cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 124 Documents
PENGARUH SELF COMPASSION DENGAN BODY DISSATISFACTION PADA MAHASISWA ABI FISB IWU LUSIANA, VINA; SAPUTRA, BANYU
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2833

Abstract

Body Dissatisfaction problems are caused by wrong views and self-judgments. This assessment usually takes the form of a view that the individual has experienced weight gain which causes their body to deviate from the image of the "ideal body shape". So many teenagers like to compare themselves with other people, the ability of Self Compassion can reduce comparing behavior which can lead to dissatisfaction with body shape. Researchers are interested in knowing the relationship between Self Compassion because it is considered as one of the factors that can reduce Body Dissatisfaction seen from the demands of its developmental tasks. The initial hypothesis was that the higher the sense of Self Compassion, the smaller the sense of Body Dissatisfaction. Vice versa. If the sense of Self Compassion is smaller. then the feeling of Body Dissatisfaction will be greater. The research that will be applied to answer the hypothesis is quantitative research which aims to analyze the relationship between Self Compassion and Body Dissatisfaction. In this study, correlation was used to see the relationship between the variables Self Compassion and Body Dissatisfaction. To analyze questionnaire data, several steps are carried out, namely: Validity, Reliability and Normality Tests. Tests using linear regression analysis show that Self Compassion is able to significantly predict the Body Dissatisfaction variable. If we look at the results of the correlation test, the correlation between the variables Self Compassion and Body Dissatisfaction shows a figure of 0.83. This figure shows a perfect correlation. Based on the results of the regression test, the R Square value was obtained which explains the ability of the Self Compassion (X) variable in predicting the value of the Body Dissatisfaction (Y) variable of 0.0332 or 3.3% indicating the contribution made by Self Compassion with Body Dissatisfaction). For the F test, the significance value is 0.91 > 0.05, so it is accepted and H0 is rejected. The decision is that the probability number from the calculation results is 0.270, the probability number is 0.270 > 0.05, then H1 is accepted and H0 is rejected. So based on the results of the hypothesis analysis, it was found that there was no significant influence between the Self Compassion variable and a decrease in Body Dissatisfaction (Y) in ABI FISB IWU students. ABSTRAKPermasalahan Body Dissatisfaction disebabkan oleh pandangan serta penilaian diri yang keliru. Penilaian tersebut biasanya berupa pandangan bahwa individu telah mengalami kenaikan berat badan yang menjadikan tubuhnya menyimpang dari gambaran “bentuk tubuh ideal”. Sehingga banyak remaja yang suka membandingkan dirinya dengan orang lain, adanya kemampuan Self Compassion yang mampu mengurangi perilaku membanding-bandingkan yang dapat mengarah pada munculnya ketidakpuasan bentuk tubuh. Peneliti tertarik mengetahui hubungan antara Self Compassion karena dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat mengurangi Body Dissatisfaction dilihat dari tuntutan tugas perkembangannya. Hipotesis awal dianggap semakin tinggi rasa Self Compassion, maka rasa Body Dissatisfaction akan semakin kecil. Begitu pula sebaliknya. Apabila rasa Self Compassion lebih kecil. maka rasa Body Dissatisfaction akan semakin besar. Penelitian yang akan diterapkan untuk menjawab hipotesis adalah penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Self Compassion dengan Body Dissatisfaction. Pada penelitian ini korelasi digunakan untuk melihat adanya hubungan antara variabel Self Compassion dengan Body Dissatisfaction. Untuk analisa data angket maka dilakukan beberapa langkah yaitu: Uji Validitas, Reabilitas dan uji normalitas. Pengujian menggunakan analisis regresi linear menunjukkan bahwa Self Compassion mampu memprediksi secara signifikan variabel Body Dissatisfaction. Jika dilihat dari hasil uji korelasi, maka korelasi antara variabel Self Compassion dengan Body Dissatisfaction menunjukkan angka sebesar 0,83. Angka ini menunjukkan adanya korelasi yang sempurna. Berdasarkan hasil uji regresi diperoleh nilai R Square yang menjelaskan kemampuan variabel Self Compassion (X) dalam memprediksi nilai variabel Body Dissatisfaction (Y) sebesar 0,0332 atau 3,3% menunjukkan kontribusi yang disumbangkan Self Compassion dengan Body Dissatisfaction). Untuk Uji F nilai signifikansi 0,91 > 0,05 maka diterima dan H0 ditolak. Keputusannya yaitu angka probabilitas dari hasil perhitungan adalah sebesar 0,270, angka probabilitas 0,270 > 0,05, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Jadi berdasarkan hasil analisis hipotesa ditemukan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Self Compassion dengan penurunan Body Dissatisfaction (Y) pada mahasiswa ABI FISB IWU.
GANGGUAN KELEKATAN SEBAGAI PENCETUS TERJADINYA SKIZOFRENIA : TINJAUAN PUSTAKA SITANGGANG, AMITA ROULI PURNAMA; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2867

