cover
Contact Name
Heri Setiawan
Contact Email
heri.setiawan@iain-palangkaraya.ac.id
Phone
+6285249219086
Journal Mail Official
syams@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
Jl. G. Obos Kompleks Islamic Centre Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Syams: Jurnal Kajian Keislaman
ISSN : 27471152     EISSN : 27750523     DOI : -
Syams: Jurnal Studi Keislaman promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah/Communication/Media, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History/Culture. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Articles 91 Documents
Asas-Asas Psikoterapi Islam Dalam Mendorong Kematangan Karir Individu Menggunakan Pendekatan Spiritual Dan Psikologis Febrianti, Alifia; Khasanah, Ayu Uswatun; Rahmawati, Dewi; Alifya, Fadya; Fuja, Norsafitri Meilisa; Hasanah, Raudatul; Rayhana, Wafik; Raihan, Akhmad Zaky Daffa
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/72ket440

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi asas-asas psikoterapi Islam dalam mendorong kematangan karir individu melalui pendekatan spiritual dan psikologis. Kematangan karir merupakan aspek penting dalam perkembangan individu, khususnya bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Dalam konteks psikoterapi Islam, integrasi aspek spiritual dan psikologis diyakini mampu membantu individu dalam mencapai kematangan karir yang lebih optimal. Penelitian ini menggunakan metode Self-Regulated Learning (SRL) dan Prisma Diagram Flow untuk mengidentifikasi hubungan antara spiritualitas Islam dan kesejahteraan psikologis dalam proses pembentukan kematangan karir. SRL digunakan untuk memahami bagaimana individu mengelola dan mengarahkan proses belajar mereka, sementara Prisma Diagram Flow diterapkan dalam penyaringan dan analisis literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara spiritualitas Islam dan kesejahteraan psikologis dengan kematangan karir. Individu yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres, meningkatkan resiliensi, serta mengambil keputusan karir yang lebih bijaksana. Selain itu, self-efficacy terbukti berperan penting dalam meningkatkan keyakinan individu terhadap kemampuan diri, yang merupakan faktor utama dalam mencapai kematangan karir. Metode SRL dalam konteks psikoterapi Islam efektif dalam membantu individu merencanakan, memantau, dan mengevaluasi perkembangan karir mereka sambil tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual Islam. Dengan demikian, integrasi pendekatan spiritual dan psikologis dalam psikoterapi Islam dapat menjadi strategi yang efektif dalam membangun kematangan karir yang seimbang dan berkelanjutan.
Konsep Nasakh Dalam Tafsir Al-Azhar Dan Tafsir Al-Misbah: Studi Komparatif Pemikiran Mufasir Indonesia Modern Rahmatunnaimah; Faridatunnisa, Nor; Fujiantie, Jerina
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/49yzka39

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep nasakh (penghapusan atau perubahan hukum) dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab sebagai representasi dua paradigma besar dalam tafsir Indonesia modern. Perbedaan penafsiran terhadap ayat-ayat yang dianggap mengalami nasikh-mansukh menjadi problem klasik dalam studi Al-Qur’an, terutama terkait relevansi hukum Islam terhadap konteks sosial kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran paradigma tafsir dari pendekatan normatif-tekstual menuju pendekatan kontekstual yang menekankan maqāṣid al-syarī‘ah dan nilai-nilai sosial. Permasalahan utama penelitian ini ialah bagaimana kedua mufasir memahami konsep nasakh serta sejauh mana pendekatan mereka mencerminkan evolusi metodologi tafsir modern di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis komparatif berbasis hermeneutika kontekstual. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap teks kedua tafsir dan literatur pendukung. Analisis dilakukan dengan menelusuri ayat-ayat hukum, khususnya QS. Al-Baqarah [2]:106, serta meninjau konteks sosial dan epistemologis para mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka memahami nasakh sebagai proses gradualisme hukum dan pendidikan moral umat, sedangkan Quraish Shihab menafsirkan nasakh sebagai perubahan konteks, bukan pembatalan hukum secara mutlak. Keduanya merefleksikan pergeseran paradigma tafsir Indonesia dari model normatif-tekstual menuju pendekatan kontekstual-rekonstruktif yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan studi tafsir Nusantara dengan menegaskan pentingnya integrasi antara otoritas teks, konteks sosial, dan tujuan syariat dalam memahami dinamika hukum Islam modern.
Ritual Tian Mandaring (7 Bulanan) Masyarakat Banjar Di Kalimantan Tengah Rika
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/cwr37j41

