cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
jurnalneuroanestesi@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
jni@inasnacc.org
Editorial Address
Jl. Prof. Eijkman No. 38 Bandung 40161, Indonesia Lt 4 Ruang JNI
Location
,
INDONESIA
Jurnal Neuroanestesi Indonesia
ISSN : 20889674     EISSN : 24602302     DOI : https://doi.org/10.24244/jni
Editor of the magazine Journal of Neuroanestesi Indonesia receives neuroscientific articles in the form of research reports, case reports, literature review, either clinically or to the biomolecular level, as well as letters to the editor. Manuscript under consideration that may be uploaded is a full text of article which has not been published in other national magazines. The manuscript which has been published in proceedings of scientific meetings is acceptable with written permission from the organizers. Our motto as written in orphanet: www.orpha.net is that medicine in progress, perhaps new knowledge, every patient is unique, perhaps the diagnostic is wrong, so that by reading JNI we will be faced with appropriate knowledge of the above motto. This journal is published every 4 months with 8-10 articles (February, June, October) by Indonesian Society of Neuroanesthesia & Critical Care (INA-SNACC). INA-SNACC is associtation of Neuroanesthesia Consultant Anesthesiology and Critical Care (SpAnKNA) and trainees who are following the NACC education. After becoming a Specialist Anesthesiology (SpAn), a SpAn will take another (two) years for NACC education and training in addition to learning from teachers in Indonesia KNA trainee receive education of teachers/ experts in the field of NACC from Singapore.
Articles 363 Documents
Penanganan Edema Serebri Berat dan Herniasi Serebri pada Cedera Kepala Traumatik Agus Baratha Suyasa; Sri Rahardjo
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.vol1i2.93