Abstract

Schizophrenia is one of the non-fatal diseases that result in a heavy burden for patients, society, and the government, with a prevalence rate of 0.5-1% of the world's population, or more than 20 million people worldwide. In Indonesia, according to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2019, it is estimated that there are 450,000 people with mental disorders, including schizophrenia. Although the exact cause of schizophrenia is not yet known, several factors are suspected to influence the occurrence of schizophrenia, one of which is emotional trauma due to attachment disorders. Attachment theory offers a conceptualization of the formation of emotional bonds, social functions, and emotional regulation that can help explain the occurrence of mental disorders, including schizophrenia. A literature review was conducted through data sources such as PubMed, Google Scholar, Medline, and PsycINFO to search for data on attachment theory, attachment disorders, and schizophrenia. Attachment disorders are experienced in the early stages of development in the form of trauma. Trauma experienced in the early stages of development, such as negative events, neglect, or inadequate caregiving, is a factor that can affect brain development, leading to changes in neuroendocrine function, resulting in disturbances in emotional regulation and cognitive function. There is a decrease in the ability to identify and understand one's own and others' mental states, such as beliefs, emotions, and intentions, known as "mentalization" and "theory of mind." Emerging evidence regarding the role of attachment in the development of psychosis has implications for the prevention and treatment of psychosis. Trauma experienced in the early stages of development, such as negative events, neglect, or inadequate caregiving, is considered a factor that can affect brain development and neuroendocrine function. The discussion on the relationship between attachment disorders and schizophrenia still requires extensive review and research in the future. ABSTRAKSkizofrenia termasuk salah satu kelompok penyakit nonfatal yang mengakibatkan beban berat bagi penderita, masyarakat, dan pemerintah dengan kisaran prevalensi antara 0,5-1 % dari populasi dunia, atau lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia, menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2019 diperkirakan ada 450.000 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) termasuk skizofrenia. Meskipun penyebab skizofrenia belum diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor yang diduga mempengaruhi terjadinya skizofrenia, salah satunya adalah trauma emosional akibat gangguan kelekatan. Teori kelekatan menawarkan konseptualisasi tentang pembentukan ikatan emosional, fungsi sosial, dan regulasi emosi yang dapat membantu menjelaskan terjadinya gangguan mental termasuk skizofrenia. Dilakukan tinjauan pustaka melalui sumber data yaitu PubMed, Google Scholar, Medline, dan PsycINFO untuk mencari data mengenai teori kelekatan, gangguan kelekatan dan skizofrenia. Gangguan kelekatan dialami pada tahap awal perkembangan dalam bentuk trauma. Trauma yang dialami pada tahap awal perkembangan, misalnya peristiwa negatif, pengabaian atau pengasuhan yang tidak memadai merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan otak, sehingga terjadi perubahan fungsi neuroendokrin sehingga terjadi gangguan regulasi emosi dan fungsi kognitif. Terdapat penurunan kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi mental diri sendiri dan orang lain, seperti keyakinan, emosi, dan niat, yang disebut sebagai “mentalisasi” dan “teori pikiran”. Bukti yang muncul mengenai peran keterikatan terhadap perkembangan psikosis mempunyai implikasi terhadap pencegahan dan pengobatan psikosis. Trauma yang dialami pada tahap awal perkembangan, misalnya peristiwa negatif, pengabaian atau pengasuhan yang tidak memadai dianggap sebagai faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan otak serta fungsi neuroendokrin. Diskusi mengenai hubungan gangguan kelekatan dan skizofrenia masih memerlukan banyak telaah dan penelitian di masa depan. 
FAKTOR RISIKO DAN PENGARUH KEPRIBADIAN PADA BUNUH DIRI DI USIA TUA PRASETIO, ADRIAN; WARDANI, I.A. KUSUMA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2868

