cover
Contact Name
Dede Salim Nahdi
Contact Email
salimnahdi@unma.ac.id
Phone
+6285224977367
Journal Mail Official
educatio@unma.ac.id
Editorial Address
Jl. KH. Abdul Halim No. 103 Majalengka 45418 Indonesia
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Cakrawala Pendas
Published by Universitas Majalengka
ISSN : 24427470     EISSN : 25794442     DOI : https://doi.org/10.31949/jcp
Core Subject : Education,
Jurnal Cakrawala Pendas (JCP) aims to provide researchers with scholarly discourses, theories, research methods, and findings. Therefore, the journal accepts manuscripts related to all aspects of Elementary Education. It is also keen to help make connections among researchers. Jurnal Cakrawala Pendas (JCP) is intended to contribute to the field with academic research outcomes and disseminate knowledge about elementary education, including theories, quality of instruction, instructional planning, design, and technology from a disciplinary and/or interdisciplinary holistic approach, but it is not limited with these subjects. Jurnal Cakrawala Pendas (JCP) aims at: (1) Disseminating research findings, either in qualitative or quantitative inquiry; (2) Proposing new discussion directions and issues through literature reviews; (3) Emphasizing creative solutions to the existing problems and issues in the field; (4) Contributing to professional development by discussing research findings in a systematic way.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 4 (2023)" : 32 Documents clear
A STUDY OF NEEDS: VIRTUAL REALITY-BASED MODEL IN FOSTERING THE NATIONALISM CHARACTER IN PRIMARY SCHOOL Freddy Widya Ariesta; Bunyamin Maftuh; Sapriya Sapriya; Ernawulan Syaodih
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6441

Abstract

In today's digital era, education faces challenges and opportunities to integrate technology in the learning process to provide a deeper and more meaningful experience for students. With this background, this study was conducted to investigate the level of nationalism of elementary school students and evaluate the potential and need for learning models based on Virtual Reality (VR). This research involved the participation of 203 students and 12 teachers from grades 4 to 6 in 10 elementary schools located in West Jakarta. Through a specially designed questionnaire, data is collected and then analyzed using quantitative methods. The results of the analysis show that only 48.7% of students show strong characteristics of nationalism, while the other 51.3% appear to lack these characteristics. Apart from that, from the educator side, as many as 84.7% of teachers expressed support and an urgent need for the adoption of VR-based learning models. Based on these findings, this research recommends the development and implementation of a VR-based learning model which aims to increase understanding and appreciation of nationalist values among students. It is hoped that through the integration of educational content with VR technology, students can experience a more immersive, interesting, and effective learning experience in building a sense of nationalism. Di era pendidikan saat ini, paradigma pembelajaran membutuhkan model yang menggabungkan teknologi untuk menciptakan kesempatan belajar yang signifikan bagi siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh mana sifat-sifat nasionalis yang ditunjukkan oleh siswa sekolah dasar dan mengevaluasi perlunya model pembelajaran berdasarkan realitas virtual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan melibatkan sampel 203 siswa dan 12 guru dari kelas 4-6 di sebuah sekolah dasar di Jakarta Barat. Penggunaan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif, dengan menyajikan hasil dalam bentuk deskriptif persentase. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa tingkat nasionalisme di kalangan siswa sekolah dasar kelas 4-6 relatif rendah, sebagaimana dibuktikan oleh tanggapan dari 203 partisipan. Data menunjukkan bahwa hanya 48,7% dari partisipan yang mempunyai karakter nasionalisme, sementara 51,3% sisanya yang terdiri dari 104 siswa belum memiliki karakter nasionalisme. Sehingga berdasarkan studi pendahuluan terkait dengan analisis kebutuhan penelitian tentang perlunya model pembelajaran berbasis virtual reality, sebagian besar guru di sekolah dasar, yaitu sekitar 84,7%, menyatakan perlunya model pembelajaran tersebut. Penelitian ini mengusulkan model pembelajaran berbasis virtual reality yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa melalui integrasi konten media virtual reality yang beragam, menarik dan memberikan pengalaman imersif. Tujuan akhirnya adalah untuk membangun rasa nasionalisme siswa di sekolah.
IMPLEMENTATION OF CHARACTER-BUILDING EDUCATION IN INCLUSIVE SCHOOLS Fitri Meliani; Sati
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6497

