cover
Contact Name
Rinto Hasiholan Hutapea
Contact Email
rintohutapea81@gmail.com
Phone
+6281330296185
Journal Mail Official
danumpambelum21@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya Alamat: Jl. Tampung Penyang No.KM.6, Menteng, Kec. Jekan Raya, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah 73112
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja
ISSN : 27976858     EISSN : 2797684X     DOI : https://doi.org/10.54170/dp.v1i2
Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja adalah jurnal yang diterbitkan oleh Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya. Periode Terbitan Jurnal ini yaitu bulan Mei dan November. Ruang Lingkup kajian jurnal ini di antaranya: Teologi Perjanjian Lama, Teologi Perjanjian Baru, Teologi dan Budaya, Misiologi, Sosiologi Agama, dan Musik Gereja.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 176 Documents
Teologi yang Berdialog dalam Perjumpaan Budaya : Refleksi Teologis mengenai Koinonia dalam Tradisi Ma’Kombongan (Gotong-Royong) di Toraja dan Implementasinya Wendi Triseptyadi Patandean; Silaban, Tri Oktavia Hartati; Rosyeline Tinggi
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.683

Abstract

Abstrak: Persekutuan merupakan suatu panggilan Gereja dalam misinya didunia, karena dengan persekutuan itu manusia bisa mengenal Allah dan hidup didalam Allah. Persekutuan sendiri terkadang orang mengidentikkannya hanya terjadi didalam Gereja saja, sehingga ketika diluar Gereja hanyalah sebatas hubungan relasional semata. Secara khusus, dalam konteks Toraja terdapat sebuah tradisi yaitu ma’kombongan yang dimana tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun dalam menjalin relasi antar sesama, dan juga menolong sesama dengan cara bergotong-royong dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan pekerjaan. Dari perspektif penulis sendiri, melihat tradisi tersebut sebuah refleksi persekutuan yang bukan hanya tercipta dalam sebuah Gereja tetapi persekutuan yang tercipta antar sesama melalui kebudayaan. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif yaitu deskriptif, dan melakukan pengumpulan data dengan wawancara pada yang bersangkutan. Tujuan dari penelitian ini, ingin menemukan makna dan nilai dari tradisi ma’kombongan sebagai sebuah refleksi koinonia yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Penelitian ini menemukan bahwa tradisi ma’kombongan merupakan sebuah tradisi yang memiliki makna dan nilai dimana orang menjalin kerjasama karena tidak bisa dilakukan secara personal, orang menjalin moderasi beragama, dan juga menjadi sebuah persekutuan yang komprehensif yang menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Jadi persekutuan tidak hanya dilihat bahwa itu terjadi dalam Gereja, tetapi persekutuan yang Yesus inginkan adalah persekutuan yang komprehensif dan menjangkau semua orang. Tradisi ma’kombongan perlu untuk dikonservasi agar tetap terpelihara dan menjadi sumber edukasi dalam berbangsa dan bernegara yang berbasis kearifan lokal.
GEREJA DAN PANCASILA: Peran Gereja Protestan Maluku pada Hubungan Islam-Kristen dalam Perspektif Pancasila Fabrizio, Ravanelly
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.691

Abstract

Gereja sebagai lembaga sosial keagamaan hadir di tengah konteks keberagaman yang pluralis. Gereja dituntut untuk dapat mengkonstruksikan eklesiologi yang kontekstual dalam realitas kemajemukan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran Gereja Protestan Maluku pada hubungan Islam-Kristen dalam perspektif Pancasila di Maluku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Hasil penelitian menemukan bahwa Gereja Protestan Maluku telah membangun relasi yang harmonis dengan agama lain. Hal ini dapat ditemukan melalui ajaran-ajaran gereja yang diimplementasikan dalam kegiatan sosial keagamaan di Maluku. Gereja Protestan Maluku menempatkan tindakan kemanusiaan sebagai prioritas dalam memahami agama-agama lain. Gereja Protestan Maluku menjadi pionir dalam membangun relasi yang konstruktif dalam memperjuangkan perdamaian dan keadilan sosial di masyarakat dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar untuk membangun hubungan yang inklusif dan toleran terhadap orang-orang dari berbagai latar belakang agama. Bahkan, Gereja juga berperan dalam mengatasi masalah kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama yang dianut. Dengan demikian, Gereja Protestan Maluku mengkonstruksikan eklesiologi kontekstual yang mendukung perdamaian dan keharmonisan lintas agama dalam bingkai Pancasila.
Kasih Kristus Mengilhami Sikap Sosialisme Masa Kini Manuahe, Yani Mick R.; Manua, Englin R.; Selanno, Semuel; Thomas, Art Semuel; Dendeng, Leonardo C.
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 1 (2024): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i1.697