Abstract

Suicide is a health problem that contributes significantly to the suicide rate in the world. In general, suicidal behavior increases with age, but mental health and suicide screening is rarely performed in the elderly population. Not all suicide attempters in old age have a history of previous attempts. Some literature states that there are factors influencing suicidality, such as depression, physical decline, social isolation, economic problems, or certain personality traits. Maladaptive personality has a strong relationship as a risk factor for suicidal behavior due to the inability to manage stress well. At a young age, personalities with aggressive and impulsive traits such as those in Cluster B tend to have a higher risk of committing suicidal behavior. However, its role in older age groups remains unclear. This literature review aims to analyze the role of personality and suicide in old age as well as the risk factors in elderly. ABSTRAKBunuh diri merupakan masalah kesehatan yang berkontribusi secara signifikan terhadap angka bunuh diri di dunia. Secara umum, perilaku bunuh diri semakin meningkat seiring bertambahnya usia, namun skrining kesehatan jiwa dan bunuh diri jarang dilakukan pada populasi lansia. Tidak semua percobaan bunuh diri pada usia tua memiliki riwayat percobaan sebelumnya. Beberapa literatur menyatakan bahwa ada faktor-faktor memengaruhi kecenderungan bunuh diri, seperti depresi, penurunan kondisi fisik, isolasi sosial, masalah ekonomi, atau ciri kepribadian tertentu. Kepribadian maladaptif memiliki hubungan kuat sebagai faktor risiko terhadap perilaku bunuh diri karena ketidakmampuan mengelola stres dengan baik. Pada usia muda, kepribadian dengan sifat agresif dan impulsif seperti pada kluster B cenderung memiliki risiko lebih tinggi melakukan perilaku bunuh diri. Namun, perannya pada kelompok usia tua masih belum jelas. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menganalisis peran kepribadian dan bunuh diri di usia tua serta faktor risikonya pada usia tua.
KOMORBIDITAS TRAUMA FISIK OKULI SINISTRA DAN GANGGUAN MENTAL PERILAKU AKIBAT ZAT MULTIPEL YANG MERUGIKAN PADA WARGA BINAAN LAPAS MANIK, I GUSTI NGURAH WISUDA; ARYANI, LUH NYOMAN ALIT
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.2996

Abstract

The use of drugs and addiction is a prevalent psychiatric issue that imposes a burden on individuals, families, communities, and even the nation. The burden caused by drug addiction cases can manifest in various forms, including physical, mental, economic (both individual and broader scope), legal, social, and healthcare burdens. Aggressiveness, particularly within correctional institutions, is a common but often overlooked issue. Aggressive and impulsive behavior can arise from underlying psychological problems or as a consequence of excessive or chronic substance use. This literature review aims to provide an explanation of addiction and illicit drug use from the aspects of definition, symptoms, diagnosis, therapy, and issues related to aggressive and impulsive behavior among substance users in correctional facilities. ABSTRAKPenggunaan obat-obatan dan adiksi merupakan permasalahan kejiwaan yang banyak terjadi dan menjadi beban baik dalam lingkup individu, keluarga, lingkungan sekitar, hingga kepada negara. Beban yang dapat ditimbulkan pada kasus adiksi obat-obatan dapat berupa beban fisik, beban mental, beban ekonomi baik individu maupun lingkup luas, beban hukum dan sosial, dan beban perawatan. Fenomena agresivitas terutama didalam lembaga permasyarakatan (Lapas) merupakan salah satu masalah yang umum terjadi namun tidak terlalu banyak disorot. Perilaku agresif dan impulsif timbul akibat permasalahan psikologis yang melatarbelakangi maupun akibat dari penggunaan substansi yang berlebihan maupun berlangsung secara kronis. Tinjauan literatur ini bertujuan memberikan penjelasan mengenai adiksi dan penggunaan obat terlarang dari aspek definisi, gejala, diagnosis, terapi dan permasalahan perilaku agresif dan impulsif pada pengguna substansi di Lapas
TERAPI CLOZAPINE PADA SKIZOFRENIA KATATONIK DENGAN KEHAMILAN: LAPORAN KASUS PUTRA, SURYA PRADNYANA; DARMAYASA, I MADE; ARYANI , LUH NYOMAN ALIT; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.3033