Abstract

Cedera kepala traumatik merupakan salah satu kondisi yang mengancam jiwa secara serius pada korban kecelakaan, dan merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian pada dewasa dan anak-anak. Subdural hematom merupakan lesi fokal intrakranial yang paling sering dijumpai, sekitar 24% dari pasien yang mengalami cedera kepala berat tertutup. Edema serebral sering ditemui pada praktek klinis dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien sakit kritis serta pasien bedah saraf yang mengalami cedera otak akut. Herniasi serebri adalah suatu keadaan emergensi, dimana tujuan terapi adalah menyelamatkan jiwa pasien. Prognosis sangat tergantung di bagian mana herniasi terjadi. Kematian pasti terjadi jika herniasi tidak ditangani. Seorang wanita 27 thn dengan subdural hematom frontotemporoparietal D, edema serebri berat dan herniasi serebri, dengan riwayat tidak sadar setelah terjatuh dari motor karena ditabrak. Rencana dilakukan craniotomi evakuasi clot dan dekompresi. Saat pasien tiba, assesmen ditegakan, intubasi segera dilakukan untuk menguasai jalan nafas dan memberikan oksigenasi yang adekuat, resusitasi cairan serta manitol diberikan untuk mengendalikan kenaikan tekanan intrakranial. Operasi dilakukan dengan anestesi umum, menggunakan ETT No 7,5, ventilasi kendali. Dekompresi lambung dengan NGT no 16. Premedikasi dengan midazolam 2 mg. Co induksi menggunakan fentanyl 100 μg, induksi dengan propofol 100 mg. Lidocain 1,5 mg /KgBB diberikan 3 menit sebelum intubasi. Fasilitas intubasi dengan vekuronium 0,1 mg / KgBB. Pemeliharaan anestesi dengan O2 + N2O + Sevofluran. Propofol diberikan kontinyu 4-6 mg/kgBB/jam, vekuronium 6mg /jam. Operasi berlangsung selama 3 jam, evakuasi clot di regio frontotemporoparietal kanan, setelah dilakukan evakuasi clot, terjadi reperfusi ke daerah yang tadinya terdapat clot, sehingga terjadi pembengkakan otak (bulging) yang tidak dapat dikendalikan dengan hiperventilasi, manitol maupun pemberian furosemid. Diputuskan untuk melakukan dekompresi kraniektomi. Selama operasi hemodinamik relatif stabil, tekanan darah sistolik berkisar 100-130 mmHg, tekanan darah diastolik 60-90mmHg, laju nadi (HR) 87-110 x/mnt, SaO2 99-100 %, etCO2 25-30. Pascabedah pasien di rawat di ICU, ventilasi kontrol dengan ventilator, sedasi penuh. Sembilan hari kemudian pasien meninggal. Disfungsi neurologis dan kematian pada cedera otak traumatik (TBI) berhubungan dengan (a) cedera otak itu sendiri, (b) koma yang berkepanjangan dan komplikasinya, (c) infeksi karena luka terbuka atau patah tulang dasar tengkorak, (d) hidrocephalus karena SAH, dan (e) peningkatan TIK. Tekanan intrakranial yang sangat tinggi (TIK) dapat menyebabkan terjadinya herniasi serebri yang dapat berakibat fatal bahkan kematian.Management of Severe Cerebral Edema and Cerebral Herniation in Traumatic Brain InjuryTraumatic brain injury is one of life-threatening condition to victims of serious accidents, and is the leading cause of disability and death in adults and children. Subdural hematoma is a focal intracranial lesions are most common, about 24% of patients with severe closed head injury. Oedema cerebral commonly encountered in clinical practice and is a major cause of morbidity and mortality in critically ill patients and neurosurgical patients experiencing acute brain injury. Cerebral herniation is a state of emergency, where the therapeutic goal is to save patients' lives. Prognosis greatly depends on where the herniation occurs. Deaths would occur if the herniation is not addressed. A 27 years old woman with a subdural hematoma frontotemporoparietal D, severe edema cerebral and cerebral herniation, with a history of unconscious after falling from the motor due to being hit. Plans for craniotomi clot evacuation and decompression. When the patient arrived, the assessment is being established, immediate intubation for airway control and provide adequate oxygenation, fluid resuscitation and mannitol administered to control the rise in intracranial pressure. Operations performed in general anesthesia, using ETT No 7,5, controlled ventilation. Stomach decompression with NGT No.16. Premedication with midazolam 2 mg. Co induction using fentanyl 100 mg, induction with propofol 100 mg. Lidocain 1.5 mg / kg administered 3 minutes before intubation. Vekuronium 0.1 mg / kg for intubation fascilitation. Maintenance of anesthesia with O2 + N2O + sevoflurane. Given a continuous propofol 4-6 mg / kg / hour, vekuronium 6mg / hour. The operation lasted for 3 hours, clot evacuation in the region frontotemporoparietal right, after the evacuation of clot, occurs reperfusion to the area that had contained clot, resulting in swelling of the brain (bulging) that can not be controlled by hyperventilation, mannitol and furosemide administration. It was decided to perform craniectomy decompression. The hemodynamics relatively stable during the operation, systolic blood pressure range 100-130 mmHg, diastolic blood pressure 60-90mmHg, pulse rate (HR) 87-110 x / mnt, SaO2 99-100%, 25-30 EtCO2. Postoperative care of patients in the ICU, with ventilator control ventilation, full sedation. Nine days later the patient died. Neurological dysfunction and mortality in traumatic brain injury (TBI) are associated with (a) injury to the brain itself, (b) a prolonged coma and its complications, (c) infection of open wounds or fractures of the skull base, (d) hidrocephalus because of SAH, and (e) an increase in ICP. Very high intracranial pressure (ICP) can lead to cerebral herniation which can be fatal even death
Peranan Hiperventilasi terhadap Penurunan Tekanan Intrakranial dalam Kasus Bedah Saraf Wibowo, Irwan; Harahap, M Sofyan
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.07 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.258