Abstract

This study looks at how character education is practiced in inclusive schools, so that regular students and children with special needs (ABK) can learn together and respect each other. Children with special needs differ from ordinary pupils in their learning styles and modalities. Schools and teachers need to implement an approach so that regular students can tolerate ABK and ABK students can learn calmly without being bullied by regular students. The purpose of Permendiknas No. 70 of 2009 concerning Inclusive Education is to provide the greatest opportunity for all students to obtain quality education in accordance with their needs and abilities, regardless of whether they have intellectual potential or physical, emotional, mental, or social disorders. Child-friendly learning, empathy, learner-centered learning, and learning that matches children's learning needs are all characteristics of implementing inclusive character education in normal schools. Research data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis includes data reduction, data visualization, and conclusions. Using triangulation sources and triangulation procedures, the data are tested for validity. The findings show that teachers in the sixth grade of Sekolah Sibghah Akhlak Quran Bekasi teach character through learning, modeling, reinforcement, and habituation. The values of tolerance and compassion are prioritized by the teacher in the classroom. Teachers do so by explaining ideas, discussing moral dilemmas, telling a story, encouraging active learning, and using a collaborative approach. In addition, teachers encourage their students to interact with their peers who have special needs both inside and outside the classroom by providing role models, rewards, and special supervision. Penelitian ini melihat bagaimana pendidikan karakter yang dipraktikan di sekolah inklusi, agar siswa regular dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dapat belajar bersama dan saling menghormati. Anak-anak dengan kebutuhan khusus berbeda dari murid biasa dalam gaya belajar dan modalitas mereka. Sekolah dan guru perlu menerapkan pendekatan agar siswa regular bisa bertoleransi terhadap ABK dan siswa ABK dapat belajar dengan tenang tanpa mendapat perlakuan bullying dari siswa regular. Tujuan Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif adalah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada seluruh peserta didik untuk memperoleh pendidikan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, terlepas dari apakah mereka memiliki potensi intelektual atau gangguan fisik, emosional, mental, atau sosial. Pembelajaran ramah anak, empati, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar anak adalah semua karakteristik dari penerapan pendidikan karakter inklusif di sekolah normal. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi data, visualisasi data, dan penarikan kesimpulan. Menggunakan sumber triangulasi dan prosedur triangulasi, data diuji validitasnya. Temuan menunjukkan bahwa guru-guru di kelas enam Sekolah Sibghah Akhlak Quran Bekasi mengajarkan karakter melalui pembelajaran, pemodelan, penguatan, dan pembiasaan. Nilai-nilai toleransi dan kasih sayang diprioritaskan oleh guru di kelas. Guru melakukannya dengan menjelaskan ide, mendiskusikan dilema moral, menceritakan sebuah kisah, mendorong pembelajaran aktif, dan menggunakan pendekatan kolaboratif. Selain itu, guru mendorong murid-muridnya untuk berinteraksi dengan rekan-rekan mereka yang memiliki kebutuhan khusus baik di dalam maupun di luar kelas dengan memberikan panutan, penghargaan, dan pengawasan khusus.
THE EFFECTIVENESS OF DEVELOPING SCIENCE E-MODULES BASED PROJECT-BASED LEARNING TO IMPROVE THE COMMUNICATION SKILLS OF GRADE 5th STUDENTS Asriani Asriani; Retno Triwoelandari; Hambari
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6502