Abstract

The use of clozapine in pregnant women with catatonic schizophrenia is still rarely reported and raises concerns regarding its safety. This study aims to describe the effectiveness and safety of using low-dose clozapine in pregnant women with catatonic schizophrenia. Case report of a 27 year old woman with catatonic schizophrenia who was given low dose clozapine therapy (6.25 mg/day) during the second trimester of pregnancy until delivery. The primary focus is on response to clozapine and pregnancy outcomes. Administration of low doses of clozapine resulted in significant improvements in patient communication without significant side effects. Although the dose is well below the common therapeutic dose, clozapine is effective in managing the symptoms of catatonia. The baby was born via caesarean section at 39 weeks 5 days of gestation with a weight of 3000 grams, a length of 48 cm, and an Apgar score of 8-9, without congenital abnormalities. Evaluation one month after delivery did not show any complications related to the use of clozapine in the mother and baby. The use of low-dose clozapine in this case represents a promising approach in managing catatonic schizophrenia during pregnancy, with good outcomes in both mother and baby. Clozapine appears to be effective even at very low doses, offering a balance between symptom management and fetal safety. However, further research is needed to confirm the long-term safety profile and effectiveness of low-dose clozapine in this population. ABSTRAKPenggunaan clozapine pada ibu hamil dengan skizofrenia katatonik masih jarang dilaporkan dan menimbulkan kekhawatiran terkait keamanannya. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan efektivitas dan keamanan penggunaan clozapine dosis rendah pada pasien ibu hamil dengan skizofrenia katatonik. Laporan kasus seorang wanita berusia 27 tahun dengan skizofrenia katatonik yang diberikan terapi clozapine dosis rendah (6,25 mg/hari) selama kehamilan trimester kedua hingga persalinan. Fokus utama adalah pada respons terhadap clozapine dan hasil kehamilan. Pemberian clozapine dosis rendah menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam komunikasi pasien tanpa efek samping yang berarti. Meskipun dosisnya jauh di bawah dosis terapeutik umum, clozapine efektif dalam mengelola gejala katatonia. Bayi lahir melalui sectio caesaria pada usia kehamilan 39 minggu 5 hari dengan berat 3000 gram, panjang 48 cm, dan Apgar score 8-9, tanpa kelainan kongenital. Evaluasi satu bulan pasca persalinan tidak menunjukkan adanya komplikasi terkait penggunaan clozapine pada ibu dan bayi. Penggunaan clozapine dosis rendah pada kasus ini menunjukkan pendekatan yang menjanjikan dalam mengelola skizofrenia katatonik selama kehamilan, dengan hasil yang baik pada ibu dan bayi. Clozapine tampaknya efektif bahkan pada dosis yang sangat rendah, menawarkan keseimbangan antara manajemen gejala dan keamanan janin. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi profil keamanan jangka panjang dan efektivitas clozapine dosis rendah dalam populasi ini.
COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY PADA REMAJA DENGAN PERCOBAAN BUNUH DIRI SUWANDI, NYOMAN DEFRIYANA; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; ADNYANA, I GUSTI AGUNG NGURAH SUGITHA; WINDIANI, I GUSTI AYU TRISNA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3153

