GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh
The focus of interest include but are not limited to: 1. Biomedical sciences: anatomy and physiology, cell biology, biochemistry, microbiology, genetics and molecular biology, immunology, mathematics and statistics, and bioinformatics. 2. Clinical medicine: internal medicine, general surgery, pediatrics, obstetrics and gynecology, orthopedics, psychiatry, radiology, pulmonary medicine, dermatology and venereology, infectious diseases, anesthesiology, cardiology, cancer research, endocrinology, urology, neurosurgery, geriatric medicine, gastroenterology, neurology, nephrology, ophthalmology, dentistry, immunology, infertility, hematology, medical genetics, laboratory medicine, medical statistics, clinical psychology, clinical pharmacy, pharmaceutical sciences and biotechnology. 3. Global, international and public health: climate change, reduction of disparities, and protection against global threats, tropical medicine, travel medicine, epidemiology, biostatistics, social sciences and management of health services, maternal and child health, environmental health, community health, behavioral health, health economics, public policy, mental health, health education, occupational safety, gender issues in health, and sexual and reproductive health. 4. Health profession education/ Medical Education. 5. Interdisciplinary research articles that are found appropriate by the editor.
Articles
283 Documents
Dampak Letusan Gunung Api dan Penanganan Psikologis Pada Korban
Nurlaili, Nurlaili;
Ulfayani, Ulfayani
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 1 No. 2 (2022): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Agustus 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v1i2.17474
Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buahgunung berapi yang masih aktif. Dibalik dampak positif untuk kesuburan tanah,terawatt bahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa termasuk mengakibatkan dampak psikologis. Penulisan ini menggunakan metode literature review dengan identifikasi, evaluasi, serta interpretasi terhadap semua hasil penelitian terkait topik tertentu. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, dapat dilihat bahwa Letusan gunung api sangat berdampak terhadap korban yang terpapar atau mengalaminya, tidak hanya dampak secara fisik namun juga berdampak terhadap psikis. Korban gunung meletusakan mengalami berupa rasa trauma, kecemasan, depresi, dan stres pasca trauma, sehingga sangat dibutuhkan penanganan dari segala pihak khususnyadari pihak psikologi untuk menangani permasalahan gangguan psikologis.
Pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) Untuk Mereduksi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) Korban Gempa Bumi
Inayati, Rahmi;
Harahap, Nurul Julita Hasanah
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 1 No. 4 (2022): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - November 2
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v1i4.17475
Bencana alam seperti gempa bumi memberi dampak negatif baik secara fisik, sosial maupun psikologis. Gempa bumi dapat memiliki dampak negatifyang signifikan pada mental manusia, terutama dalam hal PTSD dan gangguan kecemasan pasca-trauma. Penulisan ini menggunakan metode literature review dengan identifikasi, evaluasi, serta interpretasi terhadap semua hasil penelitian terkait topik tertentu. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, dapat dilihat bahwa Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat disebabkan oleh beberapa hal salah satu diantaranya yaitu korban yang pernah mengalami peristiwa gempa bumi. Dari berbagai teknik konseling akibat PTSD ini dapat disembuhkan melalui pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT). CBT adalah pendekatan konseling yang menitik beratkan pada pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis.
Tatalaksana Angina Pektoris Stabil pada Pasien Dewasa Tua : Literature Review
Laksono, Sidhi;
Surya Angkasa, Irwan
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.17876
Prevalensi penyakit jantung di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2018 masih cukup tinggi sebesar 1.5% atau sekitar 2.784.064 individu. Dimana 4 dari 5 kematian akibat penyakit jantung disebabkan oleh stroke dan penyakit jantung koroner. Morbiditas dan mortalias cenderung meningkat pada pasien berusia lanjut karena biasanya pasien lanjut usia disertai dengan penyakit komorbid seperti hipertensi, dan diabetes. Beberapa obat anti-angina juga dapat memberikan efek yang tidak diinginkan. Penentuan terapi baik dengan obat maupun intervensi yang tepat sangat membantu dokter untuk mendapatkan hasil terapi terbaik bagi pasien lanjut usia. Penulisan ini bertujuan untuk merangkum penelitian-penelitian serta guideline pilihan terapi bagi pasien usia lanjut yang mengalami angina pektoris stabil.