Abstract

AbstrakHiperventilasi telah ditemukan sebagai salah satu cara untuk menurunkan aliran darah otak (cerebral blood flow) (CBF) sejak tahun 1920-an. Pada saat itu telah dilaporkan bahwa penggunaan hiperventilasi dapat mengurangi peningkatan tekanan intrakranial (intracranial pressure/ICP) dengan vasokonstriksi serebral sehingga mampu menurunkan volume darah di daerah serebral. Secara teoritis, manfaat hiperventilasi mungkin lebih khusus diharapkan pada pasien di mana peningkatan ICP terjadi terutama karena peningkatan volume darah otak akibat mekanisme vasodilatasi. Efek vasokonstriksi tersebut akan menghilang setelah pH pada ruang perivaskular kembali normal setelah 24 jam. Yang menjadi perhatian utama dalam metode ini adalah tindakan tersebut mampu menginduksi terjadinya iskemia serebral baik secara regional maupun global. Risiko kerusakan iskemik tersebut bergantung pada sejauh mana dan seberapa lama otak mengalami aliran darah yang rendah. Masih terdapat data yang kontroversial antara yang mendukung ataupun menentang penggunaan terapi hiperventilasi, namun menurut penelitian yang telah dilakukan, tindakan ini mampu menurunkan ICP jika dilakukan dalam jangka pendek. Pemantauan multimodalitas terhadap pasien tetap diperlukan untuk memantau keberhasilan dalam tindakan ini.Hyperventilation Management for Decrease Intracranial Pressure in Neurosurgery CasesAbstractHyperventilation has been found as a way to reduce cerebral blood flow (CBF) since 1920s. At that time it was reported that the use of hyperventilation can reduce the increase in intracranial pressure (ICP) by causing cerebral vasoconstriction and decreasing cerebral blood volume. Theoretically, the benefits of hyperventilation may be more specifically expected in patients which has increasing ICP because of an increasing in blood volume and vasodilation mechanism. The vasoconstriction effect disappears after the pH in the perivascular space returns to normal after 24 hours. The main concern in treating patients with increased ICP using hyperventilation is to induce cerebral ischemia both regionally and globally. As with a stroke, the risk of ischemic damage depends on the extent and how long the brain experiences low blood flow. Controversial data still exists between those that support or oppose the use of hyperventilation therapy, but if hypocapnia monitoring is done to control the increase in ICP in the short term, hyperventilation therapy remains beneficial. Multimodality monitoring is needed so that hyperventilation therapy can be used safely in certain patients who may need this therapy.
Pengelolaan Nyeri Pascakraniotomi S Suwarman; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3202.874 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.62

Abstract

Penanganan nyeri pascakraniotomi sampai saat ini masih belum begitu diperhatikan dan sering ditangani dengan kurang adekwat. Nyeri pascakraniotomi seringkali diabaikan karena adanya anggapan bahwa pasien pascakraniotomi tidak mengalami nyeri berat. Anggapan ini perlahan-lahan berubah dengan meningkatnya kesadaran tentang nyeri akut pascakraniotomi. Terdapat berbagai teknik yang dilakukan untuk menangani nyeri ini, dimana setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, tidak ada satu pun modalitas yang dinyatakan sebagai yang terbaik dan dapat berlaku secara universal. Belum ada konsensus mengenai standar penanganan nyeri pada pasien ini. Masih terdapat berbagai ketidaksesuaian pendapat mengenai mana regimen terapi yang tepat untuk mengobati nyeri pasca kraniotomi. Pada dekade terakhir, meningkatnya kesadaran serta semakin canggihnya penatalaksanaan nyeri menyebabkan dilakukannya berbagai teknik untuk mencapai analgesia yang adekwat pada kelompok pasien ini. Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah serta kualitas penelitian mengenai nyeri pascakraniotomi. Ulasan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai patofisiologi, karakteristik, dan berbagai teknik yang dilakukan untuk penanganan nyeri akut pascakraniotomi. Nyeri kronis pasca kraniotomi yang merupakan gejala sisa yang sangat mengganggu juga dibahas secara singkat.Postcraniotomy Pain ManagementUntil recently, perioperative pain management in neurosurgical patients has been inconsistently recognized and inadequately treated. Pain following craniotomy has frequently been neglected because of the notion that postcraniotomy patients do not experience severe pain. However a gradual change in this outlook is observed because of awareness and understanding toward acute postcraniotomy pain. There are various technique exist for treating this variety of pain each with its own share of advantages and disadvantages. However, individually none of these modalities has been proclaimed as the best and applicable universally. There is no consensus regarding the standardization of pain control in this patient population. A considerable amount of dispute remains to ascertain the appropriate therapeutic regimen for treating postcraniotomy pain. In the last decade, improved awareness and advances in the practice of pain management have resulted in the implementation of diverse techniques to achieve adequate analgesia in this group of patients. This has led to an increased number and quality of studies about postcraniotomy pain. This article provides information about the pathophisiology, characteristic, and also various techniques and approaches for postcraniotomy pain management. Chronic postcraniotomy pain which can be debilitating sequelae is also discussed concisely.
Kehilangan Penglihatan Pascabedah Laminektomi dalam Posisi Prone Sumardi, Fitri Sepviyanti; Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.038 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.193