Abstract

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) is a therapeutic approach that has been proven effective in treating various mental health problems, including suicide attempts in adolescents. The World Health Organization states that suicide is the second leading cause of death in the 15-29 year age group. In adolescents with suicide attempts, CBT can be used to help identify negative thoughts that drive suicidal thoughts and develop healthier coping strategies. It is important to note that CBT is not the only solution, but can be combined with other interventions, such as family support, psychoeducational education, and group therapy. This is a qualitative study using a case study approach combining observational studies and biographical studies. A 15-year-old girl, domiciled in Denpasar, junior high school education, unmarried, unemployed. The patient was diagnosed with a Major Depressive Episode without Psychotic Symptoms complaining of sadness since 1 month ago and felt even sadder when she had to go home. The patient felt more sensitive and felt that no one loved and understood her condition. The stressors felt were getting worse since she was suspended from school for not paying school fees and was reprimanded for dating. There are thoughts of drinking bleach and suddenly thinking about drinking the liquid. The patient also feels a loss of interest and joy, gets tired easily, and has difficulty concentrating. The patient is a stubborn and unruly child. When corrected, the patient will get angry and run away from home. Children with more severe depressive symptoms are more likely to benefit from antidepressants. The patient needs to be given pharmacotherapy and non-pharmacotherapy. Pharmacotherapy in this case is fluoxetine 5 milligrams intraorally every 24 hours (morning). Non-pharmacotherapy can be given supportive psychotherapy, CBT, and psychoeducation. Conflict management is not only done to the patient but also to the patient's family. Family conflict and parenting patterns can be one of the factors that aggravate the patient's current condition. ABSTRAKTerapi Perilaku Kognitif (CBT) merupakan pendekatan terapeutik yang telah terbukti efektif dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan mental, termasuk percobaan bunuh diri pada remaja. Organisasi Kesehatan Dunia mengungkapkan bunuh diri menjadi penyebab kematian terbanyak kedua pada kelompok usia 15-29 tahun. Pada remaja dengan percobaan bunuh diri, CBT dapat digunakan untuk membantu dalam identifikasi pemikiran negatif yang mendorong keinginan untuk bunuh diri serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat. Penting untuk dicatat bahwa CBT bukan menjadi solusi tunggal, namun dapat dikombinasikan dengan intervensi lain, seperti dukungan keluarga, pendidikan psikoedukatif, dan terapi kelompok. Merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus menggabungkan antara studi observasi dan studi biografi. Seorang anak perempuan 15 Tahun, domisili Denpasar, Pendidikan SMP, belum menikah, belum bekerja. Pasien didiagnosa dengan Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik mengeluh sedih sejak 1 bulan yang lalu dan makin merasa sedih saat harus pulang ke rumah. Pasien merasa lebih sensitif serta merasa tidak ada yang menyayangi dan memahami kondisinya. Stressor yang dirasakan semakin memberat sejak mendapatkan skorsing dari sekolah karena belum membayar uang sekolah dan ditegur karena berpacaran. Terdapat pikiran terlintas untuk minum pemutih pakaian dan secara tiba-tiba berpikir untuk meminum cairan tersebut. Pasien juga merasa kehilangan minat dan kegembiraan, mudah lelah, dan sulit untuk konsentrasi. Pasien merupakan anak yang keras kepala dan sulit diatur. Bila dikoreksi, pasien akan marah dan kabur dari rumah. Anak-anak dengan gejala depresi yang lebih parah kemungkinan besar mendapatkan manfaat dari pemberian antidepresan. Pada pasien perlu untuk diberikan farmakoterapi dan nonfarmakoterapi. Farmakoterapi pada kasus ini berupa fluoxetine 5 miligram intraoral tiap 24 jam (pagi). Nonfarmakoterapi dapat diberikan psikoterapi supportif, CBT, serta psikoedukasi. Penanganan konflik tidak hanya dilakukan kepada pasien saja namun juga kepada keluarga pasien. Konflik keluarga dan pola asuh orang tua bisa menjadi salah satu factor yang memperberat kondisi pasien saat ini.
HUBUNGAN FORTIFIKASI MORINGA OLEIFERA MENINGKATKAN IMUNITAS ANGGOTA KELUARGA YANG MEMPUNYAI RIWAYAT KANKER LITERATUR RIVIEW INDRIANI, RIRIN; SENDRA, ENY; FIRDAYANTI, IVA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3251