Abstract

21st century teachers are required to be able to integrate information and communication technology (ICT) in the learning process. In addition, teachers must be able to equip students with skills needed in the 21st century, one of which is communication skills. Science as a subject studied since elementary school is related to communication skills.  Therefore, this study aims to develop a project-based learning science learning e-module to improve the communication skills of grade 5 elementary school/ MI students. In addition, this study is focused on knowing the development process, feasibility and effectiveness in improving students' communication skills. The development of the e-module is carried out using the Research and Development (R&D) 4D model and data collection was carried out through interviews, observations and questionnaires. Meanwhile, data analysis was carried out by measuring the validity of the e-module by material experts, linguists and media experts while to determine the effectiveness of normality, homogeneity and hypothesis tests of independent samples t-test.  Based on the overall feasibility test results, a score of 81.9% was obtained, which means that the e-modules that have been developed are very valid and suitable for use in science learning. In addition, the effectiveness test was carried out using the SPSS FOR Windows 26 application from posttest and pretest data in the control class and experimental class, obtained Sig. (2-Tailed) results of 0.001 or less than 0.05 which means there is a significant difference. Thus, it can be concluded that the project-based learning e-module of science learning is declared effective for improving students' communication skills. Keywords: Effectiveness, Development, E-module, Communication Skills. Guru abad 21 didituntut untuk mampu mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru harus mampu membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di abad 21, salah satunya keterampilan komunikasi. IPA sebagai mata pelajaran yang dipelajari sejak SD berkaitan dengan keterampilan komunikasi.  Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul pembelajaran IPA berbasis project based learning untuk meningkatkan keterampilan komunikasi siswa kelas 5 SD/MI. Selain itu, penelitian ini difokuskan untuk mengetahui proses pengembangan, kelayakan dan keefektifannya dalam meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Pengembangan e-modul dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D) model 4D dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi serta angket. Adapun, analisis data dilakukan dengan mengukur validitas e-modul oleh ahli materi, ahli bahasa dan ahli media sedangkan untuk mengetahui efektivitas dilakukan uji normalitas, homogenitas dan uji hipotesis independent samples t-test.  Berdasarkan hasil uji kelayakan secara keseluruhan diperoleh skor 81,9% yang berarti e-modul yang telah dikembangkan sangat valid dan layak digunakan dalam pembelajaran IPA. Selain itu, uji efektivitas dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS FOR Windows 26 dari data posttest dan pretest di kelas kontrol dan kelas eksperimen, didapatkan hasil Sig.(2-Tailed) 0,001 atau kurang dari 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa e-modul pembelajaran IPA berbasis project based learning dinyatakan efektif untuk meningkatkan keterampilan komunikasi siswa.
DEVELOPMENT OF PROJECT-BASED LEARNING SCIENCE E-MODULE TO IMPROVE COLLABORATION SKILLS OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Retno Triwoelandari; Ega Widya Handayani; Suyud Arif
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6611

Abstract

The need for 4C competencies in the era of Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 is driving this research. Indonesia's low ranking in the PISA science category, placing 71st out of 80 countries, emphasizes the urgency of this study. Education has introduced 21st-century learning to meet these demands. In the science learning process, effective collaboration skills are crucial and require teachers to use suitable learning models. However, there is a shortage of relevant teaching materials, especially at the basic education level, in this digital era. This research aims to develop an effective project-based learning e-module that enhances collaboration skills in fifth-grade students. The development method follows the 4D model by Thiagarajan, involving the Define, Design, Development, and Dissemination stages. The research uses interviews, questionnaires, and observations as instruments. The results validate the project-based learning e-module for science, with media expert validation at 87%, linguist validation at 79%, and material expert validation at 80%. Moreover, student responses to individual, small group, and large group tests were 88%, 80%, and 83%, respectively. Using the independent sample t-test in SPSS 26 for Windows, quantitative analysis demonstrates a significant average difference in final observation scores between the experimental and control groups, with a difference of 2.381. This outcome yields a two-tailed p-value of 0.000 from the respondents in both groups. In conclusion, the use of e-modules in learning effectively improves students' collaboration skills. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan kompetensi 4C yang penting di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Rendahnya peringkat Indonesia pada hasil PISA kategori sains, berada di peringkat 71 dari 80 negara, menambah urgensi dari penelitian ini. Dalam upaya memenuhi tuntutan tersebut, pendidikan telah beradaptasi dengan memperkenalkan pembelajaran abad 21. Keterampilan kolaborasi yang baik diperlukan dalam proses penemuan pada pembelajaran IPA, hal ini menjadi tuntutan bagi para guru dalam menggunakan model pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, di era digital ini, terutama pada tingkat pendidikan dasar, masih terdapat kekurangan dalam ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul pembelajaran IPA berbasis project based learning yang meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa kelas 5 SD secara efektif. Metode pengembangannya menggunakan model 4D dari Thiagarajan, yaitu Define, Design, Development, dan Dissemination. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, angket, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul pembelajaran IPA berbasis project based learning ini valid dengan hasil validasi ahli media sebesar 87%, validasi ahli bahasa 79%, dan validasi ahli materi 80%. Selain itu, respons siswa pada uji perorangan sebesar 88%, uji kelompok kecil 80%, dan uji kelompok besar 83%. Analisis kuantitatif dengan uji Independent Sample T-Test menggunakan SPSS 26 for Windows menunjukkan adanya perbedaan rata-rata hasil observasi akhir antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 2,381. Hasil ini diperoleh dari responden kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan p-value sig (2-tailed) sebesar 0,000. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan e-modul dalam pembelajaran telah meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa.
ANALYSIS OF INFLUENCE THE PANCASILA STUDENT PROFILE STRENGTHENING PROJECT ON LITERACY ABILITY IN ELEMENTARY SCHOOLS Nafillah Dipa Aeiniq; Iqnatia Alfiansyah
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6635