Abstract

Kehilangan penglihatan pascabedah nonocular sangatlah jarang, akan tetapi, harus dipertimbangkan sebagai komplikasi pascabedah yang tidak diinginkan. Kehilangan penglihatan unilateral atau bilateral secara tiba-tiba yang terjadi pascaanestesia umum telah dilaporkan dan dihubungkan dengan berbagai sebab diantaranya syok haemorhagik, hipotensi, hipotermia, kelainan koagulopathi, trauma langsung, emboli, dan penekanan pada bola mata yang berlangsung lama. Kasus: seorang laki-laki berusia 60 tahun dengan diagnosis radiculopathi setinggi L4 e.c protunded disc L4-5 dan L5-S1 yang menjalani laminektomi dalam anestesi umum. Terjadi komplikasi pascabedah berupa kehilangan penglihatan yang disertai opthalmoplegi total akibat oklusi arteri retina sentralis, sindroma kompartemen orbita akut, dan pseudotumor tipe miositis.Visual Loss after Prone Lumbar Spine SurgeryVisual loss after nonocular surgery is a rare but devastating postoperative complication. Sudden unilateral or bilateral visual loss occurring after general anesthesia has been reported and attributed to various causes including haemorrhagic shock, hypotension, hypothermia, coagulopathic disorders, direct trauma, embolism, and prolonged compression of the eyes. Case: a man, 60 years-old with diagnosis radiculopathy in level L4 e.c. protunded disc L4-5 and L5-S1 who required laminectomy in general anesthesia. An unusual complication of visual loss with total opthalmoplegy was caused by central retina artery occlusion, acute ischemic orbital compartement syndrome, and pseudotumor type myositis.
Tatalaksana Kraniektomi Dekompresif pada Pasien Cedera Otak Traumatik Berat yang Disertai Peningkatan Tekanan Tinggi Intrakranial Menetap Fitri Sepviyanti Sumardi; Hamzah Hamzah; Sri Rahardjo; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.096 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol7i3.19

Abstract

Tekanan tinggi intrakranial menetap adalah penyebab kematian terbesar pada pasien dengan cedera kepala traumatik berat. Pada cedera kepala berat, tatalaksana secara konservatif dan operatif dilakukan untuk meminimalisir terjadinya cedera otak sekunder. Peningkatan tekanan intrakranial biasanya disebabkan karena edema otak, hal ini sangat penting dan menentukan hasil luaran pasien/Glasgow outcomes scale (GOS) atau Extended GOS (GOSE). Data klinis menunjukkan bahwa kraniektomi dekompresif menurunkan angka kematian, meningkatkan fungsi pemulihan, menurunkan durasi perawatan di ICU dan meningkatkan hasil luaran berdasarkan Barthel Index Score. Kraniektomi dekompresif sering dilakukan sebagai penyelamatan empiris untuk melindungi kerusakan otak lebih lanjut akibat efek edema dan hipertensi intrakranial menetap. Konsep utama tatalaksana pasien dengan tekanan tinggi intrakanial yang menetap adalah menjaga aliran darah otak dan tekanan perfusi otak.Decompressive Craniectomy Management in Patients with Severe Traumatic Brain Injuries Accompanied by Refractory Intracranial HypertensionRefractory intracranial hypertension is the biggest cause of death in patients with severe traumatic head injury. In severe head injuries, conservative management and surgery are performed to minimize the occurrence of secondary brain injury. The increase in intracranial pressure is usually caused by brain edema, this is very important and determines the outcomes of the Glasgow outcomes scale (GOS) or extended GOS (GOSE). Clinical data show that decompressive craniectomy reduces mortality, improves recovery function, decreases duration of ICU treatment and increases outcome outcomes based on the Barthel Index Score. Decompressive craniectomy is often performed as an empirical salvage to protect further brain damage due to the effects of edema and refractory intracranial hypertension. The main concept of managing patients with refractory intracranial hypertension is to maintain cerebral blood flow and cerebral perfusion pressure.
Barbiturat dan Obat Pelumpuh Otot: Masih Bermanfaat untuk Menangani Hipertensi Intrakranial? M. Sofyan Harahap
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.668 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i3.155