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual 7 bulanan menjadi sebuah kekayaaan budaya lokal khususnya di Kalimantan Tengah. Dengan demikian, pokok permasalahan nya adalah bagaimana asal usul dan prosesi ritual 7 bulanan, bagaimana analisis menggunakan teori ritus peralihan pada prosesi ritual 7 bulanan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui tentang: (1) asal-usul dan prosesi ritual 7 bulanan yang dilaksanakan masyarakat di Desa Pegatan Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan, (2) prosesi dan makna dari ritus peralihan ritual 7 bulanan bagi masyarakat Banjar di Desa Pegatan dari sebuah peninggalan nenek moyang dan budaya yang masih bercorakan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi (kualitatif), yaitu penelitian lapangan dengan 1 orang tokoh adat yang berusia 55 tahun, 2 orang tokoh agama yang berusia 47-51 tahun, dan 7 orang tokoh masyarakat yang berusia 25-80 tahun secara gender di antaranya laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya prosesi ritual 7 bulanan dengan kajian ritus peralihan menggunakan tiga fase dalam kehidupan, seperti pra liminal (pemisahan), liminal (fase antara atau transisi), dan pasca liminal (fase bergabung). Pada ketiga fase tersebut bahwa budaya lokal terkait ritual 7 bulanan, masyarakat Banjar mengalami pemisahan wilayah atau bertrasmigrasi ke satu wilayah ke wilayah lain di Kalimantan Tengah tepatnya di Desa Pegatan. Dengan timbulnya percampuran dua budaya menyebabkan adanya proses adaptasi budaya yang masuk ke suatu wilayah.
Tradisi Tampung Tawar : Akulturasi Islam Pada Masyarakat Muslim Dayak Ngaju Di Desa Telangkah Kabupaten Katingan Ahmad, Dony
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/x8fb9x48

Abstract

Tampung tawar merupakan tradisi yang masih dipertahankan secara turun-temurun dan disatukan dengan ajaran agama Islam yang dianut oleh masyarakat muslim Dayak Ngaju di desa Telangkah Kabupaten Katingan. Upacara adat tradisi tampung tawar juga mempunyai relevansi dengan moderasi beragama yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan antar masyarakat Suku dayak. Tampung tawar di desa telangkah merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh suku dayak yang beragama muslim, maupun kelompok masyarakat dayak ngaju yang masih menganut kepercayaan leluhur yaitu agama Kaharingan/Helo. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pada awalnya tradisi tampung tawar di desa telangkah merupakan tradisi dari agama helo/kaharingan, yang mana tampung tawar ini masih belum disebut tampung tawar melainkan Kambang Rampai. Kambang Rampai ini merupakan sebuah tradisi yang bertujuan untuk memohon keselamatan kepada dewa dewa agar terhindar dari marabahaya. Setelah agama islam masuk ke Kesultanan Banjar sekaligus ke daerah kekuasaannya termasuk Kalimantan Tengah pada abad ke 16 hingga ahir abad ke 17, melalui hubungan perdagangan dan sosial antara pedagang masyarakat Banjar dengan masyarakat lokal di Kalimantan Tengah. Misalnya, pedagang Banjar yang berdagang di sungai-sungai di Kalimantan Tengah, seperti Kahayan, Katingan, Sebangau, Mendawai, Sampit, dan juga termasuk desa Telangkah Kabupaten Katingan. Mereka membawa serta ajaran Islam dan berinteraksi dengan masyarakat setempat yang mayoritas beragama Helo/Kaharingan.
Integrasi Islam dan Tradisi Lokal dalam Ritual Bapidara: Analisis Etnografi Masyarakat Banjar di Palangka Raya Fitriana, Rahmah; Iqbal, Muhammad; Suryanti
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/25j40538