Abstract

The aim of this research is to determine the factors that cause low reading of letters and improve literacy skills through the application of the Pancasila student profile. This type of research is qualitative. The object of this research is SD Negeri 29 Gresik involving grade 1 students, grade 1 teachers and the principal as research subjects. Data collection techniques include observation, interviews, written tests, and documentation. Based on research findings, low literacy can be caused by two main factors, namely internal factors originating from the students themselves and external factors originating from outside influences. Students have included four of the six elements identified as influential in forming literacy skills. Among them are cultivating noble ethics, embracing global diversity, fostering cooperation, and developing critical thinking skills. However, the other two elements, creativity and independence, only show a limited influence on students' reading abilities. Therefore, it is important to emphasize these two aspects to improve students' reading skills. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab rendahnya membaca huruf dan meningkatkan kemampuan literasi melalui penerapan profil siswa pancasila. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Objek penelitian ini adalah SD Negeri 29 Gresik dengan melibatkan siswa kelas 1, guru kelas 1, dan kepala sekolah sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, tes tertulis, dan dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, rendahnya literasi dapat disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor internal yang berasal dari siswa itu sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari pengaruh luar. Siswa telah memasukkan empat dari enam elemen yang diidentifikasi berpengaruh dalam membentuk keterampilan literasi. Diantaranya adalah menumbuhkan etika luhur, merangkul keberagaman global, membina kerja sama, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Namun, dua elemen lainnya, kreativitas dan kemandirian, hanya menunjukkan pengaruh yang terbatas terhadap kemampuan membaca siswa. Oleh karena itu, penting untuk menekankan kedua aspek tersebut untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa.
ANALYSIS OF DIFFICULTIES AND METACOGNITION ABILITIES OF PRE-SERVICE PRIMARY SCHOOL TEACHERS IN REVIEWING RESEARCH ARTICLES Arya Setya Nugroho
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.6736

