cover
Contact Name
Dewi Rosiana
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrp@unisba.ac.id
Editorial Address
Gedung Rektorat Lantai 4, Jl. Tamansari No. 20 Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Psikologi
ISSN : 28083164     EISSN : 27986071     DOI : https://doi.org/10.29313/jrp.v1i2
Jurnal Riset Psikologi (JRP) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian Psikologi Sosial, Pendidikan, dll. JRP ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6071 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 107 Documents
Positive Behavior in Action: Eating Problem and Avoiding Anxiety Problem Ulil Abshar; Nur Awwaliyah Romadhani; Citra Pangestika Putri
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8330

Abstract

Abstract. This study aims to examine the role of positive parenting and mindful parenting in preventing eating problems and avoiding anxiety problems in children and adolescents. This study is based on the theoretical assumption that responsive and warm parent-child interactions strengthen children's self-regulation abilities, while excessive control triggers maladaptive coping mechanisms. The methodology used is qualitative through a literature study approach to ten selected scientific articles obtained from various academic databases. The results show that positive parenting and mindful parenting serve as significant protective factors that reduce the risk of emotional eating, binge eating, and avoidance behavior through increased emotional stability. Conversely, restrictive, permissive, and overprotective parenting styles are strongly correlated with increased anxiety symptoms and eating problems. This study also found that the integration of cognitive-behavioral therapy (CBT) with active parental involvement is highly effective in improving family dynamics and reducing clinical symptoms. It is concluded that comprehensive preventive strategies with an integrative approach combining positive parenting, mindful parenting, and cognitive-behavioral therapy (CBT) are the primary recommendations in efforts to prevent and manage eating disorders and anxiety in children and adolescents. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran pengasuhan positif dan mindful parenting dalam pencegahan eating problem dan avoiding anxiety problem terhadap perilaku anak dan remaja. Kajian ini dibangun di atas asumsi teoretis bahwa interaksi orang tua dengan anak yang responsif dan hangat memperkuat kemampuan regulasi diri anak, sedangkan kontrol berlebihan memicu mekanisme koping maladaptif. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan studi literature terhadap sepuluh artikel ilmiah terpilih yang diperoleh dari berbagai basis data akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan positif dan mindful parenting berfungsi sebagai faktor protektif signifikan yang menurunkan risiko emotional eating, binge eating, dan perilaku menghindar (avoidance) melalui peningkatan stabilitas emosi. Sebaliknya, pola asuh restriktif, permisif, dan overprotective berkorelasi kuat dengan peningkatan gejala kecemasan dan masalah makan. Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi cognitive-behavioral therapy (CBT) dengan keterlibatan aktif orang tua sangat efektif dalam memperbaiki dinamika keluarga dan mereduksi gejala klinis. Disimpulkan bahwa strategi preventif yang komprehensif dengan pendekatan integratif yang mengombinasikan pengasuhan positif, mindful parenting, dan cognitive-behavioral therapy (CBT) menjadi rekomendasi utama dalam upaya pencegahan dan penanganan perilaku masalah makan dan kecemasan pada anak dan remaja.
Literature Sibling Relationships dalam Keluarga dengan Anak Autism Spectrum Disorded Adika, Safana Azzahra Putri; Stephani Raihana Hamdan
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8450

Abstract

Abstract. Siblings play a vital role in the family system throughout life, including within families of children with Autism Spectrum Disorder (ASD). This study aims to examine the quality of sibling relationships in families raising children with ASD through a literature review approach. The findings indicate that the limitations experienced by children with ASD, particularly in communication and behavior, often create challenges for their typically developing siblings, such as emotional stress, difficulties in social interaction, feelings of embarrassment in public settings, and an overwhelming sense of responsibility. Nevertheless, many siblings also demonstrate strong expressions of affection, empathy, and acceptance toward their sibling with ASD. These findings highlight the importance of the family and broader social environment in providing adequate social support. Thus, understanding siblings’ experiences is expected to foster the development of more harmonious and supportive family relationships. Abstrak. Siblings merupakan bagian penting dalam sistem keluarga yang memiliki peran sepanjang hidup, termasuk dalam keluarga dengan anak penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas sibling relationships dalam keluarga dengan anak ASD melalui pendekatan studi literatur. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa keterbatasan anak dengan ASD dalam aspek komunikasi dan perilaku seringkali menimbulkan tantangan bagi saudara kandung mereka, seperti stres emosional, kesulitan dalam menjalin interaksi sosial, perasaan malu di lingkungan sosial, hingga munculnya tanggung jawab yang berlebihan. Meski demikian, mereka juga menunjukkan bentuk kasih sayang, empati, dan penerimaan yang kuat. Temuan ini menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam menyediakan dukungan sosial. Dengan demikian, pengalaman siblings diharapkan dapat mendorong terciptanya hubungan keluarga yang lebih harmonis dan suportif.
Pengaruh Internalization Appearance Ideal terhadap Body Dissatisfaction pada Mahasiswa Kota Bandung Putri, Adelia Fitriananda; Wahyudi, Hedi
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8453