Abstract

This article explores how the love of Christ, as taught in the New Testament, inspired socialist attitudes and its relevance in the contemporary social and economic context. Although the term socialism is not explicitly mentioned in the Bible, the essence of socialist values ​​such as togetherness, social justice, and equal distribution of prosperity is found in the teachings of Jesus Christ. The research method used is descriptive qualitative with a constructive theological approach. This article analyzes key New Testament texts to identify the practical implementation of these teachings in modern society. Christ's universal and inclusive love, as reflected in various Bible passages, teaches togetherness, sharing, special attention to the poor and oppressed, and opposition to economic injustice. By internalizing and applying the teachings of Christ's love, Christian communities can function as significant agents of change in efforts to create a more just and prosperous society.
Identitas Gereja Genetik dari Israel: Sebuah Kritik Poskolonial Terhadap Wacana “Saudara Seiman” Tampilang, Risno
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.702

Abstract

The Israeli-Palestinian conflict has had a global impact, including in Indonesia, with the emergence of the discourse of “brothers in faith” which has the potential to increase tensions. This study proposes the thesis that this discourse in the New Testament needs to be re-examined through a postcolonial perspective, because it has the potential to perpetuate colonialism based on the genetic linkage of identity. The aim is to conduct a postcolonial critique of the understanding that is too Israel-centric and to develop a more inclusive theology. Methodologically, this study uses a descriptive qualitative study and a postcolonial approach. The results of the analysis show that the historical and theological ties between Christians and Jews/Israel often lead to uncritical support for modern Israeli policies. The church needs to deconstruct exclusive understandings and develop a more balanced perspective on contemporary understandings. In conclusion, the church must shift from exclusive identity to an inclusive-humanist understanding as an agent of transformation that fights for justice for all parties. Further research is recommended to explore the practical implementation of this inclusive theology in the context of the local church.
Eksplorasi Peran Musik Liturgi Gereja Kharismatik dalam Membentuk Pengalaman Emosional dan Partisipasi Jemaat Wong, Fingfing Keren Grace; Purmanasari, Nira Olyvia
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.704

Abstract

Liturgical music, a central element in Charismatic church worship, is believed to evoke spiritual emotions and encourage congregational participation. This research explores the role of liturgical music in shaping the emotional experience and participation of congregations through library research methods and thematic analysis. Findings show that liturgical music plays an important role in evoking a variety of emotions, such as joy, sadness, and exaltation, as well as encouraging congregational participation through singing, dancing, and other movements. This research provides a new contribution to the understanding of the role of liturgical music in worship and its implications for the spiritual life of Charismatic church congregations.
Memaknai Penderitaan Orang Hidup dalam Kristus dalam Kitab Ayub Evi Mariani; Robert Betaubun
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.758

Abstract

The background of this paper is to present thinking as an activity for interpreting the story of Job through a life in constant suffering. Thinking about suffering is not a new idea in theological circles, but it has always existed, and even suffering is considered an inseparable part of happiness. For this reason, suffering, which is often reflected in cross-cutting ways, becomes a problem when looking at different perspectives of theology, especially those that talk about suffering and hope in the case of Job's life. The story of Job offers insight that suffering is not always synonymous with punishment, but can be a test of faith or a means of spiritual growth. This message is very relevant in the modern era, especially in the face of a crisis situation such as the pandemic, where Christians are reminded to see suffering as part of the divine plan. From an academic perspective, an analysis of Job's suffering expands the discussion on the theology of retribution, by showing the relationship between God and humans as more dynamic than transactional. This understanding can encourage a more mature response of faith in facing life's challenges. The purpose of this study is to find the meaning of humanity and faith, theological retribution, and the mystery of God for human beings in the history of wisdom literature in the Books of Job and the Psalms. This research method is qualitative research with literary study. The results showed that God's justice, though seemingly unjust, is for Jacob and people today a form of God's participation with all love, which is as complete as possible by including suffering as an integral part of the self. Thus, God's wisdom as an emanation of love for every people and creation is a space of reality for people who are far from justice, prosperity, well-being, health and peace.
Tinjauan Kritis Terhadap Konsep Agama Sebagai Institusi Sosial dalam Ide Moderasi di Indonesia Kristeno, Marianus Rago; Derung, Teresia Noiman
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 4 No 2 (2024): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v4i2.760