Abstract

One of the main causes of death in women throughout the world is breast cancer. Several factors that contribute significantly to an increased risk of breast cancer are obesity, menopause, increased serum estradiol concentrations, use of oral contraceptives and exposure to carcinogenic substances. Therapy with anti-cancer herbs, one of which is Moringa oleifera, belonging to the Moringaceae family, has been reported to have pharmacological properties such as anti-convulsant, antimicrobial, anticancer and antiviral. Moringa oleifera bioactive compounds show inhibitory potential against cancer cell lines by inhibiting the proliferation of carcinoma cells and astrocytoma cells. Moringa Oleifera bioactive compounds show inhibitory potential against cancer cell lines by inhibiting the proliferation of carcinoma cells and astrocytoma cells. Reducing maternal mortality due to cancer. The indicator is that the incidence of cancer is still high and one of the causes is the use of herbal products as an alternative for cancer prevention. Alternative therapy with moringa oleifera products as a basic ingredient to ward off free radicals (as an antioxidant) so that it can prevent cancer. ABSTRAKPenyebab utama kematian pada wanita di seluruh dunia salah satunya adalah kanker payudara. Beberapa faktor yang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan resiko kanker payudara adalah obesitaas, menopause, peningkatan konsentrasi serum estradiol, penggunaan oral kontrasepsi dan paparan zat karsinogenik. Therapy dengan herbal anti kanker salah satunya adalah moringa oleifera termasuk dalam famili Moringaceae, telah dilaporkan memiliki kasiat farmakologis seperti anti konvulsan, antimikroba, antikanker, dan antivirus. Senyawa bioaktif moringa oleifera menunjukkan potensi penghambatan terhadap garis sel kanker dengan menghambat proliferasi sel karsinoma dan sel astrositoma. Senyawa bioaktif Moringa Oleifera menunjukkan potensi penghambatan terhadap garis sel kanker dengan menghambat proliferasi sel karsinoma dan sel astrositoma. Mengurangi angka kematian ibu akibat kanker. Indikator masih tingginya angka kejadian kanker dan salah satu penyebab adalah dengan pemanfa'atan produk herbal sebagai salah satu alternatif pencegahan kanker. Therapy alternatif dengan produk moringa oleifera sebagai bahan dasar untuk menangkal radikal bebas (sebagai antioksidan) sehingga dapat mencegah terjadinya kanker.
OPTIMALISASI PELAYANAN PASIEN DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. HARYOTO LUMAJANG RISMAWATI, RYSA; SRIMURNI, TITIS; SHOLIHAH, MILLATUS
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3252

Abstract

Health is one of the most important aspects of human life. The government provides healthcare services to the public in various regions through hospitals. Regional General Hospitals are healthcare institutions that play a significant role in providing medical services to the community in a specific area. The Central Surgery Installation is one of the healthcare service units in the Regional General Hospital, aiming to provide services to patients requiring surgical operations. This study aims to determine the optimization of patient services at the Central Surgery Installation of dr. Haryoto Lumajang Regional General Hospital and the factors influencing it. The research method used is qualitative with a descriptive approach. Informants were selected using purposive sampling technique. The research location is the Central Surgery Installation at dr. Haryoto Lumajang Regional General Hospital. The research results show that the certainty of timing is still not accurate according to the scheduled time, there has been no improvement in information facilities regarding patient positions, and there is a limitation in the number of operating rooms, leading to long waiting times. Based on these findings, it is suggested to improve the information system by providing an information screen in the waiting room displaying the latest patient status, and adding more operating rooms to reduce patient waiting time and avoid surgery delays due to limited facilities. ABSTRAKKesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pemerintah memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat ada di berbagai daerah melalui rumah sakit. Rumah Sakit Umum Daerah merupakan lembaga pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam menyediakan layanan medis bagi masyarakat di suatu daerah. Instalasi Bedah Sentral merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang ada di di Rumah Sakit Umum Daerah guna memberikan pelayanan kepada pasien yang memerlukan tindakan bedah/operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimalisasi pelayanan pasien di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haryoto Lumajang dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Lokasi penelitian yaitu di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haryoto Lumajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepastian waktu masih belum tepat sesuai jadwal yang ditentukan, belum ada perbaikan fasilitas informasi mengenai posisi pasien, keterbatasan jumlah ruang pembedahan sehingga menyebabkan waktu tunggu lama. Berdasarkan hal tersebut hendaknya meningkatkan sistem informasi dengan menyediakan layar informasi di ruang tunggu yang menampilkan status terkini pasien, penambahan ruang operasi untuk mengurangi waktu tunggu pasien dan menghindari penundaan operasi akibat terbatasnya fasilitas yang tersedia.
PENDAMPINGAN UJI KLINIK OBAT BAHAN ALAM PADA MASA PANDEMI COVID-19 DALAM UPAYA HILIRISASI PENELITIAN MENJADI FITOFARMAKA SEMBIRING, ELIN NOVIA; DAMAYANTI, SUCI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v1i4.1855