Abstract

Abstract. Female students in early adulthood are in a transitional phase where physical appearance becomes an important part of identity formation and social acceptance. Sociocultural pressures such as family, peers, and social media, as factors in shaping internalization of the appearance ideal, can trigger body dissatisfaction among female students. This study aims to examine the effect of internalization of the appearance ideal on body dissatisfaction among female students in Bandung. This research uses a quantitative approach with a causal design. The sample consists of 417 female students aged 18–25, selected through convenience sampling. The instruments used are the SATAQ-4 adapted by Niswah (2021) and the MBSRQ-AS adapted by Aristantya and Helmi (2019). Data were analyzed using simple linear regression. The results show that internalization of the appearance ideal has a positive and significant effect on body dissatisfaction (R² = .419; p < .05), meaning that internalization of the appearance ideal contributes 41.9% to body dissatisfaction. This study indicates that a high level of internalization of the appearance ideal leads to higher body dissatisfaction among female students. Furthermore, the majority of respondents with a normal BMI had high levels of internalization and body dissatisfaction, suggesting that physical health and an ideal body condition do not guarantee a positive body perception, as body evaluation is more influenced by psychological factors and social pressures. Abstrak. Mahasiswa perempuan pada masa dewasa awal berada pada fase transisi yang menjadikan penampilan fisik sebagai bagian penting dalam pembentukan identitas diri dan penerimaan sosial. Tekanan sosiokultural seperti keluarga, teman sebaya, dan media sosial sebagai faktor dalam membentuk internalization appearance ideal dapat memicu mahasiswa perempuan mengalami body dissatisfaction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh internalization appearance ideal terhadap body dissatisfaction pada mahasiswa perempuan di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel terdiri dari 417 mahasiswa perempuan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah SATAQ-4 yang diadaptasi oleh Niswah (2021) dan MBSRQ-AS yang diadaptasi oleh Aristantya dan Helmi (2019). Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil analisis, internalisasi appearance ideal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap body dissatisfaction (R² = .419; p < .05). Artinya internalization appearance ideal berkontribusi sebesar 41.9% terhadap body dissatisfaction. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat internalization appearance ideal yang tinggi menyebabkan body dissatisfaction yang tinggi pada mahasiswa perempuan. Selain itu, mayoritas responden dengan BMI normal memiliki tingkat internalisasi dan ketidakpuasan tubuh yang tinggi, menunjukkan bahwa kondisi fisik yang sehat tidak menjamin persepsi tubuh yang positif, karena penilaian tubuh lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis dan tekanan sosial.
Pengaruh Online Disinhibition Effect terhadap Online Self-Disclosure pada Pengguna Media Sosial X Firlizza, Nanda; Siti Qodariah
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8622