Abstract

Pre-service teacher do not understand how to do a good article review, including difficulty finding important elements in an article, difficulty creating relevant questions, or difficulty evaluating research methodology. This actually supports students' cognitive abilities. This study aimed to analyze students' difficulties and metacognitive abilities in reviewing scientific articles. The research method used is descriptive-qualitative, and the data collection techniques used are interviews and assignments. Carried out on 40 PGSD UMG class B students in the Educational Foundations course. Data analysis techniques using a theory-driven thematic approach The results obtained from metacognitive abilities are 1) developing planning, namely analysis of research objectives in articles, analysis of research methodology, analysis of research results, analysis of conclusions, analysis of bibliography; 2) Monitoring implementation, namely setting schedules and time limits, providing solutions to review difficulties, evaluating the student article review process; 3) evaluate the actions obtained for advantages (critical analysis skills, literacy abilities, insight into research and development) and shortcomings (misunderstanding of the concept of understanding the article, not noting the weaknesses of the article, feedback that is not detailed enough). Students are expected to construct knowledge through learning and provide insight into research and development in education. Mahasiswa  calon guru tidak memahami bagaimana melakukan review artikel yang baik termasuk kesulitan menemukan elemen penting dalam sebuah artikel, kesulitan membuat pertanyaan yang relevan, atau kesulitan mengevaluasi metodologi penelitian. Hal tersebut sebenarnya mendukung kemampuan kognisi mahasiswa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kesulitan dan kemampuan metakognisi mahasiswa dalam melakukan review artikel ilmiah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan penugasan. Dilakukan pada 40 mahasiswa PGSD UMG kelas B di mata kuliah Landasan Pendidikan. Teknik analisis data dengan menggunakan pendekatan tematik theory driven. Hasil yang didapatkan kemampuan metakognisi 1) mengembangkan perencanaan yaitu analisis tujuan penelitian dalam artikel, analisis metodologi penelitian, analisis hasil penelitian, analisis kesimpulan, analisis daftar pustaka; 2) Memonitor pelaksanaan yaitu pengaturan jadwal dan batas waktu, pemberian solusi pada kesulitan review, evaluasi proses review artikel mahasiswa; 3) mengevaluasi tindakan diperoleh kelebihan (keterampilan analisis kritis, kemampuan literasi, wawasan penelitian dan pengembangan) dan kekurangan (kesalahan konsep memahami artikel, tidak mencatat kelemahan artikel, umpan balik yang tidak cukup rinci). Mahasiswa diharapkan mengkonstruk pengetahuan melalui pembelajaran dan memberikan wawasan penelitian dan pengembangan dalam dunia pendidikan.
THE EFFECTIVENESS OF DISCOVERY LEARNING MODEL TO INCREAS STUDENTS' MATHEMATICAL UNDERSTANDING ABILITY Sartono; Zainuddin Zainuddin; Sahrun Nisa; Serly Safitri
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5338

Abstract

Mathematics is one of the mandatory subjects that every student needs to understand. In mathematics, fractions are one of the materials that students consider difficult. Several studies have found that students cannot understand the concept of fractions well. Students' ability to understand mathematics is called mathematical comprehension ability. This ability is a basic ability in mastering mathematics. One model that is considered capable of improving students' mathematical abilities is the discovery learning model. This research aims to reveal the effectiveness of the discovery learning model in improving coastal students' mathematical understanding. This research is quantitative research using a pre-experiment design which was carried out at SDN 111 Buton in the odd semester of the 2022/2023 academic year. Based on the results of data processing and analysis, researchers found that the discovery learning model can improve coastal students' mathematical understanding abilities. These findings are evidence that this learning model can be used to improve coastal students' mathematical understanding abilities. Therefore, this model can be an alternative in improving students' mathematical abilities. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran wajib yang perlu dipahami oleh setiap siswa. Dalam matematika, pecahan merupakan salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa. Beberapa penelitian menemukan bahwa siswa tidak dapat memahami konsep pecahan dengan baik. Kemampuan siswa dalam memahami matematika disebut dengan kemampuan pemahaman matematika. Kemampuan ini merupakan kemampuan dasar dalam menguasai matematika. Salah satu model yang dianggap mampu meningkatkan kemampuan matematika siswa adalah model discovery learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap keefektifan model discovery learning dalam meningkatkan coastal students' mathematical understanding. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain pre-experiment yang dilaksanakan di SDN 111 Buton pada semester ganjil tahun ajaran 2022/2023. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, peneliti menemukan bahwa model discovery learning dapat meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa pesisir. Temuan tersebut menjadi bukti bahwa model pembelajaran ini dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa pesisir. Oleh karena itu, model ini dapat menjadi salah satu alternatif di dalam meningkatkan kemampuan matematis peserta didik.
THE INFLUENCE OF THE INQUIRY LEARNING MODEL ON THE LEARNING OUTCOMES OF NATURAL SCIENCES CLASS FOUR ELEMENTARY SCHOOL Rizky Ajeng Ayuningtias; Diki Rukmana
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5381

