunakan adalah air Sungai Manunggal dengan titik pantau Jembatan Mangkukusuman di Banciro, Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk biji pepaya pada konsentrasi 6 gr/L, 6,5 gr/L, 7 gr/L justru menaikkan COD dan BOD sebesar 41,24%, 51,10% dan 55,93%. Namun, dapat menurunkan nitrit sebesar 31,96%, 42,80%, dan 31,81%. Hal ini menunjukkan bahwa serbuk biji pepaya (Carica papaya L.) tidak efektif untuk menurunkan COD dan BOD, namun dapat menurunkan konsentrasi nitrit dalam air sungai meskipun belum memenuhi standar baku mutu.
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN TEMPAT TIDUR BERDASARKAN GRAFIK BARBER JOHNSON DI RUMAH SAKIT RAJAWALI CITRA YOGYAKARTA Fitriyah, Yuli; Aulyana, Meita Rahma; Arsita, Emilia Vivi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i2.9549

Abstract

Bed utilization efficiency is an important indicator in assessing inpatient service performance in hospitals. This study aimed to analyze the efficiency of bed utilization at Rajawali Citra Hospital Yogyakarta in 2024 using the Barber Johnson graph and to identify the factors contributing to inefficiency. This research employed a qualitative method with a case study approach. The research subjects included daily inpatient census officers, medical record reporting officers, and the head of the medical record unit. The data analyzed were derived from the 2024 inpatient daily census recapitulation, calculated using the indicators of BOR, AvLOS, TOI, and BTO, and then plotted into the Barber Johnson graph. The results showed that during quarters I–IV of 2024, the BOR, AvLOS, and BTO values had not reached the ideal standards, while TOI was within the ideal range. The intersection point of the four indicators was located outside the efficient zone, indicating that bed utilization was not yet efficient. The main contributing factors were related to human resources and facility limitations, including irregular physician visit schedules, the absence of certain medical specialists, and incomplete supporting facilities. ABSTRAK Efisiensi penggunaan tempat tidur merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kinerja pelayanan rawat inap di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi penggunaan tempat tidur di RS Rajawali Citra Yogyakarta tahun 2024 berdasarkan grafik Barber Johnson serta mengidentifikasi faktor penyebab ketidakefisienannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari petugas sensus harian rawat inap, petugas rekam medis bagian pelaporan, dan kepala rekam medis. Data yang dianalisis berasal dari rekapitulasi sensus harian rawat inap tahun 2024, kemudian dihitung menggunakan indikator BOR, AvLOS, TOI, dan BTO serta diplot ke dalam grafik Barber Johnson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada triwulan I–IV tahun 2024, nilai BOR, AvLOS, dan BTO belum mencapai standar ideal, sedangkan TOI telah berada dalam rentang ideal. Titik pertemuan keempat indikator berada di luar daerah efisien sehingga penggunaan tempat tidur dinyatakan belum efisien. Faktor penyebab utama ketidakefisienan berasal dari aspek man dan materials, yaitu ketidakpastian jadwal visit dokter, keterbatasan dokter spesialis, serta belum optimalnya fasilitas penunjang pelayanan.