Hubungan Sosiodemografi dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Muara Batu Kabupaten Aceh Utara
Aldelina, Hezelyn;
Khairunnisa, Cut
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22455
Diabetes Melitus (DM) merupakan peyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan kenaikan jumlah pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 akan menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Peningkatan kejadian kasus Diabetes Melitus dipengaruhi berbagai faktor seperti perubahan pola gaya hidup, perubahan usia, dan kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin dengan kadar gula darah puasa pada pasien Diabetes Melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh dengan jumlah sampel sebanyak 104 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling dari bulan Maret 2025 – Mei 2025. Analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan kadar gula darah puasa dengan usia (p-value=0,400), serta tidak ada hubungan Kadar Gula Darah Puasa dengan jenis kelamin (p- value=0,950).
Multidrug-Resistant Tuberculosis pada Pasien Laki-Laki Usia 48 Tahun dengan TB Paru
Farasha, Diana;
Khairunnisa, Cut
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22730
Seorang laki-laki 48 tahun dengan Tuberkulosis Multi Resisten Obat (MDR-TB) menunjukkan gejala klinis seperti batuk berdahak kuning putih selama sebulan, sesak napas, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. Pasien merupakan pasien putus obat pada bulan januari 2025 silam, ia mengalami MDR-TB, terbukti dengan resistensi terhadap rifampicin. tes dahak mengonfirmasi adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pasien menjalani terapi kombinasi yang terdiri dari bedaquiline, moksifloksasin, linezolid, clofazimine, cycloserine, dan vitamin B6. Selain itu, diberikan pula perawatan tambahan berupa antibiotik, terapi untuk meredakan gejala, serta dukungan nutrisi. Pemantauan kondisi pasien dilakukan secara berkala oleh tim medis, disertai konsultasi dengan dokter spesialis paru, psikiatri, dan ahli gizi guna memastikan kepatuhan terhadap pengobatan. Kasus ini menggambarkan tantangan besar dalam penatalaksanaan MDR-TB, terutama pada individu dengan riwayat putus pengobatan TBC. Oleh karena itu, deteksi dini terhadap resistensi obat dan pemberian terapi yang tepat secara cepat menjadi hal yang krusial untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah penularan lebih lanjut. Laporan ini juga menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dan pemantauan intensif dalam penanganan MDR-TB.
Hubungan Lama Konsumsi Obat Antihipertensi dengan Fungsi Ginjal (EGFR) pada Pasien Hipertensi Stadium 2
Christian Kutanggas, Rivo;
Setyawan, Yuswanto
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22889
Penurunan fungsi ginjal merupakan salah satu komplikasi jangka panjang pada pasien hipertensi, terutama hipertensi stadium 2 yang tidak terkontrol. Evaluasi fungsi ginjal umumnya menggunakan estimasi laju filtrasi glomerulus (estimated Glomerular Filtration Rate/eGFR) berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan nilai eGFR pada pasien hipertensi stadium 2. Penelitian dilakukan secara analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 150 pasien hipertensi stadium 2 di sebuah fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pemeriksaan laboratorium serum kreatinin untuk menghitung eGFR menggunakan rumus CKD-EPI. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan fungsi ginjal berdasarkan nilai eGFR (p<0,05). Pasien dengan durasi konsumsi ≥10 tahun cenderung memiliki eGFR normal (≥90 mL/min/1.73m²), sementara kelompok dengan durasi konsumsi <5 tahun lebih banyak mengalami penurunan eGFR <60 mL/min/1.73m². Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa konsumsi obat antihipertensi jangka panjang berhubungan dengan fungsi ginjal yang lebih baik pada pasien hipertensi stadium 2.
Perbandingan Kadar Glukosa Sewaktu Metode GOD-PAP dan POCT di Desa Nogotirto Dusun Kaingan Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Angel Litaay, Queen;
Bagus Widyantara, Aji;
Anwar, Chairil
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22941
Diabetes Melitus ialah penyakit metabolik degeneratif dengan prevalensi yang terus meningkat. Pemantauan kadar glukosa darah sangat penting dalam upaya deteksi dini dan pengendalian penyakit ini. Saat ini metode Glucose Oxidase-Peroxidase aminoantipyirin (GOD PAP) merupakan standar baku emas sementara Point Of Care Testing (POCT) menawarkan alternatif yang praktis dengan hasil cepat. Studi ini tujuannya guna menganalisis perbandingan hasil antara pemeriksaan kadar glukosa darah menerapkan metode GOD-PAP serta POCT. Metode penelitian yang diterapkan yakni penelitian kuantitatif melalui desain Cross Sectional pada 65 orang responden memakai teknik Purposive Sampling berlandaskan kriteria inklusi ekslusi. Perolehan Uji independent t-test mengindikasikan skor signifikansi sejumlah 0,572 menandakan tidak ada perbedaan signifikan antara perolehan pemeriksaan menerapkan kedua metode. Metode GOD-PAP serta POCT memberikan hasil yang setara dalam pengukuran glukosa darah sewaktu pada populasi. Adapun beberapa faktor yang dapat mengganggu pengukuran yaitu faktor-faktor pra-analitik dan analitik yang mungkin mempengaruhi akurasi hasil, seperti teknik pemipetan, waktu inkubasi, dan stabilitas enzim dalam reagen.