Abstract

The learning process can influence a student’s success in achieving educational goals. However, the lack of innovation in elementary school natural science learning models makes it difficult for students to assimilate the presented material. This research aims to determine the influence of the guided inquiry learning model on the learning outcome of Natural Sciences. Research methods use quantitative research methods, quasi-models experiment with a pretest-posttes-only control design pattern, and the type of instrument use using a double choice test using 2 class samples on the experimental class using. The inquiry model is guided, and the control class uses the conventional learning outcomes of students in the fourth grade of the Master of Science. This is a supported by a cognitive hypothesis test with the results of N_sig < N_table with a score of 0.015 < 0.05. test affective hypothesis test with the results of N_sig < N_table with a score of 0.000 < 0.05, and psychomotor hypothesis test, whit the results of N_sig < N_table, with score of 0.000 < 0.005. based on the research, It can be concluded that the guided inquiry learning model influence the results of natural science learning in the fourth grade of elementary. Proses pembelajaran dapat mempengaruhi keberhasilan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Namun kurangnya inovasi model pembelajaran pada pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar membuat siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar ilmu pengetahuan alam kelas IV SD, metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest-only control desain. Sempel yang dipakai adalah sebanyak 2 kelas dipilih secara random sampling, kelas eksperiment sebanyak 30 siswa dan kontrol sebanyak 30 siswa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa model pembelajaran yang dipandu oleh survei mempengaruhi hasil belajar ilmu alam pengetahuan alam kelas IV di sekolah dasar. Hasil ini didukung oleh tes hipotesis dengan hasil hipotesis kognitif N_sig < N_table dengan nilai 0.015 < 0.05., hipotesis afektif dengan nilai 0.000 < 0.05 dan hipotesis psikomotor dengan nilai 0.000 < 0.05. Hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tersebut memiliki pengaruh yang dipandu pada hasil belajar ilmu pengetahuan alam kelas IV di sekolah dasar.
ANALYSIS OF KURIKULUM MERDEKA IN SEKOLAH PENGGERAK Ali Muckromin; Anam Sutopo; Yulia Maftuhah Hidayati; Choiriyah Widyasari
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5445

Abstract

Education cannot be limited by space and time as Ki Hajar Dewantara said: "anyone can become a teacher and anywhere can be a class". Education will continue to experience development along with the changes or progress of the times. Since the beginning of independence until now, the curriculum in Indonesia has undergone 12 changes, the first Curriculum 1947; the second Curriculum 1952; the third Curriculum 1964; the fourth Curriculum 1968; the the fifth Curriculum 1975; the sixth curriculum CBSA 1984; the seventh Curriculum 1994; the eighth Curriculum 1999; the ninth Curriculum 2004 (CBSA); the tenth Curriculum 2006 (KTSP); the eleventh Curriculum 2013; And the twelfth “Kurikulum Merdeka” (2022). None other than the occurrence of various kinds of changes that are for the sake of realizing the goals of national education. The curriculum is also a very important organ in the body of education and has a very important role in determining the progress of education in Indonesia. This study aims to analyze the strengths and weaknesses of the “Kurikulum Merdeka” in primary drive schools, Wonosamodro District, Boyolali Regency. The method in this research is qualitative through a case study approach. The research shows the following results: there are several advantages of the “Kurikulum Merdeka” in “Sekolah Penggerak”, including: (1) Improving the quality of learning outcomes within 3 years; (2) Improving the ability and qualifications of school principals and educators; (3) Acceleration of school digitization (received 16 chromebooks); (4) Ability to act as a catalyst for change in other educational units; (5) Accelerating the achievement of Pancasila student profiles; (6) receive intensive assistance; (7) Obtaining additional budget in the form of BOS Performance for 3 years with a nominal value of Rp80,000,000,-/year. The weaknesses are (1) in terms of implementing the curriculum it cannot be fully implemented; (2) lack of human resources and an unstructured system (shortage of PAI & PJOK teachers); (3) The facilities and infrastructures that are less adequate. Pendidikan tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara: “Siapapun bisa menjadi guru dan dimanapun bisa menjadi kelas”. Pendidikan akan terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan atau kemajuan zaman. Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, kurikulum di Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan, yang pertama Kurikulum 1947; Kurikulum kedua tahun 1952; Kurikulum ketiga tahun 1964; Kurikulum keempat tahun 1968; Kurikulum Kelima 1975; kurikulum keenam CBSA 1984; Kurikulum ketujuh tahun 1994; Kurikulum kedelapan tahun 1999; Kurikulum Kesembilan 2004 (CBSA); Kesepuluh Kurikulum 2006 (KTSP); Kurikulum Kesebelas 2013; Dan yang kedua belas “Kurikulum Merdeka” (2022). Tidak lain adalah terjadinya berbagai macam perubahan demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Kurikulum juga merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh pendidikan dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan kemajuan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelebihan dan kelemahan “Kurikulum Merdeka” di sekolah dasar berkendara Kecamatan Wonosamodro Kabupaten Boyolali. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut: terdapat beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka dalam “Sekolah Penggerak”, antara lain: (1) Meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dalam waktu 3 tahun; (2) Peningkatan kemampuan dan kualifikasi kepala sekolah dan pendidik; (3) Percepatan digitalisasi sekolah (menerima 16 chromebook); (4) Kemampuan menjadi katalisator perubahan pada satuan pendidikan lainnya; (5) Percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila; (6) mendapat pendampingan intensif; (7) Memperoleh tambahan anggaran berupa BOS Kinerja selama 3 tahun dengan nilai nominal Rp80.000.000,-/tahun. Kelemahannya adalah (1) dari segi implementasi kurikulum belum dapat dilaksanakan secara maksimal; (2) kurangnya sumber daya manusia dan sistem yang tidak terstruktur (kekurangan guru PAI & PJOK); (3) Sarana dan prasarana yang kurang memadai.
INTERNALIZATION OF ISLAMIC RELIGIOUS CHARACTER VALUES IN MADRASAH IBTIDAIYAH Amin Ary; Maragustam Siregar; Mufrod Teguh Mulyo
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i4.5569