Abstract

The success of a research is largely determined by the design and methodology as well as understanding and capacity/capability of researchers and sponsors/business actors. In supporting innovation and downstreaming as well as the development of natural product medicines (OBA), assistance is carried out pro-actively from the early stages of product development. The Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) intensively provides assistance starting from the preparation and development of research protocols to its implementation, as well as increasing the understanding of researchers and business actors through webinars, technical guidance on Good Clinical Trials (CUKB) and workshops. This is done so that the clinical trials carried out are of good quality, so that valid, objective and credible data are produced that can be used to support the proof of the efficacy and safety aspects of a phytopharmaca product. Research on assisting OBA clinical trials during the COVID-19 pandemic is interesting to study. This study aims to analyze and describe the assistance of OBA clinical trials during the COVID-19 pandemic conducted by BPOM. This assistance is government support in an effort to downstream research into phytopharmaca. This research uses descriptive qualitative method. The method used in this study uses qualitative methods with a case study approach with a natural background. The research data is in the form of field notes from observations, interview results, and respondents' recordings. The results of the study concluded that the government, in this case BPOM, played an important role in assisting clinical trials of natural medicine as an effort to develop Indonesian OBA. ABSTRAKKeberhasilan suatu riset sangat ditentukan oleh desain dan metodologi serta pemahaman dan kapasitas/kapabilitas peneliti dan sponsor/pelaku usaha. Dalam mendukung inovasi dan hilirisasi serta pengembangan obat bahan alam (OBA), pendampingan dilakukan secara pro aktif dan sejak tahapan awal pengembangan produk. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara intensif melakukan pendampingan mulai dari penyusunan dan pengembangan protokol penelitian hingga pelaksanaannya, juga peningkatan pemahaman peneliti dan pelaku usaha melalui webinar, bimtek Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) dan workshop. Hal ini dilakukan agar uji klinik yang dilakukan memiliki kualitas yang baik, sehingga dihasikan data yang valid, objektif dan kredibel yang dapat digunakan untuk mendukung pembuktian aspek khasiat dan keamanan suatu produk fitofarmaka. Penelitian tentang pendampingan uji klinik OBA pada masa pandemi COVID-19 menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan tentang pendampingan uji klinik OBA pada masa pandemi COVID-19 yang dilakukan oleh BPOM. Pendampingan ini merupakan dukungan pemerintah dalam upaya hilirisasi penelitian menjadi fitofarmaka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang berlatar natural. Data penelitian ini berupa catatatan lapangan hasil observasi, hasil wawancara, dan rekaman responden. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemerintah dalam hal ini BPOM berperan penting dalam pendampingan uji klinik obat bahan alam sebagai upaya pengembangan OBA Indonesia.
INTEGRATION HEALTH PROMOTION INTO HOSPITAL CARE: DEVELOPMENT OF HEALTH PROMOTING HOSPITAL (HPH) : THE BENEFITS, CHALLENGES AND THE IMPLEMENTATION FOR FUTURE HOSPITAL IN INDONESIA MULIANINGSIH, NI PUTU BUDI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v2i1.2051

Abstract

This paper aims to provide a useful introduction of development and implementation of health promoting hospital (HPH), highlight the benefits, activities, barriers, strategies for implementation. It also points out the important of implementation for future hospitals in Indonesia and offer recommendations. The research design used literature study. Source of Data of this research is collected through journal text, books and data statistic and then it is analyzed with content analysis techniques. Based on literature study shows that its needs to develop and implement Health Promoting Hospital (HPH) which yield many benefits for hospital organization, management, patients and relatives, and community. In particular, the findings should have important implication and large contribution for development and successful implementation Health Promoting Hospitals in Indonesia particularly to Hospital management and staffs to enhance their understanding and awareness of the importance of reorienting Hospital service to becoming more health promoting and its implication to hospital and community, and engage them to implement HPH in Hospital daily activities. ABSTRACTTujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan tentang pengembangan Layanan Promosi Kesehatan kedalam layanan Rumah Sakit melalui pengembangan Promosi Kesehatan Rumah Sakit [HPH]. Data yang diperlukan dihimpun melalui kajian teks jurnal ,buku, dan data statistik, selanjutnya dianalisis menggunakan teknik analisi isi. Berdasarkan studi literatur menunjukkan bahwa perlunya membangun dan mengembangkan layanan Promosi Kesehatan RS dimana sangat bermanfaat unutk organisasi, management, pasien dan keluarga dan masyarakat sekitar. Khususnya hasil dari studi ini mempunyai implikasi dan memiliki kontribusi yang besar untuk berkembangnya and suksesnya pengembangan RS yang lebih mempromosikan kesehatan di Indonesia khususnya para manager dan staf untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya mengubah pandangan tentang layanan RS untuk lebih mengutamakan promosi kesehatan selain pelayanan dan menerapkan promosi kesehatan dalam rutinitas kerja mereka.

Page 5 of 13 | Total Record : 124