Impant Failure Post ORIF Femur
Bayu Rizaldy, Muhammad;
Athaya, Alya
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.23334
A femur fracture is a break or loss of continuity of femur, clinically this condition can present as an open or closed femur fracture. Adequate management of fractures is important to prevent short-term and long-term complications. Management of femur fractures can be performed through open or closed reduction. Open reduction is achieved through surgical intervention, with bone fragments reduced using internal fixation (ORIF).ORIF failure can happen due to several factors, such as poor bone quality, biomechanical failure of the fixation device, infection, and poor rehabilitation. This failure can lead to nonunion, implant loosening, and even other serious complications. A 20-year-old male patient came with complaints of persistent pain in his left leg after vehicle accident four months ago. ORIF was performed on the patient four months ago, and the patient had improved. After the procedure, the patient accidentally put his weight on the wrong side while walking and fell, causing the left leg become painful again. Physical examination showed deformity, tenderness, and limited range of motion, with good sensation, detectable dorsalis pedis artery pulsation, and CRT < 2 seconds. X-ray of the left femur revealed a left femur fracture fixed with a plate and screws. The patient was subjected to surgical intervention specifically Re-ORIF and provided with antibiotics and analgesics. The patient also provided with education post-operative care and how to properly rehabilitation to prevent re-failure.
Korelasi Hasil HbA1C dengan Laju Endap Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSA UGM Yogyakarta
Andjani Latif, Putri;
Anggraeni, Rosmita;
Ismarwati, Ismarwati
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.23354
Gangguan produksi atau penggunaan insulin dalam tubuh akan menyebabkan kadar gula darah meningkat, maka penyakit yang dikenal sebagai diabetes melitus dapat berkembang. . Kadar fibrinogen yang tinggi, peradangan, dan disfungsi endotel dapat menyebabkan peningkatan laju sedimentasi eritrosit (ESR) ketika hiperglikemia berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Salah satu tes yang mendukung evaluasi inflamasi kronis pada pasien diabetes melitus adalah LED, sementara HbA1c digunakan untuk menilai kendali glikemik jangka panjang dan memiliki peran dalam proses inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kadar HbA1c dan LED pada pasien DM tipe II. Metode penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan pengambilan data diperoleh dari rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah laki-laki dengan kadar HbA1c > 6,5% (78,1%) dan kadar LED tinggi (82,3%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan signifikan antara HbA1c dan LED (p = 0,047) dengan kekuatan hubungan yang lemah (r = 0,20). Penggunaan obat, lama sakit, kondisi patologis, dan masalah teknis merupakan beberapa faktor potensial yang dapat menjelaskan tingkat hubungan yang terbatas. Tingkat Protein C-Reaktif (CRP), interleukin-6 (IL-6), dan indikator inflamasi lainnya sebaiknya dimasukkan dalam studi mendatang, bersama dengan metode yang lebih terarah.
Upaya Penanganan pada Pasien Perempuan Usia 4 Tahun dengan Enterobiasisis di Puskesmas Nisam Tahun 2025
Fitri Rahima, Yusriah;
Wahyuni, Hendra
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.23375
Enterobiasis ialah infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis) yang sebagai suatu penyakit parasit usus yang paling sering terjadi, terutama pada anak-anak usia sekolah. Penularan terjadi melalui jalur fekal-oral dengan autoinfeksi yang sering menyebabkan gatal hebat di daerah perianal pada malam hari. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis adanya keluhan gatal perianal, gangguan tidur, dan pemeriksaan langsung menggunakan metode swab perianal atau tes “selofan tape”. Seorang anak perempuan usia 49 bulan datang dengan keluhan gatal pada anus yang semakin parah pada malam hari hingga mengganggu tidur. Ibu pasien mengaku melihat adanya cacing berwarna putih, halus seperti serabut kelapa yang keluar melalui anus pasien. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kulit perianal yang tampak hiperemis, yang menunjukkan adanya peradangan akibat iritasi mekanis berulang dari aktivitas menggaruk Pasien diberikan terapi farmakologis dengan albendazole 400 mg per oral dan edukasi mengenai kebersihan diri untuk mencegah reinfeksi. Berlandaskan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis enterobiasis.