Abstract

Abstract. The use of social media, particularly platform X, has been increasing and allows individuals to express themselves more freely. This phenomenon is linked to the online disinhibition effect, which includes two forms: benign disinhibition and toxic disinhibition, both of which are believed to influence the intensity of online self-disclosure. However, in some contexts, the impact may not always be positive, depending on how users experience this freedom. This study aims to empirically test the effect of the online disinhibition effect on online self-disclosure among users of social media X. A quantitative approach was employed with a convenience sampling technique, involving 392 respondents who met the inclusion criteria. The instruments used were the Online Disinhibition Effect Scale and the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results indicated that the online disinhibition effect has a significant influence on online self-disclosure. The coefficient of determination (R²) value of .237 shows that 23.7% of the variation in online self-disclosure can be explained by the online disinhibition effect. These findings suggest that the higher the level of online disinhibition, the greater the tendency for individuals to disclose personal information on social media X. Abstrak. Penggunaan media sosial, khususnya platform X, semakin meningkat dan menjadi sarana bagi individu untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas. Fenomena ini berkaitan dengan online disinhibition effect yang terbagi menjadi dua bentuk, yaitu benign disinhibition dan toxic disinhibition, yang diduga memengaruhi intensitas online self-disclosure yang dalam konteks tertentu tidak selalu berdampak positif, tergantung pada bagaimana kebebasan tersebut dijalani oleh pengguna. Penelitian ini bertujuan menguji secara empiris pengaruh online disinhibition effect terhadap online self-disclosure pada pengguna media sosial X. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan teknik convenience sampling, melibatkan 392 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah Online Disinhibition Effect Scale dan Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa online disinhibition effect memiliki pengaruh signifikan terhadap online self-disclosure. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar .237 menunjukkan bahwa 23.7% variasi online self-disclosure dapat dijelaskan oleh online disinhibition effect. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat online disinhibition effect, semakin besar kecenderungan individu untuk mengungkapkan informasi pribadi (online self-disclosure) di media sosial X. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas pemahaman mengenai pengaruh interaksi daring terhadap perilaku komunikasi interpersonal di media sosial.
Peran Kontrol Diri sebagai Mediator terhadap Hubungan Fomo dengan Kecanduan Media Sosial Utami, Diva Arifah; Mardiawan, Oki
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8663

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the relationship between Fear of Missing Out (FoMO) and social media addiction, and to determine whether self-control has a role as a mediating variable in that relationship in emerging adulthood in Bandung City. A quantitative approach with Path Analysis was used in this study. Participants numbered 282 people aged 18–25 years who are active social media users. The instruments used were the Indonesian version of the ON-FoMO Scale, the Indonesian adaptation of the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), and the Indonesian version of the 10-item Self-Control Scale. The results show that FoMO has a positive and significant effect on social media addiction (β=.282, p<.001). Self-control was found to play a significant role as a partial mediator in the relationship between FoMO and social media addiction indirect effect =(.099). These findings confirm that FoMO is an important factor that triggers social media addiction, and the mediating mechanism through self-control explains part of that relationship. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Fear of Missing Out (FoMO) dan kecanduan media sosial, serta mengetahui apakah self-control (kontrol diri) memiliki peran sebagai variabel mediator dalam hubungan tersebut pada emerging adulthood di Kota Bandung. Pendekatan kuantitatif dengan analisis Path Analysis digunakan dalam penelitian ini. Partisipan berjumlah 282 orang berusia 18–25 tahun yang merupakan pengguna aktif media sosial. Instrumen yang digunakan adalah ON-FoMO Scale versi Indonesia, Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) versi adaptasi Indonesia, dan Skala Kontrol Diri 10-item versi Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecanduan media sosial (β=.282, p<.001). Kontrol diri ditemukan berperan signifikan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara FoMO dan kecanduan media sosial efek tidak langsung =(.099). Temuan ini menegaskan bahwa FoMO merupakan faktor penting yang memicu kecanduan media sosial, dan mekanisme mediasi melalui kontrol diri menjelaskan sebagian dari hubungan tersebut.
Cyberbullying in the Digital Era: A Systematic Review from a Technology Psychology Perspective Nisrina, Ghina; Irsyani, Nazira; Meilani, Pinkan; Dinata, Konto Iskandar
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.8743