Abstract

Hipertensi intrakranial dapat menyebabkan cedera otak sekunder dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas. Untuk mempertahankan tekanan intrakranial agar senantiasa dalam batas normal, maka cairan serebrospinal dan darah mempunyai kemampuan untuk mengurangi volume intrakranial sampai 30%. Hipertensi intrakranial didefinisikan sebagai tekanan intrakranial di atas 20 mmHg yang menetap lebih dari 20 menit pada dewasa. Pada otak yang sedang mengalami proses patologis, autoregulasi akan terganggu dan interaksi antara tekanan arteri rata-rata (mean arterial pressure/MAP) dan aliran darah otak sangat bergantung pada derajat kerusakan yang ada. Perubahan MAP akan mengakibatkan perubahan aliran darah otak (ADO) walaupun MAP masih pada rentang normal. Pengelolaan hipertensi intrakranial terdiri dari terapi umum yaitu optimalisasi drenase vena serebral, pengelolaan jalan nafas, sedasi dan analgesia, mengatasi demam, mengelola hipertensi, anemia dan mencegah kejang. Terapi spesifik adalah pemberian sedasi dan paralisis, terapi hiperosmolar, hiperventilasi, koma barbiturat, hipotermia dan pemberian steroid (hanya untuk tumor otak). Tiopental menurunkan ADO dan metabolisme otak yang setara dengan keadaan isoelektrik pada rekaman electro encephalo graphy (EEG). Pelumpuh otot menghambat kontraksi otot sehingga akan mengurangi kebutuhan energi, mengurangi produksi CO2, memperbaiki perfusi otak, dan mempertahankan TIK  Barbiturates and Neuromuscular Blocking Agent: Still Valuable to Treat Intracranial Hypertension? Intracranial hypertension may cause secondary brain injury and have the potential to increase morbidity and mortality. In keeping the intracranial pressure within normal limit, cerebrospinal liquor and also the blood have the ability to reduce intracranial volume to 30%. Intracranial hypertension is defined as intracranial pressure above 20 mmHg for more than 20 min in adult patients. During the pathological process caused by various aetiologies, autoregulation process is impaired and interaction between mean arterial pressure (MAP) and cerebral blood flow will depend on the severity of impairement. Meaning that changes of mean arterial pressure within normal autoregulation range will influence the cerebral blood flow accordingly. Management of Intracranial hypertension consist of general and specific approaches. General approach includes optimal cerebral venous drainage, airway management, sedation and analgesia, fever, anemia and hypertension treatment and seizure prevention. Specific approach includes paralysis and sedation, hyperosmolar therapy, hyperventilation, barbiturate coma, hypothermia and steroid for tumor cases only. Tiopental decreases CBF and cerebral metabolism which is equivalent to an isoelectric electro encephalo graphy (EEG). Muscle relaxant prevents muscle contraction therefore reducing energy consumption, CO2 production, improve cerebral perfusion, and maintain ICP.
Penatalaksanaan Anestesi Tindakan Bedah Endoskopi Evakuasi Perdarahan Intraserebral karena Stroke Hemoragik Suarjaya, I Putu Pramana; J Sutawan, Ida Bagus Krisna; Sugiharso, Muhammad Aris
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.52 KB) | DOI: 10.24244/jni.v11i2.483