Abstract

The internalization of Islamic religious character refers to the process by which individuals deeply and sincerely adopt the core principles, values, and moral guidelines of Islam into their personal beliefs, attitudes, and behaviors. This study aims to describe the internalization of Islamic religious Character values in Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda, Gondang, Sragen. This madrasah uses the concept of Aswaja An-Nahdliyah in academic and non-academic activities. This concept is interesting to be described in more depth. This type of research is using qualitative and described analysis using phenomenological and naturalistic approaches. Data collection techniques are interview and observation. The data analysis method used is qualitatively descriptive. The results of this study show that the internalization of a character building in the institution can be divided into two important subjects. Firstly, direct internalization through Aswaja course. Secondly indirect internalization, namely by internalizing aswaja values with the principles of tawasut or moderate, tasamuh or tolerance, tawazun or balanced, i'tidal or impartial and amar ma'ruf nahi munkar. In addition, the madrasah is categorized as having understood the philosophical meaning, moral message, good advice contained in the character values of Aswaja An-Nahdliyah; having reconstructed the internalization of aswaja an-Nahdliyah character values  in a way; introducing, familiarizing, instilling, the importance of aswaja An-Nahdliyah character values, and becoming an option  in the development of noble character in line with the values of Islamic teachings to welcome a strong millennial generation in accordance with the expectations of Islamic religion and Indonesian country. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan internalisasi nilai karakter agama Islami di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda, Gondang, Sragen. Madrasah ini menggunakan konsep Aswaja An-Nahdliyah dalam kegiatan akademik maupun non akademik. Konsep ini menarik untuk dipaparkan lebih dalam. Jenis penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan deskriptif dengan pendekatan fenomenologis dan naturalistik. Teknik pengumpulan data adalah wawancara and observasi. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi pembentukan karakter di lembaga dapat dibagi menjadi dua mata pelajaran penting. Pertama, internalisasi langsung melalui kursus Aswaja. Baik internalisasi tidak langsung yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai aswaja dengan prinsip tawasut atau moderat, tasamuh atau toleransi, tawazun atau seimbang, i'tidal atau tidak memihak dan amar ma'ruf nahi munkar. Selain itu, madrasah dikategorikan telah memahami makna filosofis, pesan moral, nasehat baik yang terkandung dalam nilai-nilai karakter Aswaja An-Nahdliyah; telah merekonstruksi internalisasi nilai-nilai karakter aswaja an-Nahdliyah dengan cara; mengenalkan, membiasakan, menanamkan, pentingnya nilai-nilai karakter aswaja An-Nahdliyah, dan menjadi pilihan dalam pengembangan akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam untuk menyongsong generasi milenial yang tangguh sesuai dengan harapan agama Islam dan negara Indonesia.

Page 2 of 4 | Total Record : 32