cover
Contact Name
Dewi Rosiana
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrp@unisba.ac.id
Editorial Address
Gedung Rektorat Lantai 4, Jl. Tamansari No. 20 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Psikologi
ISSN : 28083164     EISSN : 27986071     DOI : https://doi.org/10.29313/jrp.v1i2
Jurnal Riset Psikologi (JRP) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian Psikologi Sosial, Pendidikan, dll. JRP ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6071 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 107 Documents
Studi Korelasional Kualitas Komunikasi dengan Kualitas Hubungan Pacaran Jarak Jauh Ferina Reza Megantara
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6380

Abstract

Abstract. This study aims to examine the relationship between communication quality and the quality of long-distance dating relationships (LDDR). This phenomenon has become increasingly relevant with the advancement of technology that allows for intensive long-distance communication. The research employs a quantitative approach using a survey questionnaire involving 388 respondents in Bandung. The results of Spearman's correlation analysis indicate a significant positive relationship between communication quality and relationship quality (r = 0.742). This study also emphasizes the importance of communication quality in maintaining long-distance relationships, providing theoretical and practical insights for couples in similar situations. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kualitas komunikasi dengan kualitas hubungan pacaran jarak jauh. Fenomena ini menjadi semakin relevan dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi jarak jauh secara intensif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kuesioner yang melibatkan 388 responden di Kota Bandung. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara kualitas komunikasi dan kualitas hubungan (r = 0,742). Penelitian ini juga menegaskan pentingnya kualitas komunikasi dalam menjaga hubungan jarak jauh, memberikan wawasan teoretis dan praktis bagi pasangan dalam situasi serupa.
Pengaruh Motivasi terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Pasca Merger PT. BSI Tbk Homsyah Sekarsari; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6766

Abstract

Abstract. Motivation is an internal drive that causes individuals to strive to fulfill their needs. In the workplace, motivation can strengthen employees' commitment to their organization, as employees feel more connected to the organization's goals and values. This study examines the effect of motivation on organizational commitment in post-merger employees of PT. BSI Tbk. The theoretical foundation for motivation in this study is Abraham Maslow's Hierarchy of Needs and Allen & Meyer's organizational commitment model. This study uses a quantitative method on 128 employees of PT BSI Tbk in Bandung who had joined the company before the merger. The measurement tools used are Maslow's motivation scale, developed by Luthans and adapted by Sutarto Wijono (2010), and Allen & Meyer's organizational commitment scale, adapted by Miftahun Ni'mah Suseno (2019). The obtained data were analyzed using SEM-PLS with the SmartPLS application. The results of this study indicate that physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs, and self-actualization have an affect on affective commitment with P Values of 0.043, 0.044, 0.043, 0.045, and 0.041, respectively. Physiological need, safety need, and self-actualization Effect on continuance commitment with P Values of 0.047, 0.047, and 0.048. However, physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs, and self-actualization do not significantly affect normative commitment. Abstrak. Motivasi adalah dorongan dari dalam diri yang menyebabkan individu berusaha memenuhi kebutuhannya. Di dalam dunia kerja motivasi dapat memperkuat komitmen karyawan terhadap organisasinya, karena karyawan merasa lebih terikat dengan tujuan dan nilai-nilai organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh motivasi terhadap komitmen organisasi pada karyawan pasca merger PT. BSI Tbk. Landasan teori motivasi pada penelitian ini yaitu Hierarchy Of Need Abraham Maslow dan komitmen organisasi Allen & Meyer. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilakukan pada 128 karyawan PT BSI Tbk di Bandung yang sudah bergabung sebelum perusahaan melakukan merger. Alat ukur yang digunakan yaitu skala motivasi Maslow yang dibuat oleh Luthans dan diadaptasi oleh Sutarto Wijono (2010) dan skala komitmen organisasi Allen & Meyer yang sudah diadaptasi oleh Miftahun Ni’mah Suseno (2019). Data yang diperoleh di uji menggunakan Uji SEM-PLS dengan aplikasi SmartPLS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa physiological need, safety need, social need, esteem need, dan self actualization memberikan pengaruh terhadap affective commitment dengan nilai P Value sebesar 0.043, 0.044, 0.043, 0.045, dan 0.041. Physiological need, safety need, dan self actualization berpengaruh terhadap continuance commitment dengan P Value sebesar 0.047, 0.047, dan 0.048. Namun physiological need, safety need, social need, esteem need, dan self actualization tidak memberikan pengaruh terhadap normative commitment.
Gambaran Self-esteem pada Anak Usia 9-12 Tahun Khansa Mujahidah; Indri Utami Sumaryanti
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6767