Abstract

Penatalaksanaan utama perdarahan intraserebral di daerah supratentorial adalah manajemen konservatif dengan penatalaksanaan optimal tekanan darah, penatalaksanaan komplikasi seperti pencegahan kejang, tromboemboli dan peningkatan tekanan intrakranial. Pembedahan untuk evakuasi perdarahan dilakukan bila terjadi penambahan bermakna volume perdarahan intraserebral yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Prosedur neuroendoskopi saat ini menjadi pilihan karena pendekatan yang invasif minimal dan tingkat keberhasilan yang tinggi, insiden komplikasi lebih rendah, proteksi jaringan otak lebih baik, dan cedera yang berhubungan dengan teknik pembedahan lebih rendah dibanding kraniotomi terbuka. Pasien laki-laki, 44 tahun, obesitas dengan indeks massa tubuh 36,73 kg/m2, riwayat hipertensi, mengalami penurunan kesadaran dan lumpuh separo badan yang terjadi secara tiba-tiba. Pasien dirawat secara konservatif dan mengalami perbaikan sampai kesadaran pulih penuh, dengan gejala sisa hemiparese sinistra dan paresis nervus VII supranuklear sinistra. Pada hari keempatbelas perawatan, pasien didapatkan mengalami penambahan volume perdarahan intraserebral yang bermakna dan dilakukan operasi endoskopi evakuasi perdarahan intraserebral. Manajemen anestesi untuk pasien stroke hemoragik dengan riwayat hipertensi yang menjalani pembedahan neuroendoskopi merupakan tantangan untuk dokter anestesi selama periode perioperatif untuk mampu menyediakan kondisi operasi yang optimal, melakukan upaya proteksi jaringan otak dan menjamin pasien pulih segera dengan baik.Anesthetics Management for Endoscopic Evacuation of Intracerebral Hemorrhage due to Hemorrhagic StrokeAbstractMedical conservative treatment is a mainstay of supratentorial intracerebral hemorrhage management, which include blood pressure and increased intracranial pressure management, as well as seizure and thromboembolic prevention. Surgical intervention is an option if the intracerebral hematoma is expanding significantly and increase morbidity and mortality. Neuroendoscopic procedure is an attractive option which is less invasive and also provides high hemorrhage evacuation rate, low incidence of complication, better protection of brain tissue, and fever surgery-related injuries compared to open craniotomy. In this report, we presented a case of a man 44 years old, obese with body mass index of 36.73 kg/m2, hypertensive, who suffered from intracerebral hemorrhage and underwent endoscopic intracerebral blood clot evacuation. Medical management was done and the patient regained full consciousness, with left hemiparesis and the left supranuclear nerve VII sequelae. Due to the expanding volume of the hematoma, the patient underwent endoscopic surgical blood clot evacuation. Minimally invasive intracerebral blood clot evacuation of expanding hemorrhagic stroke in patient gives the anesthesiologist enormous challenge during the perioperative periods to provide optimal surgical conditions, performing brain protection, and ensure patients have early excellent recovery.
Gangguan Natrium pada Pasien Bedah Saraf Buyung Hartiyo Laksono; Bambang J. Oetoro; Sri Rahardjo; Siti Chasnak Saleh
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2375.627 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i1.132