Abstract

Ritual bapidara adalah pengobatan tradisionaldi kelurahan Pahandut yang digunakan sebagai media penyembuhan dari penyakit baik fisik maupun psikis. Dalam ritual ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan alat yang juga ada disekitar lingkungan kemudian dibacakan ayat-ayat al-Qur’an. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana ritual bapidara digunakan oleh orang-orang Banjar di kelurahan Pahandut sebagai komunikasi simbolik antar mereka, kemudian bagaimana ritual bapidara sebagai manifestasi budaya dalam rangka ketahanan sosial komunitas mereka serta bagaimana analisis pemaknaan ritual bapidara dengan menggunakan teori keseimbangan dan ketidaksesuaian dari Leon Festinger. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode kajian etnografi dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan studi lapangan dengan 5 orang pamidara atau patamba yang berusia 35-70 tahun dan 5 orang bapidara yang berusia 30-70 tahun baik laki-laki dan perempuan yang merupakan masyarakat di kelurahan Pahandut. Lokasi penelitian di kelurahan Pahandut kecamatan Pahandut kota Palangka Raya provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi ritual bapidara dengan teori keseimbangan dan ketidaksesuaian dalam masyarakat terdapat hasil bahwa budaya lokal ritual bapidara memiliki aturan dan tata cara tersendiri dalam mamidarai (mengobati) orang yang sakit. Keyakinan pengguna bapidara dalam melaksanakan bapidara ini pada intinya yaitu yakin dengan Allah SWT karena hanya Allah yang mampu menyembuhkan dan sebagai pamidara atau patamba yang berfungsi sebagai perantara serta tetap mengikuti syariat Islam. Dengan demikian maka ritual bapidara dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.
Kajian Pustaka: Pentingnya Menerapkan Prinsip Pendidikan Adab Sejak Dini Untuk Pembentukan Pribadi Yang Berkarakter Briliana Firdaus; Elan Sumarna; Ganjar Eka Subakti
Syams Vol 7 No 1 (2026): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/syams.v7i1.2869

Abstract

Adab education from early childhood plays a crucial role in shaping children’s character. In practice, however, it is often narrowly understood as politeness, compliance, and obedience to rules. This study aims to analyze the concepts, pedagogical mechanisms, core values, and implementation strategies of adab education within family, school, community, and digital environments. The study employed an integrative literature review by selecting relevant literature on adab education, character education, early childhood, family-based parenting, role modelling, habituation, emotional regulation, and digital education. The data were analyzed through thematic coding, conceptual comparison, and critical synthesis. The findings indicate that adab constitutes a value orientation that integrates moral knowledge, spiritual awareness, self-regulation, responsibility, empathy, and social action. Adab education cannot be effectively implemented solely through verbal advice or the enforcement of rules. Instead, it requires consistent adult role modelling, meaningful habituation, reflective dialogue, prosocial experiences, logical consequences, and collaboration between families and schools. This review proposes a five-stage implementation model comprising value consensus, role modelling, routines, dialogue and reflection, and authentic assessment. Therefore, the effectiveness of adab education is determined more by the consistency of the educational ecology and the quality of interactions than by the number of rules imposed on children.
Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam (Analisis Penafsiran K.H Husein Muhammad Terhadap Q.S An-Nisa Ayat 34) Luq Yana Chaerunnisa; Fifin Sofia; Juni Sahla Nasution; Zulkipli Lessy
Syams Vol 7 No 1 (2026): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/4esa0764

Abstract

Islam is a religion that is oriented towards justice for others. One of them is about leadership. Good leadership will form a good community order too. It cannot be measured from the gender whether he is able to become a leader or not. The purpose of this research is to know the concept of women's leadership in Islam based on the interpretation of K.H. Husein Muhammad towards Q.S An-Nisa verse 34. This research uses a qualitative method which is sourced from the library (library research). The results of this study can be concluded that Q.S An-Nisa verse 34 discusses the superiority of men to become a leader, because Allah exceeds their class from other groups. The majority of certain groups are of the view that the cut in the meaning of the verse becomes a legitimacy that men are more entitled to be leaders than women. However, in the interpretation of KH Husein Muhammad it has explained more broadly that the benefit in public power can be enforced, among others, through methods of democratic leadership and based on the constitution, as well as protection of human rights, not tyrannical, authoritarian and centralistic power. it has nothing to do with matters of gender, but to personal qualifications, intellectual and moral integrity.
Eksistensi Tradisi Ken-Duren pada Masyarakat Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Ulin Nihayah; Bagus Wahyu Setyawan
Syams Vol 7 No 1 (2026): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/syams.v7i1.4212