Abstract

Abstract. Self-esteem develops throughout an individual's life and is influenced by various factors. To optimize the development of self-esteem, a clear understanding of its current condition is necessary. This study aims to describe self-esteem in children aged 9-12 years. The research employs a descriptive method with a quantitative approach. The population consists of elementary school students in grades IV, V, and VI, aged 9-12 years. The sample was selected using the convenience sampling technique, with the Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) as the instrument. Data analysis was performed using descriptive statistics and paired-sample u-tests. The findings indicate that self-esteem in children aged 9-12 years can be classified into three categories: low, moderate, and high. The majority of children fall within the moderate to high categories, suggesting no significant issues with self-esteem. Additionally, the analysis of the two dimensions of self-esteem reveals that self-liking is higher than self-competence. This depiction of self-esteem in children aged 9-12 years can serve as a reference for developing interventions aimed at enhancing children's self-esteem. Abstrak. Self-esteem berkembang sepanjang kehidupan seseorang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk mengoptimalkan perkembangan self-esteem, diperlukan pemahaman yang jelas mengenai kondisinya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan self-esteem pada anak usia 9-12 tahun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari siswa kelas IV, V, dan VI sekolah dasar yang berusia 9-12 tahun. Sampel dipilih menggunakan teknik convenience sampling dengan instrumen kuesioner Rosenberg Self-esteem Scale (RSES). Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis deskriptif dan uji u-berpasangan (paired-sample u-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem anak usia 9-12 tahun terbagi ke dalam tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi. Mayoritas anak berada pada kategori sedang hingga tinggi, yang menunjukkan tidak adanya masalah serius terkait self-esteem. Selain itu, analisis dua dimensi self-esteem menunjukkan bahwa dimensi self-liking lebih tinggi dibandingkan dengan self-competence. Gambaran mengenai self-esteem pada anak usia 9-12 tahun ini dapat dijadikan literatur pendukung dalam merancang intervensi yang bertujuan meningkatkan self-esteem anak.
Hubungan Work-life Balance dan Psychological Well-being Pada Atlet E-sports Ahmad Farly Akbar; Oki Mardiawan
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6768

Abstract

Abstract. The high level of e-sports activities in West Java & Jakarta can be seen from the number of e-sports events such as the Governor's Cup and the President's Cup of the e-sports industry. In addition, the high interest in e-sports can be seen from the increasing number of participants in the President's Cup from 18 thousand participants in 2018 to 177 thousand participants in 2020 Anggoro. The high working hours that e-sports athletes have, reaching 12-14 hours, may affect the psychological well-being of these athletes, as previous research only discusses general work such as lecturers and nurses, and for e-sports athletes themselves there has been no research on these two variables. The purpose of this study was to determine the relationship between work-life balance and psychological well-being among e-sports athletes in West Java & Jakarta. This research method uses quantitative with cross-sectional design. Data analysis using structural equation modelling (SEM) with respondents in this study total 230 E-sports athletes in West Java. This study uses a psychological scale with Fisher, Bulger, and Smith's (2009) work-life balance measurement instrument adapted by Gunawan (2019) and Ryff's (1989) psychological well-being measurement instrument adapted and revised by Revelia (2018). The results of this study indicate a positive relationship between work-life balance and psychological well-being in West Java and Jakarta e-sports athletes worth (55%). These results indicate that with an increase in Work-life balance, E-sports athletes will experience an increase in Psychological well-being. Abstrak. Tingginya kegiatan e-sports di Jawa Barat & Jakarta dengan dilihat dari banyaknya event e-sports seperti piala gubernur dan Piala Presiden cabang e-sports. Selain itu tingginya peminat e-sports bisa dilihat dari meningkatnya jumlah pendaftar pada piala presiden dari 18 ribu peserta di tahun 2018 menjadi 177 ribu perserta di tahun 2020 Anggoro. Tingginya waktu bekerja yang dimiliki atlet e-sports, yaitu mencapai 12-14 jam dapat mempenagruhi Psychological well-being pada atlet tersebut, dikarenakan penelitian sebelumnya hanya membahas mengenai pekerjaan umum seperti dosen dan perawat, dan untuk atlet e-sports sendiri belum ada penelitian yang dilakukan mengenai kedua variabel ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Work-life balance dan Psychological well-being pada atlet E-sports Jawa Barat & Jakarta. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan responden pada penelitian ini berjumlah sebanyak 230 orang atlet E-Sport di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur Work-life balance dari Fisher, Bulger, and Smith, (2009) yang diadaptasi oleh Gunawan (2019), dan alat ukut Psychological well-being dari Ryff (1989) yang telah diadaptasi dan direvisi oleh Revelia (2018). Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan positif antara Work-life balance dan Psychological well-being pada atlet E-sports Jawa Barat & Jakarta senilai (55%). Hasil ini menunjukan bahwa atlet e-sports akan mengalami peningaktan Psychological well-being seiring dengan meningkatnya Work-life balance.
Hubungan antara Relasi dalam Keluarga dan Kesejahteraan Subjektif Remaja Korban Perundungan Siber Nuha Dzakiyyah; Ihsana Sabriani Borualogo; Tia Inayatillah
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6352