Abstract

Abstract. Cyberbullying has emerged as a significant psychosocial phenomenon in the digital era, causing serious psychological impacts on victims. This study aims to conduct a systematic review of current literature on cyberbullying from a technology psychology perspective, identifying forms of cyberbullying, psychological impacts, and digital-based interventions. The systematic review was conducted using SCOPUS, PubMed, PsycINFO, and Google Scholar databases for the 2019-2024 period with keywords including "cyberbullying", "cyberaggression", "online harassment", "psychological impact", and "digital intervention".  Findings reveal six main forms of cyberbullying: flaming, harassment, denigration, outing, impersonation, and trickery. Psychological impacts include depression, anxiety, psychological distress, suicidal ideation, and sleep disorders, mediated by technological factors such as online anonymity and disinhibition effect. Identified digital-based interventions include automated monitoring and detection, digital reporting platforms, website-based interventions, digital awareness promotion, mobile support applications, online counseling, behavioral monitoring, digital peer support networks, and virtual reality for empathy training. This study concludes that cyberbullying requires an integrative approach considering both technological and psychological aspects, with personalized digital interventions showing significant potential in mitigating negative impacts. Abstrak.  Cyberbullying telah menjadi fenomena psikososial yang signifikan di era digital, menimbulkan dampak psikologis serius pada korban. Penelitian ini bertujuan melakukan systematic review terhadap literatur terkini mengenai cyberbullying dari perspektif psikologi teknologi, mengidentifikasi bentuk-bentuk cyberbullying, dampak psikologis, dan intervensi berbasis digital.  Systematic review dilakukan menggunakan database SCOPUS, PubMed, PsycINFO, dan Google Scholar. Temuan menunjukkan enam bentuk utama cyberbullying: flaming, harassment, denigration, outing, impersonation, dan trickery. Dampak psikologis meliputi depresi, kecemasan, tekanan psikologis, ideasi bunuh diri, dan gangguan tidur, dengan mediasi faktor teknologi seperti anonimitas online dan disinhibition effect. Intervensi berbasis digital yang diidentifikasi mencakup monitoring dan deteksi otomatis, platform pelaporan digital, intervensi berbasis website, promosi kesadaran digital, aplikasi mobile dukungan, konseling online, monitoring perilaku, peer support networks, dan realitas virtual untuk empati training. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cyberbullying memerlukan pendekatan integratif yang mempertimbangkan aspek teknologi dan psikologis, dengan intervensi digital yang dipersonalisasi menunjukkan potensi signifikan dalam mitigasi dampak negatif.
Pengaruh Social Support terhadap Career Decision-Making Self-Efficacy pada Mahasiswa Pemain Amatir Esports Desiarifa, Najla Putri; Djamhoer, Temi Damayanti
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 2 Desember 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i2.9215

Abstract

Abstract. The esports industry is one of the fastest-growing industries, opening up new career opportunities for students in emerging adulthood and career-determining stages. However, many remain uncertain about their career paths, including amateur esports players who are considering pursuing a career as a professional esports athlete. This calls for career decision-making self-efficacy, a factor influenced by social support from family, friends, and significant others. This study aims to determine the extent to which social support and its dimensions influence career decision-making self-efficacy among amateur esports students in Bandung. The sample consisted of 389 respondents collected using convenience sampling. The instrument used to measure social support was Zimet's (1988) Multidimensional Scale of Perceived Social Support, adapted from Sulistiani et al. (2022), Taylor and Betz's (1983) Career Decision-Making Self-Efficacy–Short Form instrument was adapted by Purnama & Ernawati (2021) to measure career decision-making self-efficacy. The analysis technique used was multiple regression. The results showed a simultaneous positive effect of social support on Career Decision-Making Self-Efficacy, with a contribution of 15.1%. Separately, family support had the largest influence, at 21.8%, followed by friends at 20.9%, and significant others at 11.1%. Abstrak. Industri esports merupakan industri yang berkembang paling pesat, membuka peluang karier baru bagi para mahasiswa yang berada pada fase emerging adulthood dan berada di tahap penentuan karier. Namun, banyak di antara mereka yang masih ragu tentang arah karier mereka, termasuk para pemain amatir esports untuk melanjutkan kariernya sebagai atlet esports profesional. Dalam hal ini, diperlukan career decision-making self-efficacy, dimana salah satu faktornya dapat dipengaruhi oleh social support dari keluarga, teman, dan significant others. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana social support beserta masing-masing dimensinya mempengaruhi career decision-making self-efficacy pada mahasiswa pemain amatir esports di Kota Bandung. Sampel penelitian terdiri dari 389 responden yang dikumpulkan dengan teknik convinience sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur social support merupakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support miliki Zimet (1988) yang diadaptasi oleh Sulistiani et al. (2022), instrumen Career Decision-making Self-Efficacy–Short Form milik Taylor dan Betz (1983) yang diadaptasi oleh Purnama & Ernawati (2021) untuk mengukur career decision-making self-efficacy. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif social support secara simultan terhadap Career Decision-Making Self-Efficacy, dengan kontribusi sebesar 15.1%. Secara terpisah, dukungan keluarga memiliki pengaruh terbesar, sebesar 21.8%, diikuti oleh teman sebesar 20.9%, dan significant others sebesar 11.1%.

Page 11 of 11 | Total Record : 107