Abstract

Ken-Duren is an annual celebration in Wonosalam that brings together harvest thanksgiving rituals, agrarian identity, destination promotion, and local economic activities. This study analyzes its ritual structure, symbolic meanings, and contribution to the socio-cultural, economic, tourism, and ecological visibility of Wonosalam. A qualitative case-study design was employed by reanalyzing field materials documented in the initial manuscript, including interview excerpts from five informants, ritual documentation, and indexed scholarly literature published between 2016 and 2025. The data were thematically analyzed through reduction, coding, source comparison, and interpretive synthesis. The findings indicate four interrelated functions: a thanksgiving ritual and collective memory; a representation of agricultural biodiversity; a mechanism of place identity and destination image formation; and a meeting space for community-based economic exchange. Nevertheless, causal claims that the event directly improves infrastructure, income, or conservation cannot be established without longitudinal and impact-measurement data. Its sustainability requires participatory governance, equitable benefit distribution, waste and crowd management, documentation of local knowledge, and a careful boundary between ritual sacredness and tourism commodification. The study contributes an integrated reading of Ken-Duren as both a cultural ritual and a community-based tourism ecosystem that requires critical and sustainable management.
Kontribusi 7 Ulama Panutan dalam Menjaga Kebersamaan Masyarakat di Kota Palangka Raya Sapuadi Sapuadi; Zulfa Jamalie
Syams Vol 7 No 1 (2026): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/syams.v7i1.7381

Abstract

This study examines the collective contributions of seven prominent Islamic scholars to maintaining social cohesion in the multicultural society of Palangka Raya, the social mechanisms through which their contributions operate, and their limitations. It employs a qualitative approach using a narrative literature review combined with historical-documentary analysis. Data were drawn from scholarly articles, local documents, biographical sources, and relevant theoretical literature and were analyzed through contextual identification, thematic coding, cross-figure comparison, and interpretation using a social capital framework. The findings reveal four major forms of contribution: education and preaching that foster public ethics; the institutionalization of Islamic boarding schools, religious study groups, foundations, and social services; mediation through religious organizations and inter-elite networks; and the integration of Islamic values with the local philosophy of Huma Betang. These contributions generate trust, solidarity, spaces of encounter, leadership regeneration, social assistance, and communication between communities and institutions. Mechanistically, the scholars’ roles operate through bonding, bridging, and linking social capital. Nevertheless, their long-term influence remains constrained by dependence on personal charisma, limited documentation, hagiographic bias, weak institutional succession, and changing forms of religious communication. The study concludes that the legacy of these scholars can more effectively sustain social cohesion when supported by leadership regeneration, accountable institutional governance, digital archiving, and interfaith programs grounded in Huma Betang values.
Analisis Kegagalan Komunikasi Krisis Pemerintah Dalam Isu #Indonesiagelap Pada Februari 2025 Rayani Sahara Al-Farizqi; Windy Dwi Hafizh; Fatih Nurramadhan; Favi Aditya Ikhsan
Syams Vol 7 No 1 (2026): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/syams.v7i1.11725

Abstract

This study examines the Indonesian government’s crisis communication failures in responding to the #IndonesiaGelap movement in February 2025. It employs a qualitative case-study design and document analysis of official statements, online news reports, policy documents, and approximately 150 posts collected from X, Instagram, and TikTok between 1 and 28 February 2025. Situational Crisis Communication Theory (SCCT) is used to assess the fit between perceived responsibility and response strategies, while dialogic communication, political personal branding, and algorithmic amplification provide complementary analytical lenses. The findings identify three chains of misalignment. First, a high attribution of government responsibility was met by denial, justification, and problem minimization rather than empathy and corrective action. Second, a crisis shaped by digital conversational dynamics was addressed through slow, formal, and one-way communication. Third, the affective “Gemoy” image was inconsistent with the government’s bureaucratic communication performance under criticism. These misalignments widened the space for counter-narratives, sarcasm, and digital polarization. The study does not claim a population-level decline in public trust; it identifies only indications of trust erosion within the analyzed corpus. The article argues for a single crisis-message coordination mechanism, empathy-based initial responses, evidence-based policy explanations, and documented digital dialogue.

Page 9 of 10 | Total Record : 91