Abstract

Abstract. Cyberbullying is increasing and negatively impacts adolescents' subjective well-being (SWB). Victims of cyberbullying often experience disruptions in interpersonal satisfaction, especially within family relationships. Family relationships, which involve social interactions and closeness among members, are essential for fostering satisfaction and happiness. This study examines how family relationships contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City who experience cyberbullying. Participants included 239 students aged 12–16 years (N= 239; 51.6% female; 49.0% male) selected through stratified cluster random sampling in a cross-sectional survey. Family relationships were measured using the Children's World's tool and SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Victim categorization followed Patchin and Hinduja’s measurement instrument. Data analysis using linear regression techniques. Results showed that victims of cyberbullying had below-average SWB (M = 64.9; SD = 28.7) compared to Cummins’ theoretical mean of 75, with female victims reporting lower SWB than males. Family relationships, such as feeling safe at home (β = .349, p < .001) and parents listening and paying attention (β = .220, p < .011), significantly positively contributed to their SWB. Therefore, building positive family relationships and interactions is crucial for enhancing the SWB of adolescent victims of cyberbullying. Abstrak. Perundungan siber semakin meningkat dan berdampak negatif pada kesejahteraan subjektif remaja. Korban sering kali mengalami gangguan dalam kepuasan interpersonal, terutama dalam hubungan keluarga. Hubungan keluarga, melibatkan interaksi sosial dan kedekatan antara anggota, sangat penting untuk menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan. Penelitian ini meneliti bagaimana hubungan keluarga berkontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung yang mengalami perundungan siber. Partisipan terdiri dari 239 siswa berusia 12-16 tahun (N= 239; 51.6% perempuan; 49.0% laki-laki) yang dipilih melalui stratified cluster random sampling dalam survei cross-sectional. Hubungan keluarga diukur dengan menggunakan alat Children's World’s dan SWB diukur dengan menggunakan Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Kategorisasi korban berdasarkan instrumen pengukuran Patchin dan Hinduja. Analisis data menggunakan teknik regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban memiliki kesejahteraan subjektif di bawah rata-rata (M = 64,9; SD = 28,7) dibandingkan dengan rata-rata teoritis Cummins yaitu 75, dengan korban perempuan melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hubungan keluarga, seperti merasa aman di rumah (β = .349, p <.001) dan orang tua yang mendengarkan dan memberi perhatian (β = .220, p <.011), secara signifikan memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif mereka. Oleh karena itu, membangun hubungan dan interaksi keluarga yang positif sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif korban.
A Scoping Review: Self-harm pada Remaja Siti Rahmah Jamilah; Farida Coralia
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6372