Abstract

Gangguan pada susunan saraf pusat (SSP) akan mengakibatkan gangguan pada fungsi axis hipotalamus hipofise, yang akan menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Selain karena lesi neurologis primer yang terjadi pada SSP, penyebab kelainan elektrolit ini juga disebabkan oleh tindakan pembedahan atau iatrogenik, tindakan perawatan pascabedah di intensive care unit (ICU) akibat dari tindakan medis, misalnya obat-obatan dan pemberian cairan intravena, pemberian diuretik, pemberian steroid dan mannitol. Gangguan elektrolit paling banyak terjadi pada natrium. Dua kondisi dengan klinis hiponatremi adalah SIADH dan CSWS, yang penataksanaan keduanya sangat berbeda. Hampir 62% pasien bedah saraf dengan hiponatremia (kadar natrium 135 mmol/L) disebabkan oleh SIADH, sedangkan sisanya 16,6% karena penggunaan obat-obatan dan 4,8% karena CSWS. Gangguan natrium dengan gambaran klinis hipernatremi adalah diabetes insipidus (DI). DI terjadi sekitar 3,8 % pada pasien bedah saraf. Kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien dengan kelainan SSP yang dilakukan tindakan anestesi dan operasi merupakan tantangan khusus bagi dokter anestesi dan intensivist. Pasien pasien bedah saraf biasanya mendapatkan terapi diuretik sebagai salah satu manajemen edema otak dan untuk mengurangi tekanan intrakranial. Di sisi lain efek diuresis dari lesi pada otak dan penggunaan teknik hipotermi juga akan menambah kondisi diuresis pada pasien bedah saraf. Efek diuresis yang berlebihan menyebabkan kehilangan natrium. Sodium Disturbance in Neurosurgical PatientDisturbance of the central nerve system (CNS) will lead to interference with the function of the hypothalamus pituitary axis and will cause disruption of fluids and electrolytes balance as well. In addition to its primary neurological lesions occurring in the CNS, the cause of electrolyte abnormalities are also due to surgical procedure or iatrogenic, postoperative medical treatment in ICU such as administration of drugs and intravenous fluids, diuretics, steroids and mannitol. The most frequent electrolyte disorder is sodium. Two clinical conditions related to hyponatremia are SIADH and CSWS which the management can be totally different, respectively. Nearly 62% of neurosurgical patients with hyponatremia (sodium levels 135 mmol / L) is caused by SIADH, while the remaining 16.6% patient is due to the use of drugs and 4.8% patient is due to CSWS. Sodium disorder clinically referred to as hypernatremia is diabetes insipidus (DI). DI occurs around 3.8% in neurosurgical patients. The condition of fluid and electrolyte balance in patients with CNS disorders undergoing anesthesia and surgery is a particular challenge for anesthesiologists and intensivists. The patients usually receive diuretic therapy to manage brain edema and to reduce intracranial pressure. On the other hand, diuresis effects due to brain lesions and the use of hypothermia technique will also increase diuresis condition in neurosurgical patients. Excessive diuresis effect will cause loss of sodium.
Manajemen Anestesi untuk Seksio Sesarea pada Pasien Eklampsia dengan Perdarahan Intrakranial Bangun, Chrismas Gideon; Sudadi, Sudadi; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3067.677 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i2.198