Abstract

Religion has an important role in the lives of Indonesian society as a social institution that functions to maintain social stability. Amidst the diversity of cultures, languages, traditions and religions, conflict and intolerance often arise as challenges to the role of religion in society. Conflict situations that occur due to differences in religious views or understanding often become obstacles to carrying out the role of religion as a social institution. This research aims to examine the concept of religious moderation as an effort to overcome social conflict and discrimination in relation to the role of religion as a social institution. Using qualitative descriptive methods and literature study techniques, this research analyzes themes related to religious moderation and the role of religion from various literary sources so that conclusions can be drawn regarding the role of religion which tries to carry out its function through religious moderation in Indonesia. The research results show that although religion, which is a community belief system, has a significant role in instilling social values, rigid traditional views often hinder inclusiveness and tolerance. This traditional view hinders the implementation of religious moderation which aims to create social harmony, so that religion as a social institution cannot carry out its role. Therefore, the concept of religious moderation needs to be developed as an implementation of the role of religion so that society can live in peace.
Integrasi Allah yang Turut Menderita dalam Spiritualitas Umat Miskin:: Studi Pengalaman Iman dan Doa Jemaat HKBP Sola Gratia Berdasarkan Teologi Jurgen Moltmann Banjarnahor, Alan; Siagian, Riris Johanna
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2025): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/jvwa2d60

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana konsep Allah yang turut menderita dalam teologi Jurgen Moltmann terintegrasi dalam spiritualitas dan praktik doa jemaat miskin HKBP Sola Gratia. Moltmann menegaskan bahwa Allah tidak berjarak dari penderitaan manusia, melainkan aktif berpartisipasi dalam kesengsaraan melalui salib Kristus. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana pemahaman teologis tersebut membentuk pengalaman iman dan kehidupan doa jemaat yang menghadapi kemiskinan struktural. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan fenomenologis terhadap spiritualitas anggota jemaat HKBP Sola Gratia yang mengalami kondisi ekonomi marginal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk menggali narasi pengalaman iman, praktik doa, dan interpretasi teologis mereka terhadap penderitaan. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema dalam kata kunci yang menghubungkan konsep Allah yang turut menderita dengan resiliensi spiritual jemaat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang Allah yang bersolidaritas dalam penderitaan menghasilkan tiga dimensi utama bagi jemaat miskin; 1. Pengalaman iman yang mengakui kehadiran Allah dalam situasi penderitaan, 2. Pemaknaan penderitaan bukan sebagai hukuman tetapi justru sebagai ruang perjumpaan dengan Allah, dan 3. Pembentukan komunitas solidaritas sebagai ekspresi iman. Konsep ini mentransformasi doa dari sekadar permohonan menjadi ekspresi persekutuan dengan Allah yang turut merasakan derita mereka. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual yang relevan dengan realitas kemiskinan di Indonesia
Studi Naskah Tentang Spiritualitas Barat, Menimbang Trinitas, dan Kebahagiaan Etis Agus, Guruh David
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2025): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/qb4hcm71