Abstract

Abstract. Adolescents are seen as an age group that is vulnerable to self-harm. In recent years, cases of self-harm have increased. Exposure to physical, emotional, social changes and problems that occur in the adolescent age range causes adolescents to commit self-harm. The purpose of this paper is to explore topics related to self-harm. The method in writing this article is scoping review. Scoping review is done to map the topic of self-harm. In this writing, data was obtained from the Google Scholar, Pubmed, Science Direct, Taylor & Francis Online, and Sagepub published in 2014-2024. This scoping review obtained 14 articles that matched the inclusion criteria. The findings showed that self-harm is related to age, gender, mental health conditions, eating disorders, loneliness, and adverse childhood experiences. In addition, most adolescents used self-harm methods such as cutting and scratching. Common reasons expressed by adolescents when committing self-harm were related to interpersonal function. The results of the review can be used to understand the risk factors, reasons, and methods in adolescents who self-harm. Abstrak. Remaja dipandang menjadi kelompok usia yang rentan melakukan self-harm. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus self-harm mengalami kenaikan. Paparan perubahan fisik, emosional, sosial dan permasalahan yang terjadi dalam rentang usia remaja menyebabkan remaja melakukan self-harm. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi topik-topik yang berkaitan dengan self-harm. Metode dalam penulisan artikel ini adalah scoping review. Scoping review dilakukan untuk memetakan topik self-harm. Dalam penulisan ini mendapatkan data dari database Google Scholar, Pubmed, Science Direct, Taylor & Francis Online, dan Sagepub yang dipublikasi pada tahun 2014-2024. Pada tinjauan literatur ini memperoleh sebanyak 14 artikel yang telah sesuai dengan kriteria inklusi. Temuan menunjukkan bahwa self-harm berkaitan dengan usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan mental, gangguan makan, kesepian, dan pengalaman buruk sejak kecil. Selain itu, sebagian besar remaja menggunakan metode self-harm berupa mengiris tangan dan menggaruk secara kasar. Alasan umum yang diungkapkan remaja ketika melakukan self-harm berkaitan dengan fungsi intrapersonal. Hasil tinjauan dapat digunakan untuk memahami faktor risiko, alasan, dan metode pada remaja yang self-harm.
Berdaya dalam Kerja: Menelusuri Dimensi Pemberdayaan Psikologis Gen Z Soerjoatmodjo, Gita Widya Laksmini
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6840

Abstract

Abstract. Generation Z has become a dominant force in today’s workforce, yet many organizations still lack a full understanding of this generation’s values and expectations. Gen Z seeks work experiences that are meaningful, empowering, and offer space for personal growth. Psychological empowerment consists of four dimensions: meaning, competence, self-determination, and impact. This study employed a quantitative approach using a survey design involving 465 Gen Z employees from various industrial sectors in Indonesia, aiming to identify the most prominent dimensions of psychological empowerment within this group. The analysis revealed significant differences (p  < 0.001) among the four dimensions, with competence and meaning emerging as the highest-rated, while self-determination and impact were rated the lowest. These findings indicate that although Gen Z employees are confident in their competence and find their work meaningful, they often do not feel autonomous or perceive that their contributions make a real impact on the organization. Therefore, it is essential for organizations not only to support competence but also to provide space for autonomy and recognize employees’ contributions. At the same time, Gen Z can also develop the ability to articulate their work preferences constructively. Abstrak. Generasi Z merupakan kekuatan dominan di dunia kerja, namun banyak organisasi belum sepenuhnya memahami nilai dan ekspektasi generasi ini. Gen Z mendambakan pengalaman kerja yang bermakna, memberdayakan, dan memberi ruang untuk berkembang. Pemberdayaan psikologis terdiri atas empat dimensi: makna, kompetensi, determinasi diri, dan dampak. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei terhadap 465 pegawai Gen Z di berbagai sektor industri di Indonesia, dan bertujuan mengidentifikasi dimensi pemberdayaan psikologis yang paling menonjol pada kelompok ini. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0.001) antar dimensi, dengan kompetensi sebagai dimensi tertinggi, disusul oleh makna, sementara determinasi diri dan dampak merupakan dimensi dengan skor terendah.Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun pegawai Gen Z percaya diri dengan kompetensinya dan menjalankan pekerjaan yang bermakna, mereka belum merasa memiliki ruang otonomi maupun dampak nyata terhadap organisasi. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk tidak hanya mendukung kompetensi, tetapi juga menciptakan ruang bagi otonomi serta memberikan pengakuan atas kontribusi mereka. Di sisi lain, Gen Z juga perlu mengembangkan kemampuan artikulatif untuk mengekspresikan preferensi cara kerja secara konstruktif.
Intervensi untuk Meningkatkan Regulasi Emosi pada Individu dengan Disabilitas Intelektual: Literature Review Dzaki, Hilmi; Ghaffari, Annisa Rahmah; Febriani, Eni Novita Sari; Albib, Nesya Nabilfaizy; Rahmi, Iftita
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.7890