Abstract

Perdarahan intrakranial pada kehamilan adalah penyebab kematian utama pada pasien-pasien dengan eklampsia. Hipertensi, yang berkaitan dengan stroke iskemik dan stroke hemoragik, adalah tampilan utama. Penanganan definitif merupakan terminasi kehamilan dengan seksio sesarea. Namun, tidak tepat untuk memulai persalinan pada ibu yang tidak stabil, sekalipun terdapat gawat janin. Begitu kejang dapat dikendalikan, hipertensi berat ditangani dan hipoksia dikoreksi, persalinan dapat dimulai. Sasaran manajemen anestesia yang pertama yaitu pengendalian kejang, pengendalian tekanan darah, dan pencegahan peningkatan tekanan intrakranial. Anestesi umum merupakan pilihan pada pasien tidak sadar, atau penurunan kesadaran dengan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Anestesia dicapai dengan inhalasi, opioid, relaksasi dan hiperventilasi secara hati-hati. Pada kasus ini seorang ibu 31 tahun, 55 kg, usia kehamilan 36-37 minggu datang ke rumah sakit dengan penurunan kesadaran dan riwayat kejang. Dijumpai sensorium E2M5V2, tekanan darah 180/100mmHg dan proteinuri 3+. Segera diputuskan dilakukan seksio sesarea dengan anestesi umum dan rapid sequence induction dengan fentanyl 50 mcg, propofol 100 mg dan rocuronium 50 mg intravena. Post operasi pasien dirawat di ICU, dilakukan head CT-Scan dan dijumpai perdarahan intrakranial di temporoparietal kanan. Penanganan perdarahan intrakranial diputuskan konservatif. Hari ke-3 pascabedah pasien diekstubasi dan pada hari ke-5 pasien dipindahkan ke ruangan dengan sensorium E3M5V2.Management of Anesthesia for Eclampsia Caesarean Section Patient with Intracranial BleedingAbstractIntracranial haemorrhage in pregnancy is the leading cause of death in eclampsia patients. Hypertension, which is associated with both ischemic and hemorrhagic strokes, is the main feature. Definitive treatment is termination of pregnancy with cesarean section. However, it is not appropriate to start labor in an unstable mother, despite fetal distress. Once seizures can be controlled, severe hypertension is treated and hypoxia is corrected, labor may begin. The first anesthesia management goals are seizure control, blood pressure control, and prevention of increased intracranial pressure. General anesthesia is an option in the unconscious patient, or decreased consciousness with signs of increased intracranial pressure. Anesthesia is achieved with inhalation, opioids, relaxation and hyperventilation techniques carefully. In this case a 31-year-old mother, 55 kg, 36-37 weeks' gestation comes to the hospital with a decrease in consciousness and a history of seizures. Found sensorium E2M5V2, blood pressure 180/100mmHg and proteinuria 3+. Immediately, a cesarean section with general anesthesia and rapid sequence induction with fentanyl 50 mcg, propofol 100 mg and rocuronium 50 mg intravenously were performed. Post surgery the patient was treated in the ICU, head CT-Scan was performed and intracranial hemorrhage in the right temporoparietal was encountered. Management of intracranial hemorrhage was decided conservatively. The 3rd day postoperative the patient was extubated and on the 5th day the patient was transferred with E3M5V2 sensorium.
Konsep Dasar Transcranial Doppler (TCD) untuk Neurocritical Care Ida Bagus Krisna J. Sutawan; Siti Chasnak Saleh; Tatang Bisri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.984 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.49

Abstract

Transcranial Doppler merupakan salah satu aplikasi dari penggunaan ultrasonografi (USG) sehingga bersifat noninvasif dan mobile. Untuk dapat menggunakan TCD dengan baik maka diperlukan pemahaman mengenai doppler effect yang merupakan dasar perhitungan dari parameter TCD, acoustic window yang mana merupakan tempat dimana dilakukan isonasi sehingga menemukan arteri yang benar, anatomi dari arteri yang akan diisonasi dan tipe alat TCD yang digunakan untuk mengisonasi. Informasi mengenai keadaan sirkulasi darah otak menggunakan TCD didapatkan melalui parameter-parameter yang langsung dihitung oleh alat TCD diantaranya peak systolic velocity, end diastolic velocity, mean flow velocity, pulsatility index dan resistence index. Selanjutnya ada juga informasi-informasi lainnya yang didapatkan dengan memasukkan parameter-parameter tersebut ke sebuah rumus, seperti misalnya mean flow velocity, tekanan intrakranial, tekanan perfusi otak. Selain itu TCD juga dapat digunakan untuk menilai keutuhan autoregulasi, vasospasme, hiperemia, dan mati batang otak.Basic Concept of Transcranial Doppler (TCD) for Neuroanesthesia and Critical CareTranscranial Doppler (TCD) is one of the applicable use of ultrasonograhy (USG), so it is noninvasif and mobile. To use TCD properly, the understanding of Doppler effect as the basic to calculate the parameters of TCD, acoustic window which are the place where to isonate to find the correct arterie, the anatomy of arteries that will be isonated and type of TCD device that will be used to isonated are needed. Information about cerebral circulation using TCD can be achieved from parameters that are directly calculated by the TCD device such as peak systolic velocity, end diastolic velocity, mean flow velocity, pulsatility index and resistence index. Furthermore, there are also informations that can be archived by putting up those parameters to a formula such as mean flow velocity, intracranial pressure and cerebral perfusion pressure. Beside that TCD also can be used to evaluate autoregulation, vasospasme, hypermia, and brain death.