Abstract

Abstract Spirituality is the capacity for self-transcendence, identity formation through action, and the inherent manifestation of ethical happiness. Christianity once served as the dominant framework of Western spirituality, however epistemologically the moment when the negation of the Trinity gained intellectual legitimacy remains unclear. This explanative research based on literature review and manuscript analysis examine spiritual and ethical perspectives in classical works by Gregory of Nyssa (4th century), Thomas Aquinas (13th century), Baruch de Spinoza (17th century), and Dietrich Bonhoeffer (20th century), aiming to identify the epistemic momentum of Trinitarian negation in Western spirituality and ethical happiness. Gregory, Aquinas, and Bonhoeffer emphasize spirituality rooted in Trinitarian theology. In contrast Spinoza and Giordano Bruno (16-17th century) shifted the paradigm toward pantheism, which negates the Trinity. For Spinoza ethical happiness lies in rationality, awareness of Nature as God, and knowledge as the foundation of ethics. Conversely for Gregory, Aquinas, and Bonhoeffer, ethical happiness is grounded in obedience to Trinitarian determination, which offers consolation, sanctifies thought, inspires action, and presupposes the self as a reflection of the crucified Christ in a world marked by sin and suffering. This study concludes that Western spirituality comprises two paradigms: one affirming the Trinity, and one pantheistically negating it for rational happiness. Abstrak Spiritualitas merupakan kapasitas untuk mentransendensi diri, membentuk identitas melalui aksi, maupun secara inheren memanifestasikan kebahagiaan etis. Kekristenan pernah menjadi kerangka dominan dalam spiritualitas Barat, namun secara epistemologis belum terjelaskan kapan penegasian doktrin Trinitas mulai mendapat legitimasi pengetahuan. Penelitian eksplanatif serta berbasis studi kepustakaan dan metode studi naskah ini menganalisis pandangan spiritual dan etika dari naskah-naskah klasik Gregorius dari Nyssa (abad ke-4), Thomas Aquinas (abad ke-13), Baruch de Spinoza (abad ke-17), dan Dietrich Bonhoeffer (abad ke-20) untuk menemukan momentum penegasian Trinitas dalam spiritualitas Barat dan kebahagiaan etis. Gregorius, Aquinas, dan Bonhoeffer menekankan spiritualitas yang berakar dalam Trinitas. Sebaliknya Spinoza (abad ke-17) dan Giordano Bruno (abad ke-16) menggeser paradigma spiritualitas Barat menuju panteisme yang menegasi Trinitas. Menurut Spinoza kebahagiaan etis manusia spiritual terletak pada rasionalitas, kesadaran akan Alam sebagai Tuhan, dan pengetahuan sebagai dasar etika. Sebaliknya menurut Gregorius, Aquinas, dan Bonhoeffer, kebahagiaan etis terletak dalam ketaatan pada determinasi Trinitas yang akan menyatakan penghiburan, menyucikan pikiran dan menginsiprasi tindakan, serta mengandaikan dirinya seperti refleksi Kristus yang tersalib dalam dunia yang penuh dosa dan penderitaan. Penelitian ini menyimpulkan adanya dua paradigma spiritualitas Barat: paradigma yang mengafirmasi Trinitas demi kebahagiaan etis berbasis determinasi Trinitatis, serta paradigma yang menegasi-Nya secara panteistis demi kebahagiaan rasional berbasis nalar-pengetahuan.
Membangun Urgensi Penggunaan Lagu Gerejawi (KJ, PKJ, NNBT, DSL, KSK) Dalam Perspektif Musik Gereja Menurut Jeremy Begbie Kowuh, Kluivert Natanael; Tarumingi, Denny A.; Mawuntu, Marhaeni
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2025): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/tkcb2c05

Abstract

Minimnya penggunaan lagu-lagu gerejawi resmi seperti KJ, PKJ, NNBT, NKB, DSL dam KSK dalam ibadah GMIM menimbulkan kekhawatiran terhadap pelestarian warisan musik gereja yang sarat nilai teologis dan historis. Artikel ini bertujuan menegaskan kembali urgensi penggunaan lagu-lagu tersebut melalui pendekatan teologis berdasarkan pemikiran Jeremy Begbie. Dengan Metode kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara di Jemaat GMIM Sion Tumaluntung, ditemukan bahwa meski lagu-lagu gerejawi memiliki nilai spiritual tinggi, penggunaannya menurun karena kurangnya pembinaan, dominasi music kontemporer, dan rendahnya pemahaman generasi muda. Oleh karena itu, gereja perlu menyusun strategi edukatif dan liturgis agar lagu-lagu ini kembali berperan dalam membentuk spiritualitas Kristen secara utuh.