Abstract

Abstract. Individuals with intellectual disabilities may experience difficulties in recognizing emotions, understanding the cause-and-effect relationship of emotions, as well as problems with self-control, impulse inhibition, and emotional regulation. Emotional regulation is therefore an essential aspect in addressing issues related to managing emotions. Given the important role of emotional regulation for individuals with intellectual disabilities, there is a need for systematic intervention efforts, starting with an initial assesment. This study aims to identify interventions that can improve emotional regulation in individuals with intellectual disabilities. The study was conducted using a descriptive literature review. The inclusion criteria for the literature search were: (1) articles based on primary research, (2) focusing on emotional behavior or challenging behavior in individuals with intellectual disabilities, (3) full-text access available, and (4) published within the last 10 years (5) journals indexed from Sinta 5 up to Scopus.  The results of this review indicate that several interventions are effective in enhancing emotional regulation in individuals with intellectual disabilities. These include Differential Reinforcement of Alternative Behavior, Cognitive Behavioral Therapy (CBT), a combination of CBT and behavior-analytic approaches, psychomotor interventions, Leadership for Empowerment and Abuse Prevention (LEAP), assertive training, and Soles of the Feet meditation (UK SoF). Abstrak. Individu dengan disabilitas intelektual mungkin mengalami kesulitan untuk dapat mengenali emosi, memahami sebab-akibat dari emosi, serta memiliki masalah untuk mengendalikan diri, menahan dorongan diri, serta mengelola emosi. Regulasi emosi menjadi suatu hal yang penting dalam membantu masalah terkait pengelolaan emosi. Melihat pentingnya peran regulasi emosi bagi individu dengan disabilitas intelektual, maka dibutuhkan sejumlah upaya berupa intervensi yang sistematis seperti yaitu asesmen awal. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui terkait intervensi apa saja yang mampu meningkatkan regulasi emosi pada individu dengan disabilitas intelektual. Penelitian ini disusun menggunakan kajian literatur deskriptif. Kriteria inklusi dalam pencarian literatur yang digunakan yaitu 1) artikel berasal dari penelitian empris 2) berfokus terhadap perilaku emosional atau perilaku menantang individu dengan disabilitas intelektual 3) dapat diakses full text 4) terbit dalam 10 tahun terakhir 5) jurnal terindeks Sinta 5 hingga Scopus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah intervensi yang efektif dalam meningkatkan regulasi emosi pada individu dengan disabilitas intelektual diantaranya meliputi intervensi differential reinforcement of alternative behavior, Cognitive Behavioral Therapy (CBT), perpaduan pendekatan CBT dengan analisis perilaku (behavior-analytic), psikomotorik (psychomotor), Leadership for Empowerment and Abuse Prevention (LEAP), pelatihan asertif (assertive training), serta meditasi Soles of The Feet (UK SoF).
Properti Psikometri Skala Literasi Kesehatan dalam Bahasa Indonesia Trisnadewi, Benedicta Audrey Putri; Agustina, Menik Tetha
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8050

Abstract

Abstract. Health literacy is an individual's ability to access, understand, and use health information appropriately, and this ability is important to support adaptive health behaviors. In Indonesia, there has not been much adaptation of instruments that measure health literacy to suit the Indonesian cultural context. This study aims to analyze the psychometric properties of the HLS-SF12 in adults aged 18–60 years in Central Java Province. This study used a quantitative design with online data collection through convenience sampling. The analysis included content validity using Aiken's V, internal reliability using Cronbach's alpha, item discrimination index, and Confirmatory Factor Analysis (CFA) to test the suitability of the factor structure. The content validity results showed Aiken's V values in the range of 0.75–0.917. Internal reliability showed a Cronbach's alpha value of 0.899, while the item discrimination index was in the range of 0.565–0.695. The CFA results also showed that the HLS-SF12 had adequate goodness of fit and was consistent with its theoretical structure. The results of the study indicate that the HLS-SF12 is suitable for use as an instrument to measure health literacy in adults in Indonesia. Abstrak. Literasi kesehatan merupakan kemampuan individu untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat, dan kemampuan ini penting untuk mendukung perilaku kesehatan yang adaptif. Di Indonesia, belum banyak proses adaptasi terhadap instrumen yang mengukur literasi kesehatan agar sesuai dengan konteks budaya Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis properti psikometris HLS-SF12 pada orang dewasa berusia 18–60 tahun di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pengambilan data secara daring melalui convenience sampling. Analisis yang dilakukan meliputi validitas isi menggunakan Aiken’s V, reliabilitas internal dengan Cronbach’s alpha, indeks diskriminasi item, serta Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menguji kesesuaian struktur faktor. Hasil validitas isi menunjukkan nilai Aiken’s V dalam rentang 0.75–0.917. Reliabilitas internal menunjukkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.899, sedangkan indeks diskriminasi item berada pada rentang 0.565–0.695. Hasil CFA juga menunjukkan bahwa HLS-SF12 memiliki goodness of fit yang memadai dan konsisten dengan struktur teoretisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HLS-SF12 layak digunakan sebagai instrumen untuk mengukur literasi kesehatan pada orang dewasa di Indonesia.
Hubungan Antara Perbandingan Sosial Dengan Kesejahteraan Subjektif Siswa SMP Pengguna Instagram Az Zahra, Ainayya; Borualogo, Ihsana Sabriani
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8269

Abstract

Abstract. This study aims to determine the relationship between social comparison on social media, especially Instagram, and subjective well-being among junior high school students in Bandung City. Social comparison is examined based on two aspects, namely ability and opinion. The study used a quantitative correlational approach with a cross-sectional survey method and stratified cluster random sampling technique. The study involved 1,042 junior high school students in Bandung City aged 12-16 years (55% female; 45% male). Data were collected using Google Forms. Social comparison was measured using the Social Media Social Comparison (SMSC). Subjective well-being was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale 5 items (CW-SWBS5). Data analysis used multiple linear regression to determine the relationship between variables. Descriptive statistics ANOVA was used to perform the compare means and cross-tab tests. The results showed that social comparison in the opinion aspect had a positive and significant relationship with subjective well-being (β = .140; p = < .001), while social comparison in the ability aspect showed no significant relationship (β = -.004; p = .908). This study only explained a relatively low amount of variability, namely 3.3% of the variation in subjective well-being in junior high school students. This finding suggests that social comparison is related to subjective well-being, but this relationship depends on the aspect studied.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perbandingan sosial di media sosial, khususnya Instagram, dengan kesejahteraan subjektif pada siswa SMP di Kota Bandung. Perbandingan sosial dikaji berdasarkan dua aspek, yaitu kemampuan dan opini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode cross-sectional survey dan teknik stratified cluster random sampling. Penelitian melibatkan 1,042 siswa SMP di Kota Bandung berusia 12-16 tahun (perempuan 55%; laki-laki 45%). Data diambil dengan menggunakan Google Form. Perbandingan sosial diukur menggunakan Social Media Social Comparison (SMSC). Kesejahteraan subjektif diukur menggunakan Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale 5 items (CW-SWBS5). Analisis data menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan antar variabel. Statistika deskriptif ANOVA digunakan untuk melakukan uji compare means dan cross-tab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial aspek opini memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif (β = .140; p = < .001), sedangkan perbandingan sosial aspek kemampuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (β = -.004; p = .908). Hasil penelitian ini hanya mampu menjelaskan variabilitas yang relatif rendah, yakni 3.3% dari variasi kesejahteraan subjektif siswa SMP. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan sosial memiliki hubungan dengan kesejahteraan subjektif, namun hubungan ini tergantung pada aspek yang dikaji.

Page 10 of 11 | Total Record : 107